
Sesampainya di restauran, Annisa dan Leon memilih menu makanan, Annisa masih tidak percaya kalau Leon akan mengundur hari pertunangannya, dan bahkan dia tdak jadi menikahinya. Annisa masih tidak menyangka Leon akan berubah seperti itu. Sambil menunggu pesanan datang, Annisa dan Leon mengobrol tentang keseharian dan kehidupannya masing-masing.
"Leon, gaun yang kemarin aku beli, aku kembalikan saja ya ke kamu."ucap Annisa.
"Jangan, itu sudah menjadi milikmu, Annisa."ucap Leon
"Untuk apa gaun itu. Toh kita tidak jadi bertunangan."ucap Annisa.
"Biar di kamu saja, tidak apa-apa. Siapa tau, suatu saat kamu menemukan calon pendamping baru, yang bisa kamu cintai, dan anak-anakmu menyukainya. Itu yang paling utama Annisa. Kebahagiaan anakmu."ucap Leon.
"Iya memang, mereka harus bahagia."ucap Annisa.
"Tapi aku tak ingin menikah lagi, Leon."imbuh Annisa.
"Jangan bicara seperti itu, perkara jodoh siapa yang tahu."ucap Leon.
"Iya benar juga. Ayo makan, ini pesananya sudah datang." Annisa mengajak Leon menikmati hidangan makan siangnya.
Mereka menikmati makan siang bersama, Leon sudah sangat lega hatinya, walau sedikit sakit melepas Annisa. Dia tau bahwa cinta tak harus memiliki, meskipun sakit, tapi Leon bahagia bisa melihat Annisa tersenyum dan tertawa.
"Bahagialah Annisa, aku tau tujuan kamu datang kemari karena apa. Maafkan aku, mengusik kebahagiaanmu kemarin, membuat hatimu gundah dan resah karena aku memaksamu menikah denganku. Sekarang aku akan membantu kamu mendapatkan cinta sejatimu kembali."gumam Leon.
"Untung saja aku menemui paman Willy lagi, dan menanyakan tentang Annisa lagi, siapa Annisa sebenarnya dan bagaimana kehidupannya dulu, dan setelah aku tau, aku langsung mencari tau dengan bertanya pada Alvin, dan dia menceritakan semua tentang Annisa sebenarnya. Dan benar, dia sangat mencintai suaminya dan menyayangi keluarga suaminya."Leon berkata dalam hati, sambil memandangi Annisa yang sedang menikmati makan siangnya.
*Flashback On*
Sepulang membeli cincin pertunangan, Leon kembali ke rumahnya, dia mencoba menenangkan hatinya yang masih bergejolak dan merasa bersalah dengan Annisa. Lagi-lagi wajah Annisa yang sendu tergambar di matanya, dan itu semakin jelas, yang membuat Leon semakin merasa bersalah. Dia menuangkan air putih ke dalam gelasnya, dia meneguk air putih itu hingga habis, berharap gejolak hatinya sedikit mereda. Tapi, kenyataannya dia masih sangat tidak nyaman dengan rasa di hatinya. Dan rasa bersalah pada Annisa semakin kuat di hatinya.
"Ya Allah, bagaimana ini, aku tidak tega melihat Annisa terus menangis jika dia berada di sisiku, apa aku benar-benar menyiksa hati dia, hingga setiap detik aku melihat dia selalu beekaca-kaca matanya, dan sendu sekali matanya. Aku benar-benar tidak tega dengan Annisa."gumam Leon dalam hati.
"Ah…paman Willy, aku harus tanya pada paman Willy, siapa saudara ku yang menikah dengan keluarga mendiang suami Annisa. Ya, aku harus menemui paman Willy. Aku harus cari tau siapa saudara keluarga mendiang suami Annisa itu, dan aku harus tau bagaimana kehidupan Annisa."ucap Leon dengan lirih.
Leon segera beranjak dari tempat duduknya, dia mengbil kunci mobil yang berada di depannya dan segera keluar dari rumah.
Dia melajukan mobilnya dengan cepat menuju ke rumah paman Willy. Sesampainya di sana Leon langsung menemui paman Willy, terlihat paman Willy sedang menemui seorang tamu, yang Leon juga kenal.
"Paman, ah…beruntunglah paman di rumah, ada hal penting yang harus Leon tanyakan pada paman."ucap Leon.
"Hal penting apa, Leon, sepertinya sangat penting sekali."ucap Paman Willy.
"Sini, duduklah, dulu. Kamu ingat paman Yohan?"tanya Willy dengan menyuruh keponakannya itu duduk di sebelahnya.
"Paman Yohan, ah…iya aku tau, wah…paman di sini? Bagaimana kabar paman?"tanya Leon, dia menjabat tangan saudaranya yang datang dari Indonesia.
"Baik, Alhamdulillah sangat baik, lama sekali tidak bertemu denganmu, kamu terlihat semakin tampan seperti papahmu, saja."ucap Yohan.
"Ah..paman bisa saja. Paman sendirian ke sini?"tanya Leon.
"Iya, bibi mu itu tidak mau kemana-mana semenjak memiliki cucu."ucap Yohan.
"Wah…paman sudah memiliki cucu juga masih sangat tampan."puji Leon.
"Leon, ini lho yang berbesanan dengan keluarga Alfarizi. Paman Yohan, putri paman Yohan menikah dengan keponakan Alfarizi."jelas Willy.
"Itu yang mau aku tanyakan paman, beruntungnya paman Yohan di sini."ucap Leon.
"Kamu mau menanyakan tenang keluarga Alfarizi? Kenapa kamu ingin bertanya itu Leon?"tanya Yohan.
"Leon ingin melamar menantu dari Alfarizi. Maksud saya, istri dari mendiang putra Alfarizi."ucap Willy.
"Sebentar…sebentar… putranya Rico, yang sudah meninggal. Ah….Arsyil. Maksud kalian istri Arsyil. Annisa?"tanya Yohan.
"Iya benar, paman. Paman kenal?"tanya Leon.
"Dia sering bersama putriku, Naura. Naura menikah dengan sepupu Arsyil. Keluarga Alfarizi keluarga yang sangat harmonis sekali, selain bisnisnya yang maju, perusahaannya menjadi perusahaan terbesar, tapi mereka sungguh dermawan. Ya, Annisa istri dari Arsyil sepupu Rayhan menantuku."jelas Yohan.
"Apa dia di sini? Lalu kamu mau menikahinya?"tanya Yohan.
"Dia sangat tergila-gila dengan janda muda beranak dua, Yo. Iya, minggu depan dia akan bertunangan dengan Annisa."ucap Willy.
"Apa? Bertunangan? Tidak, tidak mungkin dia mau menikah lagi, dia sangat mencintai Arsyil. Bahkan waktu itu, setiap pagi dia ke makam Arsyil, tak pernah absen. Aku tau Annisa wanita yang seperti apa. Aku tau semua dari anak ku. Karena dia dekat sekali dengan Annisa."ucap Yohan yang setengah tudka percaya kalau Annisa mau menikah lagi.
"Paman, tolong ceritakan kehidupan Annisa sebelum dia datang ke sini."pinta Leon.
"Yang jelas dia wanita yang sangat setia, bahkan dulu kakak kandung Arsyil mencintai Annisa, tapi dia tidak tau, kalau Annisa kekasih adiknya. Dan mereka tetap hidup rukun walaupun ada sedikit perselisihan. Dan Annisa sudah menjadi yatim piatu setelah satu bulan menikah, Rizal dan Dewi kecelakaan. Begitulah keluarga Alfarizi, selalu kompak. Dan aku sangat bangga berbesanan dengan mereka."jelas Yohan.
"Lalu kenapa Annisa ke sini, paman? Dia tidak di sana, padahal perusahaannya juga di Indonesia sangat maju, dan kata Alvin dan Zidane perusahaan yang di Indonesia sudah menjadi hal milik Annisa." Leon semakin penasaran dengan Annisa.
"Paman tidak tau Leon, nanti paman coba hubungi Naura setelah urusan paman selesai di sini. Kamu yakin mau bertunangan dengan Annisa?"tanya Yohan.
"Itu dia paman, Leon tidak tega melihat Annisa selalu menangis. Leon sebenarnya yang memaksa Annisa paman untuk menikah dengan Leon. Maafkan Leon, Leon kemarin sempat membuat perusahaan paman Annisa diambang kehancuran. Dan itu semua karena Leon ingin mendapatkan Annisa. Leon terpaksa mengancam Annisa dan membuat perusahaan pamannya kehilangan beberapa relasinya." Leon mencoba jujur dengan kedua pamannya.
"Kamu, kamu benar-benar membuat paman malu, Leon. Bagaimana bisa otak ku berubah licik karena mencintai wanita. Paman tidak setuju kamu bertunangan dengan wanita yang terpaksa denganmu."ucap Willy dengan geram pada Leon.
"Jadi seperti itu, caranya seorang Leon mendapatkan wanita? Dengan cara licik? Itu sangat memalukan, Leon."tukas Willy.
"Paman, maafkan Leon, iya Leon tak akan memaksa Annisa lagi, Leon akan membatalkan pertunangan Leon dengan Annisa bahkan pernikahan pun tak akan pernah terjadi, maafkan Leon, paman."ucap Leon dengan menyesal.
"Selesaikan semuanya, jangan menambah beban Annisa, dia wanita baik-baik, Leon."ucap Yohan.
__ADS_1
"Iya paman."jawab Leon.
Setelah berbicara soal Annisa, Leon mengobrol dengan topik lainnya bersama kedua pamannya itu. Dan Leon sudah yakin untuk melepaskan Annisa, karena dia tau, kalau Annisa tak akan pernah mencintainya.
*Flashback Off*
Annisa kembali ke kantornya, dia terlihat bahagia, semua beban hidupnya terasa hilang. Leon sudah benar-benar melepaskannya, Leon sudah merelakannya, walau Annisa tau, dia akut sekali menerima kenyataan ini. Annisa menyelesaikan pekerjaannya, dia ingin segera pulang menemui anak-anaknya di rumah. Dan, dia akan memberitahu pada Dio dan Shifa juga semua yang ada di rumah kalau dia tidak jadi bertunangan dengan Leon. Annisa sudah menyelesaikan pekerjaannya, dia pulang terlebih dahulu, karena ia sudah ingin bertemu dengan kedua anaknya.
"Akhirnya, aku bisa terlepas dari Leon, dan aku akan segera pulang ke Indonesia."gumam Annisa dalam hati.
Annisa pulang ke rumahnya menggunakan taxi, sesampainya di rumah dai langsung menemui anak-anaknya di kamar. Shifa dan Dio sedang tidur, dia segera membersihkan badannya sebelum Shifa dan Dio bangun. Setelah selesai membersihkan dirinya, Annisa membangunkan Shifa dan Dio karena hari sudah semakin sore.
"Dio, Shifa, bangun, nak." Annisa membangunkan Dio dan Shifa.
Mereka mengerjapkan matanya menyesuaikan cahaya yang ada di kamarnya.
"Bunda sudah pulang?"tanya Dio.
"Iya, bunda tadi pulang cepat, nak. Mandilah, sudah sore, kamu belum sholat ashar." Annisa memerintahkan Dio dan Shifa untuk mandi. Mereka segera beranjak dari tempat tidur dan langsung pergi ke kamar mandi
Annisa keluar dari kamarnya, dia melihat sudah pukul 5 sore tapi Zidane belum saja pulang, padahal Alvin sudah pulang dari jam 4 sore.
"Mana Zidane, Al?"tanya Annisa.
"Tadi katanya mau mampir ke rumah Monica, Nis."ucap Alvin.
"Oh...panggil papahmu, ada yang ingin saya sampaikan."ucap Annisa.
"Penting?"tanya Alvin.
"Penting sekali."jawab Annisa.
"Oh…ya…aku lupa, besok kamu tunangan dengan Leon ya?"tanya Alvin.
"Ya... Bisa jadi seperti itu, bisa jadi tidak juga."ucap Annisa
"Maksudmu?"tanya Alvin.
"Makanya panggilkan Paman, aku akan berbicara penting dengan kalian."ucap Annisa.
Alvin segera memanggil papah ya untuk turun ke bawah karena Annisa ingin bicara hal pengting.
"Apa yang ingin Annisa bicarakan pada kami? Sepertinya ini sangat penting."gumam Alvin dalam hati.
Paman Diki dan Alvin terlihat menuruni anak tangga, mereka langsung menghampiri Annisa yang duduk di ruang tengah. Alvin mendudukan dirinya di samping Annisa dan paman Diki duduk di depan Annisa.
"Iya paman, memang sangat penting."jawab Annisa.
"Nis mau bicara apa sih, jangan buat kami penasaran dong, Nis."ucap Alvin.
"Paman, mungkin Minggu depan aku akan kembali ke Indonesia."ucap Annisa.
"Ke Indonesia?"tanya Paman Diki.
"Bukankah kamu besok akan bertunangan dengan Leon? Dan sebentar lagi akan menikah."tanya Paman Diki.
"Kami tidak jadi tunangan atau menikah paman, kami lebih nyaman menjadi teman saja."ucap seseorang dari balik pintu.
"Leon…" Annisa terkejut karena kehadiran Leon.
"Maksud kalian?"tanya paman Diki.
"Kami tidak jadi menikah paman, Leon sadar, Annisa tidak mencintai Leon. Dan Leon ikhlas melepaskan Annisa. Leon tidak mau Annisa terus sedih berada di samping Leon."ucap Leon.
"Benarkah, Annisa?"tanya Diki setengah tidak percaya.
"Iya paman, makanya Annis ingin segera pulang ke Indonesia."ucap Annisa.
"Pulanglah, kasihan rumah kamu di sana, satu tahun sudah di tinggal kamu di sini."ucap Leon.
"Iya, aku akan pulang ke Indonesia. Kamu tidak keberatan kan?"tanya Annisa.
"Tentu saja tidak, aku tau, bahagiamu ada di sana Annisa."ucap Leon.
"Lalu perusahaan paman?"tanya Pamana Diki.
"Paman tidak perlu khawatir, semua akan baik-baik saja."ucap Leon.
"Yakin apa yang kamu katakan Leon?"tanya Diki.
"Benar paman, paman tidak usah khawatir, oke."ucpa Leon meyakinkan.
"Zi belum pulang?"tanya Leon.
"Iya belum, tumben jam sudah mau Maghrib belum pulang dia."jawab Alvin.
Saat mereka mengobrol terdengar dering telepon di ruang keluarga, Alvin beranjak dari tempat duduknya dan mengangkat telepon itu.
"Apa benar ini kediamana Tuan Zidane?"tanya seorang wanita di balik telepon
__ADS_1
"Iya benar, ini dengan siapa?"tanya Alvin.
"Kami dari pihak rumah sakit, tuan, ingin mengabarkan bahwa tuan Zidane mengalami kecelakaan di jalan x tadi pukul 4 sore."ucap wanita itu.
"Zi kecelakaan? Anda tidak berbohong?"tanya Alvin yang tidak percaya, Diki dan Leon melihat Alvin yang panik dan gemetar badannya mendekati Alvin, Leon meraih gagang telepon yang di pegang Alvin, Alvin menjatuhkan diri ke lantai dan duduk di lantai dengan lemas.
"Hallo, ini dengan siapa?"tukas Leon.
"Maaf tuan, ini dari rumah sakit X , Tuan Zidane mengalami kecelakaan pukul 4 sore tadi, dan sekarang korban sedang kritis, di mohon untuk segera ke rumah sakit, tuan."ucap seorang wanita tersebut.
"Baik, terima kasih informasinya."ucap Leon, dia langsung menutup teleponnya.
Leon melihat Alvin yang terduduk di albtai dengan lemas, dia mencoba menenangkan Alvin yang sedang kacau itu. Begitupun Diki, dia juga melemas mendengar kabar anaknya mengalami kecelakaan.
"Vin, kuatkan hatimu, kita ke rumah sakit sekarang."ucap Leon.
"Leon, kenapa Zi?"tanya Annisa
"Zi kecelakaan, dan keadaannya kritis, ayo kita ke rumah sakit, bilang mba Lusi, suruh jaga Shifa dan Dio."ucap Leon
"Iya, aku akan mengambil tas ku dulu." Annisa ke kamar mengbil tas, dan setelah itu mereka ke belakang mamanggil Mba Lusi untuk menemani Dio dan Shifa.
"Nak, kalian di rumah ya, do'akan paman Zi, agar cepat sembuh."ucap Annisa pada Dio dan Shifa.
"Iya bunda."ucap Mereka.
"Jaga diri di rumah, jangan pergi-pergi, sama Mba Lusi saja ya di rumah."ucap Leon.
"Iya paman."ucap mereka.
Leon, Annisa, Alvin dan paman Diki pergi ke ruamh sakit yang tadi di beritahukan oleh pihak ruamh sakit. Leon melajukan mobilnya dengan sangat cepat.
"Leon hati-hati, jangan ngebut."ucap Annisa yang ketakutan, dia sangat ketakutan hingga menangis.
"Annisa maaf, please jangan menangis, aku tidak bisa melihat kamu menangis."ucap Leon.
"Aku takut, Leon."ucap Annisa dengan gemetar. Leon langsung mengurangi kecepatan mobilnya, dan Annisa sudah tidka ketaukan lagi.
Setelah sampai di rumah sakit tujuan mereka segera masuk dan mencari tahu di mana Zidane. Zidane masih berada di ruang ICU. Dia belum sadarkan diri, kondisinya masih kritis, dia juga mengalami patah tulang di bagian tangannya.
"Ya Allah, kenapa bisa seperti ini."gumam Annisa.
Alvin sudah keluar dari ruang tranfusi darah, dia tadi mendonorkan darahnya untuk Zidane. Karena Zidane banyak kehilangan darah. Paman Diki dan Alvin duduk di samping Annisa, Annisa berada di tengah-tengah mereka.
"Nis, paman mohon, tetaplah di sini, jangan pulang ke Indonesia dulu, paman masih membutuhkan mu. Lihat, Zi seperti itu, tidak mungkin satu Minggu dia pulih dan bisa kerja di kantor." Paman Diki memohon pada Annisa.
"Iya, paman. Annisa akan di sini sampai Zi sembuh."dengan berat hati Annisa mengiyakan permintaan paman Diki.
Hari sudah semakin malam, Annisa kembali pulang ke rumah, paman Diki dan Alvin menemani Zidane di rumah sakit. Annisa sudah berada di mobil Leon. Dia sangat kacau, dlaam hatinya sudah ingin pulang ke Indonesia, tapi melihat pamannya yang seperti itu, Annisa tidak tega meninggalkannya.
"Aku tau, kamu sudah kangen dengan rumah, kangen dengan makan Arsyil. Pulanglah, biar aku yang menjaga paman Diki di sini."ucap Leon.
"Aku tidak akan pulang, hingga Zi sembuh, paman, Alvin dan Zidane sudah baik dengan ku, selama aku di sini aku yang selalu merepotkan mereka."ucap Annisa.
"Ya sudah kalau itu mau kamu, Nis. Semoga Zi cepat pulih kembali."ucap Leon.
"Aamiin."ucap Annisa
"Kamu sudah makan?"tanya Leon. Annisa menjawab hanya menggelengkan kepala saja.
"Ingin makan apa?"tanya Leon lagi.
"Aku belum lapar."ucap Annisa.
"Ya sudah kita beli makan, di bungkus nanti makan di rumah ya."ucap Leon.
"Mba Lusi sudah memasak, tidak usah beli, nanti makan di rah saja."pinta Annisa.
"Ya sudah, kalau itu mau kamu, sudah jangan dipikirkan, semua akan baik-baik saja."ucap Leon.
Annisa hanya terdiam, dia masih memikirkan Zidane dan keinginan dirinya untuk pulang ke Indonesia. Dia terpaksa harus tinggal di Berlin lagi untuk sementara waktu.
"Maafkan aku, Syil. Aku belum bisa pulang. Entah kapan aku harus pulang ke indonesia. Aku kangen papah, Kak Mira, Najwa, Raffi, Kak Shita dan semuanya."gumam Annisa dalam hati dengan mata berkaca-kaca.
.
.
.
.
.
.
.
♥️happy reading♥️
__ADS_1