THE BEST BROTHER

THE BEST BROTHER
S4 Chapter 16 "Tidak Bisa Tidur" The Best Brother


__ADS_3

Najwa belum juga memejamkan matanya. Dia malam ini di temani Abah dan bundanya di rumah sakit. Najwa masih saja memikirkan Dio yang dari tadi acuh dengannya. Tidak menyapa, bahkan menanyakan apa yang di rasakan saat ini. Najwa tau, mungkin Dio sedang kecewa dengan kenyataan ini karena tidak bisa menikahi Najwa. Tapi, Najwa berharap, walau tidak bisa memiliki Dio, setidaknya mereka masih menjaga hubungannya sebagai saudara sepupu.


Najwa melihat Abah dan bundanya sudah terlelap tidur di sofa. Dokter Akmal memang sengaja memberi sofa yang nyaman untuk yang menunggui Najwa. Biasanya sofa di ruang VVIP sekalipun tidak semewah yang sekarang ada di ruangan Najwa. Najwa ingin sekali menghubungi Dio, tapi dia tidak membawa ponselnya. Dia hanya bisa menahan rindunya malam ini. Biasanya sebelum tidur, Dio menghiburnya lewat telepon atau bertemu dulu di taman belakang.


"Dio, aku tidak bisa tidur. Aku tidak bisa menghapus rasa cinta ini, Dio. Aku tahu, suatu saat kamu akan mendapat wanita selain aku, dan aku tahu, kamu pasti akan menerima perjodohan kamu dengan Rania. Aku terima itu Dio, tapi jangan diamkan aku seperti tadi," gumam Najwa.


Najwa mencari posisi yang nyaman untuk memejamkan matanya. Dia benar-benar tidak bisa tidur, hingga ia terduduk dan mengambil air putih di meja sebelahnya. Najwa meneguk air putihnya. Kali ini Najwa benar-benar ingin pulang dan bertemu Dio lalu memeluknya. Pelukan Dio semakin menjadi candu baginya. Sejak tadi siang, dia benar-benar di cuekin oleh Dio. Dan malamnya, ternyata akan ada kejadian seperti ini. Di mana semuanya terungkap, dirinya dan Dio satu susuan.


Najwa mengambil buah pepaya yang tadi belum di makannya. Najwa memakannya, daripada tidak bisa tidur dan memikirkan Dio yang benar-benar mengganggu pikirannya. Annisa mengerjapkan matanya, dia merasa ingin buang air kecil. Annisa bangun dari tidurnya dan beranjak ke kamar mandi. Annisa melihat Najwa masih memakan pepaya.


"Kamu belum tidur, sayang?" tanya Annisa.


"Belum bisa tidur, bunda," jawab Najwa.


"Sudah jam 1, kamu tidak tidur dari tadi ngapain?" tanya Annisa.


"Tidak bisa tidur saja, bunda," jawab Najwa.


Annisa tersenyum, dia mengerti apa yang ada di hati Najwa. Dia tahu kegundahan Najwa. Annisa masuk ke kamar mandi untuk buang air kecil. Setelah dari kamar mandi, dia mendekati Najwa yang belum juga memejamkan matanya.


"Kamu kenapa? Padahal obat yang kamu minum kan harusnya membuat kamu tidur, Nak?" tanya Annisa.


"Aku tidak tahu, Bunda. Bunda tidur lagi saja, Najwa belum bisa tidur," jawab Najwa.


"Ini, telepon Dio, bunda tahu, kamu ingin bicara dengan Dio, kan?" Annisa memberikan ponselnya pada Najwa.


"Tidak bunda, Najwa dan Dio sudah selesai. Maafkan Najwa," ucap Najwa dengan meneteskan air mata.


"Bunda tahu rasanya hati kamu bagaimana, bunda juga tidak bisa menyatukan kamu, Nak. Maafkan bunda," ucap Annisa.


"Ini bukan salah siapa-siapa, Bunda. Ini kesalahan hati ku dan hati Dio, yang menjalin cinta yang salah," ucap Najwa.


"Hubungi Dio, bunda tahu, kamu tidak bisa tidur karena memikirkan Dio, apalagi saat tadi ada Dokter Habibi,"


"Iya, itu yang akan Najwa tanyakan. Najwa tahu, Dio tadi memikirkan itu. Najwa tak ingin salah paham saja dengan Dio. Najwa tidak ada hubungan apa-apa dengan Habibi. Najwa dan Habibi, kenal dengan tiba-tiba," jelas Najwa.


"Memang kamu bisa kenal Habibi dari mana?" tanya Annisa.


Najwa menceritakan semuanya pada Annisa perihal Habibi, dari awal bertemu dan sampai tadi. Annisa tertawa dan memeluk mencium pipi Najwa saat Najwa dengan kesal menceritakan semuanya awal bertemu Habibi.


"Oh, jadi seperti itu? Lucu juga kalian bertemunya, tapi Habibi juga baik sepertinya," ucap Najwa.


"Ya, jelas baik, Bunda. Lihat saja ruangan ini. Kelas VVIP pun tidak semewah ini kan, Bunda? Tapi dia menyebalkan, masa dengan suster dan dokter di sini bilang kalau Najwa calon istrinya. Coba kalau dengar keluarganya, apalagi ini rumah sakit milik orang tua Habibi, bunda. Ini pencemaran nama baik lho bunda," ucap Najwa.


"Sudah, ya kali saja Habibi jadi jodohnya Ainun?" Annisa berkata dengan bahagia, di saat Najwa terpuruk karena Dio, ada laki-laki yang sifatnya humoris seperti Habibi.


"Bunda, Najwa tidak bisa, lebih tepatnya belum bisa membuka hati Najwa untuk yang lain. Tapi, sebisa mungkin Najwa akan melupakan Dio, dan merelakan Dio menikah dengan Rania," ucap Najwa dengan mata berkaca-kaca kalau mengingat Dio.

__ADS_1


"Sudah, masalah itu bahas nanti, kamu istirahat. Bunda tidak ingin kamu dan Dio terluka, Nak. Kalian perlu bicara berdua. Selesaikan baik-baik masalah kalian. Kalian pasti bisa melalui ini. Kalian anak -anak bunda. Bunda ingin kamu dan Dio bahagia, Nak." Annisa memeluk Najwa. Najwa menangis di pelukan Annisa, hingga Arsyad terbangun.


"Najwa, kamu kenapa?" tanya Arsyad.


"Tidak apa-apa, Abah," ucap Najwa.


Arsyad mendekati putrinya dia tahu, kalau hati putrinya itu tidak baik-baik saja. Arsyad memeluk Najwa dan mencium keningnya.


"Kamu dari tadi belum tidur?" tanya Arsyad. Najwa hanya menggelengkan kepala.


"Bicaralah dengan Dio. Abah tahu, telepon Dio sekarang." Arsyad memberikan ponselnya pada Najwa.


"Tidak Abah, Najwa harus membiasakan ini semua, Najwa tidak mau." Najwa menolaknya.


"Oke, kalau kamu tidak mau, sekarang tidurlah, dan jangan menangis," titah Arsyad. Arsyad memang bangun untuk sholat malam. Dia memang tidak pernah meninggalkan ritualnya itu. Begitu juga dengan Annisa. Dan tak terasa, sudah jam 2 pagi Najwa belum juga memejamkan matanya.


"Abah tinggal sholat dulu, kalau kamu mau telepon Dio, telepon saja," ucap Arsyad.


Annisa memberikan ponsel Arsyad pada Najwa, dia tahu putrinya itu sangat merindukan Dio. Jadi mau bagaimana lagi, Najwa juga tidak membawa ponselnya. Namun, Najwa sama sekali tidak menghubungi Dio, hingga Arsyad dan Annisa selesai sholat malam.


Najwa memencet "Nursecall" karena dia ingin meminta obat agar dia bisa tidur. Dua sister masuk ke ruangan Najwa.


"Ada apa, Kak Ainun?" tanya suster itu.


"Sus, saya tidak bisa tidur dari tadi, bisa meminta obat agar aku bisa tidur?" tanya Najwa.


"Ya sudah, suster tanya dulu," ucap Najwa.


Arsyad dan Annisa mendekati putrinya. Dia tahu, Najwa sama sekali tidak bisa tidur. Mungkin karena dia benar-benar memikirkan masalahnya dengan Dio.


"Jangan meminum obat seperti itu, Najwa," tutur Arsyad.


"Iya, Najwa. Jangan meminum obat tidur, tidak biak, nak," imbuh Annisa.


"Tapi Najwa sama sekali tidak bisa tidur," ucapnya.


"Sudah, tidurlah, Abah akan menemani kamu. Tidurlah." Arsyad mengusap kepala Najwa agar bisa tertidur.


Hati Arsyad sebenarnya sakit melihat putrinya seperti itu. Tapi, mau bagaimana lagi, hubungan mereka tidak bisa di teruskan hingga pernikahan. Arsyad mengusap kepala Najwa hingga Najwa memejamkan matanya dan tertidur pulas. Annisa keluar menemui suster tadi, agar tidak mengambilkan obat yang Najwa minta.


^^^^


Dio dari tadi memikirkan lelaki yang akrab di sapa Habibi itu. Dia belum bisa memejamkan matanya hingga menjelang subuh. Ya, semua itu karena lelaki yang bernama Habibi. Dio tidak menyangka, Najwa mengenal seorang dokter di saat hubungan mereka masih baik-baik saja. Dio berpikir Najwa sudah mengenal Habibi sejak lama.


"Najwa, apa kamu mengenal dia sudah lama? Kalau belum lama kenapa dia tahu kamu, dia sepertinya akrab dengan kamu? Sebenarnya siapa dia? Apa kamu sudah mempersiapkan Habibi jauh-jauh hari sebelum ini terjadi? Kalau iya, kamu tega sekali mengkhianati ku, Najwa. Aku semakin tahu, kamu memang sudah tidak mau memperjuangkan cinta kita. Oke, jika memang lelaki itu untuk menggantikan aku di hati kamu, aku terima," gumam Dio dengan perasaan yang campur aduk di hatinya.


Dio keluar dari kamarnya. Dia ingin menenangkan pikirannya di teras belakang. Saat akan berjalan ke belakang, Dio berpapasan dengan Raffi yang keluar dari musholah usai sholat malam.

__ADS_1


"Dio, kamu mau ke mana?" tanya Raffi.


"Mau ke teras belakang," jawabnya.


"Boleh aku ikut? Aku ingin bicara dengan kamu," pinta Raffi.


"Iya, Raf, ayo ke belakang saja," jawabnya.


Raffi juga ingin bertanya perihal dokter yang di rumah sakit itu. Yang mengenal kakaknya dan memperlakukan kakaknya seperti tuan putri. Ya, bagaimana tidak seperti tuan putri, semua staf dan para medis di sana tahu Najwa. Memperlakukan Najwa dengan baik, bahkan baru saja di UGD Najwa sudah di sambut hangat dan di tangani dengan baik oleh mereka semua. Dan, ruangan Najwa bukan ruangan pasien pada umumnya. Itu mirip dengan kamar hotel berbintang.


Mereka duduk bersebelahan di bangku yang ada di teras belakang. Mata Dio terlihat menghitam. Raffi tahu kalau Dio belum tidur dari tadi.


"Kamu tidak tidur, Dio?" tanya Raffi.


"Bagaimana aku bisa tidur, Raf. Aku memikirkan Najwa dari tadi," jawab Dio.


"Oh, iya Dio, apa kamu mengenal dokter yang dekat dengan Kak Najwa?" tanya Raffi.


"Itu yang mau aku tanyakan juga pada kamu, Raff. Siapa dokter Habibi itu? Apa Najwa mengenal dia sudah lama? Aku ingin bertanya, tapi ponsel Najwa tidak aktif," jawab Dio.


"Ponsel kak Najwa ada padaku, aku sengaja matikan dari tadi, solanya aku lihat ponselnya tergeletak di sofa ruang tengah, jadi aku matikan saja," ucap Raffi.


"Oh, ya. Aku kira kamu tahu dokter Habibi itu. Sepertinya dia rivalmu, Dio," sambung Raffi


"Bukan masalah Rivalnya, Raff. Aku ingin tahu saja, dia mengenal Najwa sejak kapan, baru atau sudah lama, soalnya mereka seperti sudah lama mengenal," ujar Dio.


"Ya, aku juga merasa seperti itu, Dio. Dan, lihatlah, semua staf dan tenaga medis di rumah sakit tadi bersikap sopan dengan Kak Najwa. Bahkan, ruangan kak Najwa itu seperti bukan ruangan pasien pada umumnya, seperti dispesialkan, Dio," ucap Raffi.


"Ya, itu juga. Apa karena Najwa sering ke rumah sakit dengan Wulan dan sering membawakan dongeng di sana? Jika iya, berarti sudah lama dong Najwa mengenal Dokter itu?" Dio semakin bingung dengan itu semua. Begitu juga Raffi. Dia juga merasa kakaknya sudah seperti mengenal lama dokter Habibi.


"Sudah, kamu istirahat sana. Besok kita tanya sama Abah, atau langsung sama Kak Najwanya," ujar Raffi.


"Aku akan tanya kalau dia pulang saja, aku tidak mau ke sana," ucap Dio.


"Kenapa? Cemburu? Jangan seperti itu, Kak Najwa juga butuh kamu, Dio," tutur Raffi.


"Raf, aku menerima perjodohanku dengan Rania," ucap Dio dengan mata berkaca-kaca.


"Kamu yakin? Kalau tidak jangan di paksakan, Dio. Kamu juga berhak bahagia, walaupun tidak dengan Kak Najwa," ujar Raffi.


"Keputusan ini aku tidak bisa merubahnya, Raf. Ini semua untuk bunda dan Abah, orang yang aku sayangi. Aku tidak bisa melihat mereka terbebani karena aku. Tapi, hati ini tidak bisa Raf. Aku sangat mencintai Najwa." Dio semakin terisak. Raffi melihatnya merasa sangat iba sekali.


"Aku cuma menyarankan saja, kalau kamu tidak yakin jangan lakukan itu," ucap Raffi sekali lagi.


"Sudah Raf, jangan bahas ini. Aku mau istirahat," ucap Dio dengan lemah.


Raffi melihat Dio berjalan masuk ke dalam dengan langkah yang gontai. Raffi tahu, bagaimana perasaan Dio saat ini. Dia tahu, rasanya cinta tidak bisa memiliki itu seperti apa.

__ADS_1


"Aku tahu, hati kalian sama-sama hancur, tapi jika bersama juga tidak mungkin. Aku hanya bisa mendoakan kalian, semoga kalian mendapatkan yang terbaik." Raffi bergumam dalam hatinya. Dia masuk ke dalam, dan segera mengambil wudhu untuk sholat subuh.


__ADS_2