THE BEST BROTHER

THE BEST BROTHER
Ekstra Part 4 "Seperti Anjing dan Kucing" The Best Brother


__ADS_3

Thalia menganggap Arsyad bukan hanya sekedar sahabat papahnya saja, tapi sudah seperti om-nya sendiri. Dia tidak mau orang sebaik om nya di lecehkan oleh temannya. Thalia memang melihat Arkan sangat sederhana dalam berpenampilan. Bagi Thalia sederhana tidak bisa di katagori kan itu orang miskin. Sederhana tidak bisa bersanding dengan orang miskin, tidak bisa juga bersanding  dengan orang kaya. Karena sederhana menurut Thalia hanya bisa bersanding dengan orang yang bijaksana.


Seperti Arsyad, menurut Thalia Abah dari Arkan memang orang yang bijaksana seperti papahnya, yaitu Opa Rico. Arsyad selalu menuturkan anak-anaknya agar selalu hidup sederhana. Dia melihat dari Dio yang dulu kuliah di Berlin. Meski gaya teman-temannya di sana sangat wah, Dio bisa mengimbangi mereka dengan tidak melepas kesederhanaannya. Thalia dulu sempat mengagumi Dio yang sangat sederhana itu, meski berteman dengan teman-teman yang hidupnya mewah.


Sekarang, dia melihat Arkan yang juga seperti itu. Meski dia punya segalanya, dia selalu menampilkan apa adanya yang ada pada dirinya. Hingga dia dilecehkan teman-temannya yang tidak tahu menahu soal kehidupan Arkan pun, Arkan tetap diam saja. Thalia melihat Arkan yang sedang duduk di bangkunya dengan membaca novel, entah novel genre apa yang Arkan baca sekarang, Thalia tidak tahu dan tidak mau tahu juga.


“Kan, kamu kok mau sih diperlakukan seperti itu? Kamu bisa galak dengan aku, tapi kamu membiarkan dia melecehkan kamu,” ucap Thalia dengan duduk di bangku yang ada di depan Arkan.


“Lia, kamu mengganggu saja. Biarlah dia bicara apa,” jawab Arkan.


“Aneh kamu, dia bicara seperti itu sama saja melecehkan Om Arsyad. Bukankan keluarga kamu menjadi donatur tetap di sekolahan ini?” tanya Thalia.


“Jangan keras-keras bicaranya, kamu hobi ngegas banget ya jadi orang? Biarlah mereka mau bicara apa,” ucap Arkan.


“Iya, tapi kan...”


“Kembali ke bangku mu atau aku timpuk pakai buku ini!” ucap Arkan dengan sarkasme.


“Nyebelin!” Thalia langsung beranjak dari depan Arkan dan hendak berpindah ke bangkunya.


“Sebentar.” Arkan menyahut tangan Thalia.


“Apa lagi? mau aku timpuk pakai kursi!” sarkas Thalia.


“Jangan bilang kalau abah donatur di sekolah ini,” ujar Arkan.


“Iya. Lepasin tanganku,” ucap Thalia.


Arkan hanya bisa melihat wajah Thalia yang semakin kesal dengan dirinya. Tidak menyangka dia bisa berpikir seperti itu. Benar kata Thalia, dia bilang seperti itu sama saja menganggap rendah keluarganya. Tapi, tidak masalah bagi Arkan, yang terpenting dia hidup tidak merugikan orang lain. Biar orang lain mau berkata apa pada dirinya.


Arkan melirik ke arah Thalia yang sedang sibuk dengan buku yang ia baca. Jarak bangku Arkan dengan Thalia tidak jauh. Masih berdampingan hanya berjarak ruang celah antara bangku untuk berjalan.


^^^


Sepulang sekolah, Thalia masih menunggu sopir menjemputnya yang katanya agak terlambat karena menjemput Tita terlebih dahulu. Berkali-kali Thalia melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Dia merasa jenuh padahal dia baru menunggu 10 menit.


Angel dan teman gengnya keluar dari gerbang sekolahan. Ada Lily juga di sana, memang Lily ikut geng nya Angel semenjak masuk kelas 2, karena sisil teman sebangkunya juga bergabung dengan Angel dan Vanya.


“Eh...lihat, ada si bule dungu tuh!” ucap Vanya dengan menunjukkan jari telunjuknya ke arah Thalia yang sedang menunggu jemputan di halte sekolah.


“Kita kerjain, yuk!” ajak Sisil dengan semangat.


“Boleh juga, mumpung mangsa kita gak ada penghalang seperti tadi waktu istirahat,” ujar Angel,


“Sialan, mantan loe yang dekil itu, si montir bengkel, menghalangi gue yang mau ngerjain dia,” ucap Vanya dengan kesal.


“Sudah jangan buat masalah dengan dia, kita pulang saja,” ujar Lily.


“Kenapa? Takut lo?!” ucap Angel.


“Gak, siapa yang takut,” jawab Lily.


“Ya sudah kita kerjain saja,” ucap Angel sambil beralan ke arah Thalia.


Thalia masih duduk di halte sendirian, dia menunggu sopir pribadinya yang sengaja di utus papahnya untuk mengantar jemput Thalia dan Tita.


“Pak, masih lama?” tanya Thalia dengan menelepon sopirnya.


“Iya, Non. Non Tita masih ada kegiatan,” jawabnya.


“Ya sudah saya pakai taksi, pak,” ucapnya.


“Jangan non, aduh gimana ini? Non kan belum tahu daerah sini,” ujar sopir pribadinya.


“Iya juga sih, ya sudah Thalia nunggu Pak Adi kalau gitu,” ucap Thalia.


Thalia mematikan ponselnya dan menaruh ke saku rok abu-abu yang panjangnya di bawah lutut.


“Wah...si bule dungu masih di sini,” ucap Sisil, gadis berjilbab tapi mulutnya tidak bisa bicara sopan. Memang kebanyakan di sekolahan Arkan memakai jilbab siswa perempuannya, tapi ada sebagian yang tidak.


Arkan memang tidak mau sekolah di SMA yang dulu kakak-kakanya sekolah, dia memang beda sendiri, padahal nilainya cukup untuk sekolah di sekolahan yang lebih baik.


“Jaga bicaramu!” tukas Thalia.


“Berani melawan dia,” ucap Lily.


“Kamu Lily bukan?” tanya Thalia.


“Iya, gue Lily,” jawab Lily dengan sombong.


“Bagus lah Arkan di putusin kamu, daripada punya cewek gak berotak kayak kamu!” ucap Thalia dengan sarkastik.


“Yang gak punya otak itu lo, dungu!” Angel mendorong kepala Thalia dengan jari telunjuknya.


“Berani lo pegang kepala gue, hah!” Thalia mendorong tubuh Angel. Vanya melayangkan tangannya akan menampar Thalia, tapi dengan segera Thalia menangkisnya.


“Apa salah gue, hah! Lo mau cari gara-gara dengan gue!” Thalia seketika murka dengan mereka.

__ADS_1


“Berani ya lo!” Angel menarik tangan Thalia menyeretnya ke lahan kosong samping sekolahan. Banyak yang melihat tapi dia tidak mau mencari masalah dengan geng Angel yang terkenal bisa melakukan apa saja di sekolahan karena katanya orang tuanya kaya.


Thalia merasa sakit di pergelangan tangannya. Perlakuan siswa di sini ternyata lebih menyeramkan di bandingkan dengan di Berlin kala itu.


“Lepaskan!” Thalia mencoba menepis tangan Angel, namun dia malah di dorong Angel hingga tersungkur di tanah.


“Awww...!” Thalia mengaduh dan meringis kesakitan.


“Kalian jahat sekali, memang aku salah apa?” ucap Thalia dengan mencoba berdiri tapi tetap saja tidak bisa karena Vanya mendorong kembali tubuh Thalia. Sisil menginjak kaki Thalia hingga Thalia merasakan sakit dan menangis.


“Awww...hentikan ini!” pekik Thalia.


“Sakit nona cantik?” ucap Lily sambil menarik rambut Thalia.


“Mau kalian apa?” ucap Thalia dengan sesegukan.


“Ini sudah tradisi, kami harus menyiksa siswa baru,” ucap Angel dengan tertawa penuh kemenangan.


Puas mengerjai Thalia hingga banyak luka di kaki dan tangannya, mereka pergi dari lahan kosong itu. Lily dan lainnya melihat Arkan sedang berbicara dengan seorang laki-laki dan gadis kecil memakai seragam SMP di depan Halte.


“Wah...tu si montir deket-deket sama orang kaya pengen tertular kaya juga? Montir mah tetap montir dia!” sarkas Vanya dengan berjalan ke arah Arkan.


“Nya, jangan ke sana, kita pergi saja,” cegah Lily. Dia tahu kalau gadis yang memakai seragam SMP adalah adik Thalia.


“Apaan sih! Tinggal ikut aja,” tukas Angel.


“Tapi itu....!” ucapan Lily terhenti karena Diana dan Lulu, lalu menariknya untuk ikut dengan Vanya dan Angel ke arah Arkan.


Arkan tahu, pasti mereka habis mengerjai Thalia. Karena dari tadi mereka menghubungi Thalia tidak aktif ponselnya. Arkan menatap sinis Vanya, kesabarannya sudah tidak bisa di kendalikan lagi. Dia mendekati Vanya yang juga berjalan ke arahnya.


“Kak Arkan, mau ke mana?” tanya Tita.


“Kamu dengan Pak Adi saja, Tit,” ucap Arkan, tapi Tita tetap ngeyel ikut dengan Arkan.


Arkan tidak mempedulikan Vanya seorang perempuan. Dia menarik kasar Vanya di depan teman-temannya.


“Di mana Thalia!” ucapnya dengan penuh kemurkaan.


“Hah... ternyata dia mencari bule dungu,” ucap Angel.


Arkan menghunuskan tatapan tajamnya ke arah Lily, begitu juga Tita. Tanpa aba-aba Arkan menarik tangan Lily.


“Di mana Thalia?!” tanya Arkan dengan memegang bahu Lily dengan kasar.


Wajah Lily pucat seketika, melihat Arkan yang kali ini benar-benar murka sekali. Arkan tidak habis pikir, seorang Lily bisa terjerumus pada pergaulan yang tidak baik seperti ini.


“Hukum! Hellow... kamu punya apa mau melaporkan kami? Buat jajan saja jadi montir, mau melaporkan kami,” cercah Angel dengan sombong.


“Aku tidak main-main...!di mana Thalia!” teriak Arkan di depan wajah Angel.


“Tita.....!” Thalia memanggil adiknya. Yang sedang berjalan dengan terpincang-pincang dari lahan kosong samping sekolahan, dan pakaiannya tampak kotor sekali.


“Kak Lia...! Kak Arkan itu Kak Lia,” ucap Tita dengan menampakkan wajah khawatir karena melihakt rambut kakaknya berantakan.


“Kalian, tunggu di sini. Satu langkah pergi dari sini, kamu akan membusuk di sel!” ancam Arkan dengan penuh amarah.


Arkan berlari menghampiri Thalia yang bersandar di tembok sekolahan. Dia tidak menyangka Angel dan kawan-kawannya akan melakukan hal seperti ini. Padahal mereka berkali-kali sudah di peringatkan oleh kepala sekolah, bahkan mereka juga di skors selama 1 bulan dengan ancaman tidak naik kelas.


“Lia, kamu kenapa bisa seperti ini?” tanya Arkan dengan khawatir.


“Arkan kakiku sakit sekali,” ucapnya dengan merintih kesakitan.


Tanpa aba-aba Arkan menggendong Thalia dan membawanya ke mobil. Pak Adi tidak bisa membiarkan saja kejadian ini. Dia melaporkan pada Leon, beruntung jadwal keberangkatan Leon di tunda untuk ke Berlin.


“Pak Adi, bawa Thalia ke rumah sakit,” ucap Arkan pada sopir pribadi Thalia.


“Tita, nanti kamu hubungi Kak Arkan, biar Kak Arkan mengurus mereka,” ucapnya pada Tita sambil mengusap kepalanya.


Sementara, Rangga teman sebangku Arkan dari kelas 1 yang juga tahu seluk beluk Arkan itu siapa, dia menghampiri Angel dan kawan-kawan.


“Kalian siap-siap di keluarkan dari sekolah ini, dan tidak akan di terima di sekolah mana pun!” ucap Rangga di depan Angel.


“Maksudmu?” tanya Angel


“Kamu tidak tahu? Sekolahan ini tanpa bantuan dari orang tua Arkan tidak akan semaju ini. Kepala sekolah di sini sahabat baik opanya Arkan,” jawab Rangga.


“Aku bilang jangan berurusan sama mereka, kalian tetap saja tidak mau dengar apa kataku,” ucap Lily dengan suara yang bergetar karena masih merasakan kemurkaan Arkan tadi.


“Kalian salah orang, menyiksa orang dan melecehkan orang tanpa tahu menahu siapa orang yang kalian sakiti. Papahnya Thalia juga calon donatur di sini. Nasib kalian terancam kali ini. Kalian siap-siap mendekam di sel!” ucap Rangga dengan geram pada mereka.


Sudah lama sekali semua siswa ingin memberi pelajaran pada geng Angel, tapi selalu tidak ada yang berani. Itu semua karena takut ancaman Angel yang omong kosong.


Arkan mendekati Angel dan para pengikutnya. Angel tertunduk ketakutan, karena dia baru saja tahu siapa Arkan sebenarnya.


“Bagaimana Thalia?” tanya Rangga yang masih berada di samping Angel dan lainnya.


“Dia akan di bawa ke rumah sakit, beruntung Om Leon ditunda keberangkatannya ke Berlin,” jawab Arkan.

__ADS_1


“Makasih ya, sudah jagain para pecundang ini,” ucap Arkan.


“Sama-sama, lagian kalau mereka kabur juga aku sudah ada buktinya, semua sudah terekam di sini, sejak dia di ganggu di halte sampai di bawa ke lahan kosong,” jelas Rangga.


“Enaknya diapain mereka, Kan?” tanya Rangga.


“Yang jelas ini urusan abah sama Om Leon juga kepala sekolah, karena aku sudah bilang sama abah untuk menindaklanjuti soal ini,” ucap Arkan.


Arkan menatap sinis Angel dan lima temannya yang wajahnya sudah tampak pucat. Arkan tersenyum sinis pada mereka dan mendekati Lily.


“Kalu saja kamu dengar apa kataku, kamu tidak akan masuk ke dalam golongan yang mempermalukan orang tua. Kamu tahu akibatnya setelah ini? Keluarga Thalita dan keluargaku tidak akan main-main dengan orang yang kasar. Kamu pernah tahu kasus seorang narapidana yang bermain api dengan keluargaku? Semua akan membusuk di penjara!” tegas Arkan.


Arkan sebenarnya tidak tega mengucapkan semua itu. Itu semua bertujuan agar mereka jera. Dan tidak melakukan tindakan kekerasan lagi. Arkan hanya menggertak saja, tapi mungkin Abahnya dan Leon yang akan memberi sanksi pada mereka.


“Ikut aku!” Arkan membawa mereka ke ruang BP. Beruntung guru-guru masih ada di sekolahan, dan Kepala Sekolah juga masih ada di sekolahan. Tapi, semua langsung di tanggapi positif oleh guru BP, dan mereka langsung di suruh ke ruang Kepala Sekolah.


^^^


“Berulangkali ibu bilang, hentikan tidakan kekerasan kalian, apa kalian belum jera? Kalian sebentar lagi kelas 3. Dan, kalian tahu, siapa Arkan dan Thalia?” ucap Bu Siwi wali kelas yang ikut mendampinginya di ruang kepala sekoalh.


Semua guru sudah bosan dengan mereka, mereka yang sering berulah itu dan sering diskors, bahkan berkali-kali, tapi tetap diulangi. Siswa kelas tiga pun banyak yang tidak suka dan tidak berani dengan mereka. Entah kenapa sampai tidak berani dengan mereka.


Rangga dan Arkan memberikan bukti rekaman perbuatan mereka yang tdirekam Rangga tadi kepada Kepala Sekolah, Pak Aris.


“Bagaimana pak? Ini sudah keterlaluan sekali,” ucap Arkan.


“Semua akan kami diskusikan dengan abah kamu dan papahnya Thalia, Arkan,” ucap Kepala Sekolah.


“Keluarkan saja siswa macam ini, Pak,” imbuh Rangga.


“Semua ada prosedurnya, Rangga,” ujara Pak Aris.


Mereka berenam di beri bimbingan oleh Kepala Sekolah, Guru BP, dan wali kelas. Arkan dan Rangga masih berada di ruang kepala sekolah dengan mereka. Dia juga menunggu Abahnya datang. Tak lama kemudian Arsyad dan Leon datang dan langsung di persilakan masuk ke dalam ruang Kepala Sekolah.


Arkan dan Rangga pamit pulang, dia sudah tidak berhak mengurus semuanya. Semua dia serahkan pada semua yang wajib mengatasi masalah ini.


“Abah, Arkan pamit pulang,” ucapnya pada Abahnya.


“Oh iya, Thalia di rumah sakit mana?” tanya Arkan.


“Di rumah sakit mana?”


“Di rumah sakit Kak Akmal. Ada Kak Najwa juga di sana,” jawab Leon.


“Maafkan Arkan, Om. Arkan tidak menjaga Lia,” ucap Arkan.


“Sudah, ini semua musibah, sekarang temui Lia, ada bundamu juga di sana<,” ucap Leon


“Baiklah, Arkan ke sana, Bah, Om.”


Arkan dan Rangga langsung menuju ke rumah sakit di mana Thalia di rawat. Arkan masih tidak menyangka mereka akan sekejam itu pada  Thalia yang tidak memulai apa-apa pada mereka.


Arkan memarkirkan sepeda motornya di rumah sakit. Dia langsun masuk ke ruang perawatan Thalia. Beruntung kata dokter yang menanganinya lukanya tidak cukup serius, hanya butuh waktu istirahat saja.


“Lia,” panggil Arkan pada Thalia yang sedang di suapi bubur oleh Annisa.


Lia menoleh dan mengulas senyumannya pada Arkan. Senyuman yang baru pertama kali ia berikan pada Arkan, setalah beberapa kali bertemu mereka tak pernah akur.


“Bagaimana keadaan kamu?” tanya Arkan yang berdiri di samping bundanya.


“Ya seperti ini, terima kasih, ya?” ucap Thalia.


“Untuk?”


“Karena sudah menolong aku.”


“Iya, maaf kalau aku tidak ke toilet dulu pasti aku tahu. Soalnya waktu itu aku keluar dengan Rangga, dan ternyata Rangga sudah merekam kejadian itu,” ucap Arkan.


“Maaf ya, Lia. Aku tidak menolong kamu. Aku sengaja tidak sengaja sebenarnya, supaya aku dapat bukti yang valid, soalnya biar mereka jera, mudah-mudahan saja mereka dikeluarkan dari sekolahan. Karena bukti benar-benar valid, dan tangan mereka melukai kamu semua. Ponsel ku saja masih di pegang kepala sekolah, agar orang tua mereka tahu perbuatan anaknya dengan melihat video di ponselku,” ucap Rangga yang juga ikut masuk.


“Makanya saat Angel akan memukul kamu dengan kayu, aku langsung melempar batu, dan dia akhirnya lari keluar dari lahan kosong,” imbuh Rangga.


“Iya, tidak apa-apa, Ngga. Terima kasih, ya? Kalian sudah membantu aku,” ucap Thalia.


“Kita semua teman, Lia, jadi kalau ada apa-apa jangan sungkan-sungkan meminta bantuan pada kami semua,” jawab Rangga.


“Tante, Maafin Arkan, tidak bisa jagain Lia, padahal Om Leon tadi pagi menitipkan Lia dan Si cerewet ini padaku,” ucap Arkan.


“Sudah tidak apa-apa, ini semua musibah, sayang. Yang penting anak tante masih bisa sekolah lagi. Kalian juga, jangan suka bertengkar,” ucap Rere.


“Kalian apa tidak bisa, kalau bertemu tidak bertengkar?” sambung Annisa. Arkan dan Thalia hanya tersenyum pada Annisa dan Rere.


“Tuh dengar...! jangan seperti anjing dan kucing,” imbuh Tita.


“Iya cerewet,” ucap Arkan sambil menarik pipi Tita.


“Sakit, Kak...!” Tita mengaduh kesakitan, dan mengusap pipi yang di tarik Arkan.

__ADS_1


Thalia tersenyum melihat adiknya begitu akrab dengan Arkan, berbeda dengan dirinya yang selalu uring-uringan dan tidak akur. Baru pertama kalinya Arkan dan Thalia akur hari ini karena sebuah kejadian sadis tadi.


__ADS_2