THE BEST BROTHER

THE BEST BROTHER
Ekstra Part 2 "Aku Tidak Butuh!" The Best Brother


__ADS_3

Semburat mentari pagi menerpa tubuh Arsyad. Dia sedang meregangkang otot-ototnya di bawah hangatnya mentari pagi. Dengan kaos abu-abu yang ketat di badannya dan celana training yang senada dengan warna kaos yang ia kenakan.


Biasanya dia melakukan itu di pagi hari dengan di temani papah dan saudara laki-lakinya dulu. Dan, sekarang semua itu hanya sebuah kenangan indah yang tersisa di hidupnya.


"Pagi Syad," sapa Vino dengan membawa secangkir kopi.


"Pagi Vin, pagi-pagi kok sudah bawa kopi," ucap Arsyad.


"Ya, memang ini sudah kebiasaan ku, Syad. Yang penting sudah sarapan," jawab Vino.


"Gak bagus Vin, pagi-pagi langsung minum kopi hitam," ujar Arsyad.


"Memang sih, tapi kopi ini selalu bikin candu, apalagi Shita yang membuatkan," ucap Vino.


"Halah…kamu itu,"


Arsyad duduk di kursi yang berada di dekat Vino. Arsyad dan Vino sudah menikmati masa-masa di rumah, karena semua perusahaan mereka anak-anaknya yang mengurusinya. Mungkin mereka sudah ingin menikmati masa-masa di rumah. Tapi, mereka tetap saja, jika ingin ke kantor, baik Arsyad maupun Vino datang ke kantornya hanya sekedar untuk mengecek pekerjaan anak-anaknya.


"Abah," panggil Arkan.


"Iya, ada apa?" Tanya Arsyad.


"Bunda di mana? Itu ponselnya bunyi terus, Tante Rere nelfonin terus," jawab Arkan.


"Bundamu sedang keluar sama Tante Shita. Katanya mau ke pasar tradisional, baru berangkat tadi," sambung Vino.


"Mereka jadi pergi ke pasar tradisional?" tanya Arsyad.


"Iya, jadi baru saja berangkat tadi, pakai mobil Shita," jawab Vino.


"Ini kalau Tante Rere menelepon lagi gimana?" Tanya Arkan.


"Angkat saja, bilang bunda sedang keluar sama tantemu," jawab Arsyad.


"Ini dipegang Abah saja ponsel bunda, Arkan mau ke bengkel Ayah Arsyil, ada teman Arkan yang mau modif motornya dia sudah di sana," ucap Arkan sambil memberikan ponsel bundanya pada abahnya.


"Oh, iya. Kamu hati-hati," ucap Arsyad.


Memang setiap hari Minggu dia menyempatkan ke bengkel milik Arsyil. Ya, dia memanggil Arsyil dengan sebutan ayah, karena Dio, Shifa, Najwa, dan Raffi memanggil Arsyil dengan sebutan ayah.


Dia juga sudah lama belajar di dunia otomotif, bersama Fajar, anak dari Vera dan Donni. Mereka akrab karena sering belajar di bengkel bersama dengan Donni, ayahnya Fajar. Bengkel yang belum ada penerus setelah Arsyil, dan masih di pegang oleh Donni dan kawan-kawannya, kini seperti ada pendobrak baru di bengkel Arsyil. Ya, Arkan ingin sekali bisa belajar otomotif. Selain dunia sepak bola yang juga ia geluti.


"Penerus Arsyil dia, Syad. Dia anak kamu sama Annisa, kan?" Tanya Vino.


"Iya lah, memangnya anaknya siapa?" ucap Arsyad.


"Aku kira anaknya Arsyil, dia mirip Arsyil sekali, dari cara bicaranya, dari gayanya berpakaian, dan lainnya mirip Arsyil. Tapi, dia tidak memiliki selera humor seperti Arsyil. Dia orangnya serius seperti kamu," ujar Vino.


"Iya, memang. Aku juga heran, Annisa kan hamil denganku, dan anaknya begitu mirip Arsyil. Tapi ya tidak apa-apa, biar ada yang mirip Arsyil. Dio mirip Arsyil, tapi dia lebih tertarik ke dunia bisnis. Aku kira dia bakal terjun ke otomotif sama dengan ayahnya, malah dia mendekati Leon ingin belajar bisnis dengan Leon. Kasihan peninggalan Arsyil, yang mengurus malah teman-temannya. Rumahnya juga terbengkalai," ucap Arsyad.


"Iya juga sih," ucap Vino.


"Ya, seperti Shita, cafe ibu turun temurun, dari ibu, ke Shita, lalu sekarang Rana yang mengelola. Dan, dia benar-benar ulet sekali mengelolanya, hingga beberapa anak cabang ia dirikan di beberapa kota. Aku tidak menyangka, Rana yang terlihat sangat manja sekali, tapi dia memiliki wawasan yang luas sekali," ujar Arsyad.


"Iya, dia memang manja, tapi soal pekerjaan, dia tak pernah mengeluh, dia tidak pernah berhenti mencari ide apa yang baru untuk cafenya, seperti menu baru, atau varian minuman yang baru. Dia ciptakan sendiri. Dan, aku juga tidak menyangka, dia bisa membuka restoran juga," ucap Vino.


"Aku juga tidak menyangka, Rana bisa sehebat itu," ucap Arsyad.


Semua memang tidak menyangka Rana bisa mengembangkan usaha peninggalan Omanya. Shita juga tidak menyangka, anak perempuannya yang manja bisa seperti itu. Apalagi Dana memang gadis pendiam dan hanya di rumah saja jika tidak ada kepentingan untuk keluar. Hanya dengan Abil sahabantnya dia keluar, dia jarang memiliki banyak teman.


"Aku kira Abil pacar Rana, ternyata dia menikah dengan Anaknya Andrew," ucap Arsyad.


"Ya, aku kira juga begitu, ternyata dia hanya berteman saja. Sebelum aku menjodohkan Rana dwnhan anaknya Andrew aku bertanya pada Rana soal Abil, dan ternyata Abil hanya temannya saja. Ya sudah aku lanjutkan perjodohan mereka," ucap Vino.


"Leo baik dengan Rana, kan?" tanya Arsyad.


"Kalau tidak baik, mana mungkin Rana bertahan sampai sekarang, dan mereka juga aku lihat hidupnya bahagia," jawab Vino.


"Namanya dojidohkan, Vin. Kali aja ada yang tidak cocok. Kamu tahu sendiri, kan? Aku dengan Annisa saja banyak drama di awal pernikahan kita. Meski dulu aku sangat mencintainya, setelah menikah dengannya, malah aku tidak mau menyentuhnya selama 3 bulan," ucap Arsyad.


"Aku melihat Rana dan Leo baik-baik saja, Syad," ucap Vino.


^^^^^


Arkan baru saja sampai di bengkel. Dia dikejutkan oleh seseorang yang ia kenal. Dia tidak menyangka gadis yang ia sukai sedang berada di bengkel miliknya bersama dengan cowok seusianya, dan mereka terlihat begitu mesra sekali. Ya, Lily, siapa lagi kalau bukan Lily. Dia masuk ke dalam dan berjalan pura-pura tidak melihat.


Arkan mendekati Fajar yang sedang berkutat dengan sepeda motor. Dia berjongkok di samping Fajar dan bertanya di mana temannya.


"Mana Fikri?" Tanya Arkan pada Fajar.


"Dia pulang tadi, nanti dia ke sini lagi. Dia pulung dulu katanya udah rame sekali," jawab Fajar.


"Halah…kebiasaan dia, itu motor belum kepegang, kan?" tanya Arkan dengan menunjukkan sepeda motor yang berada di pit antrean.


"Iya itu milik mas yang duduk di sebelah sana. Kata ayah tadi mau ganti ban sama itu bawa variasi apa di kantong plastik, tanyain saja sama masnya," jawab Fajar.


"Mas itu yang sedang sama cewek?" tanya Arkan.


"Iya lah, siapa lagi, Arkan…." jawab Fajar.


"Aku ganti baju duku," ucap Arkan sambil masuk ke dalam ruangannya yang dulu di gunakan Arsyil.


Dia melihat foto Ayah Arsyil dengan bisanya. Foto masa muda mereka yang sedang touring. Keduanya memakai jaket kulit berwarna hitam. Dia tersenyum melihat itu. Dia memang selalu mengikut gaya Arsyil kalau berpakaian, dia juga lebih sering di bengkel semenjak tidak bersama Lily. Melihat semua kenanagan dan peninggalan Arsyil di rumah Arsyil.

__ADS_1


"Entah kenapa aku lebih nyaman di sini. Sepertinya aku menikam jiwa baru di rumah dan di bengkel Ayah Arsyil," gumamnya sambil memakai Wearpack.


Arkan keluar dari ruangannya dan berjalan ke arah sepeda motor milik teman dekat atau pacarnya Lily.


"Aku harus tanya gitu sama dia? Oke, tidak apa-apa, aku kira dia cewek yang baik, ternyata aku Ngapel ke rumahnya memakai motor butut di kacangin. Cewek sialan!" gerutu Arkan dalam hatinya.


Ya memang Arkan mendekati Lily dengan tulus, cewek pendiam dan tidak royal ternyata memilih cowok yang tajir dengan sepeda motor yang keren. Arkan memang setiap kali menghampiri dia memakai sepeda butut. Memakai sepeda motor matic jadul yang sering di pakai Oma Andini. Dia baru memakai sepeda motor Arsyil setelah dia membuat SIM, karena sebelum memiliki SIM Arsyad melarang Arkan membawa motor adiknya.


Namanya cewek sekarang, kalau cowoknya tidak keren pakai sepeda motornya tidak mau di pacari, dan langsung diputusin. Lily mungkin terpengaruh dengan temen-temannya yang cowoknya bermotor gede semua. Sedangkan Arkan, meski hidupnya bergelimpang harta, dia di sekolahan sama sekali tidak pernah menunjukan kalau dia anak konglomerat yang mungkin hartanya tidak akan habis sampai 7 turunan.


"Permisi, mas. Itu sepeda motor milik, mas?" Tanya Arkan.


"Arkan….?" Lily kaget melihat Arkan di bengkel langgan pacar barunya.


"Iya, ini aku Arkan, kenapa, Ly?" tanya Arkan


"Jadi bener kamu kalau Minggu kerja di bengkel?" tanya Lily


"Iya, buat nambah uang jajan, sama buat beli sepeda motor yang gede," jawab Arkan setengah menyindir.


"Oh, jadi ini Arkan yang kemarin masih chat kamu sayang?" tanyanya pada Lily, dan Lily hanya menganggukkan kepalanya saja.


"Mas mantannya Lily?" tanya cowok itu.


"Iya, deket saja, sih mas, belum pacaran. Santai saja mas, aku ya tidak ada gunanya di depan dia. Aku ini apa, cuma karyawan bengkel," jawab Arkan.


"Mas nya ngerendah banget sukanya, bukannya mas pemilik bengkel ini?" Tanya salah satu orang yang menunggu motornya sedang diperbaiki.


"Bukan pak, ini yang punya sudah Almarhum, dan saya ikut sama Fajar, karena bapaknya jadi orang kepercayaan di sini," jawab Arkan.


"Ya sudah mas, ini mau gimana? Sepeda motornya mau saya kerjakan." Arkan mengajak cowoknya Lily berdiskusi di meja kerja Arkan, apa yang akan di perbaiki. Dan, Lily ikut dengan cowoknya yang sedang berdiskusi dengan Arkan.


"Wah… Bos kecil sudah di sini rupanya," ucap Rere yang baru saja keluar dari dalam rumah Arsyil.


"Tante Rere di sini? Sama siapa?" tanya Arkan.


"Sebentar ya, mas," ucap Arkan pada cowoknya Lily.


"Itu sama Om Leon, ada di dalam sama Om Donni, bundamu Tante hubungi kok gak di angkat-angkat?" tanya Rere.


"Bunda lagi blusukan sama Tante Shita ke pasar, Bunda sama Abah sekarang tinggal di rumah opa, Tante," jawab Arkan.


"Kebetulan sekali kami akan ke sana, jadi bunda di rumah opa?" tanya Rere.


"Iya. Tante sama Om Leon saja?" Tanya Arkan.


"Iya, kami pakai sepeda motor," jawabnya.


"Aku kira sama Tita."


"Terlalu aktif dia, jadi jatuh."


"Memangnya Tita itu bayi? Kamu ada-ada saja."


Rere masuk ke dalam, dan Arkan melanjutkan berbicara pada customernya yang masih menunggu. Mereka berbicara soal sepeda motor yang akan Arkan kerjakan. Lily masih bertanya-tanya soal siapa Arkan sebenarnya.


Dia memang merasa minder saat jalan dengan Arkan, karena semua teman-temannya cowoknya memakai sepeda motor yang keren. Sedangkan Arkan, dia hanya memakai motor matic jadul. Dan, akhirnya dia dekat dengan cowok lain, yang sekarang mengajaknya di bengkel Arkan.


"Saya mulai kerjakan sekarang, ya mas? Silakan ditunggu," ucap Arkan.


"Oke, servis yang bagus, mas. Nanti saya kasih uang tips yang banyak," ucapnya dengan sombong sambil menepuk bahu Arkan.


"Siap!" Jawab Arkan dengan mengacungkan jempol.


"Simpan saja uang tipsnya. Buat beli cilok, aku tidak butuh!" gerutu Arkan dalam hatinya


Lily duduk di sebelah cowoknya dan tak lepas memandangi Arkan. Dia masih bertanya-tanya, karena tadi Rere memanggilnya bos kecil, dan Arkan sangat akrab sekali dengan Rere yang tampilannya elegan.


Arkan tak mempedulikan Lily lagi. Bagi Arkan cewek baik-baik pasti lebih banyak dari dia. Dia seperti itu, jika mendekati cewek, dia uji dulu soal kantong. Arkan tidak ingin diperbudak cewek dan cinta. Dia mencintai wanita dengan apa adanya, tidak memamerkan hartanya atau keluarganya yang kaya raya. Padahal Arsyad adalah donatur tetap di sekolahan Arkan.


Arkan masih berkutat dengan sepeda motor milik cowoknya Lily yang dia tanya tadi namanya Sandi. Ada rasa kecewa dalam hati Arkan. Arkan kira Lily adalah cewek baik-baik yang tidak memandang harta. Tapi ternyata, dia memandang cowok dari segi kantong dan kendaraannya.


Arkan memang baru 2 Minggu di lepas Donni untuk menempati pit kerja di bengkel. Biasanya dia hanya membantu saja, tapi karena kerja Arkan bagus, dia di lepas untuk bekerja sendiri. Donni merasa Arsyil ada pada diri Arkan, cara kerjanya pun mirip dengan Arsyil, penuh dengan ketelitian dan kehati-hatian.


Lily masih melihat Arkan dari tempat tunggu yang tidak jauh dari pit kerja. Dia tak lepas memandangi Arkan dan masih bertanya-tanya dalam hatinya siapa Arkan sebenarnya. Arkan memang saat sekolah memakai sepeda motor matic, dia hanya tidak mau ribet pakai motor gede. Kalau pakai motor matic dia mudah menyalip sana-sini, dan tidak sayang kalau jatuh.


^^^


"Sebenarnya Arkan seperti apa, sih? Orang itu bilang, dia pemilik bengkel ini. Tapi, tidak mungkin lah, kan dia kerja di bengkel baru kemarin, masa ini milik dia?" Gumam Lily dengan bertanya-tanya dalam hatinya.


Sejak naik ke kelas 2 Lily bergabung dengan geng cewek-cewek tercantik di kelasnya. Julukannya sih gitu, dan sifatnya jauh berbeda saat pada di kelas 1. Mereka masih satu kelas sampai sekarang. Mungkin karena pergaulan dengan teman-temannya, Lily menjadi seperti itu. Padahal dia termasuk siswa pandai di kelasnya.


Lily masih mencuri-curi pandang pada Arkan yang masih memperbaiki sepeda motor milik kekasih barunya. Arkan juga merasakan itu, merasa Lily terus memperhatikannya dari kejauhan.


"Gak, aku gak boleh gini. Masih banyak cewek yang lebih baik dari dia," gumam Arkan.


Arkan tidak mengira dia akan jatuh cinta pada gadis labil seperti Lily. Ya, wajar labil, karena masih SMA, dirinya pun kadang masih labil, dan tidak hanya Lily yang ia kenal. Namun, hanya Lily gadis yang ia sukai dan ia cintai. Meski katanya cinta monyet.


"Wah, ada mekanik baru rupanya," ucap Dio yang baru saja datang ke rumah ayahnya.


"Kak Dio ke sini? Sama siapa?" Tanya Arkan.


"Tuh sama Kak Rania dan Kiara," jawab Dio.

__ADS_1


"Hay cantik…" Arkan mau mencium keponakannya yang lucu itu, tapi tidak di perbolehkan oleh Dio.


"Eits…kamu kena oli, jangan cium-cium princess ku," ucap Dio.


"Pelit...!" tukas Arkan.


"Tuh cium yang di depan saja, adik kamu ikut ke sini, tadi baru saja di jemput bunda, sama cewek jutek itu ke sini," ucap Dio.


"Maksud Kak Dio?" tanya Arkan.


"Kak Arkan….!" Tita berlari ke arah Arkan dengan tangannya terlihat di perban.


"Eits….gak jangan peluk-peluk! Mau mukamu kakak kasih oli? Biar tambah glowing," ucap Arkan sambil mendekatkan tangannya ke wajah Tita.


Gadis berambut pirang dan bermata perak yang cantik itu bergidik geli melihat tangan Arkan hitam terkena oli dan lainnya.


"Kamu mau apa ke sini, Tit?" tanya Arkan.


"Di suruh mamah sama papah, kan mau kumpul-kumpul di sini. Itu Tante cantik sama Om ganteng ke sini," ucapnya sambil menunjukkan Arsyad dan Annisa yang masuk ke dalam bengkel.


"Waduh anak bunda, pagi-pagi sudah belepotan oli. Sini cium bunda," ucap Annisa dengan mendekatkan pipinya pada Arkan. Arkan mencium bundanya, dan Annisa juga menciumnya.


Arkan tidak bisa ikut kumpul karena masih banyak pekerjaannya. Begitu juga dengan Fajar. Yang dari tadi menggerutu kesal, di saat mereka kumpul dia harus bekerja.


"Gini nih, kalau punya bos macam ini, aku jadi ikut gak libur," ucap Fajar.


"Halah, tinggal bilang pengen deket sama Tita. Sudah sana, habis ini masuk deh," ucap Arkan.


"Iya, nggemesin banget dia," ucap Fajar sambil membayangkan wajah Tita yang lucu.


"Sama kakaknya saja, tau. Lebih menantang," ucap Arkan dengan berkelakar.


"Hus….malas banget aku sama nenek gayung," kelakar Fajar.


"Dasar..! Sejelek itukah dia? Sampai kamu bilang nenek gayung?" ujar Arkan yang tidak kalah berkelakar dengan Fajar.


"Judes dia, amit-amit dah punya cewek macam dia," ucap Fajar.


"Memang iya," ucap Arkan sambil membereskan pekerjaannya yang sudah selesai.


Arkan mendekati meja Final Check yang sekarang di pegang oleh Wahyu. Wahyu dan Donni masih setia di bengkel Arsyil. Hingga anaknya pun ikut menjadi mekanik di bengkel Arsyil.


"Om Wahyu sepeda motornya Mas itu sudah jadi, ini kuncinya,"ucap Arkan sambil memberikan kunci motornya.


Arkan memanggil Sandi untuk menemui Wahyu berhubung sepeda motornya sudah jadi, dan langsung ke kasir untuk menyelesaikan Administrasi.


"Mas, itu sudah jadi, tinggal di cek, nanti setelah selesai Final Check mas langsung ke kasir, ya?" ucap Arkan pada pacarnya Lily.


"Oke mas, ini tipsnya," ucap sandi sambil memberikan Tips pada Arkan.


"Wah… terima kasih, mas," ucap Arkan sambil menunduk.


Arkan mengikuti Sandi dan Lily ke meja Wahyu untuk menaruh uang tips dari Sandi, di kotak yang berada di meja Wahyu. Memang semua uang tips mekanik di kumpulkan di kotak untuk di sumbangkan ke panti asuhan atau panti jompo.


"Kak Arkan….!" panggil Tita dengan suara cemprengnya.


"Apaan sih, Tita…! Aku lagi kerja, jangan ganggu," ucap Arkan.


"Kak, untuk apa sih kerja. Ini bengkel kan punya kakak, meding kayak Kak Dio tuh, kerjanya pakai dasi, rapi, cakep. Kakak belepotan gini. Tinggal ngurus perusahaan Om Arsyad saja kan udah beres!" Celetuk Tita dengan bergelayut manja pada Arkan.


"Dengar ya, Tita. Laki-laki butuh bekerja keras, biar tidak di injak-injak wanita," ucap Arkan.


"Kakak kan udah punya semuanya. Ngapain capek-capek gini, tinggal duduk santai saja, uang juga kumpul,"


"Sudah, sana masuk. Kamu ganggu kakak kerja saja, Tit. Tita, kalau kamu punya sesuatu terus gak kamu kembangin, dan hanya berpangku tangan saja, apa itu akan terus berkembang, kalau kita gak ada tindakan?" Ucap Arkan. Tita hanya menggelengkan kepalanya saja.


"Nah, makanya, punya usaha itu di kembangin. Dan, satu lagi. Kak Arkan bukan tipe laki-laki yang menikmati uang orang tua saja. Selagi kakak bisa seperti ini, Why not, baby," ucapnya sambil mengusapkan jari yang terkena oli di wajah Tita.


"Kak Arkan….!" Tita memukul lengan Arkan hinggal Arkan kesakitan.


"Galak juga kamu. Sudah, Kak Arkan mau sholat, sudah mau jam istirahat," ucap Arkan.


Arkan masuk ke dalam dengan Tita yang terus berceloteh ria di sampingnya. Dia memang menganggap Arkan seperti kakaknya. Bukan suka karena cinta, tapi Tita lebih suka Arkan menjadi kakaknya.


^^^^


Sandi masih bertanya-tanya siapa Arkan sebenarnya. Dia memberanikan diri bertanya pada Wahyu yang baru saja menjelaskan tentang sepeda motornya.


"Mas tadi mekanik itu siapa? Apa benar pemilik bengkel ini?" tanya Sandi.


"Iya, dia penerus yang akan memegang bengkel ini, mas. Dia masih SMA, tapi keahliannya di bidang otomotif sudah tidak di ragukan lagi," jawab Wahyu.


"Jadi benar dia pemilik bengkel ini?" tanya sandi lagi.


"Iya, dulu bengkel ini milik ayahnya, lalu beliau meninggal dan sekarang dia katanya mau meneruskan, entah nanti dia mau lanjut meneruskan atau mau berperan di perusahaannya, saya tidak tahu. Karena dulu ayahnya juga mengurus perusahaan Alfarizi," jawabnya.


"Alfarizi?" Tanya Sandi.


"Iya, ini bengkel milik anaknya Pak Rico Alfarizi, dan Arkan adalah cucu dari Rico Alfarizi," jawab Wahyu.


Sandi hanya terdiam, dia tahu siapa Alfarizi, karena papahnya bekerja di perusahaan itu dari dulu, tapi hanya karyawan kantor biasa. Memang Rico selalu menyejahterakan karyawannya, sehingga karyawannya juga menghormati Rico, juga semua penerusnya.


"Kenapa tanya soal Arkan, mas? Mas kenal Arkan? Atau mungkin teman sekolahnya?" tanya Wahyu.

__ADS_1


"Tanya saja, soalnya tadi adiknya berbicara seperti itu, jadi saya tanya," jawab Sandi.


Lily pun baru tahu, ternyata Arkan adalah anak orang kaya raya, yang bergelimpang harta. Dan, teman sekelasnya pun tidak tahu kalau Arkan adalah anak orang kaya.


__ADS_2