
Arsyad masuk ke dalam kantornya di antar oleh Kevin, pengawalnya yang selalu setia menemani Arsyad. Arsyad masuk ke dalam ruangannya, dia merasakan ada yang sedikit berbeda dari biasanya. Iya, dia merasa ada yang kurang, karena tidak berangkat ke kantor bersama dengan istrinya. Arsyad mencoba menepiskan rasa rindu pada istrinya yang baru saja ia tinggal setengah jam yang lalu, demi pekerjaannya agar cepat selesai dan pulang sebelum Leon datang ke rumahnya.
"Untung pekerjaan hari ini tidak banyak, jadi setelah meeting nanti siang dengan karayawan selesai, aku bisa langsung pulang ke rumah," gumam Arsyad.
Arsyad menyelesaikan pekerjaannya terlebih dahulu, dengan di bantu oleh Rayhan dan Lintang. Lintang hanya mengambil cuti 1 hari saja, karena dia tidak enak dengan Arsyad dan Rayhan. Apalagi 2 Minggu lagi dia sudah harus resign dari kantor, jadi mau tidak mau harus berangkat ke kantor dan menyelesaikan semua pekerjaannya yang tertunda saat dia cuti waktu ibunya meninggal.
^^^^^
Annisa merasa sudah baikan, sudah tak merasakan sakit di perutnya. Dia membantu Mba Lina memasak di dapur. Hari ini Mba Lina memasak cukup banyak, karena akan ada Leon dan keluarga Annisa datang dari Berlin.
"Mba Lina tidak membeli buah lagi?"tanya Annisa.
"Iya, tadi belum sempat membeli buah, mba," jawab Lina.
"Ya sudah biar aku yang membeli," mba,"
"Kan mba sedang sakit,"
"Lihatlah, masa aku sehat seperti ini di bilang sakit, mba ada-ada, saja. Sudah Annisa tinggal ke supermarket dulu sebentar." Annisa berpamitan pada Mba Lina untuk ke supermarket.
Annisa mengambil tas dan ponselnya, dia melihat papah mertuanya sedang merapikan tanaman bonsai di halaman rumahnya. Annisa mendekatinya dan berpamitan untuk membeli buah.
"Papah, Annisa mau ke supermarket, mau beli buah, stok buah sudah habis di kulkas," pamit Annisa.
"Apa sudah tidak sakit lagi perutnya?"
"Sudah tidak sakit, pah. Annisa pamit dulu, Pumpung belum terlalu siang." Annisa masuk ke dalam mobil bersama dengan pengawalnya yang sekaligus menjadi sopirnya.
Annisa sudah berada di supermarket, dia berjalan di kawal oleh pengawalnya sampai di dalam, dan Annisa memilih buah pun, pengawalnya dengan setia menemani dan memerhatikan Annisa dari kejauhan. Setelah memilih buah, dia beralih memilih kue. Annisa membeli beberapa kue, dan dia ingat sekali suaminya suka sekali dengan kue sus. Annisa membeli kue sus untuk suaminya.
"Aku kangen Kak Arsyad, apa sebaiknya aku antarkan kue ini ke kantor?" tanya Annisa dalam hatinya.
Annisa sudah selesai memilih buah dan kue, dia segere ke kasir dan membayar semua belanjaannya.
Annisa masuk ke dalam mobilnya untuk pulang, tapi sebelum pulang dia meminta sopirnya untuk ke kantor Arsyad mengantarkan kue sus yang ia beli tadi. Dan, sopir pribadinya sekaligus pengawalnya itu mengiyakan apa yang Annisa minta, dan segera melajukan mobilnya menuju ke kantor Arsyad.
^^^^^
Arsyad bersiap-siap meeting dengan karyawannya, dia menata meja kerjanya yang sedikit berantakan. Dia sudah ingin sekali pulang ke rumah, rasanya dia sangat ingin selalu berada di samping Annisa.
"Aku merindukanmu, Annisa. Kamu tau, belum ada setengah hari aku meninggalkan kamu di rumah, rasanya seperti 2 hari tidak bertemu denganmu, Annisa," gumam Arsyad sambil memandang foto istrinya dan menciumnya.
Arsyad berjalan menuju pintu, dia akan keluar dari ruangannya dan akan ke ruangan Rayhan. Dengan sedikit keras dia membuka pintunya, dia tidak tau ada seseorang di depan pintu yang sudah memegang handle pintu danakan membuka pintu ruangan Arsyad juga, sehingga seseorang itu, tertarik ke dalam dan jatuh tepat di pelukan Arsyad.
"Bugh…awww…."pekik seseorang itu yang jatuh di pelukan Arsyad.
Arsyad dengan reflek memeluk erat seseorang yang terjatuh di pelukannya itu, hingga mereka berdua berpelukan cukup lama dan membenarkan posisi berdiri mereka agar seimbang lagi.
"Kakak!" Annisa setengah berteriak melihat suaminya memeluk seseorang di dalam ruangannya.
Arsyad melepas pelukan seseorang tersebut, dan berjalan mendekati Annisa yang sedang berdiri mematung melihat suaminya memeluk seorang wanita. Iya, wanita itu adalah Lintang, yang dengan tidak sengaja jatuh ke pelukan Arsyad.
"Nis, ka-kamu, ke sini?"tanya Arsyad dengan sedikit gugup karena dia tau istrinya pasti akan cemburu dan marah melihat kejadian tadi.
"Emm…emmm..ayo, sayang masuk," ajak Arsyad sambil menarik tangan istrinya ke dalam ruangannya.
Annisa hanya diam saja, wajahnya menyiratkan amarah dan kekecewaan yang dalam. Dia tidak mengerti kenapa suaminya bisa memeluk Lintang, entah itu di sengaja atau tidak di sengaja Annisa tidak tau. Dengan rasa kesal dan marah di dalam hatinya, dia mencoba mendengarkan penjelasan dari suaminya itu.
Annisa duduk di sofa yang ada di ruangan Arsyad, dia masih terdiam saja dari tadi. Lintang masuk ke ruangan Arsyad juga untuk menaruh berkas-berkas yang harus di tandatangani oleh Arsyad.
"Pak, ini berkasnya." Lintang menaruh berkas yang tadi di minta Arsyad dan segera pergi dari ruangan Arsyad.
Dia tau, kalau Annisa marah melihat kejadian tadi. Arsyad juga tak menghiraukan Lintang menaruh berkas di meja kerjanya.
"Emm…maaf Mba Nisa, kejadian tadi murni tidak sengaja,"ucap Lintang dengan menundukan kepalanya sebelum keluar dari ruangan Arsyad.
"Aku tidak butuh penjelasnmu, keluarlah!"tukas Annisa dengan nada tinggi.
Lintang dengan cepat keluar dari ruangan Arsyad, dia juga merasa tidak enak hati dengan Annisa. Kejadian tadi memang benar-bemar murni tidak sengaja.
"Nis, benar yang di katakan Lintang, kejadian tadi memang tidak sengaja, sayang." Arsyad berjongkok di depan Annisa dan mencoba menjelaskannya.
"Nis, kamu tidak percaya? Jangan marah seperti ini, sayang. Aku benar-benar tidak sengaja." Arsyad menggenggam tangan Annisa dan memohon agar dia percaya kalau kejadian tadi benad-benar tidak di sengaja.
"Enak ya peluk-peluk,"tukas Annisa.
"Nis, kamu kok gitu, aku kan sudah bilang tidak sengaja, Annisa,"
"Tidak sengaja juga kebetulan, enak kan di peluk wanita lain, apalagi wanitanya menaruh hati pada kakak." Annisa berbicara dengan memalingkan wajahnya.
__ADS_1
Annisa bangun dari tempat duduknya, Arsyad pun berjalan mengikuti Annisa yang sepertinya ingin pergi dari ruangan Arsyad. Arsyad memegang tangan Annisa hingga Annisa menghentikan langkahnya. Arsyad mencoba menjelaskan kembali pada Annisa, tapi Annisa masih saja marah dengan Arsyad.
Arsyad dari tadi tidak menyerah untuk membujuk Annisa dan menjelaskan pada Annisa agar dia percaya, tapi Annisa masih saja menekuk wajahnya dan masih marah dengan suaminya. Dia benar-benar tidak rela melihat suaminya memeluk wanita lain selain dirinya.
"Aku tidak mau kamu memeluk wanita lain." Annisa dengan manja memeluk suaminya. Dia ingin menggantikan rasa pelukan Lintang yang mungkin masih terasa di tubuh suaminya.
Annisa memeluk erat suaminya dan memukul lirih dada Arsyad karena dia masih sedikit kesal dengan suaminya yang tadi tidak sengaja atau sengaja memeluk Lintang.
"Kakak tidak sengaja, sayang. Kakak mau keluar ke ruangan Rayhan, ehh…Lintang sudah di depan pintu mau membuka pintu, kan jadi ketarik kakak, jatuh dia di pelukan kakak. Demi Allah sayang, kakak tidak main-main meluk wanita sembarangan, kamu tidak percaya?" Arsyad menjelaskan pada Annisa dengan memeluk erat istrinya.
"Kakak nyebelin." Annisa menangis di pelukan suaminya, menumpahkan rasa sesak di dadanya karena cemburu dengan suaminya.
"Jangan menangis, maafkan kakak." Arsyad menyeka air mata Annisa dan mencium kelopak mata Annisa dengan lembut.
"Kenapa kamu ke kantor, kakak? Kakak kan sudah bilang, kamu istirahat di rumah saja,"tanya Arsyad dengan mengusap pipi istrinya lembut.
"Aku bawakan kue sus untuk kakak. Tadi aku ke supermarket, stok buah habis, kakak tau kan, aku tidak bisa kalau setelah makan tidak makan buah, aku beli ke supermarket, dan sekalian membeli kue, lalu aku melihat kue sus, aku jadi ingat kakak. Ya sudah aku beli, terus aku antar ke sini. Eh…kakaknya nyebelin, malah pelukan sama Lintang,"jelas Annisa.
"Kenapa tidak Mba Lina saja yang beli?"
"Aku ingin keluar, lagian aku sudah gak sakit kok perutnya,"
"Kakak mau kue susnya?" Annisa mengajak suaminya duduk di sofa dan membuka box yang berisi beberapa kue sus, yang memang sengaja ia pisahkan dari kue lainnya yang ia beli tadi.
"Coba suapi kakak," pinta Arsyad.
Dengan senang hati, Annisa menyuapi suaminya. Arsyad juga menyuapi Annisa kue sus nya. Saat sedang bercanda sambil memakan kue sus, Yulia masuk ke ruangan Arsyad memberitahukan kalau sudah waktunya meeting dengan beberapa Karyawan bagian keuangan dan pemasaran.
"Maaf pak, mengganggu, suadah pukul 10.30, pak. Pak Arsyad harus memimpin Meeting dengan bagian Keuangan dan Pemasaran."
"Oke, sebentar lagi, saya ke ruangan meeting, suruh Ray siapakan semuanya," jawab Arsyad.
"Baiklah,"ucap Yulia.
Yulia keluar dari ruangan Arsyad. Annisa memeluk suaminya lagi dengan manja. Arsyad membalas pelukan Annisa dengan erat dan mengusap punggungnya.
"Sudah jangan marah, kakak benar-benar tidak sengaja, sayang." Arsyad merenggangkan pelukannya dan mencium kening istrinya yang masih sedikit ada rasa marah pada dirinya.
"Kakak sih, seperti itu." Annisa kembali memeluk suaminya denan manja.
"Kakak meeting dulu, ya. Kamu mau menunggu atau pulang dulu?"tanya Arsyad.
"Aku tau kamu masih ingin di sini, sudah tunggulah kakak di sini, kamu bisa istirahat di kamar kakak, kakak meeting tidak lama, kok." Arsyad mengusap punggung Annisa yang masah saja tak mau melepaskan pelulkannya.
"Aku pulang saja, kak. Kakak gak akan sampai sore kan, pulangnya?"tanya Annisa
"Kakak setelah meeting langsung pulang, pekerjaan kakak sudah selesai semua, kamu tunggu di rumah ya." Arsyad mengecup kening Annisa.
Arsyad mengantar Annisa keluar sebelum masuk ke ruangan meeting. Arsyad merangkul pinggang istrinya saat berjalan keluar mengantar Annisa ke depan. Semua karyawan Arsyad memandanginya, mereka juga sedikit berbisik-bisik mengenai Arsyad yang sekarang terlihat lebih tampan dan cool.
"Dapat istrinya lebih muda, jadi terlihat muda kembali ya?"
"Iya lah, istrinya juga semakin cantik, dulu saat dengan Alm.Pak Arsyil tidak cantik seperti itu. Sekarang cantiknya…."
"Tau gak, sekarang seperti anak muda lagi mereka, makan siang saja Video call. Habis sholat dari masjid juga Video call. So sweet banget Pak Arsyad sekarang. Dulu sama istrinya sepertinya tidak seperti itu,"
"Iya sekarang berbeda. Lihat, istrinya saja sampai di bawain pengawal, mau pulang saja di ciumin terus istrinya. Ah…andaikan dapat suami seperti, Pak Arsyad."
"Sudah, sudah, kerja lagi, tuh Pak Arsyad mau masuk. Jangan gosip terus,"
Seperti itu kira-kira celotehan karyawan Arsyad yang melihat perubahan sikap Arsyad sekarang setelah menikah dengan Annisa.
^^^^^
Arsyad sudah selesai meeting dengan bagian keuangan dan pemasaran, dia segera mengambil tas kerjanya dan membereskan meja kerja di ruangannya. Sebelum pulang, dia membuka berkas dari Lintang dan menandatanganinya. Arsyad mengambil ponselnya dan menaruh di saku celananya. Dia bersiap untuk pulang, sebelum keluar Lintang masuk ke ruangannya menanyakan berkas yang harus di tandatanginya tadi.
"Permisi, pak. Maaf berkas yang tadi sudah ditandatangani?"
"Oh, ini Lin. Sudah semua." Arsyad memberikan berkas itu pada Lintang.
"Pak, maaf tadi membuat bapak salah paham dengan Mba Annisa,"
"Sudah, Annisa sudah tidak apa-apa, sudah aku jelaskan. Kembali ke ruanganmu, aku juga akan pulang, kalau ada apa-apa sama Rayhan atau Yulia saja,"
"Baik, pak. Terima kasih. Sekali lagi saya minta maaf, sampaikan maafku pada Mba Annisa,"
"Iya, nanti aku sampaikan,"
Lintang keluar dari ruangan Arsyad. Arsyad juga keluar dari ruangannya dan masuk ke ruangan Rayhan untuk memberitahukan kalau dirinya akan pulang
__ADS_1
"Ray, kamu sibuk?" Arsyad langsung masuk ke dalam ruangan Rayhan dan berdiri di depan pintu.
"Sudah free, kenapa?"tanya Rayhan.
"Aku mau pulang sekarang, Leon hari ini datang, Ray,"
"Iya, Naura juga bilang seperti itu, semalam dia menelepon Naura, katanya hari ini dia akan datang ke rumahmu,"
"Hmmm…dan aku akan pulang, aku tidak mau Annisa menemui dia tanpa aku, Ray,"
"Cie….cemburu," ledek Rayhan.
"Ya, aku cemburu,"
"Awas nanti sweet mom di goda Mr. Leon,"
"Nah, itu yang saya takutkan, sudah aku mau pulang. Titip kantor, nanti malam datanglah ke rumah bersama Naura dan anak-anak kalian, kita makan malam bersama,"
"Oke, selamat belajar meredakan emosi jiwamu, Syad. Saat Leon berada di rumahmu. Ingat Annisa di umpetin aja," ledek Rayhan lagi.
Arsyad hanya tersenyum dan keluar dari ruangan Rayhan. Dia segera masuk ke dalam mobilnya. Arsyad menghubungi Annisa kalau sebentar lagi akan sampai di rumahnya. Arsyad meminta sopirnya untuk mampir ke toko bunga. Arsyad ingin membelikan mawar merah untuk istrinya.
"Pak, mampir ke toko bunga, ya. Aku ingin membeli bunga," pinta Arsyad.
"Baik, pak,"
Arsyad membeli sebuket bunga mawar merah untuk istrinya. Dia masih merasa bersalah dengan kejadian tadi di kantor, saat tidak sengaja memeluk Lintang. Arsyad menuliskan sesuatu di kartu ucapan untuk istrinya.
"Tidak ada yang bisa aku katakan lagi selain kata, maaf. Maafkan aku, yang tadi sudah membuat kamu menangis. Aku tidak sengaja, sungguh aku tidak sengaja. Itu semua hanya kebetulan. Tolong maafkan suamimu ini, aku belum lega jika kamu belum Ridho, sayang." ~Suamimu.
Arsyad meletakan kartu ucapan itu di sebuket mawar merah yang ia beli. Dia langsung kembali ke rumahnya, dan sudah tidak sabar ingin memeluk istrinya.
Sesampainya di rumah, dia langsung berlari masuk ke dalam rumahnya. Dia melihat papahnya sedang menikmati kopi dengan pisang goreng di ruang tamu.
"Assalamualaikum, Annisa mana, pah?" Arsyad langsung mencari istrinya setelah masuk ke dalam rumahnya.
"Wa'alaikumsalam, Annisa di kamar. Wah…pakai acara bawain bunga, kamu,"
"Biar romantis, pah,"
"Sekarang bisa romantis kamu, Syad,"
"Iya dong, ya sudah Arsyad masuk dulu, pah,"
"Oh, iya pah, anak-anak belum pulang?"tanya Arsyad.
"Belum, baru saja sopir berangkat jemput, dan tadi papah juga suruh sopir Annisa untuk menjemput Leon di bandara,"jawab Rico.
"Oh, ya sudah aku masuk, pah,"
Arsyad masuk ke dalam kamarnya, dia membuka pintu kamarnya, terlihat Annisa sedang merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Arsyad berjalan dengan satu tangan berada di belakang punggungnya.
"Kakak, sudah pulang?" Annisa bangun dan beranjak dari tempat tidur berjalan mendekati suaminya.
"Sudah, aku kangen kamu." Arsyad menyelipkan rambut istrinya ke belakang telinganya dan mencium kening Annisa.
"Maafkan aku sayang, karena tadi sudah membuatmu meneteskan air mata dan marah dengan ku." Arsyad memberikan mawar merah yang tadi ia beli.
Mata Annisa berkaca-kaca melihat sebuket bunga mawar dari Arsyad. Dia mencium mawar merah yang masih segar sekali dan wangi. Annisa juga membaca tulisan di kartu ucapan, dia mengembangkan senyumannya saat membaca tulisan suaminya itu.
"Aku sudah memaafkan kakak, jangan sedih lagi, terima kasih bunganya, sayang. Sering-sering seperti ini aku mau, kak,"ucapnya sambil mengecup bibir Arsyad.
"Setiap hari aku akan belikan bunga mawar untuk kamu, sayang, kalau kamu mau." Arsyad membalas kecupan Annisa dan memeluk istrinya
"Aku tidak akan menolaknya, jika kakak memberiku bunga setiap hari. Aku senang sekali,"ucap Annisa.
"Kamu cantik sekali, sayang,"
"Baru tau, istrimu cantik. Jangan banyak merayu, aku sedang datang bulan. Aku akan siapkan baju ganti kakak." Annisa menaruh bunga mawar dari suaminya di atas tempat tidurnya.
Annisa mengambilkan baju ganti untuk Arsyad. Arsyad berganti pakaian. Annisa mengambil pakaian kotor suaminya untuk di bawa ke belakang. Dia juga mengambil vas bunga untuk menaruh bunga mawar dari suaminya.
"Kak, aku tinggal ke belakang, mau naruh pakaina kotor ini, sakelian ambil Vas bunga,"
"Iya, sayang. Kakak juga mau sholat dhuhur dulu, kakak tadi langsung pulang, jadi tidak sholat di masjid kantor,"
"Oke, aku keluar dulu." Annisa mencium pipi suaminya sebelum keluar dari kamarnya.
Annisa menaruh baju kotor milik suaminya ke dalam mesin cuci. Dia berjalan menuju lemari vas bunga yang ada di dekat ruang tengah. Annisa mengambil satu vas bunga berwarna merah muda, dia mengisi vas bunganya dengan sedikit air, agar bunga yang di beri suaminya tadi tetap segar sampai besok pagi.
__ADS_1