THE BEST BROTHER

THE BEST BROTHER
S4 Chapter 9 "Kekhawatiran Arsyad" The Best Brother


__ADS_3

Arsyad dan Annisa dari tadi menunggu Dio pulang. Arsyad merasa khawatir Dio belum juga sampai di rumah, dan begitu juga dengan Rania, yang kata Reno juga belum sampai rumah.


Arsyad duduk dengan Annisa di teras rumah. Annisa tahu, kecemasan yang ada pada wajah Arsyad begitu dalam.


"Abah, sudah lah, paling sebentar lagi Dio pulang," ucap Annisa.


"Bunda, ini sudah hampir jam 9 malam. Bagaimana abah bisa tenang, bunda. Rania juga belum sampai rumah," ujar Arsyad.


Suara ponsel Arsyad berbunyi, terlihat Reno memanggil Arsyad memberitahukan kalau tadi di jalan mobil Dio bannya kempes, dan kenapa sampai malam karena Dio juga menemui klien dulu kata Rania


"Dio menemui klien?" tanya Arsyad pada Reno lewat teleponnya.


"Ah … itu Dio pulang, ya sudah Ren, terima kasih," ucap Arsyad mengakhiri teleponnya.


Dio memarkirkan mobilnya di halaman rumahnya. Dia turun dari mobil dan langsung di sambut oleh bunda dan abahnya. Dio mencium tangan mereka, dan langsung masuk ke dalam rumah.


"Dio, setelah mandi, Abah mau bicara," ucap Arsyad.


"Iya, Abah," jawab Dio sambil berlalu meninggalkan Arsyad.


Arsyad duduk di kursi teras bersama Annisa, dia memikirkan ucapan Reno yang bilang Dio juga menemui kliennya.


"Bunda, apa Dio hari ini ada jadwal menemui klien?" tanya Arysad.


"Tidak, kenapa Abah?" tanya Annisa.


"Tadi Reno bilang, Dio menemui klien dulu, makanya lama," jawab Arsyad.


"Mungkin saja ada mendadak, Abah," ucap Annisa.


"Ya, mungkin saja." Arsyad semakin berpikir keras memikirkan Dio akhir-akhir ini.


"Apa mungkin, Dio menemui ...? Ah masa iya menemuinya? Jarak dari sana ke sini cukup jauh, tapi bisa jadi menemuinya sebentar," gumam Arsyad.


"Abah," panggil Annisa.


"Ah iya, kenapa?" tanya Arsyda.


"Kata Alvin, tidak ada Dio menemui klien, Karena urusan kerja sama dengan Tuan Lois sudah selesai kemarin," jawab Annisa.


"Benar dugaanku," ucap Arsyad.


"Maksud Abah?" tanya Annisa.


"Apa mungkin Dio tau dia mau dijodohkan dengan Rania?" tanya Annisa.


"Ikut Abah ke kamar." Arsyad mengajak Annisa ke kamarnya.


Annisa berjalan mendahului Arsyad, karena Arsyad menaruh cangkir di dapur, yang tadi di gunakan untuk meminum kopi. Dia lagi-lagi melihat pemandangan yang menyesakan dadanya.


"Ya Allah aku harus bagaimana?" gumam Arsyad.


Arsyad terdiam sebentar mengusap kasar wajahnya. Dia kembali ke kamarnya menghampiri istrinya yang sudah menunggunya di dalam kamar. Arsyad selalu membicarakan hal penting di dalam kamar, karena dia takut ada seseorang yang mendengarnya. Sedang di kamar Arsyad kedap suara, jadi tidak akan mungkin ada yang mendengar, mereka berdebat, walaupun berbicara keras.


"Bunda," panggil Arsyad.


"Iya, abah mau bicara apa?" tanya Annisa.


Arsyad memeluk istrinya dengan erat. Dia menangis sejadi-jadinya hingga sesegukan di pelukan Annisa. Annisa yang tidak tahu kenapa suaminya seperti ini, dia bingung dan bertanya-tanya dalam hatinya.


"Apa salah dan dosaku, Bunda? Aku merasa gagal mendidik anak-anak kita," ucap Arsyad dengan suara seraknya.


"Abah kenapa? Abah, jelas kan pelan-pelan sama bunda." Annisa mendudukan suaminya di sofa, dia duduk di sebelahnya.


"Najwa, Bunda … Najwa, Dio … Dia," ucapan Arsyad seakan tercekat di tenggorokannya. Dia tidak bisa lagi berkata, dadanya sesak.

__ADS_1


"Najwa dan Dio kenapa?" tanya Annisa.


"Bunda, sebelum Dio ke Berlin…."


#Flashback On#


"Ya Allah, ini apa? Dio mencintai Najwa? Kenapa bisa seperti ini?" Arsyad melihat buku Dio yang tertempel foto Najwa dan dirinya saat masih SMA.


Dio terlihat mencium mesra pipi Najwa, dan Arsyad membaca tulisan yang ada di foto itu.


"Aku tidak tahu, kenapa aku bisa menjatuhkan hatiku padamu, Najwa. Kamu adalah kakak sepupuku. Tapi, hati ini tak bisa berbohong, kalau aku mencintaimu"


Tubuh Arsyad melemas, seakan tulang-tulangnya hancur lebur. Dia menutup kembali buku Dio dan langsung ke luar dari kamar Dio. Niatnya untuk bicara dengan Dio supaya tidak berangkat ke Berlin, karena Annisa tidak setuju, akhirnya dia membiarkan Dio mengambil gelar Masternya di Berlin. Arsyad masuk ke dalam kamarnya. Dia masih tidak percaya Dio mencintai putri kesayanganannya, sekaligus Kakak sepupu Dio.


Arsyad keluar dan ingin berbicara pada Rico dan Annisa. Tapi, lagi-lagi dia melihat Dio sedang bermesraan dengan Najwa. Ya lebih tepatnya dia melihat dengan mata kepala sendiri Dio berciuman dengan anak gadisnya. Betapa hancurnya hati Arsyad saat itu. Anak-anak mereka memiliki hubungan khusus.


Arsyad menyembunyikan rasa ini sendiri. Dia percaya kalau Najwa dan Dio pasti bisa menyadari kalau hubungan mereka adalah hubungan yang salah.


#Flashback Off#


"Abah … bagaimana bisa mereka seperti ini?" Tangis Annisa seketika pecah mendengan penuturan Arsyad.


Annisa tidak percaya kalau anak laki-lakinya seperti itu. Mencintai kakak sepupunya sendiri


"Bunda, kalau Abah tidak menikah dengan bunda, Abah akan menyetujui hubungan mereka. Abah tahu bunda, rasanya jatuh cinta seperti apa sakitnya, apalagi tidak bisa memiliki seseorang yang kita cintai. Tapi, kita sudah menikah, dan konyol sekali kalau kita berbesanan," jelas Arsyad.


"Apa karena itu, Abah menjodohkan Rania dan Dio?" tanya Annisa.


"Sebenarnya Abah tidak ingin menjodohkan mereka, bunda. Abah tidak mau menyakiti hati anak-anak Abah. Tapi, ini tidak bisa jika Dio menikah dengan Najwa. Abah tahu, mereka tidak haram untuk menikah, bunda, tapi kita, kita sudah menjadi suami istri. Dan, mungkin papah juga menolak semua ini," ucap Arsyad.


"Reno yang sebenarnya meminta Dio untuk bersama Rania. Reno tahu, Rania mencintai Dio. Rania berkali-kali menolak di jodohkan dengan anak rekan bisnis Reno. Tapi, saat dia berbicara Dio, Rania sama sekali tidak menolaknya, walaupun Reno menjelaskan Dio tidak menyukainya," jelas Arsyad lagi.


"Lalu jika Dio dan Rania di jodohkan, apa tidak hancur hati Najwa? Bunda tidak tega melihat Najwa sakit hati, abah. Biar mereka bersatu," pinta Annisa


"Sayang, kita sudah menikah, dan mereka sepupu, kalau mereka hanya sepupu saja, dan kita tidak menikah, aku nikahkan mereka tidak usah menunggu waktu lama. Tapi, kita sudah menjadi orang tua mereka, dan kita masih ada papah, pasti papah tidak mengizinkan, sayang," ujar Arsyad.


"Abah tahu Dio, kan? Dia anaknya nekat," ucap Annisa.


"Iya, tahu. Dan baru saja Abah lihat, di lorong depan kamar mereka, mereka berciuman, Bunda. Abah takut, Abah takut Najwa semakin nekat juga. Abah tidak tahu bunda. Ya Allah cobaan apa lagi ini." Arsyad benar-benar tidak tahu harus bagaimana.


"Abah, jalan satu-satunya setelah pernikahan Shifa, Abah harus segera menentukan tanggal pertunangan Rania dan Dio, lalu segerakan menikah." Annisa mengusulkan seperti itu.


"Abah takut, Dio keras sekali, Sayang. Abah takut Dio kabur, dan dia membawa kabur Najwa," ucap Arsyad.


"Kita bicara pelan-pelan pada Dio, Najwa juga," ucap Annisa.


"Abah harus tegas, meski bunda sebenarnya tidak setuju, karena itu akan menyakiti Najwa," imbuh Annisa.


"Abah tau, Najwa bagaimana anaknya. Dia pasti akan lapang menerima ini semua, tapi entah dengan Dio. Ya, memang kita harus bicarakan setelah pernikahan Shifa nanti." Arsyad memeluk lagi istrinya.


Perasaan Arsyad semakin tidak menentu. Dia tidak tahu bagaimana dia menyampaikan semua pada Dio dan Najwa.


Dia tidak ingin menyakiti hati anak-anaknya. Namun, posisi saat ini juga tidak memungkinkan untuk menikahkan mereka. Dan, Arsyad telah mengiyakan permintaan Reno untuk menjodohkan Rania dan Dio.


"Abah, sekeras-kerasnya hati Dio, pasti dia kan luluh hatinya, biar ini menjadi rahasia kita, kalau kita sudah tahu Dio dan Najwa saling mencintai. Bunda sebenarnya juga ingin sekali memiliki menantu seperti Rania. Abah taju kan, bagaimana dekatnya bunda dengan Rania, saat di rumah tidak ada Najwa atau Shifa yang sibuk dengan kegiatannya, bunda lebih sering menghabiskan waktu dengan Rania, sebelum Rania ke Singapura," ucap Annisa.


Annisa memang manyayangi Rania seperti anaknya sendiri. Mereka berdua seakan nyambung jika berbicara, entah itu soal bisnis, ataupun yang lainnya. Ya, dia melihat Rania seperri dirinya dulu. Sewaktu remaja dia sering di tinggal orang tuanya ke luar negeri karena urusan bisnis. Dia lebih sering bersama pembantunya di rumah, dibandingkan dengan orang tuanya.


Annisa dulu memang gadis manja, sama seperti Rania. Tapi, dia juga wanita yang mandiri, mampu meraih mimpinya, sama seperti Rania juga. Dan, karena itu semua, Annisa cocok dengan Rania. Seakan dia memiliki anak perempuan lagi setelah Najwa dan Shifa. Karena Rania sering sekali menginap di rumahnya saat Reno dan Ana ke luar negeri urusan bisnisnya.


Di samping itu, Najwa dan Shifa tidak menyukai hal-hal yang berbau bisnis. Najwa lebih condong ke desainer dan mengelola butik. Sedangkan Shifa, dia seperti Almira, pendiam dan menjadi penulis yang sudah cukup famous, dan karyanya juga di sukai para remaja di dalam maupun di luar negeri.


Rania, dia sejalan dengan Annisa, bahkan kalau bertemu, dia lebih suka ikut Annisa ke kantor dan belajar bisnis dengan Annisa. Dan menurut Annisa Dio dan Rania sama-sama suka dengan dunia bisnis.


"Bunda, ke luar yuk, abah mau bicara sama Dio, soal kantor. Dan Abah tau, mereka pasti ketemuan tadi, saat Dio mengantar Rania. Tidak mungkin sampai lama seperti itu. Apalagi kata Alvin tadi sudah selesai urusan dengan Tuan Lois," ucap Arsyad.

__ADS_1


"Mungkin saja, mulai besok bunda mau ikut Najwa ke butik, biar Dio tidak bersama Najwa terus berangkatnya," ucap Annisa.


"Iya lebih baik seperti itu bunda, biar mereka tidak terlalu dekat. Yah, Abah sih tidak masalah mereka bersama, tapi takutnya mereka tidak bisa mengendalikan diri," ujar Arsyad.


"Itu yang bunda takutkan, Abah. Ya sudah, bunda akan sering ikut Najwa ke butik atau ikut Dio ke kantor, sambil menunggu saat yang tepat berbicara soal Dio dan Rania," ucap Annisa.


"Iya bunda, terima kasih." Arsyad memeluk Annisa dan mencium lembut bibirnya.


Arsyad rasanya sudah lama tidak bercumbu mesra dengan Annisa selama Dio di rumah. Ya, karena dia khawatir dengan Dio dan Najwa. Karena kamar mereka berhadapan. Tidur nyenyak pun Arsyad jarang sekali, selama Dio di rumah. Dia takut, karena mereka sudah sama-sama dewasa, dan Arsyad juga tahu, bagaimana rasanya seseorang kalau sudah berciuman bibir. Pasti yang akan mengendalikan dirinya adalah nafsu.


Ya, seperi sekarang ini. Arsyad semakin dalam mencium hibie istrinya yang masih cantik itu. Dia mulai membelai tubuh istrinya dengan sentuhan lembut yang membuat Annisa hilang kendali.


"Abah menginginkan ini, bunda," bisik Arsyad di telinga Annisa.


"Lalu Dio?" tanya Annisa.


"Setelah ini," ucapnya sambil menanggalkan pakaiannya satu persatu, hingga mereka polos dan tubuh mereka saling beradu dengan gerakan lembut.


"Kamu nyaman, sayang?" bisik Arsyad.


"Iya, sayang," jawab Annisa dengan manja yang membuat Arsyad semakin bergairah malam itu.


"Kakak…." ucap Annisa dengan lenguhan seksinya.


"Hmmmp, aku suka kamu memanggil ku seperti itu, sayang." Arsyad semakin keras menggerakkan tubuhnya di atas istrinya.


"Sini sayang," titah Arsyad, menyuruh Annisa berada di pangkuannya.


Annisa menuruti apa kata suaminya. Dia mengambil kendali saat ini hingga Arsyad merasakan getaran tubuh Annisa yang masih terlihat indah itu.


"Kak … aku …." Annisa semakin cepat menggerakan tubuhnya. Arsyad mengimbangi gerakan istrinya itu.


Mereka mencapai pelepasan bersama. Mereka melanjutkan lagi permainannya dan setelah itu, mereka membersihkan diri lalu menemui Dio yang sedang menonton film dengan Raffi dan Arkan di ruang tengah.


Arsyad duduk di sebelah Dio yang sedang asik menonton Film itu. Dio melihat leher Arsyad yang memerah karena tadi Annisa tanpa sadar meninggalkan jejak di leher Arsyad.


"Abah, serangga di kamar Abah gede ya? Sampai merah gitu lebernya," ucap Dio.


"Dio, itu bukan serangga lagi, tapi monster," imbuh Raffi.


"Iya benar, Raff. Masih sore, abah," ledek Dio.


"Iya, Abah. Jam 10 saja masih kurang 25 menit. Kasihan Dio, dari tadi nungguin Abah," ucap Raffi.


"Gak apa-apa deh, biar Arkan punya adik lagi," imbuh Raffi.


"Arkan aja udah kayak anakmu," celetuk Dio.


"Memang apa hubungannya serangga dengan adik bayi?" tanya Arkan yang seakan polos.


"Alah, kamu juga kecil-kecil sudah punya pacar," tukas Raffi.


"Apaan, sih, kak." Arkan berbicara sambil mengkode Raffi.


Ya, Arkan sudah remaja, dia sudah kelas 3 SMP, dan dia juga sudah sembunyi-sembunyi suka sama cewek di sekolahannya. Tapi, Raffi selalu mengawasi adiknya itu.


"Iya, iya. Masih kecil jangan pacaran. Awas kamu," ancam Raffi.


"Nanti Seperi Abah, tuh di gigit serangga," ledek Dio lagi.


"Kalian itu, ya. Sudah diam, jangan meledek Abah, kasihan bunda tuh. Lagian kamu sok tau," ucap Arsyad.


Arsyad yang tadinya mau bicara serius dengan Dio. Akhirnya mereka bercanda bersama dan mengobrol lainnya. Ya, seperti itu kedekatan mereka. Dio juga sudah melupakan masa lalu yang pahit itu, saat opanya mengusir bundanya. Ya, karena Dio melihta opanya begitu menyayangi bundanya. Bahkan saat Annisa sakit, Opa Rico yang sibuk memasak bersama Najwa. Dan, abahnya selama ini juga benar-benar menjaga bundanya. Bahkan saat dia ingin ke Berlin, dan Annisa tidak mengizinkannya, Arsyad membantu membujuk Annisa agar memperbolehkan Dio menggapai cita-citanya untuk kuliah di sana.


"Abah, maafkan Dio, Abah sudah baik dengan bunda, sudah menjaga bunda, dan mewujudkan cita-cita Dio untuk kuliah di Berlin saat bunda menentangnya. Tapi, Dio malah seperti ini dengan Abah, mencintai putri kesayangan Abah. Maafkan Dio, apapun keinginan Abah, Insya Allah Dio akan menurutinya, meski menyakitkan hati Dio," gumam Dio.

__ADS_1


Dio memandang wajah kedua orang tuanya yang tersenyum bahagia malam ini. Ya, Dio merindukan masa-masa seperti ini. Setelah kepulangan dari Berlin, dia di sibukan dengan Najwa, Najwa, dan Najwa.


__ADS_2