THE BEST BROTHER

THE BEST BROTHER
Bab 84


__ADS_3

♥️ Almira ♥️


Hari ini aku menginap di rumah ibu. Entah mengapa aku merasakan damai sekali berada di rumah mertuaku. Bahagia sekali rasanya memiliki keluarga seperti keluarga Arsyad. Semua terlihat sangat kompak dan rukun. Padahal dulu pernah terjadi sesuatu antara Arsyad dan Arsyil, saat mereka sama-sama mencintai satu wanita, yaitu Annisa. Tapi, tak membuat mereka jauh, bahkan semakin akrab dan kompak. Kadang aku masih melihat sorotan mata Arsyad yang menyiratkan sesuatu saat menatap Annisa. Mungkin, Arsyad masih memiliki sedikit rasa untuk Annisa. Yah, namanya cinta pertama. Tapi, aku percaya pada Arsyad, kalau dia sangat mencintaiku. Kalau tidak mencintaiku mungkin dia tak mau menikahi ku karena masa laluku.


Jarang sekali laki-laki seperti Arsyad, yang bisa menerima masa laluku. Seburuk apapun laki-laki ingin mencari wanita yang masih suci untuk di jadikan istri. Aku percaya, Wanita yang baik untuk laki-laki yang baik dan Wanita yang buruk untuk laki-laki yang buruk pula. Tapi, semua itu hanya kata-kata kiasan. Kadang seorang wanita yang taat justru bersuami laki-laki yang durjana. Begitu pula sebaliknya. Semua tergantung kita yang menjalani. Dan, itu semua sudah di tentukan Allah. Seperti aku, aku yang penuh dengan kekurangan ini, di pasangkan dengan laki-laki yang sangat baik.


Arsyad belum juga keluar dari kamar mandi. Semalam kami melakukannya lagi berkali-kali, dan sehabis sholat subuh kita melakukannya sekali lagi. Arsyad mengajak ku mandi bersama, namun hawa dingin masih menyelimuti tubuhku. Jadi, dia mandi dulu dan aku kembali merebahkan tubuhku di dalam selimut tebal. Aku kembali memakai baju tidurku, dan beranjak dari tempat tidur. Aku menuju rak buku yang ada di pojokan kamar Arsyad. Aku mengambil salah satu novel. Iya, itu novel ku.


"Arsyad benar-benar memiliki novel-novelku."gumam ku dalam hati.


Seperti biasa aku membuka bagian belakang buku yang ada catatan nya. Dan, lagi-lagi aku menemukan coretan Arsyad di bagian catatan buku.


"Annisa, jika kamu benar-benar jodohku, akan ku tempatkan kamu di palung hatiku paling dalam. Tapi, jika kamu bukan jodohku, aku yakin ada wanita yang benar-benar lebih baik darimu untukku. Dan, pastinya wanita itu akan ku cintai seumur hidupku tanpa bisa di gantikan oleh wanita siapapun."


Ada rasa bahagia saat membaca tulisan Arsyad ini. Dan, aku menjadi tahu, kalau dulu Annisa benar-benar sangat di cintai oleh suami ku.


Pintu kamar mandi terbuka, dan Arsyad keluar dari kamar mandi. Aku segera menaruh buku Arsyad di rak buku tadi. Arsyad melihatku dan tersenyum padaku.


"Sudah tidak dingin?"tanya Arsyad


Aku hanya menganggukan kepalaku dan berlari memeluknya.


"Jangan seperti ini, apa mau lagi?"Arsyad menggodaku, dia mengangkat wajahku agar menghadapnya, dia mencium lembut bibirku.


"Jangan seperti ini mas."ucapku


"Kamu yang mulai menggodaku sayang, pagi-pagi sudah manja seperti ini."


"Syad, apa kamu masih mencintai Nisa?" tanpa aku sadari, aku tiba-tiba bertanya seperti itu.

__ADS_1


"Kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu?"tanya Arsyad.


"Ingin bertanya saja. Jawab dong."ucapku manja.


"Kalau aku mencintainya, kenapa aku tak merebutnya dari Arsyil saja. Dan, aku tak mungkin menikahimu sayang."ucap nya sambil menatap mataku dalam-dalam dan mencium lembut hidungku.


"Aku percaya mas, Aku iri, kenapa bukan aku yang pertama kamu cintai." aku menenggelamkan wajahku di dadanya


"Dengar istriku sayang, kamu memang bukan cinta pertamaku. Tapi, kamu adalah wanita yang terakhir untukku, yang akan aku cintai hingga akhir hidupku. Apa kamu belum percaya?"Arsyad menjelaskan padaku.


"Aku percaya sayang."


"Ya sudah mandilah, sudah hampir jam 6, kita kan mau ke pantai."ujar Arsyad.


"Iya mas, aku siapkan baju kamu dulu. Aku belum mengambilkannya."


Aku mengambilkan baju suamiku di lemarinya dan memberikannya, setelah itu aku langsung masuk ke dalam kamar mandi.


"Almira kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu?"ucapku lirih sambil memakai baju yang di ambilkan istrinya.


Aku memikirkan kembali pertanyaan istriku tadi. Aku memang mencintai Annisa, itu dulu sewaktu aku tak tahu kalau dia adalah pacar Arsyil. Jujur melupakan dia sangat berat sekali. Tapi, setelah aku mengenal Almira, entah kenapa aku bisa melupakan Annisa dengan begitu mudahnya, bahkan sekarang aku merasa biasa saja dengan dia, tak ada lagi rasa cinta untuknya.


Almira wanita yang benar-benar sempurna untuk ku, dia mampu mengalihkan duniaku. Aku tahu dia sangat manja sekali, bahkan dia tidak bisa memasak. Bisa sih, tapi dia jarang memasak, itu semua karena sudah banyak asisten rumah tangga di rumah nya. Memang, semua laki-laki mengidamkan istri yang jago masak. Tapi, menurutku, buat apa istriku lelah, toh ada asisten rumah tangga, dia sudah lelah mengurusi segala kebutuhanku, masa iya harus lelah dengan pekerjaan rumah. Dia sudah terbiasa di manja oleh orang tuanya, terlebih karena kejadian yang menimpanya dulu, semua orang di sekitarnya menjadi over protektif pada Mira. Walaupun dia wanita mandiri, tapi dia selalu di kawal oleh sopir pribadinya kemanapun dia pergi. Bahkan, saat dia kuliah di Kairo pun, Abah menyewa sopir dan asisten rumah tangga untuknya di sana.


Abah sering cerita padaku, kalau Abah sangat mencintai dan menyayangi Almira, dia sangat menyesal karena tak bisa menjaga Almira pada saat dia di bawa penculik. Karena semua itu Abah selalu menyewa orang kepercayaannya untuk mengawasi putrinya. Dan, sekarang adalah tugasku untuk menjaga Almira, aku akan selalu menjaganya hingga akhir hidupku.


"Aku sangat menyayangimu Almira, tolong jangan ragu lagi, sedikitpun aku sudah tak ada rasa untuk Annisa. Hanya kamu yang yang mengisi relung hatiku ini Mira. Aku sangat mencintaimu."ucapku lirih.


"Aku tidak ragu mas, aku percaya kamu, aku percaya kamu sangat mencintaiku."ucap Mira yang tiba-tiba berada di belakangku dan memelukku dari belakang.

__ADS_1


"Kamu mengagetkanku saja sayang."aku membalikan badanku dan kupeluk dia


"Sudah, jangan memikirkan pertanyaanku tadi mas,maafkan aku. Aku hanya takut saja kamu mencintai wanita lain selain aku."


"Itu tidak akan mungkin sayang, dan tak akan pernah terjadi. Sudah pakai bajumu, setelah itu kita keluar. Pasti semua sudah menunggu kita."


"Iya sayang, maaf ya aku tidak pernah menyiapkan sarapan untuk kamu."


"Jangan pikirkan itu sayang, yang terpenting kamu selalu mendampingiku, selalu berada di sisiku apapun yang terjadi."


"Itu pasti mas."


Almira memakai baju yang aku belikan dulu saat dia memilih gaun pernikahannya. Benar kata ibu, baju itu sangat anggun sekali di pakai Mira..


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


♥️happy reading♥️


__ADS_2