
♥Arsyad♥
Aku masih belum bisa memejamkan mata, aku masih memikirkan Almira yang seakan belum percaya kalau aku sudah yakin dengan keputusanku.
Aku melihat ponselku yang kembali berbunyi karena ada notifikasi pesan dari Whatsapp. Aku membuka pesan yang masuk.
[Alhamdulillah kalau kamu sudah yakin dengan keputusan mu Syad. Syad bisakah besok kita bertemu?]
[Bertemu di mana Mira?]
[Di taman bacaku Syad.]
[Baiklah, tunggu di sana, pukul 10 pagi aku ke taman bacamu.]
[Baiklah aku tunggu kamu Syad]
"Ada apa Almira minta bertemu denganku? Apa dia masih belum percaya dengan keputusanku ini?" uacapku lirih dalam hati.
Hati ini memang masih ada Annisa. Tapi, saat bersama Almira kenapa rasa untuk Nisa bisa hilang seketika.
"Apa Almira adalah obatku untuk melupakan Annisa? Maafkan aku Mira. Aku akan berusaha menjadi imam terbaik untukmu."ucapku lirih.
♥Almira♥
Aku harus menceritakan semuanya, harus menceritakan masa laluku kepada Arsyad, aku tak mau dia tahu setelah aku menikah nanti. Iya, aku pernah memiliki masa lalu yang sangat pahit sekali, waktu aku berumur 10 tahun. Jika aku mengingat semua itu rasanya aku ingin mati saja. Tapi, aku punya Allah, aku tahu Allah sayang denganku dan memberi kesempatan aku untuk hidup hingga sekarang.
Aku bukan sesosok wanita yang sempurna. Bahkan aku lebih dari kata hina. Aku memang berpakaian layaknya wanita paling sempurna. Tapi, itu tidak. Aku bisa seperti sekarang ini karena dorongan dan bimbingan dari orang-orang terhebatku untuk melawan hidupku yang kelam waktu itu. Ummi, Abah, Pakde Fahmi dan Budhe Artha merekalah orang-orang terhebatku. Jika memang setelah aku jujur dengan masalalu ku yang kelam ini pada Arsyad dan dia menerima ku apa adanya aku wanita yang sangat beruntung mendapatkan laki-laki sempurna seperti Arsyad. Jika Arsyad tak bisa menerimaku mungkin Allah punya rencana lain untuk ku. Hanya Allah satu-satunya penolongku, dan aku sangat percaya itu. Allah cinta pada hambanya yang juga mencintainya.
Aku masih belum bisa tidur, aku memikirkan besok bagaimana menyampaikan ini pada Arsyad.
Terdengar ketukan pintu di pintu kamarku. "Tok...tok...tok..."
"Mira, ini ummi nak, kamu sudah tidur?"tanya ummi.
Aku beranjak dari tempat tidurku untuk membukakan pintu.
"Ummi ada apa? Mira belum tidur."jawab ku sambil membukakan pintu.
"Boleh ummi masuk sebentar?"tanya Ummi.
"Boleh ummi, Mira juga ingin berbicara pada ummi."jawabku.
Ummi masuk ke dalam kamarku dan duduk di tepi ranjang. Aku Kembali menutup pintu kamarku. Aku duduk di samping ummi.
"Ummi."ucapku.
"Iya Mira, ada apa?"tanya Ummi.
"Ummi ada apa ke kamar Mira?"aku berbalik bertanya pada Ummi.
"Nak, besok kamu akan di khitbah Arsyad. Apa kamu sudah menceritakan semua masalalu mu dahulu?"tanya Ummi yang membuatku meneteskan air mata.
"Ummi.....itu yang akan Mira bicarakan pada ummi."aku terisak dan ummi memeluku erat.
"Ceritakan nak, jika Arsyad menerimamu apa adanya, dia adalah laki-laki yang baik untukmu. Tapi, jika tidak, percayalah Allah akan memberikanmu laki-laki yang lebih baik dari Arsyad."ucap Ummi.
"Iya Ummi, Almira besok akan mencoba menemui Arsyad dan bicara semuanya."ucapku sambil terus meneteskan air mataku yang semakin deras mengalir.
Tiba-tiba pintu kamarku terbuka, Abah masuk ke dalam kamarku, abah memeluku erat. Seakan abah tahu apa yang aku rasakan.
"Maafkan abah Mira, abah tak bisa menjaga Mira waktu dulu. Abah gagal menjadi seorang ayah. Maafkan abah, Nak." Abah menangis dan memeluku.
"Ini bukan salah abah ataupun ummi. Ini semua sudah takdir untuk Mira abah, ummi. Ini semua sudah garis hidup Mira yang harus seperti ini. Kalian orang tuaku yang terhebat. Jangan pernah lagi menyalahkan diri abah dan ummi. Abah dan ummi tak salah apa-apa. Mira sayang Abah dan Ummi."ucapku yang masih terisak.
"Besok ceritakan semua pada Arsyad, nak. Dia berhak tahu apa yang terjadi padamu. Jangan tutupi semuanya nak. Bicaralah sejujurnya pada Arsyad. Jika dia menerima nya Arsyad memang yang terbaik untukmu, nak. Tapi, jika tidak, kamu akan mendapatkan seseorang yang lebih baik lagi dari Arsyad."jelas Abah.
"Iya abah, Mira pasti akan menceritakan semua pada Arsyad. Jika besok Arsyad ragu, aku akan memberi dia waktu hingga pukul 10 malam, jika hingga pukul 10 malam keluarga Arsyad tidak datang ke rumah ini, berarti dia tidak akan mengkhitbah Mira dan tidak akan menikahi Mira abah."ucapku.
"Iya sayang, itu terserah kamu. Yang terpenting kamu jelaskan dulu sejujur-jujurnya dengan Arsyad."
"Iya abah."
"Ya sudah istirahatlah, sudah malam. Jagan terlalu di fikirkan Mira. Abah tidak mau lihat kamu sakit lagi. Semua akan baik-baik saja, nak."ucap abah mencoba menenangkan Almira.
"Iya abah, Mira tidur dulu ya abah, ummi. Selamat malam."
"Iya nak. Tidur dan mimpi indah. Abah sangat menyayangimu Mira." Abah mengecup kening Mira.
"Mira juga sayang Abah dam Ummi."
"Tenangkan hatimu sayang, tidurlah sudah malam. Ummi sayang Mira." Ummi mencium kening Mira.
"Mira juga sayang ummi."
Ummi da abah keluar dari kamarku. Aku mencoba memejamkan mataku dan melupakan kejadian kotor itu.
"Ya Allah jika Arsyad benar jodohku, permudahkan langkah kami berdua. Aamiin."aku berkata lirih.
*****
__ADS_1
Pagi hari Arsyad siap-siap berangkat ke kantor. Entah kenapa hati Arsyad tak tenang pagi ini.
"Kenapa Mira ingin bertemu denganku. Apa yang ingin dia sampaikan kepada ku?" Arsyad berkata dalam hati.
Arsyad keluar dari kamarnya menuju meja makan. Dia sudah mendapati papah dan ibunya serra kedua adiknya di meja makan.
"Pagi semua." Arsyad mencium pipi ibunya. Memang kebiasaan Arsyad dari dulu seperti itu. Saat akan sarapan dia mencium pipi ibunya.
"Pagi sayang, kamu ke kantor hari ini?"tanya Andini, ibunya.
"Iya bu, mau sekalian bertemu Mira sebentar. Dia akan bicara sesuatu pada Arsyad katanya."jawab Arsyad.
"Oh...ya sudah, Shita kamu bantu ibu di rumah ya, untuk menyiapkan semua keperluan yang akan di bawa nanti malam ke rumah Mira." Andini berkata pada Shita.
"Iya ibu, memang Shita hari ini tidak ke caffe untuk meyiapkan semuanya."jawab Shita dengan penuh semangat.
"Ayo sudah kita sarapan dulu."ucap Papah Rico.
*****
Sedangkan Mira di rumahnya dia tampak gelisah, dia memikirkan bagaimana caranya menyampaikan kejujurannya pada Arsyad nanti. Dia keluar dari kamarnya dan menuju ruang makan, abah dan ummi nya sudah menunggu di meja makan untuk sarapan bersama.
"Pagi abah, ummi."sapa Mira pada kedua orang tuanya, dia sengaja memperlihatkan raut wajahnya yang ceria agar kedua orang tuanya tak tahu kegundahan hatinya.
"Pagi sayang, ayo sarapan dulu."ucap Ummi Rahmah.
"Iya ummi." Mira berkata lalu tersenyum pada umminya.
"Mira, abah tau apa yang kamu rasakan, semoga dengan kejujuranmu ini tidak akan merubah hati Arsyad untuk menikahimu."ucap Abah Fajri.
"Iya abah semoga saja."jawabnya singkat.
Mira terdiam sambil menikmati sarapan paginya.
"Abah, maafkan Mira. Justru Mira yang akan membatalkan ini semua. Mira tak pantas untuk Arsyad. Dia laki-laki baik abah, dia pantas mendapatkan yang terbaik abah. Mira malu abah, malu sekali jika sampai menikah dengan Arsyad." ucap Mira dalam hati.
Setelah sarapan Mira langsung pamit pada Abah dan Ummi untuk pergi ke taman bacanya.
Seperti biasa Mira di antarkan oleh Pak Afif sopir pribadinya.
*****
Arsyad sudah berada di kantornya. Dia masih memikirkan Almira yang mengajaknya bertemu nanti.
Rayhan masuk ke ruangan Arsyad dengan membawa beberapa berkas yang harus di tanda tangani Arsyad.
"Hai...melamun saja." Ray mengagetkan Arsyad yang sedang melamun.
"Pagi-pagi dah galau pak." Ray menggoda Arsyad.
"Ray, nanti malam ikut ya, aku mau melamar Mira."
"Jangan bercanda Syad."
"Ray kapan aku bercanda."
"Kamu yakin?"tanya Ray.
"Yakin Ray. Tapi, Mira seperti nya belum yakin dan percaya denganku, jam 10 nanti dia ingin bertemu denganku. Katanya ada yang ingin dia bicarakan."jelas Arsyad.
"Temui saja. Apa mau aku antar?" Ray menawarkan diri untuk mengantar Arsyad.
"Kamu di sini saja, kasihan Arsyil sendirian."ucap Arsyad.
"Ya sudah, semoga Almira yakin dan percaya dengan keputusanmu."
Arsyad sudah selesai mengecek berkas-berkas yang di berikan Ray, dia juga sudah menandatangi semuanya.
Arsyad pamit dengan Ray untuk menemui Almira di taman bacanya.
Dia langsung keluar berjalan menuju mobilnya yang sudah di siapkan satpam di depan. Arsyad masuk ke dalam mobil dan melajukannya ke taman baca.
Arsyad sudah sampai di taman baca, dia memarkirkan mobilnya di depan taman baca. Pak Afif menemui Arsyad dan langsung mengantar Arsyad ke ruamah Mira.
"Silahkan Mas, Almira ada di dalam."ucapnya.
"Terima kasih pak."
Arsyad masuk ke dalan rumah Mira dan terlihat Mira sedang duduk di ruang tamu.
"Assalamualaikum Mira"
"Wa'alaikumsalam Syad. Duduklah." Almira mempersilahkan Arsyad duduk di kursi.
"Maaf Mira membuat kamu menunggu."ucap Arsyad.
"Tidak apa-apa Syad"
"Apa yang ingin kamu sampaikan Mira?"tanya Arsyad.
__ADS_1
"Syad, apa kamu benar-benar yakin dengan keputusanmu itu yang akan mengkhitbahku nanti malam?"tanya Mira.
"Aku yakin dan sangat yakin Mira?" jawabnya.
"Apa sudah tidak ada Nisa di hatimu Syad?"tanya Mira lagi.
"Mira, mungkin masih ada sedikit. Tapi, aku butuh kamu Mira, butuh seseorang untuk mengobati rasa ini. Hanya kamu Mira, saat bersama kamu aku bisa melupakan rasa sakit ini."jelas Arsyad.
"Apa hadirku hanya untuk mengobati lukamu saja Syad?"tanya Mira lagi.
"Iya untuk mengobati ku dan untuk pendamping hidupku selamanya Mira."jawabnya.
"Apa kamu mencintaiku Syad? Seperti kamu mencintai Nisa?" Almira tak henti-hentinya bertanya.
"Mira, mungkin rasa cinta akan bersemi saat kita selalu bersama. Karena aku yakin Mira aku bisa mencintaimu. Aku memang mencintai Nisa. Tapi, itu cinta yang salah Mira, tidak seperti aku mencintai kamu. Aku mencintai kamu karena belajar, belajar mendekatkan diriku pada Allah untuk mendapatkan cintamu Mira."jelas Arsyad.
Mira hanya diam tak berkata-kata lagi, dia hanya meneteskan air matanya. Arsyad melihat Mira sedang menyeka air matanya.
"Mira, apa hanya ini yang kamu mau bicarakan? Apa kamu belum percaya kalau aku sungguh-sungguh untuk menikahimu?"tanya Arsyad dengan menatap Mira yang masih menangis.
"Iya aku percaya Syad. Tapi," ucapan Mira terhenti, air mata Mira semakin deras.
"Tapi apa Mira? Kenapa kamu menangis? Tolong katakan Mira?" bujuk Arsyad.
Almira menarik nafasnya dalam-dalam, dia berusaha tenang dan berusaha tidak menangis lagi.
"Syad, aku akan menceritakan masalalu ku yang kelam, jika kamu masih menerimaku untuk menjadikanku sebagai istrimu aku adalah wanita yang sangat beruntung. Jika tidak, aku yakin Allah akan memberiku seseorang yang mau menerimaku dan masalaluku."jelas Mira.
"Katakan Mira, aku akan mendengarkannya."ucap Arsyad.
Mira kembali menyeka air matanya. Dia merasakan sesak di dadanya. Dia malu dan sangat takut sekali bila Arsyad tak bisa menerima masalalunya yang sungguh sangat pahit sekali bila di ingat kembali.
"Syad, aku bukan wanita baik-baik, aku tak sesuci yang kamu kira. Aku malu Syad, dengan pakaianku yang seperti ini tapi aku sudah tak suci lagi."ucapnya sambil terisak.
"Tidak suci? Apa maksudmu Mira?"tanya Arsyad dengan nada tinggi.
"Iya Syad, aku sudah tak suci lagi. Aku kotor Syad."tangis Mira semakin pecah.
"Siapa yang telah mengambil kesucian mu Mira? Siapa!" ucap Arsyad dengan frustasi, dia mengusap wajahnya kasar sekali mendengar pengakuan Mira seperti itu.
"Syad saat itu aku masih berusia 10 tahun aku di bawa seorang pria yang tak ku kenal saat aku dan abah sedang membeli es krim di kedai es krim favoritku."jelas Almira.
#flashback on
Abah Fajri menjemput Mira di sekolahannya, gadis kecil yang cantik dengan rambut yang di kepang susun itu sudah menunggu nya di depan gerbang sekolahannya. Dia melihat mobil abahnya, Mira gadis kecil yang sangat cantik dan energik, dia selalu ceria dan selalu menjadi bintang kelas.
"Abah...." Mira berlari memeluk Abah Fajri.
"Putri Abah yang sangat cantik. Bagaimana sekolahmu hari ini?"tanya Abah.
"Menyenangkan Abah, Mira mendapat Nilai 10 tadi saat ulangab matematika."ucap Mira manja.
"Wah...hebatnya putri Abah, ya sudah abah kasih hadiah untuk Mira, kamu ingin hadiah apa hari ini?"tanya Abah.
"Es krim Bah, Mira ingin es krim coklat."pinta Mira.
"Oke...ayo kita beli Es krim di kedai es krim kesukaanmu sayang."ajak abah.
"Oke...."ucap Mira sambil kegirangan.
Sesampainya di depan kedai es krim Mira dan Abahnya turun. Mira masuk ke dalam kedai es krim dan memilih es krim yang dia inginkan. Setelah itu, abahnya membayar es krim yang Mira pilih. Saat selesai membayar es krim mereka keluar dari kedai dan kembali masuk ke dalam mobil. Saat sedang berjalan ke arah mobilnya, Abah Mira menerima telfon dari rekan kerjanya. Abah menerima telfon sedangkan Mira duduk di bangku yang dekat dengan mobilnya sambil memakan es krim nya. Saat sesang asik memakan es krimnya tiba-tiba seorang laki-laki menghampiri Mira dan membekap Mira lalu membawanya dengan menggunankan mobil jeep..
"Abah....tolong Mira Abah....!"teriak Mira sebisanya saat dia di bawa penculik itu.
Abah Fajri menoleh karena mendengar Mira teriak dan di bawa mobil jeep tersebut. Mobil jeep tersebut. Tapi, tak berhasil. Lalu abah menelfon semua bawahannya untuk mencari tau siapa yang membawa putri tercintanya. Abah juga meminta bantuan pada polis.
Akhirnya polisi menemukan markas penculik tersebut. Dan, polisi terlamabat datang, Mira sudah di nodai para penculik itu, abah dan ummi yang mendengar kabar tersebut sangat terpukul dengan kejadian yang menimpa putri tercintanya. Polisi mengamankan 3 penculik itu yang di duga sudah melakukan aksi seperti itu sudah lama dan sudah banyak korban dari kejahatan penculik itu.
Almira di larikan ke rumah sakit karena mengalamai pendarahan hebat pada alat vitalnya.
"Abah.....sakit abah....tolong Mira.." Mira selalu meronta seperti itu. Bahkan jika dia sadar, dia langsung teriak histeris. Dan, akhirnya Mira di bawa Pakde Fahmi dan Budhe Artha ke pondok pesantrennya untuk memulihkan keadaan psikis Mira yang terganggu karena kejadian itu. Hingga Mira bisa melupakan semuanya walaupun kadang dia masih terngiang kejadian yang menimpannya itu. Dia selalu mendekatkan diri pada Allah saat mengingat itu semua.
#flashback off
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
♥happy reading♥
maaf lama up nya soalnya biar alirnga gk berantakan, jadi butuh mikir ekstra buat alurnya biar sempurna.