THE BEST BROTHER

THE BEST BROTHER
S3 Cinta Untuk Mereka Bab 75 "Soto Betawi"


__ADS_3

Waktu terus berganti, kini Leon dan Rere sudah resmi bertunangan 3 bulan yang lalu. Karana harus menyelesaikan pekerjaan di Berlin, Leon dan Rere rela berhubungan jarak jauh. Ya, mereka setiap hari saling memberi kabar lewat udara. Mereka merencanakan akan menikah tahun depan. Itu artinya masih 6 sampai 7 bulan lagi mereka akan resmi menikah.


Annisa dari tadi sibuk dengan butiknya, ya hari ini Annisa full di butik. Karena salah satu karyawannya tidak berangkat, apalagi di bagian kasir yang saat itu tidak berangkat karena sakit. Beruntung Alvin mau untuk tetap di sini mengurus perusahaan Annisa. Ya, itu semua Arsyad yang memintanya, agar istrinya tidak kecapean mengurus perusahaannya.


Arsyad menjemput Annisa di butik sore ini setelah pulang kerja. Arsyad sudah tidak sabar ingin bertemu istri tercintanya yang dari tadi pagi sibuk sekali dengan pekerjaannya di butik, hingga dia membalas pesan Arsyad dengan singkat saja.


Arsyad sampai di halaman butik Annisa. Dia turun dari mobilnya dan masuk ke dalam butik. Senyum Arsyad seketika mengembang, melihat wanita yang di cintainya sedang menata baju di showcase depan.


"Sayang," sapa Arsyad sambil memeluk Annisa dari belakang.


"Kakak, ngagetin saja, kok baru jam 4 sudah pulang?" Annisa membalikan tubuhnya dan mengalungkan ke dua tangannya di bahu pundak Arsyad.


"Aku kangen kamu, jadi aku cepat-cepat menyelesaikan pekerjaanku," ucap Arsyad sambil mencium kening istrinya.


"Aku juga kangen kakak, ya sudah, Annisa mau membereskan pekerjaan Annisa dulu, kak,"


"Ya sudah kakak tunggu di sofa, ya,"


Annisa segera membereskan pekerjaannya, semua karyawan Annisa juga sudah bersiap-siap untuk pulang. Annisa menitipkan butik pada karyawan yang Annisa percaya setelah Vera. Sekarang Vera sibuk mengurus anaknya. Annisa sudah bersiap untuk pulang, dia berjalan ke arah suaminya yang sedang sibuk membaca surat kabar di pojok ruangan butik Annisa.


"Kak, ayo pulang," ajak Annisa.


"Oke, sudah seleai pekerjaanmu?" tanya Arsyad.


"Sudah, kak mampir ke kedai soto Betawi sebelah sana ya, aku ingin sekali makan soto Betawi," pinta Annisa.


"Soto Betawi lagi?"


"Iya, kak,"


"Oke, kita makan soto Betawi lagi, ayo berangkat," ajak Arsyad.


Arsyad melajukan mobilnya ke kedai soto Betawi langgamnan Annisa. Ya, sudah satu Minggu ini setiap pulang kerja Annisa pasti makan soto Betawi. Dia juga jarang sekali makan nasi. Hanya buah atau sayur saja yang ia makan. Sarapan pagi juga kadang hanya makan roti selai atau sandwich.


"Sayang, ada yang aneh lho sama kamu,"ucap Arsyad.


"Apa yang aneh, kak?"tanya Annisa.


"Kamu hamil?"tanya Arsyad.


"Hamil? Emm…gak tau, kak," jawab Annisa.


"Kamu belum datang bulan lho, Nis, sudah mau dua bulan ini, bulan terakhir kamu datang bulan, saat Leon ke sini setelah 1 bulan tunangan dengan Rere, ingat kan? Dan sampai sekarang kamu belum datang bulan, sayang," jelas Arsyad.


"Ehh…iya, ya, kak? Aku gak hitung,"


"Kakak selalu tau jadwal kamu datang bulan, besok pagi kamu harus ke dokter, aku ingin tau kamu hamil atau tidak. Soalnya kamu itu makannya dari kemarin tidak teratur dan tidak mau makan nasi, bukankah dulu waktu hamil Dio dan Shifa kamu gak makan nasi?" Arsyad berkata sambil mengudap pipi Annisa.


"Iya, aku jarang makan nasi sudah hampir 3 Minggu ini kak, aku baru sadar, dan benar, aku dulu waktu hamil Dio dan Shifa jarang makan nasi," ucap Annisa.


"Ya sudah, kita beli testpack setelah ke kedai soto, habis itu kami cek urin dulu besok pagi," tutur Arsyad.


"Buat apa beli testpack, toh besok periksa,"ucap Annisa.


"Iya juga, sih. Ya sudah, tidak usah beli, besok langsung periksa saja pagi-pagi," jawab Arsyad


Arsyad dan Annisa sampai di kedai Soto Betawi. Mereka memesan 2 porsi pada pelayan. Beruntung tidak begitu ramai pengunjung jadi soto pesanan Arsyad dan Annisa cepat di sajikan. Annisa menikmati setiap suapan sotonya yang masuk ke mulutnya. Entah kenapa akhir-akhir ini dia suka sekali dengan soto Betawi. Dan pasti setiap pulang kerja dia ingin menikmati soto Betawi.


"Jangan cepat-cepat makannya, kakak tidak akan merebut makananmu, sayang,"ucap Arsyad.


"Iya, kak, habis enak banget,"


"Kakak kok tidak di makan sotonya?" tanya Annisa.


"Ini sedang kakak makan,"jawab Arsyad.


"Aku kira tidak di makan,"


"Kamu mau lagi, sayang?"tanya Arsyad.


"Iya, masih pengen, tapi maunya milik Kakak," pinta Annisa.


"Ya sudah, sini kakak suapi,"


Arsyad menyupai soto miliknya pada Annisa hingga habis, padahal Arsyad baru saja makan 3 suap. Karena istrinya ingin sekali, dia rela memberikan semua pada Annisa. Setelah selesai menikmati soto Betawi mereka pulang ke rumah, tapi sebelum itu, Arsyad dan Annisa ke supermarket untuk membeli buah, karena stok buah di rumah tinggal sedikit.


^^^


Malam harinya, saat Arsyad sedang menyelesaikan pekerjaan kantor setelah sholat isya. Annisa dengan manja mendekatinya lalu memeluk Arsyad erat sekali. Entah apa yang sedang Annisa rasakan, dia tiba-tiba menangis memeluk suaminya. Arsyad benar-benar tidak mengerti kenapa istrinya tiba-tiba menangis.

__ADS_1


"Kenapa menangis?" tanya Arsyad.


"Kak, jangan tinggalin Annisa, ya?"


"Kamu bicara apa, sayang? Kakak tidak akan meninggalkanmu, kecuali Allah yang memisahkan kita," ucap Arsyad.


Arsyad menarik istrinya yang semakin terisak. Annisa menangis di dada bidang suaminya hingga sesegukan. Arsyad tidak tahu-menahu kenapa istrinya bisa menangis seperti ini. Dari kemarin Annisa memang sensitif sekali perasaannya, dia sering tiba-tiba memeluknya dan menangis seperti Arsyad ingin pergi jauh.


"Nis, Sudah dong, jangan nangis, kakak kan masih di sini, sayang." Arsyad mengusap air mata Annisa yang semakin mengalir deras di pipinya.


"Kak, janji ya, apapun yang terjadi, kakak jangan meninggalkan Annisa, Annisa hanya takut, kehilangan kakak," ucap Annisa dengan kembali mengeratkan pelukannya.


"Nisa, kakak di akan selalu di samping kamu, tidak akan meninggalkanmu, sudah jangan menangis, ayo tidur," ajak Arsyad.


"Gendong," ucap Annisa dengan manja.


Arsyad gemas sekali dengan istrinya yang akhir-akhir ini selalu manja dengannya. Tak berpikir lama, Arsyad menggendong istrinya di depan. Arsyad merebahkan istrinya di ranjang, dia sedikit menindih tubuh istrinya dan mencium bibir istrinya.


"Kamu mau?"tanya Arsyad.


"Mau apa?" jawab Annisa.


"Bercinta lagi malam ini,"ucap Arsyad lirih di telinga Annisa.


"Emmm…iya," jawab Annisa sambil mencium lembut bibir suaminya.


"Ayo, wudhu dulu, sayang,"ajak Arsyad.


Arsyad menggendong tubuh istrinya ke kamar mandi, merke bergantian mengambil air wudhu. Sesudah itu, Arsyad menggendong lagi Annisa menuju tempat tidur da merebahkan tubuh Annisa di tempat tidur.


"Kamu tampan sekali malam ini, kak," ucap Annisa lirih di telinga Arsyad


"Biasanya memang tidak tampan?"tanya Arsyad dengan menggoda.


"Kamu memang tampan sayang, tapi malam ini, kamu benar-benar tampan sekali, bisakah malam ini kita lakukan berkali-kali, kak?"pinta Annisa.


"Tidak usah kamu meminta berkali-kali, aku akan melakukannya berkali-kali, sayang, asal kamu kuat, kakak sanggup sampai pagi,"ucapnya lirih di telinga Annisa yang membuat Annisa semakin memanas. Di tambah sentuhan lembut tangan Arsyad di dada Annisa, dan jari jemari yang memilih sesuatu di dada Annisa.


"Hmmmph…kakak," leguh Annisa di telinga Arsyad fenan lirih


"Keluarkan suara manjamu sayang, aku suka sekali," bisik Arsyad.


Dengan pelan Arsyad membuka satu persatu kancing piyama Annisa dan dengan di iringi kecupan lembut pada bibir Annisa.


"Kakak….."pekik Annisa saat suaminya dengan cepat bermain jarinya dan menggigit lirih.


"Iya sayang, kenapa?"


"Kak, jangan berhenti," ucap Annisa dengan manja, yang masih ingin merasakan jari jemari Arsyad yang bermain di sana.


"Iya, kamu nyaman dengan seperti ini?" tanya Arsyad.


"Aku nyaman, Kak,"


"Tapi kakak ingin kamu yang bermain, sayang,"


"Baiklah, apapun yang kamu mau, aku akan melakukannya, kak,"


Annisa menuruti apa yang suaminya inginkan. Arsyad duduk dan menyandarkan dirinya di sandaran tempat tidurnya. Annisa menuruti suaminya dan duduk di pangkuan suamianya. Annisa memekik lirih begitupun Arsyad. Dia mengerang lirih di telinga istrinya.


"Sudah nyaman?" tanya Annisa.


"Sudah, sayang," jawab Arsyad.


Arsyad tidak mau melewatkan apa yang ada di depannya, bentuk yang indah yang berada di dada Annisa. Dengan cepat Arsyad bermain di area favoritanya itu, Annisa memperlambat gerakannya, tapi Arsyad terus menghentakannya yang membuat Annisa sedikit menjerit.


"Keluarkan suara indahmu, sayang, tak ada yang bisa mendengar, kecuali aku dan kamu," ucap Arsyad lirih .


Annisa tak mengindahkan kata-kata suaminya itu. Dia terus menggerakkan tubuhnya dan meleguh dengan keras yang membuat Arsyad juga semakin menyentakan ke dalam.


"Kakak…." pekik Annisa dengan setengah menjerit.


"Iya sayang, apa kamu lelah?" tanya Arsyad saat Annisa memperlambat gerakannya.


"Tidak, tumben sekali kakak lama?" ucap Annisa di sela-sela napas yang masih memburu.


"Kakak tidak tau,"


"Nisa…...." Arsyad merasakan cengkraman dari Annisa yang begitu menyenangkan untuknya.

__ADS_1


"Kenapa kak?"


"Kamu nakal sekali, sudah jangan seperti ini, kakak tidak tahan lagi,"ucapnya dengan napas yang memburu karena Annisa terus mencengkram nya dengan lembut.


Tanpa aba-aba Arsyad menindih tubuh Annisa dan kembali menghentakkannya. Annisa merasakan semakin penuh sekali bagian bawahnya, Arsyad semakin cepat bergerak, membuat Annisa tak tahan dan memekin lirih memanggil nama suaminya. Dengan durasi yang cukup lama, akhirnya mereka sama-sama melepaskan hasratnya.


Napas mereka masih memburu, Arsyad mencium kening istrinya, dan tidur di samping Annisa. Arsyad mengusap peluh yang ada di kening Annisa. Dia memeluk istrinya di dalam selimut tebal yang menyeluti tubuh polos mereka.


"Apa kamu merasakan sakit di bagian perutmu?"tanya Arsyad.


"Sedikit, kak," jawab Annisa.


"Ya sudah ayo ke kamar mandi, kita bersihkan dulu lalu kita tidur,"ajak Arsyad.


"Kakak tidak mau lagi?"tanya Annisa.


"Nanti saja, kami istirahat dulu," jawab Arsyad.


Mereka ke kamar mandi untuk membersihkan sisa-sisa peluh yang menempel di badan, setelah itu mereka kembali memakai baju tidurnya. Arsyad menyendokan madu untuk Annisa, dan menyuapinya. Begitu juga dia, dia juga meminum madu setelah bermain di atas ranjang. Ya seperti itu, Arsyad selalu minum madu setelah atau sebelum berhubungan intim dengan istrinya.


"Kak," panggil Annisa dengan manja.


"Apa sayang," jawab Arsyad.


"Kak, besok jadi periksa?"tanya Annisa.


"Iya, jadi,"


"Aku mau di rumah saja, seharian sama kakak besok," pinta Annisa.


"Sayang, besok kakak ada meeting dengan klien, dan besok kamu harus segera periksa, sayang," tutur Arsyad.


"Yah, pumpung anak-anak di rumah papah, kak, besok Annisa ingin di rumah seharian dengan kakak," pinta Annisa.


"Gini saja, kan anak-anak sampai Minggu di rumah papah, besok kan hari Kamis, nanti hari jum'atnya kakak temani kamu seharian di rumah, kakak besok tidak bisa, kakak ada meeting jam 11 siang, atau setelah meeting kakak akan ajak kamu jalan-jalan" tutur Arsyad


"Ya sudah, besok kakak ke kantor saja, Annisa juga masih banyak pekerjaan di butik, nanti setelah pulang dari rumah sakit, antar Annisa ke butik, ya?" pinta Annisa.


"Tidak usah kamu minta saja, kakak akan mengantar kamu sayang,"


"Ayo tidur," ajak Arsyad.


"Kakak tidak mau lagi?"


"Kamu tidak lelah?"tanya Arsyad.


"Tidak," jawab Annisa.


Akhirnya mereka melakukan kembali kegiatan ranjangnya. Annisa benar-benar agresif malam ini, tidak seperti biasanya. Begitu juga Arsyad, dia juga bermain denga sedikit keras karena Annisa lagi-lagi mencengkram hebat milikanya, yang membuat Arsyad semakin memanas dengan kegiatannya itu. Mereka melakukan hingga berkali-kali, dan itu semua Annisa yang lagi-lagi terus memintanya.


"Sudah tidur, sudah 5 kali lho, kakak takut kalau kamu benar hamil, nanti ada apa-apa pada kehamilanmu, kamu tau, kan? Kakak tidak bisa bermain lembut malam ini, karena kamu nakal, lagi-lagi mencengkram kakak,"ucap Arsyad.


"Kakak ada-ada saja. Ya sudah, ayo tidur, peluk annisa sampai pagi dan jangan di lepas" pinta Annisa.


"Itu pasti, sampai tangan kakak kebas pun, kakak tak akan melepaskan pelukan kakak,"ucap Arsyad.


Annisa tidur di pelukan suaminya dengan nyaman, tak butuh waktu lama, Annisa tertidur pulas di pelukan suaminya.


"Wanitaku, jangan khawatir, aku tidak akan meninggalkanmu, walau apapun yang akan terjadi nanti, entah esok atau lusa. Aku akan pastikan, aku akan selalu ada di sisimu, dan jika aku tak bisa lagi merengkuh ragamu, setidaknya hatimu sudah kurengkuh bersama ragaku," lirih Arsyad.


Arsyad mencium lembut pipi Annisa dan kening Annisa, dia juga terlelap tidur dengan memeluk istri yang sangat ia cintai. Annisa memeluk erat suaminya karena ia takut sekali kehilangan suaminya. Hingga Arsyad terbangun dari tidur lelapnya, merasakan Annisa memeluk erat tubuhnya. Terlihat peluh Annisa berjatuhan di keningnya, dan mata Annisa mengeluarkan air mata.


Arsyad meregangkan pelukannya tapi Annisa masih saja erat memeluknya hingga terdengar Isak tangis Annisa yang lirih.


Arsyad menepuk pipi Annisa, dia tau istrinya sedang mimpi buruk malam ini.


"Sayang, Annisa, bangun sayang, hei…kamu kenapa?" Arsyad terus menepuk-nepuk pipi istrinya, hingga Annisa terbangun.


"Kakak…!" teriak Annisa sambil memeluk suaminya.


"Sayang, kamu mimpi apa sampai keringat dingin kamu keluar?"tanya Arsyad. Annisa tidak menjawabnya, dia masih mengeratkan pelukannya pada suaminya sambil menangis sesegukan.


"Kak, kakak jangan pergi," ucap Annisa di sela-sela tangisannya.


"Kakak tidak pergi, kakak masih di sini, sayang," ucap Arsyad.


"Kak, tadi kakak pergi, Annisa tidak tau kakak pergi ke mana, Annisa tidak boleh menemui kakak, padahal kakak membutuhkan Annisa dan memanggil-manggil Annisa, tapi orang-orang itu, orang-orang itu menghalangi Annisa untuk mendekati kakak, mereka membawa kakak pergi, dan mengusir Annisa. Aku tidak tau siapa orang itu," ucap Annisa dengan sesegukan.


"Ini hanya mimpi, sayang, sudah kakak ambilkan air putih untuk kamu." Arsyad mengambilkan air putih untuk Annisa yang berada di meja dekat tempat tidur. Annisa meminumnya dengan perlahan.

__ADS_1


"Ayo tidur lagi, masih jam 1 sayang, sudah jangan terlalu dipikirkan, semua akan baik-baik saja," ujar Arsyad.


Annisa tertidur lagi di pelukan suaminya, walaupun mimpi burik tadi masih mengganggu pikirannya.


__ADS_2