THE BEST BROTHER

THE BEST BROTHER
Bab 89


__ADS_3

Satu Minggu telah berlalu, Almira dan Arsyad kembali ke rumah abah. Pagi ini Almira memasak untuk sarapan pagi. Dia mengambil alih pekerjaan Asisten rumah tangga nya di rumah. Semua Asistennya kagum melihat perubahan Almira setelah menikah. Dia memang sangat rajin. Tapi, untuk masalah dapur dia tidak bisa sama sekali.


Almira sudah selesai memasak. Dia menyiapkan semua masakannya di atas meja makan dengan di bantu asisten rumah tangganya. Setelah itu dia masuk ke dalam kamar memanggil suaminya. Arsyad terlihat sedang memakai kemeja yang sudah disiapkan oleh Almira.


"Sudah selesai memasaknya?" Arsyad membalikan tubuhnya karena Mira masuk ke dalam kamar. Almira berjalan menuju ke arah Arsyad dan memakaikan dasi suaminya.


"Sudah, ayo sarapan."Almira mengajak suaminya untuk sarapan setelah selesai memakaikan dasi.


"Iya, ayo keluar."ajak Arsyad, dia mencium kening istrinya terlebih dahulu.


Arsyad dan Almira keluar dari kamarnya menuju meja makan. Terlihat Abah dan Ummi sudah berada di meja makan.


"Pagi Abah, Ummi."sapa Mira dan Arsyad bersamaan.


"Pagi." sahut mereka.


"Wah, satu minggu di rumah Ibu mertua sudah bisa masak nih. Masakanmu sungguh enak, Mira. Ummi mu kalah deh."puji Abah pada Almira.


"Abah bisa saja." Almira mengambilkan nasi dan lauk untuk suaminya. Arsyad mulai menyendok makanan yang di ambilkan istrinya. Dia merasakan masakan Mira begitu lezat sekali.


"Benar kata Abah, masakanmu sungguh lezat."ucap Arsyad.


"Benarkah?"tanya Almira.


"Iya, nak. Masakan mu sungguh lezat."sahut Ummi.


Mereka menikmati sarapannya, sekarang Almira benar-benar bisa memasak. Tidak sia-sia perjuangan selama satu minggu belajar memasak dengan ibu mertuanya. Abah menanyakan Arsyad lagi, dia mau atau tidak membantu mengurus perusahaannya.


"Syad bagaimana, sudah bicara dengan papahmu, kalau Abah ingin di bantu kamu mengurus perusahaan Abah?"


"Sudah Abah, iya Arsyad akan membantu abah. Tapi, Arsyad tetap memantau perusahaan papah."


"Bagus kalau seperti itu. Ya sudah Abah pergi ke kantor dulu. Nanti siang, temui Abah di kantor."


"Iya Abah."


Abah pamit dengan ummi untuk ke kantor. Begitu juga dengan Arsyad. Dia juga pamit untuk ke kantor.


*******


Shita belum menemukan gaun yang pas dan cocok untuk pernikahannya. Padahal,waktu tinggal satu minggu lagu. Dia menelfon Vino untuk mengantarkannya ke butik Annisa. Vino langsung menjemput Shita untuk pergi ke butik Annisa. Mereka langsung menuju ke butik Annisa.


Di butik Annisa sedang sibuk menata gaun dan baju edisi terbaru Minggu ini. Dia di bantu oleh asistennya dan Rachel. Iya, Rachel sering sekali berkunjung ke butik Annisa, setelah dia lulus kuliah dan putus dengan Adam kekasihnya, dia sering pergi ke butik Annisa atau ke Caffe Shita.


Annisa menemui customernya, dia laki-laki mungkin seumuran Arsyad, laki-laki itu terlihat bersama wanita yang mungkin seumuran dengan mamahnya Annisa.


"Selamat siang mas, ibu, ada yang bisa saya bantu?"tanya Annisa dengan senyuman manisnya.


"Mba, saya mau mencari baju untuk ibu saya mba."jawabnya.


"Oh, mari mas saya tunjukan di sebelah sana."Annisa mengajak laki-laki tersebut ke arah baju khusus syar'i. Iya karena ibu dari laki-laki itu berpakaian Syar'i.


Rachel mencari Annisa untuk menanyakan baju-baju yang tadi ditatanya mau diletakan di mana.


"Nisa, aku cariin ternyata kamu di sini. Itu baju dan gaunnya mau di letakan di sebelah mana? Terus yang punya kak Shita juga sudah aku siapkan, biar nanti dia memilihnya."ucap Rachel.


"Kamu taruh di sebelah sana saja Chel."ujar Nisa.


"Oke." jawab Rachel. Saat Rachel akan meninggalkan Nisa, dia melihat laki-laki yang sepertinya dia kenal. Rachel mendekati laki-laki tersebut yang sedang memilih baju bersama ibunya.


"Hai....akhirnya ketemu lagi di sini."sapa Rachel.


"Rachel, kamu di sini juga?"tanya laki-laki tersebut.


"Iya, aku di sini. Kamu Lukman teman Kak Arsyad kan? yang waktu itu menabrak ku?"tanya Rachel.


"Iya benar. sedang apa kamu di sini?"


"Bantu Annisa di sini. Kamu?


"Siapa Lukman?"tanya ibu Lukman.


"Ini saudara sepupu Arsyad Bu."jawab Lukman.


"Oh...cantik sekali kamu,nak."ucap ibu Lukman.


"Hallo ibu,ibu bisa saja. Saya Rachel, sepupu Kak Arsyad,temannya Lukman."ucap Rachel memperkenalkan diri pada ibunya Lukman.


"Namanya cantik, sesuai dengan orangnya."


"Aaahh...ibu jangan memuji aku seperti itu. Ibu sedang memilih baju?"


"Iya, Lukman ingin membelikan baju untuk ibu."


"Mau Rachel bantu?"


"Boleh-boleh."


Rachel membantu ibunya Lukman mencari baju. Rachel memilihkan 3 potong gamis untuk ibunya Lukman.


"Bisa lemah lembut juga tuh orang, biasanya jutek sekali."gumam Lukman sambil memandang mereka dari kejauhan.


"Cepat akrab sekali mereka."Lukman masih memperhatikan mereka hingga ibunya selesai memilih baju. Ibu Lukman menunjukan baju yang di pilihnya.

__ADS_1


"Ibu suka dengan yang ini?"tanya Lukman.


"Iya, nak. Tapi, ibu lebih cocok yang ini, sepertinya yang dua ini terlalu glamor sekali. Jadi, ibu pilih yang ini saja."


"Ya sudah ayo Bu kita bayar dulu ke kasir."


Lukman membawa baju pilihan ibunya ke kasir. Setelah itu mereka pamit untuk pulang.


"Rachel, terima kasih sudah memilihkan baju yang cocok untuk ibu. Ibu pamit dulu ya, nak."


"Iya hati-hati ibu."


Lukman dan ibunya berlalu meninggalkan butik Annis. Rachel kembali membantu Annisa menata baju dan gaun.


"Siapa tadi Chel?"tanya Nisa


"Oh tadi, dia teman Kak Arsyad, kemarin waktu Kak Arsyad menikah tidak semaja bertemu dengan dia, sebenarnya aku ingin maki-maki dia lagi, eeh ada ibunya, masa mau maki-maki, tidak sopan lah ."jelas Rachel.


"Maksudnya? memaki dia gimana Chel?"tanya Nisa.


"Ya, dia itu Nis nyebelin, pas waktu itu nabrak aku di toilet, udah nabrak, baju ku jadi kotor, gak nolongin lagi, main kabur saja. Eeehh ketemu di pelaminan nya Kak Mira dan Kak Arsyad, aku marahi dia malah aku di tegur Kak Arsyad."jelas Rachel dengan sedikit m aku marah.


"Sudah, jangan seperti itu, nanti kamu jatuh cinta sama Mas Lukman itu lho Chel."ledek Nisa.


"Gak mungkin lah, sudah ahhh aku mau lanjutin nata baju."


"Nata apa? sudah aku tata semua."sahut Nisa.


"Oh, ya sudah terima kasih."ucap Rachel.


Nisa dan Rachel duduk bersama menunggu Shita dan Vino datang. Hari ini butik Annisa benar-benar ramai pengunjung, Rachel juga ikut membantunya.


Tak lama kemudian Shita dan Vino datang, mereka langsung menui Annisa dan Rachel yang sedang duduk di kursi tamu.


Annisa langsung mengajak Shita dan Vino ke ruangannya untuk melihat gaun yang tadi sudah di siapkan. Annisa menunjukan beberapa gaun untuk Shita. Tapi, mata Shita tertuju pada satu gaun cantik yang ada di lemari.


"Nis itu bagus sekali gaunnya, sudah pesanan orang ya?"tanya Shita.


"Emmm....yang di lemari itu kak?"Annisa kembali bertanya pada Shita.


"Iya Nis."


"Itu gaun aku Kak, dan di sebelahnya jas milik Arsyil. Sudah lama sebenarnya sih kita memilih baju untuk menikah. Dan, itu dia pilihan Arsyil kak."jelas Annisa.


"Wow....Arsyil sebegitu prepare sekali untuk pernikahannya nanti. Aku tak menyangka dia begitu Nis."


"Itulah Arsyil kak, dia begitu cuek, tapi tidak nyuekin aku sekali sih. Itu juga semua pilihan Arsyil kak, bukan aku yang memilih. Biarlah aku turuti saja apa yang Arsyil mau."


"Ternyata itu milik kamu, kalau bukan aku mau itu, cantik sekali Nis ini. Pinter juga adik ku memilihkan gaun buat calon istrinya."


"Bukan begitu kak, kan dari kemarin memang kakak yang selalu tidak cocok dengan model gaun untuk ku. Coba lihat ini, ada yang cocok untuk ku?"


"Oh....kirain aku tidak bisa menurutmu. Bagaimana kalau yang ini?" Vino menunjukan salah satu gaun untuk Shita.


"Bagus kak, cantik. Seperti aku kan?"ucap Shita sambil mencubit pipi Vino


"Iya kamu cantik, siapa yang bilang kamu ganteng."ujar Vino.


"Ya sudah Shita coba dulu kak." Shita ke kamar Pas untuk mencoba gaun pilihan calon suaminya, dia ditemani Annisa dan Rachel. Annisa membantu Shita mencoba gaunnya.


"Ihh....cantik ya Kak Shita, jadi pingin nikah aku kak." ucap Rachel.


"Nikah dengan siapa, ku kan jomblo sekarang."ledek Shita.


"Tuh kan, sekarang aku yang di ledekin, dulu Kak Shita dan Kak Arsyad yang jomblo terus, ini mereka mau menikah, aku yang jomblo." ucap Rachel dengan kesal.


"Tenang saja, kan tadi baru ketemu tuh sama Mas Lukman, kan sudah kenal dengan ibunya, memilihkan baju untuk ibunya lagi."sahut Annisa.


"Nisa.....bisa diam tidak!"seru Rachel


"Mas Lukman? sepertinya aku pernah dengar nama itu."ucap Shita.


"Iya kan teman Kak Arsyad kak"


"Oh, iya Mas Lukman yang mengajar di Ponpes milik Pakdenya Kak Mira. Apa tadi dia kesini?"tanya Shita


"Iya Kak, tadi kesini beli baju buat ibunya."jawab Nisa.


"Wah, cocok sama kamu Chel."ucap Shita.


"Sudah ah....kalian ini. Ayo keluar, tunjukan gaun ini pada kak Vino." Rachel mengajak Shita keluar dan menunjukan gaun yang di pakai Shita pada Vino.


"Bagaimana kak?"tanya Nisa pada Vino


"Cantik. Ini saja sayang, cantik sekali gaunnya."ujar Vino.


"Oke, aku ambil yang ini Nis." Shita kembali berganti pakaiannya dan memberikan gaunnya pada Nisa untuk di bungkus, Vino juga sudah memilih jas untuk pernikahannya nanti.


******


Malam ini Arsyad dan Almira mengemasi barang dan pakaian yang akan di bawa ke rumah Almira. Mereka terlihat sibuk sekali. Sesekali Arsyad menjahili istrinya hingga istrinya merajuk. Dia melepas ikat rambut istrinya dan menyembunyikannya.


"Arsyad...kembalikan ikat rambutku!"pinta Mira dengan merajuk. Iya rambut Almira memang panjang dan lurus. Bahkan lembut sekali rambutnya. Dia menata baju terpaksa dengan tergerai rambutnya, karena Arsyad tak juga mengembalikan ikat rambutnya.

__ADS_1


"Mas, susah ini, kembalikan jepit rambutnya."pinta Mira sekali lagi.


"Cium dulu dong."Arsyad menunjuk pipinya minta di cium. Almira menciumnya dengan kilas


"Ah....gak mau, gak ikhlas kamu sayang nyiumnya. Masa seperti itu." Arsyad masih minta di cium Almira lagi. Almira kembali mencium pipi Arsyad.


"Kok di pipi saja, aku mau ini juga sayang." Arsyad menarik tubuh Mira, mereka berhadapan. Tanpa aba-aba Arsyad langsung mencium bibir manis Mira dalam-dalam. Almira juga menikmati dan membalas ciuman Arsyad hingga lama.


"Mas, sudah, aku mau lanjutkan itu dulu. Nanti lagi ya? sekarang mana ikat rambutku mas." ucap Mira sambil mengatur nafas yang tak beraturan. Karena, tadi Arsyad lama tidak melepas ciumannya.


"Ini sayang, terima kasih. Sini aku ikatkan rambutnya." Arsyad mengikatkan rambut Almira hingga terikat sempurna dan rapih.


"Kamu bisa mengikat rambut mas?"tanya Mira


"Bisa, adik ku kan perempuan, aku dulu sering sekali mengikatkan rambut Shita, dia suka sekali rambutnya tergerai, padahal rambutnya panjang, kalau sudah kelihatan berantakan aku yang ikatkan rambutnya. Dan, tak terasa Minggu depan dia akan menikah. Rasanya aku ingin sekali punya anak perempuan. Rambutnya panjang seperti umminya dan cantik juga seperti umminya." Arsyad berkata sambil mengingat masa kecilnya bersama Shita dan membayangkan mempunyai anak perempuan.


"Kamu ingin anak perempuan?"tanya Mira lagi.


"Iya, kamu ingin laki-laki apa perempuan?"Arsyad bertanya pada Mira sambil memeluk dari belakang dan menyandarkan kepalanya di bahu Mira.


"Apa kehendak Allah saja mas. Di beri perempuan Alhamdulillah, di beri laki-laki ya Alhamdulillah, yang penting sehat mas."jawab Mira.


"Iya sayang, semoga cepat ada buah cinta kita di dalam perut kamu sayang." ucap Arsyad sambil mengelus perut Almira.


"Aamiin, semoga bulan ini ya sayang. Katanya kalau menikah setelah menstruasi cepat hamilnya. Semoga saja di berikan rezeki di rahimku bulan ini." Almira memegang tangan Arsyad yang masih menggelus perutnya dan mencium tangan Arsyad.


"Aamiin....ya sudah, yuk bereskan itu dulu, habis itu kita bikin dedek lagi ya sayang."Arsyad kembali menggoda istrinya.


"Hmmm....maunya gitu terus.."ucap Mira sambil menarik hidung Arsyad.


"Mau sama istri sendiri kok. Ya sudah, ayo buruan beresin lagi, sudah jam 9 malam tuh. Jam 9 malam itu jam kita di kasur sayang."


"Iya, iya, sabar dong mas." Almira kembali menata baju-baju ke dalam kopernya.


Mereka sudah selesai menata barang-barang dan bajunya. Sebelum tidur mereka seperti biasa melakukan sholat dua rakaat dulu dan setelah itu mereka kembali melakukan ritual malam di ranjang. Arsyad tak pernah bosan melakukannya dengan Almira setiap malam dan hampir berkali-kali di setiap malamnya.


Arsyad memeluk tubuh Almira, nafas mereka masih belum teratur. Almira memandangi wajah suaminya dan mencium hidung Arsyad.


"Ada apa? masih ingin lagi?" tanya Arsyad sambil mencium kening istrinya.


"Nanti saja, aku masih lelah mas. Aku ingin memandangmu saja."ucap Mira yang masih memandang wajah suaminya.


"Kamu tahu mas, dulu setelah mengembalikan tasbih milikmu di masjid, aku ingin sekali mengenal lebih dekat denganmu. Tapi, sayang sekali besoknya aku harus berangkat ke Kairo untuk melanjutkan S3 ku di sana. Dan, akhirnya aku bilang sama Abah, meminta Abah untuk selalu mengawasi kamu. Hingga aku menolak lamaran dari seseorang karena aku ingin sekali dekat dengan kamu dan menjadi pendampingmu." Almira menjelaskan kepada Arsyad saat pertama dia jatuh hati dengannya.


"Kamu menolak lamaran seseorang? kalau boleh tahu, siapa seseorang itu?"tanya Arsyad.


"Emm...dia temanmu juga mas. Sebenarnya Pakde yang menjodohkanku dengannya, dan dia mau karena sudah lama juga mengenalku. Tapi, aku tidak mau, karena aku menganggap dia hanya sebatas teman, tidak mau untuk lebih dari seorang teman."ucap Mira.


"Iya sayang. Lalu, siapa laki-laki itu?"tanya Arsyad sekali lagi.


"Dia Lukman mas."jawab Mira. Arsyad menaikan alisnya, seakan tak percaya Lukman pernah melamar Mira.


"Oh, pantas saja waktu pernikahan kita Lukman sangat gelisah. Tapi, tidak segelisah Naila sih."ucap Arsyad.


"Kabar Naila bagaimana ya mas, dia sama sekali tidak pernah menelfon atau mengirim pesan padaku. Padahal dulu sering sekali kita bertukar kabar."


"Yah, mungkin dia sibuk. Dan pastinya tahu lah, kalau kita masih menikmati masa-masa pengantin baru."


"Mungkin juga mas."


"Sayang, Minggu depan setalah acara pernikahan Shita, kita ke Villa ku ya, aku ingin mengajak kamu ke sana."ajak Arsyad.


"Emmm...boleh, aku mau, cie ngajakin Istri Honeymoon."ledek Mira.


"Iya, kita Honeymoon biar gak ada yang ganggu kita, gak salah kan mengajak istri sendiri Honeymoon?"ucap Arsyad.


"Iya gak salah, kalau ajak istri orang itu salah mas."


"Ya sudah ayo tidur, sudah jam 11 itu."ajak Arsyad.


"Sudah, tidak mau lagi?"Almira menawarkan diri kepada suaminya.


"Emmm...satu kali lagi ya sayang?"pinta Arsyad.


Almira mengiyakan permintaan suaminya, mereka kembali beradu di atas ranjang hingga tubuhnya terkulai lemas. Setelah itu, mereka membersihkan badannya dan tidur. Seperti biasa, Arsyad memeluk istrinya hingga merek tertidur pulas.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


♥️happy reading♥️


maaf Author hari ini super sibuk sekali, jadi baru bisa up. Jangan sedih ya kalau ada salah satu atau salah dua diantara mereka aku cut. Biar tambah seru sepertinya.heheheh....ini cuma rencana saja sih sebenarnya. Mana tega saya meniadakan mereka salah satu atau salah dua ..😁


__ADS_2