
Annisa masih berada di kamarnya. Di menangis hingga sesegukan dan tertidur. Ya, seperti itu setiap hari. Dia bisa tidur karena lelah menangis. Mata Annisa semakin hari terlihat semakin sendu. Meskipun dia mencoba tegar di hadapan semua orang, mencoba tersenyum dan seakan tidak ada apa-apa, tapi tetap saja, sorot matanya tidak bisa membohongi kalau dirinya sedang menyimpan kesedihan yang amat dalam.
Annisa terbangun dari tidurnya, dia mengikat rambutnya dan masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Lagi-lagi Annisa hanya mengingat Arsyad, di mana pun dia berada, selalu Arsyad yang terlihat jelas di bayangannya.
"Kak, setiap aku mengembuskan napasku, saat itu juga namamu selalu ku ingat. Sakit sekali, terkurung di dalam penjara hati ini, kak. Ragamu masih ada, namun aku tak bisa merengkuh ragamu. Aku hanya bisa merengkuh bayanganmu saja, kak. Semoga Allah memberikan jalan terbaik untuk kita. Apapun yang akan terjadi ke depannya, aku masih setia menunggumu, Kak Arsyad. Walau nanti papah dan Kak Shita membenciku, saat kakak kembali menjemputku dan kita hidup bersama lagi, aku tak peduli itu, kak, karena hidup ku bahagia saat dengan kakak." Annisa bergumam sambil menikmati air dari shower yang mengguyur lembut badannya, di iringi derai air mata yang jatuh bersama air.
Annisa memakai bathrobenya. Dia mengambil baju di dalam lemari pakaiannya dan memakai baju yang sedikit longgar. Ya perut Annisa sudah mambuncit sekarang, dia juga sudah sering mengontrol kandungannya ke dokter. Sebenarnya hal itu adalah hal yang paling menyakitkan. Karena, saat dia check-up kandungannya, dia melihat ibu hamil lainnya di antar oleh suaminya. Seketika Annisa merasakan sesak di dadanya. Dia hanya bisa menahan tangisannya saat itu.
Dua bulan lagi dia ada jadwal check-up di dokter kandungan. Selama ini Annisa check-up kandungannya di rumah sakit, karena lebih dekat di banding harus langsung ke klinik Dokter Iren. Setiap kali check-up, dia di antar Rere dan Kevin, atau di antar Alvin. Merekalah yang setia dengan Annisa, yang selalu menemani Annisa ke mana pun Annisa akan pergi.
"Nak, kamu harus kuat, walau Abah tidak bersama kamu. Seperti bunda yang selalu kuat, hanya demi kamu, agar kamu sehat di perut bunda. Bunda percaya, pasti Abah akan menjemput kita." Annisa berkata lirih sambil mengusap perutnya di depan cermin yang belum tertutup oleh bajunya.
Kandungan Annisa sudah memasuki bulan ke-6, tapi perut Annisa sudah terlihat besar sekali. Annisa menebak, Annisa akan dapat baby twins lagi, karena perut Annisa sangat besar seperti mengandung Dio dan Shifa dulu. Annisa memang belum melakukan USG lagi, dia hanya memeriksakan kesehatannya saja dan meminta Vitamin untuk kandungannya. Mungkin check-up yang akan datang Annisa akan melakukan USG karena biar tahu, janin tunggal atau kembar yang ada di dalam perut Annisa.
Annisa ke luar dari kamarnya, dia bergabung dengan Rere dan Vera yang sedang asik mengobrol dan bermain dengan Fajar, anak Vera yang lucu sekali. Annisa terlihta lebih fresh karena habis mandi, apalagi di padu dengan daster lengan panjang bermotif bunga yang membuat wajah Annisa sedikit lebih fresh, walaupun matanya sembab sekali. Semua tahu kalau Annisa pasti habis menangis.
"Fresh sekali kamu, Nis?" Vera memandangi wajah Annisa yang benar-benar terlihat tidak seperti biasanya. Memang Annisa biasanya selalu sendu dan kusam sekali wajahnya.
"Memang aku seperti ini, kan? Seperti tidak pernah melihat aku saja kamu, Ver," ucap Annisa sambil mengambil anak Vera dari pangkuannya.
"Gak Nis, kamu memang hari ini terlihat fresh," ucap Rere.
"Kan baru saja mandi, coba bandingkan dengan kalian yang belum pada mandi." Annisa berkata dengan sedikit bercanda dan mencium anak Vera.
"Kevin sudah pulang?" tanya Annisa.
"Belum, tadi Al yang ke sini, tuh ngasih berkas yang harus kamu tanda tangani," jawab Rere
"Lalu dia ke mana?" tanya Annisa.
"Pergi lagi, katanya ada urusan dengan papahnya, nanti ke sini lagi ambil itu, makanya buruan di tanda tangani sebelum kamu kembali ke rumah mamah kamu,"
"Fajar sama mamah dulu, ya? Tante mau kerja dulu, oke." Annisa memberikan Fajar pada Vera lagi dan mencium pipi Fajar yang chubby.
Annisa berjalan ke arah meja dan dudu di kursi, dia membuka dan membaca berkas yang Alvin bawa tadi lalu setelahembaca ia menandatanganinya. Terdengar suara langkah kaki dari luar. Kevin datang dengan berjalan gugup menghampiri Annisa yang baru saja selesai menandatangani berkas laporan dari Alvin.
"Ada apa, Kevin? Sepertinya kamu gugup sekali?" tanya Annisa.
"Ada kabar baik, Bu," jawab Kevin.
"Apa ini tentang Kak Arsyad?" tanya Annisa.
"Iya, Pak Arsyad sudah bangun dari komanya,"
"Lalu,? Dia bagaimana? Dia ingat aku? Atau bagaimana?" Annisa bertanya gugup pada Kevin dengan air mata yang berderai membasahi pipinya.
"Tenang Bu, Pak Arsyad baik- baik saja, tapi…….,"
"Tapi apa Kevin…..jelaskan! Dia hilang ingatan? Atau bagaimana, Kevin!" Annisa berbicara dengan begitu cemas dan panik.
"Pak Arsyad belum bisa berjalan, karena saraf kakinya belum sempurna, dan harus menjalani beberapa terapi lagi, Bu. Ibu tenang saja, Pak Arsyad akan baik-baik saja, dan ini ada surat dari Pak Arsyad," jelas Kevin.
Annisa menerima surat dari suaminya. Dia akan membacanya nanti kalau sudah di rumah orang tuanya.
"Lalu papah dan lainnya?"tanya Annisa.
"Pak Arsyad begitu marah dengan Pak Rico dan Bu Shita. Pak Rico bertanya tentang Bu Annisa, apa benar ibu hamil, saya akhirnya menceritakan semua, kalau ibu hamil dan usia kandungannya sudah memasuki bulan ke-6," jawab Kevin.
"Apa kamu memberitahu aku di rumah papah selama ini?"tanya Annisa
__ADS_1
"Tidak, Bu. Saya tidak memberitahu. Saya juga tidak memberitahu Pak Arsyad kalau ibu ada di rumah orang tua Bu Annisa. Tapi, suatu saat Pak Arsyad sudah benar-benar sembuh, aku berjanji pada Pak Arsyad akan mengantar menemui ibu,"ucap Kevin.
"Aku kira kamu memberitahukan pada mereka keberadaan ku saat ini. Biar mereka merasakan, bagaimana rasanya menghadapi anaknya yang terpisah dari istrinya. Aku yakin Kak Arsyad akan kembali bersamaku,"
"Itu pasti, Bu. Pak Arsyad akan kembali lagi pada Ibu. Coba lihat ini foto suami ibu." Kevin memperlihatkan Foto-foto Arsyad yang tadi diambil oleh nya.
Annisa meneteskan air matanya, melihta foto-foto suaminya yang sedang berada di kursi roda.
"Ya Allah, kakak…..aku sangat merindukan kakak," ucap Annisa lirih. Annisa menyeka air matanya dan memberika ponsel milik Kevin, juga meminta Kevin mengirim foto itu pada Annisa.
Annisa bersiap untuk kembali ke rumah orang tuanya lagi. Ada rasa bahagia pada diri Annisa, melihat suaminya sudah bangun dari komanya. Dan, ada rasa sedih, karena Arsyad belum bisa berjalan lagi, dan mungkin akan membutuhkan waktu lama untuk mereka bertemu kembali.
"Aku ingin Kakak sembuh dan bisa mendampingiku saat aku melahirkan nanti, kak," gumam Annisa sambil mengusap perutnya.
Sesampainya di rumah orang tuanya, Annisa masuk ke dalam dan segera ke kamarnya. Hanya ada Zidane di rumah, karena Alvin masih pergi dengan papahnya.
"Nis, tadi Alvin mencarimu," ucap Zi.
"Iya, tadi mau minta tanda tangan, sudah kok. Aku ke kamar ya, Zi." Annisa langsung masuk ke dalam kamarnya, karena sudah ingin membaca surat dari Arsyad.
Annisa mengambil surat dari Arsyad dari dalam tasnya, dan meletakan tasnya di atas meja yang ada di sebelah tempat tidurnya. Dengan tangan yang bergetar, detak jantung yang semakin berdebar, juga air mata yang tak henti berlinang, Annisa membuka surat dari suaminya.
"Hmmpph…Bismillahirrahmanirrahim," ucap Annisa sebelum membuka surat dari suaminya dengan memarik napas panjang.
Annisa perlahan membuka amplop putih itu, dia mengambil kertas yang ada di dalam amplop itu, lalu membukanya perlahan.
"Assalamualaikum, istriku sayang.
Semoga Allah selalu memberi kesehatan untuk kamu dan bayi kita yang ada di perutmu.
Maafkan suamimu yang lemah ini, maafkan aku yang sudah tertidur lama dan membuatmu menderita. Aku tidak tahu, papah dan Shita Setega itu dengan kamu, sayang.
Namun, aku sadar, kamu di situ menunggu aku. Aku percaya itu, dan kamu juga harus percaya. Suatu hari nanti aku akan menjemputmu kembali. Aku tidak peduli, jika semua melarangku untuk hidup bersama mu. Aku akan menentang apa saja yang menghalangiku untuk hidup bersamamu, walaupun itu papah ku sendiri. Kamu istriku, kamu yang harus aku perjuangkan, sesulit dan sesakit apapun perjalanannya nanti, akan aku tempuh untuk bisa kembali hidup bersamamu.
Maafkan aku sayang, mungki Dio dan Shifa kecewa dengan papah dan semuanya. Aku yakin itu, tapi aku tau, mereka anak yang baik. Pasti sedikit demi sedikit akan tau bagaimana nantinya.
Sayang, mungkin saat ini kita hanya bisa memberi kabar melalu surat. Ya, aku belum memiliki ponsel lagi. Entah di mana ponselku, tapi aku nanti akan menyuruh Kevin membelikan ponsel baru untukku.
Aku sangat merindukanmu, sayang. Aku ingin melihatmu tersenyum, memeluk tubuhmu dan bahagia berada di sampingmu. Aku harap kamu bisa bersabar dengan keadaan ini. Aku akan melakukan terapi besok pagi, aku yakin aku bisa memulihkan kondisiku dengan cepat.
Annisa, tetaplah tersenyum, meski keadaan ini sungguh pahit sekali. Aku yakin, kamu adalah wanita hebat dan wanita yang kuat. Bersabarlah menunggu aku untuk menjemputmu.
Sekian dari suamimu. Aku mencintaimu, Annisa.
Wassalamu'alaikum.
Suamimu - Arsyad.
Annisa menarik napasnya dengan berat dan mengembuskanya perlahan. Seketika rindunya terobati dengan selembar tulisan rindu dari suamianya. Walaupun hanya sebatas surat, Annisa lega sekali, suaminya masih mengingatnya dan masih sangat mencintainya. Annisa menyeka air mata bahagianya itu. Dia mencoba mengurai senyuman pada wajahnya. Entah sampai kapan Annisa dan Arsyad akan terus berkomunikasi hanya lewat sebuah surat.
"Aku akan menunggu kakak, aku sangat merindukan kakak. Aku percaya, kakak akan segera datang ke sini untuk menjemputku," gumam Annisa.
Annisa menaruh surat Arsyad ke dalam sebuah kotak. Dai juga mengambil kertas untuk membalas surat dari suaminya. Ya, dia akan menitipkannya pada Kevin. Biarlah sementara ini Kevin menjadi pengatar surat Arsyad dan Annisa.
^^^^^
Keesokan harinya, Arsyad bersama Vino berada di teras belakang rumah Rico. Arsyad duduk di kursi rodanya dengan didorong Vino. Arsyad masih belum mau bicara dengan Rico, Shita, dan Najwa. Arsyad masih sangat kecewa dengan mereka, terlebih kemarin Raffi bilang Shita kasar dengan Annisa, dan menampar Annisa berkali-kali.
Meskipun dirinya sering membuat Annisa sakit hati, Arsyad tidak pernah melakukan kekasaran pada Annisa. Dia membayangkan betapa sakitnya Annisa waktu ditampar oleh Shita saat itu.
__ADS_1
"Vin," panggil Arsyad.
"Iya, Syad. Ada apa?" tanya Vino.
"Apa benar, kemarin Shita menampar Annisa dan menyalahkan Annisa atas kejadian ini?" Arsyad memberanikan diri bertanya pada Vino.
"Emm…kamu tahu dari siapa?" Vino balik bertanya pada Arsyad.
"Dari Raffi. Jawab saja iya atau tidak," ucap Arsyad.
"Iya, Shita menampar Annisa dan mendorong tubuh Annisa hingga terjatuh, untung ada Rayhan saat itu di belakang Annisa, dan dia menangkap tubuh Annisa," jelas Vino.
"Istrimu keterlaluan , Vin," ucap Arsyad.
"Ya, aku setiap hari berdebat masalah ini dengan Papah dan Shita,"
"Silakan pisahkan aku dengan Annisa. Aku tidak peduli, setelah aku sembuh, aku akan segera kembali pada Annisa. Meski semuanya menentangku,"
"Aku akan membantu kamu kembali pada Annisa," ucap Vino.
"Terima kasih, Vin."
"Apa benar Farina yang melakukan semua ini?" tanya Arsyad.
"Iya, dia sekarang berada di Rumah Sakit Jiwa dan dalam pengawasan hukum," jawab Vino.
"Dia memang gila, Vin. Dia psikopat, pernah hampir menyiksa Annisa, saat Annisa masih kuliah,"
"Iya, aku tahu itu. Ya, memang kalau sudah dendam dan kitanya tidak bisa mengendalikan diri ya akan seperti itu, Syad,"
Arsyad dan Vino mengobrol cukup lama di teras belakang. Suster yang merawat Arsyad memberitahukan Arsyad kalau sarapan paginya sudah siap.
"Pak Arsyad, sarapannya sudah siap," panggil suster.
"Di taruh di mana sarapanku, sus?" tanya Arsyad.
"Di meja makan, sekalian sarapan bersama dengan Pak Rico dan lainnhya," jawab Suster tersebut.
"Bawa ke kamar saja, sus, sekalian ambilkan obatanya. Saya akan sarapan di kamar," titah Arsyad.
"Baik pak,"
"Oh, iya Sus. Saya mulai terapi kapan?" tanya Arsyad.
"Mulai siang ini, Pak," jawab suster tersebut.
"Oke, terima kasih,"
Suster tersebut pergi meninggalkan Arsyad dengan Vino. Vino mengajak Arsyad masuk ke dalam untuk sarapan dan meminum obatnya.
"Vin, bisa temani aku terapi hari ini?" pinta Arsyad.
"Iya, bisa." Vino menyanggupi permintaan Arsyad untuk menemani dia terapi.
"Oh, ya. Carikan perawat laki-laki saja, masa iya aku harus dengan perawat perempuan,"
"Iya, nanti akan aku bicarakan dengan Dokter. Sekarang kamu sarapan dulu, minum obatnya lalu bersiap untuk pergi terapi.
Arsyad menuruti apa kata Vino. Dia tidak mau sarapan bergabung dengan lainnya, dia sendiri sarapan di dalam kamarnya. Arsyad masih sakit hati dengan Papahnya dan Adiknya karena memperlakukan istrinya seperti itu.
__ADS_1