
"Kak…."panggil Annisa pada suaminya yang sedang duduk di sebuah bangku tak jauh dari dirinya yang sedang asik memetik bunga
"Apa, jangan di petik bunganya, sayang. Itu kan ada tulisannya, di larang memetik atau menginjak bunga, sayang,"ucap Arsyad.
"Ups, aku tidak lihat, tapi ini cantik sekali bunganya, kak,"ucap Annisa yang berjalan mendekati Arsyad.
Arsyad menarik tubuh istrinya agar mendekatinya. Dia duduk sambil merangkulkan tangannya ke pinggang Annisa yang berdiri di depannya. Arsyad mendongak menatap wajah Annisa yang ada di depannya. Dengan gemas Annis memegang pipi Arsyad dan mencubitnya.
"Sakit, sayang,"ucap Arsyad.
"Kamu gemesin banget, kak. Aneh, dulu kamu tidak setampan ini,"ucap Annisa.
"Ya iyalah, dulu kamu masih memiliki Arsyil, ya jelas orang tertampan di depan kamu adalah Arsyil, Nis,"ucap Arsyad.
"Sudah jangan bicara itu, suamiku semuanya tampan. Kakak tau, mungkin aku wanita yang paling beruntung di dunia ini, karena aku memiliki kakak,"ucapnya.
"Gombal kamu, Nis." Arsyad menarik hidung Annisa dengan lembut.
"Biarin, dari pada kakak gak suka gombal,"ucapnya.
"Kakak tidak bisa seperti itu, sayang." Arsyad dengan manja menenggelam kan wajahnya di perut Annisa.
"Geli, kakak. Ini di luar, jangan seperti ini,"ucap Annisa.
"Kalau di dalam mau?"tanya Arsyad.
"Ehem…kalau di dalam urusannya beda, kak,"jawab Annisa.
"Kamu bisa saja, nis. Kapan ya, ada dedek bayi di perut kamu, Nis,"ucap Arsyad.
"Semoga secepatnya, kak. Aku sudah tua, aku ingin secepatnya punya anak lagi, lucu kali ya,"ucap Annisa.
"Apalagi kembar ya, Nis,"ucap Arsyad.
"Iya, kak. Baby twins cewek ya?"pinta Annisa.
"Cowok atau cewek yang penting ibu dan dedek bayinya sehat, sayang,"ucap Arsyad.
"Iya, kak. Kak ke vila yuk, aku lapar,"pinta Annisa.
"Ya sudah, yuk." Arsyad menggandenga tangan Annisa dan berjalan di samping istrinya.
Arsyad dan Annisa tak henti-hentinya mengobrol banyak hal sambil berjalan menuju ke Vila. Mereka pasangan yang sangat serasi sekali. Hingga banyak orang yang melihatnya begitu iri, apalagi semua pengunjung rata-rata remaja perempuan, atau orang dewasa yang belum menikah. Mereka melihat Annisa dan Arsyad dari tadi sangat romantis dan bahagia.
"Pak Arsyad," panggil seorang wanita yang sangat mengenali Arsyad.
Arsyad dan Annisa menoleh bersama ke sumber suara. Seorang wanita cantik, berambut panjang itu melambaikan tangan dan berjalan menuju Annisa Dan Arsyad.
"Pak Arsyad, kan?"tanya wanita tersebut.
"Iya, maaf nona siapa, ya?"tanya Arsyad.
"Pak Arsyad lupa?"tanya wanita itu.
"Sebentar-sebentar, saya juga pernah lihat nona, tapi di mana ya, saya lupa,"ucap nya.
Annisa menatap wanita itu dengan tidak suka dari ujung kepala hingga ujung kaki. Annisa juga tak asing dengan wanita yang ada di depannya tersebut. Annisa mencoba mengingatnya kembali siapa wanita yang ada di depannya itu.
"Kamu Farina? Kakak tingkatku dulu?"tanya Annisa.
"Ah…iya benar. Maaf kok anda mengenal, saya?"tanya Farina yang merasa heran dengan wanita di samping Arsyad.
Annisa semakin mengeratkan gandenan tangan suaminya. Dia menjabat tangan dengan Farina yang masih saja menatap Annisa dengan tidak senang.
"Aku Annisa, istrinya Pak Arsyad Alfarizi, beliau dosen kamu juga, bukan?"tanya Annisa.
"Apa Kak Farina yang cantik ini masih ingat dengan saya, gadis manja, yang di sukai Andra waktu itu?"tanya Annisa lagi dengan nada sedikit tinggi.
"Ah….sebentar….sebentar…" Farina memikirkan ucapan Annisa, dia tidak percaya kalau Annisa yang sering ia anacam dulu, karena dia adalah cewek manja di kampusnya, terlebih Annisa adalah gadis cantik waktu itu yang banyak di gandrungi oleh kaum Adam di kampusnya.
"Ah…Annisa, iya aku ingat, kamu Annisa geng nya cewek manja itu?"tanya Farina dengan nada yang sedikit mengejek.
"Yups, benar sekali, yang dulu pernah di kunci kamu di gudang belakang, karena aku ke kampus dengan Andra, dan dengan sangat cemburu kamu mengunci aku di gudang hingga sore hari. Bagaimana Andra? Apa sudah bisa kamu miliki? Tidak kan? Dia lebih memilih pergi jauh dari kamu." Annisa sedikit cetus kata-katanya.
"Ah…sudah…sudah….kalian ternyata saling mengenal, dan mohon maaf, nona Farina, saya sedikit lupa dengan anda,"ucap Arsyad.
"Farina, pak. Pak Arsyad lupa? Dulu bapak dosen pembimbing Farin," ucapnya.
"Oh, mungkin iya. Sungguh saya lupa, Farin." Arsyad sudah merasa tidak nyaman dengan Farin, apalagi melihat Annisa yang sepertinya juga tidak menyukainya.
"Ya sudah, saya dan istri mau kembali ke Vila dulu, karena kami belum sarapan pagi,"ucap Arsyad.
"Ah…iya, Pak. Jadi benar Annisa istri bapak?"tanya Farina.
"Benar, dia istri saya. Dia juga dulu mahasiswa saya,"ucap Arsyad.
"Oh…" ucap Farina seakan tidak percaya.
"Mari, Farin, kami permisi dulu," pamit Arsyad.
"Emmm…baiklah,"ucap Farina.
Arsyad berjalan di sisi Annisa, dia merangkul istrinya dan menarik tubuh Annisa agar lebih dekat dengannya. Arsyad menyandarkan kepala Annisa di dadanya. Dia tau, istrinya agak cemburu dengan Farina. Arsyad mengusap kepala istribya dengan manja karena Annisa masih saja terlihat cemberut.
"Sudah jangan cemberut, aku saja tidak tau dia, kamu kan yang mengenalnya, malah cemberut," ucap Arsyad sambil menyentuh pipi Annisa.
"Huh…." Annisa membuang napasnya dengan kasar.
"Aku tuh kalau ingat kejadian dulu waktu aku baru jadi mahasiswa kesel tau, kak. Apalagi dia semena-mena sekali, kak. Mentang-mentang cantik dan terkenal di kampus, jadi seenaknya saja,"ucap Annisa kesal.
"Masa iya, dia seperti itu?"tanya Arsyad.
"Iya, kak," ucap Annisa manja.
"Sudah jangan ngambek, sini kakak gendong, kakak tau kamu lelah, di tambah sebel dengan perempuan tadi,"ucap nya.
"Sini naik," titah Arsyad sambil berjongkok agar Annisa naik ke punggungnya.
Annisa naik ke punggung Arsyad, dia merasa Arsyad benar-benar memanjakannya.
"Nis jangan ngambek dong, lagiyan kakak tidak kenal dengan wanita tadi, Nis,"ucap Arsyad.
"Nisa takut, kak. Dia orangnya nekatan sekali,"ucap Annisa.
"Kamu takut terejadi seperti dulu, yang kamu katakan tadi? Berani macam-macam dengan Alfarizi, berarti dia mau cari cacatnya sendiri, Annisa,"ucap Arsyad.
"Jangan takut, ada kakak. Oh ya, Nis, apa Andra kekasihmu dulu sebelum Arsyil?"tanya Arsyad.
__ADS_1
"Jangan tanya itu, kak,"ucap Annisa.
"Kenapa? Jujur saja kakak tidak marah,"ucap Arsyad.
"Iya nanti akan Annisa ceritakan, kita sarapan dulu, kak. Annisa lapar,"ucapnya.
"Oke, sepertinya sudah mulai ada dedek di perut kamu, Nis,"ucap Arsyad.
"Baru saja sehari di sentuh kakak, masa iya langsung hamil. Ajaib dong kak kalau gitu,"ucap Annisa.
"Bisa saja kalau kamu pas masa subur,"ucap Arsyad.
Arsyad menggendong Annisa hingga sampai di depan Vilanya. Mereka tak menyadari jika mereka ada yang mengikutinya hingga di depan Vila. Siapa lagi kalau bukan Farina. Iya, dia mengikuti Annisa dan Arsyad hingga sampai di depan Vilanya. Arsyad menurunkan Annisa dari gendongannya. Annisa hendak berjalan di mendahului Arsyad, tapi tangan Arsyad menarik Annisa hingga Annisa jatuh dalam pelukannya.
"Kakak, Annisa sudah lapar sekali,"ucap Annisa manja.
"Sebentar, kasih ciuman dulu, kan sudah kakak gendong,"ucap Arsyad.
"Hmmm jadi harus ada imbalannya, nih?" ucap Annisa dengan menggoda suaminya.
"Tidak imbalan sih, cuma aku ingin kamu nyium kakak saja," ucap Arsyad.
Annisa mengalungkan tangannya ke leher Arsyad, dia berjinjit mencium bibir suaminya dengan mesra. Mereka tidak peduli kalau mereka ada di depan Vila. Annisa mencium bibir suaminya agak lama hingga mereka sadar, karena Pak Rahman penjaga Vila berdehem di sampingnya.
"Ehh…bapak,"ucap Arsyad dengan malu.
"Buah jatuh memang tak jauh dari pohonnya, Mas Arsyad,"ucap Pak Rahman.
"Maksud bapak?"tanya Annisa dan Arsyad bersama.
"Ya dulu Pak Rico dan Bu Dinda selalu mesra seperti ini, seperti Mas Arsyad dan istrinya, saya sampai senang melihatnya, karena sangat harmonis sekali. Tidak ku sangka, ternyata Bu Dinda sakit dan di usia yang masih muda, dia sudah menghadap Tuhan,"ucap Pak Rahman.
"Papah dan mamah sering ke sini, Pak?"tanya Arsyad.
"Iya, sebelum kamu lahir, mereka sering datang ke sini. Dan terakhir ke sini waktu kamu masih bayi,"ucap nya.
"Oh…seperti itu, ya sudah Pak, kami permisi mau sarapan dulu,"pamit Arsyad.
"Oh, iya. Silakan, mas,"ucap Pak Rahman.
Arsyad sebenarnya tau, ada Farina yang mengikutinya. Arsyad sebenarnya ingat siapa Farina sebenarnya. Dia gadis yang sangat menyukainya dulu, bahkan Farina sering mengirim surat saat dia melakukan bimbingan dengan Arsyad. Memang Arsyad dosen tertampan dan termuda di kampus. Tak heran semua mahasiswi menggandrungi dia dan mengaguminya. Salah satunya adalah Farina, dia mahasiswi yang tak gentar mengejar Arsyad. Hingga dia lulus kuliah, dan sebelum wisuda, Farina nekat menyatakan cinta pada Arsyad lewat sebuah suratnya. Arsyad sama sekali tak menanggapinya. Bagi dia, sebelum mengenal Annisa, perempuan tidak memiliki arti apa-apa di hidupnya, kecuali ibu dan adik perempuannya.
"Mau apa kamu mengikuti kami, Farina? Mau memelas denganku lagi seperti dulu? Hah, jangan harap kamu bisa memisahkan kami,"gumam Arsyad sambil memandang ke pintu gerbang.
Mereka berdua menikmati sarpaan pagi. Annisa terlihat lahap sekali menikmati hidangan yang di siapkan di Vila. Arsyad sampai terheran-heran melihat istrinya makan dengan lahapnya.
"Hati-hati sayang, jangan gugup makannya. Aku tidak akan merebut makananmu,"ucap Arsyad.
"Aku lapar sekali, kakak. Coba banyangkan, semalam makan malam aku makan sedikit sekali, dan setelah makan malam kita bermain sampai pagi, lapar, kan?"ucap Annisa.
"Jadi ini buat stok nanti?"goda Arsyad.
"Bisa jadi, kak,"ucapnya dengan tersenyum.
Annisa dan Arsyad sudah selesai sarapan pagi, dia kembali ke kamarnya untuk mandi dan menikmtai hari di dalam kamar. Arsyad berpapasa dengan seorang pelayan saat berjalan ke arah kamarnya. Arsyad memanggil pelayan tersebut hingga pelayan tersebut menghentikan langkahnya.
"Mba, sebentar,"panggil Arsyad.
"Iya, tuan. Ada apa?"tanya pelayan tersebut.
"Mba, buatkan kami susu coktat dua gelas lalu sandwich untuk kita berdua dan air putih, bawakan ke kamar ya mba," pinta Arsyad.
"Kak, buat apa minta di buatkan susu dan sandwich?"tanya Annisa.
"Buat jaga-jaga, kali aja kamu kelaparan sehabis bermain lagi,Nis,"ucap Arayad.
"Mau mainan lagi?"tanya Annisa.
"Buat apa kita di sini, kalau tidak kita puas-puasin, sayang,"ucap Arsyad sambil menyandarkan Annisa di dinding.
"Oke, kita bermain hingga malam,"ucap Annisa dengan melingkarkan tangannya ke bahu Arsyad dan mencoum lembut bibir Arsyad.
"Yakin, kamu kuat?"tanya Arsyad.
"Untuk suamiku, aku akan melakukan hingga kamu puas, sayang,"ucap Annisa dengan manja.
"Kamu selalu membuat darahku mengalir lebih cepat, Annisa,"ucapnya. Arsyad langsung mencium bibir Annisa dengan lembut. Annisa menikmtaniya hingga di lorong yang sepi itu terdengar nyaring kecapan mereka berdua. Beruntung tak ada satupun pelayan yang melewatinya.
"Kakak, jangan di sini, ayo ke dalam,"ajak Annisa dengan manja.
Annisa merasa dirinya selalu bergairah dengan Arsyad. Hanya di sentuh sedikit saja dia langsung ingin menikmati lebih dalam lagi. Apa karena Arsyad terlalu memanjakannya atau entahlah, Annisa juga merasa heran dengan dirinya sendiri. Padahal sejak bersama Arsyil, dia tidak seperti sekarang ini. Dia juga selalu menjaga hubungan fisik dengan Arsyil. Apalagi mereka dua orang yang sangat sibuk sekali saat dulu.
"Aku tak tau, gairahku selalu muncul saat sedikit di sentuh oleh Kak Arsyad. Aku merasakannya saat pertama dia menyentuhku di mobil, dan saat itu kami berciuman agak lama. Aku benar-benar nyaman sekali berhubungan dengan Kak Arsyad,"gumam Annisa.
"Annisa, dia pandai sekali bermain di atas ranjang, dia membuatku selau ingin, ingin, dan ingin lagi. Dia benar-bemar pandai mengimbangi permainanku,"gumam Arsyad.
^^^^^^
Di depan Vila, seorang wanita sedang berbicara dengan penjaga Vila milik Rico. Siapa lagi kalau bukan Farina, dia benar-benar penasara, bagaimana bisa Annisa menikah dengan dosen yang dulu ia cintai. Setelah dia berhasil menyingkirkan Annisa dan menyuruh Annisa menjauh dari Andra. Kini dia di buat kalah lagi dengan sosok Annisa yang sekarang menjadi istri dosen yang ia cintai.
Farina bertanya dengan seorang penjaga Vila yang dintemoati oleh Arsyad dan Annisa. Dia berniat untuk menyewa kamar di Vila itu. Dia tau, Vila ini adalah Vila termewah di sekitar taman bunga.
"Selamat pagi, pak. Apa masih ada kamar kosong di Vila ini?"tanya Farina pada penjaga Vila.
"Maaf untuk tiga hari ke depan Vila ini tidak di sewakan dulu, karena pemilik Vila ini masih menggunakan Vila ini untuk berbulan madu anaknya,"ucap penjaga Vila tersebut.
"Sebentar….sebentar….tadi aku lihat temanku ada di dalam, namanya Annisa,"ucap Farina.
"Oh, iya. Nyonya Annisa dan Tuan Arsyad, suaminya sedang memakai Vila ini, Tuan Arsyad anak dari pemilik Vila ini, nona,"ucap penjaga Vila.
"Oh…seperti itu. Lalu ada Vila lagi di sebelah mana ya, pak?'tanya Farina.
"Vila milik tuan Arsyad sudah full semua, yang di sebelah sana juga sudah Full, nona. Biasa mendekati Weekend pasti ramai pengunjung,"ucap penjaga vila.
"Baik pak, terima kasih,"ucapnya.
Farina kembali menemui teman-teman kantornya, padahal dia sudah menyewa Vila bersama teman kantornya. Cuma dia ingin mencari tau, kenapa Arsyad bisa menikahi Annisa.
"Kenapa kemenangan selalu berpihak pada Annisa, dulu Andra, sekarang Pak Arsyad,"gumamnya sambil berjalan ke arah teman-temannya yang sedang asik berfoto.
"Hey, kamu dari mana, Rin?"tanya salah satu teman Farina.
"Cari sesuatu," jawab Farina.
Farina semakin tak mengerti, kenapa dirinya selalu saja bersaing dengan Annisa. Dulu sewaktu dia sudah dekat dengan Andra, Andra malah berpaling dan mendekati Annisa. Andra hanya menganggap Farina adalah sahabat terbaiknya, tidak lebih dari itu. Hingga pada akhirnya Andra meninggal karena kecelakaan saat akan pergi ke kampus. Mulai dari itu, Farina sangat mengagumi Arsyad.
^^^^^^
__ADS_1
Annisa terliht melamun setelah dia selesai mandi. Dia duduk di sofa sambil menyandarkan dirinya. Sejenak dia mengingat Andra. Laki-laki yang juga pernah singgah di hatinya, sebelum ia mengenal Arsyil dan Arsyad. Andra adalah kekasih Annisa yang tak berlangsung lama saat itu.
*Flashback On*
Hari itu, adalah hari pertama Annisa kuliah setelah ospec. Annisa berlari karena sudah terlambat mengikuti kelas. Hingga seseorang pria memerhatikan dia dari kenjauhan. Ya, pria itu adalah Andra, sahabat Farina, kakak tingkat Annisa. Semenjak itu, Andra mencari tau tentang Annisa. Hari demi hari dia diam-diam mengikuti Annisa dan mengintai Annisa. Dan, pada Akhirnya dia berhasil mendekati Annisa. Mereka berkenalan dan semakin akrab.
"Hai," sapa lelaki yang sok akrab di depan Annisa saat dia berada di taman kampus.
"Hai, ada apa?"tanya Annisa.
"Boleh, aku duduk di sini?"tanya pria itu.
"Boleh, silahkan,"ucap Annisa dengan cuek.
Mereka saling diam, Annisa masih berkutat dengan buku yang ada di tangannya. Pria itu terus memandangi Annisa yang sedang sibuk membaca buku.
"Ada apa lihat-lihat?"tanya Annisa dengan sinis.
"Emm…kamu anak hukum?"tanya pria itu.
"Iya, kenapa?"jawab Annisa.
"Kamu baru semester awal?"tanya Pria itu.
"Iya, dari mana kamu tau?"tanya Annisa.
"Aku Andra, aku juga anak hukum, aku kakak tingkatmu, kamu Annisa, bukan?" Andra memperkenalkan dirinya.
"Iya, aku Annisa. Salam kenal,"ucap Annisa dengan cuek.
Annisa berpamitan pada Andra untuk pulang, karena dia sudah di tunggu papahnya di depan. Setiap hari mereka bertemu, dan saling mengobrol hingga mereka menjadi akrab sekali.
Keakraban Annisa dan Andra tidak sebatas keakraban teman yang semestinya. Mereka sama-sama menyimpan rasa suka, dan akhirnya mereka menjalin kasih. Annisa tidak tau, kalau Farina menyukai Andra, yang ia tau Farina adalah sahabat Andra sejak kecil. Namun, ternyata Farina sangat mencintai Andra, hingga dia selalu mengancam Annisa dan terus memberi pelajaran Annisa.
Satu Minggu Andra mengenal Annisa, dia memberanikan diri mengajak Annisa pergi berdua. Andra tak menyia-nyiakan kesempatan itu, dia memberanikan diri mengungkapkan perasaannya pada Annisa. Annisa membalas perasaan Andra, karena dia juga menaruh hati pada Andra. Satu hari setelah mereka jadian, Annisa berangkat ke kampus bersama Andra, Farina melihatnya dan dia sangat marah dengan Annisa. Farina dengan teman-temannya memiliki rencana mengurung Annisa di gudang, dan itu berhasil dia lakukan. Hingga sore hari Annisa terkurung di dalam gudang, beruntung ada seorang tukang sapu yang akan masuk ke gudang. Annisa akhirnya bisa keluar dan dia mengadukan semua pada Andra.
Annisa sedikit demi sedikit menjauhi Andra, karena dia tidak mau di ancam terus oleh Farina, bahkan Farina kasar sekali dengan Annisa. Annisa memutuskan untuk menghindar dari Andra. Andra tau, jika dia di ancam oleh Farina.
Satu minggu sebelum kepergian Andra. Andra memberanikan diri menemui Annisa di rumahnya.
"Andra, ada apa kamu ke sini?"tanya Annisa.
"Nis, please jangan menghindar dari ku, aku tau kamu di ancam Farin. Dia memang menyukaiku dari dulu, aku hanya menganggap dia sahabat, Nisa,"ucap Andra.
"Ndra, sepertinya aku tak bisa meneruskan hubungan ini, aku tidak mau Farina terus mengancam ku, aku ingin hidup tenang, Ndra. Kita berteman saja,"ucap Annisa.
"Aku tak peduli, aku akan mencintaimu hingga Tuhan mengambil nyawaku, Annisa,"ucap Andra.
"Maaf, Ndra. Aku tidak bisa, aku ingin tenang. Aku di kampus untuk kuliah, bukan untuk di ancam oleh orang,"ucap Annisa.
"Baik kalau itu keputusanmu, aku terima, dan ingat, hingga Tuhan mengambil nyawaku, aku akan selalu mencintaimu, Annisa,"ucap Andra dengan berlalu pergi meninggalkan rumah Annisa.
Semenjak itu, Annisa sudah tidak lagi berkomunikasi dengan Andra, berpapasanpun dia tidak menyapanya. Begitu juga dengan Andra. Batin mereka sama-sama tersiksa hanya karena satu orang yaitu Farina. Farina merasa menang, dia tak lagi mengancam Annisa karena dia tau, Annisa sudah benar-benar putus dengan Andra.
Pagi harinya, setelah satu minggu Andra tak menghubungi Annisa, kini Andra memberanikan diri datang ke rumah Annisa pagi-pagi saat akan ke kampus.
"Ada apa lagi, Andra?"tanya Annisa.
"Aku hanya ingin melihatmu saja, mungkin saja pagi ini aku terakhir melihat kamu. Aku mohon tersenyumlah untuk ku hari ini, Annisa,"ucap Andra.
"Apaan sih, pagi-pagi sudah melow seperti ini,"ucap Annisa dengan tersenyum manis di hadapan Andra.
"Gitu dong, ya sudah aku ke kampus ya, aku ada kelas pagi, sebenarnya masih ingin lama-lama di sini,"ucap Andra.
"Hati-hati, sana berangkat. Hari ini aku tidak ada kelas,"ucap Annisa.
"Yah, benar deh, ini mungkin terakhir aku melihat senyummu,"ucap Andra.
"Jangan bicara seperti itu,"ucap Annisa.
"Ya sudah aku berangkat, Nis. Jangan pernah takut, kamu wanita yang hebat. Jaga dirimu baik-baik." Andra pamit pada Annisa untuk ke kampus dan mencium kening Annisa dengan lama saat itu.
Sepeda motor Andra melesat pergi dengan cepat, hingga sudah tak dapat di jangkau dengan pandangan Annisa. Selang 20 menit, Annisa mendengar kabar dari sahbatnya. Iya, Rere dan Vera mengabari kalau Andra meninggal karena kecelakaan. Tubuh Annisa melemas seketika itu. Dan dia lama sekali membuka hatianya untuk pria setelah kepergian Andra. Hingga Arsyil yang berhasil membuka hati dia kembali.
*Flashback Of*
Annisa mengembuskan napasnya dengan kasar, dia memijit dahinya. Dia tidak menyangka akan bertemu Farina di sini. Annisa mengingat semua tentang Andra. Walaupun hanya berlangsung sebentar mereka menjalin hubungan, tapi rasa yang ia kubur dalam-dalam dan tak seorangpun tau, akhirnya muncul kembali. Arsyil pun tak pernah tau, dia memiliki masa lalu dengan Andra. Bagaimana tau, Annisa sudah benar-benar menguburnya rasa itu, dan kejadian itu. Hingga saat ini, dia teringat kembali karena bertemu dengan Farina.
"Andra, semoga kamu tenang di surga. Maafkan aku, Andra,"ucap Annisa lirih hingga terdengar oleh Arsyad yang berada di belakangnya.
"Andra?"tanya Arsyad.
"Kakak, sejak kapan kakak berada di situ?"tanya Annisa.
"Sejak kamu melamun. Kamu mengingat sesuatu? Siapa Andra?"tanya Arsyad lagi.
"Andra…..emm….Andra….," Annisa menghentikan kata-katanya.
"Kakak tidak akan marah, bicaralah, jujurlah pada, kakak. Apa kehadiran Farina tadi mengganggu kamu?"tanya Arsyad.
"Iya, sangat mengganggu, kak. Boleh Annisa jujur dengan Kakak, tapi kakak janji jangan marah dan meninggalkan Annisa. Annisa tidak mau kehilangan orang yang Annisa cintai lagi." Annisa menangis dan memeluk erat suaminya.
"Kakak tidak akan meninggalkanmu, sayang. Bicaralah, ceritakan ada apa, jujurlah pada kakak," ucap Arsyad.
Annisa menceritakan apa sebenarnya yang telah terjadi. Kehadiran Farina tidak hanya mengganggu Annisa saja. Kehadiran Farina juga mengganggu Arsyad, dia takut Farina akan macam-macam dengan istrinya. Apalagi tadi dia melihat Farina mengikutinya hingga di depan Vila.
"Kenapa dia hadir kembali? Aku tidak akan membiarkan dia menyakiti Annisa, aku harus bicara dengan papah dan lainnya. Sedikitpun tak akan aku biarkan dia menyakiti Annisa,"gumam Arsyad. Arsyad memeluk Annisa dengan erat, dan mengusap kepala Annisa dengan sayang.
.
.
.
.
.
.
.
♥️happy reading♥️
maaf baru up, sebenarnya ingin up daru tadi, tapi mata ngantuk syekali...ya sudah ini author sudah up kok. maaf ya sedikit aku kasih sentilan, karena hidup tak selalu mulus dan bahagisa saja.
oke...sekarang kalau sudah baca, kasih Like dan Votenya, ya. Author akan bahagia sekalia kalau Like bisa nembus 1000.🤭
__ADS_1
budayakan Like ya sebelum/sesudah baca..
terima kasih....😘😘😘😘🙏🙏