
Annisa sudah sampai di depan restoran yang dia tuju, Vera sudah terlihat menunggu Annisa dan Rere di depan restoran.
"Vera…!"panggil Annisa dengan seri, mereka berlari dan saling berpelukan melepaskan rindu.
"Miss you honey,"ucap Vera dengan memeluk Annisa
"Miss you too, ihh..perutnya sudah buncit. Sexy sekali kamu, Ver. Giman butik dan bengkel?"tanya Annisa.
"Aman terkendali, Nis. Tenang saja,"ucap Vera.
"Kamu sendiri atau di antar Donni?"tanya Annisa.
"Aku sendirian naik taxi, bengkel ramai terus Nis, jadi Donni sering lembur,"ucap Vera
Vera memang di percaya Annisa untuk mengurus butik Annisa, dan Donni suami Vera, dia adalah mekanik di bengkel Arsyil yang sekarang menjadi kepala bengkel, dan Mas Wahyu menjadi penanggung jawab bengkel menggantikan Arsyil. Saat lembur biasanya Donni menginap di rumah Annisa, karena memang Donni dan Vera yang Annisa percayakan untuk mengurus rumahnya setelah Annisa di Berlin. Jadi rumah Annisa tidak kosong.
"Alhamdulillah, aku ingin sekali ke rumah, tapi setelah ini aku ada janji dengan papah dan Kak Arsyad di cafe Kak Shita, tidak tau papah akan bicara apa pada aku dan Kak Arsyad,"ucpa Annisa.
"Paling mau menjodohkan kalian,"ucap Rere.
"Yups, betul sekali apa kata kamu, Re,"ucap Vera.
"Kalian itu, ayo masuk aku sudah lapar." Annisa mengajak kedua sahabatnya itu masuk di dalam restoran. Mata Annisa sini menyusuri setial sudut ruangan untuk mencari tempat kosong dan nyaman untuk mereka.
"Kita ke sebelah sana, yuk,"ajak Nisa. Mereka duduk di sebelah pojok ruangan yang lumayan luas, dan di situ hanya ada dua meja yang berdekatan.
Saat mereka sampai meja mereka sibuk dengan memilih menu makanan. Annisa memanggil pelayan saat sudah selesai memilih menu yang di pesannya. Annisa menoleh ke meja sebelah yang di tempati dengan 2 laki-laki dan satu wanita.
"Kak Arsyad, Kak Ray,"ucap Annisa dengan lirih sambil memandangi merek yang sedang asik mengobrol dan makan.
Arsyad terlihat begitu akrab dengan wanita berjilbab yang ada di sampingnya. Wanita itu adalah Lintang, karyawan bari dinkantor Arsyad. Annisa juga melihat wanita itu perhatian sekali dengan Arsyad, hingga mengambilkan nasi dan lauk untuk Arsyad. Restoran yang mereka pilih adalah restoran seafood yang terkenal, dan dulu waktu Annisa masih kuliah, Arsyad pernah mengajaknya dia ke restoran ini bersama Rere dan Vera juga.
"Hei…melamun saja, kamu lihatin siapa sih, Nis?"tanya Rere yang juga melihat ke arah di mana Annisa melihat.
"Eh….Pak Arsyad, Pak Rayhan, lalu itu siapa, Nis, wanita di samping Pak Arsyad?"tanya Rere.
"Iya, siapa dia, Nis?"tanya Vera.
"Aku tidak tau, mungkin itu yang namanya Lintang, kata Rayhan kemarin ada karyawan baru untuk menggantikan posisi Arsyil, mungkin dia orangnya, yang bernama Lintang,"ucap Annisa dengan mengira-ngira.
"Sudah, bairlah mereka makan,"ucap Annisa.
Otak Annisa masih berpikir, dia tak menyangka Arsyad bisa seakrab itu dengan Wanita, padahal Arsyad yang Annisa kebal sangat dingin dengan wanita.
"Kak Arsyad benar-benar sudah melupakan Kak Mira, teganya dia seperti itu, bercanda gurau dengan wanita lain, kasihan Kak Mira."gumam Annisa.
Tak sengaja Annisa menyenggol tempat tissue dan hatain ke bawah, suasana yang hening berubah menjadi pecah saat Annisa menyenggol tempat tissue hingga jatuh ke bawah.
"Nis, hati-hati dong, itu tempat tissue, kalau kesal jangan banting-banting tempat tissue, Nis,"ucap Rere dengan menggodanya.
"Orang gak sengaja kok,"jawab Annisa dengan santai dan mengambil tempat tissue yang terjatuh.
"Annisa…!"seru Arsyad dan Rayhan bersamaan.
"Kak Arsyad, Kak Ray,"ucap Annisa dengan menyunggingkan senyumannya.
"Kalian di sini juga?"tanya Arsyad.
"Iya, kak,"jawab Annisa. Meja mereka memang sangat berdekatan sekali.
"Mari kak, saya makan dulu,"ucap Annisa.
Annisa, Rere dan Vera menikamati menu yang mereka pesan. Annisa dari tadi masih memikirkan Arsyad. Dalam hatinya bertanya-tanya apa benar yang di katakan Rayhan, kalau Arsyad menyukai Lintang.
"Apa iya, Kak Arsyad menyukai Lintang? Kalau iya, kok cepat sekali bisa membuka hatinya untuk wanita lain, tapi kalau tidak, Kak Arsyad tidak mungkin membiarkan Lintang mengbilkan nasi dan lauknya, sendok pun Lintang siapkan untuk Kak Arayad."gumam Annisa dalam hati.
"Ahh…ngapain aku memikirkan mereka,"ucap Annisa dengan lirih yang terdengar Rere dan Vera.
"Mereka siapa, Nis?"tanya Rere.
"Iya, mereka siapa, kamu siang bolong malah melamun, itu makanannya jangan di anggurin, katanya lapar, malah di diemin makanannya,"ucap Vera.
"Ah...iya,"ucap Annisa gugup.
Arsyad memerhatikan Annisa dari mejanya, dia melihat Annisa tidak menyentuh-nyentuh nasinya, dan pandangannya menatap kosong ke segala arah. Dia beranjak dari tempat duduknya dan berjalan ke arah meja Annisa.
"Nis, kamu makan tapi makanannya di biarkan begitu saja, kasihan makanannya,"ucap Arsyad sambil duduk di kursi sebelah Annisa.
Rayhan melihatnya dia heran dengan sikap Arsyad, setelah membuka ponselnya tiba-tiba menghampiri Annisa.
"Ehh…malah pindah tempat tuh orang,"ucap Rayhan dengan menepuk jidatnya.
"Siapa wanita itu, Pak Rayhan?"tanya Lintang.
"Oh…dia adik ipar Arsyad, istri dari Almarhum adiknya, yang sekarang posisindo kantor digantikam oleh kamu, Lin,"ucap Rayhan.
"Oh…jadi dia istri dari adiknya Pak Arsyad?"tanya Lintang.
"Iya Lin,"jawab Rayhan.
Lintang terus memandangi Arsyad yang mengobrol di samping Annisa, tatapannya menyiratkan rasa yang iri dan cemburu melihat Arsyad mendekati adik iparnya itu.
Arsyad masih mengajak bicara dengan Annisa yang dari tadi terdiam karena kata-kata Arsyad.
"Kamu belum sarapan, kan?"tanya Arsyad
__ADS_1
"Dari mana Kak Arsyad tau?"tanya Annisa.
"Ada yang melapor padaku,"jawab Arsyad
"Siapa?"tanya Annisa.
"Nih lihatlah." Arsyad menunjukan pesan dari seseorang yang mengatakan Annisa belum sarapan.
"Papah?"tanya Annisa.
"Iya,"jawab Arsyad.
"Syad, ajak makan siang Annisa dulu, sebelum kamu menemui papah di cafe Shita. Dia tadi pagi belum sarapan." Begitu isi pesan dari Rico.
"Habiskan makananmu,"titah Arsyad.
"Iya tuh, pak. Tadi sih semangatnya luar biasa mau makan di sini, ehhhh sudah datang makanannya malah gak di sentuh-sentuh,"ucap Vera
"Sepertinya kamu butuh di sentuh Nis, biar mau makan,"goda Rere
"Apaan sih, Re. Iya ini aku makan."ucap Annisa.
"Gitu dong, apa mau Kakak suapi kamu?"tanya Arsyad.
"Aku bisa makan sendiri,"ucapa Annisa.
"Ya sudah habiskan makananmu,"titah Arsyad.
"Iya bawel, sana balik ke meja kakak, tuh kasihan ceweknya di tinggalin,"ucap Annisa dengan senyumannya.
"Ceweknya siapa? Dia karyawan baru ku, yang menggantikan posisi Almarhum suami tercintamu,"ucap Arsyad.
"Oh...yang menggantikan posisi Kak Mira di hati Kak Arsyad juga?"tanya Annisa.
"Nis, tidak ada yang bisa menggantikan posisi Almira di hati ku, dia hanya karyawanku saja,"ucap Arsyad.
"Yakin? Masa karyawannya juga mengambilkan nasi untuk kakak juga?"tanya Annisa.
"Ya biarin saja, kanapa kamu yang sewot, Nis. Sudah habiskan dulu makananmu,"ucap Arsyad.
"Iya, iya, bawel sekali kamu, kak. Sana balik ke meja kakak," titah Annisa pada Arsyad.
"Sebelum habis makananmu aku tidak akan kembali ke mejaku,"ucap Arsyad.
"Terserah lah…!"tukas Annisa.
Rere dan Vera saling berpandangan dengan mengagkat kedua bahunya melihat Arsyad dan Annisa berdebat karena makanan. Rayhan dan Lintang yang sudah selesai makan mereka menghampiri ke meja Annisa.
"Syad, aku tunggu malah lama di sini,"tukas Rayhan.
"Om Rico ada-ada saja," ucap Rayhan dengan tertawa.
"Oh iya, Annisa, kenalkan ini Lintang, karyawan baru kakak, yang menggantikan posisi Arsyil di kantor. Lintang, ini Annisa istri dari Almarhum adik saya, Arsyil. Yang sekarang posisinya di gantikan oleh kamu,"ucap Arsyad. Dia memperkenalkan Annisa pada Lintang begitupula sebaliknya.
"Hai Lintang, selamat datang di Alfarizi Group, semoga betah ya kerja di kantor kakak iparku yang cerewet ini,"ucap Annisa dengan menjabat tangan Lintang
"Iya, pasti saya betah, mba,"ucapnya.
"Iyalah betah, sama duda masa tidak betah, kenapa aku yang marah ya? Aku gak suka saja, kakak iparku cepat sekali pindah ke lain hati, cepat sekali dia move on melupakan Kak Mira. Aku gak terima, kasihan Kak Mira."gumam Annisa dalam hati.
"Nis, kamu ke sini naik apa?"tanya Arsyad
"Nebeng Rere, kak. Tadi dari kantor,"ucap Annisa.
"Ya sudah kamu ikut kakak saja, aku akan antar Ray dan Lintang dulu ke kantor, nanti kita berangkat ke cafe Shita menemui papah,"ucap Arsyad.
"Kebetulan, aku tidak mau kakak iparku ini di dekati wanita ini,"gumam Annisa.
"Iya kak, aku ikut kakak,"ucap Annisa.
"Kamu yakin, Nis, mau ikut Pak Arsyad?"tanya Rere.
"Iya, Re. Kan mau sekalian menemui papah,"ucap Annisa
"Oh..ya sudah, nanti aku sama Vera. Kantor aku tinggal bentar ya Bu Bos cantik, aku mau antarkan Bumil satu ini beli perlengkapan buat calon Dede bayinya,"pamit Rere sambil menyentuh perut Vera yang makin membuncit.
"Iya, antarkan Vera. Maaf aku gak bisa antar kamu, Ver. Aku ada urusan dengan papah,"ucap Annisa.
"Iya, tidak apa-apa, good luck deh, nemuin papah Riconya,"ucap Vera.
"Maksudnya?"tanga Annisa.
"Tak ada maksud sih,"ucap Vera sambil menikmati pudingnya.
"Re, jabatanmu lengser lagi dong, Bu Direktur sudah balik ke posisi semula,"ucap Rayhan.
"Iya, Pak Ray, tapi gak apa-apa sih, aku sudah merasakan satu tahun jadi Direktur Utama,lagiyan Bu Direktur pakai acara kabur ke Berlin segala,"ucap Rera.
"Siapa yang kabur, aku tidak kabur, aku ke Berlin memang ada urusan dengan perusahaan papah yang di sana,"ucap Annisa.
"Iya, dan di jodohkan sama Mr Leon yang keren itu kan?"tanya Rere.
"Rere,!"ucap Annisa dengan meninggikan suaranya.
"Apa, tuan putriku, iya kan seperti itu?"tanya Rere.
__ADS_1
"Sudah aku tak mau berdebat denganmu,"tukas Annisa.
Annisa sudah selesai menghabiskan makananya, Arsayd dari tadi mengawasi Annisa agar dia menghabiskan makanannya.
Setelah Annisa selesai makan, Arsyad mengambilkan makanan penutup untuk Annisa. Dia mengambilkan puding untuk Annisa.
"Habiskan…!"titah Arsyad.
"Kenyang, kak,"ucap Annisa.
"Benar kata Arsyil, kamu makannya susah sekali,"ucap Arsyad.
"Kakak sok tau, ih…!"tukas Annisa.
Lintang melihat Arsyad dekat sekali dengan adik iparnya, da merasa sesak melihatnya, apalagi Arsyad perhatian sekali dengan Annisa. Lintang memang menyukai Arsyad, awalnya dia hanya biasa saja, tapi karena sikap Arsyad yang baik dan selalu perhatian, hati Lintang luluh mendapat perhatian dari Arsyad. Padahal memang Arsyad orang yang sangat baik dan perhatian pada semua karyawannya. Dia tak pernah membeda-bedakan karyawan yang punya jabatan tinggi dengan karyawan biasa.
Arsyad sering sekali mentraktir karyawannya, sama seperti papahnya. Arsyad menuruni sifat Rico yang seperti itu, dan kadang ada salah satu karyawan yang merasa terbawa perasaan dengan perlakuan Rico itu. Sama halnya dengan Lintang yang terbawa perasaan karena Arsyad memperlakukan baik dengannya, padahal tidak hanya dengan dia Arsyad baik pada karyawan. Itu kenapa Yulia betah bekerja di Alfarizi.
Annisa juga semakin tau sifat Arsyad yang sebenarnya setelah dia menjadi adik iparnya. Arsyad memang menyayangi adik-adiknya dan sangat perhatian sekali dengan adik-adiknya. Sama dengan perhatian Arsyad untuknya, dia tidak sedikitpun merasa bahwa Arsyad memerhatikan dia karena dia mencintainya kembali. Tapi karena Arsyad sudah menganggap dirinya seperti adik kandungnya sendiri. Jadi dia tidak mempermasalahkan Arsyad perhatian padanya.
"Sudah, Nis?"tanya Arsyad.
"Sudah, sebentar Annisa mau bayar,"ucap Annisa
"Tunggu di sini saja, biar kakak yang membayar,"ucapanya sambil beranjak dari tempat duduknya dan ke kasir untuk membayar.
"Ya sudah, terima kasih kakak ipar yang baik hati,"ucap Annisa.
"Kamu baru tau kalau aku baik, Nis."ucap Arsyad sambil mengusap kepala Annisa dan berjalan ke arah kasir.
Setelah selesai membayar di kasi Arsyad mengajak Rayhan dan Lintang kembali ke kantor. Arsyad juga mngajak Annisa ikut di mobilnya biar nanti sekalian menemuin Rico di caffe Shita. Mereka berjalan menuju ke arah mobil Arsyad.
"Ray kamu duduk di depan dengan Kak Arsyad, biar aku dan Lintang yang duduk di belakang,"ucap Annisa dengan segera, karena Annisa melihat Lintang akan duduk di depan di samping Arsyad.
"Oke, Lintang sama Nisa ya di belakang,"ucap Rayhan.
"Iya, Pak Ray,"ucap Lingtang dengan berat hati.
"Nyebelin sekali adik iparnya Pak Arsyad, aku di suruh di belakang dengan dia,"ucap Lintang dalam hati dengan kesal.
Lintang duduk di samping Annisa, dia menatap Annisa dengan tatapan sini, seakan tidak suka dengan Annisa.
"Aku tidak akan membiarkan kakak iparku dekat dengan kamu,"gumam Annisa dalam hati
Tak lama kemudia mobil Arsyad sampai di depan kantornya.
"Ray, aku langsung menemui papah dengan Annisa, ya?"ucap Arsyad..
"Oke, hati-hati, good luck,"jawab Reyhan.
"Maksudmu?"tanya Arsyad.
"Ah…nanti kalian juga tau kalau sudah di sana, sudah buruan berangkat, kasihan papah mu sudah menunggu,"ucpa Rayhan.
"Eh…Lintang ayo turun, mereka mau pergi berduaan, mau minta restu mereka,"ucap Rayhan dengan bercanda. Tapi hati Lintang tidak merasa seperti bercanda, hati Lintang sangat sesak mendengar ucapan Rayhan.
"Oh…iya Pak Ray,"jawab Lintang sambil turun dari mobil Arsyad.
"Annisa, pindah ke depan…!"titah Arsyad
"Iya, kak."dengan segera Annisa pindah duduk di samping Arsyad.
Rayhan dan Lintang kembali masuk ke kantor. Lintang berjalan cepat di depan Rayhan, dia merasakan sesak di dadanya melihat Arsyad yang perhatian dengan Annisa.
"Bodohnya aku, aku menyukai Pak Arsyad, aku tidak akan menyerah, Lintang bukan orang yang mudah menyerah,"gimana Lintang dalam hati dengan mendudukan dirinya di kursi.
^^^^^
Arsyad majukan mobilnya menuju ke cafe Shita, mereka saling berdiam diri, tidak saling bicara. Arsyad memikirkan ucapan Rere, kalau Annisa di jodohkan pamannya waktu di Berlin, Arsyad tidak menyangka Annisa mah di jodohkan oleh pamannya.
"Kasihan Arsyil, jika wanita yang ia cintai akan menikah lagi,"gumam Arsyad dalam hati.
Sedangkan Annisa, dia memikirkan bagaimana caranya menjauhkan Lintang dari kakak iparnya itu.
"Aku harus menjauhkan Kak Arsyad dari Lintang, kasihan Kak Mira, kasihan Najwa dan Raffi juga, kalau dia dapat ibu sambung seperti Lintang,"gumam Annisa dalam hati.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
♥️happy reading♥️