THE BEST BROTHER

THE BEST BROTHER
S3 Cinta Untuk Mereka Bab 35 "Kamu Bahagia?"


__ADS_3

Tanpa aba-aba Arsyad menggendong Annisa masuk ke dalam rumahnya. Dia melihat ada Joko yang sedang membersihkan teras rumahnya.


"Mas Joko, bukakan pintu, dan bukakan pintu kamarku juga,"pinta Arsyad.


"Ngapain ke kamar?"tanya Annisa.


"Mau bikin baby, katanya kamu pengen punya baby lagi,"bisik Arsyad di telinga istrinya.


"Gak mau!"tukas Annisa.


"Ya sudah, kakak bawa ke kolam renang, kakak jeburin kamu di sana, mau?"tanya Arsyad.


"Kejam!"tukas Annisa.


"Makanya ke kamar, kakak akan urut kaki kamu,"ucap Arsyad.


"Katanya mau bikin baby?" Annisa menggoda suaminya.


"Iya, kalau kamu mau,"ucap Arsyad.


Mas Joko membukakan pintu kamar Arsyad, Arsyad segera masuk dan merebahkan Annisa di atas tempat tidur.


"Sebentar, aku akan meminta minyak urut pada Mas Joko,"ucap Arsyad.


Annisa hanya menganggukan kepalanya, dia masih merasakan kesakitan di kakinya. Arsyad keluar dari kamar dan meminta minyak urut pada Mas Joko.


^^^^^


Arsyad kembali ke kamarnya, dia melihat Annisa masih memegang kakinya yang sakit. Annisa terlihat meringis kesakitan dan berkata lirih.


"Bodoh sekali kamu, Nisa! Ngapain mesti marah, ngapain mesti sakit hati melihat Kak Arsyad dengan Lintang tadi, bodoh sekali kamu, Nis!"rutuk Annisa pada dirinya sendiri.


"Nis, ingat, Kak Arsya itu tidak mencintai kamu, kamu jangan menaruh hati yang lebih dalam, deh. Tidak mungki dia mencintai kamu,"ucap Annisa lirih.


Arsyad yang melihat dari balik pintu kamar dan mengdengar ucapan Annisa yang lirih itu, dia hanya tersenyum.


"Maaf Annisa, aku belum bisa mencintaimu, aku hanya menganggap kamu sebagai adik ku, dan maaf untuk ciuman tadi pagi, aku memang menikmatinya, tapi aku tidak tau, kenapa aku tak ada hasrat sedikitpun dengan kamu, Nis. Maaf hati ini masih selalu untuk Almira,"gumam Arsyad.


Dia masih menatap istrinya yang kesakita dari kejauhan. Arsyad melangkahkan kakinya menuju ke tempat tidur sambil membawa minyak urut yang ia minta pada Mas Joko.


"Masih sakit?"tanya Arsyad.


"Iya lah masih, pakai nanya,"tukas Annisa.


"Gak usah galak-galak, Nis,"ucap Arsyad.


"Siapa yang galak, kakak itu yang galak,"ucap Annisa.


"Sudah, sini kakak urut kaki kamu yang sakit." Arsyad menarik kaki Annisa. Arsyad mulai mengurut kaki Annisa dengan telaten.


"Tahan, ya Nis, ini akan sakit sedikit,"ucap Arsyad.


"Hmm, jangan kasar-kasar."mata Annisa berkaca-kaca karena dia takut akan merasakan sakit di kakinya.


Arsyad membenarkan urat kaki Annisa, dengan pelan, nun Annisa merasakan sakit sekali hingga menangis.


"Awww….kakak! Sakit!" Annisa menjerit dan menangis.


"Sudah, jangan menangis, makannya kalau pakai heels jangan cepat-cepat jalannya, gini kan jadinya,"ucap Arsyad.


"Iya, iya,"ucap Annisa dengan kesal.


"Sudah lumayan, kan?"tanya Arsyad.


"Iya, kak, sudah,"ucap Annisa.


"Istirahatlah, aku mau ke depan, mengembalikan ini pada Mas Joko." Arsyad keluar dari kamar meninggalkan Annisa.


Aanisa merebahkan tubuhnya, dia masih merasakan sedikit sakit di kakinya.


"Jago ngurutin juga, Kak Aersyad,"gumamnya dalam hati.


Arsyad kembali ke kamarnya, dia mendudukan dirinya di samping Annisa yang masih meringkuk memeluk bantal guling.


"Nis, kamu kanapa tadi seperti itu?"tanya Arsyad.


"Seperti itu bagaimana, kak?"tanya Annisa.


"Waktu di restoran,"jawab Arsyad.


"Oh, itu, lupakan saja, kak,"ucap Annisa.


"Kamu tidak usah khawatir aku suka dengan Lingtang, kamu seharusnya tau, untuk mencintai kau saja Kaka susah sekali, apalagi mencintai Lintang, orang yang tidak kakak kenal, dia hanya karayawan kakak. Sedangkan kamu, kamu dulu pernah kakak cintai saja, kakak masih belum bisa mencintaimu, Nisa. Maafkan kakak, kasih waktu kakak untuk bisa menerima ini, Nis,"jelas Arsyad.


"Iya, kak. Nisa tau kok, maaf, Nisa gak suka saja dengan wanita yang seperti itu, dia berhijab kak, kenapa seperti itu perbuatannya,"jelas Annisa.


"Iya, kakak juga tidak menyangka dia seperti itu orangnya, sudah jangan cemberut lagi, kamu istirahat,"ucap Arsyad.


"Iya, kak,"jawab Annisa.


Arsyad merebahkan diri di samping Annisa, dia menatap langit-langit kamarnya. Arsyad hanya terdiam, mimikirkan hatinya yang masih belum bisa melupakan Almira.


"Kamu cantik, Annisa, kamu manis, dan orangnya mudah sekali akrab dengan keadaan. Maafkan aku, bukan maksudku menyakiti hatimu, aku belum bisa, Annisa. Aku belum bisa. Cinta ini sangat kuat untuk Almira. Tidak ada wanita seperti dia, Annisa,"gumam Arsyad.


Annisa hanya terdiam mendengar penuturan suaminya yang belum bisa mencintainya. Dia tidak menyangka, sikap suaminya cepat sekali berubah.


"Kakak lupa, tadi pagi kakak melakukan apa dengan ku, membuat hati ini seakan lolos dari tempatnya. Membuat jiwa ini melayang hingga setengah hari aku memikirkan kamu, kak. Tapi nyatanya, tak sedikitpun kamu membuka hati untuk menerima keadaan ini, menerima aku sebagai istrimu,"gumam Annisa.


"Sudah Annisa, mulai sekarang, apa yang suamimu lakukan, jangan di masukan ke dalam hati, sakit Annisa, sakit. Tutup hati kamu rapat-rapat lagi, jangan biarkan cintamu untuk Arsyil menghilang hanya karena kamu mencoba mencintai seseorang yang akan menjadi percuma. Dia suamimu, Annisa. Iya, dia suamimu, biarlah jika dia meminta haknya, berikan, atas dasar suami-istri untuk memenuhi kewajiban. Bukan atas dasar cinta." Hati Annis masih melontarkan banyak perkataan.


Annisa merasa bodoh dalam keadaan ini, mencoba mencintai suaminya, malah menyakiti hatinya. Annisa memejamkan matanya, dia lelah dengan hatinya, baru menikah dalam hitungan hari, tapi dia sudah merasakan pernikahannya tidak sejalan dengan pikirannya.


"Ya Allah, pertemukan aku dengan Arsyil, laki-laki yang aku cintai, di dalam mimpiku, maafkan aku, Syil. Maafkan aku, aku menyesal meninggalkanmu, maafkan aku yang sudah mengingkari janjiku, untuk sehidup semati dengan kamu. Aku mencintaimu, Syil. Sangat mencintaimu." Annisa memejamkan matanya dengan sesak di dadanya.


Saat ini, dia hanya ingat dengan Arsyil. Mengingat kenangan saat bersamanya, karena dia merasa sia-sia sudah untuk menjadi istri kakak dari suaminya.


^^^^^


Satu minggu terlah berlalu, Arsyad, Annisa dan anak-anaknya sedang mengemasi barang-barang miliknya untuk pindah ke rumah yang baru. Arsyad menata koper di dalam mobil di bantu oleh papah Rico.


"Pah, papah ayolah ikut ke rumah Arsyad,"pinta Arsyad.


"Papah akan di sini, kasihan kalau rumahnya kosong, nak. Ini rumah kenangan papah, papah tidak apa-apa sendirian,"ucap Rico.

__ADS_1


"Pah, please, papah ikut, ya,"pinta Annisa yang berada di belakang Rico.


"Annisa, papah di sini saja, kalian pindahnya kan dekat, nanti kalau papah ingin ke rumah kalian, papah ke sana,"ucap Rico.


"Tapi ini papah ke sana, kan? Mengantar kami,"ucap Annisa.


"Iya, papah ikut mengantar kalian. Papah bersama Pak Yanto, nanti pak Yanto juga yang akan menemani papah di sini, nanti juga Shita dan Vino menyusul ke rumah mu," ucap Rico.


"Papah sudah mengirim alamat rumah ku pada Sihta?"tanya Arsyad.


"Sudah, tadi papah sudah mengirimkan alamat rumah kamu,"ucap Rico.


"Baiklah, semua sudah siap, Nis?"tanya Arsyad.


"Sudah,"jawabnya.


"Ya sudah panggil anak-anak, kita berangkat,"titah Arsyad.


Annisa memanggil anak-anaknya untuk segera berangkat menuju rumah barunya.


"Ayo sayang! Kita berangkat, sudah di tunggu Abah, nak!xteriak Annisa manggil anak-anaknya.


"Iya, bunda"ucap mereka.


Annisa berjalan keluar bersama 4 anaknya, anak-anak memilih untuk ikut di mobil Opanya. Annisa dan Arsyad memakai mobilnya sendiri. Mereka berdua hanya terdiam di dalam mobil, semenjak kejadian di restoran itu, Annisa dan Arsyad semakin menjaga jarak. Annisa yang sadar jika suaminya belum bisa menerima keadaan ini, dia lebih baik mengalahkan egonya untuk membuat suaminya jatuh cinta padanya. Begitupun Arsyad, dia sekarang berubah dingin, saat Annisa selalu berbicara hal yang di anggapnya penting saja.


Arsyad masih terdiam, begitu juga Annisa, mereka tudka tau apa yang akan mereka bicarakan. Arsyad akhirnya memberanikan diri untuk membuka percakapan.


"Nis,"panggil Arsyad.


"Iya, kak, ada apa?"tanya Annisa.


"Vera masih kerja di butikmu?"tanya Arsyad.


"Sementara Vera off mengurus bayinya dulu, dan aku harus bolak balik kantor dan butik mulai besok, sebenarnya Vera masih ingin di butik, mungkin menunggu 2 atau 3 bulan, baru dia kembali ke butik,"jawab Annisa.


"Oh, seperti itu, sampaikan maafku pada Vera. Belum bisa menengok dia setelah melahirkan,"ucap Arsyad.


"Iya nanti aku sampaikan, lagian kakak sibuk dari kemarin, dia pasti memaklumi, toh setiap pulang dari kantor aku mampir ke rumah Vera,"jelas Annisa.


Arsyad hanya mengangguk-anggukan kepalanya saja, dan sudah, percakapan mereka berakhir sampai di situ. Suasana hening kembali menyelimuti hingga sampai ke rumah mereka.


Arsyad membelokan mobilnya ke dalam halaman rumahnya yang sangat luas itu. Arsyad dan Annisa turun dari mobil, mereka mengeluarkan kopernya dari dalam mobil. Mas Joko dan Pak Jais membantu mengeluarkan koper mereka. Tak lama kemudian mobil Vino dan Shita masuk ke halaman rumah Arsyad, dia tak menyangka kakaknya memiliki rumah sebesar ini, dan rumah ini pula Shita sangat tahu, karena dulu sering ia lihat saat pergi ke cafenya. Shita mendekati kakaknya dan Annisa, mereka saling berpelukan.


"Kak, jadi rumah mewah ini rumah kakak?"tanya Annisa.


"Iya, Nis,"jawab Arsyad.


"Kakak, sejak kapan kakak membeli rumah ini?"tanya Shita.


"Sudah lama sekali, sebelum menikah dengan Almira,"ucap Arsyad.


"Kenapa kakak tidak bilang?"tanya Shita.


"Sudah jangan cerewet, ayo masuk." Arsyad merangkul adiknya masuk ke dalam rumah.


Vino dan anak-anaknya berlari ke arah opa Rico yang sedang bersama Najwa, Shifa, Dio dan Raffi. Annisa melihat kebahagiaan di wajah mereka. Dengan langkah yang pelan dia berjalan di belakang mereka.


Tak terasa air mata Annisa sudah penuh di sudut matanya, dia segera menyeka air matanya sebelum turun membasahi pipi.


Annisa tak menyangka Arsyad yang biasanya selalu menoleh dia saat dia berjalan lambat, kali ini Arsyad seakan tak mempedulikannya.


"Sabar, Annisa, ini baru permulaan, kok. Hatimu kan kuat, coba berapa kali kamu di tinggalkan oleh orang yang kamu cintai, dari papah dan mamah, suami, juga anak-anak kamu yang masih janin saja meninggalkan kamu, kamu harus kuat, Annisa." Annisa menyemangati dirinya dengan berjalan pelan di belakang mereka yang sudah sampai di depan teras.


Rico melihat raut wajah menantunya itu seakan murung, dia mendekati Annisa yang masih berjalan itu.


"Nis, kamu sehat, kan?"tanya papah Rico.


"Iya, pah, Nisa sehat kok,"jawab Nisa.


"Kamu kelihatannya lemas sekali,"ucap Rico sambil mendekati menantunya itu.


"Ayo semangat, kamu kan mau tinggal di sini." Rico menggandenga tangan Annisa menuju ke dalam rumah.


"Kakak, istrinya malah di tinggalin,"ucap Shita.


"Kakak kangen kamu, Ta, jadi kakak langsung merangkul dan mengajak kamu masuk,"ucap Arsyad.


"Iya, kak Shita, kan Kak Arsyad kangen sama kakak, ayo masuk,"ajak Annisa.


Rico tau, Annisa sedang menyembunyikan kesedihannya. Rico tau itu semua, karena Annisa menantu yang lebih dekat dengan Rico. Hingga melahirkan Dio dan Shifa saja Rico dan Andini yang menemaninya. Rico merangkul menantunya itu, dia berbicara lirih pada Annisa.


"Kamu bahagia, nak?"tanya Rico.


"Kok papah tanya itu?" Annisa balik bertanya pada Rico.


"Ya tanya saja, kamu sedang sedih? Ingat Arsyil?"tanya Rico.


"Annisa bahagia pah, kalau masalah ingat Arsyil, itu selalu, pah," jawab Annisa.


"Nak, tolong buat Arsyad mencintai kamu, seperti dia mencintai Almira dulu, begitu pula kamu, kamu juga harus bisa menerima ini semua dan mencintai Arsyad,"ucap Rico.


"Iya, pah,"jawab Annisa singkat.


Mereka sudah berada di ruang tamu ruang Arsyad. Mba Lina menyiapkan teh dan makanan ringan untuk mereka, serta menyiapkan makan siang untuk mereka. Semua berkumpul sambil menikmati teh buatan Mba Lina. Anak-anak sudah berlari ke belakang, mereka bermain di halaman belakang.


"Kak, kenapa dulu kakak tidak tinggal di sini saja dengan Kak Mira?"tanya Annisa


"Ceritanya panjang, Nis,"jawab Arsyad.


"Hmm gitu,"ucap Shita.


Annisa beranjak dari tempat duduknya, ia berpamitan akan membantu Mba Lina menyiapkan makan siang.


"Annisa tinggal ke dapur dulu, ya,"pamit Annisa.


"Mau apa, Nis?"tanya Shita.


"Mau membantu Mba Lina menyiapkan makan siang,"ucap Annisa.


"Oh, ya sudah,"jawab Shita.


Mereka melanjutkan mengobrol di ruang tamu. Rico melihat Annisa sedang menyembunyikan sesuatu, karena dari tadi hanya diam saja, begitu pula dengan Arsyad. Dia sepertinya cuek sekali dengan Annisa dari kemarin.

__ADS_1


"Kak aku ke teras belakang ya, mau bermain sama anak-anak." Shita berpamitan denga suami dan kakaknya untuk ke teras belakang.


"Iya, sana, di jagain Rana, nanti nyemplung ke kolam renang dia, tau sendiri kalau ada kolam renang dia senang sekali,"ucap Vino.


"Iya kak, makanya Shita mau ke belekang saja, lagiyan di sini cewek sendiri,"ucapnya.


"Ya sudah sana, ke belakang saja,"titah Arsyad.


Tinggal Rico, Arsyad dan Vino di ruang tamu, Rico sebenarnya ingin mengajak bicara dengan Arsyad. Tapi, ia urungkan karena ada vino. Rico tau, Arsyad dan Annisa tidak saling mencintai, tapi seharusnya mereka jangan sampe terlalu acuh sekali seperti sekarang ini. Rico memilih ke belakang menyusul Shita.


"Papah ingin lihat halaman belakang rumah kamu, Syad," pamit Rico.


"Iya, pah,"ucap Arsyad.


Rico melangkahkan kakinya menuju ke teras belakang, namun langkah kakinya berhenti saat melihat Annisa sedang menata makan siang di meja makan. Rico menghampiri Annisa yang sedang menyiapkan makan siang.


"Nis, papah ingin bicara dengan kamu, ada waktu sebentar?"tanya Rico.


"Emm..iya pah, sebentar,"ucap Annisa.


Annisa menyelesaikan menata makanan di meja makan, setelah selesai dia mengajak papah mertuanya itu ke teras belakang.


"Papah, ingin bicara apa?"tanya Annisa.


"Papah ingin bicara penting dengan kamu, Nisa. Kita cari tempat yang enak untuk berbicara,"ucap Rico.


"Ke teras belakang saja ya, pah," pinta Annisa.


"Ya sudah, ayo ke sana,"ajak Rico.


Rico dan Annisa duduk di kursi teras belakang, Annisa duduk di samping papah mertuanya itu.


"Nis, papah boleh bertanya pada kamu?"tanya Rico.


"Iya pah,"jawab Annisa.


"Kamu bahagian, kan nak?"tanya Rico.


"Papah, iya, Annisa bahagia,"jawab Annisa.


"Jangan bohong, papah lihat kamu dan Arsyad sedikit berbeda tidak seperti dari awal menikah kemarin?"tanya Rico.


"Papah saja yang melihatnya beda, pah,"ucap Annisa.


"Ya mungkin papah yang melihatnya berbeda. Tapi papah yakin kamu menyembunyikan sesuatu, Nis,"ucap Rico.


"Tidak pah,"ucap Annisa.


"Ya sudah, papah tidak memaksa kamu untuk berbicara, tapi jika ada apa-apa tolong bicaralah pada papah,"ucap Rico.


"Iya, pan. Itu pasti, ayo pah masuk, kita makan siang dulu," ajak Annisa


"Nanti, papah ingin k sana bermain bersama cucu-cucu papah,"ucap Rico.


"Oh iya pah, papah kenapa tidak tinggal di sini saja?"tanya Annisa.


"Papah tidak mau mengganggu pendekatan kamu dengan Arsyad, nanti kalau papah di sini, kamu pasti diam-diaman terus,"ucap Rico.


"Ya tidak lah, pah. Annisa senang ada papah di sini,"ucap Annisa.


"Nanti papah pasti sering menginap di sini,"ucap Rico.


"Baiklah, Annisa tinggal masuk dulu, pah,"ucap Annisa.


Annisa masuk ke kamarnya, ingin rasanya ia bercerita semua pada papah mertuanya soal sikap Arsyad yang mendadak berubah saat setelah kejadian di restauran kemarin. Annisa juga tidak tau, kenapa suaminya menjadi seperti itu. Kemarin dia sudah cukup mengaguminya karena sikap cueknya berubah menjadi sikap yang peduli,dan suka bercanda. Annisa sampai terbawa suasana saat Arsyad memperlakukan sesuatu yang membuat jantungnya berdeyak cepat.


"Aku tidak mengerti apa yang ada di dalam pikiran suamiku, dan enatah sampai kapan suamiku akan terus begitu,meskipun sikapnya begitu, dia tetap suamiku, dan aku akan berusaha menjadi istri yang terbaik, tanpa mencintainya dan di cintainya,"gumam Annisa.


Vino dan Arsyad masih di ruang tamu, mereka mengobrol membahas soal pekerjaan dan kadang menjrus ke masalah pribadi mereka.


"Syad, enak yang dulu atau sekarang?"ledek Vino.


"Kamu tanya apa sih, Vin,"ucap Arsyad.


"Ya tanya saja, kan kamu pernah merasakan dua wanita," ucap Vino.


Arsyad hanya terdiam saja, dia tidak tau harus berkata apa. Apalagi dia belum menyentuh Nisa sama sekali.


"Malah melamun." Vino meninju lengan Arsyad.


"Eh iya, maa, Vin,"ucap Arsyad.


Arsyad mengembuskan napasnya dengan kasar, dia mengatur napasnya kembali dan mulai berbicara dengan Vino.


"Kamu tau kan Vin, bagaimana aku dan Almira dulu, aku belum bisa melupakannya, Vin. Aku sama sekali belum mencintai Annisa,"ucap Arsyad.


"Jangan seperti itu, kamu harus belajar, Syad. Jangan seperti itu, masa lalu ya lebih baik di tutup rapat, simpan masa lalu itu di hatimu yang terdalam, yang sekarang, mulailah dengan segenap jiwamu lagi, cintailah istrimu sekarang, sebelum dia cintai orang lain,"tutur Vino.


"Entahlah, Vin. Sudah jangan bahas ini,"ucap Arsyad.


Arsyad terdiam lagi, dia merasa semua orang mengharuskan ia mencintai Annisa. Tapi Arsyad tidak mau berusaha mencintainya, bagaimana dia akan mencintai Annisa, Arsyad saja dari kemarin setiap hari dia berada di rumah Mira. Dan pekerjaan kantor sampai ia bawa ke sana.


"Mira, maafkan aku, aku tidak mau membagi hati ini, tidak mau Mira. Hati ini hanya untuk kamu. Kamu salah Mira, aku tidak mencintai Annisa. Aku sudah tidak mencintai Annisa, aku hanya perhatian pada Dio dan Shifa waktu itu. Kamu salah, tidak seharusnya kamu menyuruh aku menikah Annisa karena kamu menyangka aku masih mencintainy. Tidak ada sedikitpun perasaan untuk Annisa lagi, Almira. Aku hanya mencintaimu, selamanya, di sisa hidupku ini,"gumam Arsyad.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


♥️happy reading♥️

__ADS_1


__ADS_2