
“Kepercayaanku padamu yang telah bertahun-tahun lamanya ku bangun, kini hancur sudah karena perbuatamu sendiri. Kepercayaan ini tidak akan pernah kembali utuh seperti sedia kala. Sebab sesuatu yang pernah tergores tidak akan pernah lagi kembali mulus. Begitu juga dengan rasa dalam hati ini.”
♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️
Arsyad menceritakan semuanya pada Almira saat mereka sudah berada dalam kamarnya. Almira sangat terkejut mendengar cerita Arsyad. Dia meneteskan air matanya, hatinya juga merasa sakit sekali mendengar cerita dari Arsyad. Mungkin jika itu terjadi pada dirinya, dia juga akan melakukan hal yang sama dengan Shita. Tapi setelah dia membaca surat dari Vino, kemarahan Almira mereda, dia tau sekali kalau Vino sangat menyesali perbuatannya.
"Mas, kasihan Shita, dia masih hamil dihujam masalah serumit ini."ucap Mira.
"Aku juga tidak menyangka Vino seperti itu. Besok aku akan coba menemui Vino di rumah sakit."ucap Arsyad.
"Iya temui dia mas. Kasihan juga Vino."ujar Mira.
"Sudah tidurlah, mereka pasti bisa menyelesaikan masalahnya."ucpanya sambil memeluk Mira.
"Mas tidak memiliki simpanan, kan?"tanya Mira.
"Punya dong, masa tidak."ucapnya pada Mira sambil menyunggingkan senyuman manis pada istrinya.
"Tuh kan. Mas, jangan bercanda."ucap Mira kesal sambil memukul pelan dada suaminya.
"Aduh….sakit sekali, dadaku sesak sekali." Arsyad berpura-pura sakit karena di pukul Almira.
"Mas, ih…mas jangan gitu. Maafkan aku." Mira memeluk erat suaminya. Arsyad mendekapnya erat dan mencium kepala istrinya.
"Iya, mas punya simpanan, simpanan uang untuk masa depan kita dan anak kita kelak."ucapnya lalu mencium bibir istrinya yang sudah mengerucut karena di jahili suaminya.
"Iya kan benar, mas harus punya simpanan itu, kebutuhan semakin banyak jika sudah memilki anak. Harus untuk mempersiapkan pendidikannya kelak dan lain sebaginya. Coba kalau mas tidak punya simpanan itu."ucap Arsyad.
"Jangan marah dulu dong."imbuh Arsyad
"Ya habis mas gitu bilang punya simpanan."ucap Mira dengan kesal.
"Kamu tanya mas punya simpanan tidak kan? Ya mas jawab punya. Kan mas memang punya simpanan uang. Kamu salah malah marah. Dasar…"ucap Arsyad sambil menyentil kening istrinya.
"Ihh…sakit. Dasar apa coba."ucap Mira.
"Emang dasar kamu cantik, dan sekarang tambah sexy." Arsyad menggoda istrinya.
"Mas, jangan menggodaku gitu ah…"
"Biar saja menggoda istr sendiri. Daripada menggoda istri orang. Iya kan?"ucapnya
"Tuh kan…" Almira memeluk erat suaminya. Arsyad membalas pelukan istrinya, dan terjadilah pergulatan di ranjang antara Arsyad dan Almira.
****
Arsyil sedari tadi menatap wajah istrinya yang sudah tertidur. Dia juga membayangkan betapa sakitnya hati kakaknya karena perbuatan suaminya itu.
"Aku tak menyangka Kak Vino bisa seperti itu dengan Kak Shita."ucap Arsyil dengan lirih.
Arsyil mengambil kopi yang tadi ia buat dan meminumnya. Terdengar suara seseorang yang sangat ia cintai memanggilnya, dia menoleh kearah sumber suara itu.
"Syil, belum tidur? Sudah jam 11 malam lho."ucap Annisa.
"Belum mengantuk. Tidurlah, mumpung Dio dan Shifa juga tidur."ucap Arsyil.
"Bagaimana Kak Shita. Apa Kak Arsyad sudah mengajak dia berbicara?"tanya Annisa. Arsyil hanya menghembuskan nafasnya dengan kasar
"Kenapa? Apa yang terjadi antara Kak Shita dan Kak Vino?"tanya Annisa dengan mendudukan dirinya dan menyandarkan dirinya pada bednya. Arsyil hanya menunduk dan diam.
"Syil, kok diam? Syil, aku minta tolong, ambilkan aku minum. Haus sekali rasanya. Dengan segera Arsyil mengambilkan air minum untuk Annisa. Annisa meneguk air putih yang diambilkan Arsyil.
"Syil, ada apa dengan Kak Shita dan Kak Vino?"tanya Annisa lagi.
Arsyil akhirnya menceritakan semuanya pada Annisa. Tanpa terasa air mata Annisa mengalir deras hingga sesegukan mendengar Arsyil menceritakan masalah Shita.
"Kok Kak Vino tega sekali sih sama Kak Shita. Aku tak menyangkanya, sayang."ucap Annisa.
"Sudah, mereka pasti bisa menyelesaikan masalahnya sendiri. Ayo tidur lagi." Arsyil menenangkan istrinya agar kembali tidur lagi.
"Kasihan Kak Shita, dia sedang hamil tapi mendapatkan cobaan yang berat." Annisa kembali terisak, membayangkan bagaimana kalau dirinya ada di posisi Shita.
"Sudah jangan di pikirkan, pasti Kak Shita dan Kak Vino bisa menyelesaikan masalahnya, sayang. Ayo tidur, aku akan menjagamu dan anak kita di sini.
__ADS_1
Annisa mencoba memejamkan matanya kembali, tangan Arsyil tidak lepas dari kepala Annisa, dia masih membelai kepala istrinya hingga Annisa tertidur pulas. Dia juga tertidur di samping Istrinya.
Keesokan harinya, Arsyad mencoba membujuk Shita agar menemui Vino di rumah sakit. Arsyad tidak menyerah membujuk adiknya tersebut, dan akhirnya Shita mau menemui suaminya pagi ini.
"Iya aku mau menemuinya."ucap Shita dengan nada berat.
"Ya sudah ayo berangkat, kamu dengan kakak saja jangan membawa mobil sendiri."ucap Arsyad.
Arsyad pamit dengan istrinya dan dia berangkat ke rumah sakit dulu sebelum ke kantor. Setelah sampai di rumah sakit, mereka langsung menuju ruangan Vino yang di beritahukan oleh Andrew. Arsyad masuk ke dalam terlebih dahulu, dia melihat sahabatnya yang terbaring lemah sambil menatap langit-langit ruangan yang ia tempati dengan tatapan kosong.
"Vin, bagaimana keadaanmu?"tanya Arsyad yang membuat Vino langsung menoleh kearahnya.
"Arsyad? Kamu ke sini? Menjenguk ku? Pasti kamu tau kan masalahku dengan Shita, Shit pasti cerita. Maafkan aku Syad, maafkan aku."ucap Vino sambil berusaha mendudukan dirinya.
"Maafkan aku yang sudah menyakiti adikmu. Maafkan aku sudah melupakan janjiku. Maafkan aku." Vino tak henti-hentinya mengucapkan kata maaf pada Arsyad. Vino sangat menyesali apa yang ia lakukan, dia menangis lagi saat mengingat apa yang ia perbuat pada Istrinya.
"Sudah Vin, sudah, jangan seperti itu. Kamu harus kuat, mengertilah keadaan Shita sekarang, dia sedang hamil juga, jadi moodnya mudah berubah-ubah."ucap Arsyad mencoba menenangkan hati Vino.
"Syad, aku ingin bertemu Shita, ingin sekali, ijinkan aku menemuinya mungkin untuk yang terakhir kalinya."ucap Vino.
"Kamu akan bersama selamanya dengan Shita, Vin. Percayalah." Arsyad kembali mencoba membuat hati Vino tenang.
"Aku panggilkan Shita sebentar."imbuh Arsyad.
"Shita ikut?"tanya Vino.
"Iya, dia di luar. Aku panggilkan dia sebentar." Arsyad melangkahkan kakinya keluar dari ruangan Vino untuk memanggil Shita.
"Shita datang? Dia menjenguk ku? Apa dia mau mencabut semua omongannya? Dia mau memaafkan aku?" Vini dari tadi mengeluarkan semua pertanyaannya lirih. Andrew melihat Vino yang benar-benar melemah sekali dia berkali-kali menyeka air matanya.
Shita masuk ke ruangan Vino, sejujurnya dia sangat sakit sekali melihat Vino dengan wajah yang pucat dan terlihat tirus pipinya, juga matanya yang sangat sembab.
"Shita."panggil Vino.
"Iya, kenapa kamu seperti ini?"tanya Shita.
"Ta, kamu datang menjenguk ku? Kamu suka kan Cupcake yang kemarin aku berikan?" Vino meraih tangan Shita, namun Shita menjauh. Vino mengatupkan kedua tangannya dan meminta maaf berkali-kali pada Shita.
"Maafkan aku, maafkan aku Shita. Maafkan aku, jika aku di perbolehkan, ijinkan aku memelukmu untuk terakhir kalinya sebelum kamu benar-benar pergi meninggalkan ku. Ijinkan aku memegang tangan mu Shita." Shita hanya terdiam, dia ingin sekali menangis, orang yang dia cintai lemah seperti itu karena di tinggalkannya.
"Jangan seperti itu. Iya aku memaafkan mu. Tapi maaf jangan memintaku untuk kembali padamu. Kepercayaanku padamu yang telah bertahun-tahun lamanya ku bangun, kini hancur sudah karena perbuatamu sendiri. Kepercayaan ini tidak akan pernah kembali utuh seperti sedia kala. Sebab sesuatu yang pernah tergores tidak akan pernah lagi kembali mulus. Begitu juga dengan rasa dalam hati ini."ucapnya. Vino mendengar ucapan Shita yang begitu menusuk hatinya, sakit dan teramat sakit sekali. Dia masih memegang erat tangan Shita dan menciumnya berkali-kali.
"Shita."panggil Vino dengan suara seraknya.
"Apalagi yang ingin kamu sampaikan."ucap Shita.
"Aku ingin memelukmu sebentar saja. Memeluk untuk yang terakhir kalinya sebelum kamu pergi dan ijinkan aku mengecup keningmu dan mencium perutmu." Vino semakin terisak.
"Iya, peluklah."ucap Shita.
Vino memeluk erat Shita, menghirup aroma tubuhnya yang ia rindukan, tapi sita tak membalas pelukan Vino sedikitpun. Shita sibuk menyeka air matanya yang jatuh terurai di pipinya. Dia tidak kuat melihat Vino yang seperti ini. Tapi hatinya sakit sekali ketika mengingat apa yang telah Vino perbuat padanya. Vino memeluk erat Shita dan dia mengusap lembut perut Shita lalu menciumnya.
"Maafkan papah, nak. Papah tidak bisa menjagamu. Jaga mamahmu, baik-baik di dalam perut mamahmu."ucapnya. Berkali-kali dia menciumi perut Shita.
"Shita ini permintaan terakhir ku. Ijinkan aku kecup keningmu, dan aku terima semua keputusanmu nanti. Aku titip anakku, jaga dia baik-baik. Aku selalu mencintaimu, Shita."ucapnya sibuk memeluk Shita dan mencium tangannya.
Shita menundukkan kepalanya dan Vino mencium kening Shita agak lama. Shita duduk di depan Vino setelah Vino selesai mencium keningnya. Dia tidak berani menatap mata Vino. Dia tidak kuat sebenarnya melihat Vino seperti ini. Dia meneteskan air matanya di depan Vino.
"Jangan menangis, aku tidak mau melihat kamu menangis, Shita. Tersenyum lah untuk ku." Shita membiarkan Vini menyeka air matanya. Sentuhan yang ia rindukan selama tiga hari ini. Membuat hatinya tenang kembali.
"Cepat sembuh, jangan seperti ini, kita bertemu baik-baik dan berpisah pun harus dengan baik-baik."ucap Shita sambil mencoba tersenyum pada Vino.
"Iya, aku tak menyangka secepat ini hubungan kita. Maafkan aku, aku yang membuatnya menjadi seperti ini. Maafkan aku Shita."ucap Vino.
"Jangan meminta maaf terus. Aku pamit pulang ya, aku mau ke cafe, banyak pekerjaan yang aku tinggalkan dari kemarin. Kamu cepat sembuh."ucap Shita. Dia pamit untuk pulang pada Vino.
"Bisa panggilkan Arsyad ke sini. Aku ingin bicara sebentar, ada yang ingin aku sampaikan."pinta Vino.
"Iya, aku akan memanggil Kak Arsyad."jawab Shita.
Shita keluar dan memanggil Arsyad untuk menemui Vino, dan Arsyad segera masuk menemui sahabatnya sekaligus adik iparnya.
"Vin, ada apa kamu memanggilku?"tanya Arsyad.
__ADS_1
"Syad, nanti setelah aku keluar dari rumah sakit, ajak papah menemuiku di rumahku yang beralamatkan di sini."Vino memberi secarik kertas yang bertuliskan alamat Rumah Vino.
"Rumah barumu?"tanya Arsyad.
"Datang saja nanti, kamu pasti akan tau semuanya, dan nanti aku hubungi kamu lagi kapan waktunya. Oh iya satu lagi, titip istriku, Shita. Aku masih sangat mencintainya, tapi mungkin dia sudah teramat kecewa terhadapku, hingga dia tetap bersih keras menginginkan berpisah. Dalam hatiku, tak ingin sekali aku berpisah dengan Shita. Tapi, dia menginginkannya. Aku harus bagaimana, aku harus ikhlas menerima ini semua, Syad. Jaga dia, semoga dia mendapatkan seseorang yang lebih baik dariku."jelas Vino.
"Aku akan tunggu kabarmu, aku akan menjaga adik ku. Tapi kamu jangan menyerah, aku akan membujuk Shita kembali. Percayalah, dia tidak akan melakukan hal bodoh seperti itu."ucpanya.
"Aku pamit, sudah siang aku harus ke kantor. Cepatlah sembuh, aku yakin kamu laki-laki yang kuat." Arsyad memeluk Vino dan menepuk punggung sahabatnya.
"Terima kasih kamu masih mau menganggap ku sahabat."ucap Vino.
"Kita selamanya sahabat, Vino. Aku pamit ya."ucapnya.
"Iya hati-hati."ucap Vino. Vino sedikit lega karena Arsyad masih menganggap dia sebagai sahabatnya. Dia seperti mendapat kekuatan kembali untuk sembuh setalah melihat Shita dan memeluknya.
"Walau sekejap saja, aku bahagia, Shita. Semoga kamu selalu bahagia."ucap Vino lirih.
Vino melihat Andrew masuk kembali dalam ruangannya. Dia memanggil Andrew dan Andrew mendekatinya.
"Bagaiman, kamu sudah menemui pengacaraku? Kamu sudah mengurus semuanya kan?"tanya Vino.
"Sudah semua, pak. Mungkin seminggu lagi pengacara Pak Vino akan menemui Anda. Cepat sembuh Pak Vino. Dan semangat, aku lihat Shita masih sangat mencintai anda. Aku yakin dia tidak akan menceraikan anda."ucap Andrew mencoba meyakinkan hati Vino.
"Iya semoga saja, Andrew."ucapnya
"Ya sudah, makanlah bubur Pak Vino, biar cepat pulih. Jangan seperti itu lagi. Jujur aku tidak kuat melihat diri anda melemah seperti itu."ucap Andrew.
Vino memakan buburnya, dia menghabiskan buburnya tanpa sisa sedikitpun. Kehadiran Shita mampu mengubah tatanan hati Vino yang tadinya porak poranda karena ulahnya sendiri.
Vino kembali menulis surat untuk Shita dan menyuruh pada karyawan yang kemarin mengantarkan surat dan Cupcake. Dia juga menyuruh karyawannya itu membeli cupcake favorit Shita di toko kue langganannya.
Shita dari tadi terdiam di dalam mobil. Arsyad memerhatikan adiknya yang diam dari tadi.
"Ta, kamu masih tetap menginginkan berpisah dengan Vino?"tanya Arsyad.
"Iya, setelah anak ini lahir."jawabnya singkat.
"Apa tidak bisa di perbaiki lagi, Ta?"tanya Arsyad lagi
"Aku sudah memaafkan Vino. Tapi hati ini masih sangat sakit sekali saat mengingat perbuatan Vino kepada ku."ucapnya.
“Kak tau? Kepercayaanku padanya yang telah bertahun-tahun lamanya ku bangun, kini hancur sudah karena perbuatannya sendiri. Kepercayaan ini tidak akan pernah kembali utuh seperti sedia kala, kak. Sebab sesuatu yang pernah tergores tidak akan pernah lagi kembali mulus. Begitu juga dengan rasa dalam hati ini.”tutur Shita.
"Iya kakak tau, ya sudah kalau itu memang keputusan mu, kakak bisa apa. Toh, kamu sendiri yang menanggung akibatnya nanti. Kakak ingatkan sekali lagi, jangan gegabah mengambil keputusan. Apa kamu tak melihat Vino yang lemah tadi? Dia baru di tinggal kamu tiga hari saja seperti itu, apalagi berpisah?"ucap Arsyad.
"Itu semua karena perbuatannya dia kak. Sudah jangan bahas Vino lagi."ucapnya.
Shita sudah sampai di cafenya, dia segera masuk ke dalam ruangannya, tapi Jihan memanggilnya karena ada titipan lagi untuknya.
"Mba Shita, ada titipan lagi ini."ucap Jihan. Shita menerima kantong plastik berwarna pink untuk kedua kalinya.
"Terima kasih, Jihan."ucap Shita sambil berlalu masuk kedalam ruangannya. Dia membuka kantong plastik berwarna pink dan melihat cupcake seperti kemarin.
"Kenapa dia mengirim ini lagi. Terima kasih, Kak Vino." Shita segera memakan cupcake nya dan membuka surat dari Vino.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
♥️ happy reading♥️