THE BEST BROTHER

THE BEST BROTHER
Bab 53


__ADS_3

♥Annisa♥


Aku harus bingung harus bagaimana menjelaskan semuanya pada Arsyil. Apa aku harus jujur padanya kalau Dosen yang mencintaiku adalah Pak Arsyad. Iya dia kakak kandung Arsyil kekasihku yang sangat aku cintai.


"Ya Allah bagaimana caranya menyampaikan semua ini pada Arsyil?" Aku bergumam lirih dengan mengusap wajahku, fikiranku sangat kacau sekali saat ini. Aku tak mau membuat kakak beradik salah faham dan sampai berseteru karena seorang wanita. Iya wanita itu adalah aku sendiri.


Arsyil melihat kekacauan di wajahku. Dia mendekatiku yang masih duduk di kursi tamu yang ada di ruang kerja Arsyil.


"Ada sesuatu yang kamu fikirkan Nisa? Aku lihat wajahmu seperti menyimpan suatu masalah. Ceritalah kepadaku Nisa." ucap Arsyil yang berhasil mengagetkanku yang sedang duduk melamun dengan tatapan kosong.


Aku tersenyum dan bangun dari tempat duduku lalu berjalan mendekati Arsyil yang masih berada di depan pintu.


"Tidak apa-apa Syil, kamu sudah selesai kerjanya?"tanya ku untuk meyakinkan Arsyil bahwa aku tak menyembunyikan sesuatu darinya.


"Yakin? Kamu tidak bohong? Sejak Kak Arsyad ke sini ada yang berubah dari sikapmu, kamu kebanyakan diam tidak seperti biasanya yang selalu ceria. Ada apa sebenarnya sayang? Ceritakan padaku, jangan ada yang di sembunyikan. Apa Kak Arsyad lah Dosen yang menyukaimu bahkan mencintaimu?" Arsyil semakin curiga dengan sikapku yang seperti ini, dia terus membrondong pertanyaan kepadaku hingga aku susah untuk menjawab pertanyaannya.


"Nisa, kenapa kamu diam saja? Iya kan benar Kak Arsyad adalah dosen yang menyukaimu Nisa?" tanya Arsyil lagi padaku.


Entah kenapa airmataku jatuh berurai saat Arsyil menatap mataku yang menyiratkan jika aku sedang menyembunyikan sesuatu padanya. Hatiku benar-benar sangat kacau, aku tak mau menyakiti perasaan Arsyil jika aku jujur kepadanya. Aku tidak mau kakak beradik bermasalah hanya karena aku.


"Sayang, kenapa menangis?" Arsyil menghapus airmataku dan memeluku, menenggelamkan wajahku didadanya.


Tangisku semakin pecah dan mulutku masih terkunci, tidak ada sepatah katapun keluar dari mulutku, hanya isak tangis yang aku keluarkan.


Aku mencoba menata perasaanku sedikit demi sedikit, aku menarik nafas perlahan dan aku akan mencoba menagatakan apa yang sebenarnya terjadi.


"Syil." ucapku denan suara serak.


"Iya Nisa, katakan padaku. Aku akan dengarkan dan aku tidak akan marah padamu. Katakan sayang." ucap Arsyil dengan mengangkat daguku dan menatap mataku yang mulai sembab. Dia mengecup keningku.


"Arsyil, janji jangan meninggalkan aku Syil jika aku bicara semua ini." pintaku pada Arsyil.


"Iya Nisa aku janji apapun yang terjadi aku akan selalu berada di sampingmu. Katakan sayang, sudah jangan menangis lagi." Arsyil mengajakku duduk di kursi dan menutup pintu ruangannya.


Aku perlahan mencoba mengatakan sebenarnya kepada Arsyil.


"Syil, maafkan aku. Iya Syil benar Dosen yang selama ini mencintaiku adalah Pak Arsyad kakakmu. Aku tak menyangka jika dia adalah kakak kandungmu. Maafkan aku Syil, tapi aku tidak mencintainya, aku menolak Pak Arsyad berkali-kali. Namun, dia masih terus berusaha mendapatkan hatiku. Hingga saat itu....."ucapanku berhenti karena Arsyil memotong kata-kataku.


"Saat itu kalian bertemu di Caffe kak Shita kan? Papahmu dan papahku menjalin kerja sama. Dan Kak Arsyad memintamu pada Papahmu."Arsyil berkata seperti itu. Aku tau perasaan dia sakit sekali, apalagi kakak kandungnya sendiri yang mencintaiku.


Aku semakin takut hubungan mereka renggang karena aku. "Iya seperti itu Syil, tapi papahku menolaknya karena papah tau aku mempunyai kekasih yaitu kamu Syil. Syil, jangan marah pada kakakmu, dia tidak salah Syil. Cinta tak memandang dan memilih pada siapa Cinta akan jatuh kehati seseorang. Syil, apapun yang terjadi nanti kedepannya. Tolong jangan tinggalkan aku."jelasku pada Arsyil dan memohon padanga.

__ADS_1


Mata Arsyil memerah seperti ingin menumpahkan air mata.


"Nisa, aku sayang dengan Kak Arsyad, sayang sekali. Dan, aku mencintaimu, sangat mencintaimu Nisa. Jika aku meminta kamu untuk bersama Kak Arsyad apa kamu menerimanya? Aku tau sekali bagaimana Kak Arsyad. Dan, apa kamu tau, kamu wanita pertama yang berhasil masuk di dalam hati Kak Arsyad. Nisa, aku rela jika kamu dengan kakakku."ucap Arsyil yang membuatku sedikit kecewa, bagaimana bisa dia mengorbankan rasa cintanya padaku demi kakak nya.


Itu tidak mungkin bagiku. Hanya Arsyil yang aku cintai, bagaimana bisa aku hidup dengan kakaknya sedangkan aku masih bisa melihat dia berada di depanku.


"Aku tidak mau Syil. Kamu jahat Syil, kamu bilang tak akan meninggalkanku. Tapi, kamu malah menyuruhku untuk menerima cinta Pak Arsyad. Itu tidak mungkin Syil. Lebih baik aku pergi jauh dari kehidupan kalian. Syil aku mohon sekali lagi dengan kamu, jangan menyuruhku seperti itu. Aku tidak bisa dan tidak akan pernah bisa Syil."jelasku pada Arsyil dengan derai air mataku.


Arsyil terdiam dan menatapku yang kembali menangis. Dia menariku dalam pelukannya dan menenggelamkan wajahku kedadanya lagi.


"Maafkan aku Nisa, maafkan aku. Aku tidak tau harus bagaimana. Aku tau perasaan Kak Arsyad sekarang bagaimana, pasti hatinya hancur melihat kita Nisa. Aku tidak mau menyakitinya. Aku sayang kakakku."jelas Arsyil yang juga menangis memeluku.


Aku melepaskan pelukan Arsyil, aku belai wajahnya dan ku hadapkan wajahnya di hadapanku.


"Syil, kita sama-sama menyakiti Kak Arsyad. Dan, jika kamu menyuruhku dengan Kak Arsyad juga sama Syil, kita bertiga akan sakit hatinya. Tetaplah berada disampingku Syil, apapun yang terjadi nanti."ucapku pada Arsyil. Aku memohon padanya agar dia tidak menyuruhku lagi untuk menerima cinta Kak Arsyad. Aku kembali menangis sesegukan.


"Nisa, aku akan tetap disampingmu, aku janji. Sudah jangan menangis lagi. Kita bisa selesaikan ini secara kekeluargaan. Maafkan aku yang tadi menyuruhmu untuk meninggalkan aku, jujur aku tidak bisa Nisa. Tapi, aku akan melukai orang yang sangat aku sayangi. Aku akan melukai hati Kak Arsyad Nisa. Aku harus bagaimana?" Arsyil semakin erat memeluk ku.


Aku bisa merasakan kekalutan dalam dirinya.


"Kita hadapi ini bersama Syil, pasti ada jalan keluarnya. Syil tenangkan dirimu, kita punya Allah, serapih apapun kita menyusun skenario, tetap skenario Allah yang terbaik. Semoga Allah menmberikan jalan yang terbaik untuk kita. Berjanjilah padaku Syil, tetaplah berada di sampingku untuk menyelesaikan masalah ini." aku mencoba meredakan suasana ini, aku tersenyum menatap Arsyil, memberikan semangat padanya.


"Ya Allah, semoga ada jalan keluar terbaik dariMu. Aku mohon tuntun kami untuk memyelesaikan semua masalah hati kami bertiga." ucapku dalam hati, aku masih memeluk Arsyil.


Iya, saat ini hati Arsyil sangat rapuh sekali, aku tak pernah melihat dia sekacau ini.


"Nisa." ucapnya dengan suara serak, Arsyil menatapku dengan mata yang sembab.


"Iya Syil." jawabku sambil menatap wajahnya, aku hapus jejak airmatanya dan aku belai lembut pipinya.


"Nisa, aku janji kepadamu, aku akan terus berada di sampingmu. Iya Nisa, kita selesaikan masalah kita, maafkan aku Nisa."Arsyil kembali memeluku setelah berkata seperti itu.


"Iya Syil, kita pasti bisa melewati masalah ini. Sudah jangan menangis, ayo keluar nanti disangka karyawanmu kita melakukan yang tidak-tidak di dalam sini." aku berkata sambil tersenyum padanya dan mengajak Arsyil keluar dari ruangannya.


"Iya Nis, ayo kita keluar." Arsyil mengajak ku keluar dari ruangannya dan sebelum keluar Arsyil menghapus sisa-sisa air mataku, begitupun aku. Aku menghapus sisa-sisa air mata Arsyil dan mengecup pipi Arsyil.


"Semangat calon suamiku."ucapku lirih di telinganya.


Arsyil tersenyum manis sekali saat aku berkata seperti itu.


Aku keluar dari ruangan bersama Arsyil.

__ADS_1


Tak terasa waktu sudah sore, aku pun pamit untuk pulang pada Arsyil.


"Syil, aku pulang dulu ya, aku janii sama Papah dan Mamah akan ikut ke pesta ulang tahun rekan kerja Papah di kota X. Mungkin besok aku baru pulang, karena kami akan bermalam dulu di hotel." pamitku pada Arsyil.


"Iya Nis, mau aku antar?" Arsyil menawarkan diri untuk mengantarku pulang.


"Tidak usah Syil, kamu masih banyak pekerjaan. Aku sudah pesan taxi online juga kok." jawabku sambil mengambil tas ku di meja.


"Ya sudah, kamu hati-hati ya? Jaga diri baik-baik, salam untuk kedua orang tuamu. Sampaikan maafku karena belum bisa menemuinya. Sini peluk dulu." Arsyil menarik ku dalam pelukannya. Aku merasa nyaman sekali saat Arsyil memeluku.


Rasanya lega beban dalam hidupku seketika runtuh karena pelukan Arsyil.


"Syil, aku mau pulang jangan dipeluk terus ih..." aku berkata sambil menggelitik pinggang Arsyil.


"Geli Nis, ya sudah hati-hati ya. Itu taxinya sudah datang." Arsyil mengecup keningku. Dan, aku keluar dari bengkel Arsyil, dia mengantarku sampai aku masuk dalam taxi. Setelah taxi berjalan pun dia masih memandang taxi yang aku naiki sampai aku tak melihat Arsyil lagi.


"Aku mencintainya Ya Allah, beri kami jalan keluar untuk masalah ini." lirihku dalam hati sambil memandang jalan lewat jendela taxi.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


♥happy reading♥

__ADS_1


__ADS_2