
Leon dan Rere sudah sampai di restoran yang mereka tuju. Ya, Leon tadi memesan tempat dulu di sebuah restoran yang cukup mewah dan terkenal dengan di antar oleh Kevin. Mereka masuk ke dalam restoran yang sudah Leon pesan tadi. Baru kali ini Rere di ajak seorang pria makan malam di restoran mewah seperti ini. Apalagi bersama dengan pria setampan Leon.
Leon dan Rere duduk Salang berhadapan, ada rasa gugup di antara mereka berdua. Para pelayan segera menyiapkan beberapa makanan yang sudah Leon pesan tadi. Rere begitu terkejut, Leon memesankan makanan yang ia sukai semua. Hingga Rere lupa, kalau dia sedang melakukan diet ketat.
"Le, bagaimana bisa kamu memesan semua makanan ini?" tanya Rere.
"Kamu aneh, ya bisa lah, ini kan di restoran, banyak menu pilihan, jadi ya aku pesan sekalian tadi waktu pesan tempat. Biar tidak lama menunggu," jawab Leon.
"Bukan itu yang aku maksud, tapi kenapa yang di pesan semua makanan kesukaanku?"
"Oh, ya? Benar ini semua kesukaan kamu, Re?" tanya Leon.
"Ya, benar, ini semua makanan kesukaanku, Le," jawab Rere.
"Ya sudah, makanlah kalau kamu suka, apapun yang kamu suka, aku akan berikan, Re," ucap Leon.
"Ah, kamu gombal aja, sudah makan jangan lihatin aku terus, mau sampai kapan lihat-lihat aku seperti itu," ucap Rere.
"Re, aku sering lihat kamu di mana, ya?" tanya Leon.
"Baru pernah ketemu sering lihat, gimana, sih?"
"Ya aku gak tau, Re. Sudah lupakan, kita makan dulu,"
Boleh di bilang, dinner Leon dan Rere adalah dinner romantis mereka berdua. Walaupun Leon dulu sering mengajak Annisa dinner, tapi rasanya berbeda saat dia dinner dengan Rere. Dan, kenapa Leon tau semua makanan favorit Rere, itu semua Leon tanyakan pada Annisa. Ya, Leon bertanya pada Annisa, karena dia ingin orang yang dia ajak dinner berdua, tidak malu-malu memilh makanan. Jadi Leon siapkan semua makanan kesukaan Rere.
Leon berpikir, semua wanita kalau di ajak makan dengan lelaki suka memilih makanan yang kadang tidak sesuai seleranya. Mungkin karena wanita itu malu atau bagaimana, bisa juga di bilang, "munafik" sebenarnta dalam hatinya ingin, tapi dia malu untuk mengatakan, dan kalau di tanya hanya menjawab "terserah kamu saja, aku ikut kamu," padahal semua itu tidak sesuai dengan keinginan hatinya. Oleh sebab itu, Leon bertanya pada Annisa apa makanan favorit Rere, agar dia memesankan dan pasti akan dia makan.
"Bagaimana, suka dengan menunya?" tanya Leon.
"Suka, suka sekali, terima kasih, Le," jawab Rere.
"Iya, sama-sama,"
"Re, makannya hati-hati, kan ini jadi belepotan." Leon mengusap sisa makanan di sudut bibir Rere.
"Ah…maaf." Wajah Rere memerah, dia baru kali ini di perlakukan manis sekali dengan pria, apalagi dengan pria setampan Leon.
"Ehh..merona pipinya," ledek Leon.
"Apaan sih,"
Leon dan Rere semakin akrab. Malam ini mungkin malam yang begitu berarti untuk Leon. Walaupun belum ada ikatan dengan Rere, tapi dia setidaknya sudah melupakan sosok Annisa yang selalu menggangu pikirannya. Leon masih ingin mencari tahu siapa Rere sebenarnya. Pertanyaan itu selalu muncul di kepala Leon semenjak dia bertemu dengan Rere.
Leon mengajak Rere untuk pulang, karena sudah jam 9 malam lebih, dia juga tidak enak dengan orang tua Rere, karena mengajak anak gadisnya hingga malam. Ya, ini di Indonesia, jadi di tau adab membawa anak gadis di malam hari, apalagi Rere wanita baik-baik. Berbeda di negaranya, dia bebas berbaur dengan wanita hingga pagi pun dia lakukan. Ya, memang semenjak Annisa kembali ke Indonesia, Leon mengulang lagi kehidupan bebasnya di sana.
Leon mengantarkan Rere untuk pulang, kini mobil Leon sudah berada di halaman rumah Rere. Rere mempersilakan Leon untuk masuk ke dalam rumahnya, dan Leon dengan senang hati menerima ajakan Rere untuk masuk dan menemui kedua orang tuanya.
"Assalamualaikum, Mah, pah, Rere pulang,"
"Wa'alaikumsalam," sahut Mamah Rere yang keluar menemui Rere dan Leon.
"Pah, ini ada Nak Leon," panggil Heni mamah Rere pada suaminya.
__ADS_1
Pak Soni, papah Rere keluar dan menemui Leon. Leon dan Pak Soni mengobrol sebentar di ruang tamu, sebelum Leon berpamitan untuk pulang. Rere sudah berganti baju dengan pakaian santai di rumahnya dan menemui Leon yang sedang mengobrol dengan papahnya.
"Re, kok sudah ganti baju?"tanya Papahnya.
"Gerah, pah," jawab Rere.
Leon memerhatikan Rere yang sudah santai dengan pakaian santainya di rumah. Rere tampak cuek memakai setelan piyama panjang motif polkadot di depan Leon. Pandangan Leon beralih ke dinding yang menampakan foto anak perempuan kecil memakai seragam merah putih. Seketika mata Leon terbelaklak melihat foto itu. Leon memberanikan diri bertanya pada Rere dan papahnya.
"Maaf, Re itu foto kamu?" tanya Leon.
"Yang mana?"
"Itu gadis kecil memakai seragam merah putih," tunjuk Leon.
"Iya lah aku, siapa lagi kalau bukan aku," jawab Rere.
"Ya, barangkali kakak kamu atau adik kamu, Re," ucap Leon.
"Rere hanya punya 1 kakak Laki-laki, nak Leon. Dan Rere tidak memiliki adik, dia hanya 2 bersaudara, dan kakaknya sudah menikah sudah memiliki rumah sendiri," jelas Pak Soni.
"Oh…seperti itu?" ucap Leon.
"Ini adalah jawabannya, jadi Rere adalah anak kecil itu yang sering aku goda hingga menangis dan aku di marahi oleh orang tuanya. Dan, sekarang Rere dan orang tuanya ada di hadapanku, ini lucu sekali," gumam Leon.
Leon terdiam sejenak menata kata-katanya untuk mengungkapkan kebenaran. Dia juga tidak enak dengan papah Rere, karena dia pernah di marahi papah Rere karena sering menggoda Rere sampai Rere takut pergi ke sekolah.
"Maaf saya mau bertanya, Re, apa dulu waktu kamu SD sering sekali ada anak SMP mengganggumu?"tanya Leon.
Rere sejenak berpikir dan flashback ke masa lalunya. Dia mengingat-ingat lagi waktu dulu, tapi belum juga ingat.
"Emmm…sebentar-sebentar." Rere sejenak berpikir,
"Ah…iya, ingat. Waktu itu papah sampai menghadang anak itu kan, pah?" tanya Rere.
"Iya dan Om Soni memarahi habis-habisan siswa SMP itu sampai siswa itu katakutan dan tidak mengganggu Rere, lagi," sahut Leon.
"Sebentar-sebentar, kamu kok tahu semua?"tanya Papah Soni.
"Iya, kamu kok tau, Le?" tanya Rere.
"Ya, aku tau, karena siswa SMP itu adalah aku, itu Leon om, yang dulu Om marahi," ucap Leon dengan menundukkan kepalanya.
Soni terkekeh melihat wajah Leon yang seperti ketakutan akan di marahi lagi oleh Soni.
"Jadi, cowok nyebelin itu, kamu?" tukas Rere.
"Iya, Re, makanya aku bilang sama kamu, aku sering lihat kamu tapi di mana, benar kan, aku sering lihat kamu dulu waktu sekolah," ucap Leon.
"Pah, ternyata orangya seperti ini sekarang, anak SMP yang dulu papah marahi habis-habisan," ucap Rere.
"Papah dulu tidak memarahi, cuma menasehati saja, lagian kamu nya juga cengeng sekali," jawab Soni.
"Tuh, kan, bilang Rere cengeng lagi," ucap Rere dengan sedikit cemberut.
__ADS_1
"Ini sepertinya seru sekali, ada apa ini?"tanya Ibu Rere yang baru saja keluar menidurkan cucunya.
Anak kakak Rere memang tinggal bersama Mamah dan papahnya Rere, karena kakak Rere dan istrinya sering sekkai keluar kota untuk mengurus bisnisnya.
"Ini mah, mamah masih ingat siswa SMP yang papah marahi dulu, karena selalu menggoda Rere hingga dia tidak mau berangkat sekolah?" tanya Soni
"Iya, mamah masih ingat, kenapa pah memangnya?" tanya Heni.
"Ya ini orangnya, yang ada di depan kita ini," jawab Soni.
"Maksud papah, Leon?" tanya Heni lagi.
"Iya, siapa lagi kalau bukan dia,"ucap Soni.
"Sepertinya kalian jodoh, nih," ledek Heni.
"Mamah apaan sih,"ucap Rere.
"Iya, Tante, jangan gitu ih," imbuh Leon.
Leon semakin akrab dengan keluarga Rere. Mereka asik mengobrol dan bercanda, Kevin pun turut serta masuk ke dalam ruang tamu dan mengobrol bersama. Hingga tak terasa malam sudah semakin larut, dan akhirnya Leon dan Kevin berpamitan untuk pulang
^^^^^
Annisa tertidur pulas di pelukan suaminya, hingga Arsyad terbangun dari tidurnya karena tangannya merasakan kebas. Ya, Annisa tidur berbantal lengan Arsyad hingga pagi hari menjelang subuh. Arsyad bangun dan pelan-pelan menyingkirkan kepala Annisa dari lengannya. Namun, Annisa semakin mengeratkan pelukannya.
"Hmmpp…" Annisa mengeliat dan memeluka erat tubuh Arsyad serta menenggelamkan wajahnya di dada Arsyad.
"Sayang, kakak mau siap-siap sholat subuh," lirih Arsyad di telinga Annisa.
"Hmmmppp…sudah pagi ya, kak?" tanya Annisa.
"Sudah setengah 5 sayang," jawab Arsyad.
"Annisa masih ngantuk sekali, kak," ucap Annisa. Annisa menenggelamkan kepalanya lagi di dada Arsyad.
"Aduh, tanganku kebas sekali," gumam Arsyad.
Arsyad menekan hidung Annisa hingga Annisa terbangun dan tersenyum manja pada suaminya. Arsyad menyandarkan diri di sandaran tempat tidurnya. Annisa dengan manja langsung duduk di atas pangkuan suaminya dan menghadap ke arah Arsyad. Arsyad menata rambut Annisa yang terlihat acak-acakan, lalu dia mencium kening dan bibir Annisa.
"Kakak mau sholah dulu, sayang," ucap Arsyad.
"Hmmm.....ya sudah, aku juga mau ke dapur nyiapin sarapan," jawab Annisa.
"Tidak usah, kamu tidur lagi saja, aku tau kamu masih mengantuk sekali," tutur Arsyad.
"Iya, kak, aku tidur lagi, ya?"
"Iya, tidurlah, kakak sholat di musholah saja bersama papah dan anak-anak,"
"Iya kakak,"
Arsyad merebahkan tubuh Annsia dan mengecup keningnya juga bibir Annisa. Dia menyelimuti kembali tubuh istrinya yang masih nyaman dengan kasur.
__ADS_1
"Love you Annisa," bisik Arsyad, tapi Annisa tidak menjawabnya karena sudah kembali tertidur pulas.