
Sebenarnya mengapa Arsyad minta turun di Caffe Shita karena dia ingin meminta Shita mengantarnya ke toko emas untuk membeli cincin untuk mengkhitbah Almira besok pagi. Shita masuk ke ruang kerjanya Arsyad mengikutinya. Dia duduk di depan Shita yang sedang mengecek laporan keuangan Caffenya.
"Ta, kakak mau minta tolong bisa?"tanya Arsyad.
"Iya bisa, minta tolong apa kak?"jawabnya sambil berkutat dengan laporannya.
"Ayo antar kakak pergi mencari cincin Ta, sore ini masih ada kan toko emas yang buka?"
Shita menghentikan aktivitasnya, dia melihat tajam kepada Arsyad. Karena, Arsyad meminta tolong untuk mengantarnya ke toko emas.
"Kakak mau beli cincin untuk siapa?tanya Shita.
"Untuk mengkhitbah Mira besok."jawabnya tegas dan pasti.
Shita tersenyum bahagia seakan dirinya yang akan di khitbah.
"Kakak yakin?"tanya Shita.
"Sangat yakin, ayo Ta kita berangkat sekarang."ajak Arsyad.
"Baiklah, ayo kita berangkat." Shita menarik kakaknya dengan penuh semangat.
Arsyad melajukan mobil Shita menuju ke toko emas. Sesampainya di sana Arsyad memilih cincin untuk Mira. Shita juga ikut memilihnya, Shita yang mencobanya karena jari Mira sama dengan jari Shita ukurannya.
"Kak, ini cantik sekali cincinnya."ucap Shita.
"Iya Ta, ambil yang ini ya sama sekalian pilih kotak cincin yang bagus."ucap Arsyad.
"Okey." Shita memilih tempat cincin yang unik dan klasik.
Arsyad juga memilih kalung untuk Almira dengan Liontin berbentuk tanda Cinta.
"Kakak memilih kalung juga?"tanya Shita.
"Iya, untuk Mira saat nanti kakak resmi menjadi suami dia. Ini bagus kan Ta?"
"Bagus kak, cantik seperti Kak Mira."jawabnya.
"Kaya pernah lihat wajah Mira saja kamu Ta."
"Ih...kakak, tadi Shita kan di kamar Kak Mira, dia melepas Khimar dan Niqabnya saat hendak wudhu kak."
"Oh ya?"
"Iya kakak. Ayo sudah kan milih nya kak?"
"Sudah, ini tinggal kakak membayarnya."
Arsyad membayar cincin dan kalung yang di pilihnya, setelah itu mereka pulang ke rumah dan memberi kabar pada Orang tuanya kalau besok ingin segera mengkhitbah Almira.
Sepulang membeli cincin Arsyad mengajak Shita makan malam di luar duku sebelum pulang. Dia menuju ke restoran favoritnya, sebelum ke restoran, mereka mampir ke masjid untik sholat maghrib terlebih dahulu.
Arsyad memarkirkan mobilnya di halaman masjid. Dia melihat mobilnya ada di parkiran masjid juga.
"Ta lihat, ini mobil kakak kan?"tanay Arsyad pada shita.
"Iya kak, apa Arsyil yang bawa?"
"Iya pasti dia yang bawa, tumben sekali dia mampir ke masjid dulu, biasanya langsung pulang ke rumah."
"Ya sudah kak,Shita ke tempat wudhu dulu."
"Iya sana."
Shita meninggalkan kakaknya menuju ke tempat wudhu untuk mengambil air wudhu. Arsyad juga segera menuju ke tempat wudhu agar tidak ketinggalan sholat berjamaah. Setelah mengambil air wudhu Arsyad masuk ke dalam masjid. Saat masuk ke dalam masjid dia mendapati Arsyil duduk di shof paling depan. Tapi, Arsyad sholat sunnah dulu di shof ketiga. Setelah selesai sholat sunnah Dia menghampiri Arsyil dan duduk di sebelahnya menunggu sholat berjamaah di mulai.
"Kak Arsyad. Kakak baru pulang?"tanya Arsyil.
"Iya, itu sama Shita juga." jawabnya.
Iqomah sudah di kumandangkan dan mereka mulai sholat maghrib berjamaah. Setelah sholat maghrib Arsyad dan Arsyil keluar dari masjid. Dan, Shita sudah menunggu di depan mobilnya sambil mengangkat telfon karena tadi Ibunya menelfon Shita.
"Kak, aku pinjam mobil nya, mau jemput Annisa dan sekalian makan malam di luar."ucap Arsyil.
"Iya bawa saja, aku juga mau makan malam di luar dengan Shita. Oh iya Syil, jangan malam-malam pulangnya, kakak mau berbicara penting nanti malam dengan kamu dan lainnya."
"Mau bicara apa kak?"tanya Arsyil.
"Sudah pokoknya ada yang ingin kakak bicarakan."
"Oke..kalau begitu aku berangkat dulu kak."
Saat Arsyil dan Arsyad berjalan menuju mobilnya, Shita dengan cepat menghampiri kedua saudaranya.
"Kakak, Arsyil kita di suruh pulang ke rumah, ibu ingin makan malam bersama kita."ucap Shita.
"Aku padahal ada janji dengan Nisa makan malam."jawab Arsyil.
"Ya sudah begini saja, kamu jemput Nisa, nanti kita makan malam bersama di rumah."ucap Arsyad.
"Ya kak, aku jemput Nisa sekarang, sampai bertemu di rumah."
Arsyil segera masuk ke dalam mobilnya dan langsung mengemudikannya untuk menjemput Nisa. Arsyad masuk ke dalam mobil bersama Shita lalu langsung pulang ke ruamah.
"Kak, tumben sekali ibu ingin kita kumpul semua, katanya mau bicara sesuatu. Ibu kenapa ya? Shita lihat ibu sering melamun kak."ucap Shita dengan khawatir.
"Mungkin karena dari kemarin kita sering telat pulang. Jadi, tak sempat makan malam bersama."jawab Arsyad.
"Iya kak, tapi Shita sedikit khawatir dengan kesehatan ibu."
"Sudah jangan khawatir seperti itu. Ibu pasti tidak apa-apa kok." Arsyad coba menenangkan adiknya. Padahal dia sendiri juga sangat khawatir dengan ibunya.
Arsyil menjemput Annisa di butiknya dan mengajak makan malam di rumahnya. Annisa sedang bersiap-siap untuk pulang, dia menutup butiknya dibantu oleh asistennya. Arsyil sampai di butik Nisa, seperti biasa dia langsung masuk ke dalam butik Annisa.
"Syil udah sampai?"tanya Annisa.
__ADS_1
"Iya, kamu sudah selesai beres-beresnya?"
"Sudah, yuk jadi makan malam di luar?"
"Jadi, tapi kita makan malam di rumah ku. Ibu tadi menuyuruh makan malam di rumah saja."jawab Arsyil.
"Hmm...oke...aku juga kangen dengan Ibu, ayo berangkat."
"Sebentar Nis."ucap Arsyil yang membuat Nisa menghentikan langkahnya.
"Ada apa Syil?"tanya Nisa.
Arsyil mendekati Annisa dia menarik tubuh Nisa dalam pelukannya.
"Aku merindukan ini, sudah lama aku tidak memelukmu Nisa." Arsyil memeluk erat Nisa.
Entah kenapa hati Arsyil tidak tenang saat Shita bilang ibu menyuruh semua harus makan malam di rumah. Karena, Arsyil melihat ibunya dari kemarin sering mengalamai gangguan kesehatan.
"Arsyil, kamu baik-baik saja kan?"tanya Annisa yang melihat calon suami nya sedang tidak baik-baik saja. Nisa sangat faham bagaimana Arsyil.
"Aku takut ibu kenapa-kenapa Nis. Dan, tadi ibu menelfon Kak Shita menyuruh kita semua pulang untuk makan malam bersama. Katanya ibu sangat merindukan kami."ucap Arsyil yang tanpa sadar meneteskan air mata di depan calon istrinya.
"Apa ibu sakit Syil?"
"Aku tidak tahu Nisa, tapi memang ibu kesehatannya sedikit menurun, ibu sering merasakan sakit kepala jika papah mengajak ke dokter ibu menolaknya."jawab Arsyil.
"Jangan menangis, ibu pasti baik-baik saja Syil percaya padaku." Annisa mengusap lembut air mata Arsyil dan mengecup pipinya. Dia kembali memeluk Arsyil erat sekali dan mencoba memberi ketenanga pada Arsyil.
"Iya Nisa, ibu pasti baik-baik saja. Ayo kita berangkat."ajak Arsyil.
Mereka keluar dari butik Annisa, tak lupa Nisa mengunci pintu butiknya.
Saat keluar Nisa tidak melihat sepeda motor Arsyil, yang dia lihat hanya mobil Arsyad.
"Kamu tidak bawa sepeda motor? Kamu sama Kak Arsyad?"tanya Nisa.
"Aku sendirian, tadi pagi aku berangkat dengan Kak Arsyad. Karena, dia akan pergi dengan Kak Mira."jawab Arsyil.
"Dengan Kak Mira?" tanya Nisa.
"Iya Nisa, sepertinya mereka sudah lebih dekat."jawab Arsyil.
"Alhamdulillah semoga makan malam ini ada kabar baik ya Syil."
"Iya sayang, ayo masuk." Arsyil membukakan pintu mobilnya.
*****
Di rumah Andini sedang sibuk menata makanan untuk makan malam. Dia memasak makanan kesukaan anak-anaknya. Entah kenapa malam ini Andini begitu semangat memasak tidak seperti biasanya. Seperti akan ada sesuatu dia bersemangat memasak untuk makan malam.
"Jangan terlalu lelah sayang."ucap Rico sambil memeluk Andini dari belakang
"Sayang, aku lama sekali tidak memasak, aku kangen memasak kesukaan kamu dan anak-anak."jawabnya sambil membalikan tubuhnya agar berhadapan dengan Rico suaminya.
"Iya sayang. Tapi, tetap saja jangan kelelahan kamunya, untuk malam ini saja ya, besok bibi lagi yang masak."
"Aku begini semenjak kamu sering sakit kepala, ayolah sayang periksa."
"Mas Rico sayang, aku tidak apa-apa itu cuma sakit kepala biasa. Coba lihat, istrimu ini baik-baik saja kan?"
"Selalu seperi itu kamu. Sayang, aku tidak mau kamu sakit." Rico memeluk erat Andini. Dia sangat mengkhawatirkan kesehatan istrinya. Tanpa sadar Rico meneteskan air matanya. Andini merasakan ada sesuatu yang menetes di bahunya.
"Kamu menangis mas?"tanya Andini.
"Aku takut kamu kenapa-napa Andin, aku tidak mau Andin."tangis Rico semakin pecah. Andini membelai lembut wajah suaminya dan menyeka air matanya.
"Hei....kok malah menangis gini. Aku tidak apa-apa mas. Sudah jangan menangis." Andini mengecup lembut bibir Rico. Namun, Rico menahannya saat Andini akan melepas ciumanannya. Dia mencium Andini lebih dalam lagi. Dan, tanpa mereka sadari Shita dan Arsyad sudah sampai rumah dan langsung masuk ke ruang makan. Arsyil dan Nisa pun sudah sampai di rumah, mereka juga langsung masuk ke dalam ruang makan. Mereka semua terkejut melihat orang tua mereka sedang Bermesraan seperti muda lagi.
"Ehem...."Arsyad bedehem membuyarkan aktivitas Rico dan Andini.
"Ehhhh......sudah pulang kamu Syad. Main nylonong saja. Duh....digiring semua lagi adik-adiknya dan calon menantu papah."ucap Rico papahnya.
Andini hanya tersenyum malu karena dia kepergok anak-anaknya dan juga Annisa calon maenantunya.
"Lagiyan pah, kenapa mesti di sini sih...papah hebat jiwanya masih muda sekali."ucap Arsyad meledek papahnya.
"Nanti kamu merasakan, tuh tanya Arsyil saja sama Nisa."
"Nah....kenapa aku yang kena nih." ucap Arsyil sambil menarik kursi makan dan melirik Annisa.
"Yah....kan kamu yang dari kecil udah pacaran."ucap papah Rico.
"Ih...papah kok malah ribut sih....malu ya....ketahuan lagi mesra-mesraan gitu...."ucap Shita yang manja pada papahnya.
"Itu Arsyad yang mulai."ucap Rico.
"Kok aku?"
"Kan kamu yang tadi berdehem."
"Papah sudah jangan ribut. Ayo makan, kalian ada Annisa malah ribut." Andini melerai perdebatan meraka yang konyol.
"Ibu yang masak semua?"tanya Shita.
"Malam ini khusus ibu yang memasak, ibu kangen masakin makanan kesukaan kalian."jawab Andini.
"Ibu tidak sakit kan?"tanya Arsyil.
"Tidak, ibu baik-baik saja. Coba lihat ibu sehat kan."
Arsyil mendekati ibunya dan memeluknya erat dia menangis memeluk ibunya.
"Ibu jangan sakit, Arsyil sayang sama ibu."ucap Arsyil sambil terisak.
"Ibu tidak apa-apa sayang. Sudah jangan menangis, ada Annisa kamu tidak malu?"
__ADS_1
"Gak aku menangis untuk ibu, aku gak malu. Karena, aku menangis untuk orang yang sangat aku cintai, yaitu ibu."ucap Arsyil.
"Ibu juga sangat mencintai kalian. Sini semua peluk ibu." Arsyad, Shita dan Arsyil memeluk ibunya.
"Anak-anak ibu yang sangat baik, saling menghargai satu sama lain. Tetap akur terus ya, jangan ada perdebatan di antara kalian."ucap Andini sambil menyeka air matanya.
Rico yang melihat semua itu juga meneteskan air matanya. Begitu juga Annisa, dia hingga sesegukan menangis melihat tiga bersaudara yang sangat mencintai ibunya. Dia merasakan betapa besarnya Arsyil mencintai ibunya dan juga dirinya.
"Iya benar, jika seorang laki-laki yang sangat mencintai dan menyayangi ibunya pasti dia kana menghargai, mencintai dan menyayangi kekasihnya atau istrinya. Iya, aku merasakan saat ini. Arsyil sangat mencintai ibunya. Dan, dia adalah laki-laki yang pertama kali bisa menghargai ku sebagai kekakasihnya. Sama seperti dia menghargai ibunya. Syil, tetaplah berbakti pada ibumu, walaupun kita sudah menikah nanti."gumam Nisa dalan hati.
"Ayo makan, papah sudah lapar nih, tuh Nisa kan jadi menangis Syil."ucap papah Rico.
"Ehh iya....ayo makan...Nisa sini duduk dekat ibu. Maaf ibu nyuekin kamu. Ibu kangen sama kamu." Andini menyuruh Annisa duduk di sampingnya.
"Nisa juga kangen ibu. Ibu sehat kan?"
"Iya ibu sehat, ayo cicipi masakan ibu, ambil nasinya sekalian ambilkan Arsyil juga."
Andini mengambilkan nasi untuk Rico, Annisa juga mengambilkan nasi untuk Arsyil.
"Yah....aku tak ada yang mengambilkan nasi. Shita ambilkan kakak nasi dong, tuh ibu kan ngambilin Papah, Annisa ngambilin Arsyil. Jadi sebelum kamu ngambilin nasi Vino lebih baik ngambilin aku dulu Ta."ucap Arsyad yang membuat mereka tertawa.
"Tenang kak,sebentar lagi kan ada yang mengambilkan kamu nasi."ucap Shita.
"Kamu bisa saja Ta."jawab Arsyad.
"Makanya terima Mira Syad."sahut papah Rico.
"Oh iya...Arsyad lupa, papah.....ibu.....besok antar Arsyad ke rumah Mira."ucap Arsyad.
"Mau apa ke rumah Mira?"tanya Andini.
"Papah....Ibu.... Arsyad sudah yakin dengan keputusan Arsyad ini, kalau besok malam akan mengkhitbah Almira pah, bu."jawab Arsyad.
"Kamu yakin?"tanya Rico.
"Yakin sekali pah."jawab Arsyad.
"Alhamdulillah" ucap Rico dan Andini bersamaan.
"Dan, tadi kakak sudah beli cincin nih untuk melamar sang pujaan hati." Shita menunjukan cincin yang di beli Arsyad untuk Mira.
"Alhamdulillah, benar kan pergi sehari bersama saja udah membuahkan hasil. Selamat ya kak."ucap Arsyil.
"Iya, terima kasih Syil. Ayo lah makan, aku lapar sekali."ucap Arsyad.
Mereka makan malam bersama. Suasana makan malam jadi terasa hangat. Andini kembali ceria karena anak sulungnya akan segera melamar Almira. Begitu juga Rico, dia juga sesegera mungkin akan menghubungi keluarga Abah Fajri karena Arsyad menerima perjodohannya dan akan segera melamar putri kesayangannya.
Setelah selesai makan malam, Arsyil mengajak Nisa duduk di teras depan, semnetara Arsyad dan Shita masuk ke kamarnya masing-masing.
Rico sedang menikmati teh hijau di ruang tengah bersama Andini Istri tercintanya.
"Pah, kabari Abah sana, kan Arsyad besok mau ke rumahnya."ucap Andini.
"Abah?"tanya Rico.
"Iya Abah Fajri. Yah, denger Arsyad manggilnya abah jadi ibu ikut-ikutan pah."jawab Andini.
"Oh...begitu, kirain abah siapa. Iya ini papah mau telfon Abah dulu."
Rico mengambil ponselnya untuk menghubungi Abah Fajri.
Panggilan terhubung.
{Assalamualaikum Abah Fajri, maaf malam-malam saya mengganggu.}
{Wa'alaikumsalam Pak Rico. Tidak apa-apa pak, ada kabar tentang perusahaan atau tentang calon menantuku Arsyad?}
{Wah....abahnya Arsyad sudah peka sekali ini.hehehe....iya Abah, Alhamdulillah Arsyad menerima perjodohannha dengan Mira. Dan, besok malam keluarga kami akan berkunjung ke ruamah Abah untuk mangkhitbah putri Abah yaitu Almira. }
{Apa Arsyad sudah yakin dengan keputusannya?}
{Iya Abah, dia malah sudah menyiapkan keperluan untuk besok mengkhitbah Mira.}
{Syukurlah, besok saya tunggu Pak Rico. Kira-kira jam berapa datangnya? Biar kami bersiap-siap.}
{Sehabis Isya Abah.}
{Baiklah saya sampaikan pada ummi dan Almira.}
{Iya Pak Fajri terima kasih. kalau begitu saya tutup telfonnya. Assalamualaikum.}
{Sama-sama Pak. wa'alaikumsalam.}
Rico mengahiri telfonnya dengan Pak Fajri. Dia menaruh ponselnga dan kembali menikmati teh hijau di cangkirnya. Andini sangat bahagia sekali akhirnya Arsyad mau membuka hatinya untuk Almira.
"Ya Allah, sehatkan aku agar aku bisa menimang cucu-cucuku kelak, Alhamdulillah putraku Arsyad akan melamar Almira, walaupun aku tau Almira bukan pujaan hatinya. Aku tau Arsyad putraku masih menyimpan rasa untuk Annisa. Namun mau bagaimana lagi, dia sangat menyayanhi Arsyil. Dia rela terluka hati untuk adiknya. Ya Allah, selalu berikan Arsyad kebahagaian yang tiada henti dengan Almira saat sudah menikah nanti. Dan, jangan ada perselisihan lagi antara kedua putraku."gumam Andini dalam hati.
Rico yang melihat Andini melamun tiba-tiba mencium pipi Andini.
"Jangan melamun sayang."ucap Rico sambil mengecup pipi Andini.
"Aku bahagia mas, Arsyad akan melamar Mira, pasti sebentar lagi Arsyad menikah dan kita mempunyai cucu. Senang sekali kalau aku bisa menimang cucuku, apalagi hingga mereka dewasa aku masih ada mas."ucap Andini..
"Iya sayang, pasti kita bisa bersama-sama menghabiskan masa tua kita bermain dengan cucu-cucu kita. Sehat selalu ya sayang." Rico mencium pipi Andini dan membawanya dalam pelukan. Andini menenggelamkan wajahnya di dada Rico.
.
.
.
.
.
__ADS_1
♥happy reading♥