
♥Arsyad♥
Bagai tersambar petir di siang hari melihat semua itu. "Kenapa harus Arsyil Ya Allah, dia adikku yang sangat aku sayangi, kenapa mencintai seseorang yang aku cintai juga?" hatiku bergemuruh, aku melajukan mobil dengan sangat cepat.
Iya sakit sekali hatiku, melihat kenyataan yang ada.
Aku semakin yakin untuk melepaskan Annisa, bagaimanapun juga dia adalah kekasih adikku, aku tidak bisa melukai adikku sendiri. Meskipun hati ini sangat sakit sekali, bahkan melebihi tersayat sembilu.
Aku sudah sampai di rumah Naura, aku membenahi dulu gelisah hatiku agar terlihat baik-baik saja dimata Naura dan Rayhan.
Aku turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah Naura. Rayham terlihat sedang mengobrol dengan Naura dan orang tua Naura.
Aku masuk dan mengucap salam pada mareka. "Assalamualaikum".
"Wa'alaikumsalam." jawab mereka bersama.
Aku di persilahkan duduk bersama mereka.
"Silahkan duduk dulu Syad." Ayah Naura menyuruhku duduk di ruang tamu.
"Iya om." jawabku.
Aku ikut megobrol dengan mereka.
Setelah lama kami mengobrol dan menikmati teh juga kue yang di suguhkan Ibunya Naura, Rayhan pamit untuk pulang. Sepertinya Rayhan tau kalau aku sedang menyembunyikan masalah.
Ray berpamitan pada Naura dan orang tuanya.
"Naura, Ayah, Ibu kami pamit dulu, Arsyad juga masih ada pekerjaan di kantor yang belum di selesaikan." Ray berkata seperti itu yang membuatku membulatkan mataku, karena aku yang dijadikan sebagai alasan untuk pamit.
Dia memang peka sekali saat aku sedang ada masalah. Aku juga berpamitan dengan Naura dan kedua orangtuanya.
"Iya Om, Tante saya masih ada kerjaan yang belum diselesaikan." ucapku pada orangtua Naura.
"Oh iya tidak apa-apa, lain kali kita sambung ngobrol lagi nak." jawab Ayah Naura.
Akhirnya kami berdua keluar dari rumah Naura.
Aku langsung masuk ke dalam mobil Rayhan duduk di depan namun aku sengaja duduk disamping pengemudi.
"Kenapa kamu Syad?" Ray bertanya padaku saat melihat aku yang menyandarkan kepalaku dijok mobil dengan mengurut pangkal hidungku.
Iya hatiku semakin kacau saat ini, sungguh aku ingin teriak sekencang mungkin. Bahkan, kalau aku sendiri mungkin aku sudah menangis. Aku malu pada Ray. Jika, dia tau aku mencintai gadis yang juga dicintai adikku sendiri. Bahkan, dia sudah menjadi kekasih adikku sejak lama.
"Syad....Arsyad..kami baik-baik saja?" Ray bertanya kembali dengan menepuk pundaku.
"Ray." ucapku berat sambil menundukan kepala.
"Ray kita ke Caffe Shita ya?" pintaku pada Ray, aku ingin menceritakan semuanya pada mereka.
__ADS_1
"Iya Syad, kamu ada masalah?" tanya Ray sambil menatapaku.
Aku terdiam saja dan akhirnya aku menjawab.
"Nanti aku ceritakan di Caffe Shita." jawabku seperti itu.
Ray hanya mengiyakan saja, aku masih terdiam menahan sakit hati ini.
Aku sangat menyesal menyimpan cinta untuk Annisa. Cinta ini semakin besar tapi aku harus membuang rasa cinta ini. Karena, jika aku paksakan bukan hanya aku yang sakit hati, Arsyil dan Nisa pun akan sakit sekali hatinya.
Ray kembali bertanya pada ku lagi.
"Syad, kamu tadi jadi menemui Arsyil kan?
Aku hanya mengangguk saja dan menjawab "iya jadi Ray."
"Ada masalah dengan Arsyil?" tanyanya kembali.
"Ray, nanti aku ceritakan semua! Jangan tanya-tanya lagi Ray!" jawabku agak ketus dan keras dengan dia.
Dia sepertinya memahami kondisiku saat ini. Ray terdiam sambil mengemudikan mobilnya menuju ke Caffe Shita.
*********
AR CAFFE
Ray dan Arsyad sampai di Caffe Shita. Arsyad turun dari mobi Ray dan langsung masuk ke dalam Caffe. Arsyad langsung menuju ke ruagan Shita.
Shita kaget dengan kehadiran Arsyad yang terlihat sedang mempunyai masalah. Shita bangun dari tempat duduknya, dia mendekati kakaknya yang terlihat sangat kacau sekali wajahnya.
"Kakak, kok tidak bilang mau ke sini? Kakak kenapa?" Shita bertanya dan mendekat pada kakaknya.
Arsyad langsung memeluk adik perempuannya, dia menumpahkan tangisannya sambil memeluk Shita.
Shita semakin tak mengerti kenapa kakaknya sampai kacau seperti ini.
"Kak, ceritakan pada Shita, kakak kenapa?" tanya Shita kembali sambil mengusap punggung Arsyad.
Rayhan yang melihat Arsyad seperti itu juga semakin bingung. Ada apa dengan saudara sepupunya sampai seperti itu.
"Kenapa Arsyad, tidak seperti biasanya jika dia ada masalah, dia saat ini terlihat sangat kacau sekali. Biasanya jika ada masalah dia selalu tenang sekali menghadapinya. Tapi, kali ini dia benar-benar kacau dan hancur sekali." Ray bergumam sambil berjalan ke arah Arsyad dan Shita. Ray menutup pintu ruangan Shita.
Arsyad melepaskan pelukan dengan Shita, dia duduk dan menundukan wajahnya di meja kerja Shita. Perlahan Arsyad mengangkat kepalanya dan menghapus jejak airmatanya. Arsyad mulai menjelaskan apa masalahnya dengan suara serak.
"Shita, Rayhan. Aku.....aku bodoh sekali, aku mencintai gadis yang dicintai adiku sendiri. Bahkan, gadis itu adalah kekasih adiku sendiri." Arsyad menjambak rambutnya karwna frustasi sekali.
"Maksud kamu Syad?" tanya Rayhan.
Shita yang sudah mengerti dari awal kini dia hanya bisa terdiam dan menangis.
__ADS_1
"Annisa, Annisa adalah kekasih Arsyil, Ray! Kenapa harus Arsyil kekasih Annisa, Ray! Kenapa tidak laki-laki lain saja!" Arsyad berbicara dengan keras sekali. Shita yang melihatnya langsung duduk di samping Arsyad dan memeluk Arsyad.
"Kakak, maafkan Shita kak, maafkan Shita." ucap Shita dengan terisak.
"Maaf kenapa sayang?" tanya Arsyad.
"Kak, sebenarnya sudah lama Shita tau soal ini kak, Ibu dan Papah juga tau kak. Aku, Ibu dan Papah mau menyampaikan ini pada kakak dan Arsyil tapi belum menemukan waktu yang tepat. Dan, sekarang kakak sudah tau sendiri. Maafkan Shita kak." jelas Shita sambil memeluk kakaknya.
"Kakak harus bagaimana Shita, kakak sangat mencintai Annisa. Dan, kakak sayang sekali dengan Arsyil. Kakak tidak mau membuat Arsyil terluka Ta. Terlebih saat papah membandingkan Arsyil dengan kakak, kakak merasa sangat bersalah walau itu hanya sebatas candaan saja. Apalagi sekarang Shita, kakak mencintai kekasihnya. Betapa terlukanya hati Arsyil kalau dia tau semua ini. Maafkan kakak Shita, maafkan kakak." Arsyad menjelaskan dengan terisak.
Ray yang melihat pengakuan saudara sepupunya tak terasa ikut meneteskan air matanya. Dia sesekali mengusap sudut matanya yang mengelurkan airmata.
"Ya Allah, ternyata ini yang membuat orang setegar Arsyad sampai lemah seperti ini. Iya semua ini karena cinta, cinta kadang hadir sangat tidak tepat waktu dan kadang hadir dalam posisi yang salah. Begitu sakitnya hati ini jika aku berada di posisi Arsyad." gumam Rayhan dengan menatap Arsyad iba.
"Kak, belajarlah untuk melupakannya kak, kalau kakak benar-benar sayang dengan Arsyil."ucap Shita.
"Itu pasti Ta. Yang kakak takutkan Arsyil akan kecewa dan marah dengan kakak jika tau ini semua." ucap Arsyad.
"Kak, pasti semua akan ketahuan kalau sudah waktunya, aku yakin Arsyil tidak akan marah atau kecewa dengan kakak. Tenangkan hati kakak, mana Kak Arsyad yang tidak pernah lemah seperti ini, mana kakak ku yang selalu sabar dan tenang saat menghadapi masalah. Kakak tau? Ini bukan Kak Arsyad. Kak Arsyad tidak selemah ini. Kakak lulusan terbaik di Kairo, mahasiswa Al-Azhar tidak akan serapuh ini saat berhadapan dengan yang namanya cinta dengan seorang wanita. Kak jangan lemah seperti ini. Ini bukan Kak Arsyad yang aku kenal. Belajarlah melupakan sesuatu yang tidak bisa dimiliki oleh kita kak. Ini bukan akhir dari segalanya, kakak berhak mendapatkan yang lebih baik dari Annisa kak. Percayalah kak, akan ada pelangi setelah turun hujan kak. Akan ada keindahan setelah ini kak, aku harap Arsyil suatu saat juga mengetahui dan bisa menerima keadaan ini. La Tahzan Innallaha Ma'ana. Kak Arsyad ada Allah kak, kakak mintalah petunjukNya, pasti ada jalan kak." jelas Shita dengan lemah lembut pada kakaknya.
Arsyad terdiam mencerna apa yang dikatakan adik perempuannya itu.
"Syad, benar kata Shita. Ayolah Syad, ini bukan Arsyad yang aku kenal. Syad kamu tidak malu dengan dirimu sendiri, kamu Agamanya sangat kuat tapi dihadapkan dengan cinta pada seorang perempuan kamu lemah seperti ini. Syad, akan ada yang lebih baik lagi dari Annisa, percayalah padaku Syad. Jodoh tidak akan tertukar, sejauh apapun kamu mengejarnya kalau Allah tak menjodohkan kalian berdua apa kamu mau protes? Tidak kan Syad? Ayo Syad jangan lemah seperti ini." ucap Rayhan menyemangati Arsyad.
Arsyad masih terdiam, dia menetesakan kembali air matanya dan berucap pada Shita dan Rayhan.
"Terima kasih kalian sudah mengingatkan ku. Tapi, aku mohon jangan bilang dengan Arsyil dulu, nanti aku akan cari waktu yang tepat untuk meminta maaf padanya." ucap Arsyad
.
"Iya kak, aku tidak akan memberitahukan pada Arsyil. Kakak janji jangan besedih lagi kak. Shita sayang sama kakak, sayang sama Arsyil. Shita tidak mau hanya karena satu orang perempuan membuat kakak dan Arsyil berseteru. Shita takut, Shita tidak mau kalian bertengkar. Aku sayang kakak sama Arsyil." Shita menangis dan memeluk kakaknya.
"Jangan berfikir yang tidak-tidak, mana mungkin kakak tega menyakiti adik kakak sendiri. Kakak juga sayang kamu, sayang Arsyil. Hanya kamu dan Arsyil suadara kakak." jelas Arsyad.
Ray melihat mereka saling menyayangi membuatnya meneteskan airmatanya kembali.
Arsyad mencoba meredam rasa sakit hatinya dan mulai untuk melupakan Annisa. Walaupun belum bisa hilang begitu saja rasa cinta dihatinya untuk Annisa.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
♥happy reading♥