
Najwa dan lainnya masuk ke dalam ruang auditorium, semua staf dan tenaga medis yang sudah di dalam, memandangi Najwa dan Dokter Habibi yang berjalan ke depan. Setelah sudah siap, Habibi mulai mengklarifikasi hubungan dirinya dengan Najwa.
"Selamat pagi, semuanya. Sebelumnya saya minta maaf, karena sudah mengganggu kerja kalian di pagi hari ini. Tujuan saya mengumpulkan kalian di sini, karena saya akan mengklarifikasi hubungan saya dengan Ainun. Sebenarnya kami tidak ada hubungan apa-apa. Kami hanya berteman saja, belum dekat, dan mudah-mudahan Allah mendekatkan kami dengan cara-Nya yang unik lagi. Dan, saya katakan sekali lagi, saya dan Ainun murni hanya berteman, tidak ada hubungan apa-apa. Ainun bukan calon istriku, dan semoga dengan kehendak Allah dia menjadi calon istriku sesungguhnya. Demikian yang bisa saya sampaikan, silakan semua bekerja kembali, terima kasih," ucap Habibi denan tegas dan jelas.
Semua staf dan para medis, kembali dengan pekerjaannya. Ada yang sempat menyesali hubungan mereka hanya sebatas teman saja, ada juga yang senang, karena Dokter tampan itu masih free dan belum memiliki kekasih. Ya, clentingan mulut-mulut pengghibah mulai berceceran di setiap sudut rumah sakit.
Najwa kembali ke ruangannya. Dokter Habibi masih setia mendorong kursi roda Najwa. Mereka juga sedikit mengobrol dengan Najwa, dan semakin akrab. Najwa mendengar suara anak kecil memanggilnya. Najwa menoleh ke arah anak kecil itu.
"Kak Najwa ...!" panggil anak kecil itu dengan suara lantang di lorong rumah sakit.
"Riska?" Najwa melambaikan tangannya pada Riska yang juga terlihat berada di atas kursi roda
"Kamu kenal dengan Riska, Ainun?" tanya Habibi.
"Iya, dia pasien di sini yang sakit leukimia, kan?" tanya Najwa.
"Iya, benar," jawab Dokter Habibi.
"Bisa antar saya, ke sana, dok?" pinta Najwa.
"Oke, dengan senang hati," ucap Habibi.
Habibi mengantar Najwa ke tempat Riska yang terlihat sedang bersama ibu dan ayahnya. Dio dan Raffi mengikuti Najwa dan Dokter Habibi.
"Kak Najwa, kok kakak pakai kursi roda? Sama seperti Riska?" tanya Riska.
"Hai Riska, Kak Najwa sedang sakit," sapa Dokter Habibi.
"Om dokter kok sama Kak Najwa?" tanya Riska.
"Karena Om Dokter temannya Kak Najwa," jawab Habibi.
"Kak Najwa, Riska ingin mendengar Kak Najwa mendongeng lagi," pinta Riska.
"Sayang, Kak Najwa nya sedang sakit, lain kali saja, ya?" tutur ibunya Riska.
"Yah, Riska ingin sekarang, ibu," rengek Riska.
"Oke, Kak Najwa bacain dongeng, deh," ucap Najwa.
"Kamu butuh istirahat, Ainun," ucap Habibi.
"Tidak apa-apa, Dok. Aku boleh pinjam ponsel dokter? Dan tolong Carikan sebuah dongeng anak untuk aku baca," pinta Najwa.
"Oke, sebentar," ucap Habibi.
"Riska mau cerita apa, nih?" tanya Habibi.
"Em ... dongeng seorang tuan putri, Om Dokter," ucap Riska.
"Oke, ini ada dongeng, seorang putri yang baik hati," ucap Habibi dengan memberikan ponselnya pada Najwa.
"Oke, Kak Najwa bacakan sekarang."
"Oke, Kak," jawab Riska.
Najwa mulai membacakan dongeng, Riska mendengarkan Najwa yang sedang mendongeng, tidak hanya Riska, semua pasien anak-anak yang lain juga ikut mendengarkan. Habibi melihat Najwa yang sedang serius membacakan dongeng untuk pasiennya. Setelah Najwa selesai membaca dongeng, semua bersorak gembira.
"Kalian suka?" tanya dokter Habibi pada mereka.
"Suka, Om Dokter, mau lagi," pinta mereka.
"Wah, Kak Najwa lagi sakit, nanti besok lagi, ya. Kak Najwa juga harus istirahat, sayang," ucap Dokter Habibi.
"Yah … ya sudah, Kak Najwa istirahat, nanti bacain dongeng lagi, ya kak?" pinta mereka.
__ADS_1
"Iya, sayang, kalian juga istirahat biar cepat sembuh," ucap Najwa.
"Om Dokter, Kak Najwa pacarnya Om Dokter, ya?" tanya salah satu pasien Habibi.
"Bukan, Om Dokter temannya Kak Najwa, sayang," jawab Najwa.
"Yah, aku kira Kak Najwa pacarnya Om Dokter," ucapnya.
"Bukan sayang, tapi doa'in ya, biar Kak Najwa jadi pacar Om Dokter," ucap Habibi.
"Siap," jawabnya
"Ya sudah, kalian kembali istirahat, biar cepat sembuh, Kak Najwa juga harus istirahat, sayang." Habibi menyuruh semua kembali ke ruangannya.
Semua kembali ke ruangan masing-masing, setelah Najwa membacakan dongeng. Dio dan Raffi dari tadi melihat Dokter Habibi yang semakin dekat dan akrab dengan Najwa. Ada rasa sesak di dada Dio saat ini. Tapi, mau bagaimana lagi. Marah pun dia tidak berhak. Iya, tidak berhak, karena Dio adalah adiknya, dan tidak akan bisa menikahi Najwa.
Habibi membawa Najwa ke ruangannya lagi. Najwa masih memegang ponsel Habibi. Najwa sebenarnya sudah ingin pulang, 1 hari di rumah sakit rasanya sudah 1 minggu, apalagi dokter Habibi selalu saja membuatnya kesal.
"Dok, kapan aku pulang?" tanya Najwa.
"Sabar, nunggu kamu benar-benar sehat, Ainun," ucap Habibi.
"Tidak bisa berobat jalan, kah?" tanya Najwa.
"Nanti akan aku usahakan," jawab Habibi.
Habibi ingin menghabiskan sisa waktu di rumah sakit ini bersama Najwa, karena Papah dan Opanya sudah mengharuskan Habibi ke Budapest. Dan mereka memberi waktu Habibi 3 hari lagi, tidak bisa di ganggu gugat, walaupun dia meminta 1 minggu lagi.
"Kamu istirahat, biar cepat sembuh dan bisa pulang," ucap Habibi saat masuk ke ruangan Najwa.
Najwa di bantu Habibi untuk merebahkan dirinya di pembaringan. Dio hanya memandang Najwa dan Habibi, dia juga tidak tahu harus bagaimana, karena dia juga menghormati Abah, bunda, dan opanya. Ya, dia juga sudah berjanji akan menuruti abahnya untuk di jodohkan dengan Rania.
"Maafkan aku , Najwa. Mungkin aku harus bisa merelakan kamu dengan pria lain. Dan aku tidak tahu, aku bisa mencintai Rania lagi atau tidak, seperti dulu, aku mencintainya dan mengaguminya saat masih duduk di bangku SMP. Dan, karena sesuatu, aku jadi jauh dengan dia, ah … sudah Dio, jangan membuka luka yang dahulu, yang juga belum jelas akhirnya," gumam Dio.
"Oke, hati-hati. Sekali lagi terima kasih, karena sudah mengklarifikasi masalah ini, Dok," ucap Najwa.
"Oke, sama-sama. Nanti malam aku ke sini, lagi," ucap Habibi.
"Tidak usah repot-repot, Dok," ujar Najwa.
"Ya sudah aku pulang." Habibi mengusap kepala Najwa.
"Abah, bunda, opa, Habibi pulang dulu," pamit Habibi.
"Iya, dok. Hati-hati, terima kasih untuk semuanya," ucap Arsyad.
"Iya, Abah," ucap Habibi.
"Dio, Raffi, saya pamit," ucap Habibi.
"Iya, dok," jawab mereka.
"Dokter, ponselnya." Najwa memberikan ponsel milik Habibi yang tadi ia pinjam.
"Oh, iya, aku lupa." Habibi mengambil ponselnya pada Najwa.
"Dok, Wallpapernya ganti, jangan foto saya," ucap Najwa dengan mengurai senyumnya.
"Oke nanti aku ganti, setelah kita menikah, dan akan ku pasang foto pernikahan kita di sini," ucap Habibi sambil mengambil ponselnya lalu mengurai senyuman yang manis.
"Asal jangan di taruh di story' WhatsApp saja," ucap Najwa.
"Tenang saja, tidak akan lagi, sudah aku pulang." Habibi keluar dari ruangan Najwa dan pulang ke rumahnya.
^^^^^
__ADS_1
Dio duduk di kursi yang dekat pembaringan Najwa, Dio mengusap kepala Najwa dengan sayang, dan dia berpamitan pada Najwa untuk ke kantor.
"Kak, aku ke kantor, ya? Kakak cepat sembuh, nanti kita makan rujak lagi yang pedes," ledek Dio.
"Dio … apaan, sih! Jangan gitu, ih." Najwa mencubit lengan Dio.
"Sakit, say… ehm Najwa." Dio hampir saja memanggil Najwa sayang, dan semua menyadarinya
"Ehem … say? sayang? Ketahan sayangnya," ledek Arsyad dengan duduk di antar mereka.
"Abah, apaan, sih," ucap Dio.
"Dio, Najwa. Maafkan Abah, maafkan Abah, Nak. Ini salah Abah, tidak memberitahukan ini dari awal. Karena Abah tidak menyangka kalian menjalin hubungan sedalam ini," ucap Arsyad
"Abah, jangan menyalahkan diri seperti ini. Ini salah kami, Abah. Salah kami yang saling mencintai, dan maafkan Dio, yang membuat Najwa seperti ini. Membuat Najwa menjatuhkan hatinya pada Dio. Maafkan Dio, yang mencintai Najwa, Abah," ucap Dio.
"Cinta itu fitrah manusia, cinta tidak pernah salah, kita juga tidak pernah tahu, kapan cinta itu datang, dan cinta juga tidak butuh sebuah alasan, Dio. Kalian berhak bahagia, dengan pasangan kalian masing-masing, karena kalian tidak bisa menikah, Nak," tutur Arsyad
"Najwa, maaf, aku harus menyampaikan ini pada kamu, bukan aku kejam atau aku berkhianat. Kita memang tidak bisa menikah, Najwa. Dan, aku akan menerima perjodohan ku dengan Rania," ucap Dio di depan semuanya.
"Dio, aku ikhlas, menikahlah, turuti apa kata bunda dan Abah, karena itu demi kebaikan kamu, Dio. Kita kakak adik, kamu adikku, adik sepupuku, dan kita satu susuan. Aku ikhlas, Dio." Najwa berkata dengan berlinang air mata.
"Dan kamu juga berhak bahagia, Najwa. Dokter Habibi laki-laki yang baik. Wujudkan mimpi opa, opa ingin memiliki cucu menantu seorang dokter," ucap Dio.
"Aku belum memikirkan itu, Dio. Semoga saja, harapan Opa terwujud," ucap Najwa.
Semua menangis melihat Najwa dan Dio saling mengucapkan perpisahan. Annisa tidak kuasa menahan tangisnya dia memeluk erat Dio. Mencium pipinya dan mengusap lembut.
"Maafkan bunda, sayang," ucap Annisa.
"Bunda tidak salah, sudah jangan menangis." Dio menghapus air mata Annisa dan memeluknya.
"Ya sudah, kita bicarakan nanti lagi. Dio ada meeting dengan klien. Dio berangkat ke kantor dulu," pamit Dio.
"Najwa, jangan menangis, semua akan baik-baik saja." Dio mengusap kepala Najwa dan mencium keningnya.
"Iya kamu hati-hati," ucap Najwa.
Dio keluar dari ruangan Najwa bersama Raffi, dia menahan tangisnya yang dari tadi ia ingin keluarkan. Raffi merangkul Dio yang benar-benar kacau sekali hari ini.
"Raf, sakit sekali rasanya. Sakit sekali melepas orang yang aku sayangi dan aku cintai. Aku tidak bisa, Raff. Tapi, aku juga harus bisa melepaskannya dari sekarang." Dio memeluk erat Raffi dan menangis.
"Dio, semua akan baik-baik saja. Ini yang terbaik, untuk kamu dan Kak Najwa, Dio. Ingat, sebelum Abah membicarakan perjodohan kamu dan Rania, kamu pikir-pikir dulu, Dio. Jangan gegabah ambil keputusan. Kalau belum siap, kamu tunda saja, kalau perlu, jangan di lanjutkan. Jangan menikah karena terpaksa, Dio," tutur Raffi.
"Aku harus menuruti Abah, Raf, itu sudah janjiku, untuk menuruti kata Abah dan bunda," ucap Dio dengan suara serak.
"Berdo'alah, minta pada Allah, agar di beri petunjuk yang baik, dekatkan diri pada Allah, Dio. Karena Allah sebaik-baiknya penolong," tutur Raffi.
"Iya, Raff. Terima kasih, kamu selalu memberikan solusi yang terbaik," ucap Dio.
Dio berjalan di rangkul oleh Raffi. Saat ini Dio benar-benar lemah sekali. Tapi, dia harus ke kantor, karena sudah berjanji akan menemui kliennya.
^^^^^
Najwa masih menangis di pelukan abahnya. Separuh jiwanya benar-benar sudah lenyap. Separuh hidupnya sudah tidak bernyawa lagi. Dia lemah, dan tak berdaya saat ini. Hatinya hancur dan rapuh. Dia tidak bisa memungkiri, dia memang masih sangat mencintai Dio. Dan, sekarang, dia harus merelakan Dio menikah dengan wanita lain.
"Abah, sakit sekali, dada Najwa. Maafkan Najwa, Abah, bunda, opa. Najwa mencintai Dio, sungguh mencintainya," ucap Najwa.
"Sayang, kamu yang tabah, kamu yang kuat, dan harus ikhlas. Semua ini demi kebaikan kamu, sayang," ucap Rico.
"Iya opa, Najwa akan berusaha, sekuat hati Najwa," ucap Najwa sambil terisak di pelukan Arsyad dan Annisa.
"Andai aku tahu, dan kenal baik dengan keluarga Dokter Habibi, pasti kami bisa menjodohkan Najwa dengan Dokter Habibi. Tapi, sayang, semua keluarganya ada di luar negeri, dan Dokter Habibi akan menyusulnya ke sana 3 hari lagi, dan kata Arsyad, dokter Habibi akan di sana selama kurang lebih 3 tahun," gumam Rico.
Rico benar-benar hancur melihat cucu-cucunya menderita batinnya seperti sekarang ini.
__ADS_1