THE BEST BROTHER

THE BEST BROTHER
S3 Cinta Untuk Mereka Bab 80 "Tak Sadarkan Diri"


__ADS_3

Annisa sampai di rumah Arsyad. Dia segera mengemasi baju-bajunya, sakit yang di rasakan Annisa saat ini, bukan sakit karena terpisah dari Arsyad. Melainkan sakit karena semua menyalahkan Annisa. Annisa percaya, suaminya akan segera sembuh, suaminya akan kembali lagi padanya, dan tak akan ada pengganti Annisa di sisi suaminya. Annisa percaya itu.


Annisa masuk ke kamar mandi, dia membersihkan badannya, masih ada sisa darah suaminya yang sudah mengering di tangannya. Annisa menangis, menjerit sejadi-jadinya di kamar mandi, dengan di iringi emercik air yang mengguyur dirinya dari shower.


"Kak, Arsyad……!" teriak Annisa di dalam kamar mandi.


Dia duduk bersimpuh di lantai dengan guyuran air yang mengalir dari shower. Tak peduli dia sudah menggigil kedinginan, Annisa terus menangis di bawah guyuran air.


Sudah hampir 1 jam Annisa masih di kamar mandi, hingga Dio dan Shifa selesai menata baju-bajunya untuk di bawa ke rumahnya. Ya, malam ini juga Annisa memutuskan untuk kembali ke rumahnya. Rumah yang dulu di tempati dia bersama Arsyil suami pertamanya yang juga adik kandung dari Arsyad suaminya sekarang.


"Kak, bunda kok lama?"tanya Dio.


"Iya, bunda kok lama di kamarnya. Coba aku lihat, aku khawatir dengan bunda," jawab Shifa.


"Ayo kak, lihat bunda," ajak Dio yang langsung berlari menuju ke kamar bundanya.


Dio dan Shifa membuka pintu kamar Annisa, beruntung pintu kamar nya tidak di kunci. Mereka mencari bundanya di setiap duduk kamar, tapi tidak ada. Dio akhirnya mencari Annisa di kamar mandi. Benar dugaan Dio, bundanya ada di dalam kamar mandi dan sudah jatuh pingsan. Beruntung tubuh Annisa masih terbalut dengan bajunya yang tadi ia kenakan.


"Bunda….! Kak, Kak Shifa, panggil Om Jordy atau Om Kevin atau siapapun, bunda pingsan, kak!" teriak Dio.


Shifa dengan kaget dan panik mendengar bundanya pingsan, dia segera berlari ke luar dan mencari orang, untuk membantu mengangkat bundanya. Dan Shifa bertemu dengan Mba Lina yang baru saja menyiapkan makan malam.


"Mba Lina, bunda pingsan, tolong panggil siapapun di luar untuk membantu mengangkat bunda," ucap Shifa.


Mba Lina bergegas keluar memanggil Kevin dan Jordy yang saat itu masih merokok di pos satpam.


"Tolong…! Siapapun, tolong, Bu Annisa pingsan di kamar mandi," ucap Mba Lina dengan panik.


Jordy dan Kevin berlari ke kamar Annisa, juga Mas Joko ikut ke kamar Annisa. Kevin mengangkat tubuh Annisa yang basah kuyup dan dingin sekali. Kevin merebahkan tubuh Annisa di tempat tidurnya.


"Mba Lina, ambil handuk dan keringkan tubuh Bu Annisa!" titah Kevin pada Mba Lina.


"Shifa, bantu Mba Lina mengeringkan tubuh bunda, sayang," titah Kevin pada Shifa dengan lembut.


"Ayo yang lain keluar, biar Mba Lina dan Shifa mengeringkan badan Bu Annisa dan menggantikan bajunya," ajak Kevib pada semuanya.

__ADS_1


Dio juga keluar dari kamar bundanya. Dio duduk di ruang tengah sambil menundukkan kepalanya dan memijit keningnya. Dia tidak menyangka opa dan tentenya tega melakukan ini semua pada bundanya. Dio benar-benar kecewa pada mereka.


"Opa, tante, tidak seharusnya kalian seperti ini pada Bunda. Kalian ingkar dengan kata-kata kalian. Kalian semua sudah


menyakiti hati bunda. Mulai sekarang, Dio yang akan menjaga bunda, Dio pastikan tidak ada satupun orang yang akan menyakiti bunda lagi," gumam Dio.


Dio merasakan apa yang di rasakan bundanya. Apalagi bundanya tengah hamil. Dio tak menyangka semua menyalahkan bundanya. Kecewa, itu yang Dio rasakan saat ini. Tapi, bagaimanapun, Rico adalah opanya. Orang tua dari ayahnya. Dan di dalam tubuh Dio dan Shifa mengalir darah Alfarizi


"Maafkan Dio, opa, bukan Dio membenci opa, Dio hanya kecewa dengan opa. Opa yang membujuk bunda untuk menjadi istri Abah, tapi opa sendiri yang mengusir bunda. Ini semua begitu menyakitkan bagi bunda, dan Dio merasakannya, opa. Apalagi bunda saat ini sedang hamil. Opa tega sekali. Maaf jika suatu saat nanti Dio, bunda, dan kak Shifa tidak mau lagi kembali ke sini,"gumam Dio.


Kevin melihat Dio yang saat itu terlihat sedang menyiratkan kemarahannya dalam wajahnya. Kevin mendekati Dio, duduk di samping Dio dan mengusap punggung Dio.


"Kamu laki-laki, jaga bunda kamu di saat seperti ini. Beri kekuatan pada bundamu, jangan tunjukan rasa sedih, dan rasa amarahmu pada orang-orang yang sedang mendzolimi bunda, kamu, dan Shifa," tutur Kevin.


"Iya, Om. Dio tidak menyangka saja Tante Shita dan Opa akan seperti itu pada bunda. Dio tau, bunda sangat terpukul dengan keadaan Abah, di tambah dengan perlakuan opa dan Tante Shita. Dio takut, kandungan bunda kenapa-napa, karena dulu bunda sempat keguguran, saat Dio masih kecil," ucap Dio.


"Kamu harus menjaga bunda mu, masih banyak orang yang sayang pada Bunda. Tenangkan hati bunda dulu, biar nanti paman berusaha membujuk opa dan tante mu itu,"ucap Kevin.


"Iya, om, terima kasih. Om jangan pergi ya, om ikut ke rumah Dio. Nanti kalau Dio mau ke mana-mana Dio bingung dengan siapa,"pinta Dio.


Dio melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam kamar Annisa. Dan Kevin menyuruh Mba Lina menyiapkan makanan untuk Annisa dan di bawa ke kamar. Terdengar suara telepon rumah berdering. Kevin beranjak dari tempat duduknya dan mengangkat telepon yang ada di pojok ruang tengah.


"Hallo dengan saya, Kevin. Ada yang busa saya bantu?" tanya Kevin pada orang yang di seberang telepon..


"Ya, Vin, ini Aku Rico. Bagaimana, apa Annisa di ruamah?" tanya Rico di seberang sana.


"Iya, Bu Annisa pingsan dan sampai sekarang baru sadar," jawab Kevin.


"Annisa pingsan?" tanya Rico yang menandakan kepanikan pada Annisa.


"Iya, pak," jawab Kevin


"Emmm…setelah Annisa sadar, dia harus segera meninggalkan rumah," ucapan Rico kembali datar, dan sepertinya Rico sedikit bimbang, untuk menyuruh Annisa keluar dari rumah Arsyad.


"Tanpa di suruh Pak Rico, Annisa sudah mau keluar dari sini, tapi karena tadi pingsan jadi, mereka tidak jadi pergi dari sini, dan mungkin itu semua karena Bu Annisa sedang…."ucapan Kevin terhenti, dia lupa kalau tidak boleh memberitahukan perihal kehamilan Annisa pada siapapun.

__ADS_1


"Annisa kenapa? Annisa sedang apa?"tanya Rico yang begitu penasaran.


"Annisa sedang terpukul hatinya, pak. Apa bapak tidak bisa, berubah pikiran, agar Bu Annisa tetap tinggal di sini dan menemui suaminya, bagaimanapun juga, Bu Annisa masih istri Pak Arsyad," jelas Kevin.


"Aku tidak ingin di bantah, antarkan Annisa pulang ke rumahnya, dan setelah itu, kamu dan Jordy temui aku di rumah sakit," titah Rico lewat telepon pada Kevin.


"Baik, pak," ucap Kevin.


Kevin menutup teleponnya. Dan dia melihat keadaan Annisa di kamarnya. Dio dan Shifa terlihat sedang membujuk Annisa makan di kamarnya. Wajah Annisa terlihat sangat pucat sekali.


"Bu Annisa, makanlah, ibu butuh tenaga, kasihan bayi di dalam perut ibu, ibu sudah seperti ini, apa ibu mau kehilangan bayi ibu?"ucap Kevin.


"Kak Arsyad.…." hanya itu yang terucap dari bibir Annisa dengan berderai air mata.


"Bu Annisa, tolonglah makan sesuap saja, kasihan Dio dan Shifa, juga bayi ibu di dalam perut," bujuk Kevin.


"Benar kata Om Kevin, bunda harus makan, bunda harus kuat, bunda wanita yang sangat kuat. Bunda makan, ya?"bujuk Shifa.


"Iya sayang, bunda akan makan, maafkan bunda, maafkan bunda,"ucap Annisa sambil memeluk kedua anaknya.


"Bunda tidak salah, bunda harus makan, ya?" Dio menyuapi Annisa dengan telaten.


Baru 5 suapan, Annisa sudha tidak mau makan lagi, tapi lumayan setidaknya Annisa sudah terisi perutnya walaupun hanya 5 suapan nasi saja.


"Bunda, makan apelnya." Shifa memberikan satu potong apel pada bundanya.


"Maaf, Bu, tadi Pan Rico menelepon, menanyakan ibu," ucap Kevin.


"Menanyakan aku sudah pergi dari rumah apa belum, kan? Iya, aku akan segera pergi, kalian sudah siapkan baju kalian? Maafkan bunda ya, nak?" Annisa mencoba tegar dengan ke adaan ini.


"Iya, bunda. Ke mana pun bunda pergi, Dio akan ikut," ucap Dio.


"Shifa juga, kita akan bertiga lagi bunda, seperti dulu," ucap Shifa dengan menahan kesedihan di dalam hatinya.


Sesak sekali rasanya dada Shifa saat ini. Harus kembali melihta bundanya karena terpisah dari orang yang sangat ia cintai. Shifa ingin sekali menumpahkan kesedihan dalam hatinya. Tapi, dia tidak mau melihat bundanya sedih karena Shifa ikut sedih. Shifa juga tidak menyangka, opa yang ia sayangi, Tante yang ia kagumi, ternyata menggoreskan luka pada hati bundanya. Orang yang sangat Shifa sayangi.

__ADS_1


__ADS_2