THE BEST BROTHER

THE BEST BROTHER
S4 Chapter 6 "Mengantar Rania" The Best Brother


__ADS_3

Pagi ini, Dio bersiap untuk pergi touring dengan Najwa. Di Sabtu pagi ini, semua sibuk dengan kegiatan masing-masing. Sebenarnya Raffi ingin sekali ikut dengan Dio dan Najwa untuk touring, tapi karena sudah janji dengan Shifa dan Alina untuk membantu event di taman baca, dia tidak bisa ikut. Hati Raffi gelisah pagi ini, antara ingin ikut atau membantu Shifa. Jika ikut, nanti Shifa bisa kecewa, karena dia sudah janji jauh-jauh hari sebelum ini. Dan, dia juga tidak bisa bertemu Alina dan sedekat ini dengan Alina.


"Apa aku ikut Dio saja? Tapi Shifa? Nanti malah dia marah-marah. Aku sudah janji untuk membantunya jauh-jauh hari. Ahh… kenapa menjadi seperti ini, sih?" gumam Raffi.


"Raff, kamu sudah siap? Tolong angkatkan kardus itu, bawa masuk ke mobil," titah Shifa yang dari tadi sibuk mempersiapkan semuanya.


"Ah iya, Shifa. Fa, aku ikut Dio touring, ya?" tanya Raffi yang tiba-tiba membuat mata Shifa menatapnya tajam.


"Eh…gak! Kamu sudah janji mau bantuin aku, malah mau seneng-seneng. Gak boleh!" ucap Shifa dengan sedikit marah.


"Iya, iya, aku bercanda. Aku ikut bukan untuk senang-senang, tapi mengawasinya," ucap Raffi yang kala itu keceplosan.


"Mengawasi, maksud kamu?" tanya Shifa.


"Ah…lupakan," ucap Raffi sambil mengangkat kardus yang Shifa suruh itu ke mobil.


Dio terlihat sudah siap untuk berangkat touring dengan Najwa. Najwa memakai jaket kulitnya. Dia benar-benar terlihat cantik pagi ini. Mata Dio tidak bisa beralih untuk memandangi Najwa. Dia masih menatap intens wajah Najwa yang cantik itu. Najwa sedang mengecek perlengkapannya lagi di dalam tas.


"Dio kamu sudah siap?" Pertanyaan Najwa mengagetkan Dio yang sedang menatapnya.


"Su--sudah…" ucapnya gugup.


"Gak usah lihatin seperti itu, ya sudah ayo pamit dengan Abah dan bunda." Najwa mengajak berpamitan dengan abah dan bundanya.


Setelah berpamitan dan mendapat izin mereka berangkat touring, entah tujuannya mau ke mana. Dio menarik tangan Najwa biar memeluknya setelah sudah jauh dari rumahnya.


"Peluk dong, masa mau pegangan jaket saja," ucap Dio.


"Iya, ini aku peluk," jawab Najwa.


"Ini mau ke mana Dio?"tanya Najwa.


"Mau ke suatu tempat," jawab Dio.


"Jangan macem-macem lho, jangan jauh-jauh," ucap Najwa.


"Iya cerewet," tukas Dio.


Dio memang berencana mengajak Najwa ke villa milik Opanya. Namun, dia mengurungkannya, karena nanti penjaga Vila bilang dengan opanya. Dio melajukan sepeda motornya ke daerah pegunungan. Rencananya untuk pergi ke Ungaran juga ia urungkan, karena itu terlalu jauh dan pastinya akan menginap. Dio tau Raffi khawatir dengan dia dan Najwa. Oleh sebab itu, Dio memilih rute yang 1 atau 2 jam bisa ditempuhnya.


"Kita ke kebun teh, ya?" pinta Dio.


"Oke, terserah kamu saja," jawab Najwa.


"Sebenarnya sih, aku ingin ajak kamu camping juga, tapi takut satpam kamu marah-marah," ucap Dio.


"Siapa maksudmu?" tanya Najwa.


"Raffi, mau siapa lagi. Nanti aku ajak kamu menginap dia malah berpikiran yang tidak-tidak dan bilang sama Abah," ucap Dio.


"Lagian siapa juga yang mau di ajak camping, tidur di tenda, gitu? Aku gak mau ah." Najwa menolaknya karena dia pernah trauma tidur di tenda sewaktu kemah, ada ular di dalam tendanya. Najwa memang takut sekali dengan ular.


"Kenapa? Takut ular lagi?" tanya Dio.


"Itu tahu, udah jangan sebut itu lagi," jawabnya.


"Kalau ular ku?"tanya Dio dengan bercanda.


"Apaan, sih! Jangan ngawur ah," ucap Najwa sambil mencubit perut Dio.


"Sakit, sayang. Jangan nyubit-nyubit dong," ucap Dio sambil mengusap perutnya.


"Makanya ngomongnya jangan macam-macam," ujar Najwa.


"Iya-iya, maaf,"


Tak butuh waktu lama, Dio dan Najwa sudah memasuki area pegunungan. Hamparan hijau kebun teh yang di suguhkan saat itu, begitu menyejukkan bagi siapa saja yang melihatnya. Kabut tipis juga membuat indah suasana saat itu. Dio menghentikan sepeda motornya di rest area yang ada di sana. Banyak juga pasangan muda-mudi di sana, yang sengaja datang untuk menikmati indahnya alam.


"Duduk di sana, yuk," ajak Dio.


Mereka duduk di bangku yang berada di samping perkebunan teh. Najwa meneguk air mineral yang ia bawa dan membuka cemilannya.


"Ngemil aja, nanti gendut kamu," ujar Dio.


"Biarlah, selagi bisa menikmati makanan, yang penting sehat," ucap Najwa.


"Nanti aku tidak bisa gendong kamu gimana, kalau kamu gendut?" Dio menarik hidung Najwa.


"Siapa juga yang mau di gendong kamu," tukas Najwa.


"Jangan marah dong." Dio mencium pipi Najwa.


"Dio … ini di tempat umum," ucap Najwa.


"Maaf, habis kamu gemesin sekali, sih." Dio mencubit pipi Najwa.

__ADS_1


Najwa bangun dari tempat duduknya, dia berjalan ke tengah hamparan kebun teh, warna hijau yang memanjakan mata membuat Najwa betah berlama-lama menikmati pemandangan. Dio tak henti-hentinya mengambil foto Najwa dengan ponselnya. Dia sengaja share foto Najwa di story' WhatsApp nya, agar semua tahu, kalau Najwa dan mereka sedang berada tak jauh-jauh dari rumahnya.


Tempat yang mereka kunjungi memang masih berada dalam kotanya. Jadi tidak perlu waktu lama untuk sampai di sana.


"Tak usah jauh-jauh mainnya, di sini saja juga dia merasa bahagia." Begitu caption yang dia tulis saat memosting foto Najwa di story' WhatsApp nya.


Dio sengaja, biar Raffi tidak terlalu khawatir. Dia juga tahu kalau jauh-jauh touring nya, dan harus menginap, pasti ada-ada saja yang ia lakukan dengan Najwa. Dio juga sadar, dia tidak mau merusak Najwa, dan tidak mau membuat Najwa sakit hati melebihi apapun.


Dio mendekati Najwa yang sedang asik bermain di tengah hamparan kebun teh yang menyegarkan matanya. Dio menggenggam tangan Najwa dan melihat raut wajah gadis yang dicintainya itu.


"Tadinya ke vila opa saja, Dio. Di sana kebun tehnya lebih indah lagi," ujar Najwa.


"Jauh, harusnya nginep dong. Masa iya mau nginep berdua," ucap Dio.


"Iya juga sih." Najwa masih sangat suka melihat pemandangan kala itu, dia tak henti-hentinya menikmati udara segar yang masuk ke rongga hidungnya, memberi ketenangan dalam jiwanya.


"Najwa pulang, yuk," ajak Dio.


"Pulang?" tanya Najwa dengan mengernyitkan dahinya.


"Iya, pulang, sudah mendung itu, nanti kalau papasan dengan hujan susah, jalannya ekstrim," jelas Dio.


"Oke, ayo pulang," ajak Najwa.


Mereka bergandengan tangan menuju sepeda motor yang terparkir di depan. Dio sebenarnya masih ingin bersama Najwa, tapi dia harus menyelesaikan pekerjaannya. Ya, setelah di sini dia sibuk mengurus kantor Annisa. Dan, dia diancam oleh Raffi yang saat ini tidak bisa mengawasi kakaknya.


"Aku sebenarnya masih ingin bersama kamu, mengajak kamu jalan-jalan, tapi lihatlah, satpam kamu mengirim pesan aku seperti ini." Dio menunjukan pesan dari Raffi yang mengancamnya kalau sampai menginap akan mengadukan pada abah atau bundanya.


"Huh, memang dia seperti itu, ya sudah kita pulang." Najwa sedikit kesal dengan adiknya yang sekarang terlalu over protektif.


Mereka kembali pulang ke rumahnya, meskipun dengan terpaksa tapi mereka menikmati setiap detiknya perjalanan berdua kali ini. Dio terus menggenggam tangan Najwa yang memeluk dirinya.


^^^^^


Sore hari, Raffi masih menemani Shifa di taman baca milik ummi nya. Raffi terus mengamati ponselnya, menunggu kabar dari Dio sudah pulang atau belum. Raffi memang sedikit memaksanya agar mereka terlalu jauh hubungannya saat ini. Dia tidak ingin kakaknya terlalu sakit jika suatu saat Dio benar-benar dijodohkan dengan Rania.


Raffi mendengar notifikasi pesan masuk di ponselnya. Pesan itu dari Dio, dia membuka pesan dari Dio, dia mengurai senyumannya saat membaca pesan dari adik sepupunya itu.


"Lapor, Pak Satpam. Nih tuan putri sudah di rumah dengan selamat, tapi aku tinggalin dulu, mau menemui klien sebentar. Laporan selesai!" Begitu isi pesan dari Dio untuk Raffi.


Bagaimanapun Dio juga menghargai Raffi sebagai adik Najwa dan Kakak sepupunya. Jadi dia nurut apa kata Raffi.


"Oke, awas kamu macam-macam dengan kakakku." Raffi membalas pesan pada Dio.


"Dasar…! Harus di gertak dulu baru sadar," ucap Raffi sambil memasukan ponselnya ke dalam saku celananya.


"Semoga apa yang aku rapalkan dalam Do'a di sepertiga malam ku, di dengar oleh-Nya. Dan, semoga kamu adalah bidadari yang dititipkan Tuhan untukku, Kak Alin," gumam Raffi yang masih menatap wanita berparas cantik itu.


"Sudah dekati saja, jangan di tunda, nanti Kak Alina keburu di ambil orang," ucap Shifa yang tiba-tiba berada di samping Raffi.


"Butuh proses untuk itu, Shifa," jawab Raffi.


"Semoga saja, Allah mengabulkan niat baikmu," ucap Shifa.


"Aamiin, kamu yakin mau menerima khitbah dari Fattah?" tanya Raffi.


"Insya Allah," jawab Shifa.


"Kenapa yang seperti ummi justru Shifa, bukan kakakku," gumam Raffi.


Shifa memang sangat pendiam dan serius, dia tidak pernah mengenal laki-laki selain Fattah, dan entah kenapa gadis cantik dan anggun serta pendiam itu tidak ingin merasakan pacaran seperti gadis lainnya. Dia sibuk dengan dunianya sehingga lupa mengenal cinta pada lawan jenis. Mungkin saja dengan Fattah dia belum mencintai, hanya sebatas rasa nyaman saat mengobrol dengannya.


Pandangan Raffi mengarah pada wanita yang berjalan mendekatinya. Alina mendekati Shifa dan Raffi yang sedang mengobrol di teras taman baca.


"Bagaimana Kak Alin, apa mereka ada niatan untuk belajar di sini?" tanya Shifa.


"Mereka sangat antusias sekali untuk belajar membaca, Shifa," jawab Alina.


"Syukurlah kalau begitu. Kak Alin mau pulang kapan?" tanya Shifa.


"Nanti saja, masih ada yang ingin aku kerjakan di sini," ucap Alina.


"Jangan malam-malam, Kak, pulangnya," imbuh Raffi.


"Iya, Raff. Kan rumah kakak dekat dengan sini, jalan kaki juga sampai," ucap Alina.


"Iya sih, tapi tetap tidak baik, pulang kemalaman, Kak," ujar Raffi.


"Cerewet sekali kamu, Raf. Iya, tidak malam-malam, lagian di sini kalau malam sudah sepi, Raf," ucap Alina.


Raffi dan Shifa akhirnya pamit pulang, karena Shifa sudah merasa lelah sekali dari pagi banyak kegiatan di taman Baca. Shifa tau, Raffi sangat mengharapkan Alina. Alina selama ini menganggap Raffi adalah adiknya, pasalnya dari kecil dia yang selalu mengajak bermain. Jadi Alina masih menganggap Raffi adalah anak kecil baginya.


"Kamu yakin Raff, suka dengan Kak Alin?" tanya Shifa.


"Yakin, kenapa tidak, ini rahasia, oke. Kalau memang sudah waktunya, aku beritahu semuanya," jawab Raffi.

__ADS_1


"Iya itu harus, aku mendukungmu, Raff. Kak Alin wanita yang baik, Raff. Kasihan juga sekarang hidup sendirian, ayah dan ibunya sudah meninggal, dan Kak Naila ikut suami ke luar kota. Satu-satunya saudara dia di sini," ucap Shifa.


"Iya, aku juga awalnya simpati saja dengan Kak Alina. Tapi, rasa ini berubah, ingin selalu menjaganya dan ingin menjadikan dia istriku kelak, semoga niat baikku ini di terima abah, bunda, dan opa," ujar Raffi.


Raffi memang dekat dengan Shifa, karena dia bisa diajak berbicara serius, dan pasti ada solusi kalau berbicara dengan dia. Tidak seperti Dio, kedekatannya dengan Najwa malah membawa dirinya dalam ikatan cinta yang salah.


^^^^^


Shifa sudah resmi di khitbah oleh Fattah seminggu yang lalu. Pernikahan Shifa akan di gelar dua minggu lagi. Setelah menikah nanti Shifa memutuskan tinggal di rumah suaminya. Semua persiapan pernikahan Shifa sudah di persiapkan dari awal. Najwa yang membuatkan gaun pengantin untuk sepupunya itu.


"Gaun ku bagaimana, Kak?" tanya Shifa.


"Tenang, sudah 70 persan jadi, Fa. Duh, senangnya mau menikah," ucap Najwa.


"Makanya, kenalkan dong, siapa calon kamu," ujar Shifa.


"Nanti belum saatnya," ucap Najwa.


"Dio, hari ini kamu temani Rania, bisa?" tanya Arsyad yang baru saja masuk ke dalam ruang tengah dari luar.


"Kok Dio?" jawab Dio dengan mengernyitkan dahinya.


"Iya, hari ini kan Om Reno ke luar kota. Rania akan menemui klien. Lumayan jauh dari sini, kamu tahu Rania tidak bisa menyetir mobil jauh-jauh, kan? Tolong temani Rania," ujar Arsyad.


"Abah, kenapa harus Dio? Kan ada sopir pribadinya, Dio tidak mau," tolak Dio.


"Abah tidak suka dibantah, Dio. Temani Rania," titah Arsyad dengan pemaksaan.


Dio bisa apa kalau abahnya sudah seperti ini. Arsyad memang sekarang menjadi seorang yang pemaksa. Tidak tahu, kenapa dia menjadi seperti itu. Di balik semua itu, dia juga ingin sekali Rania menjadi menantunya. Entah kenapa Arsyad dan Annisa menyayangi Rania seperti putrinya sendiri.


"Iya, Dio akan menemani," ucapnya dengan terpaksa.


Najwa membunyikan wajahnya yang cemburu itu di balik senyumnya. Dia tahu, ini akan terjadi. Abahnya akan tetap menjodohkan Dio dengan Rania.


Arsyad juga sengaja, agar Dio bisa dekat lagi dengan Rania seperti dulu. Bagaimana Arsyad dan Annisa tidak menyayangi Rania, semenjak Reno pindah Indonesia selau menitipkan Rania pada Annisa, saat dia dan istrinya sedang di luar negeri untuk urusan bisnis. Semenjak kelas 1 SMA, Rania sering menginap di rumah Arsyad.


Gadis manja yang cantik itu seperti sudah dekat sekali dengan Annisa dan Arsyad. Apalagi semenjak Shifa dan Najwa sudah sibuk di dunia mereka masing-masing Rania lebih dekat dengan Arsyad dan Annisa. Ya, dia memang ingin seperti Annisa, wanita karir yang bisa membesarkan perusahaannya. Rania memang memiliki impian seperti itu. Dan, sekarang ini ia meraih impiannya itu.


^^^^^


Rania yang manja, sebenarnya Rania tidak manja, hanya karena dia anak satu-satunya jadi orang tuanya yang memanjakan dia. Termasuk tidak boleh menyetir mobil sendiri. Jadi ke mana-mana dia harus bersama sopir pribadinya.


Pagi ini, dia harus mengahadapi manusia batu yang akan mengantarkannya untuk menemui kliennya. Siapa lagi kalau tidak dengan Dio. Rania memang mencintai Dio, tapi dia tidak terlalu memaksakan hatinya untuk bisa memiliki Dio. Hanya saja orang tua mereka yang heboh dan mau menjodohkannya karena Reno pernah melihat surat Dio untuk Rania waktu SMP. Begitu pula dengan Arsyad dan Annisa, mereka melihat surat-surat itu.


Orang tua mereka menganggap sampai sekarang Dio dan Rania masih menyukai. Itu semua karena Dio dan Rania sampai sekarang belum juga memiliki kekasih. Jadi, orang tua mereka menganggap kalau mereka saling menyukai tapi dalam diam.


"Ayah, aku bisa ke sana pakai taksi. Tidak usahlah merepotkan Dio," ucap Rania pada ayahnya lewat ponsel.


"Oke, baiklah aku nurut ayah." Rania mematikan ponselnya dan membuangnya kesembarang tempat.


"Aku tidak mau, aku tidak mau Dio mengira aku yang ingin dijodohkan dengan dirinya. Aku semakin tahu, dia tidak menyukaiku, aku tidak mau. Ya Allah, ini bagaimana. Setelah kepulangan Dio, dan setelah kemarin aku melihat Dio yang cuek dan dingin denganku, aku tau, dia tidak menyukaiku. Bodohnya kamu Rania … terlalu mengharap Dio mencintai kamu," gumam Rania yang kala itu sedang gusar memikirkan keadaan hidupnya.


"Aku memang sangat mencintainya. Itu dari dulu, saat aku melihat dia sewaktu SMP. Dan, sejak itu aku dekat, tapi saat keluarga Dio sedikit bermasalah, bunda di usir, Dio semakin dingin dan acuh sikapnya, dan itu sampai sekarang." Rania terus berkata lirih sambil menyiapkan dokumen penting untuk nanti ia bawa menemui kliennya.


Ponsel Rania berdering, ada notifikasi pesan masuk, dia membukanya, dan melihat siapa yang mengirim pesannya. Dio, dia yang mengirim pesan pada Rania.


"Rania, lain kali, tidak usah menyuruh Abah, agar membujukku untuk mengantar kamu pergi. Apa sopir kamu sudah mengundurkan diri karena sikapmu yang manja dan banyak mau?" ~Dio.


"Bukan aku yang menyuruh, Dio. Aku juga tidak tahu, ayahku tiba-tiba menyuruhku siap-siap karena kamu mau menjemput ku." ~Rania.


"Alasan! Sudah buruan, 5 menit lagi aku sampai!" ~Dio.


"Arrgghhtt … dasar manusia batu! Kalau tidak mau mengantar aku juga bisa pakai taksi sendiri, menyusahkan saja!" Rania berteriak di dalam kamarnya karena frustasi harus menghadapi sikap Dio nanti.


Rania memakai jilbab segi empatnya berwarna kuning kunyit, dia menatanya dengan mode hijab modern, dipadukan dengan tunik yang panjangnya selutut berwarna olive, dan celana hitam, yang membuat dia terlihat anggun pagi ini. Rania kembali mengecek semua dokumen penting yang akan ia bawa. Rania sudah siap dan keluar dari rumahnya.


Dio sudah berada di rumah Rania sekitar 10 menit yang lalu. Dia sedikit gelisah menunggu Rania berdandan. Dio menatap tajam pada Rania yang kala itu keluar dari dalam rumahnya.


"Sekalian saja 2 jam lagi," ucap Dio dengan ketus.


"Maaf, aku juga menyiapkan dokumennya dulu, lagian cepat-cepat sekali, masih ada waktu 2 jam kok," ucap Rania.


"Kaya gini kamu mau jadi wanita karir yang sukses? Hah … mana bisa! Tidak bisa on time!" tukas Dio.


"Aku tidak mau berdebat, kalau kamu tidak mau mengantar, silakan pulang! Aku bisa sendiri!" ucap Rania dengan penuh penekanan.


"Jangan banyak bicara, masuk ke mobil!" titah Dio dengan sedikit kasar.


Dio hanya fokus melihat ke depan, sambil mengemudi. Dia tak peduli dengan gadis cantik yang duduk di sampingnya. Hingga sampai di tempat tujuan Dio hanya diam tak mengajak Rania berbicara sepatah katapun.


"Sungguh dia memang manusia batu. Biarlah, yang penting aku bisa sampai di sini, dan lumayan juga untuk semangat pagi ku hari ini karena melihat wajahnya yang tampan, dan menurutku dia semakin tampan," gumam Rania.


"Rania ingat, jangan mencintai orang yang tidak mencintaimu, lupakan Dio," rutuk Rania dalam hati.


"Sudah sampai, kan? Turunlah, aku akan pergi kesuatu tempat dulu, hubungi aku kalau sudah selesai urusannya, aku tidak mau menunggumu di sini," ucap Dio dengan suara datarnya.

__ADS_1


"Iya." Hanya itu kaya yang keluar dari mulut Rania sebagai jawaban.


Hati Rania bagai tertusuk sembilu, mendengar ucapan Dio yang seakan-akan dia menyita waktunya hari ini. Tapi, dia berusaha untuk tetap baik-baik saja saat ini. Karena tidak mau merusak semua moodnya untuk melakukan pertemuan dengan kliennya hari ini.


__ADS_2