
Air mata Annisa berhasil Lolos dari sudut matanya lagi, dia kembali mengingat masa-masa indah bersama Almira. Annisa memang dekat sekali dengan Almira, saat ia ingin ke mana-mana pasti mengajak Almira. Banyak yang bilang wajah Almira hampir mirip dengan Annisa.
"Annisa, ayo pulang, kamu butuh istirahat, kamu baru saja sampai di sini, istirahatlah di rumah papah, menginap saja dulu, sambil menunggu rumah kamu di bersihkan."ucap Rico.
"Iya, pah."ucap Annisa.
Rico menunda Annisa untuk bangun dan berjalan memapah Annisa masuk ke dalam mobil. Annisa terus memeluk Najwa dan menangis, dia mengusap kepala Najwa dan mencium kepala Najwa.
"Kenapa nasib anak-anak kita sama, kak. Anakku besar tanpa seorang ayah, dan anak kakak tanpa seorang ibu, kak, andaikan waktu bisa kuputar kembali, aku akan menemani saat-saat terakhir Kakak. Maafkan Nisa, kak."gumam Annisa dalam hati.
"Tante…"panggil Najwa.
"Iya, sayang, ada apa?"tanya Annisa.
"Jangan pergi lagi ya, jangan tinggalin Najwa lagi, Shifa, jangan tinggalin kak Najwa lagi ya?"pinta Najwa dengan meneteskan air matanya.
"Iya, Tante tidak akan meninggalkan kamu dan Raffi lagi, nak. Kalian anak Tante, kalian boleh menganggap Tante ibu kalian. Sudah jangan menangis, maafkan Tante."ucap Annisa.
"Kak Najwa, kami tidak akan pergi lagi, kami mau di sini dengan Kak Najwa. Sudah, kakak jamgan menangis lagi, ya."ucap Shifa.
"Janji ya, Shifa."pinta Najwa.
"Iya , kak. Kakak jangan sedih lagi, ya kak. Shifa sayang sama Kak Najwa."ucap Shifa.
Rico melihat kedekatan Najwa dan Annisa, dia semakin yakin jika Annisa mau mengabulkan permintaan terakhir Almira.
"Andai kamu tau, Nis. Almira menitipkan Arsyad dan anak-anaknya pada kamu, dia menginginkan kamu bersatu dengan Arsyad. Tapi papah tidak yakin dengan hati kalian, cinta kalian pada pasangan kalian sangat kuat."gumam Rico.
"Najwa begitu dekat sekali dengan Annisa, padahal dia sering dengan Shita, tapi aku melihatnya ikatan batin mereka sangat kuat sekali."gumam Arsyad.
^^^^^
Mereka sudah sampai dia depan rumah Rico. Semua turun dari mobil, Annisa masuk ke dalam kamar Arsyil yang dulu sering ia tempati saat di rumah Rico. Kamar yang ia rindukan setelah kamar yang berada di rumahnya. Foto dirinya dan Arsyil masih tepampang di meja yang ada di kamar Arsyil.
"Sayang, maaf aku belum sempat ke makam kamu, kamu bahagia kan di surga? Syil, maafkan aku, aku egois sekali, Syil. Hingga aku tak tau Kak Mira pergi meninggalkan semuanya. Syil, aku sangat merindukanmu, ingin rasanya aku menangis di pelukanmu, di saat-saat seperti ini. Syil, tenanglah di surga, sayang, Allah masih baik terhadapku, aku di pertemukan lagi pada orang-orang yang sangat menyayangiku dan menyayangimu."ucap Annisa lirih dengan memandang foto suaminya.
Dia mencium foto Arsyil dan memeluknya, dia meringkuk di tempat tidur yang biasa ia gunakan dengan Arsyil saat di rumah Rico. Bayangan bersama Arsyil jelas terpampang di depan matanya. Bayang-bayang saat Arsyil merengkuh tubuhnya, saat Arsyil memanjakan dia dan saat Arsyil panik karena dirinya sakit. Arsyil sosok suami yang sangat penyayang dengan istri dan anaknya, dia benar-benar suami yang beetanggung jawab. Annisa tak menyangka akan kehilangan suami tercintanya itu. Dia begitu sakit mengingat semua itu. Dadanya seakan sesak sekali.
Annisa bangun dari tempat tidurnya, dia membuka lemari pakaian milik Arsyil. Dia melihat beberapa baju milik Arsyil. Hinnga dia melihat salah satu baju Arsyil yang pernah Arsyil gunakan saat mereka pertama bertemu.
"Baju ini, baju ini dan jaket ini yang kamu pakai saat menolongku dulu, dan itu awal kita bertemu, Syil."gumam Annisa dalam hati.
*Flashback On (In memoriam Arsyil.)*
"*Ayo duduk di sana mba." Arsyil mengajak duduk Annisa di rest area. Dia masuk ke dalam mini market membelikan Annisa minum.
"Diminum dulu mba." ucap Arsyil dengan memberikan sebotol air mineral pada Annisa. Annisa menerimanya dengan tangan yang bergetar.
"Terima kasih mas."ucap Annisa.
"Ohh ya ini dompetnya. Kata pencopetnya sih isinya masih utuh. Coba di cek lagi, mba." Arsyil memberikan dompet milik Annia yang di copet Donni waktu itu.
"Iya masih utuh mas, maaf jadi merepotkanmu."ucap Annisa dmwgam menunduk malu.
"Santai saja, mba, oh ya aku Arsyil, kalau mba?"tanya Arsyil dengan mengulurkan tangannya pada Annisa.
"Saya, Annisa."jawab Annisa dengan menjabat tangan Arsil.
"Wah...nama yang cantik seperti orangnya."ucap Arsyil dengan tersenyum manis.
"Malam-malam kok cewek keluar sendirian, mba. Gak baik, mba."imbuh Arsyil.
"Iya, ada perlu sebentar ke mini market, tadinya mau di antar papah, tapi aku berangkat sendiri jadinya."ucap Anisa yang sudah lumayan tenang suaranya.
"Memang mau apa malam-malam ke mini market?"tanya Arsyil.
"Mau membeli sesuatu."ucap Annisa.
"Oh..kamu masih kuliah atau sudah bekerja?"tanya Arsyil.
"Aku kuliah di universita C hampir semester akhir si. Kalau kamu?" Annisa menjawab dan bertanya pada Arsyil.
"Sama, aku juga kuliah dan sudah mau semester akhir juga, berarti sama dong kita."ucap Arsyil.
"Iya, ya, sama. Kamu sendirian syil?"tanya Annisa
__ADS_1
"Sama kamu lah."ucap Arsyil dengan tertawa.
"Maksud aku, kamu tidak dengan teman kamu atau mungkin Cewek kamu gitu?"tanya Annisa.
"Tadi aku touring dengan temanku. Aku kira tidak bawa pasangan, eh tau-taunya bawa pasangan semua. Dan yang bikin aku eneg mereka sewa villa untuk berduan. Kan nyebelin, teman macam apa mereka. Ya sudah aku jalan-jalan sendiri mampir kesini, eh ketemu copet dan cewek cantik. Seperti FTV saja, ya?"jelas Arsyil dengan setengah bercanda.
"Kamu itu, berarti kalau tadi bawa cewek kamu gak ketemu copet dong, kan masih di sana dengan temanmu dan pastinya sedang menikmati berduaan dengan cewek kamu."ucap Annisa.
Mungkin, tapi tidak lah, masa mau seperti itu. Aku pacaran sewajarnya saja. Initinya No Sex before Marriage."ucap Arsyil.
"Cowok mah cuma omongan doang seperti itu. Kenyataannya di kasih yang lebih sama ceweknya ya mau-mau aja, iya kan seperti itu?"ucap Annisa dengan tertawa.
"Dih, kamu mau bukti? Jadi pacarku kalau mau aku buktikan."icpa Arsyil.
"Apaan sih, ngarang kamu, ah."ucap Annisa dengan pipi merah merona.
"Siapa yang ngarang? Eh, pipinya merah kenapa bu? Merah merona bak tomat yang sudah matang."ucap Arsyil setengah menggoda Annisa.
"Apaan sih, sudah ah, aku mau pulang, sudah malam. Terima kasih atas pertolongannga, Syil."ucap Annisa.
Iya sama-sama. Mau aku antar?"tawar Arsyil pada Annisa.
"Tidak usah, aku pakai taxi saja."ucap Annisa.
"Oke, hati-hati ya, oh ya boleh minta no telfonmu? Buat memastikan saja, kamu sudah sampai di rumah atau belum. Takutnya kamu culik sopir taxinya, kan kamu cantik."ucap Arsyil dengan menyunggingkan senyum manisnya.
"Kamu ada-ada, Syil. Iya boleh, kemarikan ponselmu aku tuliskan nomor ku di ponselmu."ucap Annisa.
"Oke, ini silahkan tulis nomor kamu di ponselku." Arsyil memberikan ponselnya pada Annisa dan dia menuliskan nomornya di ponsel Arsyil.
"Sudah aku save ya, nanti WA saja."ucap Annisa
"Oke."ucap Arsyil.
"Aku pulang ya."pamit Annisa.
"Iya, hati-hati, mari aku antar ke depan menunggu taxi." Arsyil mengantar Annisa ke depan menunggu taxi. Sebuah taxi lewatbdi depan mereka, Arsyil menyetopnya dan Annisa masuk ke dalam taxinya.
"Hati-hati ya, nanti aku WA kamu, memastikan kamu sudah sampai apa belum."ucap Arsyil pada Annisa.
"Pak, tolong Antarkan nona cantik ini sampai ke rumahnya dengan selamat."ucap Arsyil pada sopir taxinya. Pipi Annisa merona lagi mendengar ucapan Arsyil itu.
"Siap mas, tenang saja."ucap Sopir taxi tersebut.
"Sudah, kamu lebay sekali, Syil."ucap Annisa.
"Aku tidak lebay, aku hanya tidak mau cewek secantik kamu kenapa-napa. Ya sudah hati-hati, Nis. Hati-hati ya, pak."ucap Arsyil. Demi apa hati Annisa langsung begetar tak menentu, menerima perlakuan Arsyil yang seperti itu*.
*Flashback Off*
Air mata Annisa terurai sempurna di pipinya, dia memeluk baju milik suaminya, dia ingat pertemuan pertamanya dengan suaminya, ia merasa begitu cepat waktu berlalu, dan hanya kenangan yang singgah di hidupnya.
Annisa kembali teringat setelah pertemuan itu, dia ingat, bagaimana Arsyil yang berhasil melambungkan hatinya hingga ke awan, dia mengingat pertama Arsyil mengirimkan pesan WhatsApp untuknya. Dia membuka screenshoot pesan pertama yang Arsyil kirimkan dulu, dia membacanya hingga tangisannha pecah dan sesegukan.
*Isi pesan Arsyil yang pertama dia kirimkan pada Annisa*
[*Hai Nis, ini Arsyil cowok ganteng yang tadi nolongin kecopetan di depan mini market. heheheh]
[oke aku save ya no kamu?]
[iya save saja nama kontaknya "Arsyil Ganteng ya? hahaha]
[Wihhh, PD amat mas, Ganteng dari mana nya coba? hehehe Arsyil jelek saja lah namanya hehe]
[Terserah kamu cantik. sudah sampai rumah?]
[sebentar lagi. kamu masih di depan Mini Market?]
[iya, masih disini menunggumu kembali. heheheh]
[kebanyakan gombal kamu syil]
[biar pipi kamu merah lagi.]
[kamu bisa saja. kamu tidak pulang? aku sudah sampai rumah.]
__ADS_1
[ini mau pulang. yasudah kamu istirahat sana, jangan keluar lagi sudah malam.]
[siap bos, kamu hati hati pulangnya. jangan ngebut naik motornya.]
[emang kalau ngebut tak boleh?]
[nanti jatuh.]
[kan jatuhnya di hatimu Nis, asikkk...]
[ihh sana pulang aku mau tidur.]
[iya..iya...yasudah selamat malam Nisa cantik..nice dream*].
*****
Annisa menangis mengingat semuanya, dia memeluk ponselnya, dia sangat merindukan gombalan dan rayuan suaminya yang membuat dia merasa atas awan.
"Arsyil, aku sangat merindukanmu, merindukan saat-saat kita berdua, rindu tawa kamj, rindu senyuman kamu, rindu gomabalan dan rayuanmu. Aku hanya bisa menagus saat mengingatmu, dan aku hanya bisa berdoa, untukmu, agar kamu bahagsia selalu di surga."lirih Annisa dengan Isak tangisnya.
Annisa masih terpaku berdiri di depan lemari pakaian milik Arsyil. Memang baju-baju lama Arsyil tidak di bawa ke rumahnya. Annisa menemuka buku catatan kecil di laco lemari pakaian Arsyil. Dia membukanya, ternyata Arsyil suka menulis pengalaman nya di sebuah buku catatan, kadang juga menulis sebuah puisi di buku itu, Annisa baru mengetahu buku itu, selama hidup deanga Arsyil bertahun-tahun. Dia membuka buku itu lembar demi lembar. Dia meliahat begitu banya foto dirinya yang di ceta Arsyil dan di tempel di buku itu.
Annisa menemukan foto dirinya saat dia berada di cafe dengan Arsyil, iya,foto itu di ambil Arsyil diam-diam saat mereka jalan pertama kalinya, dan saat itu juga Arsyil mengungkapkan perasaannya pada Annisa. Annisa membaca tulisan di samoing foto itu.
"Gadis cantik ini, malam ini sudah ku pinang hatimu, dan suatu saat aku akan meminangmu, menjadikanmu seutuhnya milikku, hidup bersamaku dalam suka dan duka. Aku janji Annisa, akan selalu membahagiakanmu. Sedikitpun aku tak ingin mengecewakanmu. Love You My sweet Girl." seperti itu tulisan yang ada di buku catatan Arsyil, dan masih banyak lagi tulisan indah untuk Annisa di bukunya.
"Foto ini, iya, ini adalah waktu pertama jalan dengan Arsyil, waktu itu Arsyil memang bilang ingin menjadikanku wanitanya, dia meminta aku menjadi calon istrinya. Dan dengan bahagia aku mengabulkan keinginannya malam itu juga."ucap Annisa lirih.
*(In memoriam Arsyil 2)*
"*Nis." panggil Arsyil dengan menggenggam tangan Annisa.
"Emm...iya syil, ada apa?"tanya Annisa dengan menatal wajah Arsyil.
"Nis, mungkin ini terlalu cepat, Nisa, aku mau bertanya, apa hubungan ini bisa di lanjutkan lebih dari seorang teman?"tanya Arsyil dengan menatap lekat wajah Annisa. Annisa hanya terdiam dan menatal wajah Arsyil juga, mereka saling beradu pandang.
"Maaf Nisa, a…aku, hanya ingin lebih dekat denganmu, ehm..maksudku, apa kamu mau menjadi bagian dari hidupku? aku tidak mau menjadikan mu pacarku. Tapi aku ingin kamu menjadi calon istriku, Nis. Mungkin ini terlalu cepat aku katakan. Nisa, jika aku sudah selesai kuliah nanti aku akan segera melamar kamu. Apa kamu mau?"tanya Arsyil lagi, Annisa masih diam membisu, dia menatap wajah Arsyil dengan tatapan sendu, dia bahagia sekali di perlakukan seperti itu dengan Arsyil. Annisa meneteskan air matanya.
"Syil."ucap Annisa dengan meneteskan air matanya.
"Iya, kok nangis, Nis?"tanya Arsyil
Syil, aku bahagia, kita jalani apa adanya dulu. Aku mau menjadi calon istrimu, Arsyil."ucap Annisa dengan menyeka air matanya
"Yakin?" tanya Arsyil memastikan. Annisa hanya menganggukan kepalanya.
"Iya, aku yakin, Syil. Eh, itu ada Taxi aku pulang dulu, ya. Sampai jumpa lain waktu." Annisa menyetop taxi dan dia masuk ke dalam taxi.
"Terima kasih Nis, hati-hati ya, sampai rumah kabari aku."ucap Arsyil.
"Oke."jawab Annisa*.
*****
Annisa menaruh kembali buku Arsyil, dia tidak kuat membaca semua tulisan Arsyil. Matanya sudah semakin sembab, dia dari tadi menghabiskan waktunya untuk mengingat mendiang suaminya, Annisa merebahkan tubuhnya kembali. Dia benar-benar sangat merindukan suaminya.
"Maafkan aku Syil, aku sangat merindukanmu."ucap Annisa lirih. Dia beranjak dari tempat tidurnya, dan berjalan menuju kamar mandi, dia mengambil air wudhu, lalu setelah itu, dia mengambil jilbab dan Al-Qur'an, dia mengaji, hanya itu yang Annisa lakukan saat rindu dengan Arsyil menghinggapi dirinya.
.
.
.
.
.
.
.
.
♥️happy reading♥️
__ADS_1