THE BEST BROTHER

THE BEST BROTHER
S3 Cinta Untuk Mereka Bab 39 " Hah, Kencan? "


__ADS_3

Arsyad hanya terdiam dari tadi. Rayhan beeanjak dari tempat duduknya, dan akan keluar dari ruangan Arsyad. Rayhan tidak mengerti apa yang ada di hati saudara sepupunya itu hingga tega memperlakukan istrinya seperti itu.


"Hati kamu tertutup apa, Syad. Kamu selalu saja seperti itu, kamu tidak sepantasnya seperti itu, kamu pandai sekali soal agama, tapi perbuatan kamu sama sekali tidak di dasari agama, aku malu memiki saudara sepertimu. Kalau saja kamu tau betapa kecewanya Arsyil di sana, karena memperlakukan Annisa seperti ini. Dia tidak rela, Syad. Sungguh tidak rela, Annisa wanita yang di cintainya menderita karena kakaknya sendiri,"tutur Rayhan.


Rayhan keluar dari ruangan Arsyad. Arsyad mencerna kata-kata Rayhan, dia hanya memikirkan Almira, bukan adiknya, yang dulu menjadi suami Annisa.


"Maafkan kakak, Syil. Bukan maksud kakak menyakiti Annisa. Kakak tidak bisa, kakak hanya mencintai Almira,"gumam Arsyad.


^^^^^


Annisa sudah selesai menemui kliennya dia sudah kembali di kantornya dan sudah berada di dalam ruangannya. Dia terlihat sedang menyiapkan dokumen yang akan di bawa ke kantor suaminya.


"Sebenarnya malas juga bertemu dengan suami angkuh, tapi inibsudah tugas ku. Sampai kapan ini berakhir, Ya Allah. Sudah hampir tiga bulan suamiku masih mengeras hatinya. Untuk apa pernikahan ini, kalau aku memiliki suami seperti tidak memiliki suami, lebih baik aku sendiri, aku bebas melakukan apa saja yang aku mau, untuk anak-anakku dan kehidupanku,"gumam Annisa.


"Iya, sekarang aku harus seperti itu. Bukankah ini yang di minta Kak Arsyad? Tugas ku di rumah hanya menyiapkan makan, dan keperluan dirinya juga anak-anak. Enteng bukan? Aku menghormati suami, iya menghormati. Aku patuh dengan dia, aku menuruti apa kata dia, bahkan di suruh tidur terpisah pun aku menuruti, iya kan? Lalu apa kebahagiaanku? Aku tidak salah jika mulai sekarang aku mencari kebahagiaanku sendiri, asal tetap di jalan yang benar,"ucap Annisa dengan lirih.


Sakit, memang sakit apa yang Annisa rasakan, dia merasakan layaknya istri yang tidak di anggap. Tapi dia selalu menepis rasa sakit itu, saat dia mengingat kembali mendingan suaminya, saat setiap sore sepulang kerja dia ke makam almarhum suaminya. Dia seperti mendapat ketenangan jika sudah mengunjungi makan suaminya.


Annisa keluar menemui Rere. Dia merasa suntuk sekali di ruangannya, hanya Arsyad yang ada di pikirannya. Suami yang tak menganggap dia, tapi selalu saja dia memikirkannya, bagaimana caranya meluluhkan hati suaminya itu.


"Re, ke caffe yuk,"ajak Annisa.


"Ini jam kerja Bu Bos, ngapain ngajak ke caffe?"tanya Rere.


"Pengen ke sana saja, sih,"ucap Annisa.


"Kamu lagi ada masalah?"tanya Rere.


"Tidak,"jawab Annisa.


"Oh, aku kira,"ucap Rere.


"Aku mau buat kopi, Re. Kamu mau?" Annisa menawari Rere kopi.


"Boleh, sekali-kali di buatkan kopi oleh Bu Bos,"ucap Rere


"Ya sudah tunggu saja." Annisa pergi ke pantry untuk membuat kopi.


Annisa kembali memikirkan bagaimana caranya meluluhkan hati suaminya. Dia juga tidak mau membiarkan suaminya menumpuk dosa. Bagaimanapun, suaminya salah, karena sudah bertindak seperti itu, dan dia harus segera menyadarkan.


"Bukan aku terkesan murahan di hadapan dia, bukan aku menjatuhkan harga diriku di depan suami, hanya untuk membuat dia menerima ku sebagai istrinya, dan bisa memberikan nafkah batin pada ku. Itu semua karena aku tidak mau selamanya suamiku berada di liang dosa. Aku tidak mau, aku ingin menyadarkan dia, walau aku tak tau kapan dia akan membuka hatinya,"gumam Annisa.


Annisa membawa dua cangkir kopi ke ruangan Rere, dia meneguk kopinya sedikit demi sedikit untuk menetralkan pikirannya.


"Nis, kamu nanti ke kantor suamimu kan?"tanya Rere.


"Iya, sebentar lagi, Re,"jawab Annisa.


"Katanya Zidane dan Alvin mau ke sini?"tanya Rere.


"Iya, mengantar Leon, tapi tidak tau kapan,"ucap Annisa.


"Leon yang melamarmu dulu?"tanya Rere.


"Iya, belum melamar, mau melamar tidak jadi,"ucap Annisa.


"Pasti dia tampan." Rere membayangkan ketampanan Leon dengan senyum-senyum sendiri.


"Gak usah di bayangin, dia memang tampan,"ucap Annisa.


"Kalau dengan Arsyil?"tanya Rere.


"Ya tampan Leon lah, tubuhnya atletis banget Re, tapi sayang aku tidak mencintainya,"ucap Annisa.


"Kalau dengan Dosenmu yang angkuh itu kamu mencintainya?"tanya Rere.


"Awalnya tidak, tapi tau sendiri kan kita sering bersama,"jawab Annisa mencoba menutupi masalahnya.


"Kenapa tidak dengan Leon saja, dia mencintaimu, sama saja, kan kamu harus belajar mencintainya? Dan Pak Arsyad juga sepertinya tidak mencintaimu"ucap Rere.


"Iya, aku dan Kak Arsyad sama-sama belajar saling mencintai, Re, sudah aku mau menemui suamiku dulu, Re. Dia orang tepat waktu, jadi aku harus tepat waktu sampai di sana." Annisa meninggalkan ruangan Rere, dia masuk ke dalam ruangannya, mengambil beberapa dokumen dan tasnya.


Annisa keluar dari ruangannya dan berpamitan dengan Rere menuju ke kantor Arsyad.


"Re, aku ke kantor Kak Arsyad dulu, ya,"pamit Annisa


"Iya hati-hati, selamat berkencan, tuan putri,"ucap Rere.


Annisa hanya menjawab dengan senyum kecutnya sambil merutuki dirinya sendiri.


"Hah, kencan? Kencan apaan, malang sekali nasibmu, Nis. Punya suami tapi seperti tidak punya suami." Annisa merutuki dirinya sendiri sambil berjalan ke luar kantor.


Sesampainya di kantor Arsyad, dia langsung masuk dan menemui Yulia terlebih dahulu. Dia melihat lintang juga yang baru saja keluar dari ruangannya.


"Siang Mba Yuli, Pak Arsyad nya ada?"tanya Annisa.


"Eh, Annisa, siang, Nis. Ada tapi sepertinya dia sedang ke pantry, masuk saja dulu, aku akan panggil Pak Arsyad." Yulia mempersilahkan Annisa masuk ke ruangan Arsyad.


"Mba ini dokumen untuk Pak Arsyad,"ucap Lintang yang berada di belakang Annisa.


"Taruh meja saya, Lin, aku akan memanggil Pak Arsyad, ada nyonya besar datang,"ucap Yulia.


"Mba Yulia bisa saja, aku masuk ke ruangan Kak Arsyad, ya,"pamit Annisa.


"Iya, masuk saja,"ucap Yulia.


Annisa masuk ke dalam ruangan suaminya. Dia melihat ruangannya yang luas, dan ada kamar pribadi di dalamnya. Annisa melihat meja kerja Arsyad, yang lumayan berantakan.


"Kebiasaan, tidak di rumah, di kantor selalu berantakan,"gumam Annisa.


Annisa membiarkannya, dia melihat pigura yang ada di meja kerja Arsyad. Terlihat foto Almira dan Arsyad di pigura itu. Annisa membiarkannya, toh memang Arsyad masih mencintai Almira. Dia juga melihat selembar kertas yang ada di meja Arsyad. Sepertinya Arsyad baru menuliskan sesuatu di selembar kertas itu. Annisa mengambil dan membacanya.


"Almira, aku sungguh tidak bisa, tidak bisa mencintai Annisa. Kamu tau, aku menikah dengannya hanya untuk anak-anak kita, Mira. Bukan karena aku mencintainya. Kamu salah jika kamu selalu beranggapan aku masih mencintai Annisa. Cinta unuk Annisa sudah hilang saat aku memilikimu, Almira."


Begitu yang Arsyad tulis di selembar kertas itu. Annisa merasakan perih di hatinya, tapi ia mencoba bersabar dan tegar menghadapi semua. Dia menyaka air mata yang sudah berada di sudut matanya.


"Jangan mengeluarkan air mata yang sia-sia saja, Annisa. Kamu wanita kuat, jangan menangis." Annisa mencoba menenangkan dirinya sendir.


Dia kembali duduk di sofa yang ada di ruangan Arsyad sambil bermain ponselnya. Tak lama kemudian Arsyad masuk ke dalam ruangannya.


"Nis, maaf menunggu lama,"ucap Arsyad.


"Iya, tidak apa-apa, kak,"ucap Annisa.


Arsyad menuju ke mejanya, dia melihat tulisan yang ia tulis tadi. Dia segera menyingkirkannya takut Annisa melihatnya.


"Tadi Annisa ke sini tidak ya, lihat tulisan ini tidak, ya?"tanya Arsyad dalam hatinya.


"Nis, duduk di sini saja." Arsyad menyuruh Annisa duduk di depan meja kerjanya.


Mereka duduk berhadapan. Annisa mulai dengan tujuannya menemui Arsyad ke kantornya. Dia mengambil dokumennya dan memberikannya pada Arsyad.


Pertemuan mereka membahas soal kerja sama sudah selesai. Annisa menata kembali dokumennya, Arsyad dari tadi memerhatikan istrinya itu.


"Dia sangat profesional dalam bekerja, bahkan dengan suaminya saja dia bersikap formal layakanya dengan klien lainnya,"gumam Arsyad.


"Nis, tadi sudah bertemu Klien?"tanya Arsyad.


"Sudah, kak,"jawab Annisa.


"Kak, nanti aku pulang terlambat, aku harus ke butik dulu sampai butik tutup, nanti makan malam biar Mba Lina yang memasak, tidak apa-apa kan?"tanya Annisa.


"Iya, tidak apa-apa, kamu akhir-akhir ini sibuk sekali, Nis,"ucap Arsyad.


"Memang sudah tanggung jawabku, aku usahakan nanti aku pulang cepat,"ucap Annisa.


"Kan tanggung jawabku di rumah juga tidak berat, kak. Hanya menyiapkan makan, menyiapkan keperluan kamu dan anak-anak, menemani anak-anak belajar. Sudah kan, tidak ada kewajiban lain yang lebih penting dari itu?"tanya Annisa denah senyum menyindir.


Arsyad merasa Annisa sekarang berubah, sudah hampir dua minggu dia pulang hingga malam, entah apa yang Annisa lakukan di luar, benar atau tidak dia di butik.


"Ya seharusnya, kamu di rumah saja, mengurus anak, mengurus rumah, tidak usah terlalu lelah,"ucap Arsyad.


"Di rumah lebih melelahkan hati, kak. Untuk apa diam di rumah, menunggumu pulang kerja yang kadang juga pulang larut malam? Lagiyan kita biasa sendiri-sendiri, kan?"ucap Annisa.


"Sudah, kak. Aku pamit, aku tidak mau berdebat lagi." Annisa keluar dari ruangan Arsyad.

__ADS_1


Arsyad tidak mengira istrinya akan berkata seperti itu, memang dia yang salah, dia yang memulainya. Tidak salah juga Annisa menjadi seperti itu.


Annisa sudah kembali ke kantornya dan berada di dalam ruangannya. Dia menaruh dokumennya di dalam lemari dna melanjutkan kembali pekerjaannya. Hingga sampai sore hari dia bekerja. Waktu menunjukan pukul 3 sore, dia bersiap-siap pulang. Sebelum pulang seperti biasa Annisa ke makam Arsyil terlebih dahulu.


^^^^^


Arsyad ketiduran di ruangannya, entah kenapa dia memikirkan Annisa hingga tertidur pulas.


*Dua bocah berlarian bermain bola di halaman rumahnya, mereka kakak beradik yang saling menyayangi.


"Yah, kak… bolanya ke sana."tunjuk sang adik.


Bola itu menuju ke area pemakaman, sang kakak berlari untuk mengambil bolanya. Dan sang adik mengikutinya di belakang kakaknya. Terdengar suara isak tangis sang adik. Sang kakak menghentikan mencari bolanya. Dia mendekap tubuh adiknya yang semakin menangis.


"Arsyil, kamu kenapa menangis? Ayo kita cari bolanya, sudah jangan menangis." Arsyad mengajak adiknya mencari bola yang hilang.


Iya, dua bocah itu adalah Arsyil dan Arsyad yang sedang bermain bola dan bolanya hilang di area pemakaman.


"Syil, jangan menangis. Kakak pasti menemukan bolanya,"ucap Arsyad.


"Kakak sayang, Arsyil?"tanya Arsyil.


"Kakak sangat menyayangimu, kamu adik kesayangan kakak, sudah jangan menangis, sayang. Kalau kamu menangis, kakak yang akan di marahi ibu dan papah, jangan menangis lagi, ya?" Arsyad menyeka air mata adiknya.


"Kak, aku tidak akan menangis lagi, kalau kakak menuruti permintaanku,"ucap Arsyil.


"Menuruti apa, Syil?"tanya Arsyad.


"Kakak janji, kan? Akan mengabulkan permintaan Arsyil?"tanya Arsyil.


"Iya kakak janji,"ucap Arsyad.


"Janji ya?" Arsyil menunjukan jari kelingkingnya di depan kakaknya.


"Iya, janji." Arsyad menautkan jari kelingkinya ke jari kelingking Arsyil.


Arsyil memeluk Arsyad dengan erat. Arsyad juga membalas pelukan adik laki-lakinha itu.


"Kaka sudah janji, kakak lihat wanita itu?"tanya Arsyil.


"Mana, Syil."tanya Arsyad


"Itu kakak, yang pakai baju abu-abu,"tunjuk Arsyil.


"Oh, iya itu,"ucap Arsyad.


"Kak, temui dia, dan jaga dia,"ucap Arsyil.


"Maksud kamu? Kita cari bola saja, yuk Syil. Sudah mau sore,"ucap Arsyad.


"Kak, kamu sudah janji, lho." Arsyil memegang tangan kakak ya dan menghentikan langkahnya untuk mencari bola.


"Iya kakak sduah janji, tapi bola kamu hilang, Syil,"ucap Arsyad.


"Yang penting kakak temui wanita itu, dan jangan lupa bahagiakan dia, Arsyil tunggu sini, kakak cepetan ke sana. Kasihan dia, kak. Kan kakak sudah janji,"ucap Arsyil.


"Ya sudah kamu tunggu di sini, kakak akan ke sana membawa wanita itu ke sini,"ucap Arsyad.


"Arsyil tunggu di sini, ya kak,"ucap Arsyil.


Arsyad berjalan ke arah wanita itu yang sedang duduk bersimpuh di depan sebuah makam. Arsyad menyentuh pundak wanita itu. Wanita itu menoleh, dan tudak asing wajahnya bagi Arsyad.


"Annisa,"ucap Arsyad.


"Kak Arsyad,"ucap Annisa.


"Kakak…! Bolanya Arsyil sudah ketemu! Ingat janji kakak, kalau kakak sayang sama Arsyil dan tidak mau melihat Arsyil menangis lagi! Dah kakak…! Arsyil pulang, Arsyil sayang kakak! Jaga wanita itu, kak!" Arsyil berlari entah kemana.


Arsyad tidak peduli Annisa yang berada di dekatanya, dia berteriak-teriak memanggil nama Arsyil*.


^^^^^^


"Arsyil…..!" Suara teriakan Arsyad menggema di ruangannya.


"Ya Allah, mimpi apa tadi. Syil maafkan kakak, selama ini kakak melupakanmu,"ucap Arsyad lirih.


Arsyad masuk ke kamar mandi untuk mencuci muka, dia melihat jam tangannya, sudah 4 kurang 30 menit. Dia mengambil air wudhu sekalian dan setelah itu dja masuk ke kamar pribadinya untuk sholat ashar. Setelah selesai sholat, dia mengemasi pekerjaannya dan dia segera pulang.


"Lebih baik aku ke makam Arsyil. Sudah lama aku tidak berkunjung ke makam Arsyil, ibu dan mamah,"gumam Arsyad.


Arsyad melajukan mobilnya menuju ke makam Arsyil. Dia masih memikirkan mimpi tadi. Dia merindukan adiknya, merindukan saat bercanda dengan Arsyil. Merindukan touring bersama, dan merindukan yang lainnya dengan Arsyil. Arsyad menangis hingga sesegukan mengingat sang adik yang sangat ia sayangi.


"Syil maafkan kakak, kakak menyia-nyiakan Annisa selama ini, kakak akan mencoba menerima dia. Bahagia di surga, sayang. Kakak akan menepati janji kakak tadi, bahagiamu adalah bahagia kakak juga, maafkan kakak, Syil." Arsyad menepikan mobilnya dan menghentikan sejenak dia menagis hingga seseguka menjambak rambutnya. Arsyad merasa sangat bersalah sekali.


"Maafkan kakak, Syil. Maafkan kakak," ucap Arsyad dengan suara serak.


Saat dia merasa sudah tenang, dia melanjutkan mengemudikan mobilnya ke makam Arsyil.


^^^^^


Annisa langsung pergi ke makam Arsyil. Dia sampai ke makam Arsyil dia turun dari mobilnya. Annisa tadinya mengurungkan niatnya untuk masuk ke makam, karena cuaca begitu mendung. Tapi karena rasa rindunya ingin melihat makam Arsyil dia memaksa masuk ke pemakaman dan menuju ke arah Arsyil.


"Nona, mau hujan, sebaiknya besok saja,"ucap juru kunci makam.


"Pak sebentar saja,"pinta Nisa.


"Ya sudah, silahkan, saya tunggu di pos depan, nona. Jangan lama-lama, keburu hujan,"ucap juru kunci.


"Iya, pak, terima kasih." Annisa segera masuk ke makam dan mencari makan Arsyil.


Dia duduk bersimpuh di depan makan Almarhum suaminya. Dia mendoakan Arsyil, suami yang sangat ia cintai.


"Maafkan aku, aku belum bisa membuka hati Kak Arsyad, Syil. Aku mencintaimu, kamu jangan khawatir, meskipun aku mencintai Kak Arsyad, aku akan selalu menempatkan kamu di hatiku yang terdalam. Aku tidak bisa berlama-lama di sini, sayang. Ini mau hujan. Lihatlah sudah petang sekali langitnya. Aku ingat saat malam hari aku rela berlari ke makam kamu di tengah derasnya hujan. Papah dan Kak Arsyad hingga menyusulnya, aku pulang ya, Syil,"pamit Annisa.


Saat dia akan pulang, hujan deras turun. Annisa masih duduk terpaku di makam arsyil. Dia akan meninggalkan makam Arsyil tapi entah mengapa hatinya tidak ingin pulang.


"Aku mencintaimu, Syil." Seketika Annisa menangais di pemakaman Arsyil.


^^^^^^


Arsyad sampai di depan makam, dia melihat mobil Annisa di depan pemakaman. Arsyad mengambil payung dan segera turun untuk masuk ke dalam.


"Tuan, ini hujan deras, mending besok saja." Juru kunci menghentikan langkah Arsyad.


"Pak, istri saya di dalam, saya akan menyusulnya,"ucap Arsyad.


"Oh, baiklah, jangan lama-lama, tuan,"ucap juru kunci.


"Iya, pak. Terima kasih." Arsyad berjalan setengah berlari menuju makam Arsyil.


Dia melihat wanita memakai baju abu-abu persis seperti di mimpinya tadi sedang bersimpuh dan menangis di depan makam Arsyil.


"Annisa, iya, dia Annisa. Ya Allah, mimpi ku tadi, apa ini pertanda aku harus menerima Annisa? Ah, jangan memikirkan itu, aku harus menyusul Annisa." Arsyad mendekati Annisa, dia menyentuh bahu Annisa.


"Nisa, pulang, ini hujan lebat,"ucap Arsyad yang mengagetkan Annisa.


"Kak, Arsyad, kakak di sini?"tanya Annisa.


"Iya, kakak ingin menengok makam Arsyil, ibu dan mamah, saat kakak sudah berada di depan pemakan, hujan deras. Tadinya kakak ingin pulang, tapi melihat mobil kamu di sini, kakak mutuskan untuk masuk ke dalam. Ayo pulanglah, kamu sudah basah kuyup." Arsyad mengulurkan tangannya,emgajak Annisa untuk pulang.


Annisa bangun dengan berpegangan tangan suaminya. Bibirnya sudah memucat karena dinginnya air hujan.


"Kamu ikut mobil kakak, biar sopir nanti yang mengambil mobil kamu,"ucap Arsyad.


"Aku bisa nyetir sendiri, kak,"ucap Annisa.


"Jangan bandel, wajahmu sudah pucat. Ayo kita pulang." Arsyad merangkul istrinya, dia berjalan beriringan menuju mobil.


"Masuk, Nis,"titah Arsyad.


"Iya, kak,"ucap Annisa.


Arsyad berkata pada juru kunci makam, kalau nanti mobil Annisa sopir yang mengambilnya, dan juru kunci itu mengiyakan.


Arsyad masuk ke dalam mobil, dia melihat Annisa yang kedinginan.

__ADS_1


"Pakai jas, kakak. Jilabmu di lepas dulu, biar kamu tidak pusing,"titah Arsyad.


Annisa menuruti apa kata suaminya. Arsyad menghidupkan mobilnya dan melajukan mobilnya ke rumah. Annisa masih merasa kedinginan saat itu, dia memang sensitif sekali dengan air hujan.


"Jangan ke makam kalau mendung, nanti kamu sakit,"ucap Arsyad.


"Apa pedulimu kalau aku sakit,"ucap Annisa dalam hati.


"Iya, aku tak tau akan hujan sederas ini. Aku mau pulang, tapi hujan menahanku berada di makam Arsyil,"ucap Annisa.


"Ya sudah, kita langsung pulang, aku akan mengemudikan mobil lumayan cepat. Biar cepat sampai rumah." Arsyad menambah kecepatan mobilnya.


Tak butuh waktu lama, Arsyad dan Annisa sampai di depan rumah, Annisa turun dari mobil, tapi badannya terasa menggigil. Arsyad yang akan melangkahkan kakinya, dia menghentikannya karena melihat Annisa masih berdiri dan bersandar di mobil.


"Nis, kamu tidak apa-apa?"tanya Arsyad.


"Kak, bantu aku, papah aku sampai ke kamar, kakiku lemas sekali."pinta Annisa dengan suara bergetar.


"Ayo." Arsyad menggendong Annisa menuju ke kamar.


"Papah aku saja, aku bisa berjalan,"ucap Annisa.


"Jangan banyak bicara!"tukas Arsyad.


Mereka masuk ke dalam rumah, terlihat Dio dan Raffi sedang berada di ruang tengah, melihat bundanya di gendong abahnya. Mereka mendekati karena khawatir ada apa-apa dengan bundanya.


"Abah, bunda kenapa?"tanya Raffi dengan berlari mendekatinya.


"Bunda hanya kedinginan, kalian tolong bukakan pintu kamar!"seru Arsyad. Raffi dan Dio berlari membukakan pintu kamar abahnya.


"Dio, Raffi, kalian tunggu di luar ya, biar bunda ganti baju, tolong bilang sama Mba Lina, suruh buatkan teh hangat untuk bunda,"titah Arsyad.


"Baik Abah,"ucap mereka.


Arsyad menurunkan Annisa di depan kamar mandi, dia membukakan pintu kamar mandi dan memapah istrinya masuk ke kamar mandi.


"Aku siapkan air hangat dulu,"ucap Arsyad.


Annisa bersandar di dinding kamar mandi menunggu suaminya menyiapkan air hangat, setelah selesai Arsyad menyuruh istrinya membilas badannya agar sisa air hujan hilang dari tubuhnya.


"Aku ambilkan bathrobe dan handukmu dulu." Arsyad memberikan bathrobe dan handuk pada Annisa.


"Terima kasih, kak,"ucap Annisa.


"Sudah mandi, jangan lama-lama,"ucap Arsyad.


"Iya,"ucap Annisa.


Annisa membersihkan dirinya, setelah selesai dia mengambil bathrobenya dan mengeringkan rambutnya dengan handuk. Annisa keluar dari kamar mandi, terlihat Arsyad sudah berganti pakaian santai di rumahnya. Annisa berjalan mengambil ke arah lemari untuk mengambil pakaiannya. Dia mengambil dress selutut berwarna merah hati. Dia tidak peduli ada Arsyad di dalam kamar, dia langsung memakai baju dan dalamannya di depan suaminya. Setelah selesai dia menaruh bathrobe dan handuknya di tempat semula.


"Duduk sini, Nis,"titah Arsyad.


Arsyad menyuruh istrinya duduk di kursi depan meja riasnya.


"Mau apa, kak?"tanya Annisa.


"Rambutmu basah sekali, aku keringkan dulu,"ucap Arsyad.


Annisa duduk di kursi depan meja riasnya. Dia menuruti apa kata suaminya.


"Kakak mandi saja, aku bisa sendir,"ucap Annisa.


"Biar kakak saja, kamu diam!"tukas Arsyad.


Annisa hanya menuruti apa kata suaminya. Dia dengan telaten mengeringkan rambut Annisa.


"Maafkan aku, Nis. Aku memang egois, aku menyakitimu, aku akan mencoba, aku akan mencoba menerima ini semua dan belajar mencintaimu,"gumam Arsyad.


Saat di rasa sudah kering, Arsyad menghentikan aktivitas mengeringkan rambut Annisa. Dia menaruh kembali hair dryernya ke tempat semula.


"Kak, sana mandi, keburu mau magrib,"titah Annisa.


"Iya sebentar, kakak ke dapur dulu,"ucap Arsyad.


"Mau apa?"tanya Annisa dengan suara yang sudah seperti ornag flu.


"Tunggu di sini,"ucap Arsyad.


Arsyad ke belakang, dia membuatkan minuman hangat untuk istrinya. Mba Lina dari tadi sibuk memasak jadi belum membuatkan minuman hangat untuk Annisa.


"Maaf tuan, belum saya buatkan minuman untuk Bunda Nisa,"ucap Lina.


"Iya tidak apa-apa biar aku yang buatkan,"ucap Arsyad.


Arsyad membuatkan teh hangat untuk Annisa. Setelah selesai, dia kembali ke kamar mengantarkan teh hangat untuk annisa.


Annisa terlihat sedang bersin-bersin saat itu.


"Nis, minum tehnya." Arsyad memberikan terh hangat untuk Annisa.


"Terima kasih, kak,"ucap Annisa.


Arsyad keluar lagi, mengambil madu untuk istrinya dan mengambil sendok, agar Annisa meminum madu.


"Nis,"panggil Arsyad sambil masuk ke dalam kamar.


"Iya, kak. Ada apa?"tanya Annisa.


Arsyad mendekati istrinya dan duduk di tempat tidur. Arsyad menuangkan madu ke sendok dan menyuapi Annisa madu.


"Minum madu ini, buka mulutnya,"titah Arsyad.


Annisa mengikuti apa yang Arsyad perintah, dia meminum madu yang Arsyad berikan padanya.


"Istirahatlah, kakak tinggal mandi dulu." Arsyad mengusap kepala Annisa dan mengacak-acak rambutnya.


"Iya, sana mandi, sudah mau magrib,"ucap Annisa.


"Oke." Arsyad mengambil handuknya dan menuju ke kamar mandi.


Annisa merebahkan tubuhnya di tempat tidur, dia merasa tubuhnya lemas sekali, dan hidungnya berkali-kali mengeluarkan cairan bening yang membuat kepalanya menjadi pusing dan berat.


"Tumben dia baik sekali, ada setan apa yang merasuki dia?" Annisa berkata dalam hatinya sambil berusaha memejamkan matanya.


Arsyad masih memikirkan mimpi tadi siang di kantornya, dia memang merasa bersalah dengan Annisa. Dia menyia-nyiakan Annisa sebagai istrinya selama kurang lebih tiga bulan.


"Maaf Syil, aku sudah membuat Annisa sakit,"gumam Arsyad.


"Mira, maaf, aku akan mencoba mencintai Annisa, aku akan menerima keadaan ini, semoga kamu bahagia di surga. Maafkan aku,"ucap Arsyad lirih.


Arsyad sudah selesai mandi, dia keluar dari kamar mandi dan melihat Annisa sudah tertidur pulas. Arsyad segera berganti pakaiannya. Setelah selesai dia mendekati istrinya.


"Mau maghrib malah tidur, dia,"ucap Arsyad sambil berjalan mendekati istrinya.


Dia mencium kening istrinya dan duduk di samping Annisa. Dia menunggui Annisa yang tertidur pulas di sampingnya. Arsyad menatap wajah istrinya yang masih agak pucat.


"Maafkan aku Annisa, aku akan mencoba menjadi suami untuk kamu,"gumam Arsyad.


.


.


.


.


.


.


.


.


♥️happy reading♥️

__ADS_1


__ADS_2