
Aku meletakan tas ku di lemari kecil di pojok ruang kerjaku, pikiranku di buat kalut oleh Zidane, dia selalu memojokan aku di suruh menikah lagi, dengan alasan masih muda lah, apa lah. Apalagi paman dan Alvin, pasti setiap hari memperlihatkan foto pria untuk di jodohkan denganku, ada yang pengusaha, pemilik ponpes di Indonesia. Ada juga orang kaya raya sekali. Iya mereka semua tampan-tampan, Arsyil bahkan kalah tampannya. Tapi tidak bisa menggantikan Arsyil sebagai raja di singasana hatiku.
Hari ini pekerjaanku sangat menumpuk, aku benar-benar tidak konsentrasi dengan semua pekerjaanku, dari tadi hanya memandangi ponselku yang berisi foto-foto aku dan Arsyil dari pertama kita pacaran hingga Arsyil meninggalkan kami.
"Ya Allah, begitu besar rasa ini untuk Arsyil, aku tidak bisa, menggantikan siapapun di hatiku, sayang."ucapku lirih, tak terasa air mataku mengalir deras di pipi.
"Kamu kenapa menangis?"tanya Alvin yang tiba-tiba masuk membawakan coklat hangat untukku.
"Ketuk pintu dulu dong, Vin, kalau mau masuk."tukas ku sambil mengusap air mataku.
"Nih coklatnya, emang aku OB atau karyawan lain? Harus ketuk pintu dulu. Kamu nangis kenapa? Ingat Arsyil?"tanya Alvin.
"Huh…"aku menghembuskan nafasku dengan kasar.
"Nis, sudah, jangan di ingat terus, simpanlah Arsyil di lubuk hatimu paling dalam, boleh ingat dan mengenangnya, tapi jangan nangis seperti ini."ucap Alvin.
"Entahlah, Vin."ucapku sambil meneguk coklat hangat yang di bawakan Alvin.
"Eh…kenapa yang bawa coklat ini kamu?"tanya ku pada Alvin
"Iya, tadi ketemu Juan mau mengantarkan ini, katanya kamu minta dengan OB. Lalu Juan yang mengantarkannya."jawab Alvin.
"Kok Juan?"tanyaku.
"Iya, makanya aku yang bawa, takut di apa-apain sama Juan, tau sendiri dia suka denganmu. Gak guna banget tuh Zidane, kenapa karyawan seperti Juan masih diprtahankan di sini."ucap Alvin.
"Mungkin Zidane merasa kasihan, kalau harus ngeluarin Juan."ucap ku.
Juan, salah satu karyawan kantor di bagian keuangan, memang dia sangat berperan di perusahaan, kerjanya bagus, dan karirnya juga baik. Banyak wanita yang menggandrungi Juan di kantor. Tapi belum ada yang bisa menaklukan hati Juan. Dengan kedatanganku di sini, aku selalu menjadi sorotan para wanita yang menyukai Juan, terutama sekretaris pribadi Zidane, dia seperti memusuhiku. Karena Zidane dekat denganku.
__ADS_1
"Bukan sepeti itu, Nis. Di sini nama kamu menjadi tercemar juga karena Juan selalu mendekatimu. Lihat Laura sekretaris pribadi Zidane, kamu tau, dia bilang kamu apa?"tanya Alvin.
"Iya aku tau, dia selalu saja begitu, biarlah."ucapku.
"Nis pecat saja kenapa sih? Kamu kan berwenang di sini."ucap Alvin.
"Kamu jangan bodoh, semua orang butuh pekerjaan, dan mencari pekerjaan itu sulit. Mana mungkin aku memecat karyawan karena masalah sepele."ucapku.
"Nis, ini tidak sepele."tukas Alvin.
"Lalu? Masalah apa?"tanyaku.
"Sudahlah, Vin. Kamu masuk ke sini cuma mau bahas Juan dan Laura? Tidak penting tau. Nih lebih penting, bantuin aku mengerjakan file-file ini. Aku tidak bisa berfikir."ucap ku sambil meletakan setumpuk dokumen di depan Alvin.
"Nisa…Nisa...kamu itu, ya sudah aku bawa ke ruanganku. Terima kasih bos, kerjaannya."ucap Alvin sambil berlalu meninggalkan ruanganku.
"Huh….belum kelar masalah Leon nanti malam, ini Juan."ucapku lirih.
"Masuk..."sahutku.
"Annisa, ini laporan keuangan satu Minggu ini." Juan memberikan laporan keuangan pada ku.
"Kenapa harus ke saya? Kan ada Zidane?"tanya ku.
"Biasanya juga, dari Pak Zidane di suruh bawa ke sini."ucpanya
"Ya sudah letakan saja, kamu boleh keluar."tukas ku.
"Jangan galak-galak dong, Nis."ucap Juan.
__ADS_1
"Kamu tidak dengar, Juan? Aku menyuruh kamu keluar dari ruanganku."ucapku dengan nada marah. Sebelum Juan pergi, seseorang mengetuk pintu ruanganku, dan aku mempersilahkan dia masuk.
"Ada apa Laura?"tanyaku. Dia langsung menekuk wajahnya melihat Juan di ruanganku.
"Ini berkas dari Pak Zidane."ucap Laura dengan kasar menaruh berkasnya.
"Bisa sopan sedikit, nona Laura?"ucapku.
"Yang tidak sopan anda. Membiarkan Juan masuk dan berlama-lama di ruangan Anda."ucapnya.
"Berani sekali dia berkata seperti itu."ucapku dalam hati.
"Kalian semua keluar dari sini. Dan kamu Laura, bawa file ini pada Zidane, Karena tadi Juan salah menaruh laporannya. Kalian keluarlah dari ruangan saya."ucapku dengan nada tinggi.
Laura selalu membuat keributan, iya memang, perusahaan ini adalah wewenang ku, tapi lebih berkuasa adalah Zidane, aku tidak bisa semena-mene di sini, apalagi aku orang baru di sini biarlah mereka selalu meremehkan ku ataupun memaki bahkan mencaciku, sebagai janda tidak baik. Aku tak peduli itu, aku pergi ke Berlin, untuk menenangkan diriku, karena aku tidak mau merusak rumah tangga Kak Mira dan Kak Arsyad.
Sakit saat keputusan ini aku buat, aku harus meninggalkan rumah suamiku, rumah yang dia kasih untukku. Mendesain rumah sesuai apa yang aku inginkan. Rada sesakndi dadaku semakin bertambah sekali, aku mesih belum bisa melupakan Arsyil, karena setiap hembusan nafasku Arsyil selalu ada.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
♥️happy reading♥️