THE BEST BROTHER

THE BEST BROTHER
S3 Cinta Untuk Mereka Bab 69 "Jam Tangan"


__ADS_3

Kevin dan Jordy tak lepas mengikuti mobil yang juga mengikuti mobil Arysyad dan Annisa. Annisa melihat ke menoleh ke belakang, dan benar apa yang di katakan Kevin melalui pesan yang di terima Annisa, kalau orang itu masih mengikutinya.


"Kak, itu mobil orang yang tadi duduk di sebelahku, kenapa dia megukuti kita terus?" tanya Annisa.


"Kamu tenang, sayang. Biar Kevin dan Jordy yang mengurus dia," jawab Arsyad.


"Kalau dia suruhan Farina?"


"Hmmm…aku tidak tau, semoga saja bukan, dia hanya ingin tau kamu sepertinya," ucap Arsyad.


"Kakak, jangan bercanda, aku serius, kak. Kalau orang suruhan Farina bagaimana? Bagaimana kalau dia akan melukai salah satu di antara kita?" Annisa masih saja berpikiran kalau pria itu adalah suruhan Farina.


Annisa semakin takut, tapi tidak dengan Arsyad. Dia percaya kalau laki-laki itu bukan suruhan Farina. Lagiyan dia tau, Farina hanya orang biasa, tidak mungkin menyuruh seseorang dan membayar orang untuk menyakiti Annisa atau Arsyad. Arsyad sangat tau, Farina orang yang licik, dia juga tidak mungkin memakai cara seperti itu, dengan menyuruh orang. Dia lebih suka bermain sendiri dan menyakiti orang yang ia benci dengan tangannya sendiri.


"Sayang, sudahlah, Farina tidak mungkin menyuruh orang seperti itu untuk menjebak atau menyakiti kita, dia bukan orang yang seperti itu," tutur Arsyad.


"Kan bisa jadi, kak," jawab Annisa.


"Ya mungkin saja, tapi kakak percaya itu bukan suruhan Farina. Kamu jangan takut, kakak akan pancing dia maunya apa, kamu chat Kevin, suruh ia awasi kita dari kejauhan saja, biar kakak pancing itu orang maunya apa," ucap Arsyad.


"Baiklah, tapi kakak harus hati-hati,"ucap Annisa dengan manja.


"Iya sayang, jangan khawatir, kakak tidak akan apa-apa kok,"jawab Arsyad.


Arsyad melajukan mobilnya dengan pelan, dan mobil itu juga mengurangi kecepatannya. Arsyad sengaja membelokan mobilnya ke super market, mobil pria itu juga ikut membelok ke super market. Kevin dan Jordy mengawasi dari kejauhan, sesuai perintah dari Arsyad. Arsyad akan menghadapi orang itu sendiri selagi masaih bisa ia hadapi.


Pria itu turun dari mobilnya dan berjalan menuju mobil Arsyad. Arsyad dan Annisa turun dari mobilnya, Arsyad mendekati istrinya dan menghadapi pria itu.


"Maaf tuan, dari gedung rapat tadi, sepertinya tuan mengikuti kami, ada apa dengan kami, dan ada urusan apa anda dengan kami," ucap Arsyad.


"Maaf tuan, memang saya mengikuti tuan dari gedung, buka maksud apa-apa, tapi karena ini." Pria itu menunjukan sesuatu di tangannya.


"Ini milikmu, nona?" tanya pria itu.


Pria itu memperlihatkan jam tangan milik Annisa. Dan Annisa langsung mengambil dari tangan pria tersebut.


"Iya, ini milikku, bagaimana bisa jam tangan milik ku ada pada kamu?" tanya Annisa.


"Sepertinya sudah aku masukan dalam tas," imbuh Annisa.


"Tidak, nona masih meletakan ini di atas meja, dan nona sibuk membalas surat dari suami nona tadi," ucapnya.


"Kenapa kamu melepas jam tangan kamu, sayang?" tanya Arsyad.


"Tangan Annisa alergi gatal-gatal, kalau pakai jam tangan strapnya kulit, kak," jawab Annisa.


"Sudah tau gatal, masih saja di pakai," ucap Arsyad.

__ADS_1


"Namanya juga ingin pakai kak," jawab Annnisa.


"Emm…terima kasih tuan," ucap Annisa.


"Ya, sama-sama, mohon maaf saya sudah mengganggu perjalanan kalian, tadi mau saya kasihkan di sana, tapi saya sempat menerima pesan dari kekasih saya, jadi saya kehilangan kalian, setelah di parkiran mobil, mau aku berikan, kalian sudah masuk ke dalam mobil dan langsung melakukannya pergi, makanya saya ikuti kalian," jelas pria itu.


Memang pria itu berjalan mengikuti Arsyad dan Annisa dari dalam gedung rapat sambil sibuk bermain ponselnya, tapi matanya tertuju pada Arsyad dan Annisa dan menatap Arsyad dan Annisa dengan tatapan mengintimidasi mereka.


"Oh…sekali lagi terima kasih," ucap Arsyad.


"Iya tuan, maaf saya mengganggu perjalanan tuan," ucap Pria itu.


Pria itu langsung kembali masuk ke dalam mobilnya dan kembali melajukan mobilnya untuk pulang.


"Kakak bilang apa, pria itu tidak ada hubungannya dengan Farina, kan? Kamu saja ceroboh sekali, meninggalkan jam tangan kamu," ucap Arsyad.


"Iya, kak. Ternyata pria itu mengikuti kita hanya karena jam tangan ini,"


"Sepertinya jam tangan itu sangat berharga sekali? Apa dari Arsyil?"tanya Arsyad.


"Bukan, ini dari papah. Papah dan mamah tau, kalau aku suka mengoleksi jam tangan, jadi setiap kali mereka pergi selalu membawakan oleh-oleh jam tangan, dan katanya jam tangan ini, limited edition, kak. Dulu si papah bilangnya gitu, tapi aku alergi jika pakai yang strap dari kulit," jelas Annisa.


"Kakak kira dari Arsyil," ucap Arsyad.


"Kenapa kalau dari Arsyil?" tanya Annisa.


"Iya sih, memang, tapi dia tau, kalau beliin aku yang strapnya gak kulit,"ucap Annisa.


"Lalu kenapa kamu pakai yang ini?"tanya Arsyad.


"Ya, waktu aku buka kotak yang pertama aku liat ini, ya sudah aku pakai ini," jawab Annisa.


"Ayo ah…aku lapar, kenapa malah bahas jam tangan, ayo ke restoran, aku ingin makan sekali, kakak," ajak Annisa dengan tidak sabar dan menarik tangan Arsyad.


Annisa memang sudah merasakan lapar sekali, apalagi di buat tegang oleh pria tadi. Rasa laparnya menjadi dua kali lipat jadinya. Annisa menghubungi Kevin dan Jordy, karena semua baik-baik saja, hanya karena masalah jam tangan saja semua di buat panik oleh pria misterius itu.


"Kamu mau makan apa, sayang?"tanya Arsyad.


"Emmm…pengen ikan bakar yang di sebelah sana itu, kak, di jalan X itu sih,"pinta Annisa.


"Yang dulu kakak ajak kamu sama Rere dan Vera?" tanya Arsyad.


"Ya, betul sekali, hanya mahasiswa yang beruntung di ajak makan siang oleh dosen tampan seperti ini,"ucap Annisa sambil mengusap lembut pipi suaminya.


"Kamu bisa saja, Nis." Arsyad mengusap pipi istrinya dan mencubit lirih pipi Annisa.


"Aku sudah lapar sekali, sayang," ucap Annisa.

__ADS_1


"Sama, kakak juga," sahut Arsyad.


"Apalagi tadi di buat tegang oleh laki-laki itu. Pikiran aku sudah ke mana-mana, kak," ucap Annisa dengan tidak lepas menggenggam tangan suaminya.


"Kamu mikirin apa, kakak masih di sini bersama kamu, sayang. Jangan khawatir, selagi kakak masih ada di samping kamu, kakak akan selalu melindungimu, apapun itu, bahkan nyawa rela kakak pertaruhkan hanya untuk kamu, Annisa ku,"


"Tuh…kan ngomongnya, jangan gitu, aku nangis kan," ucap Annisa dengan manja.


"Kenapa harus nangis? Kan memang tugas suami selain menafkahi lahir batin, bertanggung jawab pada keluarga, istri dan anak-anak, juga harus melindungi istri dan anak-anak dari marabahaya, sayang. Bahkan nyawa pun rela suami pertaruhkan untuk istri dan anak-anaknya," ucap Arsyad.


"Iya, tapi jangan gitu bicaranya, jangan buat aku sedih dan menangis." Mata Annisa sudah mulai berkaca-kaca karena Arsyad bicara seperti itu.


" Jangan menangis." Arsyad mengusap kepala istrinya dan tersenyum pada istrinya yang semakin memerah matanya


"Kamu tau, sayang?"tanya Annisa.


"Gak, kakak tidak tau," jawab Arsyad dengan bercanda pada Annisa.


"Kakak, Annisa sedang ngomong serius, ih…." Annisa meninju lirih lengan Arsyad dengan kesal, karena suaminya seperti itu, bercanda saat dia ingin bicara serius.


"Iya, kakak tau kamu serius, lagian kamu belum bilang, ya kakak tidak tau, sayang,"


"Kakak nyebelin, ih…"


"Sudah mau bilang apa, kakak dengarkan nih,"


"Gak jadi, ah," tukas Annisa.


"Tuh….ngambek, jangan ngambek dong, ayo mau bicara, apa,"


"Kak, kakak jangan bilang gitu lagi ya, aku sedih kalau kakak bilang seperti itu. Karena Annisa takut kehilangan kakak," ungkap Annisa dengan mata berkaca-kaca lagi.


"Tuh...kan Annisa mau nangis, kakak sih,"


"Nah, kok jadi kakak. Sini bersandar di bahu kakak." Arsyad menarik Annisa lebih dekat dengannya dan menyandarkan kepala Annisa di bahunya.


"Iya, kakak tidak bilang gitu lagi," ucap Arsyad sambil mencium kepala Annisa.


"Oke, awas kalau bilang lagi," ucap Annisa.


Mereka sudah sampai di tempat makan yang mereka tuju, Arsyad dan Annisa turun dari mobilnya. Begitu juga dengan Kevin dan Jordy, mereka juga ikut makan siang bersama dengan Arsyad dan Annisa.


"Tempatnya gak pernah berubah ya, kak?"


"Iya, Nis, seperti cinta ini, tak akan berubah untuk kamu,"


"Gombal aja, ayo ah, masuk. Annisa sudah lapar." Annisa menarik tangan Arsyad untuk segera masuk ke dalam dan memesan makanan.

__ADS_1


Mereka memesan makanan, Kevin dan Jordy juga makan bersamam mereka bergabung dalam satu meja bersama Annisa dan Arsyad.


__ADS_2