THE BEST BROTHER

THE BEST BROTHER
S3 Cinta Untuk Mereka Bab 11 "Keputusan Leon"


__ADS_3

Leon terus memikirkan Annisa, dia semakin merasa bersalah pada Annisa, tak seharusnya dia mengancam Annisa. Bayang-bayang Annisa masih jelas di depan matanya. Berkali-kali dia melihat Annisa meneteskan air matanya saat dia memilih cincin, gaun dan saat makan es krim. Dia tau kalau hati Annisa sangat sakit sekali. Leon memikirkan kembali, mau melanjutkan bertunangan dengan Annisa atau diundur jadwal pertunanangannya dengan Annisa.


"Aku harus bagaimana, aku mencintai Annisa, tapi dia tidak akan pernah bisa membalas cintaku, aku baru merasakan sakitnya mencintai orang tanpa balasan. Iya, aku harus mengundurkan hari pertunangan ku, aku tidak mau melihat Annisa terus menangis seperti itu."gumam Leon.


^^^^^


Satu hari menjelang pertunangan Annisa dan Leon, Leon menemui Annisa di kantornya, dia ingin berbicara sesuatu pada Annisa. Dia ingin pertunangannya di undur saja dengan Annisa, karena dia tak tega melihat Annisa seperti itu.


"Iya, untuk apa aku memaksa seseorang untuk hidup bersamaku, dia tidak mencintaiku, aku benar-benar egois sekali, aku harus menghentikan pertunangan ini, tidak bisa aku melihat dia selalu menangis. Bukankah akan bahagia melihat orang yang kita cintai bahagia, walau tak bisa kita miliki?"gumam Leon dalam hati.


Leon menelepon Annisa, kalau dia akan ke kantornyabada hal penting yang akan ia bicarakan.


^panggilan terhubung^


"Iya, Leon, ada apa?"tanya Annisa dari balik teleponnya.


"Annisa, kami di kantor?"tanya Leon.


"Iya, ada apa Leon?"tanya Annisa.


"Aku ingin ke kantormu, ada sesuatu yang harus aku bicarakan."ucap Leon.


"Oh, iya silahkan, mumpung aku sedang tidak sibuk."jawab Annisa.


"Baik, tunggu aku sebentar lagi aku ke kantormu."ucap Leon.


Leon menutup teleponnya, dia segera mengemasi pekerjaannya, dan langsung keluar dari kantornya untukenuo Annisa. Dia segera melajukan mobilnya menuju kantor Annisa. Setelah sampai dia langsung masuk ke dalam dan menemui Annisa di ruangannya. Leon di antar sekretaris Annisa ke dalam ruanga Annisa. Dia mempersilahkan Leon duduk di depannya.


"Ada apa Leon, sepertinya ada hal penting yang ingin kamu sampaikan?"tanya Annisa.


"Annisa, maafkan aku, sebaiknya, pertunangan kita di undur."ucap Leon yang membuat Annisa menaikan alisnya.


"Di undur? Aku tidak salah dengar, Leon?"tanya Annisa, dia tidak percaya kalau Leon segampang itu mengundur hari pertunangannya.


"Pasti akan ada permainan lagi, dia."gumam Annisa.


"Iya, aku akan mengundur nya, hingga kamu siap, bahkan kalah kamu tidak siap, aku tidak masalah tidak jadi menikah denganmu, Annisa."ucap Leon.


"Permainan apa lagi yang akan kamu mainkan, Leon?"ucap Annisa dengan nada tidak senang.


"Ini bukan permainan, Annisa, aku benar-benar melakukan ini, karena percuma kalau kita menikah tanpa ada rasa cinta dari kamu."ucap Leon.


"Kamu laki-laki yang licik Leon, aku tidak akan terpancing dengan permainanmu, aku tidak mau kamu memporak porandakan perusahaan ini lagi."ucap Annisa denga sarkas.


"Annisa, aku tidak bohong, aku janji Annisa, aku janji, tidak akan mengusik perusahaanmu lagi. Aku tau, jika nanti kita menikah, kamu tidak akan bisa mencintaiku, Annisa. Dan aku tau, Dio dan Shifa sebenarnya juga terpakasa menerimaku. Aku mohon, aku ingin semuanya di undur, entah sampai kapan, bahkan jika kamu tidak bisa dan tidak siap untuk menikah pun aku tak apa-apa. Asal melihat kamu dan anak-anakmu bahagia Annisa. Aku bahagia."ucap Leon

__ADS_1


Entah apa yang merasuki hati Leon, tiba-tiba dia memutuskan seperti itu, Annisa merasa lega, tapi juga sedikit khawatir, jika suatu saat Leon berubah pikiran lagi. Annisa hanya terdiam, tidak bisa berkata apa-apa, dia lega sekali rasanya, beban hidupnya seakan hilang dan hanyut dengan tenang.


"Annisa, aku serius Annisa, kenapa kamu diam saja?tanya Leon.


"Emmm…aku tak menyangka saja kamu melakukan ini semua."ucap Annisa.


"Aku melakukan ini ikhlas Annisa."ucap Leon.


"Mulai sekarang, kita berteman saja. Maukah menjadi temanku?"ucap Leon sambil mengulurkan tangannya mengajak Annisa berjabat tangan.


"Iya, aku mau jadi temanmu."ucap Annisa.


"Mulai hari ini, aku tidak akan mengejarmu lagi, tidak akan memaksamu untuk menikah denganku, karena mulai hari ini, kita hanya berteman."ucap Leon.


"Oke, kalau kamu mengingkarinya?"tanya Annisa dengan sedikit candaan.


"Kalau aku mengingkarinya, aku tidak akan merasakan menikah dan dicintai orang seumur hidupku."ucap Leon.


"Jangan seperti itu, ucapan adalah do'a, Leon."ucap Annisa.


"Ya, itu kalau aku mengingkarinya, kalau tidak, ya tidak bakal terjadi, Annisa."ucap Leon.


"Hmmm…begitu? Semoga kamu tak mengingkarinya, Leon."ucap Annisa.


"Pasti. Kita makan siang yuk. Kamu sudah makan?"tanya Leon.


"Status baru?"tanya Leon bingung.


"Iya, kan kita berteman."ucap Annisa dengan mengembangkan senyumnya.


"Ah…iya, kamu bisa saja, Nis."ucap Leon.


"Aku sadar, cinta memang tak harus memiliki, melihat dia tertawa seperti ini saja aku sudah bahagia. Jikaang dia tak bisa mencintaiku, aku tak apa-apa, karena setidaknya aku sudah membuat Annisa bahagia." gumam Leon.


Mereka keluar dari ruangan Annisa, Leon dan Annisa berjalan mengurusi lorong kantor Annisa, dia berjalan sambil menyelipkan sedikit sedikit candaan. Annisa semakin nyaman berbicara dengan Leon. Memang dia pantasnya menjadi teman untuk Nisa, bukan seorang suami untuk Annisa. Zidane yang baru saja akan masuk ke kantor, dia baru saja selesai makan siang. Dia berpapasan dengan Leon dan Annisa yang akan keluar, dia melihat Annisa dan Leon bercanda dan semakin akrab.


"Annisa, Leon, mereka akrab sekali, padahal selama ini, Annisa sangat dingin dengan Leon, bahkan dia benci sekali dengan Leon. Dan aku lihat, dari kemarin Annisa terus menangis, karena lusa akan bertunangan dengan Leon."gumam Zidane dalam hati.


Zidan menyapa mereka saat mereka sudah dekat di hadapan Zidane.


"Leon, Annisa, kalian mau ke mana?"tanya Zidane.


"Kami akan makan siang, Zi."ucap Annisa.


"Ohh...kelihatannya kalian bahagia sekali."ucap Zidane.

__ADS_1


"Iya, memang kami sedang bahagia, iya, kan Nis?"jawab Zidane dengan bertanya pada Annisa.


"Iya, kami sedang berbahagia, ayo Leon, aku sudah lapar. Zi, titip kantor ya."ucap Annisa dengan senyum yang merekah.


"Ah..iya, kalian hati-hati."ucap Zidane. Mereka pergi meninggalkan kantor untuk makan siang.


"Tidak seperti biasanya Annisa tersenyum seperti itu, sepertinya ada yang tidak beres dengan mereka."gumam Zidane.


^^^^^


Sesampainya di restauran, Annisa dan Leon memilih menu makanan, Annisa masih tidak percaya kalau Leon akan mengundur hari pertunangannya, dan bahkan dia tdak jadi menikahinya. Annisa masih tidak menyangka Leon akan berubah seperti itu. Sambil menunggu pesanan datang, Annisa dan Leon mengobrol tentang keseharian dan kehidupannya masing-masing.


"Leon, gaun yang kemarin aku beli, aku kembalikan saja ya ke kamu."ucap Annisa.


"Jangan, itu sudah menjadi milikmu, Annisa."ucap Leon


"Untuk apa gaun itu. Toh kita tidak jadi bertunangan."ucap Annisa.


"Biar di kamu saja, tidak apa-apa. Siapa tau, suatu saat kamu menemukan calon pendamping baru, yang bisa kamu cintai, dan anak-anakmu menyukainya. Itu yang paling utama Annisa. Kebahagiaan anakmu."ucap Leon.


"Iya memang, mereka harus bahagia."ucap Annisa.


"Tapi aku tak ingin menikah lagi, Leon."imbuh Annisa.


"Jangan bicara seperti itu, perkara jodoh siapa yang tahu."ucap Leon.


"Iya benar juga. Ayo makan, ini pesananya sudah datang." Annisa mengajak Leon menikmati hidangan makan siangnya.


Mereka menikmati makan siang bersama, Leon sudah sangat lega hatinya, walau sedikit sakit melepas Annisa. Dia tau bahwa cinta tak harus memiliki, meskipun sakit, tapi Leon bahagia bisa melihat Annisa tersenyum dan tertawa.


"Bahagialah Annisa, aku tau tujuan kamu datang kemari karena apa. Maafkan aku, mengusik kebahagiaanmu kemarin, membuat hatimu gundah dan resah karena aku memaksamu menikah denganku. Sekarang aku akan membantu kamu mendapatkan cinta sejatimu kembali."gumam Leon.


"Untung saja aku menemui paman Willy lagi, dan menyakan tentang Annisa lagi, siapa Annisa sebenarnya dan bagaimana kehidupannya dulu, dan setelah aku tau, aku langsung mencari tau dengan bertanya pada Alvin, dan dia menceritakan semua tentang Annisa sebenarnya. Dan benar, dia sangat mencintai suaminya dan menyayangi keluarga suaminya."Leon berkata dalam hati, sambil memandangi Annisa yang sedang menikmati makan siangnya.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


♥️happy reading♥️


__ADS_2