
Rania, duduk di samping ayahnya yang baru saja siuman. Reno mengusap wajah anak perempuan semata wayangnya itu. Rania terlihat sembab sekali matanya, karena dari pagi dia menangis. Reno seakan tahu tentang masalah Rania saat ini. Reno sudah siuman dari tadi pagi, tapi kondisinya masih lemah. Dia hanya berbicara yang penting saja.
"Ran, ayah titip ibu, ya?" ucap Reno yang membuat Rania semakin menangis.
"Ayah jangan bicara seperti itu, ayah harus sembuh, Rania juga butuh ayah," ucap Rania.
"Ada Dio, Dio bisa menjaga kamu dan ibu, Nak. Dia laki-laki baik. Kamu mencintai Dio, kan?" ucap Reno dengan suara parahnya.
"Iya, Rania mencintai Dio, Ayah. Dio baik dengan Rania dan ibu, dari kemarin dia di sini menunggu ayah siuman, tapi sekarang dia sedang menemui klien dari tadi pagi, yah," jawab Rania.
"Kok Dio lama tidak ke sini, Ran? Telepon dia, ayah ingin bertemu Dio," ucap Reno.
"Sebentar lagi paling, yah. Tadi Rania sudah memberitahukan Dio, kalau ayah sudah siuman. Paling dia sebentar lagi pulang, yah." Rania terpaksa berbohong, padahal dia sama sekali belum menghubungi Dio. Rania benar-benar ingin melupakan Dio, dan mencoba mengubur rasa cintanya pada Dio.
Dari tari pagi Reno hanya bicara seperti itu pada Rania. Dia juga menanyakan Dio kapan akan kembali ke rumah sakit. Dio masih sibuk di kantor, dia belum bertemu dengan Reno, karena dia pulang sebelum Reno siuman.
^^^^^
Arsyad dan Annisa baru saja sampai rumah setelah menjenguk Reno. Rico juga ikut menjenguk Reno. Rico memanggil Annisa dan Arsyad yang sudah berjalan mendahuluinya untuk masuk ke dalam rumah.
"Ada apa papah?" tanya Arsyad.
"Papah ingin bicara pada kalian, duduk sini dulu," jawab Rico dan menyuruh Arsyad duduk di ruang tamu. Annisa mengikuti Arsyad dan duduk di samping Arsyad.
"Apa yang ingin papah bicarakan?" tanya Arsyad lagi.
"Kamu sudah tahu kabar Najwa?"
"Jangan bahas dia lagi, Pah. Biarkan dia pergi, dia sudah membuat malu keluarga ini, Pah," jawab Arsyad.
"Syad, kalau Najwa pergi dengan jelas ke mana dan membawa uang atau pakaian, papah tidak sekhawatir ini. Bagaimanapun dia adalah cucu papah. Papah juga kecewa, sangat kecewa. Kamu orang tuanya seharusnya kamu memberi masukan dan nasihat pada dia," ucap Rico.
"Sudah berkali-kali aku menasehatinya. Aku kira dengan Dio menikah dengan Rania, Najwa akan melupakannya dan dekat dengan Akmal. Ternyata dia setiap hari berhubungan dengan Akmal lewat telepon dan video call hanya untuk menutupi kebusukannya. Biar dia pergi. Aku sudah kecewa dengan dia, pah," jawab Arsyad lagi.
Najwa memang setiap hari berhubungan dengan dr Habibi, dia saling bertukar chat dan teleponan, hampir setiap hari mereka bertukar menanyakan kabar. Tapi, hanya sebagai sahabat, tidak lebih dari itu.
"Jangan seperti itu, dia wanita, kalau dia laki-laki tidak masalah. Dia bisa tidur di masjid, di emperan jalan pun tak masalah. Najwa wanita, papah takut, Syad. Meskipun dia seperti itu, tapi kamu dengar sendiri, kan, dia masih menjaga mahkotanya, dia tidak memberikan semua pada Dio. Kalau ada orang yang jahat, terus malah merusak Najwa bagaimana? Papah tidak bisa membayangkan jika itu terjadi, ibarat kata, dia sudah jatuh, tertimpa tangga juga," jelas Rico.
"Benar kata papah, Kak. Kita harus mencari di mana Najwa," imbuh Annisa.
"Aku yakin dia baik-baik saja. Sudah jangan bahas Najwa. Aku memang salah, tidak menegasi dan menjaga anak perempuanku, aku mohon, jangan bahas Najwa lagi," ucap Rico.
__ADS_1
"Ya sudah, papah cuma memberitahukan kamu saja, agar kamu tidak menyesal di kemudian hari."
"Oh ya, Nis. Apa kamu sudah membujuk Rania agar tudak bercerai dengan Dio?" tanya Rico.
"Aku sudah membujuknya, tapi dia bersikeras ingin berpisah dengan Dio. Dio juga sudah menyerah membujuk Rania agar memberi kesempatan pada Dio, pah," jawab Annisa.
"Orang tua hanya bisa mendoakan saja, semoga keputusan Rania bukan sebuah keputusan yang salah. Papah yakin, Rania sangat mencintai Dio. Namun, dia sudah lelah dengan sikap Dio. Papah tau, perasaan seorang wanita seperti Rania. Dia wanita hebat, bisa menyembunyikan masalah hatinya ya g sangat pelik ini," ucap Rico.
"Arsyad sebenarnya tidak rela, jika Rania berpisah dengan Dio. Tapi, seorang perempuan yang sudah di kecewakan akan sulit memulai hubungan lagi dengan pria yang telah membuatnya kecewa," imbuh Arsyad.
"Rania juga minta pada Annisa, agar masalah ini tidak sampai pada orang tuanya. Ingin sekali Annisa bicara dengan Anna, tapi keadaan sekarang tidak memungkinkan. Reno keadaannya sedang seperti ini," ucap Annisa.
"Jangan beritahu ini pada Anna, apalagi Reno. Biarkan kita menuruti apa kata Rania," ujar Rico.
Arsyad meninggalkan ruang tamu dan keluar menuju halaman rumah depan. Dia duduk di gazebo yang ada di taman. Arsyad membuka ponselnya. Dia sebenarnya juga khawatir sekali dengan Najwa. Sudah hampir satu minggu Najwa tidak ada kabar. Bagaimana mau mengabari, semuanya di tinggal, ponsel, tas, dompet, uang, bahkan pakaian. Dia pergi dengan tangan kosong, hanya pakaian yang menempel di badannya saat itu.
"Maafkan Abah, nak. Abah memang salah mengusirmu dengan keadaan seperti ini. Semoga kamu baik-baik saja di luar sana, nak. Maafkan abah. Abah merindukanmu, Abah khawatir kamu di luar sana dengan siapa, dan keadaanmu seperti apa. Apa kamu sehat? Apa kamu sudah makan? Najwa maafkan Abah." Arsyad menangis memandangi foto-foto Najwa.
Arsyad melihat pintu gerbang yang masih terbuka, dia melihat ada seorang perempuan mirip dengan Najwa.
"Najwa, dia Najwa." Arsyad bergegas mendekati pintu gerbang rumahnya.
Namun setelah dia berada di luar pintu gerbang, tidak ada siapa-siapa di sana. Arsyad benar-benar melihat perempuan seperti Najwa. Arsyad juga sempat menatap mata wanita itu, yang mirip dengan mata Najwa. Memang wajah wanita itu tertutup oleh penutup wajah atau masker.
Arsyad kembali masuk ke dalam. Dia melihat Annisa yang sudah berada di halaman rumah. Arsyad memeluk Annisa dan menangis di pelukan istrinya.
"Annisa, aku sadar, aku salah mengusir Najwa. Aku melihat Najwa ke sini, dia pulang, tapi setelah aku keluar dia tidak ada lagi. Annisa, Najwa di mana sekarang, aku memang orang tua yang tidak berguna, Annisa. Aku gagal mendidik anak-anakku," ucap Arsyad dengan berlinang air mata.
"Kak, jangan seperti ini. Sudah, pasti Najwa kembali lagi, ayo kita masuk. Najwa akan baik-baik saja, aku percaya itu," ucap Annisa.
Arsyad berjalan di samping Annisa. Dia masuk ke dalam kamarnya, dan Annisa membantu Mba Lina menyiapkan makan siang. Arsyad merebahkan tubuhnya di ranjang, dia kembali melohta foto Najwa yang masih kecil bersama Almira.
"Maafkan aku Almira, aku gagal mendidik Najwa. Maafkan aku juga sudah mengusir Najwa dari rumah. Ternyata aku tidak bisa mendidik anak-anakku Almira," ucap Arsyad dengan memandangi foto Almira dan Najwa.
^^^^^
Najwa menangis di dalam mobil Nuri. Dia tadi memang ingin pulang dan ingin berpamitan dengan semuanya karena akan ikut Nuri keluar negeri. Dia hanya melihat abahnya sepintas saja. Padahal dia ingin sekali memeluk abahnya, berlutut pada abahnya dan memohon maaf serta berpamitan untuk pergi keluar negeri. Namun, rasa takut masih menyelimuti dirinya. Dia takut abahnya masih murka dengan dirinya.
"Najwa, tadi Abah Arsyad kan keluar, kenapa kamu malah menghindar," ucap Nuri.
"Nur, aku tahu, Abah masih sangat marah padaku. Biarlah, aku sudah lega meskipun hanya melihat abah sepintas saja," jawab Najwa.
__ADS_1
"Apa kamu yakin akan ikut aku bekerja di butikku?" tanya Nuri.
"Iya, yakin, Nur," jawab Najwa.
"Kamu siap meninggalkan semua? Tapi, memang ini yang harus kamu lakukan, pergi jauh dari rumah. Lupakan Dio, dia bukan untukmu, Najwa. Kamu berhak mendapat laki-laki yang lebih baik dari Dio," ujar Nuri.
"Iya, Nur. Memang aku harus pergi jauh dari sini. Lebih baik lagi jika aku mati, karena abah juga menginginkan itu, Nur. Aku yakin itu, Abah sudah tidak menginginkan aku lagi, Nur. Dan, siapa yang akan menerima aku? Aku sudah rusak, Nur. Aku sudah tidak ada harga diri. Mana mungkin ada yang mau menerima aku apa adanya," ucap Najwa dengan berlinang air mata.
"Najwa, tidak ada orang tua yang tidak memaafkan anaknya. Abah masih sangat menyayangimu, Najwa. Buktinya tadi dia mencari kamu, Najwa. Aku yakin Abah tadi melihat kamu. Kamu jangan bilang seperti itu, pasti ada laki-laki yang baik, yang tulus menerima kamu, Najwa. Ibarat kata kamu adalah sebuah bingkai yang membingkai sebuah foto cantik. Dan bingkai itu pecah, pecahan itu hanya melukai foto itu dengan reruntuhan atau pecahanya. Namun, tidak menggores atau meninggalkan bekas di foto itu. Dan itu kamu, Najwa. Dio hanya merusak bingkaimu saja, tapi, kamu masih utuh, masih cantik dan pantas untuk laki-laki selain Dio. Sudah lupakan dia." Nuri mencoba menasihati Najwa, agar dia tidak semakin terpuruk pada keadaan yang sudah menghancurkan hidupnya sekarang.
"Ya mungkin saja Abah masih sayang dengan aku, tapi aku tak yakin itu, karena Abah sudah benar-benar murka padaku. Dan untuk Dio, aku memang akan melupakannya. Tapi, aku tetap tidak yakin, aku akan mendapatkan laki-laki yang tulus mencintaiku, Nur," ucap Najwa.
"Kamu harus yakin, Najwa. Jadi gimana? Kamu mau pulang, atau ikut aku keluar negeri?" tanya Nuri.
"Aku sudah memutuskan, untuk ikut kamu, Nur," jawab Najwa.
"Oke nanti sore kita berangkat, kamu sudah siapkan semua identitas kamu, kan? Paspor dan kartu identitasmu yang lainnya sudah ada?" tanya Nuri.
"Sudah, untung saja Arkan mau membantuku. Aku yakin dia bisa menjaga rahasia ini dari mereka semua," jawab Najwa.
Memang Najwa meminta bantuan Arkan untuk mengambil KTP dan Paspor milik Najwa di rumah. Arkan sebenarnya tidak mau, tapi mengingat untuk kebaikan kakaknya yang sangat ia sayangi, jadi Arkan mau melakukan semua itu.
"Kita ke sekolahan Arkan dulu. Dia pasti masih jam istirahat, mumpung sopirnya belum jemput Arkan," pinta Najwa.
"Oke," jawab Nuri.
^^^
Najwa menemui Arkan di sekolahannya. Dia berbicara pada adiknya. Arkan sebenarnya tidak rela kalau kakaknya akan pergi meninggalkan Indonesia. Tapi, ini juga untuk kebaikan kakaknya, agar tidak semakin terjerat dengan Dio.
"Kakak yakin akan pergi?" tanya Arkan.
"Iya, kakak titip, abah, bunda, dan opa. Dan, kakak minta tolong sama kamu, jangan beritahu keberadaan kakak," jawab Najwa.
"Iya, kak. Asal kakak selalu menghubungi Arkan, biar Arkan tahu, kalau kakak baik-baik saja," ucap Arkan.
"Itu pasti, sayang. Sudah kakak pamit pulang, kamu jaga diri, sekolah yang benar, dan ingat pesan kakak."
"Iya, Kak."
Arkan dan Najwa saling berpelukan. Najwa hanya memberitahu Arkan akan keluar negeri saja, tapi dia tidak memberitahukan kalau nanti sore dia akan berangakat. Najwa berpamitan dengan Arkan. Sebenarnya Arkan tidak rela, kakaknya akan pergi keluar negeri. Hanya karena cinta yang salah, dia kehilangan kakak yang sangat dia sayangi.
__ADS_1
"Maafkan aku, Kak. Aku akan memberitahukan bunda, abah, dan opa kalau kakak mau keluar negeri. Jangan pergi, Kak. Aku ingin kakak tetap di sini, berkumpul bersama. Aku tidak mau kakak pergi, aku akan mencegah kakak pergi," gumam Arkan.