
Annisa dan Arsyad sudah berada di dalam kamarnya, Annisa sudah selesai mandi, dia langsung berjalan ke meja rias untuk mengeringkan rambutnya karena baru saja dia keramas. Arsyad masih terlihat memakai bathrobnya, dia belum mamakai baju, karena tadi Rayhan meneleponnya cukup lama selama Annisa mandi, memberitahukan besok ada meeting dengan klien.
Annisa mengambil hair dryer dan mulai mengeringkan rambutnya yang basah. Arsyad mendekatinya dan mengambil alih hair dryer dan mengeringkan rambut Annisa.
"Jangan keramas sore-sore, sayang, nanti kamu sakit kepalanya, apalagi kamu lagi datang bulan," ucap Arsyad.
"Lengket sekali rambutnya, makanya aku keramas, " ucap Annisa.
"Besok lagi jangan, ya. Aku tidak mau kamu sakit,"
"Iya, suamiku, sayang,"
Arsyad mengeringkan rambut Annisa dengan telaten, dia tidak mau rambut Annisa basah dan membuat dia masuk angin atau sakit kepala.
"Rambut kamu sudah panjang sekali,"
"Iya, belum sempat potong rambut, sayang,"
"Jangan di potong, rambut kamu bagus, tebal,"
"Tapi, sayang ikal,"
"Tidak ikal banget sih, bagus kok." Arsyad mengusap rambut istrinya yang sudah kering.
Arsyad mengambil sisir lalu menyisiri rambut istrinya dan menguncirnya dengan pita.
"Kakak selalu rapi sekali kalau menguncir rambut aku,"
"Kan kakak di ajari ibu, dan sering menguncir atau mengelang rambut Shita dulu,"
"Pantas saja kakak bida serapi ini menguncir rambutku,"
"Sudah pakai bajunya, nanti kamu sakit, kakak juga mau pakai baju dulu,"
Annisa megambil bajunya di lemari pakaiannya, begitu juga Arsyad. Setelah memakai pakaiannya Arsyad duduk di kursi dan memulai membuka laptopnya. Karena tadi Rayhan mengirim email pada Arsyad, jadi dia mau mengeceknya.
"Kakak mau kerja lagi?"tanya Annisa.
"Tidak sayang, cuma megecek email saja, kok."
Annisa mendekati suaminya dan memeluk suaminya dari belakang. Dia menenggelamkan wajahnya di tengkuk suaminya.
"Sayang, jangan seperti ini, kakak cuma sebentar saja, kok, buka email saja," ucap Arsyad.
"Iya, tapi aku ingin seperti ini, kak,"
"Ya sudah." Arsyad mengusap rambut Annisa dan mencium kepalanya
Annisa melihat tampilan layar depan laptop Arsyad yang terpasang foto dirinya, Arsyad dan Almira. Annisa mengeratkan pelukannya dan mencium lembut pipi suaminya. Dia bahagia sekali, suaminya sangat mencintainya tanpa memedakan dengan istri pertamanya.
"Sayang, manja sekali," ucap Arsyad.
"Kak, kakak tampan deh kalau pakai kacamata." Annisa memandangi suaminya dari samping yang sedang serius membaca email dari Rayhan.
"Hmmm…ngerayu saja kamu, sayang," ucap Arsyad.
"Benar, Annisa gak bohong, kak,"
"Kamu baru tahu, kan? Kalau suamimu memang tampan?"
"Tau dari dulu, tapi aku baru mencintai kakak kemarin,"
Arsyad selesai membuka email dari Rayhan, dia juga sudah mengunduh file yang Rayhan kirim lewat email tadi. Arsyad mematikan laptonya dan menarik istrinya agar duduk di pangkuannya.
"Kakak, jangan seperti ini dong," ucap Annisa.
__ADS_1
"Sudah duduk saja di sini, kakak mau tanya sama kamu, sejak kapan mencintai kakak?" tanya Arsyad dengan menatap lembut mata Annisa.
"Sejak menikah,"jawab Annisa.
"Sejak menikah atau baru kemarin?
"Ya sejak kakak menjadi suamiku, tapi sayangnya suamiku tidak mencintaiku," jawab Annisa
"Kata siapa? Sebelum menjadi suamimu saja kakak sudah mencintaimu,"
"Iya, sebelum sama kakak menikah dengan Kak Mira juga, kan?"
"Ya, tapi aku sangat beruntung, memilki dua wanita yang benar-benar menyayangi kakak, wanita-wanita kakak yang hebat, cantik, dan Sholehah pastinya. Mungkin kakak adalah laki-laki yang beruntung dan sempurna di dunia ini, karena di cintai dua wanita penghuni surga seperti Mira dan kamu, sayang,"
"Annisa juga, mungkin Annisa adalah wanita yang beruntung di dunia ini, memiliki suami seperti kakak dan mendiang suami seperti Arsyil. Sudah ah, jangan bilang gini, pokoknya aku gak mau kehilangan kakak." Annisa memeluk Arsyad dengan erat.
"Iya, kakak masih di sini, kakak gak hilang ke mana-mana," ucap Arsyad.
"Sudah Maghrib kakak sholat dulu, kakak sholat di depan ya, di musholah, biar dengan papah dan anak-anak,"
"Oke, aku juga mau menyiapkan makan malam,"
"Kapan selesai datang bulannya?" tanya Arsyad.
"Sabar, ya, paling 3 atau 4 hari lagi," jawab Annisa.
"Ya sudah, kakak mau sholat, turun gih," titah Arsyad menyuruh Annisa turun dari pangkuannya.
"Gak mau, gendong sampai depan pintu," pinta Annisa dengan manja.
"Oke, ayo kakak gendong." Arsyad menggendong istrinya di depan sampai depan pintu.
"Hmmm gedong di depan kok malah berat sekali, kamu tambah berisi sekali, sayang,"
"Eits,,, marah nih,"
"Gak sih,"
"Jangan ngambek, kamu tambah seksi sayang," goda Arsyad.
"Sudah ah, ayo keluar kamar," ajak Annisa.
"Kakak mau wudhu dulu, kamu keluar dulu saja,"
"Oke,"
Annisa keluar dari kamarnya menuju ke dapur membantu Mba Lina menyiapkan makan malam.
^^^^^^
Malam harinya sehabis isya, Leon menghubungi Rere lewat chat. Dia memberitahu Rere kalau dia sudah dalam perjalanan ke rumahnya.
"Hai, cantik. Aku sudah On The Way ke rumahmu, dandan yang cantik, ya" ~Leon.
Rere yang waktu itu baru saja selesai sholat isya, dia mendengar suara ponsel nya berdering. Rere langsung meraihnya dan membuka ponselnya. Dia melihat ada nomor baru yang mengirim chat.
"Nomor siapa ini?" ucap Rere lirih.
Rere membuka chat tersebut dan membacanya.
"Oh, dar Leon?"
"Oke, aku akan dandan secantik mungki, aku tunggu di rumah," ~Rere.
Rere magambil gaun yang simple dan anggun untuk di pakai saat makan malam dengan Leon. Gaun berwarna Mint kini sudah melekat di tubuh indahnya itu.
__ADS_1
"Ih…apaan ini, perutku telihat gendut sekali," lirih Rere.
Dia melepas gaunnya lagi dan mengganti gaunnya yang lain, dia mengambil gaun berwarna hitam, dia memakainya. Rere memang sangat cantik, jadi baju apapun yang ia pakai pasti akan terlihat cantik juga.
"Sempurna…," ucap Rere.
Rere memoles wajahnya dengan make up tipis dan natural ala dirinya sendiri. Rere memang tidak terlalu suka dengan make-up yang agak tebal dan glowing. Dia hanya memakai bedak tipis-tipis dengan lip cream warna merah muda.
"Sudah, aku mau keluar terus pamit dengan papah dan mamah," lirih Rere.
Rere menemui orang tuanya yang sedang berada di deoan televisi. Ya, mereka sedang melihat sinetron favoritnya. Rere mendekati papah dan mamahnya.
"Pah, mah, Rere boleh keluar makan malam dengan teman Rere?" pamit Rere.
"Teman apa teman? Kalau teman kamu tidak memakai pakaian yang cantik seperti ini, Re," ucap Papah Rere
"Papah, beneran dia teman Rere,"
"Mana temanmu?" tanya mamahnga Rere.
"Emmm…mungkin itu, mah. Ayo keluar, dia sudah datang." Rere mengajak kedua orang tuanya keluar menemui Leon.
"Itu kekasih kamu?"tanya Papah Rere.
"Bukan, pah, dia temanku," ucap Rere.
Leon turun dari mobilnya dan berjalan menuju teras rumah Rere. Pintu rumah Rere sudah terbuka karena Rere dengan orang tuanya sudah menunggu Leon.
"Assalamualaikum," ucap Leon.
"Wa'alaikumsalam," jawab Rere dan kedua orang tuanya.
"Leon, silakan masuk." Rere mempersilakan Leon untuk masuk.
"Le, ini mamah dan papah ku." Rere mengenalkan orang tua Rere pada Leon
"Selamat malam, om, tante. Saya Leon, teman Rere, dan teman Annisa juga, sahabat Rere." Leon memberi salam pada kedua orang tua Rere.
"Oh, jadi temannya Annisa juga?"tanya papahnya Rere.
"Iya, om," jawab Leon.
"Om, tante, boleh kan saya mengajak makan malam Rere?"tanya Leon.
"Emm…bagaimana ya? Mah, boelh tidak anak manja mamah pergi makan malam bersama Leon?" tanya papah Rere pada istrinya.
"Asal, bisa menjaga Rere," ucapnya.
"Iya, boleh, masa tidak boleh, mau berangkat sekarang? Atau ngopi-ngopi dulu sama om,"ucap Papah Rere dengan menepuk bahu Leon.
"Ngopinya besok saja, om, kalau Leon ke sini lagi, ini mengajak Rere makan malam dulu,"
"Hmm…oke, kalian hati-hati, jangan malam- malam pulangnya,"
"Iya, om,"
"Mah, pah, Rere berangkat dulu, ya?" pamit Rere.
"Iya hati-hati,"
"Om, tante, kami berangkat makan malam dulu, Assalamualaikum,"
"Wa'alaikumsalam,"
Leon dan Rere masuk ke dalam mobil, Leon duduk di jok belakang bersebelahan dengan Rere. Leon sesekali melirik Rere yang terlihat sangat anggun malam ini di balut dengan gaun hitam yang memperlihatkan lekuk tubuhnya yang seksi.
__ADS_1