
Sore hari menjelang petang, penjaga Vila lagi-lagi melihat Farina yang terus mengintai Vila Arsyad. Iya, Robert lagi-lagi meilihat Farina berkeliaran di depan Vila Arsyad. Robert dengan sengaja berjalan ke arah Farina yang sedang mengintainya di samping Vila. Robert pura-pura tidak melihat Farina yang sedang mengintai dari samping Vila. Namun, langkah Robert berhenti, dia berubah pikiran untuk mendekati Farina. Dia akhirnya meminta tolong pada Dedi, penjaga Vila yang lainnya untuk berpura-pura berjalan lalu menabrak Farina yang masih berjalan di sekitar samping Vila. Dedi mengerti apa yang Robert perintahkan, dia segera menjalankan perintah dari Robert.
"Brugh…awww…"pekik Farina saat Dedi menabrak dirinya.
"Maaf nona, saya tidak sengaja,"ucap Dedi dengan menundukan kepala.
"Ahh…lain kali hati-hati dong mas, kalau jalan,"ucap Farina.
"Iya nona, maaf. Saya juga buru-buru,"ucap Dedi sambil pura-pura gugup dan ingin segera pergi dari hadapan Farina.
"Ehhh….eh…mas, tunggu!"teriak Farina saat Dedi akan pergi.
"Iya, nona. Ada apa?"tanya Dedi.
"Kamu tamu Vila ini?"tanya Farina.
"Ah, iya nona, saya baru saja menyewa kamar di vila ini tadi,"ucapnya.
"Lho bukannya Vila ini masih di guanakan pemiliknya?"tanya Farina.
"Oh, iya. Memang tadi pagi masih di gunakan pemiliknya, tapi kata penjaga Vila sudah kosong, karena pemilik Vila harus cepat-cepat pulang, di karenakan ada urusan mendadak,"jelas Dedi.
"Oh, jadi pemilik Vila nya sudah pulang?"tanya Farina setengah tidak percaya.
"Iya, nona. Apa nona mau menyewa kamar di sini?"tanya Dedi.
"Iya, tadi pagi mau menyewanya, tapi katanya masih di pakai oleh pemilik vilanya, jadi saya dan teman-teman terpaksa menyewa Vila yang lain,"ucap Farina.
"Oh…. Vila nona sebelah mana?"tanya Dedi
"Itu di sana,"ucap Farina.
"Ya sudah nona, saya akan mencari udara dulu, soalnya Vila sedang di bersihkan juga,"ucap Dedi.
Dedi berjalan sambil menghubungi Robert dengan Handy Talky yang ada di saku dalam jaketnya. Dia mengode Robert kalau Farina kemungkinan akan bertanya soal Arsyad dan Annisa. Iya benar, Farina menemui Robert di pos penjagaan Vila milik Rico. Dia benar menyanyakan Arsyad dan Annisa, apa benar mereka sudah pulang.
"Selamat sore, pak." Farina kembali mendatangi Robert.
"Selamat, sore. Emmm…ini nona yang tadi, bukan?"tanya Robert.
"Iya, saya Farina, teman Annisa, apa Annisa masih ada di sini, pak? Saya ingin bertemu dengan dia sebentar,"ucap Farina.
"Oh, tuan dan nyonya baru saja pulang tadi sinag setelah jam makan siang, mereka akan segera berangkat ke Berlin besok pagi-pagi, karena pekerjaannya,"ucap Robert.
"Oh, Annisa tinggal di Berlin?"tanya Farina.
"Iya, tuan dan nyonya memang tinggal di Berlin, mereka di sini hanya berlibur saja,"jawab Robert.
"Sialan! Mereka langsung cepat-cepat pulang ternyata. Aku harus segera melacak keberadaan dia di Berlin,"umpat Farina dalam hati.
"Ya sudah, saya permisi, pak,"ucap Farina.
Farina pergi dari Vila Arsyad, dia berkali-kali mengumpat karena tak bisa bertemu dengan Annisa, orang yang dia benci selama hidupnya. Terlebih, dia sekarang menjadi istri dari Arsyad. Orang yang selama ini dia cari, dan dia cintai.
"Lagi-lagi aku harus bersaing dengan perempuan itu, apa lebihnya dia, setiap kali orang yang aku cintai pasti memlih dia. Aku tak akan membiarkan kamu hidup tenang, Annisa," umpat Farina.
Dedi masih terus mengintai Farina, dia terus memerhatikan dari jauh, kemana perginya Farina. Dedi melihat Farina masuk ke arah Vila yang ia sewa. Dia terus mengawasi Farina dari kejauhan. Tak lupa dia menghubungi Robert agar mamberitahukan Arsyad dan Annisa bahwa Dedi sudah tau di mana dia tinggal.
Robert masuk ke dalam Vila untuk menemui Arsyad dan Annisa. Terlihat Arsyad dan Annisa sedang bersantai di ruang tengah sambil menunggu waktu Maghrib tiba. Robert mendekati Arsyad dan Annisa, lalu memberitahukan yang terjadi tadi di depan vila.
"Selamat malam, tuan, nyonya,"sapa Robert.
"Malam, Pak Robert,"jawab mereka.
"Ada perkembangan soal Farina?"tanya Arsyad.
"Iya, tadi wanita itu sempat menanyakan nyonya, saya bilang padanya, jika tuan dan nyonya sudah pulang dan besok pagi akan berangkat ke Berlin,"ucap Robert.
"Bagus, pantau terus kondisinya, jika aman saya akan pulang,"ucap Arsyad.
"Baik, tuan, tapi sebaiknya tuan memabawa sopir untuk berjaga-jaga. Sepertinya Farina bukan wanita biasa, dia memiliki tatapan kosong, seperti orang yang depresi berat, pak,"tutur Robert.
"Baik, jika kondisi aman, malam ini juga kami pulang, siapkan sopir dan pengawal untuk kami,"ucap Arsyad.
"Siap, tuan!" Robert kembali ke pos penjagaan, dia merundingkan masalah dengan penjaga lainnya, terutama pada Pak Rahman.
Malam harinya, setelah jam makan malam. Annisa memasukan baju-bahunya ke dalam koper. Dia siap-siap barangkali malam ini aman untuk pulang ke rumahnya. Dengan wajah yang masih cemas dan takut, Annisa mengemasi baju-bajunya. Arsyad juga membantu Annisa mengemasi bajunya. Dia tau apa yang di rasakan istrinya. Selesai mengemasi baju-bajunya, Arsyad mendekati Annisa dan memeluk Annisa dengan erat.
"Jangan takut Annisa, kakak akan selalu di samping kamu." Arsyad memeluk annisa yang masih sangat cemas dan takut.
"Aku takut, kak." Annisa mengeratkan pelukannya.
"Semua akan baik-baik saja, sayang. Percayalah,"ucap Arsyad.
"Kita akan pulang sekarang atau besok?"tanya Annisa.
"Kalau situasi aman, kita pulang sekarang, aku tidak mau kamu dalam bahaya, karena Farina Selakau mengintai vila kita,"ucap Arsyad.
"Kakak tidak akan meninggalkan Annisa, kan?"tanya Annisa.
"Jangan tanya seperti itu lagi, sayang. Kakak tidak akan pernah meninggalkanmu sendiri. Sudah sini duduk, sambil menunggu kabar dari Pak Rahman dan Pak Robert. Katanya mereka sedang menyuruh Dedi mengintai Vila yang di tempati Farina,"ucap Arsyad.
__ADS_1
Arsyad mengajak duduk Annisa di sofa yang ada di kamarnya. Sebenarnya Arsyad khawatir sekali, Farina melakukan kegilaannya lagi. Namun, Arsyad berusaha tenang di depan Annisa. Dia tidak menyangka, baru saja rumah tangga nya bahagia, sekarang muncul seorang wanita yang akan mengusik rumah tangga mereka. Arsyad mencoba mencairkan suasana tegang yang menyelimuti mereka, dia menghigit pipi Annisa dengan lembut yang membuat Annisa terjingkatbdan sedikit sakit di bagian pipinya.
"Kakak, sakit tau,"ucap Annisa sambil memegang pipi yang tadi di gigit Arsyad.
"Jangan melamun makanya, jangan di pikirkan, semua akan baik-baik saja." Arsyad menarik Annisa dan menyandarkan kepala Annisa di dadanya.
"Kakak jangan mulai deh, tangannya ih…nakal." Annisa melepaskan tangan Arsyad yang sudah ada di perutnya, tapi tidak mengubah posisi tangan Arsyad. Karena tangan Arsyad masih berada di perut Annisa, dengan sedikit menggelitik perut Annisa.
"Kakak geli, ih…." Annisa meronta merasakan geli, dan Arsyad tetap tak mau melepaskan perut Annisa.
"Makanya jangan melamun, jangan khawatir, sayang. Mana senyum Annisa yang manis?" Arsyad mencium pipi Annisa dan mengajak Annisa tersenyum. Annisa tersenyum lalu memegang kedua pipi Arsyad dan mencium kilas bibir Arsyad.
"Buat aku selalu tersenyum seperti ini, sayang. Walau sangat pelik sekali keadaan ini,"ucap Annisa dengan mengembangkan senyuman manisnya di depan suaminya.
"Itu pasti, sayang. Makanya jangan takut dan cemas, aku selalu di sampingmu,"ucap Arsyad.
"Iya sayang." Annisa tidur di sofa di pangkuan Arsyad. Dia menenggelamkan wajahnya di perut suaminya. Arsyad mengusap lembut kepala Annisa.
Mereka saling bercanda melepas semua kekhawatiran yang menyelimuti diri mereka karena Farina. Arsyad berkali-kali membuat Annisa tertawa lebar karena candaannya.
"Aku akan selalu membuatmu tersenyum dan merasa nyaman walau kita di selimuti kekhawatiran seperti ini, Annisa,"gumam Arsyad.
"Kak, kamu bahagiaku, terima kasih sudah menghapus rasa takut dan cemas pada diriku hanya karena perempuan gila itu,"gumam Annisa.
Arsyad memeluk Annisa dengan erat dan merebahkan dirinya ke sofa dan Annisa berada di atasnya. Dengan leluasa Arsyad bisa memandang wajah cantik istrinya yang berada di atasnya. Beberapa kali Arsyad menghujani ciuman di wajah Annisa.
^^^^^
Dedi masih mengintai dari kejauhan di sekitar Vila yang Farina tempati. Banyak sekali teman-teman Farina, mereka asik menikmati api unggun dan yang lainnya sibuk dengan acara barbeque. Terlihat Farina juga sedang menikmati pesta barbeque nya di sana bersama teman-temannya. Dedi segera menghubungi Robert, kalau kondisi aman, karena Farina sedang menikmati pesta dengan teman-temannya. Dedi masih setia di sana mengintai Farina dari jauh. Memastikan Farina tidak keluar dari Vila dan mengintai Vila Arsyad.
Robert dan Rahman memberi kabar pada Arsyad, jika Farina dan teman-temannya sedang melakuka pesta barbeque di depan vilanya. Robert menguntus dua pengawal dan sopir untuk mengantar Arsyad dan Annisa pulang ke rumahnya.
"Tok….tok….tok…" Robert mengetuk pintu kamar Arsyad.
Arsyad membuka pintu kamarnya, Annisa juga mengikuti suaminya yang sedang membukakan pintu kamarnya.
"Pak Rahman, Pak Robert, ada apa?"tanya Arsyad.
"Dedi bilang, malam ini tuan dan nyonya bisa pulang, karena Farina sedang mengadakan pesta di vila yang ia tempati bersama teman-temannya. Pesta api unggun dan Barbeque berada di samping Vila, jadi jika mobil Pak Arsyad melaju pulang, tidak akan terjangkau mereka dari sana,"jelas Robert.
"Apa Mas Arsyad dan Mba Annisa sudah siap semuanya?"tanya Rahman.
"Sudah, pak. Saya sudah bersiap-siap dari tadi untuk pulang," jawab Arsyad.
"Kalau begitu, kami sudah siapkan sopir untuk mengantar tuan, dan dua orang pengawal yang nanti akan mengikuti mobi tuan,"ucap Robert.
"Terima kasih, saya akan mengambil koper saya, dan segera untuk pulang,"ucap Arsyad.
"Kalian sudah siap?"tanya Rahman.
"Sudah, pak,"ucap Arsyad.
Arsyad dan Annisa memasuki mobilnya. Mereka pulang dengan di antar sopir dan pengawal di belakang mobil mereka. Annisa masih khawatir sekali, dia takut kalau Farina akan mengikutinya. Telepon sopir yang mengantar Arsyad berdering, dan sopir itu mengangkatnya. Robert menelepon sopir yang mengantar Arsyad memberitahukan kalau keadaan aman, Farina juga tidak tau kalau mobil Arsyad melaju dari vilanya.
"Tuan, nyonya, kalian tenang saja, semua baik-baik saja. Wanita itu tidak tau kalau mobil kita sudah melaju pulang, saya pastikan wanita itu akan menyusul tuan dan nyonya ke Berlin bersok. Saya tau, dia wanita macam apa, tuan. Biar saya dan Dedi menyelidikinya, ini semua untuk keselamatan tuan dan nyonya. Nanti Robert juga akan mengirim beberapa pengawal untuk menjaga rumah tuan,"jelas Sopir yang mengantar Arsyad.
"Terima kasih, pak,"ucap Arsyad.
"Kami yang berterima kasih, berkat papah tuan, kami memiliki pekerjaan. Vila Pak Rico sering di sewa beberapa tamu penting, jadi perlu penjagaan ketat juga, tuan. Kami benar-benar di utus Pak Rico menjaga Vilanya,"ucap Sopir tersebut
"Oh, ya. Nama bapak siapa?"tanya Arsyad.
"Hasan, pak,"jawab sopir tersebut.
Arsyad mengangguk-anggukan kepalanya, Arsyad dan Annisa begitu lega mendengar penuturan Hasan tadi. Annisa menyandarkan kepalanya di dada Arsyad. Arsyad mengusap kepala Annisa dan menyuruh Annisa tidur di dekapannya.
"Tidurlah jika mengantuk, semua akan baik-baik saja, sayang,"ucap Arsyad.
"Hmmm…aku akan tidur sebentar, aku ngantuk sekali,"ucap Annisa.
Arsyad mengusap lembut kepala Annisa hingga Annisa tertidur di dekapannya. Arsyad sudah sedikit lega, karena Farina benar-benar percaya jika dirinya dan Annisa ke Berlin. Arsyad mengeratkan pelukannya pada Annisa, dia tau, Annisa sangat takut sekali, apalagi Farina dulu pernah mencoba menyakitinya. Pasti setelah tau dirinya menikah dengan Annisa, Farina akan lebih menyakiti Annisa.
"Aku tidak akan membiarkan seseorang menyakitimu, Annisa. Aku akan selalu menjagamu, melindungimu, bahkan sampai mempertaruhkan nyawaku. Aku akan lakukan itu,"gumam Arsyad.
Setelah melewati perjalanan cukup lama, Arsyad dan Annisa sudah sampai rumahnya. Arsyad mengusap lembur pipi Annisa dan berkata lirih di telinga Annisa untuk membangunkan Annisa. Hasan keluar dari mobil dan menurunkan koper milik Arsyad.
"Sayang, bangun, udah sampai kita,"ucap Arsyad dengan lembut di telinga Annisa.
Annisa menggeliat merentangkan otot-ototnya yang kaku, dia kembali memeluk suaminya dan menenggelamkan wajahnya di dada Arsyad.
"Sayang, sudah sampai, ayo turun, apa mau kakak gendong?" Arsyad berkata sambil mengusap kepala Annisa dengan lembut.
"Hummmp...bentar kak, aku masih ingin memelukmu, aku bisa jalan sendiri,"ucap Annisa dengan manja.
"Ya sudah peluklah sepuasmu, sayang,"ucap Arsyad.
Annisa melepaskan pelukannya saat di rasa sudah puas memeluk suaminya itu. Annisa menatap wajah suaminya dan tersenyum manis lalu mencium pipinya.
"Ayo turun, aku sudah rindu dengan anak-anak,"ajak Annisa.
Arsyad menggandeng tangan Annisa berjalan menuju teras rumahnya. Pak Jais dan Mas Joko terlihat bingung setelah membukakan pintu gerbang, mereka bingung ada dua mobil dan sepertinya Arsyad dan Annisa sedang di jaga ketat oleh pengawal.
__ADS_1
"Mas Joko, papah sudah tidur?"tanya Arsyad.
"Tadi sih belum pada tidur, ada Pak Bayu dan keluarganya juga, anak dan cucunya juga di sini, juga Mba Shita. Semua kumpul di sini, Mas,"jawab Joko.
"Oh, ya sudah saya masuk, Mas," pamit Arsyad.
"Ayo, pak Hasan, masuk dulu," ajak Arsyad.
Arsyad masuk ke dalam rumahnya, terlihta semua sedang berkumpul di ruang tengah. Memang hari sudah begitu malam, sudah hampir jam 11 malam, tapi semua masih pada tidur. Mungkin karen besok hari Sabtu, dan anak-anak libur sekolah kalau hari Sabtu. Jadi masih asik bermain, apalagi semua sedang berkumpul di rumah Arsyad.
"Assalamualaikum," ucap Arsyad dan Annisa yang membuat semua menoleh ke arah ruang tamu.
"Abah……"teriak Raffi, Najwa, Dio, dan Shifa.
Mereka berlari berhamburan dan memelik Abah dan Bundanya. Mereka melepas rindu tidak berjumpa dengan Abah dan Bundanya hampir dua hari.
"Abah dan bunda curang, tidak ajak Raffi,"ucap Raffi dengan manja.
"Iya, Abah dan Bunda curang,"ucap Shifa.
"Najwa kangen….." Najwa memeluk Annisa dan Arsyad lalu mencium pipi mereka.
"Dio juga kangen, hmmm…enak ya berduaan tanpa kita," ledek Dio.
Dio memang terlihat sangat dewasa di antara mereka berempat. Memang dia dewasa sekali, Dio memeluk Arsyad dan Annisa secara bergantian.
"Bunda juga kangen sama kalian,"ucap Annisa.
"Raf, kamu sudah gak ketemu zombie lagi, kan?"tanya Arsyad dengan menarik hidungnya.
"Gak Abah, Raffi gak ketemu zombie lagi, zombie nya udah pergi, gak berani sama Raffi,"ucapnya.
"Ya sudah, kalian main lagi, Abah dan bunda akan bicara denga opa dan lainnya dulu." Arsyad menyuruh anak-anaknya kembali bermain lagi dengan lainnya.
Arsyad mendekati papahnya dan Om nya yang sedang duduk di ruang tengah. Arsyad mengajak Pak Hasan dan dua pengawalnya itu bergabung untuk membicarakan soal Farina.
"Kamu kenapa pulang malam-malam, Syad? Katanya Minggu baru pulang?"tanya Rico.
"Pah, ada sedikit masalah di sana, ini sungguh membahayakan untuk Annisa dan Arsyad. Makanya Arsyad dan Annisa pulang dengan di antar sopir dan dua pengawal,"jawab Arsyad.
"Maksud kamu?"tanya Rico.
Arsyad menceritakan semua apa yang terjadi. Rico mengusap wajahnya dengan kasar, setelah mendengar penuturan Arsyad.
"Kalian tenang saja, jangan khawatir,"ucap Rico.
"Itu Farina yang yang dulu kamu ceritain saat kamu masih menjadi dosen?"tanya Rayhan.
"Iya, Ray, kenapa harus bertemu dia kembali setelah berpuluh-puluh tahun aku lepas dari wanita gila itu,"ucap Arsyad.
"Kalian jangan takut, kita hadapi ini bersama, jika dia berani macam-macam dengan Annisa dan kamu, om pastikan dia akan membusuk di penjara,"ucap Bayu dengan geram.
"Kakak, Annisa, kalian jangan khawatir, ada kamu semua. Kalian bahagialah, kita sama-sama akan menjaga kalian,"ucap Shita.
"Terima kasih, aku tau yang Farina incar bukan aku, tapi Annisa,"ucap Arsyad.
"Hasan, panggil dua pengawal lagi, untuk di berjaga-jaga di sini,"titah Rico pada Hasan.
"Siap, Pak!" jawab Hasan.
"Dan, kalian bertiga, saya minta untuk tetap di sini, kita jaga-jaga saja, barangkali Farina nekat mencari keberadaan Annisa dan Arsyad, apalagi kalian tau, siapa keluarga Alfarizi, pasti mudah sekali untuk Farina melacak keberadaan kami,"ucap Rico.
"Baik, pak! Kami akan tetap di sini,"ucap Hasan dan dua pengawal yang berada di samping Hasan.
Hanya karena seorang wanita yang menurutnya sedikit tidak waras itu, Rico rela menyuruh seseorang untuk menjaga rumah Arsyad dengan ketat. Annisa dan Arsyad begitu lega, semua tau apa yang sedang mereka alami.
"Aku sangat beruntung, memiliki keluarga yang sangat menyayangiku, walaupun mereka dari keluarga suamiku,"batin Annisa
.
.
.
.
.
.
.
.
.
♥️happy reading♥️
mohon maaf ya, baru up lagi. kemarin rada sibuk, ini juga sibuk syekali, tapi aku sempatkan untuk up. terima kasih yang sudah menunggu.
jangan lupa like dan vote ya, sayang...
__ADS_1
terima kasih...😘😘😘😘🙏😁