THE BEST BROTHER

THE BEST BROTHER
S4 Chapter 31 "Mengingatkan" The Best Brother


__ADS_3

Dio dan Rania sudah bersiap-siap untuk berangkat ke rumah abahnya. Mereka sudah berada di dalam mobil Dio. Dio melajukan mobilnya dan memutar musik di dalam mobil. Lagu milik Sheila On 7 "Bila Kau Tak Di Sampingku" mengingatkan Rania saat dulu masih berada di bangku SMP dan lagu itu memiliki kenangan tersendiri untuk Dio dan Rania. Entah kenapa Dio memutar lagu itu lagi. Rania langsung mematikannya. Dia tidak mau mengenang masa itu, yang tidak akan terulang lagi.


"Kenapa di matiin?" tanya Dio.


"Tidak apa-apa," jawab Rania.


Rania kembali menyandarkan kepalanya dan melihat jalanan lewat jendela mobilnya. Sesekali Dio memandangi Rania yang memunggunginya. Dio tahu kenapa Rania mematikan musiknya. Dan, Dio juga tidak tahu, kenapa dia bisa memutar lagu-lagu Sheila On 7 yang banyak sekali kenangan bersama Rania lewat lagu itu. Dio tidak tahu apa yang terjadi pada hatinya sejak tadi siang. Saat Rania mengirim pesan sangat singkat pada dirinya tadi siang membuat ingatannya tertuju pada Rania.


Melihat Rania berpakaian kaos lengan panjang dan rok plisket mengingatkannya saat dulu Rania masih SMP dan berangkat les bersama. Wajah Rania juga tak berubah, masih manis dan sangat cantik. Bedanya hanya dia tampak lebih dewasa.


"Kenapa aku mengingat dulu lagi? Dia masih tetap sama, selalu berpenampilan sederhana sekali," gumam Dio dengan terus mencuri pandang pada Rania.


Rania melihat Dio yang dari tadi mencuri pandang pada dirinya. Rania merasa aneh pada sikap Dio hari ini. Rania masih menatap Dio yang sedang fokus mengemudikan mobilnya. Dio yang tidak tahu kalau Rania memandanginya, tiba-tiba Dio menoleh menatap Rania. Kedua mata mereka saling bertatapan.


"Sudah puas curi-curi pandangnya? Jangan curi-curi pandang, nanti kemakan omongan mu sendiri!" tukas Rania.


"Siapa yang curi-curi pandang," kilah Dio.


Dio kembali lagi memutar lagu, Rania hanya diam menikmati lagi yang di putar suaminya itu. Walaupun lagu itu sangat menyita hatinya untuk mengingat masa-masa indah dulu bersama Dio saat masih duduk di bangku SMP.


"Ran," panggil Dio.


"Hmmm…" jawab Rania hanya bergumam sambil memandang keluar jendela.


"Aku mendengar kabar akan ada Reuni Akbar di SMP kita dulu, apa kamu tahu itu?" tanya Dio.


"Aku tidak tahu, aku jarang sekali berkomunikasi dengan teman SMP dulu. Paling hanya Dini dan Winda saja yang sampai sekarang masih bertukar kabar," jawab Rania.


"Aku kira kamu tahu, kamu kan aktif di SMP dulu, dan siapa yang tidak kenal seorang Rania Pratiwi," ucap Dio.


"Kamu tahu dari siapa akan diadakan Reuni Akbar?" tanya Rania.


"Dari Teguh, baru tahu tadi sih, kita ngobrol sebentar di cafe sampai tadi sore. Dia panitianya, tadi tidak sengaja aku bertemu di depan mini market, lalu aku di ajak ngobrol sama dia membahas Reuni," jawab Dio.


"Oh … aku kira kamu menemui Najwa," ucapan itu hanya terlintas di hati Rania.


"Hmmm … bagus dong ada Reuni, sudah hampir 10 tahun kita tidak bertemu, lalu kapan rencananya?" tanya Rania.


"Sudah 10 tahun lebih malah, Ran. Untuk acaranya akhir tahun ini mungkin, atau awal tahun depan. Itu kata Teguh tadi, tidak tahu fix nya kapan. Kamu mau masuk grup?" Dio menawari Rania bergabung ke Grup SMP.


"Tidak usah, tidak ada faedahnya masuk grup, nanti saja kalau kamu dapat kabar kapan fix nya, aku ikut. Dan kalau butuh dana berapa aku siap," ucap Rania.


"Tidak ingin tahu tentang Yohan?" Dio tiba-tiba membahas Yohan.


"Yohan? Yohan siapa aku lupa, Dio," ucap Rania.

__ADS_1


"Masa lupa sama pacar sendiri," ucap Dio.


"Pacar? Dari dulu aku tidak pernah memiliki pacar," ucap Rania.


"Dari dulu aku mencintaimu, Dio. Sampai sekarang," gumam Rania.


"Yohan Pradana, masa kamu lupa?" Dio mengingatkan lagi.


"Emm … iya aku ingat, sudah jangan bahas dia," ucap Rania dengan wajah yang berubah menjadi redup.


"Kenapa? Ada masa lalu yang asik kah dengan Yohan?" tanya Dio.


"Cukup! Aku bilang jangan bahas dia, Dio." Rania berkata dengan nada cukup tinggi dan dengan mata berkaca-kaca.


"Maaf, iya aku tidak akan bahas dia lagi," ucapan terdengar sedikit lirih dan gugup saat melihat mata Rania berkaca-kaca mendengar nama Yohan Pradana.


"Dia sepertinya memiliki masa lalu yang tidak baik dengan Yohan. Membahas Yohan dia berubah menjadi sedih dan ketakutan," gumam Dio sambil memandangi


Tak lama kemudian mereka sampai di rumah Arsyad. Rania dan Dio turun dari mobilnya. Dengan reflek tangan Dio menggenggam tangan Rania dan berjalan masuk ke dalam rumah.


Mereka di sambut dengan Arsyad yang kala itu sedang duduk di ruang tengah.


"Kalian sudah datang? Bagaimana kalian bahagia?" tanya Arsyad.


"Kami bahagia, Abah," ucap Dio, dan Rania hanya tersenyum.


"Sedang di dapur sama Mba Lina, sedang menyiapkan masakan," jawab Arsyad.


"Najwa sama Shifa?" tanya Rania lagi.


"Najwa sedang bersama Dokter Wulan ke rumah singgah, dan Shifa belum datang, masih d jalan katanya," jawab Arsyad.


"Ya sudah Rania tinggal ke dapur dulu, Abah," pamit Rania.


"Emm … Dio, titip tasku." Rania memberikan tasnya pada Dio.


"Kemarikan tasmu, Sayang," ucap Dio yang tanpa ragu memanggil Rania dengan sayang di depan Arsyad.


Rania mengerutkan keningnya, tapi dia tahu, kalau Dio memanggil dia sayang karena menutupi hubungan mereka yang tidak baik-baik saja.


"Ya sudah aku ke dapur," pamit Rania.


Rania menuju ke dapur menghampiri Annisa yang sedang sibuk menyiapkan malam. Rania memeluk Annisa dari belakang karena dia benar-benar merindukan ibu mertuanya.


"Bunda ..." Rania memeluk Annisa dari belakang.

__ADS_1


"Rania … Kamu mengagetkan bunda saja, Nak? Kamu sudah datang? Mana suamimu?" tanya Annisa pada Rania dam mencium pipi Rania.


"Dio sedang sama Abah dan opa, bunda," jawab Rania.


"Bagaimana? Kamu bahagia?" tanya Annisa.


"Bahagia dong bunda," jawab Rania dengan senyum bahagia menutupi keadaan rumah tangganya yang tidak baik-baik saja.


"Syukur alhamdulillah kalau kalian bahagia," ucap Annisa yang sedikit tidak yakin kalau Rania bahagia menikah dengan Dio.


"Ada yang bisa Rania bantu, Bunda?" tanya Rania.


"Ini saja, di tata di meja makan, Nak. Sama siapkan piring dan gelas," jawab Annisa.


"Oke bunda." Rania menata masakan yang sudah siap di meja makan. Rania menata piring dan gelas juga di meja makan dan menuangkan air putih di dalam gelas.


Rania tidak menyangka akan menjadi bagian dari keluarga Alfarizi. Meskipun dia tidak mendapat cinta dari Dio, setidaknya kedua mertua dia menyayanginya. Apalagi opa Rico. Dia juga menyayangi dirinya.


Saat dia sedang menata masakan di meja makan, Najwa menemuinya. Najwa sengaja menemui Rania karena tadi dia bertanya pada Dio, di mana Rania.


"Ran," sapa Najwa.


"Kamu sudah pulang, Najwa?" tanya Rania.


"Sudah, Ran bisa kita bicara sebentar," pinta Najwa.


"Emm … bisa," jawab Rania.


Najwa mengajak Rania ke teras belakang, Rania berjalan di belakang Najwa. Mereka duduk beriringan di samping kolam renang yang tidak terlihat orang.


"Kamu ingin bicara apa Najwa?" tanya Rania.


"Ran, aku minta maaf sebelumnya. Aku akui, aku sangat mencintai Dio, dan hubungan kami memang tidak bisa bersatu karena kamu tau sendiri aku dan Dio saudara sepupuan. Dan, maaf, jika aku hingga saat ini dan entah sampai kapan masih sangat mencintai Dio," ucap Najwa.


"Najwa, kamu boleh mencintai Dio, karena mencintai itu fitrah manusia. Tapi, kalian harus tau, cinta juga tidak seperti itu caranya. Jangan jatuhkan kehormatan mu Najwa, walaupun di depan orang yang kamu cintai sekalipun," tutur Rania.


Najwa hanya terdiam saat Rania berkata seperti itu. Najwa tidak mengerti kenapa Rania bisa berbicara seperti itu.


"Iya, aku tahu Rania," ucap Najwa.


"Kalau tahu, kenapa kamu melakukannya?"


"Melakukan apa Rania? Aku sama sekali tidak melakukan apa-apa dengan Dio," ucap Najwa.


"Najwa, aku tahu kamu sudah dalam berhubungan dengan Dio. Aku hanya mengingatkan saja, karena kamu sahabatku. Aku tidak mau, kamu sampai menyerahkan kehormatan mu pada laki-laki sebelum menikah, kalau kamu mau lebih dari itu, kamu bilang dengan Abah dan bunda baik-baik. Jangan seperti itu. Aku siap bercerai dengan Dio jika kamu dan Dio menginginkan untuk menikah." Rania langsung pergi meninggalkan Najwa setelah berkata seperti itu pada Najwa.

__ADS_1


Dengan air mata berlinang Rania langsung pergi ke toilet. Dia menangis di dalam toilet. Rasa sesak semakin terasa di dadanya, meratapi nasibnya yang menikah dengan orang yang dicintainya tapi suaminya tidak mencintai dirinya.


__ADS_2