
Kevin melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Arsyad dari tadi tidak melepaskan genggaman tangan istrinya. Dia benar-benar tidak mau terpisah dengan Annisa lagi. Arsyad saat ini bagai menemukan hidupnya lagi. Annisa menyandarkan kepalanya di bahu Arsyad. Dia benar-benar merindukan hal seperti ini.
Selama kurang lebih 8 bulan, mereka terpisah, tidak saling menatap, memeluk, bahkan menyentuh. Annisa sangat merindukan momen-momen bersama suaminya. Selama ini dia hanya bisa menahan rindu pada suaminya.
"Kak, kita perlu bicara dengan anak-anak. Walau bagaimanapun mereka harus tau semua ini, apalagi Dio, dia sepertinya masih sangat marah dengan opa dan tantenya," tutur Annisa.
"Iya, aku tahu. Shita sering menemuinya, tapi Dio selalu acuh dengannya," ucap Arsyad.
"Ya, aku tidak menyalahkan Dio. Namanya seorang anak, melihat bundanya di perlakukan kasar, pasti marah, Nis," imbuh Arsyad.
"Maafkan aku, aku sama sekali tidak menyuruh dia untuk seperti itu. Aku selalu meminta Dio untuk bisa memaafkan opa dan tantenya,"ucap Annisa.
"Aku tau itu, namanya anak seusia Dio, hatinya masih mudah berbolak-balik, mudah terhasut, apalagi kata Raffi kemarin Shita kasar dengan kamu, maafkan aku, sudah membuat kamu menderita seperti ini." Arsyad memeluk istrinya dan mencoba memberi masukan pada Annisa, agar bicara pelan-pelan dengan Dio nanti.
Arsyad bingung, kenapa mobil Kevin berhenti di depan rumah orang tua Annisa. Selama ini memang tidak ada yang tahu Annisa tinggal di rumah orang tuanya.
"Kok ke rumah Om Rizal, Nis?"tanya Arsyad.
"Selama ini aku tinggal di sini, kadang di temani paman, Zidane, atau Alvin. Dan, anak-anak tinggal di rumahku," jawab Annisa.
"Ayo turun, kak," ajak Annisa.
Arsyad berjalan dengan dipapah Kevin, dia tidak mau memakai kursi roda lagi, dan akhirnya Arsyad memutuskan untuk sementara berjalan memakai tongkat. Kevin segera menuju ke rumah Rico untuk mengambil pakaian Arsyad dan menjemput Raffi dan Najwa. Dan Rere menjemput Dio dan Shifa bersama Annisa dan Arsyad.
^^^^^
Rico dan Shita duduk di ruang tengah. Mereka saling diam, tak ada sedikitpun kata-kata keluar dari mulutnya. Rico tidak menyangka dirinya akan merasakan kesepian seperti ini. Dia hampir menghancurkan rumah tangga anaknya sendiri karena keegoisannya.
Najwa mendekati opanya, karena dia tidak melihat abahnya di dalam kamar. Najwa duduk di samping opanya, dia menanyakan di mana abahnya.
"Opa, Abah kok gak ada di kamar? Di teras belakang juga tidak ada, dia luar juga tidak ada," tanya Najwa.
"Abah, ikut pulang dengan bunda," jawab Rico.
Seketika najea menundukan kepalanya, bukan karena tidak suka Abahnya ikut bersama Annisa. Dia hanya bingung jika nanti tinggal bersama lagi, apa Dio dan bundanya mau memaafkan dia atau tidak. Soalnya, berulang kali Najwa meminta maaf dengan Dio, Dio selaku acuh dengannya.
"Opa tau, kamu masih kecewa dengan bunda, tapi abahmu membutuhkan bunda, nak," tutur Rico.
"Najwa tidak kecewa dengan bunda, Najwa malu saja dengan bunda, Dio, dan Shifa jika nanti tinggal bersama," jawab Najwa.
"Semua akan baik-baik saja, nak. Nanti Om Kevin menjemput kamu dan Raffi, ikutlah bersama Abah dan bunda," ucap Rico.
"Kalau bunda tidak memaafkank Najwa? Dan Dio masih saja tidak mau bicara dengan Najwa, bagaimana?" tanya Najwa dengan bingung.
"Tidak ada orang tua yang tidak mau memaafkan anaknya, Najwa. Pasti bunda memaafkanmu, dan untuk Dio, pasti dia bisa memaafkanmu kembali, bicaralah baik-baik pada bunda, Dio, dan Shifa," tutur Rico.
Najwa menuruti apa kata opanya, dia masuk ke kamar dan menata baju-baju mereka untuk menunggu Kevin menjemputnya. Najwa masih memikirkan kata-kata kasar yang sudah ia ucapkan pada bundanya dan saudaranya itu. Dia merasa malu jika kembali lagi bersama bundanya.
"Iya, aku yang meminta bunda menikah dengan Abah, tapi aku yang mengusirnya. Bukannya aku melindungi bunda saat Tante Shita memarahi dan berkata kasar oada bunda, tapi aku malah ikut mengusir bunda. Maafkan Najwa bunda, jika bunda tidak mau memaafkan Najwa, Najwa akan menerimanya. Najwa sayang bunda," gumam Najwa.
Najwa mengurungkan niatnya untuk menata baju ke dalam kopernya. Dia belum siap untuk tinggal bersama Annisa, Arsyad, dan kedua saudara sepupunya.
"Aku belum siap jika harus bersama mereka, apalagi dengan Dio, dia selalu acuh denganku, saat aku menyapanya juga dia tak menghiraukan sapaanku, aku harus bagaimana, jika aku di sini, aku pasti kangen Abah, jika di sana, aku pasti menjadi sorotan tatapan dingin Dio," gumam Najwa.
Raffi yang sudah selesai menata baju-bajunya di koper, dia menghampiri kakaknya ke dalam kamarnya. Najwa terlihat sedang menata bajunya lagi ke dalam lemari. Raffi yang melihatnya hanya mengernyitkan dahinya dan membujuk Najwa agar mau tinggal bersama bunda.
"Kak, kenapa di masukan ke lemari lagi?"tanya Raffi.
"Kakak lebih baik tinggal di sini, bersama opa, Raf," jawab Najwa.
"Kenapa?"tanya Raffi.
"Kakak belum siap tinggal dengan bunda, Dio, dan Shifa. Kakak….."
"Kakak kenapa? Malu? Takut? Atau bagaimana? Kakak yang salah, harusnya kakak minta maaf dengan bunda. Jika bunda dan Dio cuek atau dingin pada kakak, itu tugas kakak untuk membuat mereka jadi tidak seperti itu, apapun cara kakak. Jangan menghindar, kak. Malah kakak disangka mereka pengecut," tutur Raffi.
"Apa mereka mau memaafkan, kakak? Kamu tau, kan? Kakak sudah keterlaluan sama mereka?" Najwa masih bimbang untuk ikut dengan Arsyad dan Annisa.
"Kak, yang penting kita tulus meminta maaf pada mereka, yang penting kita sudah meminta maaf. Masalah mereka mau memaafkan kita, itu urusan mereka, kak. Yang penting kita berbuat baik pada mereka, dan tidak mengulangi kesalahan pada mereka," tutur Raffi lagi.
"Iya, benar. Lalu, apa kakak harus ikut tinggal dengan mereka lagi?"tanya Najwa.
__ADS_1
"Ya, kita harus memperbaiki hubungan persaudaraan kita, kak. Walau bagaimanapun, kita masih satu darah dengan Dio dan Shifa. Mereka sama-sama cucu opa, dan orang tua kita dengan orang tua mereka adalah kakak beradik. Kita jangan egois, meskipun Dio sekarang dingin sekali," ujar Raffi.
Ya, Raffi merasakan Dio sekarang berubah sekali. Dia menjadi orang yang pendiam dan dingin, tidak seperti biasanya. Di sekolahpun kadang Raffi melihat Dio tidak seceria dan sekicak dulu dengan teman-temannya.
"Sudah, masukan lagi pakaian kakak ke dalam koper, Raffi mau bantu tante menata baju-baju Abah," ucap Raffi.
Najwa menata kembali baju-bajunya ke dalam koper. Dia memikirkan lagi kata-kata adiknya itu.
"Iya, benar kata Raffi. Apa salahnya kita meminta maaf pada mereka. Perkara di maafkan atau tidak itu urusan mereka, yang penting aku sudah tulus meminta maaf," gumam Najwa.
Najwa sudah selesai menata pakaiannya ke dalam koper. Dia keluar dari kamarnya dan menuju ke kamar abahnya, untuk membantu Shita yang sedang menata pakaian Arsyad di koper.
^^^^^
Annisa dan Arsyad sudah sampai di rumah Annisa. Arsyad masih ragu menemui Dio. Dia tau Dio masih sensitif sekali hatinya jika membahas kejadian kemarin. Akhirnya, Arsyad menunggu di bengkel Arsyil, dan Annisa dengan Rere yang masuk ke dalam menemui Dio dan Shifa yang sedang bermain dengan ponselnya.
"Dio, Shifa," panggil Annisa.
"Bunda…Shifa kangen." Shifa memeluk dan mencium bundanya karena sudah hampir 2 Minggu mereka tidak bertemu.
"Kenapa tidak nanti saja ke sininya, kalau sudah 1 bulan, bunda." Dio berkata sambil berjalan ke arah Annisa dan memeluknya.
"Bunda tau, Dio kangen bunda. Bunda jahat, gak mau pulang ke sini lagi," ucap Dio sambil menciumi pipi Annisa.
"Anak bunda sudah gede semua, tinggi kamu sudah hampir sama dengan bunda, Dio." Annisa mengusap kepala Dio dan menciumnya.
"Iya dong, bunda dan Dede bayi sehat, kan?"tanya Dio.
"Sehat dong, lihat, bunda sehat, kan?" Annisa memeluk lagi putrnya itu yang sekarang sudah berubah menjadi dewasa sekali, dan sikapnya cuek dan dingin.
"Oh, ya bunda mau bicara dengan kalian, sini." Annisa mengajak Dio dan Shifa duduk di sofa yang berada di ruang tengah.
Annisa duduk di antara anak kembarnya itu. Annisa menggenggam tangan mereka. Dio dan Shifa betanya-tanya dalam hatinya.
"Bunda ada apa? Bunda kelihatan ceria hari ini?"tanya Dio.
"Dio sama Shifa kangen Abah tidak?"tanya Annisa pada kedua anaknya.
Tidak untuk Dio, dia hanya diam belum menjawab pertanyaan bundanya itu, hingga Annisa bertanya kembali pada Dio.
"Kamu kangen Abah?"tanya Annisa pada Dio.
"Hmmpp..kangen,"jawabnya sambil menarik napasnya dengan berat.
"Dio, Shifa, kalau seandainya kita tinggal dengan Abah lagi, seperti waktu dulu lagi, apa kalian mau?"tanya Annisa.
"Shifa mau bunda, asal bunda tidak sedih lagi," jawab Shifa.
"Kalau Dio?"tanya Annisa.
"Terserah bunda saja," jawabnya singkat.
"Apa Dio marah dengan abah? Apa Dio sudah tidak mau bunda, emm…bersama Abah lagi?"tanya Annisa dengan berat.
"Dio tidak marah sama Abah, Dio tidak tau bunda. Dio hanya tidak mau bunda sakit hati lagi, dan di tuduh macam-macam dengan Tante Shita dan opa," jawab Dio.
"Maksud Dio?"tanya Annisa.
"Apa bunda tidak merasa bunda di salahkan oleh mereka karena kecelakaan itu?"
"Sudahlah, nak. Biarlah itu berlalu, mereka wajar seperti itu, karena takut akan kehilangan Abah," ujar Annisa dengan lembut.
"Apa yang merasa akan kehilangan Abah cuma opa dan Tante? Apa Dio tidak merasa? Bunda dan Shifa tidak merasakannya? Semua merasakan takut kehilangan Abah saat itu, bunda. Tapi saat bunda di usir bukan takut kehilangan Abah lagi yang Dio rasakan, Dio lebih takut kehilangan bunda," ucap Dio dengan nada tinggi.
Arsyad mendengar apa yang Dio bicarakan. Annisa sengaja mengajak bicara Dio di samping pintu yang menuju ke lorong bengkel. Dan Arsyad memang menunggu di lorong itu. Arsyad tau kalau Dio benar-benar marah dengan opa dan tantenya. Arsyad yang mendengar Dio bicara seperti itu, akhirnya dia masuk ke dalam ruamb Annisa.
"Dio, Shifa," panggil Arsyad.
"Abah…" Mereka melihat ke arah Arsyad yang sedang berjalan menggunakan tongkat.
"Iya ini Abah, Abah tadi tidak sengaja bertemu bunda di rumah sakit. Kalian ba-bagaimana kabarnya?"tanya Arsyad.
__ADS_1
"Abah…" Shifa berlari memeluk Arsyad, karena memang dia sudah kangen seklai dengan Arsyad.
"Shifa, Abah merindukanmu, sayang." Arsyad membalas pelukan Shifa.
Dio hanya terdiam melihat Arsyad yang sedang memeluk Shifa. Arsyad melihat Dio yang sepertinya masih sangat kecewa karena masalah kecelakaan itu.
"Dio, sini peluak Abah, abah ingin memelukmu, nak," pinta Arsyad.
Dio berjalan ke arah Arsyad, dai mencium tangan Arsyad dan memeluknya. Tak terasa air mata Dio mengalir di pipi saat memeluk Arsyad.
Mereka duduk bersama di sofa, Arsyad mulai berbicara dengan Dio. Arsyad membujuk Dio dan Shifa agar mau untuk tinggal bersama lagi.
"Dio, Shifa, apa kalian mau tinggal bersama lagi seperti dulu?"tanya Arsyad.
"Shifa mau Abah,"jawab Shifa
"Dio mau di sini saja, kalau kalian mau tinggal di rumah Abah, Dio tidak ikut," jawab Dio sambil berlalu pergi.
"Dio…! Bicara yang sopan…! Bunda tidak pernah mengajari kami seperti itu!" Annisa membentak Dio yang sikapnya semakin hari keras kepala.
"Apa Najwa bicara sopan dengan bunda? Apa Najwa juga bisa menghargai bunda? Dia juga membenci bunda, dan apa salah Dio menolak untuk tinggal bersama seperti dulu lagi!" Dio dengan wajah yang penuh amarah berkata seperti itu dengan Annisa
"Dio, berkali-kali bunda bilang, belajarlah memaafkan, bunda tau kamu sakit hati dengan opa, tante, dan Najwa, tapi tidak seperti itu caranya. Bunda tidak mau tau, kita akan tinggal bersama lagi." Annisa tidak peduli dengan Dio yang tidak mau tinggal bersama lagi seperti dulu.
"Terserah bunda!" tukas Dio sambil berlalu pergi ke kamarnya.
"Jangan seperti itu, biar aku yang bicara dengan Dio." Arsyad berjalan menyusul Dio yang masuk ke dalam kamarnya.
Arsyad menahan pintu kamar Dio yang sudah akan ditutup oleh Dio. Dio terus mendorong dan ingin menutupnya, tapi Arsyad juga menahan pintu kamar Dio, agar dia bisa masuk.
"Abah ingin bicara dengan kamu, Dio. Tolong buka pintunya,"ucap Arsyad.
"Tidak ada yang perlu di bicarakan lagi, abah, lebih baik Abah keluar dan pulang!" teriak Dio dari dalam.
"Oke, abah akan pulang, abah akan pergi, abah tidak akan mengusik hidup kamu dan bunda lagi, tapi Abah ingin bicara sebentar dengan kamu, nak." Arsyad masih menahan pintu kamar Dio. Dan, akhirnya Dio membukakan pintu kamarnya.
"Silakan masuk," ucap Dio.
Arsyad duduk di ranjang dan duduk di samping Dio. Arsyad bicara dengan Dio dari hati ke hati. Dia tau perasaan Dio yang masih marah dengan opa dan tantenya, terlebih dengan Najwa.
"Dio, abah tau, kamu masih marah dengan semua yang mengusir bunda dan kamu waktu itu. Apa kamu benar-benar tidak bisa memaafkan mereka? Mereka masih saudaramu, dia opa kamu, tante kamu, dan Najwa sepupu kamu" ucap Arsyad.
Dio masih terdiam dengan napas yang masih tidak beraturan, detak jantungnya berdetak cepat sekali karena kemarahan menghinggap di seluruh pembuluh darahnya.
"Oke, kalau kamu tidak bisa memaafkan mereka. Abah tidak mempermasalahkan itu. Karena itu urusan kamu dengan mereka. Tapi, Abah mohon 1 hal dengan kamu. Abah ingin tinggal bersama bunda, 1 bulan saja, sampai bunda kamu melahirkan. Abah ingin menemani saat-saat terakhir kehamilan bunda. Bunda bulan depan melahirkan adikmu. Abah hanya ingin itu saja, Abah ingin kita tinggal bersama lagi, Dio. Setelah bunda melahirkan, oke Abah akan pergi lagi, kalau itu mau Dio. Yang penting, Abah sudah menemani bunda kamu saat menjelang melahirkan dan saat melahirkan." Arsyad masih memohon dengan Dio dengan kata-kata yang lembut.
Arsyad tau, bagaimana perasaan Dio saat ini, dan saat bundanya di usir dari rumah oleh opa dan tantenya, juga Najwa.
"Kamu tahu, kenapa Abah meminta itu? Abah tidak mau merasa bersalah seumur hidup abah, seperti ayah kamu. Ayah kamu tidak menyaksikan bundamu saat melahirkan kamu dan Shifa. Karena ayahmu sedang di luar kota. Hanya opa dan Oma yang menemani bundamu saat itu. Apa Dio mau? Bunda melahirkan tanpa didampingi suaminya lagi? Abah hanya ingin itu saja. Dan, setelah itu, kalau Dio ingin Abah pergi, Abah akan pergi kembali ke rumah opa dengan Najwa dan Raffi." Arsyad mengusap punggu Dio yang mungkin saja masih memikirkan kata-kata Arsyad.
Dio masih saja terdiam, mencerna kata-kata Arsyad tadi. Dalam hatinya dia ingin sekali berkumpul bersama lagi. Tapi, hatinya masih sakit sekali jika mengingat semua itu.
"Dio, kamu juga laki-laki. Suatu saat kamu juga akan merasakan seperti ini. Akan merasakan di mana saat istri kamu kelak akan melahirkan. Dan, setiap suami pasti ingin menemani istrinya yang akan melahirkan, kecuali memang sedang ada urusan yang tidak bisa ia tinggal,"ucap Arsyad.
Dio menarik napasnya dengan berat. Dio tau apa yang abahnya rasakan saat ini. Apalagi, selama 8 bulan bunda dan abahnya terpisah.
"Iya, Dio mau tinggal bersama lagi." Dio akhrinya mengiyakan permintaan Abahnya.
"Terima kasih, Dio. Kamu sudah mengabulkan permintaan Abah. Abah janji, setelah bunda melahirkan, Abah dan Najwa akan segera pindah dan kembali ke rumah opa," ucap Arsyad.
"Terserah Abah, Dio mau mengemasi pakaian Dio,"ucap Dio.
Arsyad keluar dari kamar Dio, setelah berbicara dengan Dio. Dia tidak tau, apa Dio akan selamanya seperti itu, atau dia akan berubah. Hal yang paling Arsyad inginkan saat ini adalah, menemani masa-masa terakhir kehamilan Annisa sebelum ia melahirkan. Dan dia bersyukur, karena Dio mau ikut pindah ke rumahnya lagi.
Dio sebenarnya sangat menyayangi Arsyad, tapi rasa sakit di hatinya sulit sekali hilang. Walaupun berkali-kali meneguk madu, namun rasa pahit itu masih ada di hati Dio saat mengingat semua itu.
"Andai saja Tuhan bisa mengambil memoriku yang rusak karena perbuatan dan perkataan mereka pada bunda. Mungkin aku bisa memaafkan mereka dan lupa dengan apa yang mereka perbuat, karena Tuhan telah mengambil sebagian memori ku tentang mereka yang telah menyakiti bunda. Namun, sayang, itu tidak bisa. Dan, memori itu semakin jelas ketika aku melihat mereka yang menyakitiku dan bunda," gumam Dio.
Dio dengan terpaksa mengemasi pakaiannya yang berada di dalam lemari, dia memasukannya ke dalam koper dan akan ikut pindah ke rumah abahnya.
"Seperti meneguk madu hitam, pahitnya masih terasa di ujung tenggorokan dan susah sekali di hilangakan, meskipun sudah kuteguk madu yang manis," gumam Dio.
__ADS_1