
Hawa dingin masih menyelimuti dua insan yang saling memeluk, Arsyad merasakan kram di lengannya karena Almira tidur dengan berbantal lengan Arsyad.
"Dia pulas sekali tidurnya, sudah pukul 03.00 ternyata. Biasanya Mira yang selalu membangunkan ku untuk sholat malam, dan sekarang dia masih tertidur pulas, mungkin dia masih merasakan dingin sekali."gumam Arsyad dalam hati sambil memandang wajah istrinya.
Arsyad bangun dengan perlahan, agar istrinya tidak terbangun. Dia menuju kamar mandi, dan menyalakan air hangat untuk mandi, setelah mandi, dia mengambil air wudhu dan sholat dua rakaat.
Sebelum sholat dia mencoba membangunkan istrinya terlebih dahulu. Dia pelan-pelan membelai pipi istrinya dengan lembut.
"Sayang, bangun sudah jam 3 lebih."ucapnya Lirih di telinga Mira. Mira mengerjakan matanya, dia bangun dari tidurnya dan mencoba membuka matanya yang masih mengantuk.
"Mas sudah mandi? sudah sholat?"tanya Mira.
"Belum, ini mau sholat, ayo ambil air wudhu, kita sholat bersama."perintah Arsyad pada istrinya.
"Iya mas, aku mandi dulu."ucapnya.
"Kamu tidak dingin? Kalau dingin, ambil air wudhu saja, jangan di paksakan untuk mandi sayang"ujar Arsyad.
"Iya mas." Almira masuk ke dalam kamar mandi, hawa dingin di Villa seakan menusuk tulang Almira.
"Huh, dingin sekali ternyata, untung semalam Arsyad tidak minta jatah, coba kalau minta, bagaimana mandinya, pakai air hangat saja tetap dingin sekali."gumam Mira dalam hati.
Almira sudah selesai mengambil air wudhu, dia keluar dari kamar mandi, dan setelah itu dia sholat dua rakaat bersama suaminya. Iya, setiap sepertiga malam meraka tidak pernah absen untuk sholat. Apalagi telah datang kebahagian di perut Almira, mereka tak henti-hentinya bersyukur atas nikmat yang Allah berikan kepada mereka.
Seusai sholat dua rakaat, mereka menunggu waktu subuh dengan mengaji.
Waktu subuh pun tiba, mereka sholat subuh bersama, Almira mencium tangan Arsyad setelah sholat, dan Arsyad mencium kening Almira.
"Mas, aku lapar."ucap Mira.
"Ya sudah, lepas mukenahmu dulu lalu aku akan buatkan kamu roti selai, mau kan?"ujar Arsyad.
"Mau sekali, ya sudah aku bereskan mukenah aku dulu."ucap Mira.
"Mau pakai selai kacang atau coklat?"tanya Arsyad sebelum keluar ke dapur untuk membuatkan roti selai buat istrinya.
"Dua-duanya boleh?"tanya Mira.
"Boleh sayang, aku buatkan ya, tunggu di kamar."
"Oke sayang." Arsyad mencium kening Mira lalu keluar kamar untuk membuatkan roti selai.
Mira menunggu Arsyad sambil menata baju ke dalam lemari yang semalam belum sempat di tatanya. Setelah selesai dia menyusul Arsyad menuju dapur. Arsyad terlihat sibuk membuatkan roti selai untuk Mira dan dirinya, serta membuatkan satu gelas susu coklat untuk Mira. Almira melihat suaminya yang telaten membuatkan roti untukny, dia tersenyum bahagia.
"Cintaku terbalas olehnya dan dia lelaki yang aku idamkan untuk menjadi imamku. Terima kasih Ya Allah, sudah mengabulkan do'aku, Arsyad adalah pilihanMu yang dikirimkan untuk ku."gumam Mira dalam hati.
Almira berjalan mendekati Arsyad dan memeluknya dari belakang.
"Sayang, kamu mengagetkanku saja."ucap Arsyad yang sedang mengoles selai kacang pada roti.
"Aku bilang tunggu di kamar, di sini dingin sayang."ujar Arsyad.
"Aku sendirian di kamar, jadi aku menyusulmu ke sini. Mau aku bantu?"tanya Mira.
"Sebentar lagi selesai kok, duduklah di sana itu aku buatkan susu."Arsyad menunjukan segelas susu yang sudah dia taruh di meja untuk Almira dan Secangkir teh panas untuk dirinya.
"Hmm..terima kasih sayang."ucap Mira.
Arsyad sudah selesai membuat rotinya, dia membawa roti selai ke meja.
"Ini roti selai khusus untuk istriku tercinta. Ayo makan katanya lapar."ujar Arsyad.
"Hmmm...enaknya, terima kasih sayang."ucap Mira.
Mereka menikmati roti selai bersama di meja makan. Almira terlihat lahap sekali memakan rotinya, dan meneguk habis segelas susu yang di buatkan suaminya.
"Sudah habis?"tanya Arsyad dengan mata membulat, karena dia belum juga habis memakan rotinya.
"Sudah sayang."jawabnya.
"Apa mau lagi?"tanya Arsyad.
"Nanti saja, mas sehabis ini jalan-jalan yuk, sepertinya pemandangan pagi hari di sini sangat indah dan menyejukkan."ucap Mira.
"Iya kita nanti jalan-jalan, aku habiskan rotiku dulu dan teh hangat ku."
"Oke sayang, aku juga mau memakai jilbab dan cadarku dulu."Almira membereskan piring dan gelas kotor. Tapi, Arsyad melarangnya.
"Sudah, tinggalkan saja di sini, nanti aku yang membereskan, kamu ganti pakaianmu saja."ucap Arsyad.
"Baiklah, aku ke kamar ya."
"Iya, hati-hati jalannya."
"Iya bawel."ucap Mira sambil berlalu meninggalkan Arsyad.
__ADS_1
Arsyad hanya tersenyum melihat istrinya yang berubah manja dan cerewet. Iya, setelah hamil dia lebih manja dan cerewet sekali juga doyan makan.
"Istriku berubah sekali, dia makin cerewet saja semenjak hamil. Biarlah, aku akan memanjakan dia, apa yang dia mau aku akan menurutinya. Terima kasih Ya Allah sudah menyempurnakan kebahagiaan kami."gumam Arsyad dalam hati.
Arsyad sudah selesai meminum teh dan memakan rotinya, dia membereskan piring dan gelas yang tadi di pakainya lalu memcucinya.
Arsyad menyusul istrinya di kamar, dia juga berganti baju, karena tadi masih memakai piyama.
Almira sudah berganti baju, dia memakai gamis warna pastel satu stel dengan jilbab dan cadarnya. Arsyad memakai kaos dan celana training, dia sedikit menyemprotkan parfum pada kaosnya.
"Mas, kamu pakai parfum apa sih, baunya menyengat sekali, aku mual sekali mas."ucap Mira setengah marah.
"Aku pakai parfum yang biasa aku pakai sayang, ini parfumnya."Arsyad menunjukan botol parfum pada Mira dan mendekatkan pada Mira.
"Jauhkan ! baunya tidak enak mas. Ganti mas kaosnya, kalau tidak ganti aku tidak pergi jalan-jalan sendiri."tukasnya.
"Iya, iya, mas ganti deh kaosnya, dan mas buang saja parfumnya."Arsyad terpaksa mengganti kaosnya, dia tak membuang parfum nya, karena masih banyak dan baru di belinya sebelum ke Villa.
"Waduh, mulai ini ngidamnya. Bisa-bisa aku tak boleh memakai parfum. Sudahlah aku turuti saja."gumam Arsyad dalam hati.
"Bagaimana tuan putri ku, masih bau kaosku?"tanya Arsyad.
"Sudah tidak, ayo sayang kita berangkat."ajak Mira.
"Kemana?"tanya Arsyad menggoda.
"Keluar lah, jalan-jalan. Ayo cepetan."Mira sudah tidak sabar untuk keluar dari Villa.
Arsyad menyahut jaketnya, karena dia tahu di luar masih sangat dingin. Dia membawa jaketnya dan keluar mengekori Almira.
Almira membuka pintu Villa, dia menghirup udara segar yang menenangkan pikirannya. Aroma embun begitu segar di pagi ini, bunga berwarna-warni terlihat indah dan segar di pandang oleh mata. Almira berjalan ke halaman, dai berlari kecil seperti anak kecil ya g kegirangan melihat bunga yang indah dan berwarna-warni.
"Sayang, jangan lari, kamu sedang hamil sayang. Pelan-pelan saja."ucap Arsyad yang berjalan cepat di belakang Mira.
"Ups...aku lupa Mas kalau aku sedang hamil. Aku suka bunganya, jadi aku setengah berlari untuk memetiknya."ucap Mira.
"Tunggu di sini aku petikan."ucap Arsyad. Dia berjalan dan memetikan bunga untuk istrinya. Arsyad memetik bunga yang berwarna-warni itu dan memberikan pada istrinya.
"Untuk bidadari surgaku."ucap Arsyad sambil memberikan sebuket bunga segar berwarna-warni yang baru ia petik.
"Terima kasih sayang."Mira mengambil bunga yang dari tangan Arsyad.
Almira bermain di taman bunga, dia bermain di tengah-tengah hamparan bunga yang indah. Arsyad yang dari tadi memotret istrinya dari kejauhan.
"Bahagia sekali kamu Mira, aku janji aku akan selalu membuatmu tersenyum bahagia."ucap Arsyad sambil memandang istrinya.
Sebelum berangkat ke kantor seperti biasa dia menjemput Annisa di rumahnya.
"Wah, anak papah keren sekali, mau ngantor pak?"tanya Papah Rico sambil bercanda dengan anak bungsunya.
"Mau ke sawah pak.hehehe"Arsyil menimpali candaan pada Papahnya
"Dah keren gini ya pastinya ke kantor lah pah."ucap Arsyil.
"Kamu tidak pakai mobil?"tanya Andini, ibunya.
"Pakai motor saja lah bu. Biar bisa menikmati udara segar dan bisa di peluk Nisa."ucapnya.
"Modus sukanya seperti papahmu."ucap Andini sambil melirik Rico, suaminya.
"Kenapa papah di bawa-bawa Bu?"sahut Rico.
"Ya papah kan sama seperti Arsyil, jago gombal."ujar Andini.
"Kalau tidak jago gombal kamu gak akan jatuh cinta kan sama aku."goda Rico pada Andini.
"Hmm...iya deh iya, terserah papah lah."ucap Andini.
"Ih... kenapa jadi papah dan ibu yang ribut. Ya sudah Arsyil berangkat dulu pah, Bu. Assalamualaikum."ucap Arsyil sambil mencium tangan Ibu dan Papahnya.
"Wa'alaikumsalam hati-hati, nak."ucap Andini.
"Oke Bu." Arsyil melajukan sepeda motor nya untuk pergi ke kantor. Sebelum ke kantor dia menjemput Annisa dan mengantarkannya ke butik.
Arsyil sudah sampai di rumah Annisa. Annisa sudah menunggunya di teras rumahnya.
"Syil, tumben agak lama."ucap Nisa.
"Biasa tadi bercanda dulu sama papah sebelum berangkat, kamu sudah siap?"
"Sudah, ayo berangkat."ajak Nisa.
"Oke, sudah tidak ada yang ketinggalan?"tanya Arsyil.
"Tidak sayang."jawab Nisa.
__ADS_1
Annisa memakai helm dan mengambil tasnya dan langsung membonceng Arsyil.
"Sudah?"tanya Arsyil.
"Belum."jawab Nisa.
"Kok Belum?"tanya Arsyil lagi.
"Kan belum sampai sayang."jawab nya sambil mencubit pipi Arsyil dari belakang.
"Wah, pintar ya sekarang."ucap Arsyil.
"Iya dong, kan kamu yang ngajarin."jawab Nisa.
"Ya sudah pegangan." Annisa memegang pinggang Arsyil.
"Kok gitu?"ucap Arsyil.
"Terus bagaimana?"tanya Annisa.
"Peluk dong sayang, aku pakai sepeda motor kan sengaja biar di peluk kamu."ucap Arsyil.
"Huh...modus ya. Lagiyan siapa suruh bilangnya pegangan, ya aku pegangan. Kalau kamu nyuruhnya peluk ya aku peluk."ucap Nisa.
"Oh...begitu? Gak peka ya kamu."ucap Arsyil sambil memandangi wajah Nisa yang menggemaskan lewat spion sepeda motornya.
"Iya ini aku peluk, sudah mau berangkat atau berdebat dulu."ucap Nisa.
"Maunya nyium pipi kamu yang makin hari makin chubby."ucap nya
"Ayo sayang sudah siang ih...malah bercanda."
"Iya, iya...cerewet banget ya sekarang kamu." Arsyil menyetarter sepeda motornya dan melajukannya ke butik Annisa.
Annisa memeluk erat tubuh Arsyil dari belakang, dia suka sekali dengan aroma parfum Arsyil yang khas. Arsyil sudah sampai di depan butik Annisa, Annisa turun dari sepeda motor Arsyil, dia mencium tangan Arsyil sebelum masuk ke dalam butik.
"Kamu hati-hati ya sayang."ucap Nisa.
"Iya, kamu juga, jaga diri baik-baik."
"Oke. aku masuk ya?"
"Tunggu ada yang lupa."Arsyil turun dari sepeda motornya, dia melepas helmnya dan mendekati Annisa. Tanpa aba-aba dia mencium kening Annisa.
"Ini yang lupa, selamat bekerja sayang."ucap Arsyil.
"Kamu juga kerja yang semangat ya, Love You."ucap Nisa.
"Love You too." Arsyil kembali menghidupkan sepeda motornya dan melajukannya menuju kantor.
Annisa masuk ke dalam butiknya di susul dengan karyawan butiknya.
"Cie...pagi-pagi sudah dapat morning kiss dari mas Arsyil."karyawan Annisa menggodanya.
"Ehh...lihat ya tadi, haduh...aku jadi malu."ucap Nisa sambil tersenyum malu.
"Sudah, jangan malu-malu mba."
Annisa hanya tersenyum dan membuka butiknya dia langsung masuk ke dalam ruangannya dan membersihkan meja kerjanya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
♥️happy reading♥️