THE BEST BROTHER

THE BEST BROTHER
S4 Chapther 71 " Kamu Cantik" The Best Brother


__ADS_3

Keesokan harinya, Rania dan Dio bersiap untuk pindah ke rumahnya. Rumah yang dulu ia tempati bersama saat pernikahan pertamanya. Rania sudah selesai menata baju-bajunya dan baju Dio. Setelah seharian beberes rumah dengan di bantu oleh asisten rumah tangganya, akhirnya selesai tepat pada waktunya. Dan, sore harinya mereka langsung pindah ke rumah mereka.


"Sudah siap?" tanya Dio.


"Sudah, yuk berangkat," jawab Rania sambil mengajak Dio berangkat ke rumahnya.


Dio mengemudikan mobilnya dan memutar sebuah lagu. Rania ikut bernyanyi saat lagu kesukaannya di putar oleh Dio.


"Suaramu masih bagus, Ran," ucap Dio sambil mengusap pipi Rania.


"Baru tahu, ya?" jawab Rania.


"Bukan baru tahu, baru dengar saja. Sudah lama gak dengar kamu nyanyi," ucap Dio.


"Masa sih?" Rania berkata dengan mengerlingkan matanya.


"Iya, Ran, ih genitnya istriku." Dio mencium pipi Rania.


"Hati-hati lagi nyetir."


^^^


Mereka sudah sampai di rumah Dio. Dio membuka pintu rumahnya. Rania masuk dan berjalan di depan Dio.


"Selamat datang kembali di rumah ini, sayang." Dio memeluk Rania dari belakang.


"Dio, ngagetin aja," ucap Rania.


"Kita tidur di kamar mana?" Tanya Rania.


"Kamar utama dong, jangan tidur di kamar tamu lagi, oke," jawab Dio sambil mencium kilas bibir Rania.


"Oke, bawain kopernya, aku mau menata baju di lemari."


"Siap nyonya!" Dio membawa koper milik Rania ke dalam kamar.


Rania membuka lemari yang berada di kamar Dio. Baju-baju Dio masih terlihat rapi, meskipun dia sendiri di rumah, tapi dia selalu menata barangnya dengan rapi. Saat menggeser tumpukan baju Dio, Rania melihat kertas jatuh ke lantai. Entah itu kertas apa, dia tidak tahu. Nampaknya kertas itu adalah 3 lembar foto.


Rania berjongkok mengambil foto itu. Foto Najwa dan Dio yang Rania dapati. Mata Rania membeliak melihtanya. Tapi, Rania percaya, kalau Dio lupa mengemasi foto itu. Bukan Dio sengaja masih menyimpannya. Rania percaya Dio lupa membuang tiga foto Najwa yang masih tersisa di lemari pakaiannya. Pasalnya, Rania lihat sendiri, kemarin barang-barang yang berhubungan dengan Najwa sudah Dio buang semua. Bahkan laptop dan barang berharga lainnya dia buang ke tempat pembuangan sampah.


"Rania, kamu sedang apa?" Suara bariton lelaki yang Rania cintai terdengar dari balik pintu kamar.


"Ini aku menemukannya di lemari kamu." Jawab Rania dengan memberikan foto-foto Najwa pada Dio.


"Rania, aku bisa jelasin semua ini. Demi Allah aku lupa kalau masih ada foto tersimpan di lemari pakaianku. Demi Allah aku tidak tahu, Ran." Dio berkata dengan gugup dan panik. Dia takut Rania marah dan pergi meninggalkan dia lagi. Entah sekarang Dio takut sekali kalau Rania meninggalkan dirinya lagi.


"Hai, kenapa mesti sepanik ini? Aku tidak apa-apa. Aku cuma lihat saja, tadi tidak sengaja jatuh karena aku menggeser baju kamu."

__ADS_1


"Aku takut kamu marah, aku takut kamu pergi dan tidak percaya karena kalau aku sudah tidak mencintai Najwa."


"Kalau aku tidak percaya, untuk apa aku menikah lagi denganmu? Sudah, jangan seperti ini. Aku percaya sama kamu. Sini peluk." Rania merentangkan tangannya untuk memeluk suaminya. Rania benar-benar melihat kepanikan dan ketakutan Dio. Rania tahu, Dio takut jika dirinya tidak percaya lagi padanya.


"Jangan seperti itu. Aku percaya dengan kamu. Aku percaya kamu mencintaiku, Dio." Rania melepas pelukan Dio dan mencium bibir suaminya.


"Terima kasih, sayang. Ayo keluar," ajak Dio.


Dio mengajak Rania ke halaman belakang rumahnya. Dio ingin membakar sisa foto Najwa yang tertinggal di lemarinya.


"Temani aku membakar foto Najwa," ucap Dio.


"Ini mau di bakar?" Tanya Rania.


"Iya lah, masa mau aku simpan," jawab Dio.


Dio membakar foto Najwa di tempat sampah. Rania merasa Dio benar-benar sudah melupakan Najwa. Hingga Dio benar-benar takut dirinya marah.


Setelah membakar foto Najwa, Rania kembali menata baju dan membersihkan setiap ruangan di bantu oleh Dio hingga menjelang Maghrib. Seusai mereka membersihkan diri, Rania menunggu Dio yang sedang sholat. Rania membuat roti selai karena di lapar, dan di rumah Dio belum ada sayuran atau bahan-bahan untuk ia masak.


"Rania, kamu aku cariin ternyata di dapur," ucap Dio sambil mendekati Rania yang sedang menikmati roti selai coklat.


"Aku lapar, sayang. Belum ada bahan-bahan untuk di masak, jadi adanya roti ya aku makan roti," ucap Rania.


"Ya Allah, istriku sampai kelaparan gini, ya sudah makan malam di luar, yuk?" Ajak Dio.


Rania bergegas masuk ke dalam kamarnya untuk berganti baju dan siap-siap untuk dinner dengan Dio. Dia mencoba semua bajunya, memilih yang paling bagus untuk makan malam dengan suaminya. Dio masuk ke dalam kamarnya dan melihat istrinya sedang memilih baju yang cocok untuk pergi makan malam.


"Kebetulan kamu masuk ke kamar. Ini sama ini bagus yang mana, sayang?" Tanya Rania.


"Bagus semua, tapi lebih cocok ini kalau buat keluar malam ini," jawab Dio.


"Oke aku pakai ini." Rania mengganti bajunya dengan gamis warna maroon. Untuk jilbabnya dia memilih pashmina warna mocca muda.


"Sempurna," ucap Dio.


"Kamu kok belum siap?" tanya Rania.


"Aku suka lihat kamu dandan, jadi lupa untuk bersiap-siap. Lagian laki-laki kan simple, pakai kaos atau kemeja yang senada warnanya dengan kamu, sudah deh," jawab Dio.


"Ya sudah pakai ini, sayang." Rania mengambil baju untuk Dio.


"Terima kasih." Dio segera memakai bajunya.


Dio sejenak berpikir dan mengingat apa yang ia lakukan dulu pada Rania. Dari awal menikah hingg 15 bulan lamanya dia menggores luka pada hati Rania setiap hari. Dio jarang makan masakan Rania, Dio jarang pulang ke rumah, menyuruh Rania tidur di kamar tamu, dan lebih menyakitkan lagi, dia masih berhubungan dengan Najwa.


"Rania sudah kembali. Ini saatnya aku menjaga dia, menjaga hati dan raga Rania. Aku janji, Ya Allah. Aku tidak akan menyakiti Rania lagi. Aku akan mencintainya hingga maut mengambil nyawaku," gumam Dio.

__ADS_1


Rania melihat Dio yang dari tadi diam menatap dirinya yang sedang membuka-buka ponselnya. Rania bangun dari duduknya dan mendekati suaminya yang di rasa sudah selesai berganti baju.


"Sudah, sayang?" tanya Rania yang sedikit mengagetkan Dio.


"Ah, sudah, sayang," jawab Dio.


"Kamu kok ngelamun aja, kenapa sih?" tanya Rania.


"Kamu cantik, aku membayangkan saja kalau kamu lagi tidak datang bulan pasti aku langsung mengajak kamu ...."


"Dasar mesum!" Tukas Rania.


"Mesum sama istri sendiri masa gak boleh?"


"Sabar, nanti ya? Satu Minggu lagi." Rania mencium pipi Dio.


"Ayo, aku sudah lapar." Rania menarik tangan Dio untuk segera berangkat.


^^^^^


Satu Minggu sudah berlalu. Rania dan Dio menjalani hari-harinya dengan bahagia. Malam ini Dio kedatangan Shifa dan suaminya di rumah. Fattah mengajak Dio dan Rania untuk berlibur ke luar negeri bersamanya Minggu depan.


"Bagaimana? Kalian mau ikut kami. Ya, itung-itung bulan madu lah. Tapi kita jalan-jalan bersama, Arkan juga aku ajak," ucap Fattah.


"Wah, kita mau di traktir ini. Gimana sayang, kamu mau?" tanya Dio pada Rania.


"Mau lah, Ran. Kita jarang pergi bersama lho. Mau ya?" Pinta Shifa.


"Ehmm … bagaimana sayang?" Rania balik bertanya pada Dio.


"Kalau kamu iya, ya okelah. Kan kita jarang ke luar negeri, apalagi ini di traktir kakak tersayang," jawab Dio.


"Ini sebenarnya kalian berdua mau jalan berdua kan?" tanya Rania pada Shifa dan Fattah.


"Jadi gini, bulan kemarin harusnya kami berangkat, mau menemui temanku, tapi aku ada kerjaan mendadak. Beruntung kan, kalian menikah pekerjaanku sudah selesai. Dan sekarang ini aku free sampai akhir bulan depan. Makanya ayolah kita jalan-jalan bersama," jawab Fattah.


"Jadi mau ke rumah teman kamu dulu?" tanya Dio.


"Ya, nanti kita ke rumah temanku, tapi tetap kita mencari hotel saja sendiri. Kan kita berlima. Masa mau merepotkan dia? Jadi gimana? Mau ikut, kan?" Jelas Fattah.


"Oke, Minggu depan, kan?" jawab Dio.


"Iya, Minggu depan."


Rania sebenarnya tidak ingin ikut, karena ada pekerjaan. Tapi, dia juga butuh refreshing.


"Sekali-kali lah, di trkaktir jalan-jalan sama kakak ipar. Itung-itung bulan madu," gumam Rania.

__ADS_1


__ADS_2