
Arsyad dan lainnya sudah sampai di rumah Rico, mereka semua tidur di rumah Rico karena ingin mengetahui perkembangan kabar Najwa dan Shifa.
Arsyad mengajak Almira ke kamar untuk tidur, Almira masih saja diam mematung duduk di tepi ranjangnya. Dia menatap foto Najwa di yang ada di ponselnya, serta memutar Video yang baru saja di rekam kemarin saat Najwa mendongeng dengan keluarganya.
"Ya Allah, di mana kamu, nak. Semoga kamu selalu dalam lindungan Allah. Maafkan ummi, sayang, ummi lalai menjagamu. Maafkan ummi, maafkan bude Shifa. Kalian sudah makan belum, nak, dengan siapa dan berada di mana?"tangis Almira memecah lagi. Arsyad membawa Almira dalam pelukannya dan menenangkan hatinya.
"Sudah sayang, percayalah Najwa dan Shifa akan ketemu, kita tidur ya, matamu sudah sembab seperti ini. Tidurlah besok aku akan mencari Najwa lagi dan Shifa." Arsyad memeluk istrinya dan menenangkan istrinya
"Bagaimana aku bisa tidur, sementara anakku tidak tau di mana, dengan siapa dan keadaannya bagaimana."tukas Mira.
"Iya, aku juga berfikir seperti itu, sayang. Tapi kamu juga harus tidur, kamu nanti sakit seperti ini terus, sayang." Arsyad mencium puncak kepala Almira. Arsyad benar-benar tidak tau harus bagaimana, semua urusan pencarian Najwa dan Shifa telah di urus oleh kepolisian dan jajarannya, dia Hany menunggu kabar dari polisi.
Almira tertidur dipelukan Arsyad sambil terduduk, dia merasa sangat lelah seharian menangis hingga tengah malam. Arsyad menidurkan Almira perlahan di tempat tidur. Dia mencium istrinya dan tidur di sampingnya.
Sementara Annisa, dia masih saja duduk di ruang tengah, memandang dengan tatapan kosong ke segala arah. Arsyil dari tadi sudah menyuruh Annisa untuk tidur. Tapi dia tidak mau tidur.
"Sayang, sudah hampir jam 11, ayo tidurlah, besok aku akan mencari Shifa lagi, kita berdo'a semoga Shifa dan Najwa baik-baik saja."ucap Arsy pada Annisa.
"Bagaimana aku bisa tidur, sayang. Shifa tidak ada, aku tidak tau dia sedang di mana, sedang dengan siapa, baik-baik atau tidak. Maafkan aku Syil, aku tidak bisa menjaga anakku."ucap Nisa sambil terisak di pelukan Arsyil.
"Sayang, jangan menyalahkan dirimu sendiri, sudah tidak ada yang salah dalam keadaan ini, ini semua cobaan kita." Arsyil memeluk dan mencium istrinya.
"Ayo tidur."ajak Arsyil.
"Iya sebentar aku ingin ke dapur, aku ingin mengambil air putih hangat." Annisa beranjak dari tempat duduknya, dia menuju ke dapur untuk mengambil air putih hangat.
Arsyil terdiam sendirian duduk di kursi ruang tengah, dia tidak tau harus bagaimana lagi dan harus mencari Shifa juga Najwa ke mana lagi.
"Ya Allah, lindungilah anakku dan keponakanku. Jaga mereka, dan pertemukan mereka dengan orang baik. Aamiin." Arsyil menundukan kepalanya sambil memijit keningnya. Arsyad keluar dari kamar nya melihat Arsyil duduk sendiri di kursi ruang tengah.
"Kamu sendirian, Syil. Annisa sudah tidur?"tanya Arsyad yang tiba-tiba muncul di depan Arsyil.
"Annisa sedang di dapur mengambil air putih hangat. Kakak belum tidur?"tanya Arsyil.
"Kakak tidak bisa tidur, kakak biasa tidur memeluk Najwa dulu, malam ini dia belum kembali ke rumah." Arsyad tanpa sadar meneteskan air matanya di depan Arsyil.
"Kak, aku juga sama seperti itu, kak kita berdo'a untuk Najwa dan Shifa. Kakak jangan menangis seperti ini." Arsyil memeluk Arsyad, dan tanpa sadar dia juga meneteskan air matanya.
"Kamu menyuruh kakak jangan menangis, tapi kamu malah nangis." Arsyad memukul pelan lengan Arsyil.
"Kak, Shifa itu hidupku, bagaimana aku tak menangis dia tidak di rumah, dan tidak tau di mana."ucap Arsyil.
"Kakak ke dapur dulu, mau buat kopi, kamu mau?" Arsyad menawari kopi Arsyil.
"Boleh, aku tunggu kakak di sini."ucap Arsyil. Arsyad berjalan ke dapur untuk membuat kopi untuk dirinya dan Arsyil.
Annisa terlihat masih di dapur, dia sedang meneguk air putih yang ia ambil, dan setelah habis ia menuangkan kembali air putih di gelasnya.
"Kamu ambil air putih lama sekali, Nis."ucap Arsyad yang tiba-tiba berada di belakang Nisa.
"Kak, Najwa dan Shifa sedang apa ya?"tanya Annisa dengan tatapan kosong.
"Nis, berdo'alah, semoga mereka baik-baik saja dan dalam lindungan-Nya."ucap Arsyad sambil mengambil dua cangkir untuk membuat kopi.
"Itu selalu, kak. Aku tidak tenang sekali."ucapnya dengan meneteskan air mata. Arsyad hanya diam di samping Nisa tanpa melihat Nisa yang sedang menangis di sampingnya. Iya, walaupun dia sudah menjadi satu keluarga, Annisa adalah istri adiknya, dia tetap menjaga jarak dengan Annisa.
"Nis, kakak juga sama dengan apa yang kamu rasakan. Kak Mira, Arsyil, juga sama saja, Nis. Kita hanya bisa berdoa semoga Najwa dan Shifa segera kembali."ucap Arsyad sambil menuangkan air panas ke dalam cangkir yang berisi bubuk kopi dan gula. Annisa masih saja menangis.
Annisa memegang kepalanya, dia merasa kepalanya sakit, pandangannya semakin kabur.
"Brugh…"Annisa pingsan, Arsyad segera menangkap tubuh Annisa. Dia menepuk-nepuk pipi Nisa.
"Nis…Nisa….Ya Allah, ada-ada saja kamu, Nis." Arsyad membopong tubuh Nisa dan berjalan ke arah Arsyil serat berteriak memanggil Arsyil.
"Syil…! Tolong buka kamarmu sekarang, Annisa...!" Arsyad membawa Annisa ke kamar Arsyil.
"Kak, kenapa Nisa?" Arsyil panik dengan membukakan pintu kamarnya.
"Dia pingsan, tadi di dapur kakak lihat dia sedang menangis, dan kakak ajak bicara, tiba-tiba dia pingsan."ucap Arsyad sambil terengah-engah.
Arsyil segera mengambil kayu putih, Andini dan Rico mendengar kegaduhan mereka, Rico dan Andini yang baru saja tertidur karena harus menidurkan cucu-cucu mereka yang meminta tidur di kamarnya, akhirnya mereka bangun dan langsung berlari ke arah kamar Arsyil. Shita dan Vino pun bangun, karena mendengar semua itu.
"Ada apa ini? Kenapa Annisa?"tanya Rico sambil mendekati menantunya itu yang masih belum sadar di tempat tidur.
"Annisa pingsan, pah. Tadi di dapur saat mengambil air putih."ucap Arsyad.
"Untung Kak Arsyad di dapur juga sedang membuat kopi."imbuh Arsyil. Rico tak menghiraukan ucapan kedua putranya, dia masih saja memijat telapak tangan Nisa dan telapak kakinya.
"Nisa, bangun, nak. Ibu, tolong usapkan kayu putih di dada hidung Nisa dan dada Nisa." Rico sangat panik Annisa pingsan seperti ini.
"Ya Allah, Nisa… kamu jangan seperti ini, nak. Pasti Najwa dan Shifa ketemu, papah janji, akan mencari mereka, sayang."ucap Rico yang terus berusaha menyadarkan Nisa dari pingsannya.
Rico memang sangat menyayangi Annisa, semenjak kepergian kedua orang tuanya, dia sangat perhatian dengan Nisa, pulang kerja pun dia pasti menengok Annisa walau tanpa Andini.
Shita membuka matanya perlahan, matanya mengerjap menyesuaikan cahaya lampu yang ada di kamarnya.
__ADS_1
"Alhamdulillah, kamu sudah sadar, nak."ucap Rico sambil mengusap kepala Nisa.
"Pah, Shifa, Najwa, dia sudah kembali kan?"tanya Nisa dengan Isak tangisnya.
"Besok, papah, Arsyil dan Arsyad juga lainnya akan mencari Najwa dan Shifa lagi, percayalah, mereka pasti kembali."ucap Rico dengan mengecup kening menantunya.
Annisa masih saja menangis, semua mencoba meredakan tangisan Annisa dan menenangkan dia.
Shita membawakan teh manis hangat untuk Annisa dan meminumkannya pada Annisa.
"Minum dulu ya, Nis. Tenanglah, pasti Najwa dan Shifa kembali." Shita mencoba memeluk Annisa.
"Tudurlah, Nis. Sudah malam, kamu nanti sakit kalau seperti ini terus."imbuh Shita.
"Kak, bagaimana aku bisa tidur nyenyak, anakku tidak ada, dia belum kembali." Annisa menangis di pelukan Shita. Tanpa terasa semua yang ada di kamar Arsyil ikut merasakan kesedihan Annisa.
"Najwa…! Shifa…! Kalian sudah pulang, nak…?!"teriak Almira sambil berlari dari kamarnya menuju ke depan.
"Almira…!" Arsyad langsung keluar dari kamar Arsyil dan berlari mengejar Almira yang sudah di ambang pintu depan sambil menangis histeris karena tidak ada Najwa.
"Najwa…! Shifa…!"teriak Almira, tubuhnya melemas, dia menjatuhkan dirinya di lantai dan duduk sambil menangis.
"Sayang, please jangan seperti ini, Najwa besok pasti kembali, sayang." Arsyad mendekap tubuh istrinya.
"Tadi dia pulang, mas, Najwa tadi pulang, dia meminta aku membukakan pintu. Dia tadi pulang, Najwa pulang, aku tidak bohong, mas." Almira terus menangis, dia bermimpi Najwa kembali ke rumah, tapi kenyataannya Najwa tidak ada.
"Kak, jangan seperti ini, kakak harus kuat, besok pasti Najwa kembali, kak." Shita mendekati Almira dan memeluknya.
"Ta, tadi Najwa dan Shifa pulang, tapi mereka tidak ada. Shita, kemana Najwa dan Shifa." Almira melemah tubuhnya, dia pingsan di pelukan suaminya.
"Mira….Mira.… jangan seperti ini, bangun sayang." Arsyad membopong Mira masuk ke dalam kamarnya. Andini langsung masuk ke kamar Arsyad, dia mengoleskan minyak kayu putih pada hidung dan dada Mira.
"Nak, pasti Najwa dan Shifa ketemu, jangan seperti ini, sayang. Ibu juga merasakan seperti apa kehilangan seorang anak." Andini mengusap kepala Mira.
Tak lama kemudian, Almira sadar dari pingsannya. Dia masih saja menangis Najwa.
"Mira, besok papah dan lainnya akan mencari Najwa dan Shifa kembali, percayalah, kamu tidur ya, kalau kamu seperti ini terus, kamu akan sakit." Rico berbicara di depan Almira, dia duduk di samping Almira, Rico mengecup kening Almira
Almira sudah agak tenang, Rico dan lainnya keluar kamar Almira agar Almira bisa istirahat.
"Jangan di tinggal sendirian Almira, Syad. Kamu jaga dia."ucap Rico.
"Iya pah."jawab Arsyad, mereka semua keluar dan Arsyad menutup pintu kamarnya. Dia segera merebahkan dirinya di samping Almira. Arsyad memeluk Almira.
Almira menenggelamkan wajahnya di dada Arsyad, dia masih saja menangisi Najwa dan Shifa. Arsyad hanya bisa menenangkan dengan pelukan dan belaian pada Almira.
*****
"Kenapa tidak di makan, sayang?"tanya papah Rania
"Najwa ingin pulang."jawabnya dengan mata berkaca-kaca.
"Nak, hari ini om ada meeting dengan klien sampai jam 11. Nanti setelah itu, om langsung pulang dan mengantar kami ke rumah. Oke…? Jadi kamu harus habiskan makananmu dulu."ucap papah Rania.
"Janji? Om akan mengantar aku pulang?"tanya Najwa.
"Janji, sayang, kamu yang sabar ya. Sekarang makan dan habiskan sarapanmu."ucapnya.
"Baik om."jawab Najwa
"Apa om tau rumah kami?"tanya Shifa.
"Tau, om tau orang tua kalian. Shifa juga sarapannya harus di habiskan."ucap papah Rania.
"Kalian jangan khawatir, om dan Tante akan segera mengantar kalian, kalau urusan om di kantor sudah selesai."ucap mamah Rania.
"Iya, Tante."jawab mereka bersama.
Mereka melanjutkan sarapan, setelah selesai, papah Rania berpamitan untuk ke kantor. Rania mengajak Najwa dan Shifa bermain bersama.
*****
Keluarga Rico masih berkumpul di meja makan setelah selesai sarapan. Semua laki-laki bersiap untuk berangkat ke kantor polisi, untuk mencari informasi perkembangan Najwa dan Shifa. Terkecuali Vino, hari ini dia ada meeting dengan kliennya di luar kota. Jadi sesudah subuh dia harus berangkat ke kota tersebut.
Vino sudah sampai di lokasi meeting yang telah disiapkan oleh Kliennya. Dia segera turun dari mobilnya dan berjalan menemui kliennya. Seorang laki-laki sudah menunggu di meja yang sudah di pesan.
"Maaf, pak menunggu lama."ucap Vino.
"Tidak apa-apa, Pak Vino, saya juga baru sampai lima menit yang lalu."ucapnya.
Vino mulai meeting dengan kliennya. Dan setelah mereka deal menjalin kerjasama dan menandatangani kontrak, mereka sedikit berbincang-bincang mengenai perusahaan dan sedikit masalah keluarganya.
"Wah senangnya sudah memiliki anak yang lengkap, laki-laki dan perempuan."ucap Klien Vino.
"Alhamdulillah, pak. Kalau bapak sendiri?"tanya Vino
__ADS_1
"Baru satu, anak saya perempuan, mungkin seumuran dengan anak Pak Vino yang pertama."ucapnya.
"Pak, maaf, saya harus segera pulang, saya ada janji dengan teman-teman anak saya. Kemarin dia bertemu dengan teman barunya yang tersesat, dan dia menolongnya, ini dia meminta pulang ke rumahnya. Dan, ternyata anak itu adalah anak sahabat istri pertama ku."ucpanya.
"Maksudnya? Bapak memiliki dua istri?"tanya Vino.
"Bukan, tidak seperti itu, istri pertamaku sudah meninggal 4 tahun yang lalu, kini saya sudah menikah lagi, dan memiliki putri dari istriku yang ke dua. Aku dengan istri pertama tidak memiliki anak."ucpanya.
"Ya sudah Pak Vino, terima kasih atas waktunya dan terima kasih atas kerjasamanya."ucapnya.
"Iya pak, sama-sama."ucapnya. Klien Vino segera keluar dari restoran di hotel berbintang.
"Anaknya bertemu dengan anak yang tersesat, apa jangan-jangan yang di temukan anaknya dia adalah Najwa dan Shifa? Aku harus tanya pada klienku itu, siapa tau yang bertemu dengan anaknya benar-benar Najwa dan Shifa."gumam Vino dalam hati. Vino segera beranjak dari tempat duduknya dan mengejar kliennya tersebut. Beruntung kliennya masih belum jauh.
"Pak…! Pak Reno…! Tunggu…!" Vino menghentikan langkah Reno yang akan menuju ke tempat parkir. Iya, Klien Vino adalah Reno suami Naila sahabat Almira.
"Ada apa Pak Vino?"tanya Reno
"Saya mau tanya, apa yang di temui anak Pak Reno adalah dua anak ini?"tanya Vino dengan menunjukan foto Najwa dan Shifa
"Mereka adalah keponakanku, kemarin siang hilang di sekitar Villa di kawasan kota X. Namanya Najwa anak Kakak iparku dan satunya Shifa anak adik iparku."imbuh Vino.
"Jadi Pak Vino adik iparnya Arsyad? Suami Almira?"tanya Reno
"Iya benar, jadi benar Najwa dan Shifa ada pada Pak Reno?"tanya Vino dengan gugup.
"Subhanallah, Almhamdulillah. Iya Najwa dan Shifa ada padaku, dan hari ini saya berniat akan mengantar Najwa dan Shifa pulang."ucap Reno
"Alhamdulillah Ya Allah. Boleh aku menemui mereka?"tanya Vino
"Jelas boleh, mari ikut dengan saya."ucap Reno
Vino melajukan mobilnya di belakang mobil Reno, mereka tealh sampai di depan rumah besar dan mewah sekali. Reno turun dari mobilnya, Vino juga. Reno mengajak Vino untuk masuk ke dalam rumahnya, Vino berjalan di belakang Reno
"Assalamualaikum, Najwa, Shifa…lihat siapa yang datang." Reno memanggil Najwa dan Shifa. Mereka keluar dari kamar Rania dengan membawa boneka milik Rania.
"Om Vino..!"teriak Najwa kegirangan..
"Pakde...!" Shifa tak kalah bahagianya, mereka memeluk Vino erat.
"Ya Allah, nak, akhirnya ketemu kamu juga. Kamu baik-baik saja, kan? Kami semua khawatir dengan kalian." Vino menciumi keponakannya, dia merasa lega dua garis kecil masih sehat dan masih utuh tak kurang satupun dari dirinya.
"Najwa baik-baik saja, Alhamdulillah Rania dan Om Reno juga Tante Ana sudah menolong kami."ucap Najwa.
"Iya Pakde, Alhamdulillah ada Rania, semua baik sekali dengan kami, pakde."imbuh Shifa.
"Ya sudah, sini foto dengan Om, biar semua tidak mengkhawatirkan kamu lagi." Vino mengajak merek berfoto dan mengirimkan pada Arsyad, Arsyil dan semuanya, karena merak mengirim foto di grup keluarga Alfarizi.
"Ya sudah, nanti kita pulang, Om Reno, Tante Ana dan Rania juga ikut kalian, karena On Reno ingin ketemu dengan Abah kamu, Najwa."ucap Reno.
Reno dan semuanya bersiap-siap untuk ikut Vino ke kediaman keluarga besar Rico.
*****
Semua sudah berkumpul di rumah, Arsyad, Arsyil dan Rico masih belum mendapatkan kabar dari Kepolisian. Mereka duduk di ruang tengah, Almira dan Annisa masih saja menangis, karena putri mereka belum juga ditemukan.
Ponsel mereka berdering bersama, ada sebuah notifikasi pesan grup WhatsApp, grup keluarga besar Alfarizi. Mereka segera membuka ponsel mereka masing-masing.
"Najwa…Shifa…"ucap mereka bersama yang membuat pesan.
"Kenapa ada Vino juga, dan siapa anak kecil ini."ucap Rico dengan pemasaran.
"Pah, tanya kak Vino cepat pah."tukas Arsyad. Rico melakukan Video Call dengan Vino. Tapi tidak di angkat karena Vino masih menyetir mobil, dia akhirnya menepikan mobilnya dan membalas panggilan Video call nya dengan pesan
[Maaf Pah, Vino sedang mengemudikan mobil mau pulang, iya Najwa dan Shifa sudah bersama Rico, dan yang menemukan mereka adalah teman Arsyad.]
Seperti itu balasan dari Vino.
Mereka semua bingung, siapa teman Arsyad itu, mereka tak memikirkan itu lagi, yang penting adalah Najwa dan Shifa sudah bersama Vino dan akan pulang ke rumah.
"Alhamdulillah, akhirnya Najwa dan Shifa akan kembali, Nisa." Almira memeluk Nisa erat.
"Kita buatkan kue kesukaan mereka, yuk kak." Annisa dan Almira seperti mendapat kekuatan lagi. Mereka berjalan menuju ke arah dapur untuk membuatkan kue Najwa dan Shifa. Arsyad dan lainnya merasa sangat lega sekali akhirnya Najwa dan Shifa akan kembali. Rico menghubungi pihak kepolisian agar menyudahi pencarian Najwa dan Shifa karena sudah ketemu dan akan kembali.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
♥️happy reading♥️
maaf kemalaman Up nya, semoga makin suka ceritanya, dan tunggu season berikutnya.