THE BEST BROTHER

THE BEST BROTHER
S3 Cinta Untuk Mereka Bab 53 " Suami Idaman"


__ADS_3

Arsyad kembali ke kamarnya setelah selesai menanta kejutan makan malam bersama Annisa. Dia melihat istrinya masih tertidur pulas padahal Adzan Maghrib sudah berkumandang. Arsyad mendekati istrinya yang tertidur dengan pulas, wajah Annisa masih terlihat canti dan manis, sama seperti dulu waktu pertama Arsyad mengenalnya. Arsyad memandang lekat wajah istrinya yang canti dan manis itu, dia mencium kening dan pipi Annisa.


Annisa mengeliat, merasakan ada seseorang yang menciumnya. Annisa mengerjakan matanya, membuka matanya perlahan, dia menyesuaikan cahaya yang ada di kamarnya. Dia melihat Arsyad yang sedang membelai rambutnya dengan lembut, dan merebahkan tubuh nya di samping Annisa dengan posisi tubuhnya miring dan menghadap Annisa.


"Kakak….."ucapnya manja sambil menenggelamkan wajahnya di dada Arsyad dan memeluk Arsyad.


"Bagaimana nyenyak tidurmu?"tanya Arsyad.


"Pusing kak, kenapa gak bangunin Annisa kalau tadi ketiduran?"ucap Annisa.


"Kamu tidur pulas sekali, maaf kakak membuatmu lelah dan sakit,"ucap Arsyad.


"Jangan berkata seperti itu, aku ini istrimu, kak. Itu sudah kewajiban ku, apa kakak mau lagi?"tanya Annisa.


"Mau, tapi besok saja, kamu sudah terlalu lelah, kakak tidak mau kamu sakit, sayang." Arsyad mengusap pipi Annisa dengan manja.


Entah kenapa dia selalu ingin memanjakan istrinya itu. Arsyad tidur memeluk istrinya dan menghujani wajah istrinya dengan ciuman.


"Kakak….jangan seperti ini, katanya mau besok, tapi tangannya udah ke mana-mana." Annisa menghentikan tangan Arsyad yang sudah masuk menyusup ke dalam piyama Annisa.


"Maaf, kakak suka sekali bermanja seperti ini, Annisa,"ucap Arsyad.


"Sholat dulu, yuk," ajak Annisa.


"Hmmm…iya, ya sudah kakak ambil wudhu dulu,"ucap Arsyad.


Arsyad dan Annisa beranjak dari tempat tidurnya, Arsyad berjalan ke kamar mandi, sedangkan Annisa masih saja duduk di tepi ranjang, dia masih merasakan sakit di pangkal pahanya.


"Kakak,"panggil Annisa sambil duduk di tepi ranjang


Arsyad menoleh ke arah Annisa, dia berjalan sambil tersenyum ke asah istrinya. Arsyad tau, kalau istrinya masih kesakitan dan susah untuk berjalan. Dengan sigap Aryad menggendong Annisa ke kamar mandi.


"Ayo kamu wudhu dulu, kalau sudah selesai kakak gendong lagi,"ucapnha sambil menunggu Annisa wudhu.


Arsyad memandangi Annisa yang sedang berwudhu, dia tak lepas memandang Annisa.


"Saat bersama Arsyil aku melihat Annisa tidak semanja ini, dia menjadi wanita yang sangat tegar, yang mandiri, tapi kali ini, dia benar-benar manja sekali dengan aku. Aku suka sekali dia seperti ini,"gumam Arsyad.


"Kakak, aku sudah selesai, gendong lagi,"ucap Annisa manja yang membuat Arsyad suka sekali dengan Annisa yang seperti itu.


"Iya, ayo kakak gendong." Arsyad menggendong Annisa kembali dan mendudukan Annisa di tempat tidur.


"Tunggu di sini, kakak ambilkan mukenahmu." Arsyad mengambilkan mukenah Annisa dan memberikannya. Dia menggelar sajadahnya dan sajadah Annisa. Setelah itu dia mengambil air wudhu.


Arsyad sudah selesai mengambil air wudhu, dia memapah Annisa untuk ke tempat sholat.


"Sayang, apa masih sakit sekali?"tanya Arsyad.


"Iya, kak,"jawabnya.


"Masih terasa di dalam punya kakak,"imbuh Annisa


Arsyad terkekeh dengan penuturan Annisa, "kamu bisa saja, sayang, ya sudah kit sholat dulu,"ucap Arsyad


Setelah selesai sholat, Annisa kembali lagi tiduran di tempat tidur, dia merasakan lelah sekali tubuhnya. Annisa merasa baru kali ini berhubungan intim sampai menguras tenaganya dan membuat sakit di daerah kewanitaannya.


"Dulu aku tidak seperti ini saat bersama Arsyil.Padahal waktu dengan Arsyil kan aku benar-benar masih gadis. Apa mungkin Arsyil menjeda waktu saat melakukannya, tidak seperti Kak Arsyad yang terus-terusan menggempur aku, tapi aku menikmatinya." Annisa berkata dalam hatinya sambil membayangkan tadi saat Arsyad melakukannya dengan penuh gairah.


"Apa dulu dia melakukannya dengan Kak Mira seperti itu? Sepertinya aku melihat mereka dulu biasa-biasa saja. Ya gak tau lah, kan aku juga jarang juga ngobrol dengan Kak Arsyad dulu, paling dengan Kak Mira seringnya. Aku kangen sekali dengan Kak Mira, semenjak mamah meninggal hanya Ibu dan Kak Mira yang perhatian dengan aku," gumam Annisa.


Annisa membuka galeri ponselnya, dia melihat foto-foto dirinya bersama Almira waktu dulu. Mira memang wanita yang memiliki sosok ke ibuan, wanita yang sabar dan selalu lembut bertutur kata. Annisa sering sekali pergi dengan Almira, sengaja jalan berdua dengan Almira. Dan itu pun harus umpet-umpetan dengan Rachel dan Shita, karena mereka pasti cemburu kalau Almira pergi berdua saja dengan dirinya. Almira menjadi rebutan Shita, Annisa dan Rachel. Dia memang sosok kakak yang baik, yang bisa membimbing adik-adiknya. Tidak salah Shita, Rachel dan Annisa sering berebut mengajaknya pergi berdua hanya sekedar ingin bertukar pikiran dengan Almira.


"Kenangan kita sungguh banyak, kak. Satu yang Annisa sesali, saat Kak Mira pergi, Annisa tak ada di samping kakak. Maafkan Annisa, kak, Annisa egois saat itu. Mungkin kalau Annisa ada di samping kakak saat itu, tidak seperti ini kejadiannya,"gumam Annisa.

__ADS_1


Arsyad melihat istrinya yang sedang bersandar di tempat tidur dengan memainkan ponselnya. Dia melihat Annisa matannya sedikit sembab, seperti habis mengeluarkan air mata. Arsyad mendekatinya dengan membawa Al-Qur'an miliknya dan duduk di samping Annisa. Arsyad mengusap kepala istrinya yang terlihat masih lelah itu.


"Kakak mau mengaji?"tanya Annisa.


"Iya, kamu habis menangis?"tanya Arsyad.


"Tidak, aku hanya ingat seseorang saja,"ucapnya.


"Arsyil?"tanya Arsyad


"Bukan Arsyil, tapi Kak Mira, aku tiba-tiba kangen Kak Mira, kakak sudah mengirim Do'a untuk Kak Mira?"tanya Annisa.


"Itu selalu, sayang. Do'a untuk Almira tak pernah putus dari kakak,"jawab Arsyad.


"Kenapa kangen Kak Mira?tanya Arsyad.


"Ya kangen, kak. Kangen sekali, kakak tau kan, dulu aku dekat sekali dengan Kak Mira, sampai berebut dengan Kak Shita dan Rachel waktu itu, mau pergi dengan Kak Mira,"ucap Annisa.


"Tidak hanya kamu, Rachel, dan Shita yang suka berebut Almira untuk di ajaknya pergi, anak-anak di taman baca Almira saja suka berebut ingin mengajak Almira pergi atau hanya sekedar mengobrol berdua. Saat Almira wafat, mereka semua datang mendoakan Almira, mereka sangat kehilangan sosok wanita inspirasinya. Itulah Almira, dia selalu menjadi panutan anak-anak, remaja, bahkan orang dewasa,"ucap Arsyad.


"Almira sosok perempuan yang hebat, yang pernah kakak Miliki, Nis. Dia benar-benar wanita yang pandai, kadang kakak begitu kagum dengan dia yang selalu memecahkan masalah tanpa emosi, padahal masalah itu begitu rumit sekali. Hanya sekali saja aku melihat dia benar-benar emosi dengan kakak,"ucap Arsyad.


"Waktu kakak sering ke rumahku hingga malam, kan?"tanya Annisa dengan memandang wajah suaminya yang sepertinya agak menyesali apa yang ia lakukan dulu.


"Iya, Nia. Hanya itu yang membuat Almira marah besar dan murka pada kakak, padahal dia sama sekali tak pernah bicara dengan nada tinggi. Dia selalu lembut tutur katanya, apalagi dengan kakak, padahal kakak lebih muda darinya, dan lebih egois daripada Almira,"ucap Arsyad.


"Kak, walau kakak lebih muda dari Kak Mira, tetap suami lebih tinggi kedudukannya daripada seorang istri, kak. Dan, ternyata kamu memang memiliki sifat egois dari dulu, ya?"ucap Annisa sambil mengusap lembut pipi suaminya.


"Iya, kakak memang egois, Nis,"ucap Arsyad.


"Aku menyesal, saat kepergian Kak Mira aku aku tidak di sampingnya,"ucap Annisa.


"Sudah jangan di ingat lagi, Mira sudah bahagia di surga. Kakak percaya itu, karena dia selalu hadir di mimpi kakak dengan bahagia, Nis. Kakak ngaji dulu, ya. Sini tidur di pangkuan kakak." Arsyad menyuruh istrinya tidur dengan berbantal paha Arsyad.


"Suami idaman, benar kata Rere dan Vera dulu saat kuliah, dan saat Kak Arsyad mengejar cintaku. Kalau kak Arsyad adalah suami idaman semua wanita. Ternyata aku merasakannya, dia pandai membahagiakan istrinya lahir dan batin, juga dia sosok yang pandai agama. Pantas saja semau wanita di kampus duku berlomba-lomba mendapatkan kontak Kak Arsyad,"gumam Annisa.


Malam hari, setelah melakukan sholat isya dengan Annisa, Arsyad pamit ke depan sebentar untuk mengambil air minum. Padahal dia menunggu pelayan untuk mengambil gaun untuk Annisa untuk makan malam nanti. Arsyad mondar mandir di depan teras menunggu pelayan datang mengantarkan gaun untuk Annisa. Dan juga hadiah untuk Annisa saat makan malam nanti.


"Lama sekali mereka, padahal tinggal mengambil saja di tempat yang sudah aku katakan tadi, dan itu tidak jauh dari sini, karena aku juga masih tau daerah sini,"gumam Arsyad.


Arsyad meneguk air putih yang tadi ia ambil di dapur, sambil duduk menunggu seorang pelayan membawakan gaun dan hadiah untuk istrinya. Tak lama kemudian sebuah mobil masuk ke halaman luas di depan Vila Rico. Ya, mobil itu adalah mobil pelayan yang Arsyad suruh mengambil gaun dan hadiah untuk Annisa.


"Maaf, tuan. Jalanan sedikit macet, jadi agak lama,"ucapnya.


"Tidak apa-apa, mas. Terima kasih, ya. Saya bawa masuk dulu, tolong persiapkan dinner saya dengan istri, satu jam lagi kami keluar," ucap Arsyad.


"Baik, tuan,"ucap pelayan tersebut


Arsyad meninggalkan teras dan segera masuk ke dalam, sebelum masuk dia membuka gaun yang ia pesan untuk Annisa, sesuai tidak dengan apa yang ia inginkan. Dianjuga membuka kotak kecil, itu adalah hadiah untuk Annisa yang ia pesan secara mendadak, beruntung sesuai dengan apa yang di harapkan Arsyad.


"Oke, ini semua sesuai dengan apa yang aku harapkan, semoga tidak mengecewakan Annisa,"gumam Arsyad.


Dia segera masuk ke dalam, menemui istrinya yang masih saja berbaring manja di tempat tidurnya. Annisa memang sangat lelah sekali, apalagi untuk jalan saja susah, jadi Arsyad keluar pun dia tidak ikut keluar. Arsyad membuka pintu kamarnya, dia melihat istrinya sedang membaca sebuah novel. Novel siapa lagi kalau bukan novel Almira. Arsyad tersenyum melihat istrinya yang sedang asik membaca dan menyandarkan diri di tempat tidur.


"Kakak lama sekali, sih. Nisa sampai ngantuk nunggunya,"ucap Annisa manja sambil beranjak dari tempat tidurnya dan berjalan cepat ke arah Arsyad.


Annisa memeluk erat suaminya, seperti baru saja di tinggal jauh dan lama oleh suaminya, padahal Arsyad hanya dari teras depan.


"Ehh…kenapa seperti ini?"tanya Arsyad pada Annisa yang tiba-tiba memeluk erat dirinya.


"Gak apa-apa pengen meluk aja,"ucap Annisa manja sambil menghirup aroma tubuh suaminya yang sekarang menjadi candu untuknya.


"Coba lihat ini, kamu suka tidak?"tanya Arsyad sambil memperlihatkan gaun untuk Annisa. Ya, lebih tepatnya gamis dengan brand ternama.

__ADS_1


Annisa mengambil gamis dari dalam box nya. Gamis warna olive yang sangat anggun itu, Annisa melihat ukuran bajunya. Dia tersenyum bahagia, suaminya tau kalau gamis itu sesuai dengan ukurannya.


"Dari mana kakak tau ukuran bajuku?"tanya Annisa.


"Dari tubuhmu,"jawab Arsyad.


"Dari tubuhku? Maksudnya?"tanya Annisa lagi.


"Ya, karena kakak tau tubuh kamu, jadi kakak tau ukuran baju kamu,"ucapnya.


"Kamu suka?"tanya Arsyad.


"Suka, suka sekali, terima kasih, sayang,"ucap Annisa.


"Iya, sama-sama, pakailah baju ini, kita siap-siap untuk makan malam di luar," titah Arsyad.


"Emm….makan malam di luar?"tanya Annisa.


"Iya, ayo kita siap-siap, dandan yang cantik untuk suamimu ini, jangan saat akan tidur saja kamu terlihat begitu cantik. Kakak juga mau kamu terlihat cantik saat kamu keluar mendampingi kakak. Ingat bukan keluar sendiri, apalagi kalau ke kantor, jangan pakai make up tebal," tutur Arsyad.


"Siap, suamiku…!" ucap Annisa sambil mencium pipi suaminya.


"Dan satu lagi, saat ada Leon nanti, kamu jangan menampakan kecantikan mu di depan Leon,"tutur Arsyad lagi.


"Kan memang aku cantik, masa iya aku harus pakai topeng? Apa aku pakai cadar saja kak,?"tanya Annisa.


"Jangan, jangan pakai cadar. Aku tidak mau, nanti kamu terlalu fanatik,"ucapnya.


"Jadi dulu Kak Mira?"tanya Annisa


"Ya seperti itu, kamu tau dia orang yang sangat serius, dan jarang sekali kakak bercanda dengan dia, ya seperti itulah. Intinya jadilah dirimu sendiri, kamu ya kamu, Almira ya Almira. Karena seseorang itu berbeda-beda. Dulu aku hidup dengan Almira yang seperti itu, ya aku menyesuaikan diriku seperti apa hidup dengannya. Dan kakak merasakan nyaman-nyaman saja. Sekarang kakak hidup dengan kamu, masa iya, kakak mau kamu seperti Mira dulu, tidak kan? Kamu juga merasa seperti itu kan? Dulu dengan Arsyil bagaimana, dan sekarang dengan kakak bagaimana. Karena hidup itu banyak warna dan banyak rasa, sayang,"jelas Arsyad.


"Ya sudah, sekarang ganti baju kamu, kakak juga akan bersiap-siap,"titah Arsyad.


"Oke,"ucap Annisa.


Mereka bersiap untuk makan malam bersama. Arsyad sudah selesai memakai kemeja dengan warna yang senada dengan baju Annisa. Arsyad menggunankan jeans, dia terlihat tampan dan lebih muda, tidak seperti biasanya. Arsyad mendekati istrinya yang sedang menata jilbabnya dengan tuspin. Annisa terlihat anggun dengan gamis yang Arsyad pilihkan.


Annisa melihat suaminya yang memandangnya dari kejauhan lewat cermin di depannya. Annisa terpukau dengan ketampanan suaminya itu yang ia baru sadari malam ini.


.


.


.


.


.


.


.


.


♥️happy reading♥️


mohon maaf, author sibuk sekali kemarin, dan ini baru sempat up. mohon pengertiannya ya sayangku. masih sedikit sibuk, karena mungkin masih suasana lebaran yang terlockdown ini.😁


Jangan lupa Like nya ya...budayakan Like sebelum/sesudah membaca.


Jangan lupa jug Votenya. sekali lagi saya sebagai Author mohon maaf, karena baru sempat up. mungkin kalian mengira aku ini PHP in kalian. padahal benar lho, kalau author sibuk syekali 😁😁

__ADS_1


ehh...malah curhat. ya sudah selamat membaca. Author up 2 bab. mohon konsisten untuk like dan votenya ya...😘😘😘


__ADS_2