THE BEST BROTHER

THE BEST BROTHER
S4 Chapter 40 "Kesempatan Kedua" The Best Brother


__ADS_3

Dio dan Najwa duduk di depan Arsyad dan Annisa. Najwa menangis di depan kedua orang tuanya.


"Abah maafkan Najwa, Abah. Bunda, opa, maafkan Najwa," ucap Najwa dengan terisak di depan Arsyad dan lainnya.


"Plak!" Arsyad menampar Najwa lagi berkali-kali di depan semua orang.


"Wanita macam apa kamu, Najwa! Seharusnya kamu minta maaf dengan Rania, Najwa!" Arsyad menampar lagi Najwa dengan berbicara kasar.


"Jangan sakiti Najwa, Abah! Dia sudah terlalu sakit dengan semua ini, Abah!" Dio tidak kalah kasarnya dengan Arsyad.


"Plak!" Annisa menampar Dio dengan geram dan berkali-kali.


"Yang sakit di sini bukan hanya Najwa. Lihat istrimu, lihat Rania, dia juga sakit Dio! Laki-laki macam apa kamu Dio, bunda tidak pernah mengajari kamu seperti ini, Dio!" Annisa benar-benar marah dan tidak memikirkan bahwa dia sudah menampar anak laki-lakinya berkali-kali. Tapi, Dio hanya pasrah, karena dia tahu, kalau dia bersalah.


"Iya, Dio salah. Dio yang salah. Maafkan aku, bunda. Ran, maafkan aku," ucap Dio.


Rania tidak menjawab, dia hanya menangis saja di depan semuanya.


"Ran, maafkan aku," ucap Najwa.


"Pergi, jangan pernah kembali. Abah tidak memiliki anak seperti kamu, Najwa. Pergi!" usir Arsyad saat Najwa berlutut di depannya.


"Abah, Najwa akan pergi, tapi maafkan Najwa," ucap Najwa.


"Abah tidak mau mendengar kata-katamu lagi. Pergi dari sini! Jangan menginjakkan kakimu di rumah saya lagi! Aku tidak sudi, memiliki anak seperti kamu!" Arsyad mengusir Najwa lagi.


"Iya, Najwa akan pergi, Abah. Maafkan Najwa." Najwa akan memeluk Arsyad, tapi Arsyad mendorong tubuh Najwa hingga Annisa menangkap tubuh Najwa yang sudah lemah.


"Abah, jangan seperti itu. Selesaikan semua dengan kepala dingin," ucap Annisa.


"Kamu tidak dengar Annisa, ini sudah selesai. Kamu pergi dari sini. Aku tidak ingin melihat kamu lagi, Najwa! Dan kamu Rania, ceraikan Dio!" ucap Arsyad dengan menunjukan jari telunjuknya di depan wajah Najwa.


Rania hanya menangis saja. Dia sebenarnya tidak ingin menceraikan Dio.


"Ran, maafkan aku. Aku pergi, jangan ceraikan Dio. Aku tahu, kamu mencintainya," ucap Najwa.


Rania hanya terdiam saja. Dia tidak ingin bicara dengan siapa-siapa. Hanya ada rasa kecewa dalam hatinya.


"Bunda, Najwa pamit." Najwa berpamitan dengan bundanya.


Annisa juga tahu apa yang di rasakan Najwa sekarang ini. Annisa memeluk erat Najwa. Dia menangisi Najwa dan menyesali perbutan Najwa. Annisa tak menyangka, keponakan kesayangannya yang pendiam dan anggun itu, rela memberikan sebagian tubuhnya pada anak laki-lakinya. Ada rasa kecewa pada diri Annisa, tapi di samping rasa kecewa Annisa juga sayang dan kasihan pada Najwa. Karena Najwa juga terluka dalam posisi ini.


"Jangan pergi, Nak. Nanti kita bicarakan baik-baik lagi," ucap Annisa dengan memeluk Najwa.


"Biarkan dia pergi, Annisa!" Arsyad menarik tubuh Annisa dan mendorong Najwa agar dia segera pergi.


"Opa, Najwa pamit," ucap Najwa pada Rico.


"Jangan panggil aku opa. Aku tidak punya cucu yang seperti itu," ucap Rico. Najwa hanya menangis mendengar opanya berkata seperti itu.


"Raf, titip abah, opa, dan bunda. Maafkan kakak. Kakak tidka bisa menjaga diri." Najwa menangis di depan Raffi. Raffi memeluk erat Najwa.


"Jangan pergi, Kak. Aku sayang kakak, nanti aku antar kakak jika kakak mau pergi, tunggu aku menjemput kakak." Raffi berbisik di telinga kakaknya.


"Aku sudah memaafkan kakak. Hati-hati, Kak," ucap Raffi.


Najwa pergi dari vila, dia tidak mengindahkan kata-kata Raffi. Dia tidak peduli, dia menuruti Abah dan opanya, agar pergi menjauh. Tapi, dia tidak tahu akan ke mana dia pergi.


"Tunggu! Jika Najwa pergi, aku juga pergi!" tegas Dio dengan bangun dari duduknya.


"Seenaknya saja kamu pergi, hah! Selesaikan dulu urusanmu dengan Rania! Duduk!" Arsyad dengan murka berbicara seperti itu.


Dio tidak bisa berkutik dengan Arsyad. Dia akhirnya duduk kembali. Najwa masih berhenti karena tadi Dio menghentikan langkahnya. Arsyad menatap tajam Najwa. Arsyad benar-benar murka pada putri kesayangannya itu.


"Tunggu aku menyeret kamu pergi dari sini, hah!" Murja Arsyad pada Najwa, yang kala itu sedang mendengar Dio berbicara.

__ADS_1


Dengan langkah gontai Najwa keluar dari Vila. Hanya pakaian yang ada di badannya saja yang ia bawa. Dia tak tahu akan pergi ke mana. Hanya satu yang ada di pikirannya, dia mau pergi ke mana. Yaitu, mengunjungi makam umminya kala itu.


Najwa bersimpuh, dia menangis dan memeluk pusara Almira. Dia menyesali apa yang telah ia perbuat. Dia sudah menjadi wanita yang kotor. Wanita yang sudah tidak punya harga diri. Najwa tidak mempedulikan orang yang kala itu berlalu lalang di pemakaman.


"Ummi, maafkan Najwa. Najwa sudah kotor. Maafkan Najwa. Najwa siap menerima hukuman apa pun dari Abah atau lainnya. Maafkan Najwa, Ummi. Najwa akan pergi, entah ke mana kaki ini melangkah. Najwa tidak tahu, ummi. Najwa tidak membawa apa-apa, hanya pakaian yang melekat di tubuh Najwa yang saat ini Najwa pakai. Najwa pamit, ummi." Najwa mencium pusara Almira.


Najwa keluar dari area pemakaman. Dia tidak tau akan ke mana. Najwa berjalan menyusuri jalanan yang ramai di siang itu. Matahari begitu terik sekali menyengat di permukaan kulit Najwa yang tertutup bajunya.


"Alhamdulillah, setidaknya uang yang ada di kantong bajuku ini cukup buat makan selama aku di luar dan tidak tahu mau ke mana." Najwa menemukan uang di kantong bajunya.


Najwa menyebrangi jalan, dia menuju ke sebuah supermarket yang terletak di seberang jalan. Najwa membeli minuman dan roti, lalu dia duduk di kursi yang berada di dalam supermarket itu.


"Najwa," panggil seorang perempuan yang kala itu baru saja turun dari mobil. Perempuan itu menghampiri Najwa yang sedang duduk.


"Nuri?"


"Iya aku Nuri, aku kangen kamu, Najwa. Beruntung aku bertemu kamu sebelum aku kembali keluar negeri." Nuri memeluk Najwa dan mencium pipi Najwa.


Nuri adalah teman akrab Najwa saat kuliah. Bisa dikatakan sahabat baiknya setelah Rania. Mereka sama-sama seorang desainer. Nuri juga memiliki butik di luar negeri. Memang setelah lulus kuliah, dan kecelakaan maut yang menimpa ayah dan ibunya Nuri, serta kakaknya, dia tinggal bersama om dan opanya di luar negeri.


"Najwa, kamu kenapa? Kamu menangis? Ayo cerita sama aku. Jangan kamu tutup-tutupi, sayang," ucap Nuri sambil mengajak duduk Najwa lagi.


Najwa semakin terisak. Air matanya semakin jatuh dan menangis hingga sesegukan.


"Ayo ikut aku ke rumah saja, kita cerita di rumahku. Aku tahu, jika masalahmu tidak parah, kamu tidak seperti ini. Tapi tunggu, aku akan belanja dulu, ayo ikut ke dalam," ucap Nuri.


Najwa ikut masuk ke dalam supermarket menemani Nuri berbelanja. Najwa lega sekali, setidaknya dia menemukan seseorang untuk mendengarkan ceritanga saat ini.


Nuri mengajak Najwa ke rumahnya setelah selesai belanja. Najwa belum mau cerita soal masalahnya pada Nuri. Padahal dari tadi Nuri selalu membujuknya untuk cerita.


"Ya sudah kalau kamu belum mau cerita, kita ke rumahku dulu, oke, nanti kita bicara di rumahku saja, " ucap Nuri sambil menyetir mobilnya.


Mereka sampai di rumah Nuri. Meskipun Nuri tinggal di luar negeri, Nuri selalu mengunjungi rumahnya setengah tahun sekali. Dan, Nuri baru 3 hari sampai di Indonesia. Nuri mengajak masuk ke dalam rumanya. Dia mempersilakan Najwa duduk, dan dia membuatkan teh hangat untuk Najwa dan menyuguhkan beberapa cemilan untuk Najwa dan dirinya. Nuri memang sahabat paling peka sekali dengan Najwa dari dulu. Dia membujuk Najwa lagi agar Najwa mau bercerita yang sesungguhnya.


"Najwa, kamu ada masalah apa?" tanya Nuri lagi.


"Najwa, ceritakan apa masalhmu, jangan menangis seperti ini." Nuri memeluk Najwa yang benar-benar sedang hancur hidupnya saat ini.


Najwa akhirnya menceritakan semua pada Nuri, tidak ada satupun yang di tutupi Najwa. Semua di ceritakan pada Nuri.


"Ya Allah, Najwa. Kamu tega sekali dengan Rania. Apa kamu tidak pernah menempatkan diri kamu sebagai Rania saat kamu melakukan seperti itu?" Nuri berkata dengan kecewa pada Najwa saat itu. Dia tidak menyangka Wanita seperti Najwa melakukan hal yang sangat tidak terpuji itu. Nuri juga mengenal Rania, Shifa, Dio, dan Raffim juga mengenal dekat orang tua dan opanya Najwa.


"Aku tidak tahu, Nur. Aku benar-benar bodoh dan di butakan oleh cinta," ucap Najwa.


"Najwa, lalu kamu ini pergi dari rumah, tidak membawa apa-apa?" tanya Nuri.


"Bagaimana aku akan membawa baju dan lainnya. Aku tidak boleh kembali lagi ke rumah oleh Abah, aku tidak tahu, setelah ini aku mau ke mana, Nur. Pulang ke butik pun aku tidak mungkin, itu butik milik bunda, dan aku hanya mengelola saja," ucap Najwa.


Mendengar penuturan Najwa, Nuri benar-benar merasa kasihan. Meskipun dalam hal ini Najwa memang salah, dan bahkan berdosa sekali, karena dia sudah mendzolimi Rania, sahabatnya sendiri, dan membuat kecewa orang tuanya kecewa. Akhirnya Nuri menyuruh Najwa untuk tinggal di rumahnya selama dia di Indonesia.


^^^^^


Dio masih berhadapan dengan Arsyad dan lainnya. Arsyad berkali-kali membujuk Rania untuk bilang dengan orang tuanya tapi dia bersikukuh tidak mau bilang pada orang tuanya.


"Rania tidak akan bicara tentang masalah ini pada keluarga Rania, Abah. Tolong hargai keputusan Rania ini," ucap Rania.


"Ceraikan Dio, Rania," titah Arsyad.


"Ini pernikahan Rania dan Dio. Kami akan menyelesaikannya sendiri, Abah. Sekarang Abah cari di mana Najwa. Abah jangan sampai Najwa benar-benar tidak kembali ke rumah. Abah boleh memberi pelajaran pada Najwa, tapi tidak seperti ini caranya," ucap Rania.


"Biarkan, Abah juga akan menghapus nama dia dari daftar keluarga bila perlu," ucap Arsyad dengan geram.


"Jangan memojokan Najwa dan Dio saja, Kak Arsyad. Kita sebagai orang tua juga harus introspeksi diri," ujar Annisa.


"Selesaikan masalah kita di rumah, Dio. Ayo pulang, kamu laki-laki, berhak memutuskan, dan aku akan terima apapun keputusanmu, Dio," ucap Rania.

__ADS_1


Dio dan Rania pulang ke rumahnya. Rania memang ingin meminta Dio menceraikan dirinya. Bukan karena Arsyad dan Rico yang menyuruhnya, memang semua itu Rania sudah menginginkan dari dulu, tapi Dio selalu saja menolak untuk berpisah dengan Rania.


^^^^^


Raffi menelepon Najwa, tapi dering ponsel Najwa terdengar di kamar Vila. Najwa meninggalkan tas, dompet, dan ponselnya di kamar. Raffi semakin khawatir dengan kakak perempuannya.


"Bunda, Abah. Ponsel, tas, dan dompet kak Najwa masih di sini. Jadi Kak Najwa tidak membawa apa-apa, uang sepesrpun dia tidak membawa,"ucap Raffi.


"Mau dia mati pun Abah tidak peduli, Raffi!" tukas Arsyad.


"Kak Arsyad! Jaga mulut kakak! Jangan bicara seperti itu, Najwa putrimu, kak." Annisa berkata dengan berderai air mata.


"Iya dia putriku, tapi dia tidak pantas menjadi putriku, Annisa. Aku mengajarinya dengan benar, tapi apa yang aku dapat, dia seperti ini, membuat aku malu, Annisa. Lebih baik dia tidak ada di dunia ini. Pergi dan jangan kembali," ucap Arsyad.


"Papah juga kecewa dengan Najwa. Tapi, hati papah sakit mendengar kamu bicara seperti itu. Jangan berkata seperti itu. Kalau benar terjadi, kamu akan menyesali seumur hidupmu, Syad. Cukup papah yang kehilangan Arsyil. Kamu tahu, papah hingga sekarang menyesal, papah tidak begitu dekat dengan Arsyil, papah selalu memarahi dia, membanding-bandingkan dia dengan kamu. Dia suka hura-hura dengan temannya dan lainnya. Papah menyesali itu. Kamu jangan berkata seperti itu, Nak. Papah kecewa sekali dengan Najwa, sangat kecewa, tapi papah sangat menyangi Najwa, Syad. Tolong cabut kata-katamu, kamu orang tua Najwa, ucapan orang tua adalah Do'a untuk anaknya." Rico menangis karena mendengar ucapan Arsyad yang seperti itu.


Rico memang sangat kecewa dengan kelakuan Dio dan Najwa. Tapi, di balik kecewanya dia masih sangat menyayangi Najwa dan Dio.


"Semua kecewa dengan Dio dan Najwa, Kak. Terlebih Annisa, Kak. Anak laki-laki Annisa membuat tiga orang wanita menderita sekaligus. Rania, Najwa dan aku. Aku sangat kecewa, tapi aku tahu, masalah ini akan ada jalannya. Cabut kata-katamu tadi untuk Najwa, Kak," tutur Annisa.


"Raf, cari Najwa. Jika kamu bertemu dan dia tetap ingin pergi dari rumah, tolong bawa baju dan lainnya untuk bertahan hidup di luar sana. Dia tidak membawa apa-apa. Kamu tau kakakmu memiliki riwayat sakit lambung yang kronis, cari dia Raf. Cari kakakmu sekarang," ucap Annisa.


"Jangan cari, Najwa. Biar dia pergi selamanya!" tukas Arsyad.


"Maaf, Abah. Raffi tetap akan mencari Kak Najwa. Benar kata bunda, setidaknya kalau Kak Najwa ingin pergi dari rumah, biar dia membawa baju dan lainnya untuk bertahan hidup di luar sana. Sekarang hanya pakaian yang melekat di tubuh Kak Najwa. Dia tidak membawa apa-apa, Abah," ucap Raffi.


"Terserah kamu!" ucap Arsyad dengan geram dan menyahut kunci mobilnya dengan kasar yang ada di meja dan keluar dari vila.


"Kamu jangan menyetir, kemarikan kuncinya." Annisa merebut kunci mobil yang di pegang Arsyad.


Annisa yang menyetir mobil Arsyad untuk pulang ke rumahnya. Sementara Raffi dan Rico mencari Najwa. Dia menyusuri desa dan kota mencari Najwa. Namun, tak ada jejak Najwa. Semua masjid dan musholah sudah mereka datangi hanya untuk mencari Najwa. Panti asuhan, tempat-tempat anak jalanan, rumah singgah, butik, rumah Almira, taman baca, makam Almira dan lainnya sudah mereka telusuri satu persatu. Hingga pukul 11 malam, Raffi dan Rico mencar Najwa. Namun, tak menemukannya.


"Ya Allah, di mana Najwa, Raf. Opa menyesal memarahinya tadi. Di mana dia, dia tidak membawa apa-apa, Raf. Opa tidak bisa memaafkan diri opa, jika Najwa sampai kenapa-napa, Raf." Rico menangis dipelukan Raffi.


^^^


Rania dan Dio sedang membicarakan masalahnya di dalam kamar. Dio membujuk Rania yang meminta cerai dari Dio, agar dia menghentikan niatnya untuk bercerai. Entah kenapa Dio tidak mau melepaskan Rania. Dio merasa nyaman saat berada di samping Rania. Seperti tidak ada beban dalam hidupnya saat dia sedang bertukar pikir dengan Rania.


"Please, jangan seperti ini. Maafkan aku, aku janji akan menjadi suami yang baik untukmu. Aku akan melupakan Najwa. Ran, kita bicara lagi baik-baik. Aku tidak mau cerai, Ran." Dio memohon dan berlutut pada Rania.


"Maaf Dio, aku sudah lelah dengan semua ini. Tolong jangan membuat aku bertambah mencintaimu, jangan buat aku nyaman dekat denganmu, jangan buat aku jatuh cinta berkali-kali lagi padamu. Hentikan ini, percuma aku bertahan tapi kamu tidak cinta kepadaku, Dio," ucap Rania dengan terisak.


"Ran, aku akan belajar mencintaimu lagi. Aku akan lupakan semua kejadian dulu saat kamu bersama Yohan," ucap Dio.


"Kamu masih mengungkit Yohan? Berkali-kali aku bilang, aku tidak ada hubungan apa-apa dengan dia, Dio. Waktu itu dia yang memaksaku. Aku tidak pernah mencintai laki-laki selain kamu Dio, dari dulu hingga sekarang. Dari aku SMP hingga sekarang, kamu yang aku cintai. Tapi maaf, semuanya terlambat, cinta ini sudah menjadi duka di dalam hidupku saat ini dan detik ini. Entah aku bisa mencintai seorang pria lagi atau tidak. Maaf Dio, aku tetap ingin bercerai dengan kamu. Aku tak akan menuntut apapun dari kamu, rumah ini tetap menjadi milikmu. Aku hanya minta kabulkan permintaanku, untuk bercerai denganmu," ucap Rania.


"Tidak, aku tidak akan mau bercerai dengan kamu, Rania. Aku mohon, beri aku kesempatan lagi." Dio memohon dan bersimpuh di kaki Rania.


Rania pergi meninggalkan kamar Dio. Dia melewati Dio yang sedang belutut di depannya.


"Ran, aku mohon, beri aku kesempatan kedua. Kita bicarakan lagi baik-baik, Ran." Dio menangis melihat Rania pergi dari kamarnya.


"Maaf, 15 bulan aku sudah memberimu kesempatan, tapi kamu sia-siakan, Dio," ucap Najwa di balik pintu kamar Dio.


Rania masuk ke dalam kamarnya, dia menangis di dalam kamarnya. Rania sudah lelah dengan semua ini. Hingga akhirnya, dia memilih untuk berpisah dengan Dio.


Dio masuk ka kamar Rania, dia membujuk Rania lagi, tapi Rania hanya diam saja. Rania mendengar ponselnya berdering karena ada seseorang yang meneleponnya. Dia mengangkat teleponnya itu.


"Kenapa Ayah, ibu. Ada apa dengan Ayah?" Tangis Rania seketika pecah mendengar kabar dari ibunya soal ayahnya.


Rania duduk terpaku menggenggam ponselnya. Air matanya tak henti menetes, bahkan semakin deras.


"Ran, ada apa dengan Ayah?" tanya Dio.


"Antarkan aku ke rumah sakit, Dio," punya Rania dengan sesegukan.

__ADS_1


Dengan segera Dio mengambil kunci mobilnya dan mengantar Rania ke rumha sakit. Rania tak henti-hentinya menangis di dalam mobil.


__ADS_2