
♥️Jika harus memilih, antara nafas dan cinta. Maka aku memilih nafas terakhir untuk mengatakan, "Aku cinta padamu."♥️
Shita duduk di samping Vino, seperti hari-hari biasanya, Vino masih tetap memejamkan matanya. Shita dengan telaten membersihkan wajah Vino, setelah selesai dia mencium kening Vino dan menaruh wadah yang berisikan air dan waslap yang di gunakan untuk mengelap wajah Vino. Shita duduk kembali di samping Vino, dia memandangi wajah suaminya.
"Kak, kamu tau, kamu tertidur sudah lama sekali, ayolah bangun, kak. Mau sampai kapan kakak tidak bangun."ucap Shita dengan mencium tangan Vino
"Shita…."panggil Vino dengan suara serak. Dia terlihat mengerjap matanya dan menyesuaikan dengan cahaya di kamarnya.
"Kak Vino…..kakak sudah bangun?"ucap Shita.
"Shita, aku di mana? Semua badanku terasa sakit dan kepala ku sakit sekali."ucap Vino dengan terbata-bata. Dia memegang erat tangan Shita.
"Jangan banyak gerak dulu, sayang, aku panggilkan dokter dulu ya." Shita keluar memanggil dokter yang menangani Vino.
Dokter dan perawat masuk ke dalam ruangan Vino dan segera memeriksa keadaan Vino.
"Bu Shita, keadaan Pak Vino masih sangat lemah, jangan di bawa gerak dulu agar cepat pulih. Alhamdulillah akhirnya Pak Vino kembali sadar."ucap Dokter tersebut.
"Iya dok, terima kasih."ucap Shita.
Dokter dan perawat pergi dari ruangan Vino. Vino terus menggenggam tangan Shita dan menciumnya.
"Aku tertidur berapa lama?"tanya Vino.
"Satu Minggu lebih aku menunggumu bangun. Jangan seperti itu lagi. Kamu bilang mencintaiku?"ucap Shita dengan berlinang air mata.
"Jangan menangis, sudah aku sudah tidak apa-apa. Jika harus memilih, antara nafas dan cinta. Maka aku memilih nafas terakhir untuk mengatakan, Aku cinta padamu."ucap Vini dengan membelai pipi Shita.
"Kak, jangan bilang seperti itu. Aku akan terus di sampingmu, sampai akhir hidupku. Aku janji."ucap Shita sambil menautkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking Vino.
"Aku juga janji. Maafkan aku, sayang."ucap Vino.
"Aku sudah memaafkan mu, kak."
"Aku haus, bisa ambilkan air putih?"pinta Vino. Shita mengambilkan air putih dan meminumkan pada Vino menggunakan sedotan.
"Ta, bagaimana anak kita?"tanya Vino.
"Sehat, dia selalu setia menunggu papahnya bangun dari tidurnya."ucap Shita
Kebahagiaan terukir di wajah mereka, Vino kembali merasakan kehangatan dalam keluarganya.
Andini datang ke rumah sakit, dia masuk ke dalam ruangannya, betapa bahagianya dia melihat putrinya sedang berbicara dengan orang yang sangat di cintainya.
"Vino…. Menantu ibu, sudah bangun kamu, nak?" Andini mendekat dan memeluk menantunya, dia juga memeluk Shita dan menciumnya.
"Kenapa tidak bilang ibu, kalau Vino sudah sadar, sayang?"tanya Andini pada Shita.
"Shita saking bahagianya, ibu, jadi Shita lupa."ucap Shita.
"Tapi, jangan lupa makan, ayo makan duku, sudah jam makan siang, Vin ibu suapi Shita dulu, dari kemarin kalau tidak dipaksa makan, dia tak mau makan."ucap Andini.
"Kok gitu? Makan sana, kasihan anakku, nanti kelaparan."ucap Vino pada Shita.
"Iya, ini aku mau makan. Kamu mau makan?"tanya Shita.
__ADS_1
"Nanti, nunggu makanan dari rumah sakit saja, biar sesuai dengan keadaanku sekarang ini. Kamu makan dulu, apa mau aku suapi?"ucap Vino.
"Kamu baru saja sadar, jangan banyak bergerak, aku makan dengan ibu saja." Shita mendekati mendekati ibunya, dan membuka kotak makan yang di bawakan ibunya.
"Bu, suapi istriku, biar dia makannya banyak."ucap Vino.
"Aku bisa makan sendiri, sayang."ucap Shita. Dia mulai menyendokkan makanannya dan memasukan ke dalam mulutnya. Andini duduk di samping Vino dan bercerita pada Vino bagaimana Shita saat dia mengalami koma selama kurang lebih 2 minggu. Vino merasa bersalah sekali dengan istrinya, dia berkali-kali meminta maaf pada mertuanya karena dia sudah menggoreskan luka pada hati istrinya.
"Sudah Vin, semau sudah berlalu, yang penting jangan di ulangi, dan jangan menyakiti anak perempuan ibu lagi."ucap Andini.
"Iya, Bu, itu pasti."ucapnya.
Sore hari sepulang kerja, Arsyad dan Arsyil menuju ke rumah sakit untuk melihat keadaan Vino. Andini dan Shita lupa tidak mengabari Arsyad, Arsyil dan Rico kalau Vino sudah bangun dari komanya.
Arsyad memboncengkan adiknya menuju ke rumah sakit, sedangkan Rico, dia mengendari mobilnya menuju ke rumah sakit juga.
Mereka bertiga sampai bersama di depan rumah sakit, Arsyad dan Arsyil memang sengaja mampir dulu ke toko aksesoris dan toko mainan anak, dia membelikan mainan untuk anak mereka dan membelikan bandana yang lucu-lucu seta turban untuk Najwa dan Shifa. Ya, mereka ayah dan Abah yang sayang sekali dengan anaknya. Apapun yang dilihatnya lucu pasti mereka beli.
"Kamu keluar kantor dari tadi kok baru sampai?"tanya Rico pada dua putranya.
"Ini beli untuk Dio dan Shifa."ucap Arsyil sambil menunjukan belanjaannya.
"Anakmu masih bayi, Syil masa iya udah di belikan mainan banyak sekali."ucap Rico.
"Papah, kan nanti kalau sudah bisa main, bisa di pakai. Kak Arsyad juga beli tuh." Arsyil menunjukan paper bag Arsyad yang isinya juga mainan untuk Najwa.
"Kalian itu ya, ya sudah ayo masuk ke dalam. Papah ingin tau keadaan Vino dan Shita. Rico berjalan di tengah-tengah putranya, dia merangkul kedua putranya.
"Anak papah sudah menjadi bapak semua, papah bahagia sekali melihat kalian selalu kompak seperti ini."ucap Rico pada kedua putranya.
"Pasti pah."ucap mereka.
"Sus, pasien yang di ruang ICU kok tidak ada? Kok sudah kosong?" Rico bertanya dengan panik sekali.
"Oh…Pak Vino? Baru saja di pindahkan ke ruangan pasien, pak, karena tadi siang sudah sadar dari komanya dan keadaannya sudah mulai membaik, jadi kami pindahkan ke ruangan pasien."ucap perawat tersebut dengan senyumannya.
"Alhamdulillah, terima kasih, Sus."ucap mereka bersama.
"Oh...iya, sus, Vino di ruangan apa ya, Sus?"tanya Arsyad.
"Ruang V.VIP 1 pak, di lantai dua."jawab suster tersebut.
"Terima kasih, Sus."ucap Arsyad.
Mereka menuju ke ruangan yang di tunjukan Suster tadi. Senyum bahagia terpancar dari wajah mereka karena mendengar Vino sudah sadar dari komanya. Mereka sudah sampai di depan ruangan Vino dan Rico membuka pintu ruangan Vino.
"Assalamualaikum."ucap Mereka.
"Wa'alaikumsalam."jawab Andini, Shita dan Vino. Andini langsung mendekati suaminya dan mencium tangan suaminya.
"Kalian tega ya, tidak ngabarin kami, kalau Vino sudah sadar."ucap Rico sambil mencium kening istrinya.
"Iya, kalian tega, kami sudah khawatir sekali, takut Kak Vini kenapa-napa."ucap Arsyil.
"Maaf, Pah, Kak, Syil, kami saking bahagianya jadi lupa memberi kabar, terus juga tadi kita harus siap-siap Kak Vino mau pindah ruangan."ucap Shita sambil mendekati papahnya dan mencium tangan papahnya.
__ADS_1
"Iya tidak apa-apa, yang penting semua baik-baik saja." Rico mengacak-acak rambut anak perempuannya.
"Bagaimana Vin, sudah mendingan?"tanya Arsyad.
"Ya seperti yang kamu lihat, tapi semua badanku masih sangat kaku, dan kepalaku juga masih sangat sakit."ucap Vino.
"Nanti juga lekas pulih, Vin."ucap Arsyad sambil meletakan paper bag di sofa yang ada di ruangan.
"Kakak sama Arsyil beli apa? Kok pada bawa paper bag gitu?"tanya Shita.
"Itu, mereka habis shopping, membelikan mainan untuk Najwa Dio dan Shifa. Padahal masih bayi, tapi sudah di belikan mainan saja."ucap Rico.
"Tidak apa-apa dong, pah. Papah juga dulu seperti itu, waktu Arsyad, Arsyil dan Shita masih kecil."sahut Andini.
"Tapi papah belinya kan waktu mereka sudah bisa mainan, Bu. Sedangkan Najwa, Dio dan Shifa kan masih bayi."ucap Rico.
"Ya tidak apa-apa, kan bisa buat nanti kalah sudah bisa mainan, pah."ujar Andini.
"Kebiasaan, papah sana ibu malah ribut sendiri ih…"protes Shita.
"Biarlah pah, apa salahnya beli mainan buat anaknya. Mungkin kalau anak Shita sudah lahir, juga akan seperti itu kok."imbuh Shita.
"Yang penting, hari ini adalah hari bahagianya Papah, karena tuan putri papah ini, sudah bisa tersenyum lagi, sudah tidak nangis lagi. Dan kamu Vino, tolong jangan membuat tuan putriku ini kecewa untuk kedua kalinya."ucap Rico.
"Tentu pah, maafkan Vino ya pah."ucap Vino sambil mencium tangan Rico.
Meraka Asik mereka mengobrol hingga menjelang Maghrib. Arsyad dan Arsyil segera menghubungi istrinya kalau pulang agak terlambat karena mampir ke rumah sakit dan keadaan Vino sudah membaik juga sudah sadar dari komanya.
.
.
.
.
.
.
.
.
♥️happy reading♥️
sekedar pengumuman saja, ini adalah detik-detik endingnya the best brother ya, sayang.
Reader : tuh....kan, tamat? terus lanjutannya ada tidak? kehidupan anak-anaknya mereka gitu?
Author : tenang saja, ada kok, sudah Author siapkan. dan sebelum lanjutannya di mulai lagi, nanti baca dulu di rahim pengganti, ada lanjutan bonus chapter nya juga, yang kemarin sempat tertunda.
Reader : ini pasti kehidupan anak-anak nya Arsyad, Arsyil dan Shita ya Thor?"
Author : ada deh, bakalan seru pokoknya.😁 tunggu saja, oke....
__ADS_1
Reader : terserah deh Thor, yang penting jangan poligami lagi.
Author : 🤣