THE BEST BROTHER

THE BEST BROTHER
Ekstra Part 1 "Cewek Jutek" The Best Brother


__ADS_3

Arsyad, Annisa, Shita, dan Vino masih berada di rumah Opa Rico setelah kepergian Opa Rico. Mereka belum ingin pulang ke rumahnya karena masih ingin mengenang masa-masa bersama papahnya dulu. Dan, masa-masa saat keluarga besarnya masih utuh.


Shita sangat merindukan masa-masa itu, begitu juga Arsyad. Shita duduk di depan maja kerja yang biasa ia gunakan dengan ibunya untuk mengerjakan laporan keuangan cafenya. Rasanya kebahagian itu tak pernah tergantikan. Shita lagi-lagi menyeka air matanya mengingat semua itu.


“Mah, jangan menangis terus, kasihan papah kalau kamu seperti ini,” ucap Vino dengan memeluk istrinya.


“Aku tidak menyangka, sekarang hanya aku dan Kak Arsyad saja. Kenapa Arsyil juga pergi, harusnya kita masih bertiga saat ibu dan papah sudah tidak ada, Pah,” ucap Shita.


“Mah, semua akan kembali pada Allah, kita semua juga nanti akan menghadap Allah suatu saat. Mamah jangan seperti ini,” ucap Vino.


“Papah, ibu, dan Arsyil sudah bersama, mereka sudah bahagia berada di surga,” imbuh Vino.


Shita memeluk suaminya, rasanya dia hanya hidup dengan kakaknya saja jika mengingat semua kenangan bersama keluarganya dulu. Bercanda dengan Arsyil, dimanja oleh papahnya, dan banyak lagi kenangan bersama orang-orang tercintanya.


^^


Arkan dari tadi menemani abahnya di ruang tamu, dia melihat abahnya selalu menampakkan kesedihan setiap hari. Hanya Arkan yang selalu menghibur abahnya saat ini. Sudah satu bulan abah dan bundanya tinggal di rumah opanya. Mungkin hanya Arkan yang merasakan sebentar menikmati kebahagian dengan Opanya. Meski abah dan bundanya tinggal di rumah opanya, dia memilih tinggal di rumah abahnya, walaupun sendiri hanya dengan asisten rumah tangganya saja. Itu semua karena jarak sekolah dari rumah opanya sangat jauh.


Arkan malam ini menginap di rumah opanya, karena besok hari minggu. Sekarang hanya Arkan yang menemani hari-hari kedua orang tuanya, karena semua kakaknya sudah berkeluarga, hanya Arkan yang masih sekolah. Jadi, kakaknya sudah tinggal di rumahnya masing-masing. Dia juga selalu di rumah opanya jika pulang sekolah. Setelah opanya meninggal, dia sudah jarang sekali main hingga tengah malam. Dia mengingat semua nasihat dari opanya sebelum Opa Rico meninggal.


Arkan selama sebulan selalu memperhatikan kesehatan abah dan bundanya. Apalagi dengan abahnya, dia sangat perhatian sekali setelah opanya meninggal. Seperti sekarang ini, jika malam minggu dia menemani bunda dan abahnya di rumah opanya, meski ada tante dan om nya yang juga tinggal di rumah opanya.


“Abah sudah makan?” tanya Arkan.


“Sudah, tadi kan sudah makan,” jawab Arsyad.


“Abah tidak ingin sesuatu? Ingin apa gitu?” tanya Arkan lagi.


“Tidak, abah tidak ingin apa-apa,” jawabnya.


“Arkan kira, pingin martabak manis atau apa gitu,” ucap Arkan.


“Yah, itu mah alasan kamu saja biar kamu keluar menemui pacarmu, ya kan?” ledek Arsyad.


“Ih... abah, enggak lah. Kali aja papah pingin, aku soalnya ingin beli kebab yang di sana, pengen coba enak atau tidak,” ucap Arkan.


“Abah kira mau ketemu siapa itu?”


“Lily?”


“Nah, iya itu.”


“Gak abah.”


“Kamu pengen jajan? Sana beli martabak manis, kamu kan pinter buat kopi juga, nanti buatin kopi untuk abah,” ucap Arsyad.


“Oke, Arkan keluar.”


“Jangan lama-lama.”


“Iya, abah.”


Arkan mengambil kunci sepeda motornya dan helm. Dia langsung pergi mencarikan martabak manis untuk abahnya. Memang abahnya menyukai martabak, jadi Arkan ingin membelikannya.


“Arkan berangkat, Bah,” pamit Arkan.


“Hati-hati,” jawb Arsyad.


Arkan hanya menunjukkan jempolnya saja pada abahnya. Dia langsung berangkat menggunakan motor kesayangannya. Ya, sepeda motor peninggalan Arsyil sekarang Arkan yang pakai. Bengkel motor milik Arsyil juga dia sekarang yang handle, karena dia suka dengan dunia otomotif juga selain hobinya denga si kulit bundar.


Arkan sudah sampai di depan kedai martabak yang kata abahnya enak. Dia memesan dua porsi martabak, lalu meninggalkannya sebentar karena ingin membeli kebab di samping kedai martabak.

__ADS_1


“Kak Arkan...!” panggil seseorang cewek pada Arkan. Arkan menoleh ke arah sumber suara. Cewek berambut pirang dengan wajah yang tirus dan hidungnya yang mancung mendekatinya.


“Tita... kamu di sini?” tanya Arkan.


Ya, Tita anaknya Rere dan Leon, dia sekarang tinggal di sini bersama kakanya, Thalia. Karena Leon tidak mau anak bungsunya salah bergaul jika tinggal di Berlin. Memang Tita tidak seperti kakaknya yang sangat pendiam.


“Iya, Kak, aku di suruh papah dan mamah tinggal di sini,” jawab Tita.


“Papah tau Tita merokok, lalu Tita di kirim ke sini,” imbuhnya dengan kesal.


“Sukurin! Salah siapa cewek merokok. Kamu itu masih kecil,” ucap Arkan dengan mengacak-acak rambut Tita.


“Tapi cowok Tita kan di sana,” ucapnya dengan mengerucutkan bibirnya.


“Jiah...cowok aja di pikirin! Di sini stok cowok ganteng juga banyak, Tit!” ucap Arkan dengan berkelakar. Karena tidak menyangaka gadis sekecil Tita yang baru mau masuk SMP sudah mengenal cowok.


“Kaya Kak Lia saja, manggil aku Tit, aku Tita, Kak Arkan!” ucap Tita dengan kesal dan memukul lengan Arkan.


“Lagian kamu, kecil-kecil pacaran.” Arkan semakin tertawa melihat wajah Tita yang lucu dan menggemaskan kalau sedang kesal.


“Kamu di sini sama siapa?” tanya Arkan.


“Tuh, Kak Lia, sama sopir juga, sih,” jawab Tita.


“Oh, sama cewek judes itu?” ucap Arkan dengan memandang Thalia yang memasang wajah tidak suka pada Arkan.


“Hus...judes-judes juga kakaknya Tita itu, Kak. Awas nanti Kak Arkan jatuh cinta lho, judes juga banyak yang suka itu,” ujar Tita.


“Hah...cewek judes ada yang suka? Mustahil...!” kelakar Arkan.


Thalia mendekati adiknya yang sedang bercanda dengan Arkan. Dia tahu kalau Arkan dari tadi membicarkan dirinya. Dia mendekati Tita, karena martabak yang ia pesan sudah selesai.


“Ih, kakak gak sopan ngajaknya, ini ada Kak Arkan juga, sapa kek, apa kek!” ucap Tita.


“Gak perlu! Gak ada urusan sama cowok sombong dan galak!” jawab Thalia dengan sarkastik.


“Hah..! yang sombong aku atau kamu? Kamu itu yang galak, jutek, judes! Beda sekali dengan adiknya,” ucap Arkan dengan kasar dan tidak mau kalah,


“Kalian, malah kayak anak kecil, awas kalian nanti jatuh cinta. Sudah Kak Arkan, memang Kak Lia gini kok, Tita pulang, Kak. Salam buat Om Arsyad yang tampan dan Tante Nisa yang cantik. Bilang salam dari keponakannya yang cantik dan imut ini,” ucapnya dengan menunjukkan gaya centilnya yang membuat Thalia semakin kesal dengan adik perempuannya yang kecentilan.


“Sudah deh, jangan centil jadi cewek!” ujar Thalia dengan kesal.


“Daripada jutek dan galak,” sambung Arkan.


“Kamu! Jangan ikut campur!” sarkas Thalia.


“Sudah buruan pulang, Ta. Nurut sama kakakmu, nanti yang ada gerobak Kang kebab di tendang,” ucap Arkan dengan berkelakar.


Thalia semakin kesal dengan Arkan. Dia mengepalkan telapak tangannya, dan menarik adiknya yang masih saja belum mau pulang.


“Ayo, Tita!” Thalia menarik tangan  Tita dengan kasar.


“Aduh... sakit kakak,” ucap Tita.


Arkan hanya bisa menggelangkan kepala melihat Thalia kasar sekali dengan adiknya. Tapi, dia melihat kelucuan kakak beradi itu yang berbeda 180 derajat.


“Thalia...Thalia... cantik-cantik jutek sekali kamu,” gumam Arkan sambil melihat Tita dan Thalia masuk ke dalam mobilnya.


^^^


Tita masih saja merasakan sakit di pergelangan tangannya karena kakaknya menarik tangannya.

__ADS_1


“Dek, kenapa?” tanya Thalia yang melihat adiknya memegangi pergelangan tangannya.


“Sakit kak, tangannya. Kakak kalau narik kira-kira dong, kesalnya sama Kak Arkan aku yang jadi sasaran,” ucap Tita dengan lirih agar sopirnya tidak mendengar.


“Maaf, kamu juga sama-sama nyebelin,” ucap Thalia.


“Tapi gak gini juga, kak. Lihat tanganku tambah bengkak,” ucap Tita sambil menangis.


“Ya Allah, Dek. Maafin kakak.” Thalia memegangi tangan Tita dan memeluknya.


“Pak, ke apotek bisa?” tanya Thalia.


“Bisa, Non,” jawab sopirnya.


Thalia berniat membelikan obat untuk Tita, karena tangannya semakin bengkak dan memerah.


“Pak, bapak tahu obat untuk tangan bengkak seperti ini?” tanya Thalia pada sopirnya.


“Aduh non, itu harus di bawa ke tukan urut, itu Non Tita kenapa?” tanya sopirnya.


“Tadi aku tidak sengaja men....”


“Tadi mau duduk terus kepleset pak, tanganku yang menyangga,” potong Tita.


“Titaaa...!” ucap Thalia yang menutupi perbuatan kakaknya yang menarik tangannya. Tita mengisyaratkan pada kakaknya karen sopirnya nanti dengar dan melaporkan pada papah atau mamahnya, atau bisa juga bilang pada eyangnya.


Tita tidak mau kakaknya di marahi oleh siapapun. Meski kakaknya galak sekali, dia tidak pernah tega melihat kakaknya di marahi. Tita sangat sayang pada kakaknya, karena kakanya saudara satu-satunya. Meski sering bertengkar kedua anak pasangan dari Leon dan Rere saling menyayangi. Thalia membawa Tita ke tukang urut dianatar oleh sopir pribadinya.


^^^


Arkan sudah sampai di rumah dia segera membuka martabak yang ia beli dan memindahkannya di piring. Dia duduk di sebelah abahnya. Ada Shita juga dan Vino. Mereka bersama-sama menikmati martabak dan kebab yang Arkan beli.


“Abah, bunda. Dapat salam dari keponakannya yang centil,” ucap Arkan.


“Siapa?” tanya Annisa.


“Itu lho, Tita,” jawab Arkan.


“Tita? Anaknya Rere?” tanya Arsyad.


“Kok dia di sini?” tanya Annisa.


“Dia di kirim ke sini. Ketahuan ngerokok katanya, sama paman Leon. Jadi dia di sini biar sama eyangnya,” jawab Arkan.


“Bandel sekali dia,” ucap Arsyad.


“Makanya dia di sini, biar di jaga sama eyang dan juga Thalia yang galak,” ucap Arkan.


“Hus... jangan bilang gitu, nanti kamu jatuh cinta. Orang Thalia baik kok anaknya,” ucap Arsyad.


“Baik apanya, tadi saja Tita ditarik tangannya sampai kesakitan mau nangis,’ ujar Arkan.


“Sebentar-sebentar, ini anaknya Rere sahabat kamu itu, Nis? Yang cerewet yang nikah sama Leon?” tanya Shita.


“Iya, Kak,” jawab Annisa.


“Anak-anaknya sudah gede?” tanya Shita lagi.


“Yang pertama seumuran Arkan, yang ke dua masih mau masuk SMP,” jawab Annisa.


Mereka menikamti martabak dengan bercerita. Ya, meski kadang merasa sepi hanya berempat saja, setidaknya hadirnya Arkan setiap malam minggu membuat mereka tidak sepi lagi. apalagi jika ada Farrel, Shifa, Dio, dan Raffi. Mereka juga sering berada di rumah omanya. Tapi, Rana dan Najwa yang sering datang, paling hanya sebentar saja menengok orang tuanya yang sekarang tinggal di rumah opanya.

__ADS_1


__ADS_2