THE BEST BROTHER

THE BEST BROTHER
S4 Chapter 56 "Mana Hadiahnya?" The Best Brother


__ADS_3

Sudah dua bulan setelah ibunda Rania meninggal. Rania sudah bisa bersahabat dengan keadaan. Dia selalu mendapat masukan dari mantan suaminya, Dio. Selama ini dia masih berhubungan baik dengan mantan suaminya. Namun, hanya sebuah Chat atau telepon saja, itu juga jika mereka mau membahas soal pekerjaan saja.


Sambil menyelam minum air. Ya, mereka seperti itu, bagaikan peribahasa itu, karena mereka bertukar kabar dan bercerita sambil membahas pekerjaan. Mereka masih belum mau jujur soal perasaan yang ada di hatinya. Entah sampai kapan mereka menyembunyikan rasa yang sebenarnya.


Dio yang tidak mau mengusik hidup Rania lagi, dia lebih memilih menjadi partner kerjanya. Dia membiarkan Rania dekat dengan Evan, meski dalam hatinya merasa sakit dan ingin memberontak. Dio juga kadang diam-diam mengikuti Evan dan Rania pergi. Bukan karena cemburu atau apa, Dio hanya takut Rania diapa-apakan oleh Evan, karena Dio tahu Evan lelaki yang seperti apa.


"Dio, kamu di kantor ayah?" ~Rania.


Dio tersenyum melihat pesan dari Rania, menanyakan dirinya di kantor ayahnya atau tidak. Dio tidak langsung menjawabnya. Dia sengaja agar Rania menanyakan lagi. Dan, dia memang sedang sibuk karena baru saja dia menemui klien.


"Kasihan juga kalau tidak aku balas, barangkali penting," ucap Dio lirih.


"Iya, baru saja sampai di kantor ayah, tadi baru saja aku menemui klien ku." ~Dio.


Dio membalas pesan Rania. Dia meletakkan kembali ponselnya di meja, dan meninggalkannya ke kamar mandi.


Rania melihat balasan dari Dio. Menunggu balasan pesan dari Dio 10 menit saja dia sudah gelisah sekali, padahal dari tadi Evan dengan intens mengirim pesan padanya, namun belum ia balas.


Rania melihat balasan dari Dio. Seulas senyuman tersimpul di wajah cantiknya melihat pesan masuk dari seorang yang di nantikannya. Rania membacanya, dia memang ingin bertemu Dio, selama ini dia hanya bercerita dengan Dio lewat sebuah chat atau telepon saja. Rania mengambil tasnya dan beberapa dokumen yang harus di berikan Dio, yang baru saja selesai ia tanda tangani.


"Aku menuju ke kantor ayah, tunggu sebentar jangan pergi lagi." ~ Rania.


Rania melajukan mobilnya, dia tidak mempedulikam Evan yang dari tadi chat menanyakan dirinya. Baginya tidak penting untuk membalas chat yang berisi tulisan menanyakan dirinya sedang apa. Karena menurut Rania, harusnya Evan tahu, jam-jam Rania sedang apa.


"Aku tidak butuh chat seperti ini, Van. Kamu setiap hari mengirim chat seperti ini, tidak ada bosannya. Tanya sedang apalah, sudah makan siang belum lah, seperti anak SMA atau SMP saja. Kita sudah tua, mau serius juga tidak perlu seperti ini," gumam Rania sambil mengemudikan mobilnya dan melihat sekelebat chat dari Evan.


Rania memikirkan lagi kata-kata Evan kemarin, Evan memang ingin sekali melamar Rania, tapi dia belum siap untuk menjalin hubungan serius dengan laki-laki. Jangankan dengan Evan, Dio ingin kembali lagi dia masih berpikir panjang, meski hatinya masih menyimpan sejuta cinta untuk Dio. Kejadian antara dirinya dan Dio kemarin, masih menyisakan trauma mendalam pada dirinya. Dia juga belum percaya kalau Dio mencintainya. Padahal sebelum berpisah, Dio ingin sekali mempertahankan rumah tangganya dengan dirinya. Tapi, dia tidak percaya kalau Dio bisa mencintainya lagi.


Ponsel Rania berdering lagi, ada pesan masuk dari Dio. Tapi, dia tidak membukanya, karena sebentar lagi dia sampai di kantor ayahnya. Rania turun dari mobilnya dan segera masuk ke dalam kantor ayahnya. Dia langsung masuk ke ruangan Dio.


"Rania, kamu sudah sampai?" tanya Dio dengan sedikit kaget melihat Rania sudah berada di ambang pintu ruangannya.


"Ya, aku sudah di sini," jawabnya sambil berjalan mendekati meja kerja Dio dan duduk di depannya.


Dua bulan tidak saling bertemu membuat mereka sedikit gugup saat bertemu. Ya, setiap ada perlu dengan Dio, atau memberikan dokumen penting pada Dio, Rania hanya menyuruh Astrid atau karyawan yang lainnya. Dan, baru kali ini dia menemui Dio secara langsung setelah kejadian malam itu, waktu Rania kabur dari rumah.


"Emm…mau minum apa?" tanya Dio dengan sedikit canggung.


"Terserah kamu saja mau membuatkan apa," jawab Rania.


"Aku buatkan kopi, ya?" ucapnya dengan gugup.


"Oke," jawab Rania.


Dio menuju ke pantry di sebelah ruangannya. Memang ada ruang kecil yang dulu di gunakan Reno hanya untuk sekedar ngopi santai. Dan sekarang ruangan itu di gunakan oleh Dio.


Rania berjalan ke arah ruangan kecil yang dijadikan sebagai pantry, dia melihat Dio membuatkan kopi untuknya.


"Jangan di kasih creamer," ucap Rania yang menghentikan Dio saat mau menaruh creamer dalam kopinya.


"Oke," jawabnya dengan santai.


Dio membawakan kopi ke arah Rania yang masih berdiri di ambang pintu. Rania melihat Dio sekarang berbeda dengan dulu. Wajahnya semakin tirus dan seperti tidak ada semangat untuk hidup.


"Kamu diet?" tanya Rania.


"Apaan sih, gendut gak masa diet." Dio menjawab dengan memberikan kopi pada Rania.


"Terima kasih." Rania mengambil cangkir kopi dari tangan Dio.


"Kirain aja diet, aku lihat kamu tambah kurusan soalnya," imbuh Rania.


"Ya memang seperti ini," jawab Dio.


"Kamu bawa kan, dokumen yang sudah kamu tanda tangani?" tanya Dio.


"Bawa, itu ada di meja," jawab Rania.


"Kamu sendirian?" tanya Dio lagi.


"Iya, mau sama siapa lagi, " jawab Rania.


"Kirain aja sama Evan, biasanya ke mana aja sama Evan," ucap Dio.


"Hmmm…lagi males sama dia," ucapnya dengan nada sebal.


"Kenapa, malas saja suka, kan?" ledek Dio sambil mengecek dokumen yang di bawa Rania.


"Malas aja, dia seperti anak kecil," ucap Rania.


"Seperti anak kecil bagaimana?"


"Ah, sudah jangan bahas Evan," ucap Rania.

__ADS_1


Rania menikmati kopi buatan mantan suaminya itu. Masih sama rasanya seperti yang dulu, memang Dio pandai membuat kopi senikmat ini. Rania melihat sekeliling ruangan ayahnya yang sekarang di pakai Dio. Pandangannya tertuju pada lemari kecil transparan yang baru ia lihat.


Di dalam lemari itu, terdapat beberapa foto-foto ayahnya bersama dirinya dan ibunya. Rania beranjak dari tempat duduknya dan berjalan ke arah lemari itu.


"Dio, kenapa ada lemari ini?" tanya Rania.


"Emm..aku sengaja membeli lemari itu, karena banyak sekali foto-foto ayah bersama kamu dan ibu, jadi biar rapi aku tata di dalam lemari minimalis itu," jawab Dio.


"Oh, seperti itu?" ucap Rania.


Rania tidak menyangka, Dio benar-benar menjaga barang peninggalan ayahnya. Dia mengambil foto dirinya yang sedang bersama ayahnya. Rania masih terpaku melihat foto tersebut. Dia mengingat masa-masa indah bersama ayahnya. Dan, di dalam lemari itu, terselip satu bingkai foto kecil yang menampakkan dirinya dengan Dio saat mereka berada di cafe tepi sungai.


"Dio," panggil Rania.


"Apa?" Jawab Dio tanpa menoleh ke arah Rania.


"Kamu masih menyimpan foto ini?" tanya Rania dengan mengambil bingkai foto itu dan menunjukan ke arah Dio.


"Oh itu, iya aku cetak kemarin, dan aku pasang. Tidak apa-apa, kan? Kalau kamu keberatan, kamu bisa membuangnya," jawab Dio.


"Kok gitu?" tanya Rania dengan mendekati Dio yang sedang sibuk dengan pekerjaannya.


"Ya, kalau kamu keberatan, aku pajang foto kamu dan aku, tidak apa-apa di singkirkan saja," ucap Dio.


"Simpan saja, aku tidak keberatan," ucap Rania sambil menyesap kopinya.


Rania memandangi Dio yang sedang serius mengecek semua dokumennya. Rasanya seperti ada yang menari dalam hati Rania, bisa bertemu Dio lagi. Dan, entah kenapa dia tadi ingin langsung ingin menuju ke kantor ayahnya saat Dio menjawab kalau Dio ada di kantor ayahnya.


"Ran," panggil Dio yang membuyarkan lamunannya saat menatap Dio.


"Hmmm…" jawabnya hanya bergumam dengan gugup.


"Jangan melihat terus, ada yang mau ditanyakan atau sampaikan?" tanya Dio.


"Tidak, aku ke sini cuma mau memberikan itu saja," jawabnya.


"Kamu sedang tidak sibuk di kantor? Kok bisa ke sini? Biasanya karyawan kamu atau Astrid?" tanya Dio.


"Astrid sibuk," jawabnya. Dio hanya tersenyum melihat Rania dengan serius sedang membuka-buka ponselnya.


Dio tidak menyangka, ikatan pernikahannya dengan Rania berakhir. Tapi, dia masih bersyukur, dengan dia mengurus perusahaan Ayah mertuanya dia masih bisa berkomunikasi dengan Rania dengan baik. Meski menahan gejolak di hatinya karena semakin hari semakin tumbuh subur rasa cintanya pada Rania.


Dio melihat ponselnya berdering, ada pesan masuk di WhatsApp nya. Dia tidak langsung membuka pesannya. Paling juga dari Astrid, atau orang tidak penting lainnya. Ya, Astrid sekretaris Rania, selama ini dekat dengan Dio. Dio menganggap dia hanya sebatas teman saja, tapi tidak untuk Astrid. Dia selalu perhatian dengan Dio.


"Gak penting," jawabnya.


"Tuh Astrid yang chat. Kali aja penting," ucap Rania.


"Astrid? Dari mana kamu tahu Astrid sering mengirim pesan padaku?" tanya Dio.


"Pernah lihat saja sih, balasan kamu, pas aku ke meja kerjanya, dia sedang ke pantry. Kamu mengajak lunch kan kemarin?" jawab Rania sembari bertanya pada Dio.


"Ya, memang aku kemarin ajak makan siang dia. Kan sekalian dia memberikan dokumen dari kamu," jawab Dio.


"Oh." Rania hanya menjawab seperti itu.


Dia tidak menyangka Astrid dekat dengan mantan suaminya yang masih sangat ia cintai. Dio melirik Rania yang sepertinya sedang tidak baik-baik saja, dilihat dari raut wajahnya. Dio melihat pesan yang masuk, dan ternyata pesan itu dari Rania. Yang menjawab pesannya tadi.


"Ran, kamu sudah makan siang?" ~Dio.


Begitu isi pesan yang dari tadi di abaikan Rania, karena dia sudah sampai di kantor ayahnya jadi mengabaikan pesan dari Dio, dan baru membalasnya tadi saat setelah melihat foto-foto di dalam lemari kecil.


"Belum, mau traktir?" ~Rania.


Dio tersenyum melihat pesan itu ternyata dari Rania. Dio menjawab pesan dari Rania itu.


"Ayuk, makan siang. Aku juga belum makan. Kita makan di mana?" ~Dio.


Ponsel Rania berbunyi, dia langusng melihat pesan masuk. Rania tersenyum melihat isi pesan dari Dio.


"Ehemmm…dari Evan, ya?" tanya Dio.


"Dari mantan yang nyebelin," jawabnya.


"Dasar! Ayo mau makan apa, aku traktir," ajak Dio.


"Gitu dong, jangan Astrid terus yang dia ajak lunch," ucap Rania.


"Ya…ya… sekali-kali lunch dengan mantan lah, biar pacarnya mantan marah-marah," ucap Dio.


"Apa kabar Astrid, dia paling chat kamu," ucap Rania.


"Iya, ini chat dia aku tumpuk, belum aku buka. Malas, posesif dia. Ah, sudah lah, ayo aku lapar." Dio mengambil kunci mobilnya.

__ADS_1


Rania mengambil tasnya dan bersiap-siap untuk makan siang dengan Dio. Ada rasa yang aneh pada hatinya, tidak menyangka saja Dio dekat dengan sekretarisnya dan sering jalan dengan Astrid.


Mereka masuk ke dalam mobil Dio. Sudah lama sekali Rania tidak pergi bersama Dio. Dan, baru kali ini mereka pergi bersama lagi dan statusnya sudah menjadi mantan.


"Ran, itu Evan chat," ucap Dio saat melihat ponsel yang ada di tangan Rania berbunyi dan ada nama Evan.


"Biarlah," ucap Rania.


"Jangan seperti itu. Balas dulu," titah Dio.


"Iya, iya," jawabnya.


Rania membalas pesan dari Evan yang menurutnya tidak penting, karena hanya menanyakan kabar atau menanyakan sedang apa, dan sudah makan atau belum. Menurut Rania itu adalah chat anak-anak SMP.


"Sudah?" tanya Dio.


"Sudah," jawabnya.


"Paling jawabnya sedang meeting," ucap Dio.


"Gak, sedang makan siang sama kamu," jawab Rania.


"Gak mungkin, berani ngirim gitu sama pacarnya aku kasih hadiah," ledek Dio.


"Ih benar mau kasih hadiah? Ini lihat aja, aku balas seperti itu." Rania memperlihatkan balasan untuk Evan, dan benar isinya dia bilang sedang makan siang dengan Dio.


"Jujur amat, mbak. Gak mikir perasaan dia kamu," ucap Dio.


"Biarin saja, dari pada bohong. Aku kan tidak suka bohong. Kamu tahu kan, rasanya di bohongi seperti apa. Aku sama Evan saling jujur kok, tidak ada yang aku tutup-tutupi, emang kamu," ucap Rania.


"Iya, iya, percaya," ucap Dio.


"Sudah aku lagi malas dengan Evan," ucap Rania dengan kesal.


"Mana hadiahnya?" Rania menagih hadiah dari Dio.


"Iya, nanti." Dio tersenyum memandang Rania yang menagih hadiah darinya dengan wajah yang lucu dan menggemaskan.


"Kamu masih sama seperti yang dulu, Ran. Wajahmu juga tidak pernah berubah," gumam Dio.


Rania membuka ponselnya karena Evan membalas pesan darinya yang memberitahukan kalau dirinya sedang bersama Dio.


"Oh, ya sudah. Awas nanti jatuh cinta lagi." ~Evan.


Rania hanya tersenyum saja melihta chat dari Evan. Rania tahu, Evan cemburu, tapi mau bagaimana lagi, memang Rania masih ada ikatan dengan Dio perihal perusahaan ayahnya yang di kelola Dio. Jadi Evan mengerti dan memahaminya, walau dirinya di rundung rasa cemburu.


"Ngarang, jatuh cinta bagaimana? Dia sudah memiliki kekasih." ~Rania.


"Ya sudah, kamu pulang hati-hati. Besok jadi kan, memenuhi undangan papah dan eyang untuk makan malam?" ~Evan.


"Iya, besok jemput aku di rumah." ~Rania.


"Oke." ~Evan.


Rania memasukan ponselnya ke dalam tas. Dia mengganti mode getar agar tidak terganggu oleh chat dari Evan.


"Sudah?" tanya Dio.


"Sudah apa?" Rania balik bertanya pada Dio.


"Chat nya," jawab Dio.


"Sudah, Evan mengajak aku makan malam dengan keluarganya besok malam." Rania berkata dengan raut wajah yang malas.


"Hmmm… jangan lupa undangannya kalau mau meresmikan hubungan kalian," ucap Dio.


"Apaan sih, aku belum memikirkan itu," jawab Rania.


"Dio, kamu dengan Abah baik-baik saja, kan?" tanya Rania.


"Ya seperti itu. Aku jarang ke rumah Abah, aku malu. Datang ke rumah orang tuaku, serasa orang asing sekarang. Paling kalau kangen bunda saja aku datang," jawab Dio dengan nada yang datar.


Rania tahu perasaan Dio, yang hingga saat ini masih di kucilkan oleh keluarganya, terutama abahnya. Dia ke rumah Arsyad jika dia kangen dengan bundanya dan membicarakan soal kantor dengan bundanya. Itu saja, tidak lama-lama dia berada di sana.


"Aku padahal sudah membujuk Abah, agar bisa menerima keadaan dan jangan menyalahkan kamu saja, tapi aku lihat, Abah semakin jauh dari kamu," ucap Rania.


"Abah memang begitu, aku tahu sifat Abah memang egois. Apalagi opa, mereka sama saja, ditambah Tante Shita. Ya sudah, aku bisa apa, memang dalam hal ini aku yangembuat kesalahan. Dan, aku terima, beruntung opa, Tante Shita, Abah masih mau bicara dengan aku, dan sekedar menyapa sedikit," jelas Dio.


"Maaf, Dio. Aku juga salah, seharusnya…." ucapan Rania terpotong oleh Dio.


"Ah, sudah jangan bahas ini, aku jalani hidup ini apa adanya saja. Yang penting, bunda bahagia dengan Abah, dan Abah tidak menyakiti bunda," ucap Dio dengan memotong kata-kata Rania.


Dio memang menjalani hidupnya sendiri, dia di rumah sendirian, apa-apa juga ia lakukan sendiri. Hidupnya benar-benar berubah setelah kejadian di vila itu. Dia juga kehialngan sosok kakak perempuannya yang dulu menyayanginya. Shifa sekarang cuek dengan Dio, dan sama sekali tidak mau menyapanya jika Dio tidak menyapa dia terlebih dahulu. Dio tidak tahu, kenapa semua berubah menjadi egois, hanya memaafkannya di mulut saja tidak dari hatinya.

__ADS_1


__ADS_2