THE BEST BROTHER

THE BEST BROTHER
S4 Chapter 52 "Penasaran" The Best Brother


__ADS_3

Annisa akan menemui Dio di kantornya siang ini. Annisa sudah tidak mengerti apa yang ada di hatinya. Dia baru menyadari masalah yang di buat anak laki-lakinya menjadi serunyam ini. Dia harus melihat suaminya yang terus murung dan semakin kurus, Annisa juga kehilangan Najwa, keponakan kesayangannya, dia juga harus kehilangan menantu yang ia sayangi, juga Shifa, dia menjauhi saudara kembarnya karena sudah merusak hubungan sahabat antara Rania, dia, dan Najwa.


"Aku baru menyadari, luka yang Dio torehkan terlalu dalam pada keluarga kami. Aku tidak menyangka, apa yang ada di pikiran dia, padahal aku dan Kak Arsyad sudah mewanti-wanti dia jangan berhubungan dengan Najwa lagi, karena mereka satu susuan. Aku harus menemui Dio," gumam Annisa.


Annisa melajukan mobilnya menuju ke kantor Dio sebelum ia ke butiknya. Memang sekarang Annisa yang memegang butik yang tadinya ia serahkan pada Najwa. Annisa kembali lagi mengurus butiknya yang kadang di bantu oleh Shifa.


Annisa langsung masuk ke dalam kantor Dio. Dia langsung menemui Dio masuk ke ruangannya. Dio terlihat sedang sibuk sekali, apalagi dia juga membagi pekerjaannya dengan yang lain. Iya dia harus mengecek perusahaan Rania dan milik Reno juga. Jadi dia kadang bekerja hingga malam.


"Bunda? Tumben bunda ke sini?" tanya Dio.


"Bunda mau bicara dengan kamu," jawab Annisa dengan nada suara yang datar.


Dio sudah tahu, kalau bundanya sedang sedikit tidak enak hati dengan nada bicaranya yang seperti itu. Dio menghentikan pekerjaannya karena bundanya datang dengan raut wajah yang sudah bisa ia tebak kalau bundanya sedang marah.


"Bunda mau bicara apa?" tanya Dio dengan lembut dan duduk di depan bundanya.


"Dio, kamu sadar apa yang sudah kamu perbuat selama ini?" jawab Annisa dengan melayangkan pertanyaan pada Dio dengan nada yang sedikit tinggi.


"Dio tahu, bunda pasti mau membahas ini. Bunda Dio tahu, semua salah Dio, Dio sudah menyakiti hati perempuan-perempuan yang Dio sayangi. Bunda, Kak Shifa, Kak Najwa, dan juga Rania. Dio juga sudah membuat abah, opa, Raffi, dan Arkan marah, bahkan benci dengan Dio. Maafkan Dio, bunda. Bunda boleh membenci Dio, seperti Shifa yang sama sekali tidak mau ngomong sama Dio semenjak kejadian itu. Dio juga sakit bunda, sama seperti Rania dan Kak Najwa. Maafkan Dio, Dio terima hukuman dari bunda." Dio berlutut di kaki Annisa.


Namun, Annisa menyuruh dia bangun. Annisa tahu, Dio juga merasakan sakit sama dengan apa yang Najwa dan Rania rasakan. Mungkin Najwa di sana sudah bisa membuang rasa sakit pada Dio. Tapi, Dio adalah kunci dari masalah itu. Dia yang memulai. Meski terlihat biasa saja, Dio menyimpan luka di hatinya. Luka karena sudah menyakiti orang-orang yang ia sayangi.


"Maafkan Dio, bunda," ucap Dio lagi dengan menggenggam tangan Annisa.


"Kamu seharusnya meminta maaf pada Abah, lihatlah, abah sekarang seperti itu. Memang Najwa pergi karena abah yang ingin. Coba kalau kamu nurut sama bunda, jangan dekati Najwa lagi, pasti tidak akan seperti ini, Dio," ujar Annisa.


"Iya, Dio yang salah bunda. Dio juga kehilangan wanita yang benar-benar tulus mencintai Dio, Bunda. Rania, dia wanita yang mencintaiku dengan tulus. Dan, aku tega menyakitinya," ucap Dio.


"Kamu sudah mengingkari janjimu pada Allah dan mengingkari janji Ayah mertuamu, Dio. Kamu berjanji akan membahagiakan Rania, tapi nyatanya, kamu malah membuat dia sakit dan terluka," ucap Annisa masih dengan ekspresi wajah marahnya.


Dio hanya terdiam saat Annisa berkata seperti itu. Dio tahu, bundanya sangat kecewa sekali dengan Dio. Mau bagaimana lagi, nasi sudah menjadi bubur, dan kini Dio sedang menikmati rasa sakit yang terus menerus melekat dalam hatinya. Dia harus rela sekarang Rania dekat dengan Evan. Tapi, dia tidak serta merta memberikan hak pada Evan untuk mengurus perusahaan Reno dan Rania.


Evan memang sering ke Singapura menemani Rania di sana. Dio yang selalu di tolak Rania untuk datang ke sana, dan kini Dio hanya memilih diam dan fokus pada perusahaan Rania. Dio tidak peduli hati Dio yang sakit karena sering melihat Evan di story' WhatsApp nya Rania saat dia menjenguk Anna bersama keluarganya. Dio tahu mereka akrab dari dulu. Tapi, ada rasa sakit saat melihat foto Rania dan Evan di story WhatsApp Rania.


"Bunda pulang," pamit Annisa dengan suara datarnya dan masih menyimpan marah pada Dio.


Dio menyandarkan kepalanya di sandaran kursi. Dia tidak enak hati dengan bundanya yang datang hanya membahas soal kejadian di vila waktu itu.


"Iya, bunda benar, ini semua salahku. Aku juga sudah mengingkari janji ku pada ayah. Aku juga sudah membuat abah sakit dan seperti itu keadaannya. Membuat keluargaku cacat dan berantakan. Apa aku harus cari Kak Najwa? Tidak, aku tidak akan mencarinya. Aku ingin melupakan dia. Dan, sudah aku tidak mau mengganggu hidup dia lagi, kalau aku mencari Kak Najwa sama saja aku mencari masa lalu yang sudah hilang. Yang aku inginkan Rania. Aku tidak bisa melepaskan dia bersama Evan. Jika ada yang lebih baik dari Evan, aku ikhalas, tapi, aku sama sekali tidak rela dia bersama laki-laki macam Evan. Hanya baik di luar saja," gumam Dio.


^^^^^


Sudah 6 bulan lamanya Najwa hidup di Budapest bersama sahabatnya, Nuri. Hari ini dia di sibukkan oleh beberapa masakan yang ia masak untuk makan siang bersama opa dan sepupu Nuri. Ya opa Wisnu dan Kiki akan berkunjung ke rumah Nuri. Nuri benar-benar memaksa saudara sepupunya itu untuk datang ke rumahnya. Kiki yang terpaksa akhirnya ia menurut keinginan Nuri. Padahal Kiki sengaja mengulur waktu agar tidak menemui sahabat dari Nuri, karena dia telah menemukan wanita yang cocok untuk dirinya.


"Bagaimana? Sudah siapa semua, Najwa?" tanya Nuri.


"Sudah, coba cicipi," jawab Najwa dan menyuruh Nuri mencicipi masakannya.


"Hmmm … lezat. Tidak seburuk waktu itu. Yah, maklum waktu itu sedang dirundung masalah hati dengan Dio. Dan sekarang sepertinya harimu sudah bahagia karena seorang yang bernama siapa kemarin? Ah, Habibi? Iya benar?" ucap Nuri.


"Ah sudah lah, memang masakan aku lebih baik dari kamu, akui saja, Nuri. Bukan karena Habibi. Ya, mungkin sedikit karena dia. Tapi tidak sepenuhnya. Karena aku akan terus belajar melupakan hal yang menyakitkan itu," ucap Najwa.


"Bagus! Itu baru Najwa temanku. Jangan menjadi wanita lemah karena cinta, Najwa. Kamu tidak pantas menangisi cinta," tutur Nuri.


"Iya, iya … aku mau mandi, lalu aku mau pergi sebentar," ucap Najwa.


"Mau apa?" tanya Nuri.


"Mau beli sesuatu," jawabnya.


"Jangan bilang mau menghindar untuk ketemu Kiki. Kalau begitu, aku marah, aku tidak mau berteman dengan kamu lagi," ucap Nuri.

__ADS_1


"Ih ngancam!" tukas Najwa.


"Lagian dari tadi gak keluar, giliran Kiki sudah jalan ke sini, kamu malah pergi, aneh kamu," ujar Nuri.


"Aku mau beli pembalut, Nuri …."ucap Najwa dengan penuh penekanan.


"Oke, sendiri tidak apa-apa, kan?" tanya Nuri memastikan Najwa bisa keluar sendiri atau tidak.


"Iya, tidak apa-apa, lagian itu kan dekat, Nuri. Paling di seberang sana saja," ucap Najwa sambil berlalu meninggalkan Nuri ke dalam kamarnya.


Nuri sebenarnya tidak tega membiarkan Najwa yang akan pergi sendiri, karena dia takut, ada apa-apa di jalan. Tapi, menurut Nuri, sepertinya sekarang Najwa sudah bisa pergi-pergi sendiri tanpa di antar Nuri, kemarin saja dia sudah ke butik sendiri tanpa di antar oleh sopir pribadi.


°°°°°


Sejak kepergian Rania di Singapura, Dio tidak pernah lepas menanyakan kabar Rania di sana. Meski kadang Rania tidak selalu langsung membalas pesan dari Dio. Sudah 4 bulan lamanya Rania berada di Singapura. Rania selalu memberitahukan keadaan ibunya pada Dio dan Annisa.


Hari ini Dio akan pergi ke rumah Arsyad. Seperti biasa kalau hari minggu semua kumpul di rumah Arsyad. Tapi, baru kali ini Dio memberanikan diri untuk ke rumah Arsyad. Karena sebelumnya jika ke sana, Shifa pasti tidak mau bergabung, jadi dia tidak mau mengganggu Shifa yang sedang rindu dengan Annisa, Arsyad, dan Rico.


Dio mencoba memberanikan diri ke rumah Arsyad karena dia juga ingin bicara dengan Shifa yang masih saja belum mau bicara semenjak Najwa pergi dan Rania menceraikan Dio. Dio tahu, kakaknya sangat kecewa dengan dirinya. Tapi, dia tahu kalau Shifa bukan tipe orang yang pendendam. Dia akan membujuknya dan meminta maaf padanya.


Hidup dalam kesendirian selama hampir 4 bulan membuat dirinya tahu, apa arti keluarga. Secara tidak langsung dia menghancurkan keluarganya. Hingga dia menikmati hidup dalam kesendirian. Annisa juga jarang sekali menanyakan kabar pada Dio. Padahal sebelum ada kejadian di vila itu, tepatnya saat Rania dan dio belum berpisah, Annisa selalu perhatian dengan Dio. Tapi, sekarang dia hanya fokus pada Arsyad yang semakin lemah kala mengingat Najwa.


Mobil Dio memasuki halaman rumah Arsyad. Dia turun dari mobilnya. Dia datang ke rumah Arsyad seperti datang ke rumah orang asing, semuanya acuh sekali dengan Dio. Hanya Raffi dan Arkan yang masih mau menyapa Dio dan bercerita dengan Dio. Dio mendekati Shifa yang sedang bersama Fattah dan bundanya.


"Kak, bisa kita bicara," pinta Dio dengan suara lembut.


"Bicara apa? Tidak ada yang perlu di bicarakan lagi, Dio," tukas Shifa sambil pergi dari hadapan Dio.


Fattah mencegah istrinya yang akan meninggalkan Dio yang ingin berbicara dengannya.


"Jangan seperti itu, adikmu mau bicara Shifa," tegur Fattah pada istrinya dengan lembut.


"Mas, untuk apa bicara dengan dia. Tidak ada gunanya juga, dia kalau aku nasihati tidak mendengarkan," ucap Shifa.


°°°°°


Nuri membukakan pintu rumahnya, ada seseorang yang datang ke rumahnya. Dia tahu, pasti Kiki yang datang. Nuri melihat Kiki yang datang, dia langsung memeluk Kiki dengan girang.


"Kiki …." Nuri langsung memeluk Kiki yang datang ke rumahnya.


"Ihhh apaan sih, peluk-peluk." Kiki langsung melepas pelukannya pada Nuri.


"Bukannya di ajak masuk, suruh duduk, sediain minum, eh datang langsung meluk," imbuh Kiki.


"Aku kangen, Kiki," ucap Nuri manja.


"Gak usah kek gitu juga kali kalau kangen." Kiki mencubit pipi Nuri.


"Mana opa?" tanya Nuri.


"Opa lagi sama papah, gak tau mau pergi ke mana," jawab Kiki.


"Yah ..." Nuri berdecak kesal karena opanya tidak ikut.


"Mana temanmu?" tanya Kiki.


"Dia sedang keluar, katanya mau beli sesuatu, paling sebentar lagi pulang," ucap Nuri.


"Ya sudah, mana minumnya? Ada tamu tidak di buatkan minum. Sana buatkan dulu," titah Kiki.


"Iya, iya," ucap Nuri sambil melangkahkan kakinya ke dapur.

__ADS_1


Kiki duduk di ruang tengah sambil menonton televisi sembari menunggu Nuri membuatkan minum.


"Ini matcha spesial untuk kamu, Pak Dokter ganteng ku," ucap Nuri sambil menaruh secangkir Matcha untuk Kiki.


"Makasih, sayang." Kiki mengacak-acak rambut Nuri.


Mereka saling mengobrol dan melepas rindu, juga bercanda. Mereka memang seperti itu lama tidak bertemu.


"Assalamualaikum …" suara wanita terdengar di ambang pintu yang menuju ruang tengah. Siapa lagi kalau bukan Najwa. Nuri menoleh ke arah sumber suara.


"Kamu sudah pulang? Sini ini Kiki sudah datang," ucap Nuri. Najwa masuk ke dalam lalu mendekati Nuri dan Kiki.


"Kiki, ini lho teman aku." Nuri menarik tangan Kiki yang sedang bermalas-malasan di sofa.


"Habibi?" Najwa terbelalak melihat laki-laki yang sedang rebahan di sofa.


"Ainun?" Habibi langsung bangun karena melihat sosok yang ia rindukan.


"Ehh … ini apaan nih? Habibi, Ainun. Maksudnya apa sih?" Nuri benar-benar bingung melihat Najwa dan Kiki sudah saling kenal.


"Kamu di sini, Ainun? Jadi kamu teman Nuri?" tanya Habibi.


"Ini kalian gimana, sih?" Nuri semakin bingung sekali melihat mereka berdua.


"Ini kenapa nama kamu jadi Kiki, Habibi? Bukankah nama kamu Rafqi kmal Habibi?" tanya Najwa.


"Iya, dia saja gak bisa nyebut namaku dengan benar," jawab Habibi.


"Ehh … kamu, aku udah bener kasih nama bagus-bagus malah gitu," ucap Nuri.


"Jadi ini Najwa? Habibimu?" tanya Nuri, dan Najwa hanya menganggukkan kepalanya saja dengan tersenyum.


"Ini kenapa jadi Ainun?" Tanya Nuri pada Najwa.


"Nama teman kamu kan, Ainun Najwa Salsabila, Nuri ...," jawab Habibi.


"Aku tanya Najwa, bukan kamu," tukas Nuri.


"Sama aja, benar kan, Najwa?" tanya Habibi.


"Iya benar, masa kamu nama aku tidak tahu, sih?" ucap Najwa.


"Ah, kamu kok bela Kiki, sih?" Nuri kesal dengan mereka berdua.


"Sudah, jangan urusi temanmu. Sekarang, kamu ceritakan, kenapa kami bisa di sini? Jelaskan sama aku, Abah, Raffi, bunda, Dio, Arkan, bahkan opa, tidak pernah membalas pesanku jika aku tanya kamu? Dan sekarang, tiba-tiba kamu disini, Ainun? Kamu ada masalah?" Habibi mendekati Najwa yang wajahnya sudah berubah seperti menyembunyikan sesuatu.


"Nanti aku jelaskan, ceritanya panjang. Kita makan dulu, ya? Aku sudah masak," ajak Najwa untuk mengalihkan pembicaraan.


"Hei, jangan menghindar, coba cerita." Habibi memegang tangan Najwa yang mau pergi ke ruang makan.


"Iya, nanti sehabis makan aku ceritakan, Habibi," ucap Najwa.


"Ayo, makan. Kalau tidak mau ya sudah aku tidak mau menceritakan." Najwa menarik tangan Habibi untuk menuju ke ruang makan.


"Kamu sekarang tertular virusnya Nuri, sukanya memaksa, nyebelin kamu." Habibi berjalan di belakang Najwa menuju ke ruang makan.


"Yah aku di cuekin," ucap Nuri kesal.


"Makanya cari pacar," tukas Habibi.


Mereka makan siang bersama. Najwa tidak tahu, harus cerita dari mana pada Habibi. Tapi, dia harus bicara dengan Habibi. Apalagi Habibi selama ini sudah berhasil membuat hidupnya lebih baik lagi, dan hatinya juga bisa lebih stabil lagi karena kehadiran Habibi.

__ADS_1


Habibi semakin penasaran kenapa Najwa bisa ada di Budapest bersama Nuri. Dia terus mendesak Najwa untuk menceritakan semuanya, kenapa bisa bersama Nuri di Budapest.


__ADS_2