THE BEST BROTHER

THE BEST BROTHER
S3 Cinta Untuk Mereka Bab 41 "Petak Umpet"


__ADS_3

Annisa terdiam sejenak, dia tidak tau kenapa dia berkata seperti itu, padahal jauh di lubuk hatinya, dia tidak menginginkan itu.


"Apa semua ini karena Leon?"tanya Arsyad.


"Leon? kenapa bawa-bawa dia?" Annisa balik bertanya pada Arsyad.


"Kakak sendiri yang memulai. Kak, memang sulit melupakan orang yang sangat kita sayangi. Iya, kakak mencintai kak Mira, begitu pula aku, aku sangat mencintai Arsyil, tapi tidak begini caranya, kak. Kita sudah menikah, kehidupan kita masih berjalan,"jelas Annisa.


"Kakak tau, rasanya saat aku kehilangan Arsyil? Hati ini sakit kak, hancur. Hati aku hancur dan sakit, dunia ku runtuh seketika, tapi aku sadar di luar duniaku masih ada kehidupan yang harus aku lalui lagi,"ucap Annisa.


Arsyad hanya terdiam, dia tidak bisa berkata apa-apa. Memang dia yang salah, dia egois dan tidak mau menerima kenyataan.


^^^^^


Annisa beranjak dari tempat tidur, dia ingin keluar dari kamar Arsyad dan berpindah ke kamar tamu untuk istirahat. Arsyad lansung menarik tangan Annisa yang akan pergi meninggalkan kamar.


"Mau kemana?"tanya Arsyad sambil menarik tangan Annisa.


"Kamarku bukan di sini, kak,"ucap Annisa.


"Mulai sekarang kamu tidur di kamar ini,"ucap Arsyad.


"Untuk apa? Jangan mengulang kejadian satu Minggu setelah kita menikah kemarin, kak. Jangan buat aku berharap lebih, jika nantinya akan kembali seperti ini,"ucap Annisa.


"Apa tidak bisa kita mulai dari awal, Nis?"tanya Arsyad.


"Untuk apa, kak? Untuk membuat aku lebih berharap dan setelah itu kakak kembali dingin, mendiami aku seperti saat ini?" Annisa mengeluarkan pertanyaan dengan nada tinggi.


"Nis, kakak tau, kakak salah. Ajari kakak untuk menerima keadaan ini, Nis. Dan, ajari kakak agar bisa mencintaimu lagi,"ucap Arsyad.


"Hampir tiga bulan lamanya, apa tidak cukup untuk kakak belajar? Apa tidak cukup untuk membuat kakak meneriam keadaan ini? Berapa tahun Kak Mira pergi? Kecuali Kak Mira meninggalkan kakak baru kemarin dan belum ada satu tahun, Kak Mira pergi sudah dua tahun, kak. Kalau kakak masih mau menyiksa diri kakak dengan masa lalu dan bayang-bayang kak Mira, silahkan kan, tapi jangan ajak Nisa untuk hidup dengan kakak,"ucap Annisa.


"Annisa sama, Annisa sangat mencintai Arsyil, tapi Annisa sadar. Tidak selamanya Annisa hidup di dalam lingkungan masa lalu Annisa bersama Arsyil,"imbuh Nisa.


"Iya, kakak salah, kakak terlalu hanyut dalam masa lalu, kakak sangat mencintai Mira. Nis, bisa kita mulai dari awal lagi?"tanya Arsyad.


"Aku tidak tau, kak. Karena aku takut, takut hati ini terluka lagi, setelah aku mencoba membuka hati untuk kakak, seperti kemarin waktu awal kita menikah,"jelas Annisa.


"Aku sudah berusaha, kak. Berusaha menerima keadaan, belajar mengisi hati ini lagi dengan sosok pria lain, yaitu kakak, tapi lihatlah, kakak malah menghindar, dan bicara kalau kakak tidak akan pernah bisa menerima keadaan ini, dan tidak akan pernah bisa mencintai wanita lain, selain Kak Mira,"ucap Annisa.


"Saat kakak tau, kamu sudah bisa menerima keadaan dan bisa menerima kakak sebagai suamimu. Kakak semakin merasa bersalah pada diri kakak yang menduakan cinta kakak untuk Almira. Kakak semakin menjauhi kamu, semenjak kakak melihat semua catatan Almira tentang kakak, tentang perasaaan kakak yang Almira kira kakak masih sangat mencintaimu. Padahal, sedikitpun kakak sudah tak mencintaimu, semenjak kakak hidup dengan Almira,"jelas Arsyad.


"Dan karena itu, kakak lebih memilih menghindari aku yang sekarang menjadi istri kakak?"tanya Annisa.


"Iya, karena kakak berpikir, Almira menyuruh kakak menikahi kamu, karena kakak masih sangat mencintaimu, bukan karena anak-anak atau apa,"jawab Arsyad.


Annisa mengembuskan napasnya dengan kasar mendengar penuturan suaminya itu. Annisa sedikit kecewa dengan suaminya, dia tidak tahu harus berbuat apa. Di dalam hatinya sudah ada nama Arsyad bersanding dengan Arsyil. Namun keinginan dia untuk berpisah dan hidup sendiri juga sangat kuat.


"Nis, kakak mohon, jangan pernah mengatakan berpisah lagi. Kakak mohon, Nis." Arsyad memohon pada Annisa, dia berlutut di depan Annisa yang duduk di tepi ranjang.


"Jangan seperti ini, kak. Annisa gak tau, kak. Annisa bingung dengan sikap kakak yang mudah goyah, sikap kakak yang kadang pasti kadang tidak. Kakak, kakak pernah berumah tangga, seharusnya kakak tau tentang komitmen berumah tangga, kak. Lihat pasangan yang tidak saling mencintai, yang di jodohkan dengan cara di paksakan oleh kedua orang tua mereka, mereka juga bisa menerima keadaan, kak. Bisa memberikan kewajiban layaknya suami istri walaupun tanpa cinta sedikitpun di hati mereka,"jelas Annisa.


Arsyad hanya terdiam mendengar apa yang Annisa katakan. Dia bahkan tidak menyangka Annisa bisa berbicara sedewasa itu. Arsyil dan Annisa memang pasangan yang sama-sama dewasa pemikirannya. Walaupun mereka terbilang pasangan yang menikah mudah.


"Kak, aku kasih waktu kakak, untuk kembali kakak berpikir. Memang kita menikah untuk mereka, untuk anak-anak kita, bukan untuk diri kita, bahkan untuk mengisi kekosongan hati kita masing-masing. Namun, apa salahnya kita mencoba, kak. Untuk membuka hati kita tanpa melupakan pasangan kita dulu,"ucap Annisa.


Annisa keluar dari kamar Arsyad. Arsyad masih berpikir keras apa yang di katakan Annisa. Arsyad menyadari, jika selama ini dia melakukan kesalahan terbesar dalam hidupnya. Hamor tiga bulan dia mendiamkan istrinya, berbicara hanya ada kepentingan saja, bersikap mesra di depan anak-anak mereka saja. Setelah itu, mereka sendiri-sendiri lagi, bahkan tidur pun sendiri. Arsyad dan Annisa seperti berada di dalam rumah yang kosong. Walaupun rumah mereka ramai canda dan tawa anak-anak mereka, tapi hati mereka kosong dan sepi.


"Dia sangat dewasa sekali pemikirannya, aku tidak menyangka Annisa akan bicara seperti itu padaku. Rasanya aku ini anak kecil yang terus di nasehati oleh semua orang. Aku memang egois, dari awal mencintai Annisa dan hingga berakhir hidup dengan Annisa yang sudah tak memiliki rasa cinta itu,"gumam Arsyad.


Arsyad mengusap wajahnya dengan kasar, dia keluar menyusul Annisa keluar dari kamarnya. Dia melihat Annisa sedang bersama anak-anaknya, bercerita dan bercanda dengan Najwa, Shifa, Dio, dan Raffi. Annisa terlihat begitu bahagia, meskipun hatinya masih tergores luka oleh suaminya.


"Kamu memang ibu yang baik dan bijaksana, Annisa. Dalam keadaan hatimu yang sakit, kamu masih bisa tertawa riang bersama anak-anak. Kamu mampu menyembunyikan rasa luka dan kecawa dalam hatimu. Seharusnya aku beruntung memiliki istri seperti kamu, Nis. Aku bodoh selama ini menyia-nyiakan kamu. Pantas saja orang seperti Leon, begitu mengharapkan mu dan mencintaimu,"gumam Arsyad.


Arsyad mendekati Annisa dan anak-anaknya yang sedang bercanda. Dia mencoba menetralkan perasaannya dengan bergabung bersama Annisa dan anak-anaknya.


"Kalian senang sekali, sedang bermain apa sih? Abah boleh ikut?"tanya Arsyad sambil duduk di samping Annisa.


"Boleh, sini Abah, jangan kerja terus, Abah selalu sibuk terus,"ucap Raffi.


"Abah sudah tidak sibuk lagi mulai hari ini, kalian sedang apa, sepertinya senang sekali?"tanya Arsyad lagi.


"Kita sedang bercada dengan bunda, ya kan, bunda?"ucap Dio.


"Iya, biasa kan kalau jam segini waktu kita, ya, kan?"tanya Annisa pada anak-anak.


"Bunda memang sudah sembuh?"tanya Arsyad.


"Seperti yang Abah lihat,"jawab Annisa.


"Ayo lanjutkan, Najwa. Jangan menyerah,"ucap Annisa.


"Ini kenapa wajah kamu, nak. Kok banyak coretan bedak?"tanya Arsyad.


"Kan, kak Najwa kalah,"ucap Dio.


"Kalian main ular tangga rupanya?"tanya Arsyad.


"Ayo ikut, Abah. Biar tambah rame," ajak Shifa.


"Oke, baiklah." Arsyad duduk di sebelah Annisa.


"Jadi yang turun di coret pakai bedak nih?"tanya Arsyad.


"Iya Abah,"jawab Shifa.

__ADS_1


"Oke, kita mulai,"ucap Arsyad.


Mereka bermain ular tangga bersama, seperti layaknya keluarga yang bahagia, padahal dalam hati Annisa dan Arsyad masih bergejolak dengan peristiwa tadi.


"Yeay, Abah naik nih,"ucap Arsyad.


"Sekarang giliran bunda." Arsyad memberikan dadu pada Annisa.


"Yeay,,, dapat 6, berarti satu kali lagi,"ucap Annisa.


Annisa mengocok dadunya lagi karena mendapatkan angka ennam


"Kan bunda juga naik,"ucap Annisa.


"Iya deh iya, kalian bahagia banget naik tangga,"ucap Dio.


Mereka masih bermain ular tangga, hingga tiba giliran Annisa lagi mengocok dadunya.


"Yah…..turun,"ucap Annisa dengam wajah yang kesal.


"Yeay, bunda di coret,"ucap Shifa.


"Satu-satu dong nyoretnya jangan berebut,"ucap Annisa.


Anak-anak menyoret wajah Annisa dengan bedak baby, dan sekarang giliran Arsyad yang mencoret wajah Annisa.


"Ini hukumannya cuma mencoret saja,Dio?"tanya Arsyad.


"Iya Abah, memang mau hukuman apa lagi?"tanya Dio.


"Kalau khusus abah dan bunda boleh tidak hukumannya ganti?"ucap Arsyad.


"Ganti apa?"tanya Raffi.


"Oh, iya. Najwa jarang sekali lihat Abah cium bunda, sekarang hukumannya ganti ya, khusus abah dan bunda kalau kalah harus di cium. Berarti silahkan Abah cium bunda,"ucap Najwa.


"Gak,gak, kalian curang!"tukas Annisa.


"Ayolah, bunda… kan ini cuma permainan, lagiyan salah sendiri kalian jarang bermesraan, sampai kapan kalian akan saling diam-diaman gitu,"ucap Dio.


"Yups, betul kata Dio, apa salahnya bunda, Abah cium bunda, ya kan?"ucap Shifa.


"Ayo Abah buruan cium bunda,"titah Raffi.


"Yah, yah, kali ini Abah nurut deh,"ucap Arsyad.


"Nah, gak mau ah, curang kalian,"ucap Annisa.


"Bunda, curanga apanya, sih?"tanya Najwa.


"Gitu dong, bunda, kan sprotif,"ucap Raffi.


"Sportif apaan,"ucap Annisa dengan merengut.


"Sudah jangan cemberut, sini bunda kan kalah,"ucap Arsyad sambil menarik Annisa agar dekat dengannya.


Arsyad mencium pipi Nisa di depan anak-anaknya.


"Gitu dong, jangan marahan mulu,"ucap Dio.


"Siapa yang marahan, Dio,"ucap Annisa.


"Sudah lanjutkan permainannya,"titah Annisa.


"Bosan, ah…yuk main petak umpet Abah,"ajak Najwa.


"Petak umpet?"tanya Arsyad.


"Kamu ada-ada saja, Najwa." Annisa mencubit lembut pipi Najwa yang semakin hari semakin Chubby.


"Iya, bunda ayo main petak umpet," ajak Dio juga.


"Ya sudah terserah kalian mau main apa,"ucap Arsyad.


"Petak umpet, ayo mulai,"ucao mereka.


Arsyad dan Annisa menuruti apa keinginan mereka, terlebih Arsyad yang ingin memperbaiki hubungannya dengan Annisa.


Mereka melakukan hompimpah dan hanya tinggal Arsyad dan Annisa yang kalah, mereka berdua harus suit, dan siapa yang kalah mereka yang jadi.


"Yah, bunda kalah,"ucap Annisa.


"Ayo tutup mata bunda dulu." Najwa mengambil kain untuk menutupi mata Annisa.


"Ya sudah, coba ikatkan,"titah Annisa pada Najwa.


"Sini Abah saja yang ikatkan." Arsyad mengambil kain yang di pegang oleh Najwa. Arsyad menutup mata Annisa dengan kain.


"Sudah, Annisa?"tanya Arsyad.


"Hmmm…sudah sana kalian sembunyi, bunda hitung dari 1 sampai 10" ucap Annisa.


Annisa berdiri sambil di tutup matanya, dia menghitung 1 sampai 10, semua berlari mencari tempat untuk sembunyi. Dio dan Najwa merencanakan sesuatu, dia menarik Abahnya yang akan bersembunyi di sebelah lemari.


"Abah, sini,"panggil Dio. Arsyad menghampiri Dio dan Najwa yang memanggilnya.

__ADS_1


"Abah sembunyi di kamar Abah saja, di balik lemari pakaian,"ucap Najwa.


"Baiklah." Arsyad menuruti apa kata Najwa.


Senyum merekah nampak di wajah Najwa dan Dio. Dia akan berusaha agar Abah dan bundanya tidur bersama di kamar. Najwa sudah mengganti posisi kunci kamar Arsyad berada di luar, jadi setelah Annisa masuk mereka leluasa mengunci Arsyad dan Annisa.


"Kalian lama sekali, sudah belum!"teriak Annisa.


"Sudah bunda!"teriak Najwa.


Najwa dan Dio bersembunyi di dekat Annisa, sengaja biar mereka ketemu lebih dulu.


"Yeay,,ketemu, Dio, Najwa,"ucap Annisa sambil memeluk Dio dan Najwa.


Annisa mencari Shifa dan Raffi yang belum ketemu. Akhirnya mereka menemukan Shifa di kolong meja dan Raffi di balik pintu. Yang belum ketemu hanya Arsyad saja. Annisa masih mencarinya.


"Bunda, Abah belum ketemu?"tanya Najwa.


"Belum, coba di kamar tamu atau di kamar bunda,"ucap Dio.


"Iya bunda, barangkali di sana,"ucap Raffi.


Annisa mencari ke kamar tamu, dan di sana dia tidak menemukan Arsyad. Dia berpindah ke kamarnya, Annisa masuk mencari Arsyad di ikuti Najwa dan Dio.


"Abah, di mana sih? Sembunyinya jauh sekali,"ucap Annisa sambil mencari Arsyad di dalam kamarnya.


Najwa dan menghitung 1 sampai 3 saat akan menutup dan mengunci kamar mereka.


"Satu, dua, tiga, dah bunda… sudah kalian harus tidur bersama ya, jangan pisah-pusah terus,"ucap Najwa dan Dio sebelum menutup pintu. Annisa menoleh dan akan berlari, tapi tangan Arsyad meraih tangan Annisa.


Najwa dan Dio berhasil mengurung Abah dan bundanya di kamar mereka.


"Kak, pegang kuncinya, nanti jam 3 saat kakak mau sholat malam, kakak buka kuncinya,"ucap Dio.


"Oke, untuk besok kita libur, jadi biarkan mereka sampai siang, kan mereka juga libur,"ucap Najwa.


"Jangan, kak. Kita buka saja jam 3 pagi,"ucap Dio.


"Oke, ayo kita ke kamar,"ajak Najwa.


Annisa dan Arsyad terkurung di dalam kamar, Arsyad tak peduli walau dia harus menahan lapar karena belum makan malam. Karena dia ingin sekali memperbaiki hubungan mereka.


"Ini rencana kakak?"tanya Annisa.


"Bukan, mereka yang menyuruh aku berbunyi di sini, Annisa,"ucap Arsyad.


"Huh…." Annisa membuanb napasnya dengan kasar dan mendudukan dirinya di tempat tidur


"Nis, sudahlah, apa salahnya kita tidur satu kamar,"ucap Arsyad.


"Jelas salah dong!"tukas Annisa.


"Apanya yanh salah?"tanya Arsyad.


"Tau ah, kakak tidur di sofa, sana!"titah Annisa.


"Nah, kan. Kakak jadi sasaran, masa iya kamu tega nyuruh kakak tidur di sofa? Tempat tidur ini luas sekali, Annisa. Masa kamu tidak mau berbagi?"ucap Arsyad kesal.


"Biar merasakan tidur di sofa. Gantia dong aku yang nyuruh kakak, sudah tiga bulan ini kan kakak selalu menyuruh Nisa tidur di kamar tamu, sekarang gantian aku menyuruh kakak tidur di sofa,"ucap Annisa.


"Oh…begitu? Oke, kakak tidur di sini dengan kamu, pilih mana, kakak tidur di ranjang ini dengan kamu tanpa menyentuh kamu, atau kakak tidur di sofa, tapi sebelum itu, kita lakukan hubungan suami istri dulu,"ucap Arsyad denan senyuman meledek Annisa.


"Enak saja kalau bilang, sudah tidurlah!"titah Annisa dengan merebahkan dirinya dan menjauh dari Arsyad.


"Baiklah, terima kasih sudah mau berbagi, apa mau aku peluk?" Arsyad kembali menggoda istrinya.


"Tidak butuh pelukan, karena aku sudah biasa sendiri!"tukas Annisa.


"Baiklah,"ucap Arsyad.


Arsyad tidur di samping Annisa. Mereka berdua tidak bisa tidur, mungkin karena masih belum larut malam dan karena Arsyad menahan rasa laparnya karena belum makan malam.


"Nis, aku lapar,"ucap Arsyad


"Sana keluar makan!"titah Annisa.


"Bagaimana mau keluar, pintu di kunci Najwa dan Dio,"ucap Arsyad.


"Ya sudah, tahan sampai besok, salah sendiri kakak mah di kerjain mereka," ucap Annisa.


Mereka berdua tidak bisa tidur hingga larut malam. Untuk mengisi waktu tidak bisa tidurnya, Annisa membuka laptopnya dan mengerjakan beberapa file yang belum sempat ia kerjakan tadi di kantor. Arsyad memerhatikan Annisa yang sibuk bekerja, dia hanya terdiam menemani istrinya yang sedang sibuk dengan laptopnya.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


♥️happy reading♥️


__ADS_2