THE BEST BROTHER

THE BEST BROTHER
S4 Chapter 11 "Ainun Namaku" The Best Brother


__ADS_3

"Dio, kamu lihat Najwa?"tanya Arsyad yang dari tadi mencari Najwa.


"Tidak Abah, di kamar mungkin?" tanya Dio.


"Aku sudah di rumah 20 menit yang lalu, harusnya Najwa sudah di rumah, di mana dia?" gumam Dio.


"Dio tolong telepon Najwa, dia pasti marah dengan Abah," ucap Arsyad yang panik.


Tidak hanya Arsyad yang panik, Dio juga merasakan panik sekali. Dia sudah sampai di rumah 20 menit yang lalu, bahkan Dio sudah bercanda dan mengobrol dengan Raffi, Arkan dan lainnya.


"Abah, memang Najwa tidak pamit mau ke mana?" tanya Dio.


"Tidak, Dio. Mobil Najwa juga tidak ada, ke mana dia? Dia pasti marah dengan abah," ucap Arsyad.


"Kenapa harus marah?" tanya Dio.


"Dia ulang tahun hari ini, Abah melupakannya Dio." Ucap Arsyad dengan gusar menghubungi Najwa yang tidak aktif ponselnya.


"Kamu di mana sayang?" gumam Dio yang juga cemas sekali.


Dio berkali-kali menghubungi Najwa tapi tidak aktif ponselnya. Dio ingin menyusulnya, tapi nanti malah abahnya curiga. Dan akhirnya semua menunggu di rumah dengan membuat kejutan untuk Najwa malam itu.


^^^^^


Najwa duduk di depan mini market yang dekat dengan Rumah Sakit, yang buka 24 jam. Dia meneguk kopinya yang ia pesan tadi. Dia semakin takut pada hubungannya dengan Dio. Dio yang semakin menjerat cintanya Najwa, sedang nasib percintaannya belum tentu direstui oleh orang tuanya.


"Maaf mba, boleh duduk di sini?" tanya seorang pria dengan membawa teh hijau yang ia pesan dari dalam mini market


"Iya, silakan," ucap Najwa yang masih saja memandangi ponselnya yang sengaja di matikan.


"Mba sedang menunggui pasien di sini?" tanya Pria tersebut.


"Tidak, tadi baru pulang dari rumah saudara, mampir di sini dulu." Najwa semakin risih dengan pria itu, tapi dia masih damai duduk di situ dan menikmati kopinya.


"Mba, pecinta kopi hitam?" tanya Pria itu.


"Em, iya," jawab Najwa.


"Perempuan jangan sering minum kopi, Mba," ucap pria itu.


"Ya, memang suka bagaimana lagi?" ucap Najwa dengan agak ketus.


"Huh, dasar orang aneh. Mau aku minum apa bukan urusan kamu, kali," gumam Najwa.


Najwa memandangi ponselnya lagi, ingin dia menghidupkan ponselnya, tapi dia benar-benar ingin menenangkan pikirannya dengan menikmati kopi hitam. Dia tidak ingin pulang, karena mata Najwa masih agak sembab.


Pria di depan Najwa masih menikmati teh hijaunya. Najwa menatap intens pria itu. Pria berkulit putih, hidung mancung, dan berjambang tipis. Najwa melihat pria itu mirip dengan abahnya yang juga memilik jambang. Entah karena Najwa sedang menyesali perbuatannya tadi dan merasa berdosa sekali pada abahnya, jadi melihat pria itu mirip dengan Abahnya


"Abah, pasti khawatir dengan aku," gumam Najwa dan masih melihat pria itu.


"Jangan seperti itu lihatnya,Mbak? Nanti jatuh cinta," ucap pria itu yang dari tadi juga mencuri pandang pada Najwa.


"Eh, siapa yang melihat anda? Jangan kepedean, Mas!" ucap Najwa.


"Jangan jutek gitu dong, Mbak?" ucap pria itu.


Banyak sekali seorang suster yang shift malam yang keluar masuk mini market. Ya, karena mini market ini berada di depan Rumah Sakit, dan banyak sekali orang yang berdagang di depan mini market.


"Malam, Dok," sapa seorang suster pada pria di depan Najwa.


"Malam, Sus," jawab pria itu.


"Hah, Dokter? Pria di depanku seorang Dokter?" gumam Najwa.


Najwa meneguk kopinya kembali dan menikmatinya setiap tegukan yang berhasil menenangkan pikirannya itu.


"Dok, mari duluan," ucap Suster itu


"Iya, sus,"


"Dok, ini calon istrinya?" tanya suster itu dan menunjuk ke arah Najwa..


"Ah ... buk …."


"Iya, sus. Insya Allah," potong pria itu saat Najwa mau berbicara.


"Gila, Dokter gila!" umpat Najwa dalam hatinya.


Pria itu tersenyum puas dan melirik Najwa, lalu para suster cantik tadi meninggalkan mini market.


"Eh, kamu apaan, sih? Sial banget malam ini ketemu kamu, ngaku-ngakuin aku calon istrimu lagi," ucap Najwa dengan kesal.


"Mereka para suster yang menakutkan soalnya, kalau aku jawab bukan, mereka masih mengejar ku," ucapnya.


"Alah, sok ganteng, kamu! Sial hidupku ketemu kamu!" Najwa beranjak dari tempat duduknya. Dan akan kembali pulang.

__ADS_1


"Eh, mbak, jangan marah. Maaf ya, mba. Tapi terima kasih, lho. Mba benar-benar menyelamatkanku," ucap pria itu.


"Terserah!" ucap Najwa dengan kesal sambil mengambil kunci mobilnya.


"Eh, nama mba siapa? Kita belum kenal," ucap pria itu.


Najwa menghentikan langkahnya dan membalikan badannya menatap pria itu.


"Ainun, namaku," ucap Najwa.


"Aku Habibi," ucap pria itu.


"Aku tidak tanya," tukas Najwa.


"Eh, nama kita cocok ya? Habibi - Ainun, jodoh kita, mbak!" teriak Habibi, dan Najwa masih menatap pria itu.


"Jodoh? Mimpi kamu!" ucap Najwa dengan ketus dan sambil berlalu meninggalkan Habibi.


Najwa segera masuk ke dalam mobilnya meninggalkan pria itu. Sebelum melajukan mobilnya, dia melihat lagi pria yang bernama Habibi itu.


"Huh, mau Habibi, kek. Habibah, kek. Bodo amat!" Najwa melajukan mobilnya untuk pulang ke rumahnya.


^^^^^


P.O.V (Rafiq Akmal Habibi)


Rafiq Akmal Habibi adalah seorang dokter spesialis anak, yang bertugas di salah satu rumah sakit swasta. Dokter tampan yang ramah dan humoris itu bekerja di Rumah Sakit yang berada di depan mini market tempat tadi bertemu Najwa. Malam ini dia baru saja pulang dari seminar dengan Ikatan Dokter Anak Indonesia di luar kota. Dan, dia mampir sebentar di mini market untuk melepas penatnya karena baru saja perjalanan jauh.


Dokter yang akrab di sapa Dokter Akmal itu, adalah salah satu Dokter yang digandrungi para wanita cantik entah itu perawat atau Dokter. Namun, belum ada satupun yang berhasil meluluhkan hati Dokter tampan itu.


"Ainun, nama yang indah, seperti wajahnya yang cantik, indah dan meneduhkan jiwa. Semoga bisa bertemu lagi Ainun," gumam Dokter Akmal.


Akmal menghabiskan teh hijaunya, dan setelah itu, dia masuk ke dalam mobilnya dan melajukannya untuk pulang. Wajah Najwa masih saja terlintas di matanya. Wajah yang ayu dan meneduhkan itu, membuat dirinya tidak konsentrasi untuk mengemudikan mobilnya.


"Ainun, entah kapan kita akan bertemu lagi, karena minggu depan aku harus segera ke luar negeri, aku akan bertugas di sana. Tapi, aku yakin, kamu adalah takdirku, Ainun. Karena aku percaya Ainun adalah cinta sejatinya Habibi. Oh … Akmal, sejak kapan kamu jatuh cinta. Fokus Akmal, kamu adalah Dokter Muda yang karirnya sedang berbinar. Sudah, jangan mikir Ainun dulu, nanti juga ketemu lagi, kalau dia jodohmu," gumam Akmal yang baru saja merasakan jatuh cinta pada wanita.


^^^^^


Najwa sampai di depan rumahnya. Malam ini memang suasana masih berbau pesta pernikahan. Arsyad yang kala itu melihat mobil putrinya kembali, dia langsung beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri Najwa. Najwa yang baru saja keluar dari mobilnya langsung di rengkuh oleh Arsyad yang dari tadi cemas dan mengira Najwa marah karena dia melupakan hari ulang tahun Najwa.


"Ya Allah, Nak. Kamu dari mana? Abah khawatir dengan kamu. Semua menelepon mu, tapi nomormu tidak aktif. Kamu dari mana? Maafkan Abah, sayang." Arsyad memeluk erat putrinya itu, dia sedikit mengusap bulir air mata yang keluar dari sudut matanya.


"Abah, Najwa habis keluar, menemui teman Najwa. Dan tadi mampir untuk ngopi sebentar di cafe, Abah." Najwa berkata sambil mengeratkan pelukannya pada abahnya.


"Abah kok nangis?" Najwa mengusap air mata abahnya yang sudah menetes di pipinya.


"Maafkan abah sayang, maafkan Abah." Air mata Arsyad tumpah lagi dan mencium kening Najwa. Dia menyesal tidak ingat hari ulang tahunnya.


"Ini jam berapa?"tanya Arsyad.


"Jam 11 lebih 55 menit, Abah," jawab Najwa.


"Alhamdulillah, masih ada waktu 5 menit lagi. Selamat ulang tahun, Sayang. Semoga apa yang kamu impikan bisa terwujud." Arsyad memeluk Najwa kembali. Najwa tidak menyangka abahnya sekhawatir ini dan setakut ini saat melupakan ulang tahunnya.


"Abah, terima kasih. Aamiin, semoga semua Do'a Najwa dan juga doa Abah terkabulkan. Abah jangan nangis lagi." Najwa menyeka lagi air mata abahnya.


"Abah menyesal, Abah lupa ulang tahun putri Abah yang cantik ini," ucap nya.


"Abah, Najwa juga tidak ingat, kalau teman Najwa tidak mengucapkannya, Najwa juga lupa Abah," ucap Najwa.


"Teman atau pacarmu?" tanya Arsyad menggoda.


"Teman, Abah," ucap Najwa meyakinkan. Padahal yang mengingatkan adalah Dio.


"Sudah jangan berdebat kalian, sini peluk opa. Cucu opa sudah 25 tahun lho, mana calon suaminya?" ledek Rico pada Najwa.


"Opa, jangan seperti itu. Najwa belum memikirkan itu," ucap Najwa.


"Do'akan saja, opa," imbuh Najwa.


"Opa selalu mendo'akanmu, biar mandapat laki-laki yang shalih, bisa menuntun kamu, dan memiliki karir yang bagus tentunya. Kalau bisa seorang Dokter," ucap Rico yang tiba-tiba ingin sekali cucunya bersuami seorang Dokter.


"Dokter? Sejak kapan keluarga Alfarizi mau berbesanan dengan seorang ahli medis?" Najwa kaget dengan kata-kata opanya itu, yang tiba-tiba menginginkan Najwa bersanding dengan seorang Dokter. Tidak seperti lainnya yang semuanya menekuni dunia bisnis, dan memiliki perusahaan besar.


"Sekali-kali, opa ingin sekali cucu opa yang belum pada menikah ini mendapatkan pasangan ahli medis," jawab Rico


"Opa ada-ada saja," ucap Najwa.


"Siapapun jodoh Najwa nanti, semoga dia menjadi suami yang bisa membimbing Najwa menjadi lebih baik, opa." Najwa memeluk opanya dengan erat. Rico mencium kening Najwa.


Annisa memeluk Najwa dan mengucapkan selamat ulang tahun dan mendoakan Najwa. Sesekali air mata Annisa menetes mengingat kisah cinta Najwa dengan Dio yang terlalu rumit sekali.


"Bunda jangan menangis, kok semua menangis, sih. Ini kaamn hari bahagianya Najwa," ucap Najwa.


"Bunda sayang Najwa. Semoga kamu mendapatkan pria yang baik, Nak. Dan, semoga Do'a opa terkabul." Annisa memeluk kembali Najwa, mencium kening Najwa.

__ADS_1


"Kak, semoga kakak menemukan laki-laki yang bisa membimbing kakak dunia akhirat, dan yang pasti Abah, bunda, dan opa merestuinya. Karena tanpa restu mereka semua akan sia-sia, kak," ucap Raffi.


"Iya, terima kasih, Raff."


Semua mengucapkan pada Najwa. Rania belum keluar dari tadi karena dia menyiapkan kue ulang tahun seadanya di dapur. Ya, kue yang tadi belum di keluarkan sebagai hudangan saat resepsi pernikahan Shifa, berhasil dihias Rania dengan telaten di dapur untuk menyambut ulang tahun sahabatnya. Kue itu juga yang membuat Rania. Dia memang jagonya membuat kue, tapi setelah membuat dia sama sekali tidak mau memakannya.


Rania keluar membawa kue ulang tahun yang ia buatkan khusus untuk Najwa. Malam ini Rania menginap di rumah Najwa. Najwa terkejut karena Rani keluar dari dalam membawakan kue ulang tahun untuk dirinya.


"Happy birthday, Sayang." Rania membawakan kue tanpa lilin ke depan Najwa.


"Rania, kamu masih di sini?" tanya Najwa.


"Iya, kamu dari mana, dari tadi semua orang merasa khawatir pada kamu. Pamit kenapa kalau mau keluar?" ucap Rania.


"Ada urusan mendadak, Rania," ucap Najwa.


"Ya sudah, make a wish dulu, dong. Lalu potong kuenya," ucap Rania.


Najwa menuruti perinta Rania, dia menutup matanya dan Berdo'a di dalam hatinya.


"Jika Dio, adalah jodohku, permudahkan kami untuk mengikat tali suci cinta. Jika tidak, lapangkanlah hatiku, dan pisahkanlah kami dengan cara sebaik-baiknya perpisahan." ucap Najwa dalam Do'anya.


Najwa memotong kuenya dan memberikan potongan pertama pada Arsyad lalu menyuapinya. Semua berkumpul bersama di teras rumah. Hanya Shifa dan suaminya yang dari tadi belum keluar dari kamar. Bahkan dia tidak tahu, kalau semua mencari Najwa yang menghilang entah ke mana.


"Ih … kok masih rame," ucap Shifa yang keluar dengan Fattah dan bergabung di teras rumah.


"Hmmm … pengantin baru, ketinggalan. Enak sih ya, ada yang menemani di kamar, jadi lupa sama kita," ucap Dio dengan senyum meledek Kakaknya.


"Serius ini ada apa? Kok sepertinya bahagia sekali? Terus itu kue ulang tahun?" tanya Shifa penasaran dan sambil berpikir siapa yang ulang tahun.


"Ya Allah, Najwa…! Maaf aku lupa, selamat ulang tahun, Sayang." Shifa memeluk Najwa dengan erat sambil menciumi pipi Najwa.


"Shifa … aku tidak bisa bernapas ini." Najwa melepaskan pelukan Shifa yabg sangat erat.


"Ehh rambutnya basah, berapa ronde," bisik Najwa pada Shifa.


"Apaan, sih. Nanti juga kamu ngalamin, jadi jangan kepo," ucap Shifa.


"Ketahuan deh tidak keluar dari kamar habis ngapain, berapa ronde nih, Mas," ucap Dio meledek Kakak iparnya.


"Wah … berkali-kali, kamu juga nanti tahu," ucap Fattah.


"Sudah, kalian juga kalau sudah menikah merasakan, tapi jangan coba-coba sebelum menikah," sahut Rico.


"Tuh, dengar ucapan opa, Dio," timpal Raffi.


"Kamu juga dong, jangan aku aja," ucap Dio.


"Kamu yang pacaran, tuh," ucap Raffi.


"Pacaran sama siapa?" Dio berkilah.


"Memang hubungan tidak jelas, ya sudah. Tidak akan pernah nampak," gumam Najwa.


"Jangan ribut, tidak Dio, Raffi, Arkan, Najwa, dan semua yang ada di sini. Jangan coba-coba merasakannya sebelum menikah," ucap Arsyad.


"Siap, Abah," ucap Raffi.


Najwa hanya terdiam mendengar penuturan abahnya. Dia semakin merasa bersalah dan berdosa sudah melakukan semua itu pada Dio. Walau hanya bagian tubuh atas yang terjamah oleh tangan dan kecupan Dio.


"Ya Allah, aku harus bagaimana? Akau tidak bisa seperti ini terus," gumam Najwa.


Rico memerhatikan wajah Najwa yang sedikit gundah karena memikirkan apa yang Arsyad katakan. Rico kembali meledek cucunya yang mulai suram wajahnya.


"Najwa, kamu melamun, Nak? Pasti lagi mikir kalau kamu punya suami Dokter," ledek Rico.


"Opa, lagi-lagi seperti itu bilangnya." Najwa bergelayut manja pada opanya.


"Siapa? Najwa pacarnya Dokter? Wah …keren, kenalin dong," ucap Rania.


"Diam-diam kamu, ya? Gak cerita kalau pacarnya Dokter, dan keluarga kita akan kedatangan seorang ahli medis. Parah kamu Najwa. Berbeda sendiri," imbuh Shifa.


"Kalian itu, ya. Jangan dengarkan opa bicara," ucap Najwa.


"Ehh…tapi senang lho, punya suami dokter," ucap Rania.


"Kamu saja sana, kalau dokternya seperti ah sudah jangan bahas ini," ucap Najwa.


"Seperti siapa, hayo?" ledek Shifa.


"Seperti siapa, ya? Ah sudah jangan bahas ini, aku tidak memiliki kekasih, udah ah, kenapa sih kalian meledek aku terus. Opa, sih," ucap Najwa dengan sebal karena ingat Dokter Habibi yang baru saja bertemu tadi.


Najwa melihat abahnya, yang sedang meneguk kopinya. Dia tidak menyangka kalau wajah abahnya hampir mirip dengan Dokter gila tadi yang ia temui di depan mini market.


"Kok iya, sama seperti Abah wajahanya. Mirip, hampir sih, ya masih tampan abahku," gumam Najwa.

__ADS_1


__ADS_2