
Selesai makan malam, Arsyad masuk ke kamarnya, bukan ke kamar Annisa, dia duduk di tepi ranjangnya. Pikirannya sangat kalut, tidak bisa berpikir jernih. Dia tak menyangka kalau malam ini dia harus tidur dengan wanita lain selain Almira. Dia benar-benar tidak menginginkan hal ini. Tapi mau bagaiman lagi, sekarang Annisa sudah menjadi istrinya, memang dia harus tidur bersama.
"Apa sebaiknya aku mengajak Annisa ke rumahku saja. Rumah itu sama sekali belum pernah terjamah oleh aku dan Almira, karena Mira tidak mau pindah dari rumah impiannya itu,"gumam Arsyad dalam hati.
Dia merebahkan dirinya di tempat tidur yang biasanya ia tempati dengan Almira. Arsyad mencoba menepis bayang Almira yang datang, dia tidak mau mengingat lagi, yang nantinya akan membuat ia sedih dan Mira pun juga sedih di sana karena Arsyad sedih.
"Aku harus bisa, sedikit demi sedikit menerima Annisa sebagai istriku, aku tidak bisa hidup dalam bayang-bayang masa laluku itu. Benar kata Lukman tadi, aku harus bisa." Arsyad masih mencoba menjernihkan pikirannya di dalam kamarnya.
Annisa berada di kamarnya, dia merebahkan dirinya di tempat tidur sambil memeluk bantal guling kesayangannya. Annisa merenungkan nasib pernikahannya nanti, apa akan terus seperti ini tak bisa menerima Arsyad dan tak bisa mencintainya, atau malah sebaliknya, akan tumbuh cinta di kemudian hari. Annisa tidak tau harus bagaimana mengahadipanya nanti.
Sebisa mungkin, dia harus menjadi istri yang baik untuk Arsyad, walaupun dalam pernikahannya tak di landasi rasa cinta. Dia juga ingin menjadi bunda yang baik untuk anak-anaknya.
"Syil, maafkan aku ya, aku akan mencoba menjadi istri yang baik untuk kakakmu, kamu kan selalu mengajarkan aku kebaikan. Syil, cerita kita tak akan pernah terhapus dalam memori ku. Aku mencintaimu, Syil. Meski raga ini menjadi milik orang lain, tapi hati ini tetap ada namamu, dan terukir indah di palung hatiku yang paling dalam,"gumam Annisa.
Tak lama kemudian, Annisa mendengar hadle pintu terbuka, dia menoleh ke arah pintu. Annisa bangun dari tidurnya, dia duduk menatap seorang pria masuk ke dalam kamarnya.
Arsyad masuk ke dalam kamarnya, dia memakai piyama warna navi. Itu sangat kebetulan sekali, karena Annisa juga memakai piyama dengan warna yang senada dengan Arsyad.
"Kamu belum tidur?"tanya Arsyad.
"Belum,"jawab Annisa.
"Sholat dulu, yuk,"ajak Arsyad.
"Emm ..iya, aku ambil air wudhu dulu." Annisa beranjak dari tempat tidurnya, dia berjalan ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu.
Arsyad keluar dari kamar Annisa mengambil baju sholatnya yang masih tertinggal di kamarnya. Annisa keluar dari kamar mandi, dia tak mendapati suaminya yang tadi sedang duduk di tempat tidur.
"Mana Kak Arsyad, tadi kan di sini? Tadi Kak Arsyad bukan, sih?" Annisa di buat bingung dengan kehadiran Arsyad.
Pintu kamar Annisa terbuka, memperlihatkan sesosok pria tampan di hadapannya. Arsyad sudah memakai pakaian sholatnya, dia juga sekalian wudhu di kamar mandi yang berada di dalam kamarnya. Arsyad menaruh piyamanya di rak baju milik Annisa. Annisa dari tadi terpaku menatap suaminya yang terlihat tampan dan bersih wajahnya.
"Nis, nanti kelilipan matanya, ayo pakai mukenahmu,"titah Arsyad.
"Kak, tadi kakak ke sini kan? Menyuruh aku sholat?"tanya Annisa.
"Iya, kenapa?"tanya Arsyad.
"Aku kira aku mimpi, soalnya aku keluar dari kamar mandi sudah tidak ada kakak, dan masuk-masuk kakak sudah pakai pakaian sholat,"tutur Nisa.
"Kamu jangan terlalu halu, Nis, lihat ini pakaian aku yang tadi aku pakai, kan?"tanya Arsyad sambil menunjukan piyama yang tadi di pakainya.
"Iya,"jawab Annisa.
"Ya sudah ayo cepat pakai mukenahmu,"titah Arsyad.
"Iya, kak." Annisa memakai mukenahnya dan mereka sholat sunnah dua rakaat bersama sebelum tidur.
^^^^^
Setelah selesai sholat Annisa menata mukenahnya kembali dan mengambilkan piyama milik Arsyad. Arsyad melepas baju yang tadi ia kenakan untuk sholat dan memakai piyamanya kembali. Annisa membelakangi Arsyad yang sedang berganti pakaian.
"Nis, sudah jangan membelakangi ku terus,"ucap Arsyad.
"Hmm..iya." Annisa membalikan badannya dan merebahkan dirinya di tempat tidur.
"Dulu, yang di samping aku kamu, Syil. Kenapa sekarang, kakak kamu? Sudah Nis, jangan berpikiran seperti itu terus, kamu pasti bisa, kasihaan Arsyil yang di sana. Lakukanlah jika suamimu menginginkannya, karena kamu istri sah nya."gumam Annisa dalam hati sambil menatap langit-langit kamarnya.
Annisa membalikan tubuhnya, di waktu yang sama arsayd juga membalikan tubuhnya, mereka saling berhadapan dan bertatapan. Arsyad melempar senyum pada Annisa dan dia pun membalasnya.
"Kamu belum tidur?"tanya Arsyad.
"Belum,"jawab Annisa.
"Tidurlah, sudah malam,"titah Arsyad.
"Iya, kak,"ucap Annisa.
"Nis, kalau kita pindah rumah kamu mau?"tanya Arsyad.
"Pindah ke mana?" Annisa balik bertanya pada suaminya.
"Aku punya rumah, belum pernah terpakai sama sekali, paling aku renovasi saja. Karena Almira tidak mau pindah ke sana. Kamu tau sendiri dia kan ingin tinggal di rumah impiannya itu,"jelas Arsyad.
"Lalu?"tanya Annisa.
"Mau kalau kita pindah ke sana saja? Kita dan anak-anak. Walaupun tak sebesar rumah yang Arsyil berikan untuk kamu, Nis. Kamu mau?"tanya Arsyad lagi.
"Iya kalau itu mau kakak, aku akan nurut saja,"ucap Annisa.
"Oke, nanti aku renovasi lagi dan biar di bersihkan juga,"ucap Arsyad.
"Tidurlah, sudah malam." Arsyad mengusap rambut Annisa dengan lembut.
"Iya." Annisa mengurai senyumannya pada Arsyad.
Annisa mencoba memejamkan matanya. Tangan Arsyad belum beralih dari kepala Annisa, dia masih mengusap lembut kepala Annisa, hingga kantuk menyerang Annisa.
"Nis,"panggil Arsyad.
"Hmm, ada apa, kak?"tanya Annisa yang mencoba membuka matanya kembali.
"Maaf, jika malam ini aku belum bisa menyentuhmu,"ucap Arsyad.
__ADS_1
"Memang tangan kakak dari tadi menyentuh apa? Kok bilangnya belum menyentuh?"tanya Annisa.
"Bukan ini maksudnya, Annisa," ucap Arsyad sambil menarik hidung Annisa
"Kakak kebiasaan, sakit tau, kak." ucap Annisa sambil memukul lirih dada Arsyad.
"Maksud kakak tau, kan?"tanya Arsyad.
"Iya, tau, aku tidak mempermasalahkan itu, ayo tidur, aku sudah ngantuk,"ucap Annisa manja.
"Iya, iya, makasih ya, sudah mengerti kakak,"ucap Arsyad.
"Aku sebenarnya juga belum siap, kak,"ucap Annisa.
"Belum siap apa?"tanya Arsyad sambil bercanda.
"Belum siap tidur!"tukas Annisa dengan kesal.
"Belum siap tidur atau belum siap di tidurin?"tanya Arsyad menggoda istrinya.
"Ih...sukanya ngajak ribut ya, kakak! Annisa ngantuk, kak, capek sekali badannya,"ucap Annisa dengan kesal.
"Iya, iya… sudah tidur, jangan keras-keras bicaranya, nanti kedengeran,"ucap Arsyad.
"Tidur, jangan berisik." Arsyad menarik Annisa dalam pelukannya, dia mengusap kepala Annisa sampai tertidur pulas.
Arsyad masih belum bisa memejamkan matanya, dia menatap wajah Annisa dengan lekat. Arsyad menyentuh pipi Annisa.
"Dulu aku sangat ingin memilikimu, Annisa. Sekarang Allah mengabulkannya. Tapi hati ini belum bisa mencintaimu lagi seperti dulu, maafkan aku, Nis. Belum bisa memberikan hak ku sebagai suami, aku belum bisa. Aku menyayangimu, dan rasa sayang ini hanya sebatas rasa sayang kakak dan adik. Jika aku cinta dengan kamu, pasti akan aku tunaikan kewajibanku sekarang. Lihatlah memeluk kamu pun, aku tidak merasakan hasrat pada kamu, Nis. Maafkan aku,"gumam Arsyad dalam hati.
Dia menatap kembali wajah Annisa dengan lebih dalam. Arsyad mengelus pipi Annisa lembut, dan mencium keningnya. Mungkin Arsyad sudah mati rasa tidak bisa menaikan hasratnya, walaupun dia mengusap bibir Annisa yang manis dia tetap saja tidak bisa.
"Maaf Nis, aku tidak bisa, maafkan aku, kenapa saat menatapmu yang ada hanya wajah Almira yang aku lihat,"gumam Arsyad dalam hati.
^^^^
Annisa terbangun lebih awal dari pada Arsyad. Dia merasakan tubuhnya tertindih sesuatu. Annisa melihat tangan Arsyad masih melingkar di tubuhnya. Annisa mencoba melepaskan tangan Arsyad yang melingkar di pinggang Annisa dengan pelan.
"Mira, sebentar jangan bangun dulu, kebiasaan kamu suka duluan bangunnya." Arsyad menyebut nama Almira, entah kenapa dada Annisa begitu sesak sekali mendengar Arsyad menyebut nama Almira.
Annisa mengerti Arsyad masih sangat mencintai Almira. Sama halnya dengan Annisa, dia juga masih sangat mencintai Arsyil. Tapi dia mencoba menerima Arsyad sebagai suaminya. Dia berusaha mengesampingkan perasaannya untuk Arsyil, walaupun rasa cinta itu masih sangat kuat. Seperti cinta Arsyad untuk Almira.
"Kak, ini aku Annisa, bukan Kak Mira, maaf kak, Annisa mau siap-siap sholat subuh." ucap Annisa pada Arsyad yang sudah perlahan membuka matanya, karena mengira wanita yang ia peluk adalah Almira.
"Ah, maafkan aku Nisa, aku kira, kamu Almira,"ucap Arsyad.
"Iya tidak apa-apa, aku mau mandi, mau siap-siap sholat subuh,"ucap Annisa
"Nis, ini masih jam 5 kurang, kamu mau mandi?"tanya Arsyad.
"Oh, ya sudah mandiliah,"ucap Arsyad.
Annisa mengambil handuk dan bathrobe nya. Dia masuk ke kamar mandi, dia mendudukan dirinya di tepi bathup. Dia masih memikirkan apa yang Arsyad katakan tadi.
"Aku tau, kakak masih sangat mencintai Almira, aku tau itu, aku juga sangat mencintai Arsyil, kak. Tapi aku menjaga perasaan kakak, walaupun kakak tidak mincintaiku, dan aku tidak mencintai kakak,"ucap Annisa lirih.
"Syil, aku merindukanmu, sayang."lirih Annisa sambil memejamkan matanya.
Tak terasa air matanya jatuh menetes, di pipinya. Annisa sudah lumayan lama di kamar mandi. Bukan mandi, tapi dia menghabiskan air matanya di dalam kamar mandi. Hingga ia tersadar, suara pintu kamar mandi di ketuk oleh Arsyad.
"Nisa, kamu tidur apa mandi? Lama sekali, ayo sholat, sudah jam 5 lebih!"teriak Arsyad dari luar kamar mandi.
"Ah, iya kak, sebentar,"ucap Annisa.
Annisa segera menghapus air matanya, lalu dia mandi dengan cepat dan setelah itu mengambil air wudhu. Annisa keluar dari kamar mandi. Arsyad sudah duduk di tepi ranjang, menunggu Annisa untuk sholat bersama. Arsyad memandang wajah Annisa yang sendu dan mata yang sembab.
"Dia menangis?"tanya Arsyad dalam hatinya.
"Pakai mukenahmu, kita sholat bersama,"titah Arsyad.
"Iya, kak,"ucap Annisa.
Annisa segera mengganti bajunya, dia tak peduli ada Arsyad di dalam kamarnya, dia mengganti pakaian di depan Arsyad.
"Nisa, kamu sadar tidak sih, ada aku di sini. Kenapa aku tak merasakan apa-apa melihat setiap inci tubuh indahnya?"gumam Arsyad dalam hati.
"Ayo kak, sholat,"ajak Annisa setelah memakai mukenah.
^^^^^
Seusai memakai sholat, Annisa langsung ke dapur untuk membuat sarapan. Arsyad menyandarkan dirinya di ranjang. Dia masih mengingat tadi setelah Annisa mandi, matanya begitu sembab dan hidungnya merah seperti habis menangis.
"Kamu menangis kenapa, Nis? Karena aku menyebut Almira atau karena kamu ingat Arsyil?" Arsyad berkata lirih.
Arsyad masih terus berpikir tentang Annisa. Dia memang merasa bersalah dengan Annisa tadi sewaktu bangun tidur. Arsyad terus memikirkan itu, hingga Annisa masuk dia tidak tau. Annisa duduk di depan Arsyad, dia baru sadar ada Annisa di depannya.
"Kak, sarapan, yuk, Annisa sudah siapkan sarapan. Kak Shita sana Kak Vino juga mau pamit pulang,"ucap Annisa.
"Oh, iya Nis." Arsyad segera bangkir dari tempat tidurnya.
"Nis, aku mau bertanya boleh?"tanya Arsyad.
"Iya boleh,"jawab Annisa.
__ADS_1
"Nis, kamu tadi menangis?"tanya Arsyad.
"Tidak,"jawab Annisa.
"Jangan bohong,"ucap Arsyad
"Aku tidak bohong, kak. Ayo sarapan,"ajak Annisa mengalihkan pembicaraan.
Arsayd menarik tangan Annisa, dia membawa Annisa dalam pelukannya, dan mengusap rambutnya.
"Maafkan aku, aku sangka tadi pagi Mira,"ucapnya.
"Sudah, kak, aku tau apa yang kakak rasakan, bisa lepaska pelukan ini, kak?"ucap Annisa.
Arsyad melepas pelukannya, dia menatap wajah Annisa dengan lekat, melihat setiap inci wajahnya. Arsyad mendekatkan wajahnya ke wajah Annisa lebih dekat.
"Abah….Bunda….ayo sarapan!"seru Raffi dan Dio.
Arsyad menjauhkan wajahnya kembali, dia tidak jadi mencium Annisa karena dua jagoannya tiba-tiba masuk ke kamarnya.
"Upst, maaf, kita ganggu, Abah sih pintunya terbuka, akubkira sedang tidak bermesraan, haduh, gagal deh, maaf ya abah,"ucap Dio.
"Ayo Kak Raffi, kita keluar,"ajak Dio.
Dio dan Raffi keluar dari kamar Annisa, Raffi dari tadi menyalahkan Dio yang masuk tidka ketuk pintu dulu.
"Kamu sih langsung nylonong aja,"ucap Raffi pada Dio.
"Aku tidak tau, kak, kalau Abah dan Bunda mau ciuman. Kan pintunya kebuka, kak. Ya aku main masuk saja, lah." ucapnya dan terdengar oleh Rico.
"Tadi Dio bilang apa? Abah sama bunda ciuman?"tanya Rico.
"Itu opa, Dio tidak sengaja masuk ke kamar bunda, habis pintunya ke buka, jadi Dio langsung nylonong masuk, eh…abah lagi mau cium binda,"ucap Dio.
"Kami itu, nakal ya, kalau mau masuk ketuk pintu dulu, walaupun itu sedikit terbuka pintunya,"tutur Rico.
"Iya, opa,"jawab mereka.
"Ya sudah ayo saraoan,"ajak Rico.
Rico dan enam cucunua sudah berkumpul di meja makan, begitu juga Shita dan Vino. Arsyad dan Annisa belum juga ke meja makan.
Arsyad dan Annisa masih tertawa mengingat tadi Dio masuk ke kamarnya. Arsyad merasa seperti muda kembali menikah dengan Annisa, berdebat saat mau tidur, curi-curi pandang, hingga mau ciuman pun susah. Sesekali mau mencium ketahuan Dio.
"Huh, anakmu itu, Nis, untung aku belum mencium kamu, tadi,"ucap Arsyad.
Annisa masih tertawa melihat wajah Arsyad yang memerah karena ketahuan anaknya.
"Lagian kakak, pintu ke buka main mau cium segala, sudah ayo sarapan,"ajak Annisa.
"Malu, Nis. Nanti Dio pasti ngledek aku,"ucapnya.
"Masa di ledekin anaknya malu, kak,"ucap Annisa yang tak henti-hentinya tertawa.
"Kamu juga malah nertawain kakak,"ucap Arsyad.
"Ayo kak, aku lapar,"ajak Annisa.
Mereka berdua keluar menuju ke meja makan. Semua sudah berkumpul, hanya Annisa dan Arsyad yang baru datang ke ruang makan. Annisa duduk di samping Arsyad. Annisa berusaha menahan tawanya dari tadi. Annisa mengambilkan nasi untuk Arsyad.
Rico menatap Arsyad dengan wajah ingin tertawa. Rico akhirnya mulai meledek Arsyad saat mau sarapan.
"Syad, nanti kalau mau mesra-mesraan pintunya di tutup dulu, jadi Dio gak nylonong,"ucap Rico.
"Pah, maklum pengantin baru,"sahut Vino.
"Sudah jangan bahas ini dulu, ada anak-anak,"ucap Arsyad.
"Papah cuma mengingatkan saja, Syad,"ucap Rico.
"Iya, pah, iya, kasihan Nisa tuh pipinya merah,"ucap Arsyad.
Annisa menahan tawa, dan akhirnya dia tertawa di depan Arsyad.
"Malah ketawa,"tukas Arsyad.
"Kami lucu tau, kak, sudah mukanya biasa saja dong, aku lapar, aku mau makan,"ucap Annisa.
"Nis, sudah dong jangan tertawa,"ucap Arsyad.
Mereka semua sarapan bersama, Arsyad dan Annisa hari ini tidak ke kantor. Setelah selesai sarapan mereka mengantar anak-anak ke sekolah, dan mereka sekalian pergi jalan berdua.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
♥️happy reading♥️