
P.O.V NAJWA
“Abah, pinjam kunci mobil,” pintaku pada Abah.
“Mau ke mana? Ini sudah malam, Najwa,” ucap Abah.
“Mau ada perlu, apa abah mau antar Najwa keluar sebentar?” tanyaku pada abah, agar abah percaya aku mau keluar tidak mau pergi ke mana-mana.
Aku ingin membuang semua kenangan bersama Dio. Bukan hati ini tak bisa lupa pada Dio, tapi untuk apa menyimpan semua pemberiannya? Aku yang sudah ingin lupa, jadi sia-sia karena ingat dia lagi dengan melihat barang pemberiannya.
Abah bingung sendiri, karena aku langsung menarik tangan abah untuk mengikuti aku ke kamar. Abah semakin bingung saat melihat beberapa tumpukan kardus dari yang besar sampai yang kecil.
“Ini apa, sayang?” tanya Abah.
“Abah jangan keras-keras, apa Dio masih di luar?” tanyaku dengan suara pelan.
“Dio sudah di kamarnya dari sehabis sholat, tapi Rania sama Shifa di teras depan,” jawab Abah.
“Memang ada apa kamu menanyakan Dio masih di luar apa tidak?” tanya Abah.
Aku melihat ke luar di sekitar kamarku, memastikan ada Dio dan Rania ada di sekitar kamarku apa tidak. Aku tidak enak jika mereka tahu aku akan membuang semua barang yang berhubungan dengan Dio.
“Abah tahu? Ini semua barang-barang Najwa dulu. Najwa ingin membuang semua ini, karena ....”
“Karena ini semua berhubungan dengan Dio?” tanya Abah dengan menukas ucapanku.
Aku hanya menganggukkan kepalaku saja. Abah merangkul ku dan mengajakku duduk di tempat tidurku.
“Nak, apa dengan membuang semua ini kamu jadi lupa semua tentang Dio?” tanya Abah.
“Setidaknya aku sedikit tidak mengingat dia lagi, abah. Abah tahu, rasanya melupakan seseorang yang sangat kita cintai? Pasti sangat sulit, bukan? Najwa sadar, ada Habibi yang lebih dari segalanya, dan Najwa mencintai Habibi, tapi hati kecil Najwa masih selalu ingat akan dosa Najwa saat bersama Dio dulu, abah. Najwa selalu ingat itu, di tambah jika masih ada barang-barang ini terpampang di depan Najwa, semua akan mengingatkan kembali. Bukan Najwa tidak bisa melupakan Dio, tapi ini semua soal ke depannya Najwa. Jika masih ada semua barang ini, sia-sia sudah Najwa melupakan Dio,” jelasku pada Abah.
“Iya, abah sadar, melupakan seseorang yang sangat kita cintai itu sangat susah sekali. Saat dulu abah tahu, kalau Om Arsyil adalah kekasih Bunda, abah merasakan sakit yang amat dalam. Abah ikhlas Bunda dengan Om Arsyil, tapi sulit sekali melupakan Bunda, dan saat bertemu ummi kamu, ummi kamu benar-benar mengalihkan dunia abah. Abah dengan susah payah melupakan bunda, hingga wanita secantik dan sebaik ummi kamu menyapa hati abah. Pertemuan yang sangat singkat, dan tidak abah sangka, jodoh abah dan ummi sangat singkat.” Abah menyeka air mata yang sudah menyusup keluar dari sudut matanya. Pendar matanya menyiratkan kepedihan saat mengingat ummi.
“Melupakan ummi kamu adalah hal terberat dalam hidup abah, di bandingkan melupakan bunda, yang menjadi cinta pertama abah dulu. Hingga menikah dengan bunda pun, abah tidak bisa mencintainya, abah membenci bunda, abah tidak mau menyentuh bunda mu sama sekali. Padahal cinta abah untuk bunda dulu sangat banyak, tapi cinta ummi mu yang di tinggalkan di hati abah lebih banyak, sehingga abah sulit untuk membuangnya.” Aku memeluk abah yang semakin sedih saat mengingat ummi.
“Abah yakin, kamu bisa melupakan Dio. Karena Habibi adalah lelaki yang sangat baik. Mungkin Dio adalah cinta pertamamu, tapi ingat Habibi lah yang akan mengambil cintamu pada Dio dan membuangnya sangat jauh, dan kamu akan merasakan, bagaimana jika kamu hidup tanpa Habibi, setelah nanti Habibi menikah denganmu, kamu akan merasakan itu, kamu akan merasakan kamu takut untuk jauh dari Habibi, dan kamu sudah tidak memiliki rasa yang tertinggal untuk Dio sedikit pun,” jelas Abah.
“Najwa mencintai Habibi, abah. Tapi, Najwa takut,” ucapku sambil memeluk abah.
“Takut? Apa yang harus di takutkan?” tanya Abah.
“Najwa takut, karena Najwa sudah tidak utuh, Najwa pernah tersentuh Dio. Habibi lelaki yang sangat baik, Najwa malu, Abah. Najwa sudah kotor,” ucapku sambil terisak dan memeluk abah dengan erat.
“Huss... jangan bicara seperti itu, kamu tidak kotor, kamu masih suci. Maafkan abah, abah yang tidak bisa menjagamu, nak. Kamu masih pantas mendapatkan orang yang baik seperti Habibi, percayalah dengan abah, jangan pernah takut, hilangkan semua ketakutan mu, jangan sampai ketakutan mu menjadi suatu trauma dalam hidupmu,” tutur Abah dengan mengusap air mataku.
Iya, benar apa kata abah, aku berhak mendapatkan lelaki baik seperti Habibi. Aku tahu, hati abah sakit jika mengingat apa yang telah aku lakukan. Apalagi aku sudah di sentuh lelaki lain, dan abah melihat perbuatan ku itu. Sungguh aku durhaka sekali.
“Sudah jangan menangis. Ayo katanya mau buang ini semua?” ucap abah.
__ADS_1
“Di buang di mana ya, Bah?” tanyaku.
“Ya maunya kamu di mana?”
“Di tempat pembuangan sampah yang ada di sana, ya?” pintaku.
“Benar kamu tidak menyayangkan semua ini kalau di buang?” tanya abah sekali lagi.
“Tidak, buat apa sayang dengan sesuatu yang sudah seharusnya di buang?” ucapku.
“Ya sudah ayo berangkat, abah antar kamu.”
Aku keluar dari kamar membawa bersama abah. Abah memanggil pelayan untuk membawakan barang-barang yang sudah aku pack dalam kardus. Rania, Shifa, Raffi, dan Fattah ternyata masih di teras depan dan menanyakan apa yang akan aku bawa. Aku bilang kepada mereka kalau aku akan ke panti memberikan sumbangan. Tapi, sepertinya mereka tidak percaya. Aku tinggalkan saja mereka dan abah mengantarku ke tempat pembuangan sampah.
^^^^^
Rania menebak, pasti itu semua barang-barang yang ada hubungannya dengan Dio. Tidak mungkin, malam-malam mereka akan ke Panti asuhan memberikan bantuan dan sebagainya. Rania berpikir, mungkin Najwa sudah benar-benar akan melupakan Dio, jadi dia ingin membuang semua kenangan bersama Dio saat dulu.
“Syukurlah, kalau Najwa seperti itu, kasihan Akmal kalau Najwa masih mencintai Dio. Aku tahu bagaimana rasanya melupakan orang yang kita cintai, itu sangat sulit sekali, apalagi seorang wanita yang hatinya lemah seperti Najwa,” gumam Rania.
“Kalian lihat abah?” tanya Annisa pada anak-anaknya yang sedang berada di teras.
“Abah keluar dengan Kak Najwa, katanya mau ke panti asuhan buat ngasih apa tadi, banyak sih di kardus,” jawab Raffi.
“Ke panti? Jadinya tidak di buang?” ucap Annisa lirih.
“Di buang apanya, bunda?” tanya Shifa.
“Bunda, apa tadi semua yang di bawa Najwa barang-barang yang ada hubungannya dengan Dio?” tanya Rania.
“Ehmm... bagaimana kamu bisa tahu?” tanya Annisa.
“Ya, karena kemarin sebelum Dio menikah dengan aku dia juga membuang semua yang berhubungan dengan Najwa. Semua seisi lemarinya dia buang, bahkan 2 laptop ikut di buang oleh Dio,” jawab Rania.
Annisa hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia tahu kebiasaan anak laki-lakinya, jika di rasa sudah tak ada guna dengan barang yang ia pakai, dia akan membuangnya. Tapi, kalau Najwa, dia tidak seperti itu. Najwa adalah tipe orang yang sayang dengan apa yang ia miliki. Walaupun sesuatu itu sudah rusak sekali pun, dia masih menjaganya dan menyimpannya.
“Mungkin, dia tidak mau ingat kenangan tentang Dio lagi, karena akan hidup bersama Habibi, jadi wajar kalau dia membuang semuanya. Dan, Dio, dia memang seperti itu, apa yang ia miliki tapi ia rasa sudah tidak berguna pasti ia buang, jadi wajar dia membuang barang yang berhubungan dengan Najwa karena sudah tidak akan ia pakai dan ia ingat lagi,” gumam Annisa.
“Kak Najwa kok tumben sekali membuang barang? Biasanya kalau tidak ia pakai langsung ia masukan ke gudang,” ucap Raffi.
“Raf, ini kan beda. Mungkin dia tidak ingin melihat barang itu lagi. kemarin Dio juga seperti itu, aku suruh sumbangin saja, jangan di buang, tapi tetap saja di buang,” jawab Rania.
“Sudah, semua punya pemikiran masing-masing. Semoga saja Najwa bahagia dengan Habibi,” ucap Annisa.
“Kapan Opa Wisnu sama Om Elang ke sini, bunda?” tanya Raffi.
“Katanya sih, 3 hari lagi,” jawab Annisa.
“Tidak, Opa sudah selesai urusannya, jadi besok sore mereka ke sini, tadi baru saja Om Elang bertukar pesan padaku,” sambung Fattah.
“Bunda penasaran dengan opa dan papahnya Akmal, sepertinya mereka orang yang sangat baik,” ucap Annisa.
__ADS_1
“Besok malam mereka mungkin sampai, lalu besoknya Akmal ajak mereka ke sini. Mereka baik sekali bunda,” jawab Fattah.
Semua membicarakan kebaikan keluarga Akmal. Dan, Rania juga tidak kalah menceritakan kebaikan Opa Wisnu dan Om Elang pada dirinya yang perhatian sekali dengan Dio, saat Dio sakit.
^^^^^
Hari terus berganti. Di rumah Arsyad semua orang disibukan dengan kegiatannya masing-masing. Hari ini, Opa Wisnu dan Om Elang akan ke rumah Arsyad. Mereka ingin meresmikan hubungan Akmal dan Najwa, dan membicarakan pernikahan Najwa dan Akmal yang akan di gelar bulan depan.
Semua ingin Najwa dan Akmal cepat-cepat menikah. Itu semua karena tugas Akmal masih banyak di Budapest. Dan, Akmal ingin sekali Najwa sudah menjadi miliknya yang sah saat dia ke Budapest lagi.
Najwa sedang di kamarnya di temani Shifa dan Zahrana. Dia sibuk memilih baju untuk menemui Akmal dan keluarganya. Rasanya dia begitu gugup sekali, tidak seperti biasanya saat bertemu dengan Akmal di hari-hari biasanya.
“Kamar kamu sepertinya berubah seratus persen, Kak,” ucap Rana.
“Iya, Ran. Kemarin baru aku tata lagi. Pingin suasana baru,” jawab Najwa.
“Harus dong, kan mau menikah,” jawab Shifa.
“Iya lah, harus kak. Sudah lupakan masa lalu, gapai masa depan Kak Najwa,” ujar Rana.
“Iya, sayang. Lalu kapan ini adikku yang satu ini punya cowok,” ledek Najwa.
“Ah...tidak mau bahas itu aku, kak. Mamah dan Papah selalu bilang jodoh aku sudah mereka siapkan. Entahlah, aku tak tahu, aku nurut saja,” jawab Rana.
“Hmmm... tante Shita dan Om Vino sukanya kok gitu. Aku takut kejadian Dio terulang, di jodohkan seperti itu jadinya,” ucap Shifa.
“Tidak semua yang di jodohkan akan seperti itu. Apa salahnya menuruti orang tua kita. Pilihan orang tua kita adalah pilihan yang terbaik dari Allah, Shifa. Dan, contoh nya, Dio juga masih bersama lagi dengan Rania, bunda kita yang jodohkan dulu, juga awet dengan abah. Percayalah, pilihan orang tua tidak akan menyesatkan kita,” ujar Najwa.
“Betul kata Kak Najwa, aku juga mau tidak mau harus mau dengan apa yang mamah mau. Sudahlah jangan bahas ini. Yang penting aku bahagia, Kak Najwa mau membuka hati lagi untuk lelaki sebaik Kak Akmal,” ucap Rana.
Rana memang sedang bimbang, akan menuruti permintaan orang tuanya atau tidak untuk di jodohkan dengan seorang pengusaha muda anak dari sahabat orang tuanya.
^^^
Arsyad dan Rico sedang berada di ruang tamu. Mereka sudah siap menyambut kedatangan keluarga Akmal yang akan ke rumahnya. Arsyad bahagia, karena anak perempuannya akan menikah dengan seorang pria yang dari dulu ia harapkan menjadi suami putrinya. Semenjak pertemuan dengan Akmal di rumah sakit, Arsyad sudah ingin sekali Najwa bisa bersatu dengan Akmal.
Tapi, semua harapan Arsyad saat itu sia-sia. Najwa mencintai Dio dan dia juga melakukan hal yang tidak seharusnya ia lakukan dengan Dio. Rasa kecewa Arsyad saat itu begitu memenuhi hatinya, hingga dia mengusir Najwa. Namun, sekarang kejadian pahit itu berbuah manis. Dio kembali dengan Rania. Rania adalah gadis yang Arsyad inginkan untuk mendampingi Dio.
Dia ingin sekali Dio menikah dengan Rania, gadis yang sangat cerdas dan cantik yang sudah Arsyad anggap seperti anak gadisnya sendiri. Dan, sekarang impiannya terwujud, setelah pernikahan Rania dan Dio gagal di tengah jalan, mereka kembali. Dan, sekarang bertambah juga kebahagiaan Arsyad, karena dia akan mendapatkan cucu dari Rania dan Dio.
Satu impian sudah terwujud. Dan sekarang tinggal impian Arsyad melihat putri sulungnya menikah dengan seorang Dokter tampan yang sangat baik, yang dulu menabrak dirinya saat mengantar Najwa di rumah sakit menemui Wulan. Tidak di sangka Doanya saat itu di dengan Tuhan. Dia ingin sekali memiliki menantu seorang Dokter, dan akhirnya sebentar lagi akan terwujud.
“Syad, papah tidak sabar, ingin melihat Najwa segera menikah dengan Akmal. Rasanya Allah selalu menyayangi papah. Impian papah selalu di kabulkan oleh Allah. Dulu papah ingin kamu memiliki istri yang bercadar, Allah kirim Almira untuk kamu. Dan, sekarang, papah ingin memiliki cucu menantu seorang Dokter, Allah kirimkan Akmal untuk Najwa. Papah bersyukur sekali, sudah setua ini papah masih di beri kesempatan Allah menikmati hidup dan melihat cucu-cucu papah bahagia,” ucap Rico.
“Iya Pah, Arsyad juga bersyukur, Najwa sudah mau membuka hatinya untuk Akmal. Dan, semoga mereka selalu di berikan kebahagiaan hingga mereka memiliki anak dan cucu,” ucap Arsyad.
“Arsyad juga bahagia sekali, sebentar lagi Arsyad akan menjadi seorang Opa, Arsyad akan memiliki cucu, pah,” imbuh Arsyad.
“Iya, tidak terasa, papah akan menjadi uyut. Papah bahagia, keluarga ini bisa berkumpul lagi, dan selalu harmonis seperti ini. semoga akan selalu seperti ini sampai nanti,” ucap Rico
Rico merasa mimpinya sudah terwujud sempurna. Dia memiliki anak dan cucu yang sangat menyayanginya. Kehadiran Andini yang ia anggap pembawa bencana karena setelah Andini hadir Adinda di ambil Tuhan. Namun, ternyata benar kata Adinda, Andini lah yang akan memberikan kebahagian untuknya tiada akhir. Dan, sekarang dua bidadari surganya sudah bahagia di surga Allah.
__ADS_1