THE BEST BROTHER

THE BEST BROTHER
Bab 95


__ADS_3

Hari ini Andini dan Rico sangat bahagia, karena mereka akan segera memiliki cucu.


"Alhamdulillah ya pah, Almira diberi kemudahan untuk cepat hamil. Aku akan jadi Nenek pah, dan kamu akan jadi kakek."ucap Andini bahagia.


"Iya ya Bu, aku ingin di panggil Opa saja. Aku kan belum tua-tua sekali Bu."ucap Rico dengan tersenyum.


"Udah ubanan gini belum tua gimana sih pah."ucap Andini sambil menunjukan uban yang ada di rambut Rico.


"Papah, Ibu, kalian berdebat saja dari tadi. Sudah manggilnya Opa sama Oma saja."Sahut Shita yang baru saja keluar dari kamarnya.


"Ini pengantin baru jam 8 baru keluar dari kamar, kurang puas satu minggu lebih bulan madunya?"tanya Rico sambil menggoda anak perempuan semata wayangnya.


"Ih...papah apaan sih."ucap Shita malu.


"Vino mana, nak. Kok belum keluar?" tanya Andini.


"Sedang mandi Bu, Shita sudah lapar sekali, ya Shita keluar."ucap Shita.


"Kamu di lembur terus ya cepat lapar sayang." sahut papahnya.


"Papah, udah dong jangan gitu ih..."wajah Shita memerah karena papahnya menggoda terus.


"Pah, lihat wajah anak perempuanmu, memerah itu, sudah jangan di ledekin terus." Andini mencoba menghentikan Rico yang masih saja meledek Shita.


Shita sibuk mengoles selai kacang pada rotinya dan roti untuk suaminya. Andini dan Rico sudah selesai sarapan dari tadi. Mereka sengaja tidak membangunkan Shita dan Vino. Mereka tahu kalau mereka masih lelah karena baru sampai dari Bali. Mereka menambah waktu bulan madunya menjadi satu minggu lebih.


"Kamu tidak sarapan nasi, nak?"tanya Andini.


"Nanti saja Bu, Shita ingin makan roti dulu dan membuatkan kopi untuk Vino."ucap Shita.


"Ya sudah ibu tinggal ke belakang dulu." Andini menuju teras belakang dan di ikuti Rico, suaminya.


Vino keluar dari kamarnya, dia menghampiri Shita yang sedang menyiapkan roti untuknya.


"Pagi sayang."Vino memeluk Shita dari belakang dan mencium kepala Shita.


"Pagi mas. Mau aku buatkan teh atau kopi?"tanya Shita.


"Teh saja, kamu tidak sarapan nasi?"tanya Vino.


"Aku ingin makan roti saja, kamu mau roti atau nasi?"


"Nasi saja, oh iya sayang, besok Lukman dan Rachel menikah kan?"tanya Vino.


"Iya mas, besok pagi-pagi sekali dia minta di temani aku sama Nisa."ucap Shita sambil menuangkan teh untuk suaminya.


"Oke, nanti pagi-pagi sekali kita ke sana. Arsyil sudah ke kantor?"


"Dari tadi mas, dia kan jemput Nisa dulu, mas."


Shita menemani suaminya sarapan pagi, setelah itu Vino pamit pada Shita untuk ke kantor, dia juga berpamitan dengan Andini dan Rico


*********


Lukman Dan Rachel hari ini menikah, semua keluarga kumpul di rumah Bayu dan Iva untuk menyaksikan akad nikah Lukman dan Rachel. Shita dan Annisa setia menemani Rachel yang sedang di rias dari pagi. Almira sibuk kesana kemari mencicipi kue dan makanan yang ada di sana. Andini yang melihat menantunya mengunyah makanan dari tadi, dia mengembangkan senyum dan menghampirinya.


"Cucu Oma masih lapar ya?"ucap Andini sambil mengelus perut menantunya itu.


"Eh ibu, Mira jadi malu dari tadi makan terus."ucap Mira dengan tersenyum.


"Sudah tidak apa-apa, kamu mau lagi?"ucap Andini.

__ADS_1


"Emm...mau puding itu Bu."pinta Mira.


"Duduklah di sana dengan Naura, aku akan mengambilkan untukmu dan Naura." Andini menyuruh menantunya duduk di samping Naura, dan dia mengambilkan puding yang di inginkan menantunya.


Andini membawakan puding untuk Naura dan Almira. Andini berpapasan dengan Arsyad


"Ibu, kok bawa dua, banyak lagi, untuk siapa?"tanya Arsyad yang melihat ibunya membawa dua piring kecil puding.


"Itu untuk Naura dan Almira. Istrimu kuat sekali makannya, nak. Apa jangan-jangan ibu akan punya cucu kembar?"tanya Andini.


"Apapun pemberian Allah Arsyad bahagia, mau kembar mau tidak, yang penting Mira dan Bayinya sehat."ucap Arsyad.


"Iya itu yang terpenting, nak. Ibu ke sana dulu, kasihan Mira menunggunya." Andini segera menghampiri Almira dan Naura, lalu memberikan puding yang di ambilnya.


Keluarga Lukman sudah datang, mereka juga bersama Pakde Fahmi dan istrinya. Abah dan Ummi juga ikut bersamanya. Memang keluarga mereka sudah dekat, sejak mereka ingin menjodohkan Mira dan Lukman dulu. Tapi, Almira menolak karena sudah menaruh Arsyad di hatinya.


Ummi dan Abah melihat putrinya sedang bersama mertuanya, mereka menghampiri Mira yang masih duduk bersama ibu mertuanya dan Naura. Almira melepas rindu dengan Abah dan Umminya, mereka akhirnya berbincang bersama sambil menunggu acara di mulai.


Lukman sudah duduk di kursi yang telah disiapkan untuk akad nikah. Penghulu sudah duduk di depan Lukman. Bayu menjemput Rachel di kamarnya dan menggandeng putrinya menuju kursi.


"Nak, ingat pesan ayah ya, papah sangat menyayangimu, jadilah wanita yang hebat seperti ibumu, patuhilah suamimu."ucap Bayu pada putrinya.


"Rachel sayang anak ibu yang cantik, semoga bahagia, nak. Taatilah suamimu, surgamu ada pada suamimu."ucap Iva. Mereka menggandeng Rachel menuju kursi untuk akad nikah. Bayu mendudukan Rachel di samping Lukman, dan Bayu duduk di samping penghulu untuk menikahkan Lukman dengan Putrinya.


Akad nikah berjalan dengan lancar. Lukman dengan lancar mengucapkan ijab qobul. Lukman menyematkan cincin di jari manis Rachel. Begitu juga sebaliknya, Rachel menyematkan cincin di jari manis Lukman dan mencium tangan Lukman. Lukman mengecup kening Rachel.


Rachel dan Lukman sudah berada di pelaminan. Semua keluarga mengucapkan selamat pada Rachel dan Lukman.


"Wah, akhirnya ratu jutek menikah. Laku juga kamu Chel."ucap Arsyil sambil meledeknya.


"Kamu tuh, kebanyakan pacaran, gonta-ganti pacar, akhirnya menikahnya paling akhir." Rachel tak kalah meledek sepupunya. Seperti biasa mereka kalau bertemu pasti ada saja yang di perdebatkan.


"Ahh...sudah, selisih berapa Minggu saja kok. Selamat ya Mas Lukman, semoga kalian bahagia, Mas, awas tuh makhluk di samping mas ganas, nanti mas di terkam pastinya." ledek Arsyil lagi.


"Tuh kan garang, foto dulu yuk Chel."ajak Arsyil.


Arsyil dan Nisa foto bersama Rachel dan Lukman.


Semua memberi ucapan selamat pada Rachel dan Lukman, begitu juga Almira, dia juga memberikan selamat pada Rachel. Pernikahan Rachel dan Lukman berjalan dengan lancar. Keluarga Lukman berpamitan untuk pulang, Ummi dan Abah juga ikut pulang bersama sama keluarga Lukman.


Arsyad, Almira, Shita dan Vino juga Rico dan Andini masih berada di rumah Bayu. Mereka masih menemui tamu-tamu mereka. Sedangkan Nisa dan Arsyil mereka pulang terlebih dahulu.


Nisa dari tadi mendiami Arsyil. Arsyil melihat wajah Annisa yang dari tadi di tekuk lewat kaca spionnya.


"Kenapa kamu Nis,dari tadi mendiami ku seperti itu." ucap Arsyil, tapi Annisa tak menghiraukannya.


"Nis, jangan ngambek dong, aku tau kamu ngambek gara-gara ucapan Rachel tadi kan?" Arsyil masih saja mengajak Nisa berbicara, dan Nisa masih saja diam seribu bahasa. Mereka sudah sampai di rumahnya. Iya, bengkel Arsyil hari ini tutup. Arsyil memarkirkan sepeda motor di depan rumahnya. Annisa turun dari sepeda motor Arsyil dan langsung berlalu masuk ke dalam rumah.


"Pasti dia mau datang bulan, sering marah tidak jelas dari kemarin."ucap Arsyil lirih sambil berjalan masuk ke dalam rumah. Annisa duduk di sofa ruang tengah sambil menyalakan TV. Arsyil hanya melaluinya, dia ke dapur untuk mengambil air putih. Dia berjalan mendekati Nisa yang masih saja diam dan marah.


Arsyil berjongkok di depan Nisa, dia memberikan segelas air putih untuknya.


"Minumlah, biar hatimu lebih tenang, jangan marah seperti itu, bicaralah, ayo minum dulu air putihnya." Arsyil memberikan gelas berisi air putih pada Nisa. Nisa menurutinya, dan meminum habis air putih yang Arsyil ambilkan.


"Syil."Annisa mulai membuka mulutnya.


"Iya Nis, udah lega?"tanya Arsyil. Arsyil masih berjongkok di depan Nisa, dia menatap wajah Nisa yang sudah mulai mengembangkan senyum tipisnya.


"Kamu benar sering gonta-ganti cewek?"tanya Nisa dengan menundukan kepalanya.


"Sudah ku duga, kamu pasti terpengaruh dengan ucapan Rachel."ucap Arsyil.

__ADS_1


"Annisa, boleh aku bertanya padamu?"


"Iya, silahkan Syil."


"Selama hampir dua tahun ini, apa kamu pernah melihat aku berpaling darimu, sayang?"tanya Arsyil. Annisa hanya menggelengkan kepalanya saja.


"Apa kamu ragu denganku, karena ucapan Rachel tadi?"tanya Arsyil lagi.


"Aku hanya takut, kamu pergi dariku, Syil."ucap Nisa dengan meneteskan air matanya.


"Jangan takut Nisa, aku tidak akan meninggalkanmu, kecuali bila Allah menghendaki aku pergi."ucap Arsyil yang membuat Annisa langsung memeluknya.


"Jangan bilang seperti itu, aku tidak mau kamu pergi."tangis Annisa semakin pecah di pelukan Arsyil.


"Iya, aku tidak akan pergi, sudah jangan menangis, nanti cantikmu hilang, aku akan menemanimu hingga kita menua bersama sayang, dan hingga saatnya Allah menjemput kita. Aku mencintaimu, Nisa." Arsyil mencoba meredakan tangis Nisa, mengusap air mata Nisa yang menetes di pipi dan mengecup kelopak mata Nisa.


"Senyum dong sayang, oh iya Nisa, tunggu sebentar di sini, aku akan mengambil sesuatu." Arsyil masuk ke kamarnya, dia mengambil kotak cincin yang berisi cincin kawin milik Nisa dan dirinya. Arsyil membuka kotak cincin itu di depan Nisa.


"Kamu suka dengan Cincin ini?"tanya Arsyil.


"Bagus sekali, Syil. Ini kamu yang memilih?" Annisa terlihat bahagia melihat sepasang cincin kawin yang ditunjukan Arsyil.


"Iya aku yang memilihnya, ini sengaja aku pesan jauh-jauh hari."ucap Arsyil.


"Terima kasih, Syil. Kamu sudah menyiapkan semua untuk ku." Annisa kembali memeluk calon suaminya.


"Ya sudah ayo aku antarkan kamu pulang."


"Syil, mamah dan papah kenapa belum pulang juga, padahal kan tinggal beberapa minggu saja aku akan menikah." Annisa terlihat sedih, karena ke dua orang taunya belum juga kembali dari luar negeri.


"Besok papah dan mamah pulang, sayang. Tadi aku sudah menelfon nya kok."ucap Arsyil.


Annisa begitu lega mendengarnya, mereka keluar dari rumahnya. Arsyil mengantarkan Annisa terlebih dahulu ke rumahnya.


"Syil, wanita mana yang tak bahagia memiliki calon suami sepertimu. Terima kasih untuk semuanya Arsyil, aku akan menyayangimu dan mencintaimu hingga ajal menjemput kita, entah siapa yang akan di jemput, aku atau kamu."gumam Annisa dalam hati.


Annisa semakin erat memeluk Arsyil, dia begitu takut jika di tinggalkan orang yang begitu di cintainya.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


♥️happy reading♥️


__ADS_2