
Annisa hari ini ada jadwal check up kehamilannya. Dia sebenarnya tidak ingin check up. Namun, karena untuk kesehatan sang buah hati yang ada di dalam perutnya, dia akhirnya mau untuk Check up. Annisa berangkat bersama Rere dan Kevin. Hidupnya semakin rapuh, 8 bulan lamanya tidak bertemu suami tercinta.
Memang semua ini ide Rere dan Leon, Annisa menyetujuinya, karena dia ingin Rico dan Shita merasakan apa yang ia rasakan. Tapi, lama kelamaan Annisa merasakan tersiksa batinnya. Dia hanya menerima kabar dari Arsyad melalui surat saja. Annisa ingin sekali bertemu dengan Arsyad, tapi hati yang masih sakit karena di usir oleh mertuanya masih membekas sampai sekarang. Bukan Annisa egois, tapi hatinya semakin sakit jika melihat Rico dan Shita.
"Sudah siap, Nis?" tanya Rere.
"Sudah," jawabnya dengan tatapan kosong.
"Aku antar ke rumah Pak Arsyad, ya? Atau aku nyuruh Kevin buat bawa Arsyad menemuimu? Sudah 8 bulan, aku salah memang memberi usul seperti ini. Aku ingin kamu bahagia, temui suamimu,"ucap Rere.
"Ini bukan salah kamu, aku saja yang masih enggan bertemu dengan Kaka Arsyad. Aku tidak mau bertemu dengan orang-orang di sekitar Arsyad," jawab Annisa.
"Jangan seperti itu, kamu mengajari Dio dan Shifa jangan dendam, tapi kamu sendiri seperti itu," ujar Rere.
"Aku orang lain untuk mereka. Tapi, Dio dan Shifa adalah keturunan dari Alfarizi, Re," ucap Annisa.
"Re, bisa check up nya di undur besi saja?"pinta Annisa.
"Kamu sudah ngundurin waktu check up 3 kali, Nis. Aku tidak mau kamu mundur lagi jadwal check up nya. Kasihan anakmu, aku juga harus tau, kesehatan kamu dan bayi kamu," ujar Rere.
Akhirnya Annisa mau untuk chaeck up ke rumah sakit. Sekarang Annisa sudah berada di dalam mobil bersama Rere dan Kevin. Annisa terlihat sedang memandang foto Arsyad yang ada dalam ponselnya. Annisa semakin merasakan rindu dalam hatinya. Dia selalu membayangkan, seandainya nanti dia melahirkan tak ada Arsyad di sampingnya. Dia ingin sekali bertemu Arsyad dan kembali padanya, tapi Annisa belum siap untuk bertemu dan berbicara pada Rico dan Shita.
^^^^^
"Annisa, ini bulan ke-8 usai kandunganmu, bulan depan kamu akan melahirkan. Kenapa kamu tak membalas surat dariku, Nisa? Nomor ponselmu juga susah di hubungi, kamu di mana, Annisa? Aku sangat merindukanmu," gimana Arsyad.
Arsyad berada di ruangan terapai, dia sedang memandangi foto-foto Annisa sebelum ia melakukan terapi hari ini. Arsyad tidak tahu bagaimana caranya untuk bertemu dengan Annisa.
Shita dan Rico memandangi Arsyad yang terlihat semakin kurus sekali. Shita juga masih terus mencari keberadaan Annisa, yang masih saja menyembunyikan diri. Dia belum berhasil menemukan Annisa di mana, Rico pun demikian, dia belum bisa menemukan di mana menantunya.
"Kak, semangat dong terapinya, nanti biar kakak bisa bertemu Annisa lagi," ucap Shita menyemangati kakaknya.
"Entahlah, kapan aku bisa menemukan belahan jiwaku lagu, Ta. Rasanya percuma kakak sembuh dan kakak hidup." Arsyad berkata sambil memandang dengan tatapan kosong ke segala arah.
Shita yang mendengar kakaknya berbicara seperti itu, dia meneteskan air matanya. Dadanya semakin sesak. Dia benar-benar sudah membuat hidup kakaknya menjadi hancur seperti ini.
"Ya Allah, maafkan aku, aku tidak kuat melihat semua ini. Kakakku satu-satunya sudah tidak memiliki semangat dan tujuan hidupnya. Pertemukan kakak kembali dengan Annisa Ya Allah," gumam Shita.
Arsyad di panggil suster untuk melakukan terapinya. Arsyad lagi-lagi tidak bersemangat untuk melakukan terapi. Harusnya dalam waktu 2 bulan terapi Arsyad sudah selesai, dan kembali membaik. Namun, bukan demikian, keadaan Arsyad semakin memburuk. Tidak ada semangat lagi dalam hidupnya.
Arsyad sudah selesai terapi, cukup ada perkembangan terapi hari ini. Dia keluar dari ruang terapi, bersama papah dan adik perempuannya. Dari ruang terapinya Arsyad melewati poliklinik Kebidanan dan Kandungan. Dia melihat banyak sekali ibu hamil yang sedang memeriksakan kandungannya.
"Mungkin jika aku masih bersama Annisa, aku akan selalu menemani dia check up, seperti pasangan suami istri itu. Mereka terlihat bahagia, istrinya perutnya semakin membuncit. Aku harap kamu baik-baik saja, sayang. Aku merindukanmu, sangat merindukanmu." Arsyad terus membayangkan Annisa saat memandang banyak sekali ibu hamil di depan poliklinik kebidanan dan kandungan.
__ADS_1
Mata Arsyad tertuju pada seorang wanita, yang sepertinya ia kenal. Wanita hamil yang baru keluar dari ruangan dokter.
"Annisa, itu Annisa, aku tidak salah lihat," gumam Arsyad yang melihat Annisa keluar dari ruang dokter.
Annisa tidak melihat Arsyad, padahal jaraknya cukup dekat. Annisa berjalan ke arah ruangan farmasi.
"Annisa.!" panggil Arsyad dengan suara lantangnya.
Annisa menoleh ke arah sumber suara. Air matanya lirih melihat orang yang ia sayangi terlihta kurus, pucat, dan tidak berdaya, hanya duduk di kursi roda. Annisa melihat dua orang di samping Arsyad. Ya, mereka adalah Rico dan Shita, Annisa berjalan mundur dan tidak mau mendekati suaminya.
"Annisa…! Tunggu…!" teriak Arsyad.
Namun, Annisa tetap saja menghindar. Rere mencekal tangan Annisa, Annisa berhenti melangkah, dengan Isak Tangi dan derain air matanya, dia mersakaan sesak di dadanya.
"Itu suamimu, temuilah," pinta Rere.
"Tidak, Re…aku tidak bisa." Annisa menepis tangan Rere, dan pergi.
"Bu Annisa, temui Pak Arasyad." Kevin juga berusaha menghentikan langkah Annisa, tapi Annisa menolaknya.
"Gak, Vin, aku mau pulang," ucap Annisa sambil berjalan menjauh dari Arsyad.
"Annisa...!" Arsyad tidak peduli, dia tidak menyangka dia bisa mengejar Annisa yang hendak pergi menghindar darinya.
Annisa menoleh ke arah Shita yang teriak memanggil suaminya, dai takut suaminya kenapa-napa lagi. Annisa terbelalak, melihat suaminya bisa berjalan dan mengejarnya. Annisa mengurungkan niatnya ingin menjauh dari Arsyad. Dia menunggu suaminya berjalan mendekatinya
"Kak Arsyad…" ucap Annisa lirih.
"Annisa…" Suara Arsyad terdengar terengah-engah karena merasak sesak di dadanya, dan menahan sakit di kakinya.
Annisa mendekatu suaminya dan memeluknya. Tangisan mereka pecah seketika, saat mereka berpelukan melepaskan rasa rindunya.
"Kak Arsyad." Suara Annisa semakin serak dan sesegukan di pelukan suaminya.
"Jangan pergi lagi, please. Jangan pergi lagi, aku tidak bisa tanpa kamu, sayang." Arsyad memandangi wajah Annisa yang semakin terlihat kurus. Dia tak henti menciumi wajah istri yang ia rindukan itu.
"Kamu kurus sekali, di mana pipi chubby mu, sayang." Arsyad mengusap pipi Annisa, Annisa semakin menangis sesegukan.
"Kakak, kamu kurus sekali, kenapa kamu jelek, kamu tidak tampan sekali." Annisa memegangi pipi suaminya dengan 2 tangannya. Annisa merasa sedih sekali melihat sauminya kurus kering seperti ini.
"Bagaimana aku tampan, separuh jiwaku hilang, separuh ragaku hilang, untuk apa aku tampan, dan untuk apa aku hidup, kalau tidak kamu," ucap Arsyad.
"Kakak…jangan bicara seperti itu," ucap Annisa.
__ADS_1
"Perut kamu, Ya Allah, anakku sudah besar di perut bunda, nak." Arsyad mengusap perut Annisa yang semakin membuncit.
Shita membawakan kursi roda Arsyad dan mwnyueih Arsyad duduk di kursi rodanya. Arasyad duduk di hadapan Annisa. Dia masih saja menciumi perut Annisa yang semakin membuncit.
"Assalamualaikum, sayang. Ini Abah, maafkan abah, abah janji, tidak akan meninggalkan kamu lagi, bilang sama bundamu, jangan tinggalkan abah lagi," ucap Arsyad di depan perut Annisa.
"Wa'alaikumsalam, Abah. Bunda, gak akan pergi abah, tapi bunda belum bisa bersama abah dulu sementara," ucap Annisa.
"Kenapa? Kenapa belum bisa bersama?" tanya Arsyad dengan memandang wajah Annisa.
"Sabar ya, Abah? Nanti pasti bersama lagi, kali ini bunda belum bisa bersama Abah," ucap Annisa.
"Please…jangan pergi lagi, aku gak mau," tukas Arsyad.
"Kak, aku belum bisa,"ucap Annisa.
"Kakak gak mau, kamu mau aku merasa bersalah seumur hidupku seperti Arsyil? Tidak bisa menemanimu waktu lahiran? Aku tidak mau Annisa, kita pulang, kita ke rumah kita lagi." Arsyad memaksa Annisa untuk kembali.
"Aku belum bisa, kak,"
"Gak, aku gak mau!" tukas Arsyad.
"Kak,"
"Kakak gak mau dengar alasan kamu,"tukas Arsyad
"Nisa, menurutlah apa kata Arsyad," ucap Rico.
"Maaf, aku belum bisa," jawab Arsyad.
"Oke, aku tau, kamu masih belum bisa memaafkan papah dan Shita, aku akan ikut tinggal di rumah kamu, kalau kamu belum bisa tinggal di rumah kita," ucap Arsyad.
"Kak, aku belum bisa,"
"Please Annisa,"
Rere dan Kevin menengahi mereka berdua. Annisa memang belum bisa kembali lagi ke rumahnya. Rere tau, betapa sakitnya hati Annisa saat ini. Tapi, Arsyad juga berhak kembali pada Annisa lagi, mereka berhak bersama.
"Annisa, kamu tidak boleh egois seperti itu, apa kamu tidak melihat suami kamu seperti itu? Lihat, dia lemah tanpamu, kamu juga merasakannya, kan? Jangan egois, karena keegoisan akan membawa penyesalan dalam hidupmu," tutur Rere.
"Benar kata Rere, Bu. Jangan seperti itu, jangan menyakiti diri ibu,"ucap Kevin.
"Pulanglah dengan Annisa, papah tau, bahagiaku dengan Annisa. Maafkan papah, Annisa. Papah tau, kamu belum bisa memaafkan papah dan Shita. Bawa Arsyad pulang, kalian sama-sama saling membutuhkan," tutur Rico.
__ADS_1
Annisa akhirnya menuruti apa kata semuanya. Arsyad ikut pulang dengan Annisa bersama ke rumah orang tua Annisa. Arsyad merasa bahagia, Annisa mau bersama lagi, dan mengizinkan dirinya ikut bersama Annisa.