THE BEST BROTHER

THE BEST BROTHER
S3 Cinta Untuk Mereka Bab 62 "Mantan Pacar"


__ADS_3

Arsyad membuka jendela kamarnya setelah selesai mengaji. Seperti biasa setelah sholat subuh dia tidak lupa membaca Al-Qur'an. Annisa masih tertidur pulas sekali. Arsyad sengaja tak membangunkannya karena ia tau istrinya sedang datang bulan. Arsyad mendekati istrinya yang masih tertidur dengan memeluk guling di balut selimut tebal. Arsyad mencium kening istrinya dan mengusap kepalanya. Badan Annisa terasa sedikit demam dan wajahnya pucat. Arsyad menepuk-nepuk pipi istrinya dengan lembut agar istrinya bangun dari tidurnya.


"Kakak, perutku sakit sekali." Annisa memegang tangan Arsyad dan mengerjapkan matanya menyesuaikan cahaya mentari yang masuk melalui celah jendela kamarnya.


"Apa sakit sekali, sayang?"tanya Arsyad.


"Iya, kak," jawabnya dengan suara nya yang sangat parau.


Annisa terlihat meringis kesakitan dengan memegang perutnya. Arsyad sedikit kahawatir dengan Annisa. Dia baru pertama kali melihat Annisa kesakitan saat datang bulan. Iya, baru pertama kalinya Arsyad melihat istrinya kesakitan seperti itu. Selama bersama, Arsyad tidak tahu menahu tentang Annisa, karena memang pernikahan yang tak di inginkan itu membuat mereka 3 bulan lamanya tidur berbeda kamar, jadi Arsyad tidak pernah tau kalau Annisa datang bilang atau sakit, atau apapun itu.


"Apa kalau datang bulan pasti sakit?"tanya Arsyad.


"Kadang, kak,"jawabnya.


"Ya sudah, istirahat, kakak akan buatkan teh hangat dan sarapan untukmu, biar yang membuat sarapan Mba Lina, kamu di kamar saja,"ucap Arsyad.


"Hemm," jawab Annisa sambil menenggelamkan wajahnya di bantal.


Arsyad mengecup kepala Annisa sebelum meninggalkan kamarnya untuk membuatkan teh hangat dan sarapan untuk istrinya.


"Bahkan aku tidak tau, selama dia datang bulan sering sakit seperti ini, suami macam apa aku, Ya Allah,"gumam Arsyad.


Arsyad sampai di dapur, dia melihat adik kesayangannya sedang membantu Mba Lina memasak untuk sarapan. Arsyad mendekati rak piring yang ada di samping Shita.


"Kakak, mana Annisa? Tumben jam segini belum keluar kamar?"tanya Shita.


"Annisa sedang sakit perut, Ta,"jawab Arsyad.


"Apa Mba Annisa datang bulan?"tanya Mba Lina.


"Kok Mba Lina tau?" Arsyad balik bertanya pada Mba Lina, asisten rumah tangganya.


"Iya, kadang Mba Nisa kalau datang bulan perutnya sakit, bahkan sampai demam, pak," jawab Lina.


"Aku semakin bodoh dan tak berguna sekali menjadi suamimu, Annisa. Bahkan aku tak pernah tau itu, dan aku tak pernah mempedulikanmu, saat kamu kesakitan,"gumam Arsyad sambil menuangkan teh dari poci.


"Mba, nanti kalau sudah siap sarapannya tolong di antarkan ke kamar saya,"titah Arsyad pada Lina.


"Iya, pak," jawab Lina.


Arsyad membawa tehnya dan berjalan menuju kamarnya lagi, tapi langkah kaki Arsyad terhenti, saat Lina memanggilnya.


"Pak, tunggu sebentar,"panggil Lina.


"Iya, mba, ada apa?"tanya Arsyad.


"Saya ambilkan kompresan buat Mba Nisa, biasanya kalau sakit sekali perutnya, Mba Nisa mengompres perutnya dengan air hangat,"ucap Lina.


Lina mengambil alat kompres dan mengisi air hangat dari teremos. Shita bingung, kenapa kakaknya tidak mengerti hal sesepele ini pada istrinya.


"Kak, masa kamu gak tau sih, Annisa kalau datang bulan perutnya sampai sakit gini," ucap Shita.


"Kakak tidak tau, Ta, benar-benar tidak tau,"ucapnya.


"Aku tau, kakak tidak mencintai Annisa waktu itu, bukan berarti kakak seperti, ini,"ucap Shita.


"Iya, kakak memang salah ,Ta,"ucap Arsyad.


"Ini pak, kompresannya." Mba Lina memberikan alat kompresan pada Arsyad.


"Ya sudah, aku bawa ini dulu, Ta,"ucap Arsyad.


Arsyad berjalan ke arah kamar Annisa. Dia masuk ke kamarnya dan melihat Annisa yang masih meringkuk di tempat tidur. Dai mendengar rintihan Annisa lirih yang keluar dari mulutnya. Arsyad menaruh teh hangatnya di meja kecil sebelah tempat tidurnya. Dia berjongkok dan menggenggam tangan Annisa lalu menciumnya.


"Sayang, apa sakit sekali?"tanya Arsyad,


Annisa hanya mengangguk dan meremas tangan Arsyad yang sedang menggenggamnya.


"Sayang, ini kompresannya, di kompres dulu perutnya." Arsyad memberikan alat kompres yang berisi air hangat pada Annisa.


"Makasih, kak," ucapnya lirih.


Annisa meletakan kompresannya dengan perlahan di atas perutnya. Lagi-lagi dia terlihat meringis kesakitan.


"Maafkan aku sayang, aku tidak tau kalau kamu datang bulan selalu sakit seperti ini perutnya,"ucap Arsyad.


Annisa tak mengindahkan suaminya berbicara, dia masih merasakan sakit yang luar biasa biasa di perutnya.


"Kak, sakit sekali." Suara Annisa sedikit memekik kesakitan.


"Minum teh nya dulu sayang,"titah Arsyad.


"Kak, air putih hangat saja,"pinta Annisa.


Arsyad mengambilkan air putih hangat untuk istrinya, Annisa masih menunggu Arsyad mengambil air putih.


"Ini sakit sekali, biasanya tidak seperti ini sakitnya,"lirih Annisa.


Arsyad membawakan air putih hangat dan sarapan pagi untuk istrinya, dia duduk di samping Annisa dan mengambilkan air putih untuk Annisa.


"Minumlah, sayang." Annisa meminum air putihnya.


"Aku suapi, ya. Hari ini kamu jangan ke kantor, kamu istirahat saja di rumah,"ucap Arsyad.


"Kalau sudah mendingan nanti aku ke kantor, kak,"ucap Annisa.


"Jangan membantah, kamu sedang sakit, jangan di paksakan," ucap Arsyad.


"Ayo sayang, buka mulutnya,"titah Arsyad.


Arsyad menyuapi istrinya hingga makanan di piring habis. Arsyad masih sangat merasa bersalah pada dirinya sendiri, dia tidak mengetahui semua apa yang istrinya keluhkan dari dulu.

__ADS_1


"Kamu seperti ini sudah lama?"tanya Arsyad.


"Maksud kakak?" Annisa balik bertanya pada suaminya.


"Maksudnya, kalau datang bulan kamu sakit seperti ini?"tanya Arsyad.


"Kadang sakit, kadang tidak, kak. Tapi aku tidak tau, ini sangat sakit sekali,"jawab Annisa.


"Maafkan kakak, sayang. Kakak tidak tau kalau kamu setiap datang bulan sakit seperti ini, malah Mba Lina yang tau kalau kamu datang bulan pasti sakit perutnya," ucap Arsyad sambil mengusap perut Annisa.


"Jangan bicara seperti itu sayang, kemarin keadaannya beda. Sudah jangan cemberut, nanti sebentar lagi juga tidak sakit perutnya,"ucap Annisa.


Arsyad membawa istrinya dalam pelukannya. Annisa merasakan hangatnya pelukan suaminya, dia mengeratkan pelukannya dan mengusap lembut punggung suaminya.


"Kak, jangan tinggalin Annisa, Annisa takut kehilangan kakak,"ucap Annisa.


"Kok bicaranya seperti itu?"tanya Arsyad.


"Nisa takut saja, kakak pergi dari sisi Annisa,"ucap Annisa.


"Jangan berkata seperti itu, kakak tidak akan pernah meninggalkan kamu." Arsyad memeluk erat istrinya dan mencium keningnya.


"Aku mau ke kamar mandi kak, mau mandi dan menemani kamu sarapan,"pinta Annisa.


"Aku siapkan air hangat dulu, tunggu sebentar. Dan, habiskan dulu apelnya,"ucap Arsyad.


Annisa menganggukkan kepalanya dan mengambil piring kecil yang berisi potongan buah apel merah kesukaannya. Dia menusuk potongan apel dengan garpu dan memasukan kedalam mulutnya. Arsyad benar-benar tau apa yang di butuhkan istrinya saat ini. Arsyad sudah selesai menyiapkan air hangat untuk mandi Annisa. Dia mengambilkan bathrobe milik Annisa dan mengambilkan 1 pembalut dan celana dalam untuk Annisa.


"Mandilah, kakak tunggu di sini." Arsyad memberikan bathrobe dan pembalut yang tadi ia ambil pada Annisa.


"Terima kasih sayang, aku mandi dulu." Annisa berpegangan tangan Arsyad untuk bangun dari tempat tidurnya.


Arsyad memapah Annisa masuk ke dalam kamar mandi. Sebelum Arsyad keluar dari kamar mandi, dia melarang Annisa menutup pintu kamar mandinya terlebih dahulu.


"Sayang, tunggu sebentar, jangan tutup dulu pintunya,"ucap Arsyad.


"Kenapa?"tanya Annisa.


"Sudah nurut saja,"ucap Arsyad.


Arsyad keluar dari kamar mandi, dia berjalan menuju meja rias, dia mengambil sisir dan ikat rambut milik Annisa, karena dia melihat rambut Annisa tergerai berantakan. Arsyad masuk ke dalam kamar mandi dia mendekati Annisa yang sedang berdiri di depan cermin dan membersihkan wajahnya dengan pembersih wajah sebelum ia mandi.


"Kak, aku lupa gak ambil…."ucapan Annisa terhenti karena Arsyad memotong ucapan Annisa.


"Ambil ini?" Arsyad menunjukan ikat rambut yang ada di tangannya.


"Suamiku, kamu selalu tau apa yang aku butuhkan,"ucap Annisa dengan mengembangkan senyum manisnya.


"Itu harus sayang, sini kakak ikatkan rambut kamu, sayang." Arsyad menyisiri rambut istrinya dan mengikatkan rambut Annisa.


"Sudah, mandilah, apa mau kakak mandiin?"tanya Arsyad dengan senyuman menggoda istrinya.


"Aku sedang datang bulan kakak, jangan macem-macem, sudah kakak tunggu di luar, aku mau mandi dulu,"ucap Annisa.


"Masih sedikit, nanti aku oleskan minyak kayu putih juga sembuh,"jawab Annisa.


"Ya sudah, mandilah sayang, kakak tunggu di luar,"ucap Arsyad.


Arsyad keluar dari kamar mandi, dia berjalan ke arah lemari pakaian milik Annisa, dia mengambilkan baju santai untuk Annisa di pakai Annisa di rumah. Dia sengaja tidak mengizinkan Annisa untuk ke kantor. Arsyad memikirkan siang ini Leon akan datang ke rumah bersama paman dan sepupu Annisa. Dia sedikit khawatir dan cemburu sekali jika nanti Annisa menemui Leon tanpa dirinya.


"Hari ini Leon datang, Annisa di rumah, aku harus pulang cepat, nanti Annisa menemui Leon tanpa aku,"gumam Arsyad sambil menaruh baju Annisa di tempat tidur.


Annisa keluar dari kamar mandi, dia melihat suaminya sedang mengambil pakaian kerjanya di lemarinya. Annisa mendekatinya dan memeluk suaminya dari belakang.


"Biar aku yang siapkan, sayang," ucap Annisa sambil mencium pipi suaminya.


"Pakai dulu baju kamu, kakak ambil sendiri saja," tutur Arsyad.


Annisa menuruti apa kata suaminya, sebelum memakai baju yang diambilkan suaminya, dia mengoles perutnya dengan minyak kayu putih dulu. Perut Annisa sudah semakin berkurang rasa sakitnya. Arsyad melihat Annisa sedang mengoles kayu putih di perutnya. Arsyad berjongkok di depan perut Annisa dan menciumnya.


"Semoga setelah ini, ada calon dedek bayi di perutmu, sayang,"ucap Arsyad sambil memandang wajah Annisa.


"Aamiin, semoga di segerakan, sayang. Aku rindu menggendong bayi,"ucap Annisa.


"Aku juga, sayang. Lihat anak-anak kita sudah beranjak dewasa semua,"ucap Arsyad.


Annisa mengusap kepala Arsyad yang masih di depan perut Annisa. Arsyad masih berada di depan perut Annisa, dia menciumi perut Annisa hingga Annisa merasa geli, karena bulu-bulu halus di dagu Arsyad mengenai perutnya.


"Sudah, kakak. Geli ih....sana pakai bajunya, aku juga mau pakai baju dulu, nanti aku temani kamu sarapan,"ucap Annisa.


Annisa memakai baju yang tadi di ambilkan Arsyad. Arsyad juga memakai baju kerjanya. Annisa mendekati meja riasnya dia bercermin sambil menyisir rambutnya.


"Nis," panggil Arsyad.


"Leon datang jam berapa, nanti?"tanya Arsyad.


"Mungkin siangan, nanti aku suruh sopir menjemput nya di bandara,"ucap Annisa.


"Baiklah, kalau begitu, aku juga harus pulang sebelum Leon datang,"ucap Arsyad.


"Kok seperti itu?"tanya Annisa.


"Aku tidak mau istriku menemui mantan pacarnya tanpa aku di sisinya,"ucap Arsyad.


"Cie….cemburu ya? Mantan pacar gimana sih, kak, pacaran saja gak,"ucap Annisa.


"Gak pernah pacaran, tapi mau tunangan, iya kan?"ucap Arsyad sambil mencium pipi istrinya yang makin chubby.


"Ini isinya apa sih, sekarang chubby sekali, seperti squishy saja." Arsyad semakin gemas dengan pipi Annisa.


"Ihh…sakit, kakak,"ucap Annisa sambil mengusap pipinya.

__ADS_1


Terdengar ketukan suara ketukan pintu di kamar Arsyad. Arsyad berjalan membukakan pintu kamarnya. Najwa terlihat berdiri di depan pintu kamar Arsyad bersama Dio, Shifa, dan Raffi.


"Bunda.…." Mereka berlari masuk ke dalam kamar dan memeluk Annisa.


"Ada apa sayang, kenapa kalian seperti ini?"tanya Annisa.


"Katanya bunda sakit?"tanya Najwa.


"Tidak, bunda hanya sakit perut, kamu kata siapa?"tanya Annisa.


"Kata aku, Nis," ucap Shita yang juga berada di depan pintu bersama kedua anaknya.


"Kak, Shita, kakak mau pulang sekarang?"tanya Annisa.


"Iya, kakak pamit pulang, kasihan rumah di tinggal terus, kakak juga harus ke cafe, Nis," ucap Shita.


"Tante, Tante jangan sakit," ucap Farrel dan Rana sambil memeluk Annisa.


"Tante sudah tidak sakit, sayang. Kalian mau pulang?"tanya Annisa.


"Iya, tapi nanti Rana pengen ke sini lagi,"ucap Rana.


"Iya, nanti ke sini lagi, kalau hari libur,"ucap Annisa.


"Oh, iya Nis. Hari ini Om kamu dan saudara sepupu kamu kadi ke sini?"tanya Shita.


"Iya, kak. Kakak tidak di sini dulu dengan Kak Vino?"tanya Annisa.


"Kakak dan Kak Vino banyak kerjaan, nanti tiga hari lagi kakak ke sini, kakak penasaran dengan mantan pacar kamu itu, yang kata Kak Arsyad tampannya luar biasa,"ucap Shita dengan menyenggol lengan kakak kesayangannya.


"Apaan sih, Ta," tukas Arsyad.


"Udah bilang saja cemburu," sahut Annisa dengan menggoda suaminya.


"Cemburu banget Annisa, lihat wajahnya saja sudah merah seperti itu," ledek Shita.


"Paman Leon mau ke sini kan, bunda?"tanya Shifa.


"Iya, sayang, nanti paman Leon ke sini,"jawab Annisa.


"Yes! Aku mau tagih janji paman Leon." Shifa sangat senang sekali mendengar Leon mau datang.


"Memang paman Leon janji apa dengan kamu?"tanya Annisa.


"Ada deh,"ucap Shifa.


"Huh…dulu saja kamu gak suka paman Leon," tukas Dio.


"Aku tidak suka kalau paman Leon jadi ayah aku, karena aku inginnya hanya pakde yang menjadi pengganti ayah,"ucap Shifa.


"Lalu, kenapa kamu senang sekali Paman Leon mau ke sini?"tanya Dio.


"Nanti kamu tau sendiri, sudah yuk berangkat sekolah,"ajak Shifa.


"Sudah jangan ribut, kalian berangkat sekolah sana, sudah sarapan, kan?"tanya Arsyad.


"Sudah, Abah, kami berangkat dulu,ya," pamit mereka.


Mereka berangkat sekolah, dan Shita juga berpamitan untuk pulang bersama Vino dan anak-anaknya. Annisa dan Arsyad keluar dari kamarnya melihat anak-anaknya berangkat sekolah dengan sopir pribadinya.


Annisa menanti suaminya sarapan setelah anak-anak berangkat ke sekolah. Beruntung hari ini Arsyad tidak terlalu banyak pekerjaannya, jadi dia bisa berangkat agak siangan ke kantor.


"Aku berangkat ke kantor ya, sayang. Ingat istirahat yang cukup, jangan memikirkan pekerjaan kantor, aku sudah bilang dengan Rere, suruh menghandle semua pekerjaanmu dulu,"ucap Arsyad.


"Iya, sayang. Kamu bilang dengan Rere nya kapan?"tanya Annisa.


"Waktu kamu mandi, aku telepon Rere memakai ponselmu," ucap Arsyad.


"Oh, ya sudah kamu hati-hati sayang,"ucap Annisa.


Annisa mengantar Arsyad ke depan, untuk melihat suaminya pergi ke kantor. Annisa mencium tangan suaminya, dan menghujani wajah Annisa dengan ciuman di depan papah Rico.


"Sudah, nanti wajah Annisa habis di cium kamu, syad,"ucap Rico yang melihat anaknya begitu sayang dengan istrinya.


"Papah, biarin saja cium istri sendiri juga,"ucap Arsyad dan mencium wajah Annisa lagi, tak peduli Rico sudah geleng-geleng kepala karena tingkah anak sulungnya itu.


"Ingat pesan aku, dan aku juga akan pulang sebelum Leon datang,"ucap Arsyad.


"Iya, sayang, sudah siang berangkat, gih,"titah Annisa.


"Oke, pah titip istriku yang cantik ini, Arsyad akan pulang cepat sebelum paman Diki, Alvin, Zidane, dan Leon datang,"ucap Arsyad.


"Lho kok pulang siang kamu?"tanya Rico.


"Iya, aku tidak mau, istriku menemui mantan pacarnya tanpa aku,"ucap Arsyad sambil mencium tangan papahnya.


"Ya sudah, kamu hati-hati ke kantornya,"ucap Rico.


"Iya pah, Arsyad berangkat dulu. Nis, kakak berangkat dulu, ya. Assalamualaikum," pamit Arsyad.


"Wa'alaikumsalam," jawab Annisa dan Rico.


Arsyad masuk ke mobilnya, seperti biasa dia di antar oleh sopir sekaligus pengawalnya. Annisa dan Rico duduk di kursi teras setelah melihat Arsyad berangkat ke kantornya.


"Kamu bahagia, Annisa?"tanya Rico.


"Sangat bahagia, pah,"jawab Annisa.


"Syukurlah, bagaimana masih sakit perutmu?"tanya Rico.


"Sudah agak mendingan, pah,"jawabnya.

__ADS_1


Mereka berbincang-bincang agak lama di teras depan. Rico memang sangat menyayangi Annisa. Dia sudah menganggap Annisa seperti anak kandungnya sendiri, setelah kepergian orang tua Annisa. Entah kenapa Rico begitu sayang sekali dengan Annisa.


__ADS_2