THE BEST BROTHER

THE BEST BROTHER
S3 Cinta Untuk Mereka Bab 19 "Terhipnotis"


__ADS_3

Seusai sholat maghrib Arsyad mengambil minum di dapr, dia berjalan dengan agak terburu-buru, karena tenggorokannya sudah mengering seusai mengaji..


"Brugh...Aww…Kak Arsyad. Hati-hati dong, kalau jalan."ucap seseorang yang juga berada di dapur.


"Ah…maaf-maaf, aku buru-buru sekali karena haus, tenggorokanku sudah kering sekali, maaf Nis."ucap Arsyad.


"Iya, iya, gak apa-apa, aku kaget saja, untung aku belum bawa coklat panas ku, kalau sudah aku bawa pasti menumpahiku atau kakak."ucap Annisa.


"Kamu buat coklat panas?"tanya Arsyad.


"Iya, kakak mau?" Annisa menawari Arsyad coklat panas.


"Emm…boleh, aku tunggu di ruang tengah."ucap Arsyad.


"Oke."ucap Annisa.


Arsyad memang menyayangi Annisa, tapi hanya sebatas adik ipar saja, sama halnya dengan sayang pada Shita dan Rachel. Karena memang mereka umurnya tak jauh beda antara Rachel, Shita dan Annisa.


"Kak, ini coklatnya." Annisa memberikan coklat pada Arsyad yang sedang bergabung dengan lainnya di ruang keluarga.


"Terima kasih."ucap Arsyad sambil mengambil secangkir coklat panas dari tangan Annisa.


"Cie….bikinnya cuma satu buat Kak Arsyad saja."goda Shita.


"Iya ih…bunda. Masa buat pakde saja."ucap Dio.


"Dio mau?"tanya Arsyad.


"Tidak sih, tapi sepertinya memang kalian cocok."ucap Dio.


"Cocok apa?"tanya Annisa


"Cocok saja, kalau kalian bersama. Kan jadi lengkap, ya kan budhe?"ucap Dio pada Shita


"Tuh kan, sudah dapat lampu hijau dari Dio."ucap Shita.


"Dio, kamu itu ada-ada saja. Jangan seperti itu, bicara yang sopan."ucap Annisa


"Bunda, lagiyan cocok kan, bunda sendiri pakde sendiri. Tapi sayang, hati bunda dan pakde masih belum bisa menerima cinta yang lain."ucap Dio dengan senyuman manisnya.


"Eh…anak kecil, ngomong cinta, cinta itu apa sih, siapa yang ngajarin Dio seperti itu."ucap Annisa.


"Bunda, masa iya seperti itu ada yang ngajarin."ucap Dio.


"Bunda belum tau sih, berapa ribu cewek yang ngirim Dio surat. Tapi aku tau yang di balas oleh Dio siapa."ucap Shifa.


"Kak, Shifa, jangan di bocorin dong."tukas Dio.


"Kamu ya, bunda tidak pernah mengajari kamu seperti tu, kamu masih SMP sudah pacaran ya."ucap Annisa dengan agak kesal.


"Dio, sini dekat pakde." Arsyad menarik Dio agar duduk di sebelahnya.


"Kamu pacaran?"tanya Arsyad.


"Tidak, cuma teman-teman cewek Dio yang suka ngirim surat, dan Dio tidak balas kok. Cuma Dio baca saja. Memang ada yang Dio balas satu sih, pakde."ucap Dio.


"Lalu? Kenapa di balas, dan kenapa hanya dia yang di balas."tanya Arsyad.


"Ya, ingin balas dia saja. Gak mau yang lain."ucap Dio.


"Dio, kamu itu masih kecil, masih kelas 1 SMP. Jangan seperti itu, fokus sekolah dulu, kasihan bunda, mengurus kamu sendirian, bunda juga kerja, jadi jangan ulangi yang seperti itu lagi."ucap Arsyad.


"Iya, pakde. Dio tidak seperti itu lagi."ucap Dio.


"Keponakan yang pintar."ucap Arsyad sambil mengacak-acak rambut Dio.


"Benar-benar seperti Arsyil, dia masih SMP sudah bisa surat menyurat dengan cewek. Duh, untung saja dia kembali ke Indonesia. Ini yang aku takutkan, kalau mereka harus hidup di luar negeri, apalagi hanya dengan Annisa."gumam Arsyad dalam hati.


"Iya, aku sibuk kerja, hingga aku tak tau apa yang anak-anak lakukan, untung aku segera pulang ke sini, coba akalu di sana, pergaulan anak remaja rata-rata sudah melebihi tingkat kewajaran. Bebas sekali pergaulan di sana."gumam Annisa dalam hati.


"Tuh Dio, dengarkan kata pakde, jangan di ulangi lagi, ya."ucap Rico.


"Iya, opa."ucap Dio.


Mba Ida memanggil semuanya untuk makan malam, dan mereka makan malam bersama, Keluarga Bayu juga belum pulang, dan mereka akan menginap di rumah Rico malam ini.


^^^^^


Seusai makan malam selesai, mereka masih berada di meja makan, banyak yang mereka bicarakan bersama. Karena mereka baru pernah berkumpul kembali setelah sekian purnama mereka terpisah dengan jarak dan waktu.


"Annisa, Arsyad, besok kalian ada waktu?"tanya Rico.


"Emm… ada apa pah?"tanya Arsyad.


"Besok luangkan waktu sebentar, papah akan bicara dengan kalian."ucap Rico.


"Besok Annisa ke kantor, pah, lama sekali tidak ke kantor."ucap Annisa


"Besok juga Arsyad ada meeting, jadi harus berangkat pagi."ucap Arsyad


"Ya sudah jam 2 siang, bisa tidak bisa kalian harus menemui papah di cafe Shita."pinta Rico


"Baiklah, Nisa akan usahakan."ucap Nisa.


"Arsyad juga akan usahakan, pah."ucap Arsyad.


"Abah, Tante, jangan sibuk kerja terus dong."ucap Najwa.


"Kan Tante punya tanggungjawab di kantor, sayang."ucap Annisa.


"Abah juga, pekerjaan Abah sekarang tambah banyak."ucap Arsyad

__ADS_1


"Kan sudah ada Lintang."ucap Rayhan.


"Lintang?"tanya Shita.


"Iya, karyawan baru, yang menggantikan posisi Arsyil."ucap Rayhan.


"Kenapa harus wanita?tanya Shita.


"Memang yang berkompeten dia, kakak harus bagaimana?"tanya Arsyad.


"Iya, padahal kakakmu bilang, maunya laki-laki saja,ehh…malah Lintang yang di pilih."ucap Rayhan.


"Ray, semua kandidat wanita semua, aku butuh cepat, jadi ya aku pilih yang berkompeten di bidangnya. Dan, Lintang yang memang pas."ucap Arsyad.


"Pas, di kerjaan, pas di hati juga?"tanya Ray meledek.


"Sudah, kebiasaan, kalau bahas Lintang pasti seperti itu kamu."ucap Arsyad.


"Abah gak oleh menikah, kalau bukan pilihan Najwa dan Raffi."tukas Najwa.


"Wah…wah…tuan putri cemburu nih,"ucap Rayhan.


"Habis, Om Ray gitu sih," ucap Najwa.


"Terus yang Najwa pilih siapa?"tanya Ray


"Ada deh, mau tau aja," ucap Najwa.


Seusai makan malam, dan berbincanh-bibcang sedikit di ruang makan, mereka kembali ke kamar masing-masing.


Rico duduk di tepi ranjangnya, dia memikirkan bagaimana caranya menyatukan Annisa dan Arsyad, sesuai keinginan Almira. Rico teringat akan anak almarhum anak bungsunya. Arsyil, bayang-bayang Arsyil malam ini begitu lekat di pelupuk matanya. Dia juga memikirkan, apa Arsyil rela memberika Annisa pada Arsyad? Jika tidak, kasihan Arsyil yang di sana, dia pasti akan sedih melihat mereka bersatu.


"Syil,maafkan papah yang sudah janji dengan Almira. Papah harus menepatinya, Syil. Semoga kamu bisa menerima ini."gumam Rico dalam hati.


Rico merebahkan tubuhnya di ranjang, baru sarmja merebahkan tubuhnya, suara ketukan pintu terdengar di luar kamarnya.


"Opa, opa sudah tidur? Ini Najwa, opa."tanya Najwa dari balik pintu kamar Rico.


Rico langsung beranjak dari tempat tidurnya dan membukakan pintu kamarnya.


"Ada apa Najwa? Eh, ada Shifa, Dio dan Raffi juga. Ada apa kalian malam-malam ke kamar opa? Ini sudah hampir jam 10 malam, sayang."tanya Rico


"Najwa boleh masuk?"tanya Najwa.


"Iya, ayo kalian masuk ke kamar," ajak Rico.


"Kalian ada apa? Kok tiba-tiba ke kamar opa?"tanya Rico lagi.


"Opa, Najwa minta tolong, sampaikan surat ini pada Abah dan tante Nisa," pinta Najwa sambil memberikan surat dari Almira pada Rico.


"Iya opa, surat ini juga, ini surat dari budhe untuk Shifa," ucap Shifa.


Rico membaca surat milik Shifa, Rico semakin ingin sekali mempercepat perjodohan Arsyad dan Annisa. Tapi, dia bingung bagiaman caranya memulai pembicaraan pada Aesyad dan Annisa. Apalagi, Annisa baru saja sampai di indonesia. Mungkin terlalu cepat bila menyuruhnya menikah dengan Arsyad sekarang. Namun, jika tidak di sampaikan sekarang, takutnya mereka malah memilih jalan sendiri-sendiri.


"Najwa, Shifa, Dio dan Raffi besok kalian ikut opa ya, ke cafe Tante Shita,"ucap Rico.


"Baik opa," jawab mereka.


"Ya sudah, kalian tidur sudah jam 10 apa aku tidur di sini?"tanya Rico.


"Memang boleh tidur di kamar opa?"tanya Dio.


"Boleh, sini tidur bareng opa." Rico menata tempat tidurnya, dai tidur di tengah-tengah cucunya.


^^^^


Ke esokan harinya, semau orang di sibukan dengan kesibukannya masing-masing. Shita, Vino dan kedua anaknya sudah pulang sehabis sholat subuh. Begitu juga keluarga Bayi dan Iva. Karena mereka hari ini harus di berangkat berkerja di kantornya masing-masing.


Di rumah Rico tinggal Annisa, Arsyad dan anak-anak mereka. Rico merasakan hidup dengan anak mantunya saja pagi ini. Dengan Annisa sebagai istri Arsyad. Annisa menyiapkan sarapan pagi di meja makan di bantu dengan Mba Ida. Arsyad dan Raffi harus berangkat pagi-pagi sekali. Sebelum Arsyad ke kantor, Arsyad terlebih dulu mengantarkan Raffi ke sekolah. Rafi memang sekolahnya harus berangkat pagi-pagi sekali.


"Kak, sarapan dulu, masih sampai kan kalau sarapan dulu,"ucap Annisa.


"Iya, Nis." Arsyad menarik kursi di meja makan dan mengajak Raffi untuk sarapan juga.


"Kamu tidak sarapan, Nis?"tanya Arsyad.


"Nanti saja, nunggu Dio, Shifa, Najwa dan Papah. Kalian sarapan dulu saja, kalian kan yang harus berangkat terlebih dahulu,"ucap Nisa.


"Nis, Dio dan Shifa mau sekolah di mana?"tanya Arsyad.


"Inginnya sih mereka beda sekolahan, ya nanti aku tanya lagi dengan mereka,"ucap Nisa.


"Kamu ke kantor hari ini?"tanya Arsyad.


"Iya, banyak yang harus aku selesaikan di kantor,"ucap Annisa.


Tidak biasanya Arsyad mengajak mengobrol Annisa, biasanga dia acuh, apalagi waktu mereka masih memiliki pasangan mereka masing-masing, mungkin mereka menjaga perasaan pasangannya masing-masing, bagaimanapun juga Arsyad pernah mencintai Annisa waktu dulu. Sekarang mereka dengan terlihat lebih leluasa mengobrol, walaupun mereka tidak saling menatap atau memandang saat mengobrol.


Annisa mengambilkan nasi untuk Arsyad dan Raffi. Rico memerhatikan mereka yang ada di ruang makan dari kejauhan. Rico merasa Annisa dan Arsyad memang sangat cocok sekali jika mereka menikah.


"Kalian cocok sekali, aku semakin yakin akan melanjutkan menjodohkan kalian saja."gumam Rico dalam hati.


Rico mendekati mereka yang masih mengobrol.


"Kalian bertiga saja?"tanya Rico.


"Iya pah, Arsyad dan Raffi berangkat pagi, jadi sarapan lebih dulu," ucap Arsyad


"Papah tidak sarapan?"tanya Arsyad.


"Nanti nunggu yang lain saja,"jawab Rico.

__ADS_1


"Kamu tidak sarapan, Nis?"tanya Rico.


"Nanti pah, nunggu Shifa, Najwa dan Dio,"jawab Annisa.


"Abah, ayo berangkat, sudah jam 6 lebih," ajak Raffi.


"Oke, pamit dulu denga opa dan tante,"titah Arsyad pada Raffi.


"Opa, tante, Raffi berangkat ya," pamit Raffi.


'iya, hati-hati, sekolah yang pinter,"ucap Rico.


"Hati-hati sayang, jangan nakal di sekolahan, oke,"ucap Annisa sambil mencium pipi Raffi.


"Iya, tante,"ucap Raffi.


"Raffi ingin tante, jadi bunda Raffi juga,"gumam Raffi dalam hati.


Mereka keluar dari rumah, Arsyad terlebih dulu mengantarkan Raffi kesekolahnya. Di dalam mobi Raffi membuka percakapan dengan Abahnya.


"Abah tidak menikah lagi?"tanya Raffi yang membuat Arsyad dengan cepat menoleh ke arah Raffi dan mengerutkan keningnya.


"Menikah?"tanya Arsyad.


"Iya, Abah,"jawab Raffi.


"Menikah dengan siapa, Raffi?"tanya Arsyad


"Tante Nisa,"ucpa Raffi.


"Kamu itu, jangan ngarang seperti itu, Raffi. Tidak mungkin lah papah menikah dengan tante Nisa. Kamu ini ada-ada saja, Raf,"ucap Arsyad.


"Ada-ada saja gimana, bah. Raffi tanya serius Abah,"ucap Raffi.


"Raf, abah tidak akan menikah lagi, abah akan menjadi ibu dan ayah untuk kamu,"ucap Raffi.


"Jangan seperti itu, Abah. Raffi minta jika abah ingin menikah lagi, menikahlah dengan Tante Nisa. Tante orang baik Abah,"ucap Raffi.


"Apa Abah tega melihat anaknya dengan ibu tiri yang jahat, kalau Abah menikah dengan perempuan lain selain Tante Nisa?"tanya Raffi.


"Istri Abah cuma ummi kamu, tidak ada yang lain, Raffi,"tukas Arsyad.


"Abah jangan seperti itu, Abah masih muda, Raffi takut banyak perempuan yang suka Abah, apalagi Abah kan tampan, nanti kalau perempuan itu cuma ingin Abah saja dan tidak mencintai anak-anaknua abah bagaimana?"tanya Raffi.


"Kamu itu, pikirannya sudah sampai ke sana-sana,"ucpa Rico.


"Abah Raffi serius,"ucap Raffi.


"Abah juga serius," ucap Arsyad.


"Serius mau menikah dengan Tante Nisa, kan?"tanya Raffi.


Arsyad membelokan mobilnya ke arah sekolahan Raffi dan menghentikan mobilnya di depan pintu gerbang sekolahan Raffi.


"Sudah jangan bicara seperti itu lagi, sana masuk ke sekolah, ingat jangan bandel di sekolah,"ucap Arsyad.


"Abah, jawab dulu, kalau mau menikah lagi dengan Tante Nisa saja ya, bah?"tanya Raffi lagi.


"Abah tidak akan menikah lagi, sayang,"jawab Arsyad.


"Ya sudah, jangan deket-deket perempuan lain, kalau Abah tidak mau menikah,"ucap Raffi.


"Iya, tidak,"jawab Arsyad.


"Janji, ya?" Raffi menunjukan jari kelingkingnya.


"Iya janji, Abah tidak dekat-dekat wanita lagi, Abah janji,"ucap Arsyad dengan menautkan jari kelingkingnya pada jari kelingking Raffi.


"Janji?"tanya Raffi lagi.


"Iya janji,"ucap Arsyad.


"Janji mau menikah dengan Tante Nisa?"tanya Raffi lagi.


"Iya, janji,"ucap Arsyad.


"Menikah dengan Tante Nisa lho,"ucap Raffi.


"Eh...gak lah, masa Abah menikah dengan Tante Nisa,"ucap Arsyad.


"Eits...tidak bisa di tarik, kan sudah janji,"ucap Raffi dengan tertawa. Arsyad terbawa suasana jadi dia seperti terhipnotis oleh Raffi.


"Terserah deh, Abah nyerah, sudah sana masuk ke sekolah,"titah Arsyad.


"Oke,"jawab Raffi.


Raffi mencium tangan Arsyad, dai segera berlari masuk kedalam sekolahannya. Aesyad kembali mengemudikan mobilnya menuju kantor. Sesampainya di kantor Arsyad masuk ke dalam ruangannya, dia kembali beraktivitas di kantornya. Pagi ini dia memimpin rapat dengan karyawannya, oleh sebab itu dia harus berangkat pagi-pagi sekali.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


♥️happy reading.♥️


__ADS_2