
"Itulah cinta, saling memberi, saling mengerti, saling melengakapi dan saling menguatkan."
♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️
Keadaan Vino masih kritis, suara alat bantu pasien terdengar nyaring di telinga Shita. Shita duduk mematung di samping Vino yang terbaring lemah. Sesekali dia mengusap pipi suaminya. Tangan Shita tak lepas menggenggam tangan Vino.
"Kak, bangun, Shita sayang kakak, Shita mau kita sama-sama lagi. Kakak harus sembuh."ucap Shita dalam Isak tangisnya.
Arsyad masih berada di samping Shita, dia mengusap kepala adiknya. Dia mencoba menenangkan adiknya yang masih saja menangis.
"Vino laki-laki yang kuat, dia pasti sembuh. Kamu jangan seperti ini, sayang." Arsyad membawa adiknya dalam pelukan.
"Kak, kalau aku tak mengusir Kak Vino, tak marah seperti itu dengan Kak Vino, pasti tidak seperti ini, kak. Ini salah Shita."ucapnya.
"Jangan menyalahkan dirimu, Shita. Ini semau sudah kehendakNya. Kamu yang sabar. Kamu harus kuat, ada anak kamu di dalam kandunganmu."Arsyad mencoba meredakan tangis adiknya.
"Kamu sudah makan?"tanya Arsyad. Shita hanya menggelengkan kepalanya saja.
"Ayo makan, kamu harus makan."ajak Arsyad.
"Aku tidak lapar, kak."ucapnya.
"Makan dulu, kalau kamu belum lapar, makanlah untuk anak yang ada di perutmu. Ayo kakak temani kamu makan di cafetaria."ajak Arsyad.
"Gak mau, kak."
"Ta, kalau kamu gak makan, kasihan anakmu, ayo makanlah. Ya sudah kakak bawakan ke sini." Arsyad pergi meninggalkan Shita di ruangan Vino.
Shita dari tadi hanya menangis melihat keadaan suaminya, dia semakin merasa bersalah sekali pada suaminya.
"Kak, bangun, aku merindukan kakak."ucap Shita di samping telinga Vino.
"Kak Shita, makan ya, Arsyil suapi kakak, ini Arsyil membawakan makanan untuk kakak. Ayo keluar dulu, kakak harus makan." Arsyil merayu Shita untuk makan.
"Bagaimana kakak bisa makan, Kak Vino seperti ini, Syil. Kak Vino seperti ini karena kakak."ucap Shita dengan Isak tangisnya.
"Ini sudah kehendakNya, kak. Kamu jangan menyiksa dirimu sendiri, kak. Please makan ya." Arsyil memohon agar Shita mau makan. Sudah hampir Maghrib perut Shita belum terisi makanan.
"Nak, makan dulu. Ayo makan sama ibu." Andini yang baru saja datang langsung membujuk Shita untuk makan.
"Ibu, Kak Vino seperti ini karena Shita, Bu." Shita semakain menangis. Arsyil keluar dari ruangan Vino. Dia menyerah membujuk kakaknya untuk makan.
"Ibu tau, nak. Tapi kamu harus makan. Jangan siksa dirimu, kasihan anak kamu, Shita. Ayo keluar kamu harus makan. Vino tidak mau melihat kamu seperti ini, Shita." Andini menarik paksa Shita untuk makan.
Shita duduk di samping papahnya, dia menyandarkan dirinya di dada papahnya.
"Kamu mau menyakiti cucu papah, hah?"tukas Rico.
"Ayo makan dulu."perintah Rico.
"Pah, Shita gak lapar."ucapnya.
"Sudah mau Maghrib, Shita. Kamu dari siang tidak makan. Makanlah dulu, apa kamu tidak sayang dengan anakmu? Nanti sehabis ini kita sholat Maghrib bersama."ucap Rico.
"Putri papah yang cantik, tuan putri papah, papah tau nak, sakit hati ini melihat orang yang kita cintai terbaring lemah di ruang ICU, tapi tidak menyiksa diri kita juga. Papah suapi kamu ya, kalau kamu tidak mau makan, anggaplah ini cucu papah yang makan. Ayo buka mulutmu." Rico menyendokkan nasi lalu menyuapi Shita. Shita membuka mulutnya, dia mengunyah makanannya dengan berderai air mata.
Andini terus mengusap kepala Shita, dia melihat anak perempuannya menjadi lemah sekali. Rico dengan telaten menyuapi Shita hingga habis.
"Minum dulu, Shita." Rico memberikan air mineral untuk Shita.
"Pah, Kak Vino pasti sembuh kan?"tanya Shita.
"Iya, pasti dia sembuh, papah tau Vino orang yang kuat."ucap Rico.
"Pah, kalau Shita tak mengusir Kak Vino dari rumah, mungkin tidak seperti ini."ucap Shita.
"Jangan berkata seperti itu, semua sudah kehendak-Nya. Ayo kita sholat berjamaah dulu di Masjid. Biar papah panggil perawat untuk menemani Vino." Rico mengajak semuanya untuk sholat berjamaah di masjid yang berada di rumah sakit.
Shita berjalan didampingi orang tuanya, Arsyad dan Arsyil merasakan apa yang saudara perempuannya rasakan, mereka berjalan di belakang Shita dan orang tuanya. Sementara, Rayhan sudah pulang dari selesai mendonorkan darah untuk Vino.
"Kak, aku tak menyangka, Kak Vino akan seperti ini, padahal mereka baru saja akan bersatu dan sudah saling memaafkan."ucap Arsyil pada kakaknya.
"Iya, kakak juga tidak menyangka akan seperti ini kejadiannya. Padahal Vino baru saja keluar dari rumah sakit kemarin."jelas Arsyad.
"Kak Vino sakit?"tanya Arsyil.
"Iya, waktu Annisa melahirkan, dia masuk rumah sakit, sempat drop, tidak mau makan dan hanya menangis saja, dia sangat menyesali apa yang sudah dia perbuat. Sebenarnya saat itu kakak marah sekali dengannya, tapi mau bagaimana lagi, dia sangat menyesalinya. Kakak tau mereka masih saling mencintai."ucap Arsyad.
"Ya sakit sih kak, aku tidak membela Kak Shita, memang sakit kak di khianati, Arsyil juga pernah merasakan itu."ucapnya.
"Kapan? Waktu bersama Annisa dulu? Waktu aku menyukainya? Lucu ya Syil dulu, kalau ingat itu kakak malu sendiri."ucap Arsyad sambil merangkul adik laki-lakinya.
"Bukan lah, bukan dengan Annisa."tukas Arsyil.
"Lalu siapa?"tanya Arsyad.
__ADS_1
"Lupa kak siapa dulu yang pernah mengkhianati ku. Iya ya kak, wanita yang kamu idamkan dulu, ternyata Annisa, dan aku, selalu curhat wanita itu pada kamu, dan itu Annisa. Ya sudah kak, yang lalu biarlah berlalu, jangan malu seperti itu, kan biasa malu-maluin."canda Arsyil.
"Kamu dulu sering gonta-ganti pacar ya lupa, dih…emang kakakmu ini tampang malu-maluin?"ucap Arsyad.
"Iya kan dulu, sebelum kenal Nisa kak. Bercanda kak, jangan di bawa serius, kakakku kan paling hebat."ucapnya.
"Lalu sekarang kamu tidak gonta-ganti perempuan lagi kan?"tanya Arsyad.
"Ya tidak lah, kak."tukas Arsyil.
"Awas saja kamu, sampai menyakiti Annisa, nanti Annisa kakak ambil gimana?"canda Arsyad.
"Lalu Kak Mira? Kamu mau menyakiti wanita sebaik kak Mira? Atau, Kakak selama ini tidak mencintai Kak Mira?"tanya Arsyil
"Jangan serius gitu dong mukanya, masa iya kakak mau meninggalkan Mira, tidak lah. Dia hidupku, nafas kakak, dan tidak ada yang lain, dia benar-benar sosok wanita yang sempurna."ucap Arsyad.
"Udah jangan di bayangin."ucap Arsyil.
"Bukan bayangin Mira, aku kangen saja belum ketemu dia."
"Sama saja kak. Ayo ambil air wudhu."ajak Arsyil.
Mereka mengambil air wudhu bersama, Rico terlihat sudah selesai mengambil air wudhu.
"Kalian jalan lama sekali, sudah cepat ambil air wudhu."ujar Rico.
"Iya pah, ini juga mau wudhu."ucap Arsyil.
Mereka sudah kembali ke ruangan Vino lagi, Shita sudah mulai tenang, dia menatap wajah suaminya lagi dan mencium keningnya. Rico masuk ke dalam ruangan Vino, dia memeluk putrinya dari samping. Dan mencium kepalanya.
"Pah, Shita mau menunggui Kak Vino hingga sembuh, boleh kan?"tanya Shita
"Boleh, asalkan kamu harus jaga kesehatan kamu, jangan telat makan, dan jangan larut dalam kesedihan. Kasihan cucu papah."ucap Rico.
"Iya pah." Shita menyandarkan kepalanya di bahu papahnya.
"Papah akan temani kamu di sini, biar ibu pulang dan menginap di rumah Arsyad atau Arsyil."ucapnya.
Shita dan Rico keluar dari ruangan Vino, Shita menyuruh kakak dan adiknya pulang, karena kasihan Mira dan Nisa sendirian mengurus bayinya. Apalagi Annisa memiliki bayi kembar.
"Kak, Syil, pulanglah, aku di sini sama papah, kasian Kak Mira kak, dan kamu juga Syil, kasihan Annisa, dia sendirian dengan si kembar."ujar Shita
Ibu, ibu mau nginep di rumah Kak Arsyad atau Arsyil?"tanya Shita pada ibunya.
"Ibu di sini saja menemani kamu malam ini."ucapnya.
"Ibu hanya mau memastikan kamu baik-baik saja dengan cucu ibu. Biarkan ibu di sini dengan papah menemuimu."pinta Andini .
"Yakin ibu tidak apa-apa?"tanya Rico.
"Tidak, pah, ibu di sini saja dengan papah dan Shita."ucapnya.
"Syad, Syil, pulanglah, kasihan istri kalian."ucap Andini
"Iya Bu."jawab mereka bersama.
Arsyil pamit dengan ibu dan papahnya juga Shita, mereka memeluk Shita dan membuatkan hati saudara perempuannya.
Arsyil sudah sampai di rumahnya, dia segera mandi dan berganti pakaian sebelum mendekati bayi kembarnya. Annisa benar-benar wanita yang sangat luar biasa, baru saja mempunya bayi tapi sudah bisa mengurusnya dengan baik tanpa di dampingi siapapun di rumah, bahkan makan malam pun sudah tertata rapi di meja makan. Arsyil sudah selesai mandi, dia mandi di kamar mandi belakang karena di kamar ada Dio dan Shifa, dia tidak mau kuman-kuman dari rumah sakit menyebar di kamarnya. Dia hanya meminta tolong istrinya untuk mengambilkan pakaian dan handuknya.
"Kamu masak, nda?"tanya Arsyil pada Annisa.
"Iya, ayah belum makan kan?"jawab Nisa dan bertanya pada suaminya.
"Belum, bunda sudah makan?"
"Sudah tadi, tapi lapar lagi."ucapnya.
"Ayo makan." Arsyil menarik kursinya, dan Nisa mengambilkan nasi untuk Arsyil.
"Bagaimana Kak Vini, yah?"tanya Nisa.
"Keadaannya masih kritis, belum sadarkan diri juga."jawabnya
"Lalu Kak Shita?"tanya Nisa lagi.
"Dia masih sangat terpukul atas kejadian itu, ya dia menyesalinya, Alhamdulillah Kak Shita sekarang sudah stabil lagi emosinya."ucapnya.
"Kasihan Kak Shita, kalau ini menimpaku mungkin aku tidak bisa setegar Kak Shita."ucapnya.
"Kata siapa, bunda itu wanita yang sangat tegar, bunda di beri kebahagiaan, lalu setelah itu kesedihan menimpa bunda, dan bunda tidak berlarut dalam kesedihan itu. Kamu wanita hebat yang aku miliki. Tetap jadi bunda yang tegar untuk Dio dan Shifa, juga jadi istri terbaik untukku."ucap Arsyil sambil mengecup kening Nisa.
"Makan dulu, jangan nyium terus."
"Dih…baru sekali nyium, nda, sudah di larang."ucap Arsyil.
__ADS_1
"Bukan melarang Ayah sayang, tapi kan ayah sedang makan."ucap Nisa.
Sejak Dio dan Shifa lahir, Arsyil memanggil Annisa dengan sebutan bunda, mungkin dia terbiasa jika sedang bersama Dio dan Shifa memanggil Annisa bunda. Begitu juga Annisa, dia juga memanggil Arsyil dengan sebutan Ayah. Meski dalam Islam katanya tidak boleh memanggil istri atau suami dengan panggilan ayah, bunda atau dan lainnya, tapi mau bagaimana lagi, mereka sudah terbiasa seperti itu, tapi saat bercanda mereka masih sering menyebut namanya saja.
Arsyad sudah selesai makan malam, seperti biasanya dia menikmati kopi di ruang tengah sambil membaca buku atau mengecek pekerjaan di kantor. Almira sudah selesai menidurkan peri kecilnya. Iya, Najwa, Almira selalu menyebut Najwa peri kecil yang menggemaskan. Di usianya yang hampir memasuki bulan ke-5, Najwa semakin menggemaskan saja. Pipinya yang chubby dan matanya yang bulat membuat semua yang melihatnya menjadi gemas.
Almira duduk di samping Arsyad dan menyandarkan kepalanya di bahu Arsyad.
"Peri kecil Abah sudah tidur?"tanya Arsyad.
"Sudah, dia tambah menggemaskan sekali, mas."ucapnya.
"Iya, dia begitu menggemaskan, sama seperti kamu."ucap Arsyad.
"Mas, bisa saja. Bagaimana Vino?"tanya Almira.
"Masih kritis dan belum sadar."jawabnya.
"Kasihan Shita, sedang hamil ada saja cobaannya."ucap Mira.
"Ya begitulah Allah, tapi Allah memberi cobaan kepada hambanya tidak akan melebihi batas kemampuannya. Aku percaya Vino pasti sembuh. Dan mereka akan bersama kembali."ucap Arsyad
"Semoga saja. Mas, aku tidak bisa membayangkan kalau itu terjadi pada diriku."ucap Mira.
"Jangan seperti itu, kamu itu wanita tangguh yang pernah aku miliki, aku tidak ingin membuka masa lalumu yang kelam itu, tapi kamu bisa melewatinya walau rasa takut selalu menyelimuti kamu waktu itu."ucap Arsyad.
"Dan rasa takut itu, hilang karena aku menemukanmu dan kamu berada di sampingku."sambung Mira.
"Itulah cinta, saling memberi, saling mengerti dan saling menguatkan."ucap Arsyad.
"Ayo tidur, mau buat adek untuk Najwa tidak?"tanya Aesayd sambil menggoda istrinya.
"Hmmm…. mulai."ucap Mira sambil mencubit lembut pipi Arsyad.
"Mau tidak?"tanya Arsyad lagi.
"Mau, tapi aku sedang datang bulan."ucap Mira. Arsyad reflek memeluk keningnya, karena disaat menginginkannya Almira sedang datang bulan
"Kenapa? Pengen ya?"goda Mira.
"Jangan menggodaku, sayang. Kamu sedang datang bulan."ucapnya.
"Kan ada amalan yang harus di lakukan dengan suami di ranjang saat datang bulan."ucap Mira
"Mau melakukannya?"tanya Arsyad. Mira hanya menganggukkan kepalanya saja. Arsyad menggendong tubuh Mira ke kamarnya.
Shita memandangi suaminya yang masih belum tersadar juga, dia memegang tangannya dan menciumnya.
"Kak, bangun Kak, Shita menunggu kakak di sini. Anak kita juga menunggu kakak di sini."ucap Shita
Shita mengambil air wudhu lalu memakai mukenahnya, dia sholat Isya dan setelah itu dia membaca Al-Qur'an di samping suaminya. Selesai membaca Shita mencium kening Vino dan dia mendengar Vino memanggilnya.
"Shita, tunggu kakak, pasti Kak Vino datang."ucap Vino dengan suara terbata-bata.
"Kak, Kak Vino, ini Shita, ini Shita. Sebentar ya sayang, Shita panggil dokter dulu." begitu bahagianya Shita mendengar Vino menyebut namanya.
Shita keluar memanggil dokter, dan di depan Andini dan Rico masih duduk di kursi tunggu.
"Pah, panggilkan dokter, Kak Vino tadi memanggil namaku."ucap Shita
"Sebentar papah panggilkan, kamu di dalam saja menunggu Vino." Rico langsung memanggilkan dokter yang menangani Vino.
Dokter dan perawat masuk ke ruangan Vino, mereka memeriksa keadaan Vino.
"Alhamdulillah, Pak Vino sudah melewati masa Kritisnya, sekarang tinggal menunggu beliau sadar saja, tetap semat Ibu Shita, pasti Pak Vino sembuh. Jangan putus berdo'a untuk suami ibu, karena hanya pada Allah kita meminta."ucap Dokter.
"Alhamdulillah, terima kasih, dok."ucap Shita.
Shita memeluk ibu dan papahnya, dia merasa lega karena Vino sudah melewati masa Kritisnya dan tinggal menunggu dia sadar.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
♥️happy reading♥️